Si Bocah Abis Gali Sumur

Summer oh summer… Dimana setiap pulang sekolah, penampilan si bocah seperti abis gali sumur. Kalau nggak basah kuyup ya penuh pasir atau dua-duanya…basah dan belepotan pasir. Kalau cuaca bagus, anak-anak di TK-nya Flipper memang banyak beraktifitas di luar kelas. Di halaman belakang, mereka punya mini water park dimana anak-anak bisa main perosotan dan mainan pasir lengkap dengan semprotan dan pancuran air. Sayangnya halaman TK-nya Flipper nggak bisa difoto karena memang nggak boleh foto sembarangan di TK tapi saya ada fotonya si Flipper pas baru saya jemput nih 😀

Mila kotor

Pas melihat penampilannya ini saya sempat komentar, “untung mama punya mesin cuci ya di rumah” mengingat kalau pas summer si Flipper memang bisa ganti baju lebih dari 3x!

Trus tahu nggak apa jawaban dia saat itu? “Ah mama, nggak usah gitu-gitu amat deh, semua orang di sini kan punya mesin cuci!”

Aaah! Cubit!

Advertisements

Ketika di Jerman – part2

Sesuai janji saya dulu kala, yang meskipun lama tapi tak pernah lupa, berikut ini kebiasaan orang Jerman part 2. Sambungan dari yang part 1 tentunya. Judulnya saya ganti, tidak lagi tentang ‘kebiasaan’ tapi ya random aja tentang apa yang biasanya terjadi/ berlaku ketika di Jerman.

Orang Jerman Punya Tool dan Outfit Untuk Segala Keperluan.

Waktu si Flipper mulai memasuki usia 1 tahun, di mana dia sudah mulai bisa jalan sendiri, saya sempat merasa overburdened dengan urusan wardrobe dia. Terus terang, sebelumnya saya nggak kepikiran dengan adanya jenis pakaian semacam softshell jacket, hardshell jacket, mudpants, functional jacket, anti slip socks, etc. yang mempunyai funksi sendiri-sendiri berdasarkan cuaca dan kegiatan si anak.

Itu baru untuk anak-anak dan jenis kegiatan ya, belum lagi outfit untuk orang dewasa… Untuk berkebun, nukang, jogging atau sepedaan beda semua bajunya. Ada barang berbentuk segi empat khusus untuk menjadi landasan dengkul kita ketika kita berkebun. Alat berkebun pun macamnya buanyak, mulai gunting kecil buat memetik tangkai bunga sampai yang segeda saya buat memotong pagar hidup. Daaan gunting kecil buat memetik bunga itupun jenisnya macam-macam, bunga mawar dan bunga tulip guntingnya beda lho. Entahlah, barang-barang seperti gunting bunga itu memang  beneran dibutuhkan atau marketing yang membodohi kita.

Yang membuat saya paling terkesan sih adanya alat pembelah pil. Kan kadang dosis minum obat kita cuman setengah pil, nah susah kan ya membelah pil yang kecil-kecil? Di saat itulah alat pembelah diperlukan. Yaolo, pinter banget yang menciptakan alat ini.

IMG_0494-1e
Flipper waktu itu, pake shoftshell jacket dan mudpants. Setelan ini dipake untuk main kotor-kotoran saat musim semi dan musim gugur. Kalau musim dingin harus pake winter jacket dan mudpants dan ada lapisan penghangatnya di dalam. Oh iya, jangan lupa sepatu khususnya juga. Ribet deh pokoknya.

Orang Jerman Suka Minum Sparkling Water

Kalau beli sparkling/ soda water botolan, kita bisa milih yang kadar sodanya rendah atau tinggi. Ada juga alat khusus untuk membuat soda, jadi kita ambil air biasa lalu botolnya ditancepkan ke alat itu untuk menambah sodanya. Saya sendiri nggak terlalu suka sparkling water, saya hanya minum sparkling water ketika nggak ada air putih biasa.

Kedai Es Krim Hanya Buka Selama Musim Panas

Saat musim semi atau gugur biasanya ada satu dua kedai yang mulai buka tapi jarang banget deh yang buka 12 bulan karena memang memang saat musim dingin kedainya nggak laku. Ada juga yang tetap buka tapi isi dagangannya berbeda, instead of jualan es krim, mereka jual waffle atau crepes plus minuman hangat.

Suka Menyapa, Di Ruang Tunggu Dokter atau di Jalanan

Meskipun termasuk tidak ramah, orang Jerman rajin menyapa orang asing di ruangan public atau di ruang tunggu dokter. Di tempat saya tinggal, kalau lagi jalan-jalan di taman dan papasan dengan orang kita selalu saling menyapa Guten Tag atau sekedar Hallo. Senyum sih nggak harus 😀 Tapi kalau di kota-kota besar nggak banyak ynag masih saling menyapa.

Ketika masuk ruang tunggu dokter, di mana sudah ada beberapa orang ynag duduk di situ, otomatis orang yang terkahir masuk bakalan menyapa Guten Tag atau Hallo itu tadi dan para pasien yang lain akan membalasnya serentak.

Film Wajib Tonton di Hari Minggu

Hari Minggu adalah hari istirahat di seluruh Jerman, toko-toko tutup semua (kecuali restoran dan tempat wisata) sehingga hari Minggu didedikasikan untuk santai di rumah bersama keluarga. Nah film yang ditunggu-tunggu setiap hari Minggu oleh kebanyakan warga Jerman adalah film serial ‘Tatort’ (Crime Scene).

