Masalah dengan Tetangga

 

Beberapa hari yang lalu kami mendapat surat dari penyewa flat kami yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah kami. Saya pikir ada apa ini kok pakai acara surat-suratan? Jangan-jangan dia mau pindah rumah? Tapi karena nama yang tertera di amplop adalah nama suami, saya tidak bisa membukanya begitu saja. Karena penasaran, saya menelpon suami, mengabarkan bahwa ada surat dari si Lars. Suami juga bertanya-tanya karena biasanya bila ada apa-apa, Lars langsung datang ke tempat kami atau menelpon dan suamipun meminta saya membuka surat Lars sekaligus mengurusinya karena dia sedang sibuk di kantor.

Setelah saya buka suratnya, benar saja dia mau keluar dari flat kami. Isi suratnya pendek, sesuai hukum di Jerman, dia mengabarkan 3 bulan sebelum tanggal yang diinginkan untuk keluar dari flat secara tertulis. Di surat itu dia juga meminta kami untuk menelponnya karena saat itu dia sedang berada di luar kota untuk beberapa hari sehingga tidak bisa mampir. Sayapun menelpon Lars dan diapun curhat, tidak betah tinggal di flat kami karena tetangga sebelah yang selalu reseh. Oh well, si tetangga itu.

Ya, saya kenal tetangga itu karena dulu waktu saya baru pindah ke Jerman, saya sempat tinggal di flat yang kami sewakan itu bersama suami. Tetangga sebelah adalah sepasang suami istri berusia sekitar 70 tahun yang entah karena kurang kerjaan atau memang care, hobby mereka berdua adalah mengurusi orang lain misalnya dia selalu mengamati apakah si A atau si B, C, D membuang sampah sesuai kategorinya. Kalau salah, bukannya menegur yang bersangkutan duluan namun langsung lapor ke Ordnungsamt (departemen yang mengurus soal kedisiplinan warga). 

Urusan sampah di Jerman memang tidak asal buang saja. Jenis sampah dikategorikan dalam 4 jenis: sampah plastik (tong sampah kuning), kertas (tong sampah biru), kompos (tong sampah coklat), sampah sisa dapur (tong sampah hitam). Barang elektronik rusak atau bahkan batere yang sudah mati tidak termasuk dalam 4 kategori ini. Nah si tetangga ini rajin banget mengamati, misalnya si A sedang membuang sampah ke tong berwarna biru… Setelah si A pergi, tetangga nyamperin tong sampah itu, mengecek beneran kertaskah yang dibuang? Ada plastiknya nggak? Duh. Belum lagi ngurusi mobil orang yang parkir di jalanan umum.

Lalu pernah juga dia ngamuk karena keset di depan pintu flat kami letaknya miring. Kata dia itu bisa membuat dia terpeleset dan jatuh lalu mati. Pintu flat kami memang berdekatan namun tidak jejer nemplek sampai membuat keset miringpun akan mempengaruhi kehidupan seseorang. Mereka juga hampir setiap hari mengetuk pintu kami krn terganggu dengan bau masakan yang saya bikin. Padahal waktu itu saya tidak pernah masak yang aneh-aneh seperti goreng terasi atau ikan asin krn belum tahu di mana belinya. Pokoknya setiap hari ada saja protes dari mereka yang membuat kami jengkel dan sering ribut dengan mereka. Namun suatu hari saya punya ide bagus untuk mengakhiri segala perseteruan antar tetangga. Saya membuat martabak telur dan memberi beberapa potong kepada mereka. Tadaaa! Tiba-tiba mereka menjadi baik hati. Mereka jadi sering menyapa (sebelumya kalau kita berpapasan, mereka selalu mencureng), sering ngobrol bahkan sering memberi coklat. Ah damainya dunia. Si ibu malah sempat nangis waktu kami pindah rumah. 

Hebat kan pengaruh kebaikan kita? Saya sendiri tidak mengira bahwa hanya dengan beberapa buah martabak, sikap mereka berdua bisa berubah total. Saya pikir intinya bukan pada rasa dari martabak saya yang memang enak (eh beneran lho 😀 ) namun perhatian yang kami berikan kepada mereka. Mereka kesepian, anak satu-satunya tinggal jauh di luar kota.

