Tradisi Advent – Menjelang Natal

Sebentar lagi Natal dan suasana di bumi sebelah sinipun mulai lebih ceria dari minggu-minggu sebelumnya. Sebenarnya kita nih nggak merayakan Natal dan sebelum ada Flipper, kami nggak terpengaruh dengan euforia Natal yang kental di negeri ini. Paling cuman ikutan tukar kado aja dengan big family-nya D, pak suami. Tapi sejak ada Flipper kami jadi ikutan beli pohon Natal, bikin Advent wreath sendiri dan bungkus-bungkus kado kecil-kecil buat Advent calendar.

Ini tahun kedua kami ‘beraktifitas’ Natal selain tukar kado. Itupun kalau dibanding dengan kebanyakan orang sini, aktifitas kami ini tergolong super basic banget. Iyalah, yang lain pada heboh menghias jendela bahkan seluruh rumah luar dalam dihias lampu warna-warni. Ada yang mengundang Nikolaus datang ke rumah lalu baking aneka macam cookies. Di luar rumah kami tidak ada deko apapun, sekedar lampu berbentuk rusa yang duduk antengpun nggak ada. Nggak ada hiasan atau lampu gantung apapun di jendela. Eh ada ding, gantungan di jendela dapur tapi itu mah memang menggantung sepanjang tahun, bukan khusus untuk natal.

Berikut ini adalah salah satu aftifitas menjelang Natal, membuat deko Lilin Advent. Aslinya sih disebut Advent wreath atau dalam bahasa Jermannya Adventskranz. Tapi saya nyebutnya Lilin Advent saja karena nggak ada wreath-nya sama sekali. Lilin ini berjumlah 4 yang dinyalakan satu persatu, dimulai pada minggu ke-4 sebelum Natal. Tahun ini Advent pertama jatuhnya besok, tanggal 3 Desember. Karena dinyalakannya satu-satu, maka dianjurkan lilin yang pertama dinyalakan lebih tinggi dari ketiga lilin lainnya, tapi nggak harus sih.

Tahun lalu Flipper tidak ikut membantu membuat Lilin Advent, dia kebagian acara tiup lilin saja setiap malam.

IMG_3626
Our first Advent Candles ever, 2016.

Tahun ini Flipper tetap nggak ikut mendekor Lilin Advent karena saya dapat idenya tengah malam dan langsung eksekusi. Keesokan harinya Flipper menambahkan kuda-kudaannya di sebelah lilinnya. Lucu juga, tapi masa kuda? Setelah mengantar Flipper ke TK-pun, saya langsung meluncur ke toko deko mencari rusa. Got two of them!

999A0081-1s

999A0087-1s
Advent Wreath 2017. Kudanya Flipper nongkrong di bawah saja 😀

Lalu tentang aktifitas dengan Advent Calendar yang selanjutnya disebut AC saja. AC yang entah dari mana asal muasal tradisinya ini adalah kalender dari tanggal 1 sampai 24 Desember yang berisi kado-kado kecil, jadi semacam excitement of Christmas countdown. Saya sendiri mengenal AC sejak tinggal di Jerman. Isi kadonya biasanya hal-hal sederhana saja seperti misalnya permen, puisi, lilin, karet penghapus, notebook (bukan laptop) sketsa gambar, etc. Tapi saat ini mulai banyak dijumpai AC baik yang homemade maupun yang ‘instant’ (beli di toko) yang harganya di atas 200€. Itu baru AC lho ya, belum hadiah Natalnya yang secara logisnya harus lebih heboh dari AC. Ah kalau yang mahil-mahil gitu saya nggak ikutan ah.

Sebelum ada Flipper pak suami dan saya biasa beli AC ‘instant’ di toko yang isinya coklat untuk setiap harinya. AC coklat merek Lindt harganya di atas 5€ kalau yang merek ecek-ecek 2€ pun bisa dapet. Ini untuk 24 hari lho ya. Isinya coklat  kecil-kecil.

gefaehrliche-adventskalender-die-hersteller-haben-auf-die-kritik-reagiert-

Sumber foto di atas dari T-Online.

