Masalah dengan Tetangga

 

Beberapa hari yang lalu kami mendapat surat dari penyewa flat kami yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah kami. Saya pikir ada apa ini kok pakai acara surat-suratan? Jangan-jangan dia mau pindah rumah? Tapi karena nama yang tertera di amplop adalah nama suami, saya tidak bisa membukanya begitu saja. Karena penasaran, saya menelpon suami, mengabarkan bahwa ada surat dari si Lars. Suami juga bertanya-tanya karena biasanya bila ada apa-apa, Lars langsung datang ke tempat kami atau menelpon dan suamipun meminta saya membuka surat Lars sekaligus mengurusinya karena dia sedang sibuk di kantor.

Setelah saya buka suratnya, benar saja dia mau keluar dari flat kami. Isi suratnya pendek, sesuai hukum di Jerman, dia mengabarkan 3 bulan sebelum tanggal yang diinginkan untuk keluar dari flat secara tertulis. Di surat itu dia juga meminta kami untuk menelponnya karena saat itu dia sedang berada di luar kota untuk beberapa hari sehingga tidak bisa mampir. Sayapun menelpon Lars dan diapun curhat, tidak betah tinggal di flat kami karena tetangga sebelah yang selalu reseh. Oh well, si tetangga itu.

Ya, saya kenal tetangga itu karena dulu waktu saya baru pindah ke Jerman, saya sempat tinggal di flat yang kami sewakan itu bersama suami. Tetangga sebelah adalah sepasang suami istri berusia sekitar 70 tahun yang entah karena kurang kerjaan atau memang care, hobby mereka berdua adalah mengurusi orang lain misalnya dia selalu mengamati apakah si A atau si B, C, D membuang sampah sesuai kategorinya. Kalau salah, bukannya menegur yang bersangkutan duluan namun langsung lapor ke Ordnungsamt (departemen yang mengurus soal kedisiplinan warga). 

Urusan sampah di Jerman memang tidak asal buang saja. Jenis sampah dikategorikan dalam 4 jenis: sampah plastik (tong sampah kuning), kertas (tong sampah biru), kompos (tong sampah coklat), sampah sisa dapur (tong sampah hitam). Barang elektronik rusak atau bahkan batere yang sudah mati tidak termasuk dalam 4 kategori ini. Nah si tetangga ini rajin banget mengamati, misalnya si A sedang membuang sampah ke tong berwarna biru… Setelah si A pergi, tetangga nyamperin tong sampah itu, mengecek beneran kertaskah yang dibuang? Ada plastiknya nggak? Duh. Belum lagi ngurusi mobil orang yang parkir di jalanan umum.

Lalu pernah juga dia ngamuk karena keset di depan pintu flat kami letaknya miring. Kata dia itu bisa membuat dia terpeleset dan jatuh lalu mati. Pintu flat kami memang berdekatan namun tidak jejer nemplek sampai membuat keset miringpun akan mempengaruhi kehidupan seseorang. Mereka juga hampir setiap hari mengetuk pintu kami krn terganggu dengan bau masakan yang saya bikin. Padahal waktu itu saya tidak pernah masak yang aneh-aneh seperti goreng terasi atau ikan asin krn belum tahu di mana belinya. Pokoknya setiap hari ada saja protes dari mereka yang membuat kami jengkel dan sering ribut dengan mereka. Namun suatu hari saya punya ide bagus untuk mengakhiri segala perseteruan antar tetangga. Saya membuat martabak telur dan memberi beberapa potong kepada mereka. Tadaaa! Tiba-tiba mereka menjadi baik hati. Mereka jadi sering menyapa (sebelumya kalau kita berpapasan, mereka selalu mencureng), sering ngobrol bahkan sering memberi coklat. Ah damainya dunia. Si ibu malah sempat nangis waktu kami pindah rumah. 

Hebat kan pengaruh kebaikan kita? Saya sendiri tidak mengira bahwa hanya dengan beberapa buah martabak, sikap mereka berdua bisa berubah total. Saya pikir intinya bukan pada rasa dari martabak saya yang memang enak (eh beneran lho 😀 ) namun perhatian yang kami berikan kepada mereka. Mereka kesepian, anak satu-satunya tinggal jauh di luar kota.

