Hore Lebaran!

Yes alhamdulillah lebaran lagi! Selamat hari raya Idul Fitri ya, maafkan kalau ada salah-salah selama ini. Kesalahan kalian juga sudah saya maafkan, *eh 😀

Kali ini kami berlebaran di rumah saja dan karena sepi, rasanya lebaran di tanah air tahun lalu sangat ngangenin banget. Si Flipper sampe minta dibukain folder liburan di Indonesia tahun lalu, melihat-lihat fotonya waktu takbiran sambil bawa lampion Hello Kitty, waktu salam-salaman sekeluarga lalu berlanjut di mesjid, waktu makan makan cookies banyak banget. Seru banget, kata Flipper.

blog lebaran
Flipper di acara salaman setelah shollat Ied di kampung Jogja.

Di sini, seperti biasa, saya kirim-kirim lontong opor ke tetangga tapi tetep aja pas makannya ya bertiga aja. Sebenarnya ada undangan buat acara shollat Ied dan ramah tamah bersama di Duisburg tapi saya terus terang males banget kalau harus nyetir sendiri lebih dari 1 jam. Itupun nggak bisa lama-lama karena siangnya Flipper ada ujian karate jadi rasanya waktunya bakalan habis di jalan.  Iya, pak Suami sayangnya nggak bisa cuti, karena cuti dia sudah habis jadi acara makan opor kemarin nunggu dia pulang dari kantor. Untung bisa pulang lebih awal dia.

Untuk lebaran kemarin saya masak lontong, opor ayam, lodeh nangka, acar kuning dan krupuk. Camilannya kue dari tepung instant bikininan Flipper, marshmello, strawberries dan es teler saja. Meskipun nggak ada kastengel dan nastar, rasanya alhamdulillah sekali masih bisa dikasih kesempatan buat merayakan Idul Fitri bersama keluarga meskipun puasa saya kali ini banyak yang bolong.

999A0233-1S

By the way, di era sosmed seperti saat ini, kalau dipikir-pikir sebagian orang muslim itu memang senengnya ribet ya. Saat Natal, pada rajin posting soal haramnya mengucapkan Natal ke umat Nasrani, eh sekarang giliran Lebaran, ngucapin selamat lebaranpun banyak salahnya. Ucapan selamat hari raya kok copy-paste lah, kok pake pantun-pantunan lah, kok di-broadcast di sosmed lah, kok baru malam takbiran udah sebar-sebar ucapan lah… Well why not? Kenapa sih kita nggak bisa ambil positifnya saja, nulis pantun from the scratch atau sekedar copy-paste pun sudah menunjukkan niat orang tersebut untuk mengucapkan selamat lho. Ucapannya di-broadcast supaya sekali nulis berlaku buat banyak teman di sosmed pun itu pasti nulisnya juga niat. Kalaupun ada yang nggak nulis-nulis di FB (seperti saya) pun bukan berarti dia nggak ngasih selamat ke handai taulan lho…

Why on earth can’t we just enjoy the moment, menikmati datangnya hari raya lebaran. Biarkan orang mengucapkan selamat dengan cara mereka masing-masing… Ntar kalau nggak ada yang ngucapin sama sekali malah jadi kasus beneran kan? Kita nggak harus mengkritisi semuanya kan? Kita nggak harus merasa wajib memperbaiki etika dan itikad semua orang di dunia ini kan? Apalagi di hari raya lho… Kupikir major problem yang harus dikritisi saat hari raya adalah macet panjang jalur mudik, which is memang sudah dari sononya begitu. Tapi seandainya macet itu bisa diatasi alangkah lebih nyamannya mudik lebaran, iya nggak sih? #rantend

Lebaran kamu kemarin gimana ceritanya? BB udah naik belum? Kalau mau kirimin aku nastar, boleh lho 😀

 

 

Advertisements

Good to be back here again, Mallorca – Part 1

Setelah delapan tahun, akhirnya awal Mei kemarin kita mengunjungi Mallorca lagi. Kalau dulu bareng temen-temen dan yang masuk agenda liburan di antaranya adalah party, kali ini, karena bareng Flipper, agenda party digantikan dengan mengunjungi taman bermain.

Mallorca adalah salah satu pulau di kepulauan Balearic, Spanyol. Buat orang Indonesia, pulau Ibiza yang berada di sebelahnya Mallorca mungkin lebih akrab di telinga (hint: Venga Boys “We’re Going to Ibiza”). Pada kunjungan kali ini, kita kembali mengadakan road trip mengelilingi pulau, karena hanya diam di satu kota di Mallorca adalah rugi besar. Sekedar gambaran, pulau Mallorca tidak semungil pulau Umang tapi juga tidak sebesar pulau Bali. Menurut MapFight, Pulau Bali lebih besar 1,59 kali pulau Mallorca. Karena kami sudah menjelajahi Mallorca bagian barat dan utara delapan tahun yang lalu, kali giliran bagian utara, timur dan selatan yang kami kunjungi.

Penerbangan dari Cologne ke ibu kotanya Mallorca, Palma De Mallorca Airport hanya 2 jam saja. Begitu mendarat, kami dijemput minibus yang membawa kami ke stasiun penyewaan mobil yang sudah kami booking sebelumnya. Setelah mendapat mobil, kamipun menuju kota pertama tujuan kami, Magaluf.