‘Tatort’ adalah film tentang polisi yang menyelidiki kasus-kasus kriminal yang tersebar di segala penjuru Jerman dan negara-negara tetangga berbahasa Jerman. Tiap Minggu tim polisi yang ditampilkan berbeda, hari ini polisi Cologne, minggu depan polisi Hamburg, etc. Film serial ini sudah ditayangkan sejak tahun 1970 dan tetap menjadi kesayangan orang Jerman sampai sekarang. Pada hari Seninnya forum diskusi di Websitenya ARD/ Das Erste (stasiun TV ynag menayangkan ‘Tatort’) pun rame membicarakan episode semalam

Tradisi Nonton Dinner For One Setiap Malam Tahun Baru

Kalau di hari minggu ada film serial yang wajib ditonton, maka setahun sekali, pada malam tahun baru ada film pendek yang wajib ditonton juga. Judul filmnya ‘Dinner For One’, merupakan film dari Inggris yang nggak di-dubbing ke dalam bahasa Jerman (selain ‘Dinner For One’, film-film luar yang masuk Jerman di-dubbing semua bahasanya). Durasi filmnya cuman sekitar 10 menit dan kualitas teknis filmnya solala karena memang film tua produksi tahun 1963. Masih hitam putih lho!

39334196934_7681ea4214_o
Flipper cekakakn abis waktu nonton ‘Dinner For One’ hihi….

Pada tanggal 31 Desember, stasiun TV NDR menayangkan film ini beberapa kali. Film ini merupakan film komedi yang bagi  saya ceritanya ok lah tapi  nggak harus belain nongkrongin TV setiap tanggal 31 Desember demi melihatnya. Penasaran dengan ceritanya ‘Dinner For One’? Check this out! Menurutmu lucu nggak? Orang Jerman sampai hafal lho dengan setiap dialognya 😀

 

Memberi Tip Secara Langsung

Biasanya kalau di Indonesia, kita mau ngasih tip kan tinggal ditaruh di atas meja makan sebelum kita pulang, kalau di restoran sini kita ngasihnya langsung bilang ke pelayannya. Misalnya pas pelayan ngasih tagihan 23€, kita ngasih ke dia uang 25€ sambil bilang “24€”, maka si pelayan bakalan balikin 1€ doang sambil bilang danke (makasih). Ngasih tip di Jerman tidak wajib hukumnya dan kalaupun nggak ngasih, nggak bakalan dikasih pandangan judes. Saya mah kalau makan/minum di atas 5€ selalu ngasih tip, selain itu saya juga ngasih tip di salon kalau hasilnya ok. Kalau enggak ya nggak ngasih 😀

Popcorn Manis di Bioskop

So far nemu popcorn asin hanya di bioskop yang filmnya original language (bukan dubbing) jadi kebanyakan audience-nya bukan orang Jerman. Kalau di bioskop biasa, popcorn yang dijual hanya yang manis.

Oh iya, Makanan yang wajib dijual di bioskop sini selain popcorn adalah nachos dengan sausnya. Nachos ini yang selalu  bikin aku rajin nonton film haha… Kalau saja di bioskop sini juga jualan lemper seperti di Indonesia, pasti saya bakalan tambah rajin nontonnya 😀

Orang Jerman Suka Makan Memakai Alat makan

Orang Jerman enggan makan pake tangan begitu saja. Makan semangka senangnya dipotong kecil-kecil dulu lalu dimakan pake garpu. Makan burger dan Pizza juga begitu, diiris-iris dulu dan pake garpu bahkan es krim di atas waffle cone-pun bukannya dijilatin tapi disendokin.

Okay, sekian dulu deh… Nanti saya coba kumpulkan lagi hal-hal yang ‘khas’ Jerman, siapa tahu ada sambungan part 3-nya 😉

Happy Weekend all!

-beth_

Good to be back here again, Mallorca – Part 2

Juhuu…  setelah selingan beberapa cerita di postingan sebelumnya, yuk kita lanjutkan cerita tentang liburan di Mallorca kemarin sebelum saya lupa semua. Jadi buat saya, tujuan nulis blog ini selain buat berbagi pengalaman (siapa tahu ada yang tertarik), juga sebagai diary buat saya, supaya saya nggak lupa dulu pernah ngapain aja, kemana aja. Syukur-syukur bisa diulang lagi liburannya.

Kemarin postingan di Mallorca Part 1 berakhir di kota Cala d’Or, kali ini masih di situ juga karena memang banyak banget tempat asyik di Cala d’Or dan sekitarnya jadi kita tuntaskan dulu perjalanan di Cala d’Or dan sekitarnya sebelum berlanjut ke kota tujuan ketiga.

Monacor

Kota Monacor terletak sekitar 30km dari Cala d’Or. Niat kita ke kota tetangga ini sebenarnya cuman mau nyuci baju di self-service laundry karena di apartemen-hotel concept kami, tarif laundry-nya muahiil. Dan secara bawa anak kecil, kebayang kan berapa kali dia harus ganti baju sehari. Saya mah minta ampun saja kalau musti ngucek pake tangan. Biaya washing dan drying di sini, untuk 6kg cukup 6€ saja, sementara kalau di hotel tarif untuk satu kaus 5€. Nah sembari nunggu laundry kelar, kami jalan-jalan di sekitar situ.

Letak self-service laundry ini berada di pusat kotanya Monacor di mana terdapat pasar terbuka yang isinya dari jualan burung sampai baju. Sementara Flipper sibuk mengamati burung-burung dengan papanya, saya muter-muter lihat pasar yang hanya buka sampai jam dua siang. Siesta time. Kami sempat juga tersesat di gang-gang yang sepi di kota tersebut. Untungnya meskipun sepi, gangnya cantik. Secara keseluruhan sih, nggak ada yang menarik dengan kota ini. Etapi kami hanya mengitari daerah seputar pusat kota aja lho ya.

