Menyogok Pertemanan?

Si Flipper (bukan nama sebenarnya), meskipun belum masuk Kindergarten tapi sibuknya mengalahkan pak pos yang harus muter ke sana-sini. Mamanya musti setia mengantar dia ke segala kegiatan; perpustakaan, Kinderturnen (olah raga anak-anak), berenang, play groups, play dates, dll. Dari Senin sampai Minggu hanya Sabtu dan Minggu saja dia tidak memiliki kegiatan regular namun mulai minggu lalu,  hari Seninpun sekarang dia juga bebas kegiatan.

Biasanya di hari Senin pagi Flipper mendapat kunjungan play date dari Ciara (bukan nama sebenarnya). Ciara ini 8 bulan lebih muda dari Flipper namun badannya lebih bongsor. Mereka sudah berteman sejak Flipper masih berusia  20 bulan (sekarang Flipper berusia 29 bulan), keduanya mengikuti dua play groups yang sama yang kemudian berlanjut play date privat secara rutin di rumah kami.

Tadinya semua normal-normal saja, mereka bisa bermain bersama, masak-masakan, belajar sharing (meskipun masih seringan rebutannya dari pada sharing-nya 😀), kejar-kejaran, dll. Masalah mulai muncul ketika sekitar 2,5 bulan yang lalu ketika Ciara mulai memiliki kebiasaan baru yaitu main dorong sampai jatuh. Setiap kali ketemu, Flipper selalu menjadi korban dorongannya sampai kejengkang, nangis-nangis. Dan itupun tidak hanya satu kali namun berkali-kali. Mama Ciara sudah memarahi bahkan menghukum Ciara setiap kali dia main dorong dan saya juga mengajarkan Flipper untuk bilang ‘tidak’ yang keras kepada Ciara tapi antisipasi dari kedua mama tidak berpengaruh sama sekali kepada Ciara. Kadang sebelum jam play date usai Ciara sudah ditarik pulang oleh mamanya karena mamanya nggak mau juga anaknya mem-bully anak orang lain.

Pernah juga waktu Ciara dan Flipper sama-sama diundang di sebuah acara ulang tahun, mama Ciara sampai nangis dan mengajak pulang Ciara duluan karena baru 30 menit di sana Ciara sudah main dorong anak-anak yang lain sampai dimarahin oleh salah satu orang tua. Saya ngerti banget mama Ciara pasti sedih karena kebiasaan buruk Ciara dan juga karena anaknya dimarahin orang lain. Saya juga pasti bakalan sedih kalau Flipper dimarahi orang lain selain papa mamanya sendiri.

Akibat kebiasaan baru Ciara itu, Flipper jadi tidak mau lagi main dengan Ciara. Kalau hari Senin tidurnya dilama-lamain dan begitu bangun nggak mau langsung ke kamar mandi dan teriak-teriak minta sarapan seperti biasanya tapi minta kelonan dulu dengan saya. Kalau saya tanya boleh nggak Ciara datang, jawabnya tegas: nein(tidak). Jadinya play date yang biasanya seminggu sekali menjadi dua Minggu sekali yang akhirnya sekarang saya putuskan untuk ditiadakan sama sekali.

Hal itu tentu membuat mama Ciara  menjadi nggak enak hati dengan kita. Beberapa kali dia datang membawa hadiah kecil-kecilan buat Flipper seperti buku atau kalung toddler dari kayu. Seperti halnya saya, mama Ciara tentu juga tidak mau kalau Flipper dan Ciara harus putus berteman. Meskipun buat saya, tidak play date bukan berarti tidak berteman. Toh kita masih bertemu di hari Jumat, di sebuah play group yang terbuka untuk umum di youth center. Di situ Flipper masih bisa bertemu Ciara, karena play groupnya di hall yang luas, banyak anak-anak yang lain (20 anak lebih) dan beragam mainan/ aktifitas. Selain itu kalau kami mengadakan aktifitas di luar, misalnya sepedaan atau main di Spielplatz (tempat bermain umum) saya selalu mengajak Ciara dan mamanya untuk ikutan karena kalau di ruang terbuka Flipper juga tidak keberatan main dengan Ciara. Flipper hanya keberatan ketika bermain berdua dengan Ciara di ruangan yang membatasi ruang gerak. Private play group Flipper yang hari Rabu juga harus dipindah ke hari Selasa (dari penyelenggara yang sama) karena di situ pesertanya hanya 8 dan ruangannya juga tidak seluas play group-nya youth center jadi adegan dorong-dorongan tidak bisa dihindari di sana. Flipper sekarang bahkan menjadi trauma setiap kali mendengar nama Ciara.