MAGALUF

Di Magaluf kami menginap di hotel yang punya amusent park yang kami pikir pasti menyenangkan buat Flipper, which was right. Tapi buat D dan saya… alamaak, kalau nggak sayang anak, meskipun sudah bayar kami rela lho pindah hotel karena berisik sekalii… Berisik dengan suara anak–anak sih sudah kami pertimbangkan tentunya, namun ini yang dewasapun tak kalah berisik.

Hotel yang kami pilih kali ini rupanya penuh dengan turis dari Inggris dan inilah yang membuat berbeda. Selama ini kalau berlibur biasanya kami selalu berada di daerah yang mayoritas turisnya orang warga negara campur-campur atau mayoritas turis Jerman. Kami tidak sengaja mencari yang seperti itu sih tapi dapatnya kebanyakan begitu, makanya saya sempat mikir orang Jerman tuh buset deh, ada di mana-mana. Kecuali di Magaluf di hotel kita tempati selama 4 malam. Dan tidak bermaksud untuk rasis, bedanya demikian:

  1. Di hotel, main language yang digunakan adalah Inggris dan Spanish yang bagi kami sebenarnya tidak bermasalah tapi buat Flipper agak susah karena crews di acara Mini Disco dan Kids Club-nya nggak ada yang bisa berbahasa Jerman sedangkan bahasa Inggrisnya Flipper standard saja, what’s your name, how wold are you, how are you, I am hungry, do you like banana, one two, three…  Selebihnya dia gak mudeng haha…
  2. Para orang tua dari negaranya pangeran Harry ini, terutama ibu-ibunya gemar sekali meneriaki anak-anaknya. Nggak semua pastinya tapi mayoritas. Ngomong baik-baik dan marah nggak ada bedanya, yang pasti ngomongnya kenceng. Mungkin mereka menganggap pendengaran anak-anak nggak setajam telinga mereka, Entahlah. Etapi di antara dewasapun ngomongnya juga kenceng. Mereka juga tidak mempertimbangkan tempat dan waktu dimana harus ngomong kenceng, di koridor kamar hotel jam 12 malem pun jadi. Atau di sebelah orang yang clearly sedang tidur di lounger di kolam renang sampai orangnya mencolot. Saya yang melihatnya antara prihatin dan pengen ketawa.
  3. Dibandingkan dengan orang Jerman yang kebanyakan langsing, ibu-ibu Inggris banyak yang overweight. Perlu perjuangan buat saya mencari sosok wanita Inggris yang normal, yang semok atau yang gemuk biasa. Postur para pria dan anak-anak serta remajanya sih biasa-biasa aja tapi yang ibu-ibunya, let say, yang di atas umur 20 tahun, kebanyakan size XXL.
  4. Mereka sangat memanjakan anak-anaknya dalam soal makanan. Saatnya makan (kami ambil paket half -board; breakfast dan dinner) di mana aneka sweets dan kue-kue disajikan sebagai makanan penutup, ibu-ibu ini memberikan sepiring Haribo atau setumpuk tart beraneka rasa ke anak-anaknya as main course. Saat makan churros  pun, instead of menggunakan wadah kecil-kecil yang sudah disediakan untuk celupan coklatnya, mereka  mengisi cangkir coffee latte yang tinggi itu dengan coklat, OMG. Dalam satu sisi saya maklum sih, si anak-anak pasti merengek pingin makan sweets dan si ortu pengen menikmati makannyanya tanpa rengekan ini itu, tapi sepiring penuh permen? Flipper juga merengek minta permen dan tentu saja saya kasih juga tapi syaratnya musti makan dulu. Setelah makan dia boleh milih 2 macam dessert aja and it worked well  meskipun kadang-kadang dia kelamaan mempertimbangkan dessert mana yang mau dia ambil hihi… Pernah nih, waktu saya ambil mini donat 1 biji buat Flipper, ada seorang ibu yang bilang ramah ke saya, “Eh kamu boleh ambil banyak lho, jangan malu-malu… “Atau mungkin prinsip mereka, mumpung all you can eat jadi ngambilnya banyak-banyak gitu kali ya?
  5. Kalau di Jerman area, kebanyakan anak-anak pake baju merek H&M, di sini banyak ynag pake baju merek Inggris punya, Next. Bajunya Flipper jadi banyak yang nyamain. Yang ini point nggak penting deh 😀

 

1
Hotel kami di Magaluf. Untung tempat tidurnya nggak kebalik pulak 😀

Selama di Magaluf, tak banyak yang kami kunjungi karena kebanyakan Flipper dan papanya menghabiskan waktu di waterpark nya hotel atau di pantai. Saya mah kebanyakan jalan- jalan, (window) shopping karena lokasi hotel memang strategis, dekat pantai, dekat tempat party, dekat tempat makan dan pertokoan. Aldi dan fitness studiopun ada di sudut pengkolan. Setelah Flipper dan papanya main air, biasanya kami menghabiskan waktu bermain di amusement park nya hotel, dimana ada rumah kaca, mini golf, arena bermain dan berkarya, rumah kebalik, etc.

