Si Flipper masuk TK

Sebelum melanjutkan cerita tentang road trip kami kemarin, saya mau kasih selingan sedikit tentang si Flipper dulu ya, karena dia barusan masuk TK. Oh iya untuk yang belum tahu, Flipper hanya cyber name, ini bukan nama sebenarnya 😉


Penjelasan singkat tentang istilah-istilah TK  di Jerman

Di Jerman ada istilah Kindertagesstätte atau disingkat KiTa yang terdiri dari 3 bagian, yaitu:

  1. Kinderkrippe (biasa disebut Krippe saja): untuk anak-anak berusia di bawah 3 tahun.
  2. Kindergarten (biasa disebut KiGa): untuk anak-anakberusia 3 sampai 6 tahun.
  3. Hort: untuk anak-anak sekolah dasar, dari kelas 1 sampai kelas 4. Anak-anak ini tetap berada di sekolah meskipun jam sekolah sudah usai. Di sini mereka melakukan kegiatan bersama seperti makan siang dan mengerjakan PR bareng-bareng.

Alhamdulillah sejak senin kemarin si Flipper sudah menjadi anak KiTa Kindergarten. Sebenarnya kami ingin memasukkan Flipper ke KiTa Kinderkrippe sejak dia berusia 2 tahun (tahun lalu) tapi meskipun sudah antri dari usia 3 bulan di 3 KiTa, dia tidak mendapat bangku/ tempat karena memang di daerah kami banyak anak kecil dan tidak semua KiTa memiliki Krippe. Kalau mau, orang tua sudah bisa memasukkan anaknya ke Krippe sejak anak berusia 6 bulan. Tapi ya itu, tempatnya terbatas. Bahkan banyak orang tua yang sudah mendaftarkan anaknya sejak anak masih di dalam kandungan supaya mendapat bangku Krippe di saat ynag diinginkan nanti. Karena tempat terbatas itulah yang diutamakan mendapat tempat di Krippe adalah anak-anak yang kedua orang tuanya bekerja full time. Kalau anaknya sudah berusia 3 tahun seperti Flipper (meskipun official 3 tahunnya adalah tanggal 20 Juni besok) maka dia dipastikan mendapat bangku di KiTa Kindergarten. Bangku di KiGa ini adalah hak setiap anak berusia  3 tahun ke atas namun bukan kewajiban. Kalau mau, orang tua juga bisa memasukkan anaknya ke KiGa ketika si anak berusia 4 atau 5 tahun atau tidak masuk KiGa sama sekali.

KiGa-nya Flipper hanya berjarak 200 m dari rumah dan melewati jalan bebas kendaraan. Bisa juga naik mobil seperti hari ini tapi musti muter-muter lebih jauh. Hari ini hujan super deras dan meskipun sudah niat jalan kaki lengkap dengan perlengkapan baju hujannya, setelah 10 meter berjalan, Flipper tidak mau melanjutkkan perjalanannnya. Sepertinya dia berpikir keras dengan pilihan hidup antara mainan becek-becek di jalanan atau lanjut ke jalan KiGa, akhirnya saya angkut Flipper naik ke mobil sebelum dia mengambil keputusan yang salah 😀

KiGa Flipper memiliki 3 kelas atau grup  yaitu grup Sterne (Bintang), Regenbogen (Pelangi) dan grup Sonne (Matahari). Flipper masuk ke grup Regenbogen, mungkin dengan pertimbangan karena ada dua anak tetangga yang kenal baik dengan Flipper di situ. Tiga kelas ini tidak untuk membedakan usia anak. Semua anak berusia 3-6 tahun bercampur jadi satu dan dibagi dalam 3 kelas yang isinya 20-24 anak dengan 3 guru di setiap kelas. Jadi tidak seperti di Indonesia yang membedakan usia anak dalam TK nol kecil dan nol besar (eh masih begitu nggak sih sekarang?). Buat Flipper hal ini sangat menguntungkan karena saat ini dia adalah anak termuda di kelasnya dan dia memang selalu suka bermain dengan anak-anak yang usianya lebih tua dari dia.