2775s2779s

12
Si Flipper terpukau dengan mesin cuci yang gede-gede.
11
Sibuk mengamati burung.
9
Pasar Monacor.

Portocolom

Salah satu result dari pencarian kota-kota worth to visit di sekitar Cala d’Or menurut Google adalah kota Portocolom yang hanya berjarak 12 km dari Cala d’Or. Kota itu terkenal sebagai kota nelayan kecil yang sepi tapi indah, maka kamipun ke sana. Kotanya ternyata beneran sepi, nggak banyak turis. Kami sempat menyusuri pelabuhan kecilnya dan nemenin Flipper makan es di satu-satunya warung es krim di sana.

2821

2823

2819

Setelah lempar-lempar kerikil ke air, kamipun mulai bosan dan memutuskan untuk mencari pantai. Dari pelabukan Portocolom kami bisa melihat ada sebuah pantai di ujung horison dan hubby mikir kita bisa kesana jalan kaki saja, tinggal muterin pelabuhan, katanya. Untung saya menolak karena waktu itu puanas dan ternyata yang konon sekadar ‘muterin pelabuhan’ itu jauh boo… Untung jadinya naik mobil. Nama pantai yang kami lihat dari pelabuhan tadi apadah Cala Marcal

Pantai Cala Marcal

Buat yang nggak bisa lepas dari sosmed, pantai ini penting karena di sini ada free wifi-nya. Buat saya, pantai ini juga penting banget karena ada proper toiletnya, yang artinya toiletnya berada di bangunan tembok dengan air bersih yang mengalir. Tidak semua pantai di Mallorca memiliki fasilitas tersebut, kebanyakan adanya toilet box yang panas itu, nggak ada airnya, dan kadang bauu! Makanya saya suka enggan pipis di sini. Atau numpang pipis di restoran terdekat juga bisa sih cuman kalau pantainya di pedalaman ya nggak ada resto/ warungnya.

Di sini kami beruntung banget, dapat ‘hibahan inflatablemattress dari turis yang mau pulang ke Jerman dan nggak butuh mainannya lagi sehingga Flipper dan papanya bisa happy berlayar dengan pelampung kasur (not sure apa terjemahannya yang bener hihi…) itu.

Saya rasa ini semacam etik berlibur ya karena ini bukan pertama kalinya kami dapat hibahan beach stuffs dari orang yang sudah selesai berlibur. Dulu di Turki Flipper juga sempat dapat hibahan mainan pasir (cetakan, ember, sekop, etc) dari stranger. Kamipun kalau space di koper mepet juga nggak bawa mainan pantai dari Jerman, mending beli di kota tujuan lalu kalau kami udah mau balik ke DE, dikasih aja ke random turis yang kira-kira butuh dan so far yang dikasih seneng banget.

2834s
Can you spot si boss Flipper lagi nangkring di atas pelampung kasur, didorong papanya? 😀

2835s

ALCUDIA

Setelah menginap 5 hari di kota Cala d’Or, kamipun  pindah lagi ke kota tujuan terakhir kami, Alcudia. Perjalanan dari Cala d’Or ditempuh sekitar 1, 5 jam untuk jarak 70km. Jalannya sebenarnya tidak terlalu berbelok-belok tapi banyak jalan tikusnya, alias sempit. Dalam perjalanan ke Alcudia ini Flipper sempet mabuk darat, muntah-muntah jadi kitapun sempat istirahat dulu di pinggir jalan. Berhubung ini mabuk pertamanya Flipper, dia sempat panik dan bingung gitu pas muntah. Sempat bertanya kenapa kok muntah padahal dia nggak makan coklat banyak dan nggak makan cabe hihi… Ceritanya, dia dulu memang pernah muntah karena kebanyakan coklat tapi kalau soal cabe, entah dari mana dia mendapat kesimpulan seperti itu.

13

Istirahat di pinggir jalan setelah mabuk darat.

Alcudia ternyata lebih touristy dibanding Cala d’Or. Baru masuk kotanya aja sudah kelihatan gedung-gedung tinggi dengan nama-nama chain hotels di pinggiran jalan. Hotel kita untungnya nggak berada di main street, agak menepi sedikit, berada tepat di pingir danau. Kali ini si D salah booking karena kebanyakan tamu hotel di sini manula, ngga ada anak kecil sama sekali kecuali Flipper. Di sini nggak ada acara mini disco, adanya   Elvis night dan Bingo game. Flipper sempat ikutan nonton live music Elvisnya dan komentarnya: why on earth orang ini gemeteran kakinya? Haha… Kebanyakan tamu di hotel ini sini orang Jerman dan orang Spanyol. Dari ketiga hotel yang kami inapi, makanan di sini paling enak dan variasi menunya tidak membosankan.

14

Karena Alcudia berada tak terlalu jauh dari Cap de Formentor dan kami juga masih jatuh cinta dengan perjalanan menuju Cap de Formentor delapan tahun yang lalu, kali ini kami memutuskan untuk ke sana kembali supaya Flipper juga bisa menikmati indahnya Cap de Formentor ynag terkenal itu.

Apaan sih sebenarnya Cap de Formentor itu? Bersambung lagi ya teman-teman… Maaf, bukannya bermaksud bikin penasaran, tapi saya musti sortirin foto-fotonya dulu hihi… Janji deh, kali ini nggak pake lama! 😀

Much love,

-beth-

Ngobrol dengan anak umur 5 tahun tentang tragedy di gua Tham Luang Thailand

Drama di gua Tham Luang Thailand sudah berakhir dengan happy ending dan sampai sekarangpun saya masih rajin mengikuti beritanya; how are the boys doing now, sudah bisa makan normal apa belum, sudah bisa memeluk bapak ibunya apa belum.  Duh, drama tentang anak-anak yang terjebak di gua tersebut memang menyita perhatian saya sejak beritanya muncul di media. Setiap pagi, baru bangun tidur, berita yang saya cek pertama kali ya berita tentang anak-anak ini. Kadang bacanya pun sampai nangis lho, yang hari-hari terakhir sih nangis seneng. Saya juga setiap hari update berita ini ke Flipper. Kadang kita juga melihat video-video liputannya dari media.