Pantai yang dekat dengan hotel namanya Playa Es Carregador dan  menurut saya tidak terlalu indah. Standard long, boring beach seperti Playa Palma de Mallorca. Tapi kami sempat menjelajahi pantai yang indah, di desa Portal Vells, yang hanya berjarak 9 km dari hotel. Nama pantainya Cala de Portals Vells. Mengapa cala dan bukan playa? Karena pantainya kecil, kalau playa panjang. Dan kami, seperti anak kecil dapat permen, kegirangan, mendapati pantai yang indah. Sementara Flipper dan papanya langsung ganti kostum berenang, sayapun (yang memang agak anti dengan air laut hihi…) mulai mengeksplorasi daerah sekitar dengan kamera. Setelah main air, Flipper dan D sempat tidur siang di pantai dan begitu mereka fit kembali, mereka ikut menemani saya melanjutkan eksplorasi di tebing-tebing sekitar.

Berikut ini foto-foto di Potals Vells:

23

2764s2752s

2749s
Flipper bisa menghabiskan waktu lama nih, lempar-lempar batu ke air.
2753s
Anak-anak di ujung kanan itu sedang meloncat ke air bergantian. Seru!

2757s

CALA D’OR

Setelah empat malam tinggal di Magaluf, pada hari kelima kami pindah ke kota Cala d’Or yang jaraknya 85 km dari Magaluf. Nama kota ini menggunakan kata cala mungkin karena di situ banyak pantai-pantai kecil. Ini perkiraan saya saja ya, tidak dari sumber yang bisa dipercaya. Kali ini, di Cala d’Or, kami menyewa apartment. D dan saya happy, akhirnya bisa menghabiskan waktu di tempat yang spacious dan tidak berisik seperti di hotel sebelumnya. Flipper sempat kecewa karena tidak ada fasilitas untuk anak-anak di hotel-apartment ini selain kolam renang anak. Jangankan amusement park, mini disco aja tidak ada tapi kemudian dia  tidak peduli lagi dengan itu karena setiap hari, setelah pergi ke pantai, sorenya  dia bisa main jumpalitan di arena bermain yang letaknya persis di belakang apartemen.

4
Huge bouncy castle di belakang apartemen kami. Itu mulut gajahnya bisa membuka-menutup.
999A0221EEs
Trampolin 3€ 10 menit.
999A0218EEs
Komplek apartemen kami.

Tempat-tempat yang kami kunjungi selama menginap di kota Cala d’Or lumayan banyak. Saya tulis yang saya ingat ya…

Pantai Cala Gran dan Cala Esmerelda

Kedua pantai ini bisa ditempuh 5 menit jalan kaki dari apartemen. Di Cala Gran, Flipper kenalan dengan anak sebaya dan selalu janjian ketemuan di sana untuk main bola dan main air bersama. Di Cala Gran juga saya sempet bertemu (tapi tidak kenalan) dengan dua pasangan muda dari Indonesia yang saya bisa kenali dari logat Suroboyoan-nya. Mbaknya-mbaknya sibuk selfie di sana-sini sedangkan mas-masnya cuman ngikutin doang sambil mencangklong tas Chanel-nya pasangan mereka. Kadang kedua cewek itu minta tolong si mas untuk motoin dan dua cowok ini harus bertikai duluan karena sama-sama nggak mau motoin. Komentarnya si D ke saya: glad you are not that worse! Hihi… Di bawah ini adalah foto-foto di Cala Gran:

5999A0095EEs999A0100EEs

Es Pontas

Es Pontas adalah highlight kami selama di Cala d’Or. Es Pontas  merupakan tebing batu besar melengkung yang terletak di kota Santanyi, di antara teluk Santanyi dan teluk Llombards. Tebing batu ini merupakan salah satu objek panjat tebing tersulit di dunia. Tak banyak yang bisa memanjat Es Pontas. So far hanya dua orang yang berhasil memanjat Es Pontas dari bagian lengkung dalamnya yaitu Chris Sharma (American) dan Jernej Kruder (Slovenian). Coba check video dimana Chris Sharma memanjat Es Pontas berikut ini, pasti ikut deg-degan deh lihatnya: See why Chris Sharma is one of the world’s best climbers as he searches for the hardest and most beautiful route in the world.

Saat menyusuri tepian berbatu di area Es Pontas, seorang polisi ganteng menyampiri kami, bertanya apakah kami melihat orang yang terluka kakinya dan mengalami kesulitan berjalan. Kami tidak melihatnya dan mas polisi itu mulai terlihat panik. Di belakang tampak beberapa polisi yang lain dan dari kejauhan kami mulai melihat beberapa safe guards dengan peralatannya lari kesana-kemari. Rupanya polisi menerima report bahwa seseorang terluka di sana dan tidak bisa berjalan dengan normal, posisi orang itu di pinggir tebing jadi karena orang itu tidak bisa dikontak lagi, dikuatirkan orang tersebut kecebur ke laut.

Lokasi area Es Pontas memang memungkinkan untuk tercebur bila orang tidak berhati-hati. Yang dipagari hanya spot-spot tertentu saja. Saya sendiri melihat dua sejoli dengan selfie stick mereka, yang melanggar warning sign untuk tidak terlalu dekat ke pinggir tebing karena dikuatirkan batunya longsor. Well, the power of social media.