Ada yang lucu waktu Flipper tiba di hari Senin kemarin, semua anak menyambutnya dan semua ingin menggandeng tangannya sampai akhirnya si Lara, anak tetangga berteriak dengan kencang mengatakan bahwa hanya dia yang boleh bermain dengan Flipper karena dia sudah kenal Flipper. Karena anak yang lain tidak rela akhirnya bu gurupun turun tangan dan memutuskan untuk hari pertama hanya Lara dan Klara (anak tetangga yang satunya lagi) yang boleh menemani Flipper. Lara dan Klarapun bersorak dan langsung sibuk menunjukkan ini itu kepada Flipper termasuk di mana letak toilet anak-anak. So sweet…

Kami sudah menandatangani kontrak dengan KiGa ini sejak tahun lalu dan setelah itu, sebelum tanggal resmi masuk ke KiGa ini, Flipper boleh mengunjungi kelasnya kapan saja, 1 jam dalam setiap pertemuan, untuk sekedar pengenalan dan membiasakan diri di sana. Karena Flipper juga punya kegiatan lain di luar, maka kami hanya sempat 3 kali main ke KiGa dan itupun sudah lama. Yang terakhir awal bulan lalu ketika kami baru pulang dari liburan. Waktu itu untuk pertama kalinya Flipper ikut Morgenkreis atau morning circle; berkumpul bersama membentuk lingkaran, absen nama anak-anak, menyanyi bersama lalu memberi kesempatan anak-anak bercerita tentang apa saja yang ingin mereka ceritakan. Nah Flipper yang memang tidak sabaran ini rewel luar biasa di kegiatan ini, mungkin bagi dia kegiatan ini membosankan, hanya duduk bersila dan mendengarkan curhatan anak lain. Dia teriak-teriak minta keluar dan bermain sampai akhirnya gurunya menghentikan Morgenkreis setelah 15 menit. Biasanya sih 30 menit, kata bu guru. Nah lu Flipper!

Selain itu dia juga rewel ketika diminta menunggu anak-anak lain mengenakan sepatu karena mereka akan main di halaman bersama-sama. Dasar bocah tidak sabaran, maunya segera melesat saja keluar. Aturan di rumah dan di KiGa memang berbeda, demikian juga siapa yang memiliki otoritas di rumah dan di KiGa juga berbeda dan Flipper harus belajar mengerti itu.

Hari Senin kemarin, jam 8.30 pagi kami sudah berada di KiGa dan Flipper langsung sibuk main di dalam kelasnya. Ketika jamnya Morgenkreis, jam 9.00, bu gurunya bertanya apa saya mau ikut menemani ke ruang atas seperti sebelumnya. Kali ini saya memilih untuk menunggu di lobby saja, siapa tahu Flipper justru anteng bila saya tidak ada di sampingnya (kembali ke soal otoritas tadi). Dan benar saja 30 menit Morgenkreis berjalan lancar tanpa ada jeritan bocah yang tidak sabaran. Saya bahkan sempat mengintip ke ruangan Morgenkreis dan melihat si Flipper enjoy menggoyang-goyangkan badannya di session menyanyi. Yes Flipper!

Tempat tunggu saya lengkap dengan 1 termos penuh air panas. Gurunya Flipper (dan saya juga) memang mengira di hari pertama saya bakalan lama duduk di situ 😀
Setelah satu jam di sana, bu gurunya Flipper menyuruh saya pulang dan menjemput Flipper jam 12 siang. Wah, kok sudah disuruh pulang…Dengan perasaan nggak rela saya pulang juga setelah memastikan bahwa bu guru sudah memiliki semua nomer telpon saya bila ada apa-apa. Sampai di rumah saya bingung mau ngapain, biasanya di jam-jam ini saya bermain dan membuat prakarya bersama Flipper. Bolak-balik saya melihat handphone, ‘berharap’ ada missed call dari KiGa dan ternyata semua lancar. Jam 12 siang saya jemput Flipper dan dianya tidak mau pulang, halah! Setelah dibujuk bahwa dia boleh mainan puddles di luar, baru deh dia ngibrit mau pulang.

Pulang dari KiGa, day 1: Berlari dari puddle yang satu ke yang lainnya. Ciprat! Ciprat!
Gosh, what a mixed feelings…antara senang bahwa anak perempuan kecil saya sudah berada di sebuah tahapan baru dalam hidupnya, sudah lebih mandiri dari sebelumnya dan juga sedih karena dia seolah tidak membutuhkan saya ketika berada di kelas barunya. Selama ini Flipper memang selalu bersama saya dalam segala kegiatannya; playgroup, play date, berenang, menari, gymnastic, etc… Selain dengan opa-omanya, Flipper belum pernah saya serahkan ke teman atau tetangga atau baby sitter sendirian. Itu yang membuat tahap ini begitu berarti bukan hanya buat Flipper namun juga buat saya, kami sama-sama memasuki sebuah fase baru dalam hubungan kami.

Sekarang sudah hari ketiga Flipper di KiGa, dan alhamdulillah masih lancar tanpa harus ditunggui. Hanya kemarin saya harus menjemput Flipper 1 jam lebih awal karena bu gurunya menelpon dan bilang bahwa Flipper nangis-nangis mengantuk. Hari ini dia kembali full time dari jam 8.00 sampai jam 12.00. Untuk saat ini Flipper memang berada di KiGa sampai jam 12.15 saja. Nanti awal September insyaaalah dia akan berada sampai jam 15.00 di sana sehingga saya bisa kembali bekerja. 