Ciara (yang depan) sedang sepedaan dengan Flipper
Ciara (depan) dan Flipper sedang sepedaan

 Lalu sekitar 3 mingguan yang lalu saya berkenalan dengan seorang ibu yang anaknya juga sering play date dengan Ciara dan juga sambat karena Ciara sering main dorong tanpa alasan. Dan seperti halnya saya, ibu itu setelah beberapa kali mencoba mentolerir akhirnya dia juga memutuskan untuk tidak play date lagi dengan Ciara. Ya, menurut saya, kalau memang anak kita tidak mau, maka kita sebagai orang tua harus menghormatinya dan tidak perlu memaksa. Lagi pula tidak ada faedah atau hal yg bisa dipelajari dengan membiarkan/ memaksa anak untuk bermain dengan teman yang tidak disukai dan sering menyakiti dia (meskipun si Ciara mungkin belum paham apa itu for fun atau menyakiti). Akhirnya malah Flipper dan anaknya ibu itu yang sekarang selalu play date rutin setiap hari Rabu.

Masalahnya, sekarang mama Ciara seolah tidak rela kalau Ciara tidak bbf-an lagi dengan Flipper. Dia jadi tiba-tiba sering memberi hadiah yang TIDAK  kecil-kecilan lagi statusnya. Pas saya rasan-rasan bahwa saya akan membeli helm buat Flipper, keesokan harinya tiba-tiba dia muncul membawa 2 helm yang baru dibelinya. Dua helm kembar untuk Ciara dan Flipper. Eh?

Ketika cuaca mulai dingin dan melihat saya belum memberi footmuff untuk stroller-nya Flipper, tiba-tiba dia muncul lagi dengan footmuff warna hitam yang katanya pas dengan stroller Flipper yang warnanya merah. Lalu waktu dia melihat Flipper sibuk main puzzle karpet ABC di playgroup, dia sempat bertanya apa Flipper  sudah punya karpet gabus itu di rumah. Saya bilang belum tapi segera saya jelaskan pula bahwa Flipper sudah punya banyak puzzle di rumah dan  saya tidak suka puzzle karpet itu krn warnanya norak, secara saya sudah curiga pasti mama Ciara mau ngasih beginian. Eh benar saja…sorenya sebuah karpet puzzle norak diantar ke rumah. Saya sudah mencoba menolak segala hadiah dari mama Ciara tapi dia ngeyel ngasihnya. Dikasih duit untuk ganti harga dia juga nggak mau. Wah kok jadi gini?

Saya pribadi sebenarnya tidak ada masalah dengan mama Ciara. Orangnya menyenangkan dan  kami bisa sharing soal anak tanpa harus menggurui atau merasa digurui. Ngobrol lain-lain selain soal anakpun kami cocok.Tentang Ciara dan Flipper, saya rasa itu adalah masalah anak-anak yang masih dalam tahap wajar. Mungkin saja yang Ciara alami itu sekedar phase yang nantinya akan hilang sendiri dan bisa saja phase itu terjadi juga dengan Flipper suatu saat nanti (tapi bismillah, semoga tidak) yang artinya dengan berkurangnya waktu Ciara dan Flipper main berdua, bukan berarti saya lalu membenci mereka. Tapi saya juga nggak suka dengan adanya hadiah bertubi-tubi seperti ini, kesannya kok mama Ciara ‘menyogok’untuk tetap berteman dengannya dan Ciara.