2738s
Polisi yang panik mencari the missing man.
2739s
Area Es Pontas.
2732s
Tebing batu melengkung itu…

999A0159-1EEs

Karena di Es Pontas tidak ada pantainya dan akses ke air cukup jauh, sehingga tidak memungkinkan untuk lempar-lempar batu, Flipper nggak mau berlama-lama di sana. Kamipun kemudian melanjutkan perjalanan ke pantai terdekat, Playa S’Amarador.

Playa S’Amarador

Untuk menuju ke pantai ini kami harus naik mobil melalui jalan sempit yang kalau papasan dengan mobil lain, kedua mobil musti saling maju mundur dulu. Di pantai S’Amarador, tanpa diduga ternyata kami harus bayar parkir. Selama ini kami belum pernah bayar parkir lho. Parkir di pantai sini bayarnya 5€, waktunya bebas. Di dalam parkiran ternyata ada sign yang menyatakan bahwa uang parkir 5€ tersebut digunakan untuk menyantuni yayasan orang cacat.

Pantai S’Amarador menurut saya juga biasa saja. Pokoknya kalau namanya playa (dan bukan cala) itu bagi saya boring. Nggak ada tebing dan pohon-pohonnya. Yah, kan seperti yang sudah saya tulis di atas, saya bukan fans untuk berjemur atau main air laut. Saya lebih suka meneduh di bawah pohon atau muter-muterin daerah sekitar pantai. Jadi selama Flipper dan D mainan air, saya kemulan di pasir sambil baca buku saja. Selama liburan 15 hari ini saya berhasil menghabiskan 3 novel hihi…

Eh ternyata nih, pas kita mau pulang, baru sadar bahwa sebelum memasuki arena pantai, ada kawasan hutan cagar alam. Kamipun masuk situ dan tentunya asyik sekali meneduh sesudah kepanasan di pantai.

6
Di cagar alam dekat pantai S’Amarador.

Santuari De Sant Salvador

Santuari De Sant Salvador adalah sebuah monastery yang dibangun pada tahun 1348 dan berada di 509 meter di atas ketinggian laut. Untuk pergi kesini jalannya lumayan naik dan berliku-liku seperti jepit rambut. Selain sempit, berliku-liku dan naik turun, kami harus berbagi jalan dengan para biker, baik yang solo maupun yang rombongan panjang. Salut deh buat para biker ini, perjuangan banget pasti naik ke Sant Salvador.

Begitu sampai ke atas, kitapun dijamu dengan pemandangan indah kota Felanitx. Nggak rugi deh sport jantung naik ke sini. Oh iya, di puncak sini ada restorannya jadi nggak perlu panik kalau bekalnya habis. Area piknik juga disediakan di beberapa sudut.

2693s2691s2696s2699s

2690s
Flipper nemu kucing di puncak Sant Salvador.

7

8
Awan cantik bergelantungan, nggak tahan kalau nggak foto 😀

Okay deh segini dulu ya ceritanya, kalau kepanjangan nanti bosan. Laporan tempat-tempat cantik lainnya saya tulis di bagian dua nanti deh.

Happy weekend!

-beth-

Mencuri Moment, Mencari Spotlight

Ich
I
Aku. Saya.

Pernah nggak pas teman kita si A lagi seru-serunya cerita tentang pengalaman baru dia, tiba-tiba kita nyeletuk, “Oh iyaaa tempat itu emang asyik! Aku tahun lalu juga pernah kesana…bla…bla….” lalu kitapun bercerita panjang lebar, tanpa peduli kalau si A tadi belum selesai bercerita? Teman-teman yang tadinya tekun dengerin cerita si A jadi beralih perhatiannya ke kita. Dan si A pun manyun.

Atau mungkin kamu pernah menjadi si A?

Saya pernah jadi yang suka nyeletuk itu. Dan pernah jadi si A juga, makanya tahu rasanya ngga asyik kalau ada teman yang menyerobot, mencuri moment bercerita kita dan berusaha sebisa mungkin untuk tidak mencuri moment teman yang lain. Ini berlaku nggak hanya di pergaulan sehari-hari tapi juga di sosmed.

Sebenarnya saya yakin celetukan ‘aku-aku’  keluarnya tanpa maksud buruk, terjadi karena seseorang semangat mendengar ceritanya si original poster/speaker. Dan kalau kejadian sekali dua kali masih bisa dimaklumi lah tapi kalau keseringan, selalu ber’aku-aku’ di setiap postingan teman jadi memperlihatkan karakter seseorang sebenarnya. Self-centered.  ‘Aku, kalau aku, aku sih, akunya, aku nih, dan aku aku lainnya’. Padahal si original poster nggak nanya apa pendapat kita TENTANG DIRI KAMU lho…

Yang paling nggak asyik sih kalau tone nya merasa lebih baik atau nggak mau kalah dengan si original poster;
“ooh kalau AKU sih begini, begono…”
“AKU kalau Hawaii udah pernah sih…”
Versi yang agak tersamar; “Oh jadi ngingetin acara AKU 3 tahun yang lalu, pernah salaman sama Madonna juga…”

Bukan berarti dilarang komen model begitu tapi mungkin sebaiknya dikurangi. Apalagi kalau di sosmed, harusnya lebih mudah mengontrolnya dari pada di pergaulan langsung. Kadang si teman hanya ingin bercerita atau sharing tentang dirinya, tentang pengalamannya and it’s NOT about YOU at all. Kecuali memang dia specific nanya what about you.

