Autumn is Okay

Autumn atau musim gugur atau bahasa Jermannya Herbst adalah suatu musim yang menurut saya musim paling indah di negara empat musim. Dedaunan mulai berganti warna sebelum akhirnya berguguran. Kuning adalah warna yang mendominasi di bulan Oktober. Golden October istilah kerennya. 

Meskipun bagi beberapa orang autumn berarti ‘duh sebentar lagi winter‘, bagi saya autumn justru berarti ‘ah senangnya, summer akan datang lagi tahun depan!’ Adanya Penantian dan pengharapan akan musim panas itu yang membuat saya menjadikan musim ini sebagai musim favorit saya – selain pemandangannya yang indah tentunya. Itu juga sebabnya mengapa ketika musim panas sudah benar-benar tiba, saya justru galau karena paham sekali bahwa musim panas di Jerman tidak bertahan lama dan musim dingin, si winter itu sudah mengintip di ujung jalan. Entah mengapa orientasi saya justru selalu ke depan, terlalu jauh kedepan. Apa mungkin karena toko-toko obral summer fashion di saat winter dan obral winter fashion di saat summer ya? 

Berikut ini adalah beberapa foto di sekitar rumah yang saya ambil dengan iPhone kemarin sekitar pukul 10 pagi,  ketika si Flipper lagi bad mood. Setelah kena angin-angin sepoi-sepoi di luar, ketiduran deh dia. Saat ini belum terlalu kuning, masih banyak hijaunya. Mungkin minggu depan datang si golden October.

5s

4s

3s

2s 1s

Musim apakah sekarang di bumi bagian teman-teman tinggal? Sudah menyalakan pemanas ruangan kah? Di sini kami menyalakan pemanas di ruang tamu hanya malam hari. Di ruang tidur kami menyalakan pemanas sekitar 2 jam sebelum kami tidur, pas waktunya tidur pemanas kami matikan. Hemat energi tanpa takut kedinginan 😉

Advertisements

Kunjungan ke Frankfurt Book Fair 2015

Hajat tahunan Frankfurt Book Fair yang digelar selama lima hari akhirnya selesai juga hari Minggu kemarin. Konon banyak buku-buku yang diobral bahkan gratis di hari terakhir (Minggu 18 Oktober 2015). Sayangnya saya datang hanya di hari Sabtunya saja, jadi tidak kebagian obralan. Tapi lumayan juga sih, mendapat buku-buku kortingan setelah tawar menawar tingkat tinggi dengan di beberapa stand penerbit. Untung suami saya tidak ikut masuk ke pameran buku ini, dia suka malu mendapati istrinya nggak tahu malu tawar-menawar harga 😀

Indonesia menjadi tamu kehormatan di acara Franfurt Book Fair tahun ini dengan fokus utama penulis-penulis wanita Indonesia yang menyinggung topik tabu seperti seks dan agama dalam karya-karya mereka. Jauh hari sebelum hajatan literatur terbesar di dunia ini dibuka, berita tentang kultur, budaya dan literatur Indonesia sudah banyak menghiasi beberapa media di Jerman. Di samping berita tentang kehadiran Salman Rushdie di acara pembukaan pameran dan boikot dari negara Iran karenanya, tentunya.

Frankfurt Book fair dibuka untuk umum pada dua hari terakhir, 17 dan 18 Oktober 2015. Tiket masuknya berharga 18,00 Euro sehari, yang termasuk normal untuk tiket pameran berkelas internasional seperti ini. Khusus untuk refugees, yang saat ini sedang ramai-ramainya membuat pemerintah dan warga negara Jerman pusing tujuh keliling, mereka mendapat fasilitas masuk gratis.