Setelah kami pindah, flat kami sewakan ke seorang ibu janda yang sudah manula juga. Ibu ini sempat tinggal 6 tahun di flat kami tanpa keluhan. Mungkin karena usianya sama dengan si tetangga jadi mereka bisa berteman. Si ibu, sayangnya harus pindah, diboyong anaknya karena si ibu sering sakit-sakitan sehingga tahun lalu masuklah si Lars ini. Lars berusia 29 tahun, single, ganteng, sukses di bidang karir dan kalau menilik penampilannya bisa saya asumsikan bahwa gaya hidupnya tidak seanteng ibu yg menyewa rumah kami sebelumnya. Paling tidak dia pasti suka nyetel musik atau nonton TV sampai malam atau menyanyi di kamar mandi. Hal-hal normal yang kami juga lakukan dulu, yang membuat tetangga selalu merasa terganggu. Mungkin si Lars bahkan sering mendapat kunjungan teman atau pacar yang membuat tetangga semakin merasa hidupnya terusik. Lalu apa iya saya harus mengusulkan ke Lars supaya berempati atau mengirim makanan ke si tetangga itu?

Tidaklah. Lars sudah memutuskan untuk keluar dan itu hak dia, kami harus menghormatinya. Kami akan  mencari penyewa yang baru dan semoga penyewa berikutnya bisa tahan banting dengan si tetangga karena kami tidak mungkin juga menegur si tetangga; hey be nice to our tenant! 😀 Idealnya memang yang usianya sepantaran supaya mereka sehati untuk  tidak saling menganggu.

Selama tinggal di Jerman hampir 8 tahun, kami sudah 4 kali pindah rumah dan baru sekali itu menemui tetangga yang aneh. Bagaimana dengan kalian? Ada nggak pengalaman menarik dengan tetangga?
 

Advertisements

Kota Tua Al Qusayr, Mesir

Menyambung  cerita dari postingan saya sebelumnya, sebenarnya banyak tour-tour yang ditawarkan di resort selain diving dan snorkling tour, di antaranya  adalah safari desert yang saat itu tidak dianjurkan oleh pihak hotel karena faktor keamanan. Lalu ada tour ke kota bersejarah Luxor atau ke Kairo, mengunjungi Pyramid yang sayangnya harus ditempuh dengan pesawat dan harus menginap, terlalu jauh dari lokasi kami. Pyramid dan Luxor insyaallah akan selalu ada di sana dan kami masih bisa mengunjunginya di lain waktu tanpa harus menginap di tempat yang jauh. Saat itu kami hanya mengambil tour yang jaraknya tidak terlalu jauh dari resort, ke kota tua Al Qusayr yang jaraknya sekitar 70km dari Resta Grand Resort.

Kami naik minibus bersama 5 tamu resort yang lain, dua orang dari Belanda dan tiga orang dari Finlandia. Tidak banyak yang bisa saya lihat dari perjalanan antara resort dan Al Qusayr. Sejauh mata memandang hanya padang pasir. Setelah kira-kira 15 menit perjalanan, tiba-tiba saya melihat ada beberapa spots di mana terlihat susunan pohon palem yang berjajar membentuk pagar, memagari area padang pasir yang luas. Sopir yang mengantar kami menjelaskan bahwa di daerah itu akan dibangun hotel dan sebelum hotel berdiri, pohon palem harus sudah ditanam bertahun-tahun sebelumnya untuk membiasakan tanah (baca: pasir) di lokasi dan juga karena menumbuhkan pohon palem itu memakan waktu lama meskipun tidak ditanam dari bibit. Pohon-pohon tersebut diambil dari pinggiran sungai Nil, di mana mereka banyak tumbuh dengan subur. Ketika saya bertanya, sudah berapa lama pohon-pohon itu ada di sana dan kapan hotelnya akan dibangun, Ahmed, si sopir hanya mengangkat bahu. Yah, dengan keadaan pariwisata di Mesir yang sedang memburuk seperti ini rasanya memang tak perlu terburu-buru membangun hotel di sini.

gereja1
On the way to Al Qusayr.

Setelah hampir satu jam naik minibus kamipun tiba di kota tua Al Qusayr. Seorang penduduk lokal yang rupanya bertugas menjadi guide menyambut kami dan mengajak kami berjalan kaki berkeliling kota. Kota ini terlihat jauh berbeda dari yang saya bayangkan sebelumnya. Kota tua yang saya bayangkan adalah kota dengan reruntuhan bangunan-bangunan purbakala seperti di filmnya Indiana Jones sedangkan yang saya lihat adalah kota kecil dengan bangunan yang relatif modern. Beberapa bangunan terlihat memiliki AC namun semuanya kumuh dan berdebu.