Setelah kami pindah, flat kami sewakan ke seorang ibu janda yang sudah manula juga. Ibu ini sempat tinggal 6 tahun di flat kami tanpa keluhan. Mungkin karena usianya sama dengan si tetangga jadi mereka bisa berteman. Si ibu, sayangnya harus pindah, diboyong anaknya karena si ibu sering sakit-sakitan sehingga tahun lalu masuklah si Lars ini. Lars berusia 29 tahun, single, ganteng, sukses di bidang karir dan kalau menilik penampilannya bisa saya asumsikan bahwa gaya hidupnya tidak seanteng ibu yg menyewa rumah kami sebelumnya. Paling tidak dia pasti suka nyetel musik atau nonton TV sampai malam atau menyanyi di kamar mandi. Hal-hal normal yang kami juga lakukan dulu, yang membuat tetangga selalu merasa terganggu. Mungkin si Lars bahkan sering mendapat kunjungan teman atau pacar yang membuat tetangga semakin merasa hidupnya terusik. Lalu apa iya saya harus mengusulkan ke Lars supaya berempati atau mengirim makanan ke si tetangga itu?

Tidaklah. Lars sudah memutuskan untuk keluar dan itu hak dia, kami harus menghormatinya. Kami akan  mencari penyewa yang baru dan semoga penyewa berikutnya bisa tahan banting dengan si tetangga karena kami tidak mungkin juga menegur si tetangga; hey be nice to our tenant! 😀 Idealnya memang yang usianya sepantaran supaya mereka sehati untuk  tidak saling menganggu.

Selama tinggal di Jerman hampir 8 tahun, kami sudah 4 kali pindah rumah dan baru sekali itu menemui tetangga yang aneh. Bagaimana dengan kalian? Ada nggak pengalaman menarik dengan tetangga?
 

Advertisements

18 thoughts on “Masalah dengan Tetangga

  1. kalo di Italy tetangga sebelah apartemen malah gak akrab, jarang ketemu juga, kadang ketemu cuman pas lagi nungguin lift mau turun/naik, ngobrol paling basa-basi nanyain kabar, hehe
    duh tetangga Lars beneran kepo ya, masa sampah udah dibuang masih aja di buka lagi lalu di cek isinya, kakek neneknya beneran kurang kerjaan nih,hehe

    Like

    1. Sama aja dengan si sini, hanya hallo how are you. Tapi di flat tempat tinggal kami yg kedua lebih akrab krn kalau summer penghuninya suka bikin acara bersama. Iyah ini kakek nenek kebetulan jendela rumahnya ngadep pojokan tempat sampahnya komplek jadi mungkin mereka tiap hari ngupi-ngupi duduk di depan jendela mengamati semua tetangga yang buang sampah 😅

      Like

  2. hahaha beth, kalau aku disini malah dianggap ngeselin kali ya ama tetangga kiri kanan.
    kiri kanan soalnya cuman dua ini yang ngontrak rumah. kalau depan rumah semua rumah sendiri, jadi kenal baik semua.
    yg sekarang ini tetangga sebelah kanan udah gak pernah negor lagi, karena gue kasih warning masalah sampah, kamu bayangin deh, sampah di sini kan nyampur dan cuman dibungkus ama tas kresek dr supermarket. gak ada yang modal beli plastik sampah khusus (kecuali gue dong beth hahaha).
    nah saat mereka masih baru tinggal, sampahnya tuh cuman ditaruh di atas bak didepan rumah, dan posisinya kan deket ama bak sampah gw, pastilah diobrak abrik ama tikus, tiap pagi gue harus beresin sampah mereka yg morat marit jatoh ke depan rumah gw dong. dan sempat gw kasih saran, kalau lebih baik digantung aja di pohon biar tikus gak bisa obrakabrik (bak sampah mrk gak bs dipakai soale isinya penuh puing bangunan) lalu esoknya udah ikutin. nah besoknya ditaroh lagi ke atas bak sampah hahaha. rese ngga? dan yang morat marit itu isinya apa coba, segala diapers ama pembalut wanita, asu ngga? dan gw jg terpaksa bersihkan. gw gak yakin kalau mereka mau bersihkan jg.
    ya sudah, gw kasih warning besar pakai karton. bunyinya kira2 ya tolong buang sampah yang rapih.

