Sehari di Den Haag (The Hague)

Menyambung postingan saya sebelumnya, setelah mampir beberapa jam di Gouda, kamipun tiba di Den Haag sekitar jam 9 malam. Untungnya dalam perjalanan ke Belanda Flipper sempat tidur di mobil selama 1,5 jam sehingga dia tidak rewel karena biasanya dia tidur antara jam 7-8 malam. Sempat bermasalah dengan parkiran di basement NH Hotel Den Haag karena mereka sedang mengadakan renovasi sehingga lokasi parkirpun agak ruwet dan lift tidak berfungsi.Setelah angkut-angkut koper ke lobby, saya agak kecewa dengan penampilan lobby hotel yang cenderung apa adanya, membuat saya wondering bagaimana nanti keadaan kamar hotel. Tapi ternyata kekuatiran saya tidak terbukti, kamar superior yang kami booking tidak mengecewakan, bahkan letak kamar yang berada di lantai 16 dan jendela kaca yang super lebar menjadi highlight tersendiri untuk si Flipper yang tidak terbiasa melihat gedung-gedung dan kelap-kelip kota dari atas. Maklum anak desa 😀

IMG_7016e
Flipper menikmati pemandangan kota yang sepi dari atas.

Keesokan harinya, setelah sarapan kamipun naik tram dari halte Beatrixkwartier yang berada di sebelah hotel menuju stasiun pusat Den Haag yang hanya berjarak 3 menit. Arsitektur di halte Beatrixkwartier yang berupa jaring-jaring ini lumayan menarik perhatian saya.  Zwarts & Jansma Architects merupakan desainer dibalik tubular spaceframe  viaduct sepanjang 400 meter yang keren ini. Karena hotel kami berada di komplek perkantoran, tak heran bila pada hari Sabtu jam 10.30 ini  hanya kami bertiga yang ada di halte bis ini. Di dalam tram pun tak banyak penumpang.

IMG_7140e
Saat menunggu tram di halte Beatrixwartier.

Tepat jam 11 kami tiba di stasiun pusat dan kembali bertemu dengan Rurie sekeluarga yang sangat berbaik hati mau meluangkan waktu mereka untuk menemani kami keliling Den Haag hari ini. Tidak ada agenda khusus tentang apa yang mau dikunjungi di kota ini, saya pokoknya manut Rurie saja, yang penting nanti ending-nya harus makan di resto Indonesia yang menunya sudah beberapa kali dipamerkan oleh Rurie ke saya.

2145s
Di stasiun kereta api Den Haag

Sebagai ibokota provinsi Zuid Holland, Kota Den Haag ternyata tidak seperti yang saya bayangkan sebelumnya. Saya pikir kotanya seperti Frankfurt, kota besar yang hiruk pikuk dengan gedung-gedung yang tinggi menjulang dan lalu lintas yang padat merayap seperti di Cologne. Den Haag, meskipun memiliki gedung-gedung tinggi, jauh lebih tenang dan sepi. Mungkin saja karena saya berada di sana di saat hari Sabtu. Namun bila dibandingkan dengan hari Sabtu di pusat kota Cologne yang hectic, jauh bedanya. jalan-jalan di Cologne pada hari Sabtu justru kalau bisa saya hindari karena terlalu crowded sampai senggol-senggolan dan banyak kemungkinan adanya copet yang beraksi.

2152s
#lookup in Den Haag

Rurie mengajak kami ke Binnenhof, sebuah komplek bangunan tua di tepi danau Hofvijver yang saat ini menjadi perkantoran di mana perdana menteri Belanda berkantor di sini. Kata Rurie, kalau kami beruntung, kami bisa melihat si bapak menteri datang atau pergi dari kantornya naik sepeda. Asyik banget ya, menteripun bersepeda di sini. Sayangnya hari itu Sabtu, si bapak pasti tidak ngantor.Komplek bangunan bergaya gothic yang dibangun pada abad ke-13 ini memang cantik. Selain berfungsi sebagai perkantoran dan juga tourist destination, tak jarang tempat ini juga menjadi lokasi foto wedding, demikian kata Rurie yang selain memiliki bisnis catering juga memiliki bisnis fotografi.