Tapi sejak tahun lalu tradisi AC kami bertambah, yaitu bikin AC buat si Flipper. Sebenernya buat anak-anak banyak juga AC instant non sweets yang dijual misalnya dari brand Lego atau Play Mobil bahkan Schleich. Harganya mulai dari 20€ which is standard price menurut saya kalau untuk AC. 1€/ day. Tapi entah kenapa saya nggak sreg kalau beli AC instant, jadinya ya repot sediri beli pernik-pernik dan mbungkusi kado satu-satu buat si Flipper.

Advent-calendar-2016s
Flipper’s Advent calendar 2016
999A0100-1s
Flipper’s Advent Calendar 2017.

Jatah kado AC Flipper untuk 24 hari adalah 25€. Barang-barang yang saya beli untuk Flipper, yang sesuai dengan anak usia 4 tahun adalah beberapa Pixi books (buku bacaan anak-anak bergambar berukuran 10cmx10cm), kaus kaki, celdam, Kinder Surprise Eggs, bubble bath yang ada temanya dari Kneipp (misalnya yang bikin airnya berwarna hitam untuk tema nenek sihir atau pink untuk tema princess), pensil warna, washi tapes, etc.

Yang lebih seru lagi, tahun ini saya juga dapat AC setiap harinya, yay! Jadi saya dan 23 teman  mengadakan AC swap, masing-masing membungkus kado yang isinya sama sebanyak 24 biji. Budget-nya seperti biasa, nggak boleh lebih dari 25€. Lalu setelah lengkap, semuanya dikumpulkan dan disebar ke semua anggota. Saya dapat bagian membungkus kado untuk tanggal 11.

IMG_1777
Kado no 11 yang saya bikin untuk Advent Calendar Swap bersama teman-teman.
IMG_1874
Kado yang saya terima balik dari teman-teman. Yay!

Kemarin saya mendapat tempat lilin dari Anna dan hari ini saya dapat homemade jam untuk roti dari Olga. Besok dapat apa lagi ya? Curious!

Lepas dari unsur keagamaannya, saya pikir aktifitas seperti ini asyik juga demi mengurangi suasanya yang selalu cenderung muram di musim dingin. Seneng aja ketika suhu di bawah nol derajat, jam 4 sore sudah gelap gulita, namun di segala penjuru tampak lampu hiasan natal berkelap-kelip. Lalu saat jam 8 pagi, masih gelap gulita juga dan kabut yang tebal di luar sana, kita punya kado kecil untuk dibuka.

Kalau di tempatmu bagaimana tradisi Natalnya? Apakah heboh juga seperti film-film Natal di TV? Oh ya, agenda saya setiap menjelang Natal dari tahun 2007 adalah nonton film Bad Santa yang dibintangi Billy Bob Thornton dan sejak tahun lalu ditambah dengan Bad Santa 2 ❤ Kamu punya film Natal favorit nggak? Home Alone Movie, mungkin?

Tulisan saya tentang Natal yang lain bisa dibaca di sini.

Advertisements

Kebiasaan Orang Jerman – Part 1

Hai hai…ternyata lumayan lama juga ya saya nggak nulis-nulis di sini. Lagi sibuk ini ituu… Sok sibuk tepatnya hihi… Kali ini tepat banget waktunya, pas males nulis (tapi pengen exist) eh nemu tulisan ini di draft, tentang kebiasaan-kebiasaan kecil orang-orang di Jerman. Yawis diselesaikan aja dulu yang bagian pertama ini.

Kebiasaan-kebiasaan ini meskipun sebenarnya nggak terlalu penting untuk dicermati tapi menarik buat saya karena berbeda aja dengan kebiasaan-kebiasaan yang ada di Indonesia. Dan seperti biasa, kebiasaan-kebiasaan ini nggak mutlak berlaku buat semua orang Jerman ya… Tapi ya kebanyakan begitulah 😀

Ngebel pintu rumah orang cukup satu kali saja.

Yup. Ngebel sekali lalu ditunggu ada yang bukain nggak. Kalau nggak ada ya sudah kita pergi lagi. Kecuali kalau memang sudah janjian sebelumnya, biasanya kita ngebel lagi atau nilpun, bilang kalau kita sudah di depan pintu. Kalau ada bunyi bel pintu berkali-kali biasanya bisa ditebak, itu adalah anak-anak yang mainan bel pintu orang.