Bagaimana lengkapnya cerita kejadian di Thailand ini, saya rasa bisa dibaca di mana-mana jadi saya nggak perlu bikin rangkuman di sini tapi saya mau share beberapa obrolan saya dengan Flipper tentang kasus ini  yang kadang temanya belok kemana-mana 😀

Waktu melihat video pas the Thai boys baru ditemukan oleh the British diver.
Saya: “Waa Flipper! Mereka sudah ditemukan! lengkap 13 orang! Yay!”
Flipper: “Mama, kok mereka ngomongnya pake bahasa Inggris? Bukan bahasa Indonesia?” Dia mikirnya orang Thailand ngomongnya bahasa Indonesia juga.
Saya: “Karena yang menemukan mereka orang Inggris, jadi harus pake bahasa Inggris.”
Flipper: “Kalau penyelamnya orang Jerman, berarti harus bahasa Jerman ya ma?”
Saya: “Kurasa orang Jermannya bisa berbahasa Inggris juga atau bahasa Thailand.”
Flipper: “Jerman nggak kepake ya ma.”
Saya: “Enggak.” Sambil wondering apa ada volunteer orang Jerman di tragedy itu.

Waktu anak-anak masih di dalam gua dan belum ada kepastian kapan mereka bisa keluar.
Saya: “Sedih banget, mereka masih di dalam gua. Mereka sudah 2 minggu di dalam gua lho Flipper. Guanya gelap gulita dan nggak ada makanan.”
Flipper: “Itu ada yang bawa lampu ma, don’t worry.”
Saya: “Ya, baru-baru ini aja ada lampunya. Sebelumnya nggak ada.”
Flipper: “Ma, kata oma saya kurus padahal saya kan nggak duduk di atas batu di dalam gua seperti anak-anak itu.”
Saya: “Oma juga kurus dan nggak pernah masuk gua. Ignore her.”

Flipper: “Ma, ngapain sih anak-anak itu di dalam gua? Kan waktu itu kita pernah juga masuk gua tapi nggak lama-lama.”
Saya: “Mungkin mereka abis main bola mau berteduh, istirahat di gua… Kan di luar panas. Trus hujan deras, mereka terus di dalam gua supaya tidak kehujanan. Eh ternyata banjir masuk gua, jadinya mereka terjebak dan nggak bisa keluar lagi.”
Flipper: “Kenapa mereka tidak menyelam keluar seperti penyelam yang kita lihat waktu kita ke gua.” She refers to sebuah gua yang pernah kita kunjungi di kota Willingen, yang ada area buat menyelamnya juga, tapi airnya jernih, nggak bisa dibandingkanlah dengan yang di Tham Luang ini.
Saya: “Karena mereka kan nggak bawa alat selam dan nggak semua anak bisa berenang lho. Makanya kamu beruntung banget bisa berenang. Mama nih, nggak bisa berenang!”
Flipper: “Eh mama, emangnya hanya anak laki-laki ya yang boleh main bola?”
saya: “Enggak ah, kamu juga boleh kalau mau.”
Flipper: “Tapi itu yang di gua anak laki-laki semua.”
Saya: “Ya pas kebetulan laki-laki semua.”
Flipper: “Yang di TV, yang papa suka nonton juga laki-laki semua yang main bola.”
Saya: “Mmm…ya betul kali ini pas Male World Cup, next time pasti ada Female World Cup” Jawaban ngarang
Flipper: “Kenapa nggak dicampur aja ma?”
Saya: “Eh Flip, ini apelnya dihabisin dulu!”

Pas kemarin, semua anak dan trainernya sudah keluar dari gua.
Saya: “Alhamdulillah Fliip…mereka udah keluar semua nih!”
Flipper: “Hore! Mereka bisa main bola lagi ya ma!”
Saya: “Pastinya!”
Flipper: “Kalau tahun depan kita ke Indonesia lagi berarti aku boleh ikut mereka main bola ya?”
Saya: “Thailand Flip, Thailaaand…. Bukan Indonesia.”
Flipper: “Ah egal (doesn’matter), kan sama semua wajahnya.”
Saya: Makan krupuk.

Barusan saya browsing gambar-gambar tentang drama di Tham Luang Thailand ini…dan nangis lagi hiks… Terlalu sensitive ya…  Anyway, this is my favorite drawing so far!

Screen Shot 2018-07-11 at 12.50.41.png
Picture from official FB Page of Thai NavySeal

What each animal represents

According to Aor Panasoot’s translation, each animal in the artwork represents a different person or group involved in the operation:

  • Wild Boars: The children and coach
  • White Elephant: Governor Narongsak [Osottanakorn]
  • White horse: “All heroes…involved in the mission. You are the knight in shining armour riding the white horse to help us!”
  • Seal: “Of course…Thai Navy SEAL Hooyah!”
  • Frog: The divers
  • Naga (Dragon): Water pumping and drilling teams

The rescuers from around the world are represented by:

  • Lion: England
  • Kangaroo: Australia
  • Panda: China
  • Crane: Japan
  • Moose: Sweden
  • Tiger: Myanmar
  • Brown Elephant: Laos
  • Dog: K9 unit
  • Martin: Climbers from Libong, Thailand
  • Eagle: United States

And others:

  • Iron man: Elon Musk
  • Birds: The media
  • Crow: “Just some bad comments/people/obstacle. No need to pay much attention.”

 

Happy Wednesday!

-beth-

Nonton Konsernya Lenny Kravitz and OH!