2150s
Binnenhof.
2148s
Binnenhof.
IMG_1983-1eS
Kana dan Flipper ngemil bersama di Binnenhof.

Setelah puas mengelilingi komplek Binnenhof, kami beristirahat sebentar untuk makan siang sederhana di pinggir jalan dengan menu the famous Frit, Dutsch French fries. Di Belanda rupanya tak berbeda jauh dengan di Jerman, kebanyakan makan French fries-nya pakai mayonaise (meskipun ada beberapa pilihan saus yang lain). Niatnya makan sedikit saja supaya nanti pas makan malam di resto Indonesia bisa lahap tapi eh ternyata kentang goreng ini enak juga, jatah Milapun banyak yang mendarat di perut mamanya.

Puas dengan kentang goreng, kamipun melanjutkan berkeliling pusat kota Den Haag, kali ini sambil mampir-mampir masuk ke beberapa pertokoan (baca: shopping). Kami mampir ke Asian shop langganan teman-teman Indonesia yang tinggal di Den Haag. Di toko ini  barang-barangnya memang lengkap, tak jauh berbeda dengan Asian shop tempat saya biasa belanja di Cologne. Hanya saja suasana tokonya lebih modern dan rapi. Selain itu, di sini juga ada daun dan biji melinjo! OMG, entah sudah berapa tahun saya tidak makan daun melinjo. Kalau tak salah terakhir makan adalah tahun 2011 ketika saya diundang makan oleh teman lama ketika mengunjungi kota Pacitan. Lodeh melinjo dan sayur asem pun langsung terbayang di pelupuk mata. Untung masih ingat resiko kolesterol, sehingga sayapun hanya mengambil sedikit daun melinjo dan bijinya – untuk tombo kangen (tapi belakangan menyesal juga 😀 ). Sementara saya sibuk beredar mencari makanan di toko ini, juragan Kios Kana sibuk mencari property untuk orderan catering-nya yang akan datang. Kami keluar dari toko sama-sama dengan kresek penuh belanjaan. Saya sendiri tidak berani belanja terlalu banyak karena sempat kepikiran freezer yang sudah penuh di rumah.

Selanjutnya kami mampir ke Chinese bakery dan saya ngiler berat melihat kue dan roti-roti yang dijual di sana karena macamnya seperti kue-kue di bakery Indonesia-dan bukan bakery Jerman. Meskipun punya banyak keinginan untuk beli ini itu, saya memilih membeli   12 buah onde-onde raksasa. Lagi-lagi saya ingat freezer saya. Ah mbuhlah.

Saya juga belanja sedikit di Marks and Spencer Food. Kalau yang ini memang masuk agenda dalam berkunjung ke Den Haag secara di Jerman tidak ada M&S dan selama ini bisanya hanya online shopping. Di sini saya membeli beberapa biskuit dan serabi jadi-jadian.

serabi.jpg
Penampilan serabi jadi-jadian alias crumpets dari M&S dengan saus gula merah buatan sendiri.

Setelah muter dan belanja di sana-sini, tibalah saat yang dinanti-nantikan, makan di restoran Indonesia Si Des. Sebelumnya saya sudah check website mereka dan sudah galau duluan mana yang akan dipesan. Begitu sampai di sana tetap saja galau dan ahirnya malah pesan ayam goreng kremes. Menu ayam kremes adalah menu yang tak terlalu istimewa sebenarnya karena saya pasti bisa juga membuatnya di rumah namun dengan pertimbangan supaya si Flipper bisa ikutan makan, ya pesan itu saja dan alhamdulillah rasanya enak gila! Sambalnyapun mantap. Aduh sambil nulis ini saya jadi kepingin lagi lho… Rurie memesan rujak cingur dan saya sempat mencicipi sesendok. Enak super gila! Entah kenapa saya waktu itu tidak kepikiran untuk pesan rujak cingur bungkus, mungkin karena perut sudah kenyang juga kemasukan ayam goreng kremes dan es teler durian yang juga enak gila. Pokoknya enaknya gila semua kecuali rendang pesanan suami yang rasanya kurang mantap. Kata dia sih masih enakan juga rendang buatan saya. Aih. Oh ya, saya tidak sempat foto-foto makanan karena begitu makanan tersaji, saya langsung kalap makannya 😀