Dapur berada di ruangan depan.

Jadi biasanya interior rumah atau flat orang Jerman itu -tidak seperti rumah-rumah di Indonesia yang begitu masuk dari pintu depan langsung ruang tamu atau ruang keluarga dengan sofa, meja,rak TV, dan sebagainya- begitu kita masuk dari pintu depan akan terdapat semacam lorong yang dinamakan Flür (EN: floor) yang menyambungkan ke ruang-ruang lainnya. Mengapa di Jerman kebanyakan rumahnya ada lorongnya karena faktor cuaca, supaya kalau pas pintu depan dibuka, udara dingin tidak langsung masuk ke main room (ruang tamu/ keluarga) dimana kebanyakan anggota keluarga menghabiskan waktunya di situ. Lalu di lorong tersebut, selain rak sepatu juga terdapat lemari atau sekedar gantungan untuk menaruh barang-barang yang dikenakan dari luar seperti tas, syal, jaket. Setelah semua dilepas di lorong, baru deh nyantai masuk main room-nya.

Nah begitu masuk lorong ini, biasanya ruangan yang paling dekat diakses, alias ruangan yang paling depan adalah dapur. Kalau ini saya nggak tahu sebabnya, mengapa demikian. kalau di Indonesia kan dapurnya di belakang bahkan kalau rumah model lama malah di belakang banget, diumpetin. Di sini justru di ruangan paling depan dan banyak juga yang dapurnya jadi satu dengan main room, open kitchen gitu. Buat saya sih nggak cocok karena saya nggak suka kalau main room jadi bau bawang atau terasi ketika masak.

37519474520_82e652d446_o
Ini dapur di rumah. Begitu masuk rumah, dapur ini ada di sebelah kanan. Di sebelah kirinya toilet tamu. Dapur saya aslinya ada pintunya tapi kami copot, diganti dengan pembatas ruangan yang bisa digeser-geser itu.

Kalau traffic light di depan sedang hijau, orang-orang bukannya ngebut ngejar hijaunya tapi malah pelan-pelan.

Mengapa? Karena kalau ngebut trus lampunya merah lagi kita nggak bakalan bisa mengontrol kecepatan, bisa-bisa nggak sempat ngerem dan akibatnya malah menerobos lampu merah. Jadi mending pelan-pelan menunggu sampai lampu merah lalu hijau lagi dan berjalan lagi dengan nyaman. Lampu merah di sini tidak pernah lama kok jadi nggak ada yang keberatan berhenti di lampu merah demi keamanan. Saya nggak tahu berapa denda melanggar lampu merah di Jerman tapi orang-orang di sini sangat disiplin dengan lampu merah. Di tengah malampun di mana nggak ada kendaraan di ketiga sisi persimpangan, kalau lampu merah ya kita berhenti menunggu sampai hijau. Dulu sih pertama-tama tinggal di Jerman saya merasa dungu juga berhenti sendiri di lampu merah padahal dari jauh juga kelihatan kalau nggak ada kendaraan di sisi lain 😀

Hampir semua mobil berkaca bening maka jangan kaget kalau melihat ada orang ngobrol antar mobil ketika berhenti di lampu merah.

Suatu hari di musim panas, saya nyetir mobil dengan rambut tertutup hoodie. Tiba-tiba di lampu merah mas-mas di mobil sebelah buka jendela lebar-lebar dan bertanya ngapain pake hoodie di cuaca seindah ini… Yaolo mas-nya care banget, pikir saya. Saya jawab aja kalau lagi having bad hair day. Masnya ngakak trus iseng aja nanyain apa kabar, mau kemana…sampai lampunya hijau  lagi dan kita saling dadah-dadah karena saya harus nyetir terus ke depan, dan dianya belok kanan. Apa kita sudah saling kenal? No.

Kalau ada yang ngasih jalan, yg dikasih melambai tanda terima kasih.

