Memilih untuk berpikir positif


Akhir-akhir ini entah kenapa saya banyak membaca postingan negatif tentang dunia sosmed yang ironisnya postingan itu juga dimuat di sosmed. Ada yang mengeluh karena si A selalu posting di FB tentang suksesnya karir dia dan keluarganya yang bahagia. Atau si B yang postingannya sedih-sedih melulu seperti sedamg mencari perhatian dunia. Atau si C yang sukanya cerita gossip melulu…Pokoknya  keluhan dan kesebalan dengan postingan teman-teman yang tidak sesuai dengan ‘selera’ dan bukan hanya FB, namun juga di sosmed lainnya seperti Instagram, blog atau bahkan chat grup.

Saya dulu pernah juga dong sebal dengan postingan teman yang baru saja menjadi ibu dan posting foto babynya terus menerus. Saya sih bukan child hater tapi bosan saja melihat foto anak yang biasa-biasa saja kok dipostingnya berkali-kali. Kalau foto atau ekspresinya pas keren sih saya tidak keberatan untuk mengapresiasi. Pokoknya waktu itu saya melihatnya hanya dari sudut estetika saja. Nah setelah mempunyai anak sendiri memang berbeda rasanya, pose bayi yang terlihat biasa-biasa saja untuk orang lain itu ternyata bisa sangat istimewa bagi sang ibu. Dan saya juga jadi senang posting foto-foto baby πŸ˜€

Sebal dengan orang-orang yang suka menulis ayat-ayat suci di sosmed juga pernah. Atau postingan orang yang baru saja putus cinta yang merasa dunianya hancur lebur dimakan buto ijo. Ada juga nih yang dulu suka pamer-pamer baju mahal, yang difoto bukan bajunya tapi tag harganya. Hihi lucu deh kalau ingat saya dulu sempat sewot πŸ˜€ Sewot tanda tak mampu lah hehe…

Saya juga pernah menulis status di FB tentang kesebalan saya tentang postingan-postingan tersebut (baca: ngomel) tapi tidak langsung sebut nama tentunya…intinya menyindirlah (beraninya hanya nyindir ih). Waktu itu antara tahun 2010- 2012 kalau tidak salah, pokoknya sebelum Flipper lahir, dan langsung mendapat komen bertubi-tubi  yang isinya 100% setuju dengan apa yang saya tulis. Dan karena kebanyakan komen itu, masalahnya jadi melebar kemana-mana. Memang sih, di FB itu kalau ada postingan yang berbau rumpi-rumpi begitu pasti langsung laku keras. Dan saya tak sendirian, banyak juga yang mengeluhkan soal serupa dalam status-status mereka dan saya kadang-kadang ikut urun komen juga.

Sekarang sih saya  insyaallah sudah get over dengan status-status demikian. Bukan hanya status rumpinya ya namun juga semakin bisa berdamai dengan postingan teman-teman yang tidak sesuai dengan ‘selera’ tadi. I mean, come on…it’s a big big (social media) world, di mana banyak orang dengan beraneka ragam karakter, sifat dan kegemaran. Memangnya saya ini siapa kok berharap orang lain mau menuruti preference saya? Buat saya sih mending  mencoba melihatnya dengan cara positif atau simply ignore saja dan tidak perlu dijadikan bahan gunjingan lagi.  Toh di FB ada aturan untuk menyembunyikan postingan yang tidak kita suka. Saya sendiri bukan orang yang paling bener di sosmed (dan di real life juga pastinya). Saya orangnya biasa-biasa saja dan pasti adalah orang yang tak suka dengan saya dengan alasan-alasan mereka sendiri. Lalu saya harus bagaimana? Nothing. It’s their problem, not mine. Saya sih tetap baik saja dengan mereka dan juga sadar bahwa saya tidak bisa menyenangkan hati semua orang, jadi saya juga tak boleh berharap bahwa semua orang akan berusaha menyenangkan hati saya.

Pokoknya sekarang saya asyik-asyik aja deh dengan segala dilema di sosmed. Kalau ada yang pamer baju mahal mikirnya gini aja: bajunya bagus, tapi kalau saya yang pakai pasti terlihat gendut πŸ˜€ Kalau ada yang pamer tas mahal, yasud ntar saya beli yang KW 15 -nya. Kalau ada yang nulis betapa hebatnya anaknya sudah bisa baca tulis, it’s okay lah…anak saya belum bisa baca tulis tapi jago main puzzle. Pokoknya dibawa santai sajalah, hindari pikiran-pikiran yang negatif. Kalau mikirnya negatif terus, postingan sebagus apapun tidak akan tampak benar di mata. Bahkan sekedar postingan foto bungapun akan dicela.