Begini deh, masalah anak-anak jadinya merambat ke orang tuanya juga. Enaknya bagaimana ya? Dikasih tahu bahwa Flipper dan saya tidak perlu hadiah-hadiah itu, bahwa kita tetap berteman dan bisa jalan-jalan bareng dengan anak-anak sih sudah…tapi si mama ini sepertinya sungkan atau ketakutan berlebihan begitu… Kalau terus-terusan begini ya nantinya saya malah satru beneran… Piye jal?! (Jowone metu 😀 )

Advertisements

Barang Gratisan

Di Jerman, tidak seperti di Indonesia yang kadang kita sampai kaget ada barang murah tapi bagus, tidak ada barang yang inexpensive. Mungkin itu juga penyebabnya kenapa kebanyakan orang Jerman cenderung uptight, less smile, tidak relax… Eh tapi itu bahasan lain ya… Saya hanya ingin cerita bahwa selama tinggal delapan tahun di Jerman, saya belum pernah sekalipun beli ballpoint – bolpen! Never! Tapi serunya saya punya ratusan bolpen di rumah. Yup ratusan.

Bagaimana caranya? Kami di sini sering sekali mendapat bolpen gratisan yang merupakan merchandise dari kampanye politik atau produk baru, kantor, hotel, workshop, dll. Masalahnya, kami berdua bukan fan-nya bolpen. Untuk menulis atau menggambar saya lebih suka menggunakan rapidograph atau spidol. Bolpen hampir tidak ada gunanya sama sekali di rumah, apalagi sekarang apapun bisa ‘ditulis’ di smartphone. Suami juga hampir nggak pernah nulis-nulis di rumah. Tapi entahlah, jari-jari ini pasrah saja kalau disodorin bolpen gratisan.

Menyadari bahwa kami punya bolpen banyak, suami hobi banget meletakkan 20an bolpen di atas meja telefon. Alasannya biar cepat kalau mau mencatat info penting dari telepon landline. Tapi 20 sekaligus? Katanya; iya sekaligus krn pulpen sering banget ilang dari meja telepon. Ya iyalah sering ilang krn sering saya buang dikit-dikit (psst!). 20 bolpen tergeletak tak berdaya di atas meja yg mini itu merusak pemandangan keseluruhan di dalam rumah!

Kalau kamu, ada nggak barang gratisan yang nggak suka tapi nggak bisa nolak?

Ini beberapa bolpen yang saya temukan di dapur saja >.<

 

 

 

Buku Anak-Anak ‘Indahnya Negeriku’

Waktu di Frankfurt Book fair kemarin, saya membeli beberapa buku anak-anak berbahasa Indonesia buat si Flipper, salah satunya adalah buku ‘Indahnya Negeriku’ – Berpetualangan bersama Ella dan Eza dari penulis Fitri Kurniawan dan Watik Ideo (Penerbit: Bhuana Ilmu Populer). Buku yang rupanya bilingual ini (Indonesia dan Inggris), mengisahkan tentang dua kakak beradik Ella dan Eza yang berwisata berkeliling Indonesia ke 13 kota dari Sumbawa sampai ke Sulawesi Utara.

IMG_0605-4eS

Menurut saya ceritanya standar saja. Di setiap kota yang disinggahi, mereka bertemu dengan kenalan baru yang mengenalkan mereka dengan budaya setempat seperti tari-tarian, kerajinan tangan dan makanan dengan latar belakang ilustrasi rumah adat mereka. Saya sebut standar karena informasi-informasi pendek seperti ini seingat saya sudah ada di buku pelajaran jaman SD atau SMP dulu yang saya yakin saat inipun masih ada. Tapi dengan illustrasi penuh warna dan teks non-formal membuat buku ini tentu saja lebih menarik dari buku pelajaran sekolah.

Yang lebih menarik lagi  -dan tidak ada di buku pelajaran- adalah pengenalan makanan setempat di setiap kota yang mereka singgahi.  238 halaman, 13 kota, 19 ilustrasi makanan (38 halaman), nom! Waktu suami saya baca buku ini komentar pertamanya adalah, “pantas saja orang Indonesia suka makan.” Yup, pengenalan makanan sejak dini! Bisa jadi dia iri hati juga karena kulinari Jerman tidak sekaya kulinari di Indonesia.