Kebanyakan pengendara mobil di Jerman itu sopan-sopan. Mereka suka memberi kesempatan kepada pengendara lain untuk jalan duluan jadi macet di belokan karena rebutan jalan itu hampir nggak ada. Kalau lawan pengendara ngedim ke kita, berarti kita disuruh jalan duluan. Sebagai balasannya kita akan melambaikan tangan tanda terima kasih. Apa aturan tersebut diajarkan di tempat kursus nyetir? Di tempat saya kursus dulu sih gurunya ngasih tahu sekilas tapi nggak ada aturan tertulisnya.

Apapun cuacanya, ngajak anak main di luar.

Yup, apapun cuacanya. Kecuali kalau ada angin puting beliung aja kali. Yang harus disesuaikan cuman bajunya saja. Kalau pas hujan ya pakai raincoat. Kalau pas salju tebal ya pakai baju khusis salju. Minimal 1x sehari para orang tua pasti mengajak anaknya main di luar.  Kalau saya sih termasuk golongan yang sangat melihat-lihat cuaca dulu sebelum keluar hihi…

Makan makanan hangat cukup sekali dalam sehari.

Makanan hangat atau yang biasa disebut Warmes Essen yang dimaksud adalah makanan yang ‘dimasak’, misalnya nasi, sup, kentang, daging-dagingan. Kebanyakan orang Jerman makan makanan hangat hanya saat lunch ATAU dinner saja, selebihnya ya makan makanan dingin. Makanan dingin ynag dimaksud misalnya roti dengan sosis dan selada atau selai-selaian, pokoknya yang tinggal comot dan nggak harus nyalain kompor. Praktis memang mereka tapi kalau soal urusan perut saya lebih suka repot dikit. Kami makan hangat dua kali sehari, lunch DAN dinner. Paginya makan roti-rotian atau oatmeal. Kalau kamu sarapannya gimana?

Kalau pas kerja, saya lunch-nya random. Kadang bawa makanan hangat dari rumah yang bisa dipanasin di microwave, kadang bawa overnight oatmeal doang dan side dishnya apa aja yang bisa  diambil di dapur kantor misalnya kripik pisang dan waffle instant.
999A0389-1eS
Homemade artisan bread buat sarapan.

Itu dulu tentang kebiasaan-kebiasaan kecil orang Jerman. Selebihnya ditulis nanti ya, biar next time ada bahan tulisan lagi 🙂

To be continued…

 

Random Sunday – Di Sekitar Sini Saja

 

999A7246-1es
Fotonya nggak nyambung gapapa ya… kan random photo yang diambil 😀
Kapan itu pas nganter Flipper ke TK, saya ketemu dg seorang bapak yang sering saya lihat di playground, main dengan anaknya yg satu TK dengan Flipper tapi beda kelas. Si bapak tadi nyangklong roller yang menurutku pretty cool. Secara roller-nya Flipper udah kekecilan, saya nanya dong itu roller mereknya apa dan anaknya umur brp (faktor ukuran roller-nya). Eh lah ternyata si bapak ini mikir lama pas ditanya umur. Akhirnya dengan ragu-ragu dia menjawab: I think she is five…😅 #men #dad

Jadi biasanya anak- anak tetangga suka ngebel trus bertanya si Flipper mau keluar main nggak sama mereka? Tapi  beberapa hari yang lalu ada anak umur 5 tahunan, ngebel untuk pertama kalinya di rumah kami dan bertanya dengan sopannya, “Apa aku boleh mengajak anak perempuanmu keluar?” Aaaaw… yang terpesone emaknya 😄

Enaknya jadi pelanggan online shops adalah, ketika ulang tahun kita bisa dapat banyak voucher discount dari banyak olshop untuk belanja hihi… Lalu dari keluarga jauh biasanya dapat hadiah duit. Pas lah ya… #pengenultahterus

Si Drama Queen: Nggak Boleh Berlebihan

IMG_4534s
Smiley Sun buatan Flipper yang difoto sendiri sama dia.

Flipper: Mama, si A lama banget deh kalau main puzzle. Capek deh nunggunya, kan aku juga mau main.

Saya: Mungkin dia butuh bantuan? Udah pernah nanya, apa dia perlu dibantu?

Flipper: Mama, sie muss einfach mehr Mühe geben, dann kann sie alles schaffen (Mama, dia hanya perlu ngasih more effort biar bisa berhasil dalam segala hal).