Mending sih kalau kita terinspirasi dengan postingan teman, ya bikin aja postingan aja sendiri. „Waktu baca Instagram si A tentang Nord Pole, aku jadi ingat tahun sekian ketika berkunjung ke North Pole bla…bla…“ Silahkan mau nulis panjang lebar, kan di lapaknya sendiri, nggak ‚mencuri‘ moment di lapak teman. Mau self-centered di lapak sendiri juga bebas dong.

img_3194-2

Salah satu karya seniman Joan Miró di sebuah pameran di Bruehl.

By the way soal kehidupan social media, resolution saya untuk tahun 2018 adalah spending less time di Facebook which works well.  Udah jarang banget nih log in di FB, kalaupun log in paling cuman scroll down news feed sebentar, liking postingan teman seadanya lalu stuck di Page-nya Jimmy Fallon atau Human of New York. Posting-posting juga udah mulai jarang. Tapi kalau di Instagram saya masih rajin sih hihi… Yang berminat boleh ya follow Instagram saya (eh kok jadi promosi? Haha!) @milolalil (private account) dan @frausie.

Di sini bebas mau komen atau diskusi dengan tema di atas ya… ber’aku-aku juga boleh lho 😊

Happy Sunday!
Love, Bethie

 

The Great Big Book of Families

999A0237-1s

Check it here: http://amzn.to/2EbKu0i
(affiliate link)

This book is a great start to teach our children about tolerance, start from family. It’s not a book about a child who has big family members nor a book which has plot or story.

This book reveals about many kinds of different families. None of them is bad or good. None of the is normal or abnormal. They’re just different. Some children live only with their daddy or their mommy. Some children even have two moms or two dads. There are children who live with grandpa and grandma without parents. There is a child who has only one or many siblings, etc.

Flipper (4,5 years) and I had fun reading this book. So many questions from Flipper emerged from the communicative illustrations and simple sentences. Yes, this book creates a valuable discussion about how different but equal we are.

The English text are easy to understand for non English native speaker. I need to mention this, because one of my German friend interested in this book but not sure about the English language. But after she borrowed our book for one day, she said it’s easy peasy and decided to buy it

Check it here: http://amzn.to/2EbKu0i
(affiliate link)

999A0236-1s

Remember The Day When…(6) – Foto buat Pacar Online

IMG_2673e
Foto diri terbaru 😀

Dari SD saya hobi banget dengan koresponden. Waktu itu kami berlangganan majalah Ananda dan saya selalu rajin menyurati profil-profil di kolom Sahabat Pena. Ada beberapa yang nggak dibalas, ada juga yang berlanjut rutin lumayan lama salah satunya yang ingat adalah atlet anggar nasional yang berasal dari Situbondo. Tapi namanya saya lupa 😦 Sayang sekali.  Saya bahkan pernah menyurati Rajiv Gandhi (I don’t know why, though!) dan dua atlet renang Indonesia yang waktu itu berjaya… Aduk kok lupa juga ya siapanya namanya, dua atlet renang pria bersaudara jaman 1990an yang cakep? Mingkin ada ynag bisa bantu saya untuk ingat karena mereka ini berjaya sekali pada jamannya, pernah mewakili nama Indonesia di Sea Games.

Rajiv Gandhi sampai sekarang tidak pernah membalas surat persahabatan saya tapi si atlet bersaudara membalas doong…meskipun tanda tangannya merupakan stempelan. Jadi kayaknya mereka nggak membalas surat fans satu-satu, tapi ada sekretaris yang bantu balesin satu-satu trus tinggal distempel dengan nama mereka.

Setelah berpen-pal via majalah Ananda, waktu remaja pun meningkat ke majalah Hai. Lalu ketika mulai kenal internet, aktifitas surat-suratan mulai berkurang diganti dnegan chatting dan email. Sejak chatting lingkup kenalan saya jadi lebih jadi meluas, nggak hanya nasional tapi internasional… Suka banget deh punya teman chatting dari luar negeri, doesn’t matter cowok atau cewek, warga negara atau ras apa yang penting bisa saling komunikasi dalam bahasa Inggris aja sayanya udah seneng banget (meskipun kebanyakan orang India. Mungkin karena faktor time zone?). Beberapa dari random chat partners saya banyak juga yang menjadi real friends bahkan beberapa dari mereka pernah ketemu baik yang dari Indonesia maupun dari luar negeri. Lalu niih ada juga yang jadi pacar online haha! Yang pacar ini malah belum sempat ketemu sama sekali, omaigod! *ngakak dulu

Pacar online saya waktu itu namanya Marty, cowok Inggris. Kita chatting rutin tiap hari, ngobrolin ini itu sampai suatu hari dia tanya foto. Mak glek. Jaman itu belum ada smart-phone dan istilah selfie pun belum masuk kamus. Terus terang saya nggak punya foto diri. Ada juga foto-foto jadul yang disimpan mama saya di album foto. Padahal saya lulusan kuliah jurusan fotografi lho tapi entah kenapa nggak punya foto diri sendiri. Kayaknya teman kuliahan saya dulu juga nggak ada yang tertarik motoin saya *laugh. Anyway effort saya waktu itu untuk mendapatkan foto diri  lumayan lama sampai Marty nggak sabar dan bilang: aku nggak yakin kamu sejelek itu sampai nggak mau ngasih foto…

Antara sedih dan geli karena saya sebenarnya nggak pernah merasa jelek sih (meskipun nggak merasa cantik juga enggak haha!). Anyway waktu itu saya akhirnya pergi ke foto studio dan hubungan pacaran online kita berlanjut aman.

