Road Trip with Flipper – Venice

Dari Bled Slovenia, perjalanan kami berlanjut ke Italy. Meskipun tujuan pertama kali di Italy adalah berkunjung ke Venesia (Venezia, Venice, Venedig), namun kami menginap di luar kotanya yaitu di Cavallino-Treporti dengan pertimbangan  ongkos harian yang mahal hanya untuk parkir mobil di luar kota Venesia. Ya di Venesia kita tidak bisa membawa mobil karena tidak ada jalannya. D kali ini memilih sebuah camping village, CaBerton yang letaknya tidak jauh dari port penyeberangan ke Venesia. Selain itu Ca’Berton juga memiliki pantai dan children animation, pas banget untuk Flipper.

Cavallino map
Kota Cavallino-Treporti dengan outline merah.

 Di Ca’Berton Camping Village

Meskipun namanya camping, bukan berarti kami musti gelar tenda di sini. Ca’Berton Camping Village menyediakan beberapa bungalow dan caravan dengan berbagai ukuran yang sudah dilengkapi dengan kitchen set beserta perlengkapannya termasuk kulkas, tempat tidur bahkan AC dan heater. Kami hanya perlu membawa sprei dan handuk sendiri tapi bila lupa atau malas bisa juga menyewa di sana. Kami menginap di Ca’Berton selama tiga hari di sebuah maxi caravan, caravan terbesar yang ada di sana, yang bisa memuat 6 orang. Secara kita hanya 2 1/2 orang jadinya caravan yang yang sebenarnya segalanya serba terbatas ini jadi terasa lumayan lebar juga.

caravan
Little but comfy, our nest for 3 days in Ca’Berton Camping Village.
caravan2.jpg
Flipper mengajak bersepeda keliling kampung.

Secara belum high season, maka keadaan di Ca’Berton lumayan sepi. Di satu sisi hal ini menguntungkan kami, selain harga menginap yang 60% lebih murah, suasana di sana juga tidak terlalu ramai, di samping kanan kiri kami masih banyak caravan yang kosong. Tak bisa dibayangkan ramainya di saat summer karena letak caravan dan bungalow yang berdekatan satu sama lain. Namun tidak enaknya juga ada, children animation programs yang di Ca’Berton ternyata belum aktif di bulan Mei, jadi Flipper tidak bisa beraksi di mini disco tapi alhamdulillah fasilitas taman bermain indoor dan outdoor bisa dipakai kapan saja. Selain itu, restaurant dan toko-toko yang ada di sana belum buka semuanya, hanya satu resto, satu supermarket dan satu toko kelontong yang waktu itu sudah buka. Oh dan satu gelato (es krim) cafe juga sudah buka, itu yang penting 😀

Di Venesia

Pada hari kedua di Cavallino-Treporti, tepat pada hari ulang tahun D, setelah ritual ulang tahun, kami berkunjung ke Venesia. Perjalanan dari Ca’Berton ke port Punto Sabbioni bisa ditempuh kurang dari 10 menit dengan mobil. Kalau tidak ada mobil, halte bus menuju Punto Sabbiano berada tak jauh dari Ca’Berton. Saya tidak tahu berapa ongkos naik bis ke port, namun biaya parkir di port hanya €5 untuk 12 jam, sangat murah bila dibandingkan dengan parkir harian bila kita menginapnya  di Venesia dan parkirnya di luar Venesia yang berharga sekitar €40/ hari.

IMG_2628-2eS
Port Punto Sabbioni.

Harga tiket boat dari Punto Sabbioni ke Venesia adalah €7,50/ person dengan penyeberangan yang  memakan waktu 3o menit. Begitu kami mendarat di port Venesia, saya terkaget-kaget melihat banyaknya lautan manusia sejauh mata memandang. Saya pikir waktu itu, okelah ini pasti orang-orang yang baru saja turun dari boat dan langsung berpusat di lapangan utama yaitu St. Mark Square, di tempat lain pasti tidak sepadat ini keadaannya. Ternyata saya salah, hampir di semua sudut Venesia penuh manusia. Jalan ke sana kemari pasti saling bersenggolan dengan orang lain. Kios-kios kecil yang menjual souvenir juga banyak bertebar di setiap sudut kota. Banyaknya turis yang memenuhi segala penjuru Venesia membuat saya tidak bisa sepenuhnya menikmati kunjungan kami. Baru mendongak sebentar, ingin mengagumi arsitektur gothic-nya Venesia yang cantik eh kesenggol orang ke kanan kiri. Mau motretpun tidak tidak bisa leluasa mengambil sudut pengambilan.