Saya: Ah…

Atau:

Flipper: Mama, masa si B mau beli gaun lagi. Dia kan gaunnya udah banyak.

Saya: Ya gapapa kan, mungkin dia memang suka pakai gaun.

Flipper: Mama, orang kan nggak boleh berlebihan.

Saya: Ah…

Pokoknya mamanya cuman bisa ah… ah…😅

(Semi) Multilingual Child

999A7378-1eSS

Kemarin waktu di Indonesia saya banyak melihat orang tua Indonesia yang ngajak anak balitanya ngobrol dengan bahasa Inggris. Menurut saya bagus banget anak sudah mulai dikenalkan dengan bahasa asing sejak dini. Beberapa teman dan kenalan juga bertanya ke saya kenapa Flipper nggak bisa berbahasa Inggris? Kan dia tinggal di luar negeri? First, Fliper memang tinggal di luar negeri which is Jerman yang bahasa sehari-harinya adalah bahasa Jerman dan second, kami memang tidak (belum) mengajarkan bahasa Inggris ke dia.

Flipper sendiri bilingual, berbahasa Jerman dan Indonesia tapi Jermannya lebih banyak dari pada bahasa Indonesianya. Bisa jadi karena faktor lingkungan di sini dimana semua orang berbahasa Jerman kecuali mamanya dan saya sendiri kadang tidak konsisten mengajak dia  berbahasa Indonesia, seringnya ngajak berbahasa Jerman pula :D. Menurut kami, suami dan saya, belajar bahasa paling efektif untuk anak balita adalah ketika dia belajar satu bahasa dari satu orang di mana di keluarga kami, si papa yang berbahasa Jerman dan si mama  yang berbahasa Indonesia. Seandainya ada oma atau opa atau tante yang bisa berbahasa Inggris tentu akan asyik banget bila Flipper bisa berbahasa inggris dengan the third person itu. Namun sayangnya di lingkungan terdekat kami nggak ada yang bisa mengajak Flipper berbahasa Inggris.

Bahasa Inggris selama ini hanya kami kenalkan lewat lagu anak-anak. Dari bayi Flipper sudah sering mendengarkan lagu anak-anak berbahasa Inggris. Saking seringnya mendengarkan lagu-lagu yang sama setiap hari, lama-lama dia bisa sebut angka dan abjad sendiri dengan English pronounciation tanpa saya ajarin. Lalu mulai umur 2 tahun dia sudah mulai saya kasih lihat video lagu-lagu yang biasanya (hanya) dia dengar tersebut. Kanal Youtube  favorit kami adalah ‘Super Simple Songs’ dari ‘Super Simple Learning’ dan ‘Bob The Train‘ . Setelah melihat video-videonya, Flipper jadi tahu mana itu angka 123, mama itu huruf ABC, mana itu head, shoulder, knee, tomato, etc.

Umur 3 tahun Flipper mulai masuk TK dan mulai kenal lagu-lagu berbahasa Jerman yang ternyata beberapa di antaranya adalah terjemahan dari lagu anak-anak berbahasa Inggris itu tadi (atau vice versa). Pada awalnya dia suka galau karena lagu-lagu yang dia kenal selama ini kalau dinyanyin di TK kok jadi lain bahasanya. Kadang dia kalau nyanyi pun bahasanya campur-campur. Nah akhir-akhir ini Flipper mulai bisa tuh misahin bahasa. Flipperpun mulai meninggalkan ‘Super Simple Songs’ dan stick dengan ‘Bob the Train’ karena Bob punya video versi bahasa Jerman juga (yang sebenernya menurutku versi Jermannya enggak banget! 😂). Dia bahkan minta sendiri kalau lihat YouTube di TV dia maunya yang berbahasa Jerman sedangkan kalau di iPad dia maunya yang berbahasa Inggris. Kadang nih out of the blue, pas kita lagi mainan bareng, dia bilang, “Mama tahu nggak, Fenster heisst window auf Englisch…” Ih mentang-mentang maknya nggak pernah ngajarin eh dia yang ngajarin emaknya hihi…