Tulisan yang sumbernya dari blog Brooke Romney ini bisa membantu kita untuk selalu think positive. Coba baca deh, membuat hati legowo dan tersenyum πŸ™‚

β€œTo the pregnant women on social media, posting constant updates and belly pictures – I love seeing how excited you are to become a mommy.

To the women posting β€œselfies” β€“ thank you for letting young girls know that it’s okay to love yourself and to feel beautiful!

To the mom posting a million pictures of her kids (2 or 4 legged) – it makes my heart so happy to see parents so proud of, and loving their babies!

To the married couple constantly posting β€œsappy love posts” – thank you for being a reminder to the next generation that all hope isn’t lost and happy marriages most definitely DO exist.

To the business owners who constantly post about their businesses – keep going! Your strong will and passion for what you do is astounding. Even in the midst of all the negative remarks, you keep on going for yourself and family!

To the person who is constantly struggling – I am sorry. I hope you find the support you need in your online community. I should be better about offering it myself.

To the fitness fanatic posting befores and afters – you have completely transformed your life and found health, what an incredible feat! Your enthusiasm for positive change is admirable.

To the re-poster and tagger – because of you, I have read things that have changed my perspective and broadened my understanding. I appreciate you.

To the constant traveler posting exotic pictures of far off lands – I may be stuck at home behind a computer screen, but you are showing me the world and giving me places to add to my bucket list.

To the foodie who seems to eat out for every meal – your photos of gorgeous food make me want to step up my cereal game, or at least try a new restaurant once in awhile.

To the political enthusiast – thank you for caring enough about our country to research candidates and issues and being brave enough to use your first amendment right to speak.

To the religion lover – our beliefs my be different, but your faith inspires me to find my own, especially on dark days.”

We can choose to be annoyed by each and every post, or we can choose to lift and support those we claim to be our friends. Try viewing updates through loving, forgiving and open eyes, looking for best intentions and unwritten needs.

Changing the way you look at social media can literally change the way you see the world.

Oh yes, saya sangat setuju dan semoga kamu juga ❀

 

Advertisements

17 thoughts on “Memilih untuk berpikir positif

  1. iya aku juga sudah agak berdamai ama gituan. tapi yang masih sering lewat tuh postingan tentang politik, neg banget kalau yg itu.. udah unsubscribe, tapi postingan dr orang lainnya muncul lagi hahaha. lalu postingan tentang tips2 segala hal aduuuuh mending dibookmark sendiri deh. atau klik save di fb, wong ya nggak langsung dipraktekin itu lho hahaha, tapi ya udah get over it juga ama yg spt itu.
    terakhir beberapa bulan lalu ngomentarin postingan temen, eh dia langsung unfriend. jadi sadar nek aku ternyata bikin kesel orang lain. tapi kok mereka nggak sadar kalau bikin kesel orang lain yak? eh kok protes malahan hahahaa.
    wis wis postinganku juga jangan2 ada yg nggak kamu suka jg kan πŸ˜€ hahaha
    I try my best lah. ojo nganti marai wong sengit

    Liked by 1 person

    1. Maaas, dirimu mah kalau di aku kelihatannya hanya postingan yang lucu-lucu πŸ˜„ Iya, ada orang yang seneng banget posting resep masakan atau tips bertubi-tubi. Sepertinya fitur ‘save’ itu belum terlalu dikenal deh fungsinya oleh beberapa orang. Ada juga yang sedikit-sedikit sharing news dari media mana saja tanpa filter. Ho oh, kita try our best aja supaya tidak berbentrokan dengan yang lain. Sama ajalah pokoknya konsepnya dengan pergaulan di real life 😎