Hampir semua bangunan berwarna kuning kecoklatan dan ciri khas bangunan di sana adalah balkonnya yang menjorok keluar. Jalanan di kota ini tidak beraspal atau berbatu, semuanya berpasir jadi bisa dimaklumi bila debu di mana-mana. Beberapa mobil tua tampak bersliweran dan beberapa tampak terbengkelai dengan keadaan tidak utuh di pinggir jalan.

2081s2085s2092s

2103s
Bangunan bertingkat sering didapati di Al Qusayr dimana beberapa generasi dalam sebuah keluarga hidup bersama di dalamnya.

2106s

2107s
Rumah dengan gambar Ka’bah-nya artinya pemiliknya sudah pernah menunaikan ibadah haji.

Setelah menyusuri gang-gang kecil, Pak Hassan, nama guide kami, mengajak kami ke salah satu masjid. Kota Al Qusayr secara keseluruhan berpenduduk 20.000 dan di bagian kota tuanya sendiri hanya 6.000 penduduk. Di kota tua ini berdiri 27 masjid dan sebuah gereja. Masjid yang kami kunjungi, dari segi bangunan, bagi saya sebenarnya tidak terlalu istimewa. Masjid ini mirip seperti mesjid di perumahan di mana orang tua saya tinggal di Jogjakarta dan menurut Pak Hassan, masjid ini adalah bangunan masjid terbaru di kota ini. Ketika saya bertanya mengapa kita tidak pergi mengunjungi masjid yang paling tua, Pak Hassan mengatakan bahwa pada saat itu sedang ada kegiatan pengajian rutin sesudah Asyar sehingga tidak terbuka untuk turis.

Saat itu memang sekitar pukul empat sore dan sepanjang perjalanan di Al Qusayr, tidak banyak aktifitas yang terlihat di kota ini. Saya melihat beberapa toko yang menjual souvenirs, sebuah toko baju anak-anak, sebuah salon dan sebuah toko kelontong yang semuanya tutup. Saya sempat mengintip ke dalam toko kelontong dari jendela kacanya, sepertinya bila toko itu bukapun, tak akan banyak orang yang mau datang karena dari bangunan sampai isinya, semuanya terlihat sangat kotor dan berdebu. Sesekali saya menjumpai anak-anak yang bermain di luar dan sedikit pria yang lalu lalang. Tidak ada wajah perempuan. Pak Hassan mengatakan, para perempuan sedang berada di dalam rumah menyiapkan makan malam untuk keluarga.

Setelah mengunjungi masjid, Pak Hamid mengajak kami berjalan menyusuri pantai menuju ke gereja Virgin Mary. Penganut agama Islam dan Katolik hidup berdampingan dengan rukun di Al Qusayr. Pak Hassan yang seorang muslim bercerita bahwa orang-orang muslim di sini senang sekali bila hari Minggu tiba, di mana saatnya para penganut agama Katolik pergi ke gereja. Orang-orang yang akan pergi ke gereja selalu mengenakan pakaian terbagus mereka, berdandan semaksimal mungkin, seperti mau datang ke pesta dan itu membuat pemandangan di Al Qusayr bertambah indah, demikian menurut Pak Hassan. Mengingatkan saya pada gereja Katolik di Kota Baru, Jogja yang pada hari Minggu penuh dengan orang-orang dengan penampilan terbaik mereka. Bahkan teman-teman kuliah saya yang biasanya kalau kuliah berlomba untuk terlihat paling nyentrik dengan baju kebalik, rambut dikucir 10 dan bahkan tidak mandi (ya, saya dulu kuliah di ISI tapi tidak pernah nyentrik lho :D), tapi bila saatnya ke gereja tiba-tiba memakai gaun dan sepatu mengkilap 🙂

Dalam perjalanan menuju ke gereja tersebut Pak Hassan bercerita bahwa di Al Qusayr dulu sempat ada pertambangan fosfat milik perusahaan dari Italia yang beroperasi di sini. Perusahaan itu menjadi jantung kehidupan di kota ini sejak tahun 1916 dan  hampir semua penduduk Al Qusayr bekerja di perusahaan tersebut. Namun sejak lima tahun yang lalu, perusahaan ini menghentikan operasinya di Al Qusayr dan sejak itulah generasi muda Al Qusayr mulai meninggalkan kota mereka mencari pencaharian di kota lain. Al Qusayr-pun terbengkelai bersama generasi tua dan anak-anaknya. Pariwisata Al Qusayr yang tadinya juga lumayan banyak dikunjungi turis-turis dari Italiapun berlahan turun pamornya. Satu-satunya hotel di sini, yang dibangun oleh dermawan asal Swedia sekarang menjadi museum hotel yang bisa dikunjungi masyarakat umum hanya untuk melihat-lihat.