Iya jadi angka, abjad dan kosa kata bahasa Inggris dia belajar sendiri dari lagu anak-anak tersebut. Selain itu dia juga suka kalau dibacakan buku anak-anak yang berbahasa Inggris. Saya sendiri belum  mengajarkan Flipper angka dan abjad, paling hanya menyediakan fasilitas seperti lagu-lagu tadi dan membantu mengoreksi saja kalau dia salah. Dan melihat progress dia yang lumayan cepat belajar bahasa sendiri, kami mulai kepikiran untuk memasukkan dia ke kursus bahasa Inggris, kalau anaknya mau ya…

Oh iya, gaya parenting tiap orang tua beda-beda ya… Menurut saya nggak ada yang salah karena tiap anak juga berbeda jadi kebutuhannya juga pasti berbeda. Ada yang melarang anaknya pegang gadget at all, ada yang ngasih bebas. Flipper saya kasih pegang iPad dan lihat TV program anak-anak yang dibatasin waktunya dan so far efeknya baik buat dia, bisa belajar bahasa itu tadi. Ada juga orang tua yang sudah mengajarkan anak-anaknya berhitung dan membaca dari umur 19 bulan (saya baca kemarin dari FB Pagenya Toddler Approved), kalau untuk hal-hal yang akademik begitu saya termasuk nyantai. Di sini sebelum anak masuk SD, mereka tidak diwajibkan mengerti angka dan abjad. Jadi ya biarkan anaknya bermain saja dulu, angka dan abjad bisa dikenalkan sambil lalu dengan lagu-lagu itu tadi.

Di sini ada yang anaknya multilanguage nggak, gimana methode ngajarinnya? Mungkin bisa share tips 🙂

Random Sunday- Ketika di Indonesia

Iyah, nggak terlalu random, ini cerita-cerita pendek  pas kita liburan 6 Minggu di Indonesia kemarin.

beach

Selama di Jogja, saya banyak wira-wiri dengan Grab dan Gojek, dimana saya nggak perlu lagi takut dikerjain argo sopir taxi dan nggak perlu ngrepotin mama untuk nganter kesana-sini (secara udah nggak berani nyetir si sini). So far saya selalu punya pengalaman bagus dengan sopir-sopir Grab dan Gojek, yang ada malah sering nggak enak hati sekaligus terharu karena banyak mas-mas yang mengucapkan terima kasihnya sampai terbungkuk-bungkuk bila dikasih tips apa adanya seolah saya ngasihnya 1 juta. Bahkan anak saya pernah sempat muntah di dalam mobil Grab tapi sopirnya nggak mau dikasih tips, saya bantu bersihin jok mobilpun, dia juga nggak mau.

Lalu pernah ada kejadian saya mendapat message seperti ini di henpun lokal saya. Critanya saya udah order Grab tp nggak jadi karena ternyata urusan nyokap di bengkel udah beres jadi bisa langsung pulang dengan mobil nyokap. Mau cancel ordernya Grab sebenarnya bisa tp saya pikir ah sudahlah, kasihan sopirnya udah jalan (di GPSnya juga kelihatan kalau sopirnya tadi extra muter arah untuk jemput saya), yawis titipkan saja biaya jasanya ke seorang bapak di bengkel. Saya nggak menyangka juga kalau bakalan dapat message dari pak sopir. Terima kasih doanya ya Pak, semoga Bapak juga selalu mendapat berkah dan lancar rejekinya ?￰Saya pasti akan kangen dengan keramahan dan ketulusan Jogja ini

grab

Masih tentang jasa transportasi. Kali ini ojek. Sebenarnya sih saya nggak asing dengan naik ojek. Di Jakarta dulu demi menghindari macet, ojek adalah langganan saya. Tapi naik ojek di Jogja memang baru kali ini dan sesuai dg semboyan kotanya, memang istimewa. Baik ojek online maupun ojek offline, sopirnya seneng banget ngajak penumpangnya ngobrol, dari sekedar apa kabar sampai curhat soal lebaran. Masalahnya nih, kita kan naik motor ya…bukan mobil. Susah lho ngobrol dg orang yg boncengin kita di tengah hiruk-pikuk jalanan apalagi pake helm cakil. Lebih serem lagi kalau sopirnya suka tolah-toleh ke kita, nggak lihat jalan saking semangatnya ngobrol. Mau dicuekin kok nggak enak juga.