Niat dari awal ingin masuk ke salah satu museum atau gereja, lupakan saja…di mana-mana antrinya sepanjang jalan kenangan. Selain too touristy, kesan kotor juga tak bisa dihindari dari Venesia. Ya, sayangnya Venesia tidak seromantis seperti yang saya lihat di foto-foto dan film. Saya merasa kasihan dengan penduduk lokal di sana, semoga sih mereka tidak merasa keberatan dengan launtan manusia yang menginjak bumi mereka di segala musim.  Mungkin mereka harus meniru Mallorca, Spanyol yang mulai menerapkan aturan macam-macam untuk mengurangi kedatangan turis ke pulau cantik mereka.

Namun, meskipun tidak sesuai harapan, Vanesia tetap memiliki inner beauty dan kami sudah berada di sana, maka kamipun harus menikmatinya dan mensyukurinya. Ngomel dan ngeluh tidak ada gunanya. Semangat! Yay! Flipper yang paling bahagia dalam kunjungan ini karena air ada di mana-mana, tapi papa dan mamanya harus terus pacu jantung deg-degan melihat anaknya selalu mendekati air, takut kecebur. Saking penasaranannya dengan cebur mencebur, ketika sudah berada di caravan lagi, saya sempatkan untuk browsing tentang kasus orang tenggelam di Venesia. Tidak banyak yang saya temukan kecuali beberapa berita yang menyebutkan bahwa pemerintah Italy menyimpan rapat kasus orang tenggelam di Venesia.

kolase 2s
Flipper langsung pecicilan begitu turun dari boat.

Saat Flipper sibuk melempat kerikil ke kanal-kanal dan papanya sibuk mengawasinya, sayapun sibuk jepret sana-sini. Kebanyakan foto saya adalah gaya #lookup karena menghindari wajah-wajah turis. Foto selfie di jembatan juga sebuah kewajiban ketika berada di Venesia maka selfie stick seharga €5,00 (aslinya €10,00) pun dibeli. Suami tidak bisa diharapkan untuk memotret, karena selain dia harus mengawasi Flipper, he’s not so keen doing #instahubby 😂 . Selain jalan-jalan mengitari kota, kami juga tak melewatkan kesempatan untuk naik water taxi, mengelilingi Venesia dari Grand Canal. Naik gondola tidak masuk ke budget kami karena harganya yang mahil, €80,00 di siang hari dan €100,00 di malam hari. Water taxi yang harganya hanya €7,00 ini adalah boat yang berhenti di tiap-tiap halte dan juga selalu penuh dengan turis dan penduduk lokal. Satu lagi yang membuat kami betah berlama-lama di Venesia adalah es krimnya yang enak. Kami beberapa kali mengadakan break untuk menikmati es krim. Btw hati-hati ya turis, di salah satu gelato parlor, meskipun sudah jelas-jelas kami menunjuk gambar es krim 1 scoop yg harganya €2,00 dan juga benar-benar dikasih es 1 scoop not less dan not more, tapi kami harus bayar €4,00/ scoop which was total €12 for 3 scoops. Why on earth? Mbaknya menjawab dengan bahasa Italy yang tidak kami mengerti. Entah apa gunanya gambar es dan harganya yang terpampang besar-besar di depan parlor-nya.

2212s
Water taxi di Grand Canal.

2219s

Setelah sekitar 6 jam berada di Venesia, kamipun kembali ke tempat camping kami di Ca’Berton yang nyaman dan selonjoran di pantai sambil menikmati es krim (lagi) dari gelato terdekat yang tak kalah enaknya dari es krim di Venesia. Dengan harga yang jauh lebih murah pula. Harga-harga di pertokoan di camping village ini memang termasuk normal, dari roti, makanan restoran hingga barang kelontong harganya tidak berbeda dengan harga supermarket di tempat umum.

Kegiatan kami lainnya selama di Cavallino adalah berkunjung ke kota sebelah, yaitu Lido Di Jeselo. Kota ini terkenal sebagai tujuan pariwisata pantai dengan hotel-hotel sepanjang pantai dan pusat perbelanjaan yang mengingatkan saya kepada Kuta Bali. Bedanya, di Lido Di Jesolo dan Italy pada umumnya, pada jam 12 siang sampai jam 3 sore (bahkan ada yang sampai jam 4), toko-toko banyak yang tutup. Restoranpun hanya sedikit yang buka pada siang hari. Saya baru tahu, ternyata di Italy pun ada siesta seperti di Spanyol.