Gereja Virgin Mary yang tadinya bernama St. Barbara dibangun oleh perusahaan penambang fosfat tersebut, tak heran bila letaknyapun di bagian belakang komplek besar perusahaan. Ketika kami memasuki komplek perusahaan, bangunan pertama yang saya lihat adalah sebuah bangunan megah yang tadinya menjadi tempat tinggal bos perusahaan. Sebuah rumah impian saya; berada di tepi pantai dengan teras dan balkon yang besar serta kebun. Tapi kalau saya masih boleh bermimpi lagi, akan lebih sempurna bila rumah ini berada di Mallorca, Spanyol dan bukan di tanah gersang Al Qusayr yang hanya menerima hujan sekali dalam 10-12 tahun.

Kami terus berjalan menyusuri halaman yang berdebu dengan beberapa bangunan kosong di kanan kiri kami. Di sinilah dulu terdapat aktifitas mengelolaan fosfat. Gedung-gedung berwarna kuning tersebut mengalami rusak di sana sini namun secara keseluruhan masih tampak kokoh. Pak Hassan mengatakan bahwa ada isyu yang beredar bahwa orang-orang Italia akan kembali ke Al Qusayr untuk mengaktifkan kembali penambangan ini. Semoga isyu itu benar dan kota Al Qusayr akan kembali hidup.

2115s2109s2112s2111s

2108s
Bangunan-bangunan yang terbengkelai di komplek perusahaan penambangan fosfat.
Arsitektur gereja Virgin Mary tampak biasa saja dari depan, namun begitu saya memasukinya, sayapun ternganga. Inilah bangunan tercantik yang saya lihat selama di Mesir. Gereja yang dibangun pada tahun 1920 ini memiliki satu altar dengan Noah arcs-nya yang antik. Beberapa ikon tokoh dari Italia tampak tergambar di interior gereja yang dihias dengan kerang. Mozaik di jendela-jendela gereja merupakan contoh dari kehebatan kesenian Italia.

Keluar dari gereja, tanpa sadar waktu tour kami sudah hampir habis. Pak Hassan mengajak kami ke tokonya dan menyuguhi kami dengan teh hangat. Beliau memiliki toko souvenirs yang sebenarnya lumayan besar namun sayangnya tidak terlalu terawat. Semua barangnya berdebu bahkan ada beberapa yang rusak. Kami menyempatkan untuk membeli sebuah selimut kecil untuk Flipper. Oh ya, di Mesir kita bisa berbelanja dengan beberapa mata uang; Pound Mesir, USD dan Euro.

Hari sudah gelap ketika mobil penjemput kami tiba. Dan tiba-tiba saja kota yang tadinya tampak mati mendadak hidup. Semua orang; lelaki, perempuan, anak-anak keluar rumah. Toko-toko membuka gerainya, cahaya lampu warna-warni menyilaukan mata dan suara sepeda motor maupun mobil tua terdengar membisingkan. Pak Hassan berkata bahwa memang begitulah rutinitas di kota ini setiap hari. Siang hari kebanyakan orang berada di dalam rumah, anak-anak langsung mengerjakan PR sepulang sekolah dan begitu usai shollat Maghrib, semuanya ke luar rumah, bersosialisasi atau bekerja di toko. Pantas saja tour yang ditawarkan untuk ke kota ini ada yang jam mulai dari 20.00 sampai jam 22.00. Kami memilih tour yang siang hari karena faktor anak kecil, si Flipper. Tapi saya tidak menyesal karena bila datang malam hari pasti tak banyak yang bisa saya foto. Entahlah apa saya akan kembali lagi ke kota ini atau bahkan ke Marsa Alam, yang pasti doa saya untuk kota tua Al Qusayr: semoga perusahaan penambangan fosfat kembali aktif di sini, di kota yang memiliki pelabuhan kecil yang cantik. Amiin… Foto-foto Al Qusayr yang lain bisa dilihat di Flickr saya.

papanmilaS
Flipper dan papanya di pantai Al Qusayr.

Winter Holiday di Marsa Alam, Mesir

Home sweet home. Ya, akhirnya kami berada di rumah kembali setelah  menghabiskan 2 minggu liburan di Marsa Alam, Mesir. Tidak banyak yang kami lihat di Mesir karena tujuan liburan kali ini memang hanya untuk recharging body and mind alias hanya bermalas-malasan di resort, menikmati pantai dan mataharinya di kala benua Eropa sedang mengalami musim dingin. Orang Jerman biasa menyebut liburan semacam ini ‘Erholungsurlaub‘ atau ‘Badeurlaub‘ yang arti harafiahnya berdasarkan kamus pribadi Beth adalah liburan cibung-cibung – karena aktifitas utamanya memang bermain air di kolam renang dan di pantai (termasuk berjam-jam berjemur tentunya). Untungnya resort kami terletak di tepi laut merah yang terkenal dengan pemandangan bawah lautnya yang indah sehingga saya yang aslinya tidak bisa bertahan lama berjemur dan diam di atas kursi malas bisa snorkling hampir setiap hari. 