Pas di Jogja pas suami sempat sempet beberapa kali fitness di Celebrity Fitness dan pada suatu hari pulang dari fitness dia curhat; pas ikutan body combat, di studionya semua pesertanya pada sibuk main henpun sampai instruktur bilang ‘yak mulai!’ Di cross trainer-pun banyak dijumpai mbak-mbak yang berjam-jam main di cross trainer, jalan super pelan-pelan sambil main henpun. Di atas treadmill pun juga demikian. Hebat ya, katanya. Multi tasking 😀

Tahun ini adalah Idul Fitri pak suami yang pertama di Indonesia. Bagaimana kesan dia? Ada beberapa komentar lucu, di antaranya; Pas hari H-Lebaran, abis shollat Ied, halal bihalal di masjid lalu acara makan opor dan ngobrol-ngobrol, kita semua somehow capek dan pada ketiduran. Pak suami bingung dan setelah pada bangun dia komentar: aku pikir Idul Fitri itu bakalan seharian pesta pake acara tari-tarian segala eh ternyata ada acara tidur siangnya. Enak juga ya…katanya. Yang kedua, pas main ke mall, kami bertemu teman lama saya sedang jalan bareng sekeluarga. Mereka pake baju batik kembaran dalam rangka lebaran. Komentar pak suami lugu: mereka peserta apa ya? Kok bajunya seragam?

Selama di Jogja nggak bisa shopping-shopping cantik atau bahkan window shopping sekalipun karena syusah shopping bawa balita (note: hubby hanya 3 minggu pertama di Indonesia). Sering sih main ke mall tapi di mall yang dituju kids entertainment doang karena memang public playground hampir nggak ada di sini. Di saat-saat seperti bisa bisa mendadak kangen rumah dimana kita bisa anteng shopping online sebanyak-banyaknya trus kalau nggak cocok ya bisa dibalikin sebanyak-banyaknya pula.

It’s not easy to go on holiday alone with what so-called strong-willed child. Go beauty shopping like dress, shoes or even souvenirs is impossible because at the end we will spend the entire time in a game station in the mall. Enjoying yummi food in restaurants is just an alien concept because what I have to do is to eat as fast as I can without finishing it before that child jump off her chair and go run somewhere to do whatever she wants to do. A thought to have beautiful mother-daughter moment; strolling along the seashore will stay as a thought because the fact was, I had to catch her here and there, yelled stops thousand times before she throw herself in the deep sea. At least we managed to enjoy one single beautiful sunset in Double-Six Beach without tantrum. And in this pic, I tried to tell her that iPad time is over, because I had finished my lunch already (yes, mama wanted at least once to enjoy her meal). You see her face. You know what happened next.

mecucu

Hari Pertama Masuk SD (Einschulungstag)

Kemarin di provinsi North Rhine Westphalia Jerman merupakan hari pertama anak-anak masuk SD atau di sini disebut Einschulungstag. Di sini hari pertama masuk SD adalah a big thing buat para orang tua. Eh pastinya di Indonesia juga ya, di mana para orang tua terharu biru karena si anak yang dulunya bayi, lalu menjadi toddler, kini sudah kelas satu SD. Tak heran bila kemarin banyak terlihat anak-anak yang menyandang ransel gede di punggungnya dan mendekap bingkisan besar berbentuk kerucut berhias  yang disebut Schultuete.

Rutinitas hari pertama masuk SD di sini diawali dengan kumpul bersama, sesama siswa baru ditemani orang tua, opa-oma dan saudara-saudara mereka di gereja yang sudah ditunjuk oleh pihak sekolah. Setelah itu  mereka pergi bersama-sama ke gedung SD. Di SD mereka akan diterima oleh kepala sekolah dan disambut dengan pidato selamat datangnya. Setelah itu mereka mulai dipisah di kelas masing-masing. Sejauh pengalaman saya motret hari pertama masuk SD, rata-rata di sini satu kelas diisi 20-25 anak.  Di dalam kelas mereka berkenalan dengan wali kelas mereka sekaligus menerima wejangan dan  aturan-aturan dos dan don’ts. Salah satu yang dianjurkan adalah supaya anak-anak pergi ke sekolah dengan jalan kaki (tentunya dengan ditemani orang dewasa dulu di hari-hari pertama) supaya mereka hapal jalan ke sekolah dan bisa belajar mandiri. Itulah sebabnya anak-anak di sini pilihan sekolahnya tergantung dengan jarak jauh-dekatnya dengan tempat tinggal. Di kota tempat tinggal saya, untuk selevel TK dan SD tidak ada golongan sekolah favorit dan non favorit, semua memiliki kualitas yang sama.  Nggak tahu ya kalau di kota lain.