Hal baru yang saya amati sejak Flipper masuk KiGa adalah, dia jadi suka aleman setelah pulang dari rumah. Maunya gendong dan cuddling dengan saya terus padahal sebenarnya sudah lama banget dia nggak minta gendong. Kemanapun saya pergi, meskipun ke toilet juga diikutin dan berkali-kali bilang bahwa dia sayang mama, aih… Sepertinya dia juga kangen saya selama berada di KiGa hihi…senang deh saya.

Yang saya harapkan dengan masuknya Flipper di KiGa, sederhana saja; bahwa dia bisa belajar sabar, disiplin, menghormati teman dan gurunya, belajar mengenal aturan-aturan basic di kehidupan sosial dan kosa kata yang bertambah. Yang TIDAK saya harapkan dari KiGa adalah; munculnya kata-kata kotor. Sering saya dengar para orang tua yang mengeluh setelah anaknya masuk KiGa, banyak kata-kata kotor yang diucapkan si anak tanpa si anak itu tahu apa arti sebenarnya dari kata-kata itu. Duh. Anak menjadi gampang sakit juga keluhan para ortu setelah anaknya masuk KiGa atau Krippe dan ini tentu saja juga tidak saya harapkan. Selama ini Flipper hampir bisa dikatakan tidak pernah sakit sama sekali. Hanya demam ketika bayi (setelah imunisasi) dan pilek ringan yang sangat jarang. Bismillah semoga dia bakalan stay like that, selalu sehat meskipun sudah masuk KiGa. Satu hal lagi yang tidak saya harapkan adalah…okay ini agak-agak nggak penting tapi boleh dong ngarep (namanya juga harapan :p), bahwa dia tidak ikutan mainstream menjadi penggemar Frozen hihi… I can stand it! Di mana-mana dari taman bermain, supermarket bahkan KiGa, selalu saja bertebaran anak-anak memakai baju Frozen dan segala atributnya. Flipper sih belum pernah melihat film Frozen jadi saat ini masih aman tapi bisa saja suatu saat dia ingin ikut-ikutan temannya memakai baju berwarna telur bebek itu 😀

PUlang dari KiGa day 3: blusukan ke semak-semak sambil tetep main ciprat-ciprat.
Sejak Flipper masuk KiGa, saya jadi bernostalgia dengan masa-masa saya di TK dulu hanya. Saya ingat pernah merayakan ulang tahun di TK. Lalu ada anak bernama Agung yang nakal sekali, suka menendang kaki saya dan teman yang lain ketika kami duduk bersama di meja bundar. Sebulan sekali kami makan sup bersama-sama di TK. Ingatan yang sampai sekarang tak bisa hilang adalah  tentang teman sekelas, anak Bali yang bernama Betty. Dia mempunyai adik kecil bernama Teta yang kadang ikut ke TK. Selama ada Teta, Betty selalu menjaga Teta, menina-bobokan dan menjaganya supaya tidak diganggu anak lain dan saya waktu itu suka ikut-ikutan sok menjaga Teta padahal kalau dipikir kami dulu masih kecil-kecil tapi kalau bersama Teta waktu itu, saya merasa sudah gede banget! Entah di mana Betty dan Teta sekarang. Apa ingatan kamu tentang masa-masa TK-mu? 🙂

 

 

Advertisements

4 thoughts on “Si Flipper masuk TK

    1. Oh iyaaa…kalau aku dulu suka dijemput teman sekantornya papa lalu ikut ke kantor tapi nunggu di kantin. Asyi deh boleh ambil jajan apa saja hihi…

      Like

  1. Aku dong sampai saat ini survive dengan Frozen-mania karena Medea tetep ga berhasil ngerayu aku buat beliin dia atribut Frozen. Dia punya jepitan rambut, pensil dan notes dari goodie bag ulang tahun temennya. Tapi ternyata jadi ga menarik lagi.

    Soal kata-kata swearing atau kata jorok, beruntung sampe saat ini ga ada pengaruh ke Medea. Kayanya sih ini tergantung publik TKnya deh dan untung-untungan juga.

    Like

    1. Hihi… Hebat nih gak bisa dirayu si ibu. Etapi kasian juga anaknya kalau minta trus nggak dikasih dg alasan it’s too mainstream, that mommy doesn’t like it… Aku dl pas kecil juga suka pake baju dan atribut Donal Bebek (itu mainstream juga kan? 🙈) dan nggak pernah dilarang sama ortu. Tp ya gitu… Kl aku nggak minta ya nggak dibeliin sama mereka 😂

      Iya Mindy semoga si Mila ga ketularan kata kotor. So far sih aku lihat anak2 di grupnya Mila well behaved semua🙏🏼

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s