Kami berangkat dari bandara Cologne-Bonn pada hari Minggu tanggal 27 Desember 2015 dengan niat untuk merayakan tahun baru di sana. Penerbangan ke International Airport Marsa Alam memakan waktu 4 jam. Untuk empat jam penerbangan ini, Mila membawa sekoper mainan dan satu ransel tas penuh jajan supaya tidak rewel selama di pesawat. Delapan butir surprise eggs pun disiapkan tapi diumpetin dulu, hanya dikeluarkan ketika sogokan yang lain tidak mempan. Alhamdulillah kami hanya perlu mengeluarkan satu telur dalam penerbangan tersebut.

sangu mila
Koper isi mainan dan satu box jajan. Boxnya itu nanti dimasukkan ke ransel yang penuh jajan juga 😀

 Di Bandara Internasional Marsa Alam

Ketika kami tiba di bandara kecil Marsa Alam, sekitar pukul 17.00 waktu setempat, saya sempat kaget ketika penyambutan pertama yang kami temui adalah para agen tour. Saya pikir kami harus melewati imigrasi dulu di mana saya yang WNI harus pisah antrean dengan anak dan suami. Para agen tour ini berteriak-teriak memanggil penumpang yang sebelumnya sudah booking paket liburan dari mereka. Kamipun menghampiri agen tour kami, yaitu Vtour.

Kami bukan satu-satunya keluarga yang menggunakan jasa Vtour dan selain itu banyak agen-agen dari tour lain yang entah kenapa semuanya terburu-buru sehingga  suasana terasa chaos. Agen tour kami meminta paspor kami dan tanpa banyak cakap langsung menempel paspor kami dengan visa Mesir. Saya lihat agen-agen tour yang lain juga melakukan hal yang sama. Kami yang  pertama kali ke Mesir lumayan bingung juga, bandara ini nggak ada kontrol imigrasinya atau bagaimana. Lagian saya kan berdasarkan aturan, karena saya WNI, sudah harus apply di kedutaan Mesir di Frankfurt sebelum keberangkatan.  Namun saya pikir ya sudahlah, siapa tahu itu cuman sticker tambahan, pikir saya.

paspor
Visa on Arrival

 Ternyata setelah keluar dari keruwetan orang-orang dan para agen tur, baru deh di ujung ruangan terlihat ada loket imigrasi yang mengecek paspor kami. Sayapun baru paham, ternyata kerumunan agen tur tadi ‘nyambi’ sebagai petugas Visa On Arrival (yang tidak berlaku untuk WNI). Entah bagaimana prosesnya seandainya ada pengunjung  yang datang ke Marsa Alam tanpa agen tour, siapa yang akan melayani VOA-nya?  (Pengalaman tentang apply visa ke Mesir bisa dicek di postingan saya sebelumnya.)

Di pemeriksaan paspor yang hanya buka satu loket, visa yang distempel petugas adalah  visa yang dari kedutaan, bukan sticker mini dari agen tur. Setelah kontrol visa, kamipun mengambil bagasi kami dan keluar bandara, mencari agen tour kami yang menyediakan kendaraan transfer ke hotel. Nah di sini terjadi chaos lagi.  Kerumunan para agen tour yang sama kembali mengitari kami para penumpang yang baru datang. Agen tur Vtour kami yang tadi menempel sticker VOA datang lagi untuk menagih pembayaran visa  tersebut. Saya tentu saja menolak membayar karena saya sudah membayar €38,00 di kedutaan Mesir, lebih mahal dari harga Visa pemegang passpor Jerman yang hanya €32,00 (meskipun di sticker visanya jelas-jelas harganya tertera hanya $25- sekitar €23,00). Agen t0ur  tersebut menyalahkan saya yang tidak bilang bahwa saya sudah punya visa. Lah mana saya tahu, waktu dia minta kami menunjukkan visa, dia main tempel saja, plek plek plek? Mentang-mentang pesawatnya datang dari Jerman, dia pukul rata saja menganggap semua penumpang adalah pemegang paspor Jerman. Saya pikir dia tadi hanya mau mencocokkan nama di passpor dengan nama  di list dia. Lagi pula paspor saya warnanya hijau sendiri, kenapa dia tidak curiga?