Dan hari gini…mau selfie tinggal click-clik…Foto diri dipajang dimana-mana tanpa ada yang minta haha…

Eh by the way hari gini masih ada nggak sih yang kirim-kirim surat atau email ke idola??

Agama Makanan

2634s

Pas malem tahun baruan kemarin ada teman, sebut saja namanya Anni, yang pengen bikin pesta di rumahnya. Dia sudah bikin guestlist dan daftar makanan apa aja yang mau dibikin. Tapi pada last minute pestanya dibatalkan dan kita end up merayakan malam tahun baruan di sebuah restoran. Di restoran ini si Anni cerita, dia membatalkan acaranya karena ada salah satu teman dia  yang tadinya gaya makannya biasa-biasa saja barusan ‘convert’ menjadi yang tidak biasa-biasa saja dan cukup radikal sampai membuat Anni bad mood nggak niat masak, nggak niat ngundang teman, nggak niat lagi pesta.

Menurut Anni, si teman ini sedang gencar-gencarnya posting di Facebook tentang gaya makan dia yang sekarang serba organic, no salt, no sugar, no palm oil, no processed food pokoknya super eco dan suka tersinggung kalau ada yang ngajak guyon dengan gaya makan dia yang berubah drastis. Dan parahnya, pas Anni bilang ke temannya itu kalau dia mau mengadakan pesta, si teman itu langsung menodong Anni untuk beli bahan-bahan organic dan worst, berniat mbayarin belanjanya kalau Anni merasa kemahalan belanja organic. Glek. Ya mungkin hubungan mereka memang dekat banget sehingga si teman merasa it’s fine to say something like that. But if I were Anni, saya juga bakalan langsung bad mood juga deh kalau digituin.

Saya perhatikan biasanya orang-orang yang baru saja merubah gaya makan mereka, baik menjadi vegan, vegetarian, clean eater, fruitarian atau apa lagilah…mereka cenderung lebih saklek dari pada yang sudah lama menganutnya. Penganut lama ini sudah menganggap hal itu biasa, jadi ya sudah nggak perlu dipamer-pamerkan di sosial media dan juga lebih pengertian kalau diundang makan oleh orang yang aliran makannya berbeda.

Saya sendiri juga pernah berada ‘dicela’ orang karena gaya makan saya. Waktu itu anak saya baru memasuki usia 6 bulan dan lagi rajin-rajinnya bikin mpasi (makanan pendamping ASI). Secara untuk bayi, makanan yang dibikin pasti sehat-sehat dong, serba sayuran dan organic lalu pas cerita-cerita dengan sesama mommies, ada yang bertanya bakalan bertahan berapa lama saya ngasih makan baby organic food. Saya bilang bahwa sebelum ada baby pun kami udah makan organic jadi insyaallah bertahan lama. Lah kok trus si mom ini ngelonjak, ngatain kalau organic belum tentu bagus. Lalu dia sengaja cari-cari news tentang perusahaan makanan yang pasang label organic tapi ternyata membohongi konsumen. Dia juga bertanya kalau saya makan di luar, diundang orang atau makan di restoran gimana? Apa harus makan yang organic juga? Saya jawab apa adanya dong, kalau makan di luar/ diundang orang ya makan seadanya saja asal halal, nggak tanya soal organic. Eh si mom itu langsung merasa menang karena menganggap saya semacam pemakan organic palsu dan hanya mau nyombong. To be honest I don’t get it mengapa dia gusar dengan pilihan makanan saya untuk keluarga dan selain itu saya juga nggak merasa bilang bahwa saya anti non-organic.

Well anyway, saya sih terserah apa anggapan orang. Bagi saya urusan perut itu seperti agama, urusan pribadi masing-masing. Prinsip makan di rumah kami sederhana, kami suka makanan itu (iyalah, kalau nggak suka ya ngapain dimasak, dimakan hihi…), halal dan diusahakan sehat. Diusahakan sehat itu salah satunya ya dengan beli bahan makanan yang organic itu tadi tapi tidak harus 100% . Untuk daging-dagingan misalnya, saya lebih mengutamakan halalnya dulu dari pada organic. Di kota tempat saya tinggal belum ada daging halal organic. Roti-rotian kalau sempat bikin ya bikin sendiri dari bahan organic tapi kalau enggak ya beli seadanya. Di sini ada sih dijual roti organic tapi pilihannya sangat terbatas sekali.