Saya lumayan menyesal hanya datang di hari Sabtunya saja. Bukan masalah obralan buku di hari terakhir, namun karena saya belum khatam mengelilingi semua halls dan stand. Hari itu saya hanya berkonsentrasi pada jadwal acara dari Indonesia dan mencari buku anak-anak sedangkan sebenarnya ada lebih dari 7000 peserta pameran dari 100 negara yang rutin mengikuti Frankfurt Book Fair. Tapi not bad juga sih, semua target saya terpenuhi; melihat acara tanya jawab Laksmi Pamuntjak dan Leila S. Chudori, menemui senior jaman kuliah Beng Rahardian dan Eko Nugroho-para komikus kondang tanah air, mengikuti acara interview Andrea Hirata dan tentunya membeli beberapa buku anak berbahasa Indonesia yang tidak bisa saya dapatkan di sini -itupun pilihannya terbatas karena sebenarnya hari Sabtu itu belum diadakan transaksi jual beli. Oh ada satu acara yang tak bisa saya ikuti karena saya datangnya telat, acara show cooking-nya Chef Vindex!

Bersama-teman-teman di depan stand Mizan. Saya yang berbaju kuning.
Bersama-teman-teman di depan stand Mizan. Saya yang berbaju kuning
kolaseS
Beberapa buku anak-anak yang saya beli
Kolase Mila
Flipper menyukai buku-buku barunya terutama yang seri Odong-Odong karya Iput dan Oyas. Setiap ada kesempatan dia selalu membacanya

ANDREA HIRATA

Andrea Hirata untuk ketiga kalinya kembali diundang untuk menghadiri Frankfurt Book Fair, sebuah pameran buku terbesar di dunia. Seperti yang sudah saya tulis sebelumnya, saya sempat mengikuti interview Andrea Hirata di booth milik stasiun TV Jerman 3Sat. Sempat bangga juga saya melihat bangku penonton langsung penuh begitu session Andrea Hirata tiba. Dan serunya lagi, 95% penontonnya bukan orang Indonesia padahal buku-buku Andrea Hirata baru ada versi bahasa Jermannya sejak bulan September kemarin. Di Amazon.de buku Laskar Pelangi yang dalam bahasa Jermannya  Die Regenbogentruppe mendapat review 4,5 dari total 5 dari para pembacanya. Yay!

Dulu waktu saya masih baru-barunya di Jerman (tahun 2007), buku Andrea Hirata belum ada yang diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman dan setiap kali ada yang bertanya kepada saya tentang pendidikan di Indonesia, saya selalu menyelipkan cerita dari bukunya Andrea, tentang perjuangan Ikal dkk. dalam menempuh ilmunya. Teman-teman saya yang kebanyakan lahir dan besar di Jerman sangat tertarik dengan Laskar Pelangi dan banyak bertanya tentang kebenarannya, bagaimana dengan sistem pendidikan pada umumnya di Indonesia dan bagaimana dengan sekolah saya sendiri. Apalagi saat itu di Jerman sedang ramai-ramainya demonstrasi mahasiswa yang tidak puas dengan  fasilitas di Universitas Negeri yang kurang dan buku-buku diktatnya yang mahal. Teman-teman yang sudah kena setrum cerita Laskar Pelangi inipun kemudian berkata betapa kurang bersyukurnya mahasiswa di Jerman yang berdemo itu karena biaya kuliah di Jerman sebenarnya termasuk yang paling murah di dunia, bahkan biaya sekolah sampai SMA pun gratis. Dan buntutnya mereka ingin sekali membaca buku Laskar Pelangi. Tahun ini harapan mereka akan saya kabulkan!

Dalam interview di stasiun 3Sat kemarin, Andrea Hirata sempat diminta untuk mendeskripsikan bangsa Indonesia yang complex ini hanya dalam 3 kalimat pendek. Menurut Andrea, bangsa Indonesia itu toleran, bangsa Indonesia itu suka belajar dan yang terakhir, bangsa Indonesia itu suka tersenyum yang disambut dengan senyum lebar para pengunjung. Pembawa acara cantik yang mewawancarai Andrea Hirata juga sempat menanyakan seberapa penting pengaruh  magic di Indonesia karena dalam buku Sang Pemimpin (Jerman: Der Träumer) ada bagian di mana Ikal menuliskan harapannya di secarik kertas yang digantung di sebuah layang-layang. Menurut Andrea Hirata magic merupakan bagian dari kultur Indonesia dan  sebagai seorang penulis cultural fiction, memasukkan unsur-unsur magic itu baginya merupakan hal yang penting.