Si mas agen itu tadinya ngeyel kalau saya harus bayar lagi karena sticker sudah terlanjur ditempel. Sticker artinya duit. Sayapun balik ngeyel dan mungkin karena disertai Mila yang nangis-nangis tak karuan minta keluar dari kerumunan orang, akhirnya mas agen mengalah dan menyobek halaman paspor saya yang ada sticker-nya. Sayapun tak perlu membayar.

Di Resort

Jarak antara bandara dan resort untungnya hanya 10 menit. Lega rasanya ketika memasuki area resort kami, Resta Grand Resort. Suasana natal di hotel terasa masih kental dengan segala dekorasinya. Flipper yang sejak turun dari pesawat serasa forever tantrum langsung bungah melihat Santa yang berdiri  di antara bungkusan kado-kado di lobby. Proses check-in yang disambi dengan suguhan minuman dingin berjalan cepat. Setelah mendapatkan gelang tanda all inclusive, kamipun di antar oleh petugas ke kamar kami.

Mila n Santa

Resort kami terdiri dari beberapa bangunan yang secara keseluruhan berjumlah 396 kamar (dan mereka sedang dalam proses menambah 352 kamarlagi). Kamar kami berada di lantai dua sebuah  bangunan yang terdiri dari 8 kamar. Saking jauhnya dari lobby, kami diantar naik golf cart ke kamar kami. Dalam hati saya happy, kamar jauh dari restoran berarti makin banyak lemak yang terbakar buat jalan. Petugas yang mengantar kami bilang bahwa kamar kami menghadap ke laut namun karena hari sudah gelap, kami hanya bisa mendengar deru ombaknya saja. Baru pada keesokan harinya kami bisa menikmati pemandangan dari balkon kami.

view from room
Kiri: view dari balkon depan. Kanan: view dari balkon belakang.

 Untuk liburan kali ini saya sengaja membawa 3 set baju fitness plus sepatunya karena sudah niat untuk tidak menambah berat badan seperti waktu liburan di Turki kemarin. Yah, memang inilah sisi negatif dari Badeurlaub yang all inclusive. Makanan enak-enak  dan minumannya tersedia 24 jam sehari tanpa harus extra membayar lagi. Waktu di Turki kemarin saya tidak membawa baju fitness dan makan uncontrollable karena saya memang penggemar makanan Turki (Turkish delight, oh!). Akibatnya, efek 10 hari liburan waktu itu belum hilang sampai sekarang. Makanya kali ini saya harus lebih hati-hati. Tapi setelah beberapa kali menikmati makanan di resort ini, dari appetizer sampai dessert, saya menyimpulkan bahwa with or without bakar lemak di fitness studio pun, saya tidak akan menambah berat badan karena makanan di sini tidak selezat di Turki. So I take it as a ‘yay’! 

Pada hari ke-4 saya sudah kehilangan nafsu makan di resort. Dan apesnya resort kami ini letaknya in the middle of sea and desert. Tidak ada kehidupan lain di sekitar hotel sehingga kami tidak bisa jajan di luar. Menu makanan yang disediakan di restoran-restoran hotel sebenarnya sangat beragam mulai dari local food sampai Chinese dan Italian food tapi semuanya terasa hambar sampai akhirnya pada hari ke -5 saya bertanya ke salah satu kokinya apa mereka punya cabe dan oh baiknya si bapak ini, dia berhasil mendapatkan cabe buat saya meskipun itu cabe jalapeno yang tidak sedasyat Thai chili tapi tidak apa-apa. Sekarang di tiap restoran selalu tersedia irisan cabe buat saya. Bahkan di bagian live cooking omelett dan pasta, tanpa banyak tanya,  ketika mereka melihat saya berjalan menuju mengunjungi counter mereka, merekapun sudah menyiapkan sesendok munjung cabe untuk diolah. Pada hari terakhir saya di hotel, ketika makan pagi saya bilang ke koki bagian telur-teluran bahwa mulai besok dia tidak perlu lagi menyiapkan cabe untuk saya karena malamnya kami harus terbang ke Jerman. Sahutan pak koki, “Oh no! We have a big box of chilies prepared for you! Would you like to bring it home?” Becanda nih si bapak. Belum tahu dia bahwa di rumah banyak cabe super pedes yang menunggu saya 😀 Btw, saya memang satu-satunya turis Asia di resort ini.