      Like

  2. Ketika memutuskan diri untuk terjun dalam perkancahan sosial media, dititik itulah sebenarnya kita harus memulainya dengan membuka diri untuk segala hal. Membuka pikiran bahwa tidak semua hal harus sesuai standar kita, jadi di sosial media itu tidak ada hal benar atau salah, mungkin hanya tidak tepat. Melapangkan hati ketika menerima kenyataan digosipkan dibelakang saat posting sesuatu, membuka hati menerima segala kritik sama halnya ketika menerima segala macam pujian. Pun ketika sudah lelah bersosial media dan memutuskan untuk rehat dan menutup diri dari segala hingar bingarnya tetapi masih diikuti prasangka negatif dari “sistem” diluar sana, jurus terakhir adalah : aku ra peduli haha (curcol menjadi korban prasangka negatif). Semuanya bermula dan berakhir pada kita sendiri. Mau membuat hidup bahagia atau sengsara dengan sosial media ini. Filternya kembali lagi, adalah diri sendiri. Kita tidak bisa mengontrol yang diluar sana, tetapi kita bisa mengontrol hati dan pikiran untuk tetap bersih, apalagi mengontrol perut dari segala makanan enak *sing terakhir ga nyambung πŸ˜†πŸ˜†

    Liked by 2 people

    1. So wise πŸ‘πŸΌ Sayangnya tidak semua orang sesiap itu ketika terjun ke sosmed. Yang dadanya tidak selapang lapangan bola juga banyak, which is all ok buat saya. Nobody’s perfect. Serba salah ya Den, banyak posting dianggap suka pamer. Jarang posting dianggap stalking doang, nggak pernah posting dianggap sedang stress di rumah πŸ˜…Trus kita gimana? Ya seperti katamu, menjaga pikiran tetap bersih sambil nyolek mendol ke sambel pecel aja πŸ˜‚

      Like

    1. Kayaknya kita semua pasti pernah deh ya sebel-sebel nggak jelas di dunia sosmed hehe…Tp alhamdulillah deh kita udah punya mantra ok ya Gi 😘😘

      Like

  3. Hi Beth, love this postπŸ‘ŒπŸ»

    Iya betul sekali dengan apa yg kamu tulis ini. Sosmed itu kadang bikin kita jadi ribet sendiri ya kalo tetlalu dipikirin apa yang orang2 tulis di media mereka. Duluuu aku juga suka gitu, suka ga tahan dengan tulisan2 yg menurut aku nih cuma pamer aza isinya, dan jadi sebel sendiri buntutnya, gila aza kan. Padahal hidup uda lumayan ribet dengan segala urusan ini itu ya, ngapain juga nambah ribet dan bt sendiri dengan membaca postingan yg ga ‘sreg’ di hati dan pikiran sendiri. Jadiii…saya hanya follow orang2 yg tulisannya less conflict or kalo pun ga setuju ga komen or ga baca lanjutannya. Hidup jadi lebih tenang ga misuh2 sendiriπŸ˜œπŸ˜œπŸ‘ŒπŸ»

    Liked by 1 person

    1. Thanks Ria! Iya, semuanya berbalik pada diri sendiri ya… Mau setia melihat/ membaca apa yang tidak suka lalu misuh-misuh sendiri atau cari alternatif lain ynag bisa membuat hati lebih tentram 😍

      Liked by 1 person

  4. Aku kadang masih sebel sama postingan politik dan foto2 yg berdarah-darah. Jaman kampanye dulu itu loh duh ampun sampe males buka fb 😦 dan aku suka berpikir negatif bahwa orang yg posting ini asal ngepost aja kali ya ga pake baca2 dulu trus bete sendiri sighh.. Kalo sekarang lebih santai skip aja bacanya. Aku termasuk yg suka posting foto anak hihihi

    Liked by 2 people

    1. Iyaa… Jaman kampanya dulu banyak postingannya yang aku hide. Temenku ada yg sampe berantem krn jagoan presidennya beda, eh ya ampun πŸ™ˆ Sama Mia aku juga suka posting anak, asal pinter2 ngatur privacy settingnya sih nggak papa menurutku πŸ˜‰

      Like

  5. Kadang ngak semudah untuk berpikir positif namun saat kita tidak sengaja bertemu dengan yang ajaib gini ya sudah dibaca aja dan kata syahrini hempaskan saya hahhahaha

    Belajar berfikir positif agar hidup kita ngak rumit…

    Liked by 1 person

    1. Bener Ria, bentrokan selalu ada dan nggak selalu gampang memang untuk berpikir positif atau ignore. Tapi belajar sedikit-sedikit pasti bisa kok hempaskan saja hihi…πŸ˜„

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s