Yang paling lucu adalah ketika Andrea Hirata membacakan bagian dari buku Sang Pemimpi yang sudah ada versi bahasa Jermannya juga, tentang asal-usul namanya (Andrea Hirata sempat ganti nama 9 kali!) yang sayangnya tidak diterjemahkan secara lengkap oleh si penerjemah sehingga pemirsa non-Indonesia tidak bisa ikut cekikikan seperti saya. Video tentang interview Andrea Hirata ini bisa dilihat di websitenya 3Sat.

Andrea Hirata
Andrea Hirata di stasiun TV 3Sat booth

Setelah interview usai, saya dan dua orang teman saya langsung bergegas ke backstage, mau minta tanda tangan dan foto bareng. Rupanya di sana sudah banyak orang yang antri, kebanyakan mahasiswa dari Indonesia. Andrea Hirata sempat bertanya apakah ada dari kami yang memiliki bukunya dalam versi bahasa Jerman. Sayangnya kami belum punya tapi saya janji mas, saya akan segera beli buku itu secara dari dulu saya memang sudah tidak sabar, ingin teman-teman Jerman saya membaca buku itu.

Andrea Hirata orangnya sangat ramah, sedang sibuk-sibuknya sesi tanda tangan, dia sempat-sempatnya bercerita kalau editornya masih lajang. Maksudnya maaas? 😀

Design Letters

IMG_0247-1squareS

Hampir setiap kali saya posting makanan di Instagram memakai piringnya Design Letters, selalu ada saja yang yang bertanya belinya di mana. Seperti halnya kursi makan Eames yang sedang trend, alat makan ini sepertinya ingin melengkapi ketrendian dan kemodernan si Eames di ruang makan.

Design dari produk ini sebenarnya sederhana sekali, melamin warna putih yang bentuknya standard dengan huruf-huruf A sampai Z yang typography-nya diciptakan oleh arsitektur Denmark Arne Jacobsen di tahun 1937. Karena sering melihat foto piring, sendok ini bertebaran di Instagram, alhasil sayapun termehek-mehek kepingin punya dan menemukannya di beberapa toko kebutuhan anak-anak yang menyandang istilah keren; concept store. Produk dari merek Design Letters ini sebenarnya lumayan banyak, tidak hanya piring, gelas melamin tapi juga kalendar, serbet, alat tulis, dll. Dan semuanya keren! Kalau nurutin nafsu, mau saja borong semuanya dari A sampai Z tapi karena harus nurutin kantong, jadi ya yang perlu saja dulu yang dibeli 😀

Warning nih soal concept store, hati-hati kalau membuka websitenya atau katalognya. Siap-siap kepingin semuanya karena barang-barang yang dijual memang keren-keren. Rata-rata bergaya Scandinavian; modern minimalis dan tidak kitschy seperti produknya Ikea.

Set alat makan Design Letters bisa dibeli terpisah, hanya cutlery-nya saja yang satu set; berisi dua sendok, garpu dan pisau. Sementara ini saya baru punya dua piring , satu gelas dan satu set cutlery. Selanjutnya nanti pengen punya mangkuk musli dan nampannya. Jadi yang mau ngado, silahkan yaa… #endingnyanggakenak 😄

Boros Masak

Mama saya dulu pernah bilang, saya kalau masak ‘boros’. Boros dalam artian, semua alat dapur keluar tanpa sebab yang jelas. Contohnya, mau bikin telur dadar minimalis saja saya membutuhkan 1 mangkuk, 1 wajan dan 3 sendok. Sendok untuk memecah telur, mengocok telur dan menuang garamnya berbeda semua. Bisa dibayangkan bila saya membuat telur dadar yang TIDAK minimalis; seledri, paprika, bawang bombay, dll.nya punya wadah dan sendok masing-masing. Itu baru masak telur ya…belum yang lain-lain. Mungkin itu juga yang menyebabkan saya dulu kurang niat memasak karena setelahnya harus korah-korah banyak, nggak ada dish washer-nya 😀