Kalau sayuran yang saya inginkan nggak ada versi organic-nya, ya nggak papa, beli saja yang dari bagian sayuran regional. Kalau di situ juga nggak ada, sayuran beku adalah alternatif terakhir karena sayuran beku jauh lebih sehat dari pada sayuran ‘segar’ yang sudah menempuh perjalanan berjam-jam atau bahkan berhari-hari dan kemungkinan besar disuntik ini itu supaya tidak rusak selama perjalanan. Sayuran beku biasanya langsung dicuci dan dibekukan setelah panen sehingga nutrisinya langsung terkunci. Tapi kalau sudah kangen berat dengan sawi, bayam ala tanah air atau durian, yasud, beli sayuran dan durian impor di Asian Shop 😄.

Saya juga bukan tipe yang iyik, yang harus make sure dulu menu makanannya apa ketika diundang makan orang. Udah diundang aja udah alhamdulillah lho. Tapi tetap saja di lokasi saya bertanya dengan sopan, “maaf ini daging apa ya?” Kalau b2 ya sudah dilewatkan saja… tapi sumpah saya nggak pernah nanya, ini buncisnya organic nggak? Belinya tadi di mana ya? 😀

Saya sendiri kalau mengundang orang yang nggak terlalu kenal, selalu tanya duluan apa mereka intolerant terhadap makanan tertentu. Pertanyaan saya sih sebenarnya lebih konsen ke soal alergi, bukan soal gaya makanan dan so far karena belum pernah mengundang lebih dari 10 orang, gampang aja ngaturnya kalau ada yang vegan atau nggak bisa makan daging tertentu. Tamu-tamu saya so far juga nggak ada yang pernah nanya soal organic atau enggak, mengandung palm oil atau enggak. Paling pertanyaannya seputaran resep saja.

Sebuah contoh saja nih; selain dengan mertua dan ipar, hampir setiap tahun kami selalu merayakan Natal dengan keluarga besar hubby juga…Dengan tante, om, keponakan, sepupu dan ipar-ipar, sekitar 30an orang. Organisator pesta ini adalah para sesepuh yang nggak pernah bertanya soal food intolerance. Di antara 30 orang ini ada yang nggak bisa makan babi, ada yang nggak bisa makan ayam, ada yang memiliki milk intolerance akut, ada juga yang vegan. Semua tahu diri dan nggak demanding. Cukup makan salad dan kuenya saja, easypeasy. Bisa dibayangkan kalau member keluarga lapor duluan tentang makanan yang nggak bisa ditolerir oleh mereka, we’ll end up makan kentang rebus doang. Eh wait, fruitarian nggak bisa makan kentang!

My point is, people…do what you want to do, eat what you want to eat tapi please deh jangan merepotkan orang. Mau pamer-pamer ke medsos juga silahkan tapi jangan sampai menjadi hyprocrite, menganggap paling benar sehingga harus mencela gaya hidup/ makan yang berbeda. Yang merasa punya gaya makan biasa-biasa saja nggak perlu gusar kalau tiba-tiba ada yang anti minum dawet karena ada zat pewarnanya, nggak usah ikut-ikutan iyik, ini bukan lagi soal selera makanan melainkan prinsip hidup dan urusan perut sendiri-sendiri.

Ah jadi ingat ada seorang teman lain lagi yang sering posting foto makanan-makanan yang dia makan di restoran mewah. Michelin Star restaurants adalah langganan dia. Dia pernah menolak ketika saya ajak makan kebab falafel di kaki lima, alasannya dia nggak makan makanan kaki lima. Di FB dia ada quote “You are what you eat”. Ah ok, lumayan berprinsip dan konsisten.

Quote saya begini aja deh “My belly is my problem” atau yang versi pendek: “Sambal? Oye!” Kalau quote hidupmu yang tentang makanan kira-kira apa? 😊

Tradisi Advent – Menjelang Natal

Sebentar lagi Natal dan suasana di bumi sebelah sinipun mulai lebih ceria dari minggu-minggu sebelumnya. Sebenarnya kita nih nggak merayakan Natal dan sebelum ada Flipper, kami nggak terpengaruh dengan euforia Natal yang kental di negeri ini. Paling cuman ikutan tukar kado aja dengan big family-nya D, pak suami. Tapi sejak ada Flipper kami jadi ikutan beli pohon Natal, bikin Advent wreath sendiri dan bungkus-bungkus kado kecil-kecil buat Advent calendar.

Ini tahun kedua kami ‘beraktifitas’ Natal selain tukar kado. Itupun kalau dibanding dengan kebanyakan orang sini, aktifitas kami ini tergolong super basic banget. Iyalah, yang lain pada heboh menghias jendela bahkan seluruh rumah luar dalam dihias lampu warna-warni. Ada yang mengundang Nikolaus datang ke rumah lalu baking aneka macam cookies. Di luar rumah kami tidak ada deko apapun, sekedar lampu berbentuk rusa yang duduk antengpun nggak ada. Nggak ada hiasan atau lampu gantung apapun di jendela. Eh ada ding, gantungan di jendela dapur tapi itu mah memang menggantung sepanjang tahun, bukan khusus untuk natal.

Berikut ini adalah salah satu aftifitas menjelang Natal, membuat deko Lilin Advent. Aslinya sih disebut Advent wreath atau dalam bahasa Jermannya Adventskranz. Tapi saya nyebutnya Lilin Advent saja karena nggak ada wreath-nya sama sekali. Lilin ini berjumlah 4 yang dinyalakan satu persatu, dimulai pada minggu ke-4 sebelum Natal. Tahun ini Advent pertama jatuhnya besok, tanggal 3 Desember. Karena dinyalakannya satu-satu, maka dianjurkan lilin yang pertama dinyalakan lebih tinggi dari ketiga lilin lainnya, tapi nggak harus sih.