Setelah makan malam usai, kamipun berpisah untuk hari ini. Besok kami janjian lagi untuk mengunjungi taman bunga sebelum kami cabut balik ke Jerman. Saya sendiri malamnya sudah punya janjian berikutnya, yaitu kunjungan Deny dan suaminya. Karena Deny tidak sempat ikut jalan-jalan di kota hari ini maka dia menyempatkan untuk main ke hotel. Sebenarnya Deny mengundang kami untuk makan malan di rumahnya, namun mengingat waktu yang terbatas dan sudah bisa dipastikan si Flipper akan kecapekan sesudah jalan-jalan, undangan itu terpaksa kami tolak. Selain membawa angklung untuk Flipper,  Deny juga membungkuskan  makanan juga untuk mamanya Flipper. Ada gudeg, sambel pecel dan mendol andalannya si Deny. Waaah…suwun banget Deny, masakanmu, seperti halnya sambelmu yang dulu itu, enak sekali! Dan yang pasti makasih sekali sudah menyempatkan main ke hotel, senang banget bisa bertemu Deny dan om Ewald lagi meskipun hanya sak nyuk! Semoga lain waktu bisa saling silahturahmi lagi ❤

IMG_7014e
Deny, saya dan angklung pemberiannya. Yang dikasih angklung sudah rewel dan minta bobok duluan.

—-

Keesokan harinya, hari Minggu kami sudah harus balik ke Jerman lagi. Suami menyarankan supaya kami tidak terlalu siang berangkat dari Belanda karena saat itu adalah hari terakhir liburan Paskah di Jerman, ditakutkan kita akan terjebak di kemacetan arus balik. Sesudah rembukan dengan Rurie, dia tidak keberatan untuk ke taman bunga pagi-pagi. Setelah sarapan pagi kamipun check out dari hotel dan menuju meeting point di kota Lisse yang ditempuh sekitar 30 menit naik mobil untuk kemudian menjelajahi kebun-kebun bunga di berbagai tempat di kota itu

Sayangnya saat itu bunga tulipnya belum tumbuh sempurna dan cuaca mendung setelah malamnya sempat hujan namun asyik juga bisa turun dari mobil, menikmati indahnya kebun pribadi milik orang. Flipper pun langsung bahagia melihat yang becek-becek. Jadi ingat, dulu saya sempat foto gaya di kebun gandum milik orang di dekat rumah, eh ditegur dan diinterogasi macam-macam sama yang punya 😀 Di sini kami dan beberapa pengunjung lain bisa foto-fotoan tanpa teguran (dan kami juga tidak merusak bunganya lho).

IMG_7151e
Wefie bersama Rurie (kiri) dan Novi (kanan).

Setelah puas foto-fotoan di kebun bunga daffofil kuning, kamipun pamit untuk kembali ke Jerman. Rurie family dan Novi, teman baru yang saya temui hari itu, melanjutkan perjalanan menjelajahi perkebunan bunga yang lain.

Terima kasih yang tak terhingga dari kami sekeluarga  untuk Van Sark family yang menemani kami berhari-hari, di Gouda, Den Haag dan Lisse. Maafkan bila ada yang kurang-kurang dan jangan lupa kedatangan kalian selalu ditunggu di tempat kami ❤

IMG_1999-1efiltered
Rurie, Peter dan Kana Van Sark.
Advertisements

3 thoughts on “Sehari di Den Haag (The Hague)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s