  
Ini suasana dapur saya siang ini. Hari ini saya memasak sup ikan salmon untuk makan siang, lumpia isi sayur ayam untuk jajannya dan ayam nugget wortel untuk stock di freezer. Kebiasaan boros pemakaian alat dapur masih berlaku. Di foto ini saya baru selesai menggulung lumpianya, belum digoreng. Sup serta nuggetnya juga blm diracik. Sudah terlihat berantakan kan? Padahal beberapa piring, wajan, pisau, dll sudah saya geser ke kanan supaya tidak masuk frame foto haha! 

Entah bagaimana mama saya kalau masak bisa rapi, tidak banyak pemakaian wadah, tidak banyak noda-noda minyak, cabe, kulit bawang dan kawan-kawannya di meja dan rasa masakannya tetap uenak. Setelah masak sepertinya mama hanya perlu sekali ngelap meja udah cling sedangkan saya ngelapnya berkali-kali kadang pakai menyikat, menggosok segala. Duh. Untung saja ada dish washer. Entah bagaimana hidupku di sini tanpa dish washer tercinta ini ❤

Drama Baby


Semalam waktu tidur tiba-tiba terdengar bunyi crack dari bawah tempat tidur. Antara setengah bangun dan setengah tidur, kami abaikan saja suara itu. Paginya setelah makan pagi baru suami ngintip-ngintip ke kolong tempat tidur dan ternyata salah satu penyangga tempat tidur kami yang di tengah patah.  Suami punya ide untuk menumpuk beberapa buku di bawah tempat tidur sampai penyangga aslinya datang. Maklum di sini hari Minggu toko tutup semua. Dan tentu saja sayalah yang mendapat tugas  merangkak, ndlosor-ndlosor ke bawah tempat tidur menyusun buku-buku tebal termasuk Harry Potter.

Tiba-tiba masuklah si Flipper (usia 27 bulan). Melihat mamanya terlentang di bawah tempat tidur, hanya kakinya yang nongol di luar, tiba-tiba si Flipper panik menjerit-jerit memanggil mamanya. Saya saking kagetnya sampai kejeduk kepalanya. Flipper mungkin beranggapan bahwa mamanya sedang tertimpa, tergencet ranjang. Dia panik nangis-nangis sambil berlari mengitari tempat tidur berusaha mencari jalan keluar buat saya. Kaki sayapun tak lupa ditarik-tarik sambil tetap jerit-jerit ‘mama! Mama!’ Papanya yang jadi repot berusaha menenangkan si Fliper.

Saya geli campur terharu melihat reaksi Flipper. Saya jadi membayangkan, bagaimana seandainya saya sakit, kecelakaan, pingsan lama…tidak bisa bermain lagi dengan Flipper, tidak bisa  ngeloni Flipper, menyuapi makan, ngomel-ngomel… Dan tiba-tiba sayapun teringat tantenya suami saya yang baru saja meninggal setelah koma lama sekali. Saat mulai koma, anak satu-satunya baru saja berusia 3 tahun dan bulan lalu beliau meninggal begitu saja tanpa sadar dari 25 tahun komanya.

Di acara pemakamannya kemarin, si anak laki-laki yang  sekarang sudah berusia 28 tahun ini bercerita bahwa dia tidak punya ingatan sama sekali tentang ibunya sewaktu beliau masih sadar. Disuapi, main bersama, gendong mama… Nihil. Dia hanya bisa melihatnya dari beberapa foto, tapi tidak bisa mengingatnya. Sedih sekali saya mendengar ceritanya. Apalagi sejak ibunya jatuh sakit, ayahnya tidak pernah menikah lagi, jadi sampai sekarang dia tidak mengenal bagaimana kasih sayang seorang ibu.

Semoga Allah SWT mengijinkan saya untuk mengasuh, menemani Flipper sampai dia dewasa… Sampai dia memiliki kenangan  tentang mamanya baik yang indah maupun yang bagian diomelin. Amiiin…