Service keseluruhan di hotel ini memang sangat bagus tapi menurut saya service di bagian restoran yang paling top. Pelayannya semua super ramah dan mau repot untuk sesuatu yang dibutuhkan meskipun itu bukan bagian dari service. Selain soal cabe tadi, mereka bersedia menghangatkan susu untuk minum paginya Mila karena yang disediakan sebenarnya hanya susu dingin untuk cereal. Selain itu meskipun restoran tutup jam 22.00, saya masih boleh masuk mengambil roti karena si Mila suka tiba-tiba kelaparan lagi setelah acara mini disco. 

Seperti halnya di Turki atau Spanyol bahkan di Indonesia, meskipun tidak ada kebijakan khusus tentang tipping, di sini tipping is welcome. Di sudut restoran-restoran ada sebuah box untuk memasukkan uang tips sukarela kita. Demikian juga di cocktail lounge. Hanya di di restoran untuk gala dinner dan di bagian spa, kalau mau, kita bisa memberikan tips langsung ke orang yang melayani kita. Untuk housekeeping yang rajin membuat kreasi-kreasi menarik dengan handuk di kamar kami, kami meninggalkan tips di atas bantal secara berkala. Beda dengan hotel atau resort di mana kami pernah menginap sebelumnya, housekeeping yang datang membersihkan kamar kami setiap hari adalah orang yang sama, Muhammad. Para karyawan di resort ini hampir semuanya pria, mulai dari bagian reception, kitchen, housekeeping, gardeners, cleaning service, office administration, dll…hanya ada 5 wanita yang bekerja di resort ini, dua pemijat di bagian spa dan tiga hotel animators.

kolase handukS
Macam-macam kreasi handuk dan bantal karya Muhammad.

 Satu fasilitas penting yang selalu kami cari di hotel ketika pergi berlibur adalah fasilitas play ground untuk bermain anak-anak. Resta Grand Resort memiliki Spielplatz yang besar serta kids club yang mainannya sangat lengkap. Sayangnya waktu kami berada di sana, tidak banyak turis mini yang menginap sehingga Flipper nyaris satu-satumya pengunjung di kids club. Peserta mini disco yang diadakan setiap pukul 20.30, yang merupakan aktifitas favorit Flipperpun hanya 1-2 anak. Kadang sayapun ikut menari di panggung supaya Giada, hotel animator yang memimpin disco tetap bersemangat memberi intruksi meskipun pesertanya hanya Flipper seorang 😀

IMG_4925s
Di dalam Kids Club.

IMG_5351s
Taman bermain anak.

IMG_5377
Flipper bersama para crew resort.

Kami berlibur di Mesir di saat tingkat pariwisata di Mesir anjlok gara-gara kecelakaan pesawat dari Sharm El Sheiks menuju Rusia bulan Oktober lalu. Kami sebenarnya sudah booking hotel di Sharm El Sheiks dari jauh-jauh hari sebelumnya yang kemudian setelah kejadian kecelakaan pesawat, kami mengikuti advice dari agen tour untuk pindah ke Marsa Alam. Marsa Alam yang berada jauh dari Sharm El Sheiks (sekitar 300 km naik mobil plus nyebrang laut merah) ikut merasakan dampak dari kecelakaan pesawat tersebut. Di bulan-bulan ini biasanya tingkat hunian Resta Grand Resort isi  80%  karena banyak orang Eropa yang ingin merayakan natal dan tahun baru dengan suhu udara yang hangat. Kali ini tingkat hunian hanya isi 22%. Sangat jauh bedanya tapi tetap masih lebih bagus dari tingkat hunian hotel di Sharm El Sheiks yang nyaris nol persen. Dua dari tujuh hotel animators yang sering ngobrol dengan kami bahkan pindahan dari Sharm El Sheiks. Mereka dipindah ke Marsa Alam karena di sana tidak ada kunjungan sama sekali. Sad. Dan sepertinya tingkat pariwisata di Mesir akan terus anjlok setelah tanggal 8 Januari kemarin terjadi tembak-tembakan di kawasan turis di Kairo, di daerah Pyramid berlanjut dengan serangan di sebuah hotel di kawasan wisata Hurghada pada keesokan harinya. Sedih rasaya membayangkan bila tidak ada lagi turis yang datang ke tempat ini…Apakah bapak tua yang bertugas mencabuti rumput di halaman resort masih diperkerjakan? Apakah Hamyd yang rajin mondar-mandir mempromosikan paket-paket spa akan bisa mempertahankan pekerjaannya? Lalu para hotel animators, kemana lagi mereka akan dipindah? Salah satu pelayan restoran, Sofwan yang sempat pamit ke kami karena akan libur 10 hari merayakan natal di desanya (Di Mesir mereka merayakan natal pada tanggal 7 Januari) dan tidak bisa bertemu kami lagi nanti ketika dia kembali bekerja, apakah dia benar-benar bisa kembali bekerja? 