Hali halo! Sebenarnya saya masih ada peer buat menulis cerita lanjutan liburan di Mallorca kemarin nih tapi nggak apa-apa ya, disela satu cerita pendek dulu. Tentang Lenny Kravitz! Yeah, cowok yang ganteng dan sexy itu!

Ceritanya saya nih memang penggemar lagu-lagunya mas Lenny, tapi ngefans berat sih sebenarnya enggak. Nonton konser Lenny Kravitz juga nggak termasuk di wishlist saya tapi kebetulan nih semalem Lenny Kravitz mengadakan konser di Cologne dan pak suami ngajakin nonton. Tumben-tumbenan juga nih selera musik kita pas. Jadilah kita berangkat. Eh tapi biasanya pak suami memang suka baik hati nemenin saya lihat konser musik meskipun dia nggak suka musiknya sih…misalnya nonton Britney Spears waktu itu hihi…

Tiket Lenny Kravitz nggak sold out. Di last minute saya sempat ngecek Eventim (portal tiket online) dan masih banyak tiket dengan harga normal yang tidak terjual. Sambil nulis ini saya sambil meringis sedih, ingat beberapa bulan yang lalu pas mau beli tiket U2 buat September nanti, udah online berdua nih sama temen, nungguin detik-detik jam penjualan tiket dimulai. Eh tiket habis pada hitungan detik. Tinggal yang harganya 200€ ke atas dengan lokasi tempat duduk yang nggak enak. Aduh libur dulu deh nonton U2-nya kali ini.

Back to mas Lenny. Begitu dia muncul di atas panggung, meskipun saya beberapa kali lihat aksi panggung-nya dia di YouTube, melihat dia secara langsung bikin saya ter wow-wow… He’s so damn sexy! Oh My God, help me! Lalu suaranya, gayanya dan interaksinya dengan penonton, aduh Lenny! I’m your new fan!

Lenny menyapa salah satu fan beratnya yang rajin nonton konser dia dan selalu membawa spanduk bertuliskan nomor yang menunjukkan berapa kali dia nonton Lenny Kravitz dari nomor 1 sampai, pada malam itu adalah, yang ke-60 kali. Diapun diundang Lenny untuk naik ke panggung dan foto bersama. Check fotonya di IG Lenny:

Lalu Lenny juga sempat turun panggung dengan bandelnya joget-joget memutari standing area hall, bikin heboh penonton. Sayangnya saya duduk di lokasi yang agak atas jadi ditahan-tahan aja mau ikutan heboh di hall bawah. Ini video  punya orang pas Lenny ‘jalan-jalan’ di standing area hall.

let❤️rule #lennykravitz #raisevibrationtour2018

A post shared by Mark Baumann (@mark__baumann) on

Terus terang saya nggak banyak ambil video/ foto pas konsernya karena selain lokasi yang jauh dari panggung , saya menikmati banget konsernya Lenny Kravitz, sayang banget kalau harus sibuk foto-foto. Ada dua video doang deh yang saya ambil semalem, itupun videonya goyang-goyang karena ngambilnya memang sambil goyang 😀  Toh foto/ video dengan kualitas baik pasti bisa didapat di YouTube. I danced the whole time woohoo… Pak suami sih lumayan, dia duduk sambil kepalanya doang yang dancing 😀

Konser berakhir sekitar jam 23.15 dan begitu keluar dari Lanxess Arena, saya udah mikir, aduh kapan nih ya Lenny Kravitz datang lagi… OMG I’m in love lho ❤ Lalu my second thought, mamanya Lenny pasti bangga banget punya anak seperti dia. Entah kenapa mikirnya begitu haha… Maybe because I’m a mom jadi mikirnya selalu kemama-mamaan 😄 My third though, saya otomatis membandingkan Lenny dengan alm. Prince. Oh but please Lenny, don’t die young! Meskpun kalau dipikir dia udah nggak muda lagi lho, 50+ tapi nggak kelihatan kan ya…

Video dibawah ini adalah karya Jos Beerens, fans beratnya Lenny yang bawa spanduk 60 tadi. Yup, setelah riset disana-sini, ketemu deh YouTube channelnya si Jos yang isinya kebanyakan memang mas Lenny. Enjoy!

Hore Lebaran!

Yes alhamdulillah lebaran lagi! Selamat hari raya Idul Fitri ya, maafkan kalau ada salah-salah selama ini. Kesalahan kalian juga sudah saya maafkan, *eh 😀

Kali ini kami berlebaran di rumah saja dan karena sepi, rasanya lebaran di tanah air tahun lalu sangat ngangenin banget. Si Flipper sampe minta dibukain folder liburan di Indonesia tahun lalu, melihat-lihat fotonya waktu takbiran sambil bawa lampion Hello Kitty, waktu salam-salaman sekeluarga lalu berlanjut di mesjid, waktu makan makan cookies banyak banget. Seru banget, kata Flipper.

blog lebaran
Flipper di acara salaman setelah shollat Ied di kampung Jogja.

Di sini, seperti biasa, saya kirim-kirim lontong opor ke tetangga tapi tetep aja pas makannya ya bertiga aja. Sebenarnya ada undangan buat acara shollat Ied dan ramah tamah bersama di Duisburg tapi saya terus terang males banget kalau harus nyetir sendiri lebih dari 1 jam. Itupun nggak bisa lama-lama karena siangnya Flipper ada ujian karate jadi rasanya waktunya bakalan habis di jalan.  Iya, pak Suami sayangnya nggak bisa cuti, karena cuti dia sudah habis jadi acara makan opor kemarin nunggu dia pulang dari kantor. Untung bisa pulang lebih awal dia.