2221s
Pusat kota Jeselo.
2224s
Pantai di Lido Di Jeselo.

Begitulah trip kami di Venesia dan sekitarnya. It was nice to visit Venice tapi sepertinya tidak perlu diulang. Seperti biasa, foto-foto Venesia ada di Flickr saya ya… dan trip selanjutnya masih di Italy juga tapi lokasi kali ini berbeda sekali dengan Venesia, much better! 💕

Advertisements

Road trip with Flipper – Bled, Slovenia

Seperti yang sudah direncanakan, pada tanggal 27 April kemarin kami memulai liburan kami melalui jalan darat ke Slovenia dan Italy. Ini bukan merupakan road trip kami yang pertama. Road trip terjauh kami sebelumnya adalah ke Prague. Eh kami pernah juga ding road trip di sepanjang Algarve, Portugal, not sure juga jauhan mana dengan Cologne-Prague. Road trip kami kali ini berbeda karena ada Flipper.

Jadi persiapan khusus kami untuk roda trip kali ini adalah begaimana caranya supaya Flipper bisa betah dalam perjalanan lama ini. Kami membawa organizer box dari merek Hauck yang isinya buku-buku, mainan, snack, alat gambar, dll. Selain itu ada meja portable yang memudahkan Flipper untuk menggambar dan CD sanggar cerita berisi cerita-cerita kesukaan dia. Semuanya berfungsi seperti yang kami harapkan. Selain itu carseat yang bisa di-set ke sleeping position dan sunscreens untuk jendela mobil juga bisa menambah kenyamanan si Flipper istirahat di dalam mobil. Istirahat minimal setiap 3 jam sekali juga wajib dilakukan. Bila cuacanya bagus, kami juga mengeluarkan sepeda mininya Flipper atau bola sepaknya untuk bermain-main di saat istirahat. Kalau cuacanya jelek ya cukup mainan indoor di restoran tempat istirahat.

img_7618
Flipper sibuk bermain dengan buku stickernya.

Karena liburan  kali ini juga dalam rangka merayakan ulang tahun D, suami saya, maka dia jugalah yang mengurus segala sesuatunya termasuk memilih kota persinggahan, apa saja yg mau dikunjungi di kota tersebut dan memilih penginapan yang biasanya menjadi tugas saya yang memang rada sensitive kalau soal urusan tempat menginap. Kali ini saya tinggal packing dan berangkat saja dan tidak boleh ngomel kalau tidak cocok dengan penginapannya. Baiklah.

3 kota tujuan utama kami adalah Bled di Slovenia serta Venice dan Arco di Italy, namun kami juga siap-siap bila harus ada penginapan tambahan ketika berangkat ke Bled yang berjarak 900km dari rumah dan juga penginapan ketika balik ke Jerman mengingat kami tidak tahu berapa lama Flipper bisa tahan duduk anteng di dalam mobil. Dan benar saja, rencana yang tadinya mau berangkat jam 3 dini hari dan langsung ke Bled tidak terlaksanakan. Suami tidak bisa bangun dini hari karena sebelumnya kerja lembur. Kami berangkat jam 6 pagi dan menginap di kota Aschau di perbatasan antara Jerman dan Austria pada pukul 5 sore.

Ketika kami istirahat di outlet city Metzingen (dekat Stuttgart), kami sempat googling sebentar mencari penginapan murmer di Aschau. Kalau dilihat di websitenya, losmennya terlihat biasa-biasa saja, cenderung jelek dan sama sekali bukan style saya tapi letaknya di bukit dan pemandangannya super asoy jadi kami memutuskan untuk menginap di situ, toh hanya satu malam saja. Karena di website itu tertera bahwa losmen tersebut merupakan oase ketenangan hati dan jiwa, sebelum kesana suami tilpun dulu menanyakan apakah it’s ok membawa balita menginap di situ, secara Flipper bukan tipe balita yang tenang (memangnya ada gitu balita yang tenang?) dan si pemilik losmen bilang it’s ok.

Begitu kami sampai di losmen tersebut, kami langsung terpukau dengan pemandangan di sekitar losmen yang berada di bukit itu. Apalagi saat itu salju baru saja turun menyisakan ketebalan sekitar 10 cm. Matahari yang bersinar cerah membuat pemandangannya dobel indah, ketambahan penampakan pegunungan Alpen, triple indah. Setelah checkin cepat-cepat, kamipun segera main di luar. Ini adalah salju pertama yang bisa dibuat mainan oleh Flipper. Sebelumnya dia sudah dua kali melihat hujan salju, namun saljunya langsung meresap ke tanah dan hilang.