Kegiatan di Resort

Ketika di Eropa sedang mengalami musim dingin, demikian juga di Mesir. Bedanya bila di Eropa suhunya rendah mendekati angka nol bahkan di bawah nol, suhu  musim dingin di Mesir berkisar antara 16-27 derajat celcius. Suhu yang ideal. Sayangnya kadang suhu yang ideal ini disertai dengan angin kencang yang mengakibatkan dinaikkannya bendera warna hitam yang artinya dilarang turun ke laut. No snorkling. Jangankan untuk snorkling, untuk baring-baring di kolam renangpun lumayan membingungkan karena sengatnya panas matahari bila bercampur angin dingin membuat badan menggigil, apalagi kalau kita berada di tempat yang teduh, di bawah payung misalnya, rasanya ingin menyalakan pemanas.  Tak heran bila di area swimming pools banyak mbak-mbak berbikini yang dilapisi jaket tebal plus kupluknya. 

Ketika berangin inilah saya biasanya menghabiskan waktu di spa, massage. Di sini ada aturan tertulis bahwa customer dan pemijat harus sama gender-nya. Saya sendiri seumur hidup belum pernah dipijat pria, tapi buat saya pribadi selama mijatnya enak, apapun jenis kelaminnya tidak masalah. Tukang pijat langganan saya di Kerpen sendiri adalah ibu-ibu berpostur kecil yang umurnya di atas 50 tahun tapi tenaganya super. Thai massage emang the best lah menurut saya 😀

Private beach di resort kami airnya sangat jernih. Kami bisa melihat coral dan ikan warna-warni hanya dengan berdiri di pinggiran pantai. Untuk snorkling-pun banyak pilihan, snorkling di pantai yang jaraknya hanya 3 meteran dari bibir pantai atau berjalan dulu ke jembatan yang menjorok ke laut di mana ada tangga ke bawah untuk snorkling ke lautan yang lebih dalam. Di kedua lokasi itu ikan dan coralnya sama-sama cantik dan penuh warna, hanya saja di bagian yang lebih dalam bisa dijumpai jenis-jenis ikan yang lebih besar. 

Selain snorkling gratisan di pantai belakang resort, saya juga sempat mengikuti paket snorkling yang diadakan oleh snorkling tour di mana saya berkesempatan melihat seekor kura-kura raksasa dan seekor dugong dari dekat. Begitu melihat kura-kura, saya langsung ingat dengan film Nemo. Kura-kura ini pasti umurnya juga sudah ratusan tahun dan si kura-kurapun melirik nakal seolah mengiyakan dugaan saya. Saya tadinya beranggapan bahwa dugongyang panjangny sekitar 2 meter dan gendut itu adalah binatang pemalas yang hanya klesotan di dasar laut, ternyata saya salah, dia bisa juga berenang indah bergaya zigzag. Lalu belum lagi ikan aneka warna dan coral serta tumbuhan laut yang cantik jelita… Alhamdulillah sekali saya bisa menikmati keindahan alam bawah laut ini. Snorkling terakhir saya sebelum ini adalah di Nusa Dua, Bali yang sayangnya tak seindah di sini.

Foto-foto di pantai belakang resort bisa dilihat di Flickr saya

Jadi kalau mau disimpulkan, saya sebenarnya tidak leyeh-leyeh dan makan melulu di liburan ini. Snorkling hanya absen ketika bendera hitam berkibar. Zumba, dan jogging setiap hari. Massage 3 kali dalam 2 minggu adalah lebih dari cukup bila dibanding dengan aktifitas massage saya yang hanya sebulan sekali di Kerpen. Lalu main air atau main di Spielplatz bersama Flipper. Cukup hectic kan? Belum lagi bingung memilih dessert yang enak-enak dan nonton pertunjukan di panggung yang berganti-ganti setiap malam. Ah menyenangkan. Tapi tetap saja saya lebih senang berada di rumah kembali, back to routine dan merencanakan liburan-liburan selanjutnya 🙂

Ya itulah aktifitas liburan kami di resort. Untuk kegiatan di luar resort, selain snorkling tour,  kami sempat mengunjungi sebuah kota tua dan sebuah kota modern yang akan saya tulis di postingan selanjutnya.

IMG_5378IMG_5379IMG_5380