Untuk lebaran kemarin saya masak lontong, opor ayam, lodeh nangka, acar kuning dan krupuk. Camilannya kue dari tepung instant bikininan Flipper, marshmello, strawberries dan es teler saja. Meskipun nggak ada kastengel dan nastar, rasanya alhamdulillah sekali masih bisa dikasih kesempatan buat merayakan Idul Fitri bersama keluarga meskipun puasa saya kali ini banyak yang bolong.

999A0233-1S

By the way, di era sosmed seperti saat ini, kalau dipikir-pikir sebagian orang muslim itu memang senengnya ribet ya. Saat Natal, pada rajin posting soal haramnya mengucapkan Natal ke umat Nasrani, eh sekarang giliran Lebaran, ngucapin selamat lebaranpun banyak salahnya. Ucapan selamat hari raya kok copy-paste lah, kok pake pantun-pantunan lah, kok di-broadcast di sosmed lah, kok baru malam takbiran udah sebar-sebar ucapan lah… Well why not? Kenapa sih kita nggak bisa ambil positifnya saja, nulis pantun from the scratch atau sekedar copy-paste pun sudah menunjukkan niat orang tersebut untuk mengucapkan selamat lho. Ucapannya di-broadcast supaya sekali nulis berlaku buat banyak teman di sosmed pun itu pasti nulisnya juga niat. Kalaupun ada yang nggak nulis-nulis di FB (seperti saya) pun bukan berarti dia nggak ngasih selamat ke handai taulan lho…

Why on earth can’t we just enjoy the moment, menikmati datangnya hari raya lebaran. Biarkan orang mengucapkan selamat dengan cara mereka masing-masing… Ntar kalau nggak ada yang ngucapin sama sekali malah jadi kasus beneran kan? Kita nggak harus mengkritisi semuanya kan? Kita nggak harus merasa wajib memperbaiki etika dan itikad semua orang di dunia ini kan? Apalagi di hari raya lho… Kupikir major problem yang harus dikritisi saat hari raya adalah macet panjang jalur mudik, which is memang sudah dari sononya begitu. Tapi seandainya macet itu bisa diatasi alangkah lebih nyamannya mudik lebaran, iya nggak sih? #rantend

Lebaran kamu kemarin gimana ceritanya? BB udah naik belum? Kalau mau kirimin aku nastar, boleh lho 😀

 

 

Good to be back here again, Mallorca – Part 1

Setelah delapan tahun, akhirnya awal Mei kemarin kita mengunjungi Mallorca lagi. Kalau dulu bareng temen-temen dan yang masuk agenda liburan di antaranya adalah party, kali ini, karena bareng Flipper, agenda party digantikan dengan mengunjungi taman bermain.

Mallorca adalah salah satu pulau di kepulauan Balearic, Spanyol. Buat orang Indonesia, pulau Ibiza yang berada di sebelahnya Mallorca mungkin lebih akrab di telinga (hint: Venga Boys “We’re Going to Ibiza”). Pada kunjungan kali ini, kita kembali mengadakan road trip mengelilingi pulau, karena hanya diam di satu kota di Mallorca adalah rugi besar. Sekedar gambaran, pulau Mallorca tidak semungil pulau Umang tapi juga tidak sebesar pulau Bali. Menurut MapFight, Pulau Bali lebih besar 1,59 kali pulau Mallorca. Karena kami sudah menjelajahi Mallorca bagian barat dan utara delapan tahun yang lalu, kali giliran bagian utara, timur dan selatan yang kami kunjungi.

Penerbangan dari Cologne ke ibu kotanya Mallorca, Palma De Mallorca Airport hanya 2 jam saja. Begitu mendarat, kami dijemput minibus yang membawa kami ke stasiun penyewaan mobil yang sudah kami booking sebelumnya. Setelah mendapat mobil, kamipun menuju kota pertama tujuan kami, Magaluf.

MAGALUF

Di Magaluf kami menginap di hotel yang punya amusent park yang kami pikir pasti menyenangkan buat Flipper, which was right. Tapi buat D dan saya… alamaak, kalau nggak sayang anak, meskipun sudah bayar kami rela lho pindah hotel karena berisik sekalii… Berisik dengan suara anak–anak sih sudah kami pertimbangkan tentunya, namun ini yang dewasapun tak kalah berisik.

Hotel yang kami pilih kali ini rupanya penuh dengan turis dari Inggris dan inilah yang membuat berbeda. Selama ini kalau berlibur biasanya kami selalu berada di daerah yang mayoritas turisnya orang warga negara campur-campur atau mayoritas turis Jerman. Kami tidak sengaja mencari yang seperti itu sih tapi dapatnya kebanyakan begitu, makanya saya sempat mikir orang Jerman tuh buset deh, ada di mana-mana. Kecuali di Magaluf di hotel kita tempati selama 4 malam. Dan tidak bermaksud untuk rasis, bedanya demikian:

  1. Di hotel, main language yang digunakan adalah Inggris dan Spanish yang bagi kami sebenarnya tidak bermasalah tapi buat Flipper agak susah karena crews di acara Mini Disco dan Kids Club-nya nggak ada yang bisa berbahasa Jerman sedangkan bahasa Inggrisnya Flipper standard saja, what’s your name, how wold are you, how are you, I am hungry, do you like banana, one two, three…  Selebihnya dia gak mudeng haha…
  2. Para orang tua dari negaranya pangeran Harry ini, terutama ibu-ibunya gemar sekali meneriaki anak-anaknya. Nggak semua pastinya tapi mayoritas. Ngomong baik-baik dan marah nggak ada bedanya, yang pasti ngomongnya kenceng. Mungkin mereka menganggap pendengaran anak-anak nggak setajam telinga mereka, Entahlah. Etapi di antara dewasapun ngomongnya juga kenceng. Mereka juga tidak mempertimbangkan tempat dan waktu dimana harus ngomong kenceng, di koridor kamar hotel jam 12 malem pun jadi. Atau di sebelah orang yang clearly sedang tidur di lounger di kolam renang sampai orangnya mencolot. Saya yang melihatnya antara prihatin dan pengen ketawa.
  3. Dibandingkan dengan orang Jerman yang kebanyakan langsing, ibu-ibu Inggris banyak yang overweight. Perlu perjuangan buat saya mencari sosok wanita Inggris yang normal, yang semok atau yang gemuk biasa. Postur para pria dan anak-anak serta remajanya sih biasa-biasa aja tapi yang ibu-ibunya, let say, yang di atas umur 20 tahun, kebanyakan size XXL.
  4. Mereka sangat memanjakan anak-anaknya dalam soal makanan. Saatnya makan (kami ambil paket half -board; breakfast dan dinner) di mana aneka sweets dan kue-kue disajikan sebagai makanan penutup, ibu-ibu ini memberikan sepiring Haribo atau setumpuk tart beraneka rasa ke anak-anaknya as main course. Saat makan churros  pun, instead of menggunakan wadah kecil-kecil yang sudah disediakan untuk celupan coklatnya, mereka  mengisi cangkir coffee latte yang tinggi itu dengan coklat, OMG. Dalam satu sisi saya maklum sih, si anak-anak pasti merengek pingin makan sweets dan si ortu pengen menikmati makannyanya tanpa rengekan ini itu, tapi sepiring penuh permen? Flipper juga merengek minta permen dan tentu saja saya kasih juga tapi syaratnya musti makan dulu. Setelah makan dia boleh milih 2 macam dessert aja and it worked well  meskipun kadang-kadang dia kelamaan mempertimbangkan dessert mana yang mau dia ambil hihi… Pernah nih, waktu saya ambil mini donat 1 biji buat Flipper, ada seorang ibu yang bilang ramah ke saya, “Eh kamu boleh ambil banyak lho, jangan malu-malu… “Atau mungkin prinsip mereka, mumpung all you can eat jadi ngambilnya banyak-banyak gitu kali ya?
  5. Kalau di Jerman area, kebanyakan anak-anak pake baju merek H&M, di sini banyak ynag pake baju merek Inggris punya, Next. Bajunya Flipper jadi banyak yang nyamain. Yang ini point nggak penting deh 😀

 

1
Hotel kami di Magaluf. Untung tempat tidurnya nggak kebalik pulak 😀

Selama di Magaluf, tak banyak yang kami kunjungi karena kebanyakan Flipper dan papanya menghabiskan waktu di waterpark nya hotel atau di pantai. Saya mah kebanyakan jalan- jalan, (window) shopping karena lokasi hotel memang strategis, dekat pantai, dekat tempat party, dekat tempat makan dan pertokoan. Aldi dan fitness studiopun ada di sudut pengkolan. Setelah Flipper dan papanya main air, biasanya kami menghabiskan waktu bermain di amusement park nya hotel, dimana ada rumah kaca, mini golf, arena bermain dan berkarya, rumah kebalik, etc.

Pantai yang dekat dengan hotel namanya Playa Es Carregador dan  menurut saya tidak terlalu indah. Standard long, boring beach seperti Playa Palma de Mallorca. Tapi kami sempat menjelajahi pantai yang indah, di desa Portal Vells, yang hanya berjarak 9 km dari hotel. Nama pantainya Cala de Portals Vells. Mengapa cala dan bukan playa? Karena pantainya kecil, kalau playa panjang. Dan kami, seperti anak kecil dapat permen, kegirangan, mendapati pantai yang indah. Sementara Flipper dan papanya langsung ganti kostum berenang, sayapun (yang memang agak anti dengan air laut hihi…) mulai mengeksplorasi daerah sekitar dengan kamera. Setelah main air, Flipper dan D sempat tidur siang di pantai dan begitu mereka fit kembali, mereka ikut menemani saya melanjutkan eksplorasi di tebing-tebing sekitar.

Berikut ini foto-foto di Potals Vells:

23

2764s2752s

2749s
Flipper bisa menghabiskan waktu lama nih, lempar-lempar batu ke air.
2753s
Anak-anak di ujung kanan itu sedang meloncat ke air bergantian. Seru!

2757s

CALA D’OR

Setelah empat malam tinggal di Magaluf, pada hari kelima kami pindah ke kota Cala d’Or yang jaraknya 85 km dari Magaluf. Nama kota ini menggunakan kata cala mungkin karena di situ banyak pantai-pantai kecil. Ini perkiraan saya saja ya, tidak dari sumber yang bisa dipercaya. Kali ini, di Cala d’Or, kami menyewa apartment. D dan saya happy, akhirnya bisa menghabiskan waktu di tempat yang spacious dan tidak berisik seperti di hotel sebelumnya. Flipper sempat kecewa karena tidak ada fasilitas untuk anak-anak di hotel-apartment ini selain kolam renang anak. Jangankan amusement park, mini disco aja tidak ada tapi kemudian dia  tidak peduli lagi dengan itu karena setiap hari, setelah pergi ke pantai, sorenya  dia bisa main jumpalitan di arena bermain yang letaknya persis di belakang apartemen.

4
Huge bouncy castle di belakang apartemen kami. Itu mulut gajahnya bisa membuka-menutup.
999A0221EEs
Trampolin 3€ 10 menit.
999A0218EEs
Komplek apartemen kami.