Urlaub 019-4eS
Flipper dan papa bermain salju di depan penginapan di Aschau.

Keesokan harinya setelah sarapan kamipun melanjutkan perjalanan ke Bled, Slovenia. Waktu check out yang punya hotel ngomel, katanya Flipper rame. We told ya.

Menuju Bled, D memutuskan untuk melewati jalur di luar Autobahn, maksudnya sambil lihat-lihat pemandangan lokal dan supaya bisa berhenti-berhenti kalau ada kota atau pemandangan yang menarik. Pemandangan menarik banyak, sepanjang jalan malahan, namun kita tidak bisa begitu saja berhenti menikmati pemandangan karena salju turun deras dan suhu udara menukik turun ke minus 3. Celakanya jalur yang kita lewati ini ternyata jalur pegunungan yang sempit dan berliku-liku serta banyak tanjakan. D musti super hati-hati nyetir karena roda mobil kami sudah ganti dari roda untuk musim dingin ke roda musim panas. Ya salju di akhir bulan April memang tidak lazim dan meskipun kami sudah siap siaga dengan membawa pakaian empat musim untuk liburan ini, icy street dan live hujan salju sangatlah di luar perhitungan kami.

IMG_7531eS
Up close and personal with the Alps di sepanjang perjalanan menuju Bled.

Alhamdulillah setelah  4 jam perjalanan, begitu memasuki Bled, meskipun suhu masih rendah, sekitar 6 derajat celcius, cuaca mulai membaik. Kami tiba di farm house family hotel  Mulej Farm disambut oleh Damjana, pemilik hotel yang sedang meriang. Dia ngomel menyalahkan turunnya salju yang tidak normal. Suami Jamdana, Joze juga ikut mengeluh, curhat kalau dia baru saja merapikan ladang dan kebunnya, rutinitas di saat musim semi ketika tiba-tiba salju turun lagi. Saya juga mengeluh karena suhu yang dingin dan memutuskan untuk membeli sepatu boots plastik karena area farm house yang becek campur salju. D mengeluh karena kecapekan setelah nyetir yang menegangkan. Tapi Flipper? Kurasa dia satu-satunya yang justru excited dengan salju. Belum selesai kami mengangkuti barang dari mobil kamar, dia sudah merengek-rengek minta main salju.

Meskipun trip ini sebenarnya adalah trip dalam rangka ultah D, tapi pilihan akomodasi yang dipilih D semuanya berorientasi ke Flipper (kecuali hotel dadakan di Aschau). Tempat yang tak sekedar children friendly namun juga bisa memberi aktifitas untuk anak-anak. Mulej Farm yang dimiliki dan dikelola oleh keluarga Master Joze ini memiliki peternakan sapi, kuda dan lebah. Mereka juga memiliki dua traktor besar untuk mengelola pertanian namun sepertinya lokasi pertanian mereka berada di lokasi yang berbeda dengan lokasi di mana kami tinggal.

Joze beserta Damjana dan 3 anaknya yang berusia antara 13-20 tahun bahu membahu mengurus penginapan dan farm mereka. Tidak ada pegawai yang membantu mengurus penginapan atau pertanian, semua dikerjakan sendiri oleh mereka. Si sulung Jaka beserta ayahnya sejak subuh sudah sibuk dengan traktor dan hewan-hewannya. Kedua adiknya, manja dan Jani  juga ikut membantu di pertanian begitu mereka pulang dari sekolah. Manja kadang juga membantu ibunya mengurusi sarapan dan makan malam para tamu penginapana. Masakan Damjana super enak lho. Meskipun menu makan paginya tidak pernah berubah dan variasinya sedikit namun menu makan malamnya super enak dan porsinya selalu melimpah.

Apartment yang kami ambil letaknya berada di samping kandang sapi. yang kalau jendelanya terbuka, bau sapipun semerbak masuk ruangan. Tapi entah kenapa kami tidak terganggu dengan baunya. Selain hewan-hewan di peternakan, keluarga Joze juga memiliki anjing rotweiler ramah sebesar sapi yang bernama Donna. Flipper yang biasanya tidak suka anjing (bukan takut tapi tidak suka) mendadak jadi fans beratnya Donna. Setiap bangun tidur yang dicari Donna, padahal Donnanya tidur di mana saya juga tidak tahu 😀

Di penginapan ini Flipper puas jasmani dan  rohani. Maunya main di luar terus, saat makan pagi dia selalu tidak tenang karena maunya kejar-kejaran dengan Donna di kandang sapi atau main comberan dengan traktor mininya.