Setelah prosesi penerimaan siswa baru yang kira-kira memakan waktu 2 jam, merekapun pulang ke rumah.  Di rumah  para orang tua biasanya mengadakan  pesta makan siang dengan mengundang keluarga dan teman dekat. Ada yang mengadakan pesta di rumah tapi ada juga yang booking tempat di restoran. Di saat makan siang inilah anak-anak mulai diperbolehkan membuka Schultuete mereka. Apa sebenarnya Schultute itu?

Schultuete  merupakan bagian dari tradisi hari pertama masuk SD dan bisa dibeli kosongan di toko-toko yang banyak menjualnya menjelang bulan Juli dan Agustus atau membuat sendiri. Kebanyakan sih  anak-anak di sini membuat Shultuete sendiri  dibantu papa mama. Sebelumnya, saat masih di Kindergarten, anak-anak yang akan masuk SD tersebut juga sudah diajarin oleh  gurunya bagaimana membuat Schultuete sendiri.

Tradisi ini berawal di kota Jena pada tahun 1800 an dimana untuk menambah semangat si anak masuk sekolah baru (baca: mengurangi kecemasan anak-anak) , para orang tua dan saudar-saudara yang lain memberi hadiah berupa permen dan coklat yang dimasukkan ke dalam Schultuete tersebut. Saat ini sih isi Schultuete nggak hanya permen-permenan namun juga alat-alat sekolah dan mainan.

Berikut ini adalah beberapa foto dari Einschulung photo session kemarin:



Don’t cry mama!

Selain Schultuete, hal yang menarik lainnya adalah ransel besar yang dikenakan anak-anak SD tersebut. Ransel ini akan dikenakan sehari-hari tentunya, tidak pada hari pertama saja.

Foto diambil dari: http://www.ksb-es.de/neue-ranzen-machen-kinder-gluecklich/

Orang pendatang yang melihat ransel itu pertama kalinya di Jerman pasti berpikir what the heck is that? Besar, terlihat berat dan desainnya jelek semua (at least menurut saya ya). Saya bahkan sempat kasihan melihat anak-anak yang mengenakan tas kebesaran tersebut. Namun rupanya, meskipun tidak wajib mengenakannya,  ransel tersebut ternyata sangat dianjurkan untuk dipakai karena desainnya sudah disesuaikan dengan proporsi pungggung, tubuh anak, dan ada ukuran-ukuran tertentu disesuaikan dengan umur dan berat/ tinggi badan mereka. Bahannyapun ternyata ringan jadi meskipun besar, dia tidak berat (yang bikin berat mah buku-buku di dalamnya).

Selain sudah diperhitungkan faktor ergonomic-nya, soal fungsi juga diperhitungkan banget. Di interior ranselnya terdapat sekat-sekat untuk buku, kotak bekal, botol minuman, pencil, dst. Lalu di exterior ada reflection sticker-nya supaya kalau pagi-pagi berangkat ke sekolah, meksipun gelap di musim dingin, anak-anak itu tetap terdeteksi. Oh iya, bahan ransel yang free toxic juga menjadi pertimbangan untuk membeli ransel sekolah. Tak heran deh pokoknya bila ransel jelek ini harganya di atas 100€, apalagi yang ada stempel TÜV nya. Ngalah-ngalahin harga tas mamanya deh pokoknya 😂


Foto diambil dari: http://www.t-online.de/leben/familie/schulkind-und-jugendliche/id_19084134/stiftung-warentest-schulranzen-muessen-vor-allem-stabil-sein.html

Kalau di tempat tinggal kalian ada tradisi khusus untuk anak sekolah nggak?