Tempat-tempat yang kami kunjungi selama menginap di kota Cala d’Or lumayan banyak. Saya tulis yang saya ingat ya…

Pantai Cala Gran dan Cala Esmerelda

Kedua pantai ini bisa ditempuh 5 menit jalan kaki dari apartemen. Di Cala Gran, Flipper kenalan dengan anak sebaya dan selalu janjian ketemuan di sana untuk main bola dan main air bersama. Di Cala Gran juga saya sempet bertemu (tapi tidak kenalan) dengan dua pasangan muda dari Indonesia yang saya bisa kenali dari logat Suroboyoan-nya. Mbaknya-mbaknya sibuk selfie di sana-sini sedangkan mas-masnya cuman ngikutin doang sambil mencangklong tas Chanel-nya pasangan mereka. Kadang kedua cewek itu minta tolong si mas untuk motoin dan dua cowok ini harus bertikai duluan karena sama-sama nggak mau motoin. Komentarnya si D ke saya: glad you are not that worse! Hihi… Di bawah ini adalah foto-foto di Cala Gran:

5999A0095EEs999A0100EEs

Es Pontas

Es Pontas adalah highlight kami selama di Cala d’Or. Es Pontas  merupakan tebing batu besar melengkung yang terletak di kota Santanyi, di antara teluk Santanyi dan teluk Llombards. Tebing batu ini merupakan salah satu objek panjat tebing tersulit di dunia. Tak banyak yang bisa memanjat Es Pontas. So far hanya dua orang yang berhasil memanjat Es Pontas dari bagian lengkung dalamnya yaitu Chris Sharma (American) dan Jernej Kruder (Slovenian). Coba check video dimana Chris Sharma memanjat Es Pontas berikut ini, pasti ikut deg-degan deh lihatnya: See why Chris Sharma is one of the world’s best climbers as he searches for the hardest and most beautiful route in the world.

Saat menyusuri tepian berbatu di area Es Pontas, seorang polisi ganteng menyampiri kami, bertanya apakah kami melihat orang yang terluka kakinya dan mengalami kesulitan berjalan. Kami tidak melihatnya dan mas polisi itu mulai terlihat panik. Di belakang tampak beberapa polisi yang lain dan dari kejauhan kami mulai melihat beberapa safe guards dengan peralatannya lari kesana-kemari. Rupanya polisi menerima report bahwa seseorang terluka di sana dan tidak bisa berjalan dengan normal, posisi orang itu di pinggir tebing jadi karena orang itu tidak bisa dikontak lagi, dikuatirkan orang tersebut kecebur ke laut.

Lokasi area Es Pontas memang memungkinkan untuk tercebur bila orang tidak berhati-hati. Yang dipagari hanya spot-spot tertentu saja. Saya sendiri melihat dua sejoli dengan selfie stick mereka, yang melanggar warning sign untuk tidak terlalu dekat ke pinggir tebing karena dikuatirkan batunya longsor. Well, the power of social media.

2738s
Polisi yang panik mencari the missing man.
2739s
Area Es Pontas.
2732s
Tebing batu melengkung itu…

999A0159-1EEs

Karena di Es Pontas tidak ada pantainya dan akses ke air cukup jauh, sehingga tidak memungkinkan untuk lempar-lempar batu, Flipper nggak mau berlama-lama di sana. Kamipun kemudian melanjutkan perjalanan ke pantai terdekat, Playa S’Amarador.

Playa S’Amarador

Untuk menuju ke pantai ini kami harus naik mobil melalui jalan sempit yang kalau papasan dengan mobil lain, kedua mobil musti saling maju mundur dulu. Di pantai S’Amarador, tanpa diduga ternyata kami harus bayar parkir. Selama ini kami belum pernah bayar parkir lho. Parkir di pantai sini bayarnya 5€, waktunya bebas. Di dalam parkiran ternyata ada sign yang menyatakan bahwa uang parkir 5€ tersebut digunakan untuk menyantuni yayasan orang cacat.

Pantai S’Amarador menurut saya juga biasa saja. Pokoknya kalau namanya playa (dan bukan cala) itu bagi saya boring. Nggak ada tebing dan pohon-pohonnya. Yah, kan seperti yang sudah saya tulis di atas, saya bukan fans untuk berjemur atau main air laut. Saya lebih suka meneduh di bawah pohon atau muter-muterin daerah sekitar pantai. Jadi selama Flipper dan D mainan air, saya kemulan di pasir sambil baca buku saja. Selama liburan 15 hari ini saya berhasil menghabiskan 3 novel hihi…

Eh ternyata nih, pas kita mau pulang, baru sadar bahwa sebelum memasuki arena pantai, ada kawasan hutan cagar alam. Kamipun masuk situ dan tentunya asyik sekali meneduh sesudah kepanasan di pantai.

6
Di cagar alam dekat pantai S’Amarador.

Sanctuary De Sant Salvador

Santuari De Sant Salvador adalah sebuah monastery yang dibangun pada tahun 1348 dan berada di 509 meter di atas ketinggian laut. Untuk pergi kesini jalannya lumayan naik dan berliku-liku seperti jepit rambut. Selain sempit, berliku-liku dan naik turun, kami harus berbagi jalan dengan para biker, baik yang solo maupun yang rombongan panjang. Salut deh buat para biker ini, perjuangan banget pasti naik ke Sant Salvador.

Begitu sampai ke atas, kitapun dijamu dengan pemandangan indah kota Felanitx. Nggak rugi deh sport jantung naik ke sini. Oh iya, di puncak sini ada restorannya jadi nggak perlu panik kalau bekalnya habis. Area piknik juga disediakan di beberapa sudut.

2693s2691s2696s2699s

2690s
Flipper nemu kucing di puncak Sant Salvador.

7

8
Awan cantik bergelantungan, nggak tahan kalau nggak foto 😀

Okay deh segini dulu ya ceritanya, kalau kepanjangan nanti bosan. Laporan tempat-tempat cantik lainnya saya tulis di bagian dua nanti deh.

Happy weekend!

-beth-