    besoknya udah gak pernah nyapa loh 😀

    Like

    1. Ih nggilani kalau kayak gitu mas. Kalau ada kejadian kayak gitu di sini pasti yang ribut ya semua tetangga, nggak hanya si kakek nenek. Emangnya pengangkutan sampah berapa kali seminggu mas? Bukan tukang sampah itu yang beresin? Jadi ingat sampah di depan rumah Jogja juga sering diobrak-abrik tikus trus warga inisiatif beli tong sampah yang ada tutupnya. Trus abis dikasih warning mereka jadi rapi nggak buangnya?

      Like

      1. ya tukang sampah juga mana mau kali ya beresin diapers bececeran gitu, kalau gw kan karena terpaksa, pengangkutan sampah 1minggu 2x.
        gw bungkus ulang dengan rapih malahan.
        abis dikasih warning ya terus gak pernah asal naroh di atas bak doang. selalu disangkutin di batang pohon dpn rumah mrk.
        harusnya emang harus modal dikit ya, tong sampah ukuran sedang kan paling 250rb dan bisa dipakai bertahun-tahun, asal dirawat dengan baik jangan sampai karatan.

        Like

      2. Rapopolah digantung, meskipun agak mengganggu pemandangan tapi kan nggak nggilani berceceran gitu. Eh yang di Jogja tongnya dari plastik mas, mayan gede jadi gak karatan.

        Like

  3. adaaaaa hahaha dan baru aja kelar 😀

    tapi sejatinya kalo langsung lapor ke Ordnungsamt, gimana itu beth ? kena denda atau peringatan atau ?? *malah nanya*

    Like

    1. Haha pengalaman apa Mel? Cerita dong! Ordnungsamt pernah datang bbrp kali cuman ngecek sampahnya, nggak sampai memanggil yang punya sampah karena pelanggaran kecil sekali. Kan kadang orang nggak telaten juga memilah bungkus rokok atau coklat antara kertasnya, plastik dan folienya… Tapi akhirnya OA nggak pernah datang lagi, udah males kali yang lapor itu-itu doang orangnya dan kasusnya nggak seberapa 😄 Polisi juga bbrp kali dia panggil dan udah nggak mau datang lagi makanya dia jadi ribut sendiri warning sana-sini 😄

      Liked by 1 person

      1. eh bukannya manggil polisi berarti bayar ya? aku masih rada siwer nih urusan manggi, polisi, pemadam dan ambulan, lalu siapa yang akan bayar >_<

        urusane duit makk, langsong tongpes rek 😦

        Like

      2. Enggak mak. Atau mungkin iya untuk kasus tertentu tapi kami beberapa kali manggil polisi karena Spielplatz samping rumah suka dipake ngumpul anak2 remaja sampe pagi sambil mabuk, nggak pernah bayar polisi. Polisi datang beneran bahkan sampe kejar-kejaran dg remaja2 itu karena ternyata mereka consum drugs juga.

        Liked by 1 person

  4. Beth.. Aku speechless.. Jadi si kakek nenek itu ngorek2 sampah? Iseng banget 😅

    Alhamdulillah tetanggaku baik semua, kami malah khawatir tangisan si bayi mengganggu tapi sampai sekarang belum ada teguran.

    Ada cerita temenku yg tetangga bawahnya kakek nenek. Kerjaannya kalau kami sedang ada acara di rumahnya, si kakek pasti ngeliatin dari jendela ketika kami keluar dari Wohnung ampunn deh

    Like

    1. Mungkin kakek nenek tetangga temenmu itu aslinya pengen diundang juga Mia 😄 Iya tetanggaku itu begitu. Aku dulu juga ga bisa nyanyi di kamar mandi kl selalu ditegur, katanya berisik. Padahal aku di kamar mandi paling 5 mins dan suaraku bagus lho… *halah 😄

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s