Berikut ini beberapa foto halaman makanan di buku Indahnya Negeriku 😀

IMG_0610-9eS
Ikan gabus kuah kuning, makanan khas Papua
IMG_0611-10eS
Makan wadi, makanan khas suku Dayak sambil membahas senjata Sipet dan Mandau
IMG_0608-7eS
Eza kelaparan dan membayangkan masakan khas Lombok
IMG_0609-8eS
Tahu tek dan rujak cingur. Hayo makanan khas mana itu?
IMG_0607-6eS
Makanan khas suku Bima, ikan kuah sepat, gecok, ayam bakar taliwang dan rambangan terong

Visa ke Mesir

Sebagai pemegang paspor hijau Indonesia, pasti banyak cerita dong tentang betapa ribetnya apply visa ke negara-negara lain. Saya selama ini sudah pernah mengunjungi 14 negara, kebanyakan negara Schengen jadi tidak perlu apply visa karena saat ini saya tinggal di Jerman. Dari 14 negara tersebut, negara-negara wajib visa yang saya kunjungi adalah (note: tingkat kesulitan terendah adalah 1 dan tersulit 5):

  • Jerman (2005-2007), apply langsung di Jerman embassy di Jakarta. Tingkat kesulitan  4 – Sekarang sih udah nggak mikir soal visa karena sudah permanent resident di Jerman, tapi dulu waktu masih jaman kunjung pacar, haduh ribet banget urusannya. Apalagi yang visa kumpul keluarga sesudah menikah. Eeek!
  • United Kingdom (2007), apply langsung di The UK Visa Application Centres Düsseldorf. Tingkat kesulitan: 4 – Berkas-berkas yang dilampirkan banyak banget, informasi di websitenya waktu itu tidak jelas dan telephone hotline-nya tidak gratis. Kalau tidak dikasih tahu teman bahwa visa untuk istri/suami dari seorang warga negara Eropa itu gratis, saya pasti kena charge 90 Pound karena di websitenya tidak ada keterangan tentang itu.
  • Ireland (2007), apply langsung di Ireland Consulate di Bergisch-Gladbach. Tingkat kesulitan 2 – Lucu deh visa dari mereka hanya ditulis tangan dan nggak perlu nempel foto 😀

    ireland-visa
    Visa ke Irlandia
  • Turki (2015), apply e-visa. Tingkat kesulitan:1 – Hanya mengisi form di website mereka, bayar online, beres. Visa dikirim per-mail atau bisa langsung diprint.

Nah yang terakhir nih, yang baru saja saya urus adalah visa ke Mesir. Untuk tahun baru besok suami memutuskan untuk merayakan tahun baru di tempat yang hangat dan setelah browsing negara hangat, Mesir dijadikan pilihan. Pilihan pertamanya sih sebenarnya ke Indonesia tapi sayang sangunya kurang dan waktunya terbatas pula.

Begitu suami memutuskan bahwa liburan kita kali ini ke Mesir, hal pertama yang saya check adalah, apakah saya perlu visa. Jawabnya ya dan BUKAN visa on arrival. Selanjutnya saya check di manakah kedutaan atau konsulat Mesir itu? yang paling dekat dengan rumah adalah di Frankfurt. Duh, males banget ke Frankfurt yang jauhnya 200 km dari rumah kami. Sayapun memutuskan untuk memakai jasa agen pembuatan visa. OK, kata suami. Diapun lalu mulai booking hotel, pesawat dan tetek bengeknya. Paid. Beres.

Nah, pas lagi milih-milih mau pakai agen yang mana, barulah teliti membaca persayaratan visa ke Mesir (ketahuan deh, sebelumnya bacanya nggak teliti). Ternyata untuk WNI (meskipun tinggal di Eropa dan menikah dengan warga negara Eropa), untuk apply visa dibutuhkan waktu minimal 3 minggu karena sebelum proses pembuatan visa dijalankan, harus menunggu laporan dari Kairo dulu apakah yang bersangkutan berhak untuk memperoleh visa masuk Mesir. Waduh. Minimal 3 minggu itu artinya bisa lebih dari 3 minggu kan, padahal liburan kami tanggal dimulai tanggal 26 Desember. Sayapun mulai menelpon beberapa agen visa  dan semua jawabnya sama, minimal 3 Minggu dan mereka tidak bisa membantu untuk mempercepatnya. Bahkan satu agen yang saya kirimin email membalas dengan peringatan supaya saya tidak booking liburan dulu karena bisa saja visa saya ditolak dan prosesnya bisa makan waktu 6-8 minggu. Sayapun mulai panik, maklum liburan yang sudah dibayar, kalau dibatalkan lumayan juga uang yang hilang.