IMG_7580e
Flipper mau main basket bersama Donna.
IMG_7548eS
Suasana di Mulej Farm ketika kami baru datang.
IMG_7544eS
Pemandangan di Mulej Farm dari jendela apartment kami.
IMG_7603eS
Flipper joget sambil dilihatin sapi-sapi.
Urlaub 133-1eS
Petani cilik dengan traktor ciliknya.

Selain sibuk di peternakan, kami tentu saja juga jalan-jalan mengelilingi kota Bled. Kota Bled terkenal dengan danau Blednya. Danau ini terletak tidak jauh dari Mulej Farm, hanya sekitar 10 menit naik mobil. Letak danau Bled lumayan di tengah kota sehingga cari parkiran agak susah di sini. Eh cari parkiran secara keseluruhan memang susah di kota ini. Sepertinya hanya supermarket ynag menyediakan lahan khusus untuk parkiran, selebihnya ya sedikit cari-cari kesempatan dalam kesempitan.  Selama empat hari kami di Bled, saya juga belum pernah melihat adanya bis umum. Keretapun adanya hanya kereta khusus untuk turis yang mau mengelilingi danau Bled. Toko-toko yang ‘decent‘ juga tidak terlalu banyak di Bled, yang ada hanya supermarket dan toko-toko souvenir.

Selama di Bled, kami banyak menghabiskan waktu di farm dan di danau Bled, sekedar duduk-duduk menikmati suasana yang indah di danau Bled. Di tengah danau Bled terdapat pulau kecil, Bled island, dengan beberapa bangunan di atasnya, salah satunya  adalah gereja yang dibangun pada tahun 1470. Lalu berdiri dengan gagahnya, di atas tebing di samping danau Bled, adalah puri Bled. Sayangnya rencana kami untuk mengunjungi puri Bled di hari terakhir tidak terlaksana karena saat itu hujan deras dan Flipper tidak mau berhenti bermain hujan di farm. Yasud, sayang anak, emak dan bapaknya ikutan hujan-hujanan. Si Donna juga 😀

2178s
Danau Bled.
2156s
Puri Bled.

Tujuan lain yang bisa dikunjungi di kota Bled adalah Vintgar Gorge letaknya sekitar 8km dari pusat kota Bled. kami sempat dua kali mengunjungi gorge ini namun yang pertama kali ditolak masuk karena saat itu salju baru saja mencair dan membahayakan pejalan kaki. Petugasnya sempat bilang bahwa penutupan ini bisa berlangsung 2-3 hari. Kami kecewa dan pasrah tak bisa mengunjungi Vintgar gorge. Keesokan harinya, iseng-iseng kami ke sana lagi, eh ternyata sudah dibuka. Alhamdulillah.

Vintgar Gorge sepanjang 1,6 km ini dibuka untuk umum dengan membayar tiket seharga €4,00 (balita gratis). Para pengunjung bisa berjalan melalui jalan setapak dan jembatan di sana-sini menyusuri sungai Radovna dengan tebing-tebing setinggi antara 50 sampai 100 meter di kiri-kanannya. Jalan setapak ini berakhir di sebuah jembatan setinggi 13 meter di atas air terjun sungai Radovna. Saat itu cuaca memungkinkan kami untuk melihat pelangi di bawah jembatan dan bila mendongak ke atas, tampaklah pegunungan Alpen dengan gagahnya. Indah sekali. Flipper hampir tak mau diajak pergi dari gorge, secara di sana banyak air dan meskipun tidak bisa bermain air langsung di sungai namun dia bisa puas berjam-jam melempar kerikil ke sungai (oh ya, 1,6 km bersama Flipper itu bisa memakan waktu 2 jam saking seringnya berhenti minta lempar batu :D)

2174s
Vintgar Gorge.
2167s
Vintgar Gorge.

Demikianlah liburan 4 hari kita di Bled, Slovenia. We love it! Pada hari keempat, setelah sarapan kamipun pamit kepada keluarga Joze untuk melanjutkan perjalanan ke Italy, ke kota Cavallino di Metropolitan City of Venice. Kami disangoni sebotol madu murni oleh mereka. Alhamdulillah.

Nantikan cerita saya berikutnya tentang Venice dan Arco di tulisan selanjutnya  ya…<3

Foto-foto yang lain tentang danau Bled dan Vintgar Gorge bisa dilihat di Flickr saya ❤