Tahun lalu Flipper tidak ikut membantu membuat Lilin Advent, dia kebagian acara tiup lilin saja setiap malam.

IMG_3626
Our first Advent Candles ever, 2016.

Tahun ini Flipper tetap nggak ikut mendekor Lilin Advent karena saya dapat idenya tengah malam dan langsung eksekusi. Keesokan harinya Flipper menambahkan kuda-kudaannya di sebelah lilinnya. Lucu juga, tapi masa kuda? Setelah mengantar Flipper ke TK-pun, saya langsung meluncur ke toko deko mencari rusa. Got two of them!

999A0081-1s

999A0087-1s
Advent Wreath 2017. Kudanya Flipper nongkrong di bawah saja 😀

Lalu tentang aktifitas dengan Advent Calendar yang selanjutnya disebut AC saja. AC yang entah dari mana asal muasal tradisinya ini adalah kalender dari tanggal 1 sampai 24 Desember yang berisi kado-kado kecil, jadi semacam excitement of Christmas countdown. Saya sendiri mengenal AC sejak tinggal di Jerman. Isi kadonya biasanya hal-hal sederhana saja seperti misalnya permen, puisi, lilin, karet penghapus, notebook (bukan laptop) sketsa gambar, etc. Tapi saat ini mulai banyak dijumpai AC baik yang homemade maupun yang ‘instant’ (beli di toko) yang harganya di atas 200€. Itu baru AC lho ya, belum hadiah Natalnya yang secara logisnya harus lebih heboh dari AC. Ah kalau yang mahil-mahil gitu saya nggak ikutan ah.

Sebelum ada Flipper pak suami dan saya biasa beli AC ‘instant’ di toko yang isinya coklat untuk setiap harinya. AC coklat merek Lindt harganya di atas 5€ kalau yang merek ecek-ecek 2€ pun bisa dapet. Ini untuk 24 hari lho ya. Isinya coklat kecil-kecil.

Tapi sejak tahun lalu tradisi AC kami bertambah, yaitu bikin AC buat si Flipper. Sebenernya buat anak-anak banyak juga AC instant non sweets yang dijual misalnya dari brand Lego atau Play Mobil bahkan Schleich. Harganya mulai dari 20€ which is standard price menurut saya kalau untuk AC. 1€/ day. Tapi entah kenapa saya nggak sreg kalau beli AC instant, jadinya ya repot sediri beli pernik-pernik dan mbungkusi kado satu-satu buat si Flipper.

Advent-calendar-2016s
Flipper’s Advent calendar 2016
999A0100-1s
Flipper’s Advent Calendar 2017.

Jatah kado AC Flipper untuk 24 hari adalah 25€. Barang-barang yang saya beli untuk Flipper, yang sesuai dengan anak usia 4 tahun adalah beberapa Pixi books (buku bacaan anak-anak bergambar berukuran 10cmx10cm), kaus kaki, celdam, Kinder Surprise Eggs, bubble bath yang ada temanya dari Kneipp (misalnya yang bikin airnya berwarna hitam untuk tema nenek sihir atau pink untuk tema princess), pensil warna, washi tapes, etc.

Yang lebih seru lagi, tahun ini saya juga dapat AC setiap harinya, yay! Jadi saya dan 23 teman  mengadakan AC swap, masing-masing membungkus kado yang isinya sama sebanyak 24 biji. Budget-nya seperti biasa, nggak boleh lebih dari 25€. Lalu setelah lengkap, semuanya dikumpulkan dan disebar ke semua anggota. Saya dapat bagian membungkus kado untuk tanggal 11.

IMG_1777
Kado no 11 yang saya bikin untuk Advent Calendar Swap bersama teman-teman.
IMG_1874
Kado yang saya terima balik dari teman-teman. Yay!

Kemarin saya mendapat tempat lilin dari Anna dan hari ini saya dapat homemade jam untuk roti dari Olga. Besok dapat apa lagi ya? Curious!

Lepas dari unsur keagamaannya, saya pikir aktifitas seperti ini asyik juga demi mengurangi suasanya yang selalu cenderung muram di musim dingin. Seneng aja ketika suhu di bawah nol derajat, jam 4 sore sudah gelap gulita, namun di segala penjuru tampak lampu hiasan natal berkelap-kelip. Lalu saat jam 8 pagi, masih gelap gulita juga dan kabut yang tebal di luar sana, kita punya kado kecil untuk dibuka.

Kalau di tempatmu bagaimana tradisi Natalnya? Apakah heboh juga seperti film-film Natal di TV? Oh ya, agenda saya setiap menjelang Natal dari tahun 2007 adalah nonton film Bad Santa yang dibintangi Billy Bob Thornton dan sejak tahun lalu ditambah dengan Bad Santa 2 ❤ Kamu punya film Natal favorit nggak? Home Alone Movie, mungkin?

Tulisan saya tentang Natal yang lain bisa dibaca di sini.