visa dienst
Jawaban dari salah satu agen visa

Suami mencoba membantu dengan menelpun langsung ke konsulat di Frankfurt dan ternyata selain rude, orang yang ditelepon tidak tahu apa-apa tentang visa untuk untuk WNI. Echt. Ya sudahlah dari pada ribet tralala dengan info yang tidak jelas (sebenarnya sih infonya jelas, tapi sayanya ngeyel), saya memutuskan untuk pergi ke konsulatnya langsung. Kamis malam telpun mertua, minta tolong apakah beliau bisa datang untuk menemani Flipper. Alhamdulillah meskipun dadakan beliau bisa datang juga padahal rumah beliau juga lumayan jauh dari kami, 250km. Seandainya mertua tidak bisa datang, bisa mabuk saya, nyetir 400 km (pp), dengan toddler yang bosan duduk terus di mobil. Belum lagi ketika di konsulatnya dia ‘main drama’. Suami tidak bisa mengantar karena dia harus kerja dan libur dia juga sudah dipas untuk Desember nanti.

Akhirnya setelah 2,5 jam nyetir, sampailah saya di konsulat Mesir di Frankfurt. Bapak yang mengurus visa saya alhamdulillah tidak seperti yang di bagian telepon, sangat ramah dan baik hati tapi beliaupun bilang bahwa visa untuk WNI membutuhkan waktu minimal 3 Minggu dan itupun tidak ada jaminan bahwa saya bisa mendapat visa. Sayapun mulai panik beneran )saya memang panikan orangnya :D) dan berusaha ‘merayu’ si Bapak. Saya tunjuk-tunjuk tanggal di bukti booking liburan yang memang harus disertakan dalam proses pembuatan visa. Saya bilang juga bahwa  suami dan anak saya yang warga negara Jerman akan sedih kalau mamanya nggak ikut liburan. Bahwa saya musti 2 jam nyetir ke Frankfurt plus 2 jam balik ke tempat saya. Bahwa anak saya yang masih kecil pasti rewel karena ditinggal mamanya ke Frankfurt. Ah si bapak malah bertanya kenapa anaknya nggak dibawa saja ke Frankfurt?

Akhirnya beliau menyuruh saya menunggu sebentar. Waktu itu sudah jam 12 siang lebih, jam istirahat di konsulat. Azan berbunyi di radio mereka dan saya satu-satunya yang menunggu di sana. Beberapa orang yang tadinya juga melakukan proses konsuler sudah pergi. Beberapa karyawan konsulat mulai wedangan, snacking dan ngobrol-ngobrol, ada juga yang siap-siap pergi shollat tapi si bapak itu masih ngurusi berkas-berkas saya. Dia lalu bilang ke saya bahwa dia akan menelpon bosnya, menanyakan apa saya bisa mendapatkan visa. Sayapun ikut mendengarkan obrolan mereka di telepon tapi tentu saja tidak ada kata-kata yang bisa saya mengerti kecuali kata ‘Indonesia’ dan ‘Srilanka’ (jangan tanya kenapa). Dan setelah telepon ditutup, si bapakpun berkata bahwa visa saya selesai hari itu juga. Yay! rasanya mau melonjak kegirangan. Si Bapak lalu menganjurkan sebaiknya saya pulang karena proses pengambilan visa adalah sore hari antara jam 15 sampai jam 16 dan anak saya menunggu di rumah. Dia akan mengirimkan visa saya hari itu juga, sore hari. Ah baiknya si bapak. Sayapun pulang setelah menghabiskan 40 menit di konsulat Mesir. Dan tepat keesokan harinya, Sabtu pagi, sayapun sudah menerima paspor saya yang sudah ditempeli visa Mesir lewat DHL Express. Yay!

visa-mesir
Visa ke Mesir

Begitulah proses gampang-gampang susah apply visa ke Mesir. Dapat angka berapa kira-kira? 2 atau 3? 😀 Intinya, belum tentu yang diurus oleh agen itu lebih praktis meskipun kita bayar extra untuk jasa mereka. Urus sendiri dengan bekal pede dan senyumpun kadang bisa membantu.

Ada nggak punya pengalaman lain mengurus visa ke Mesir?