How to calm down toddler after school/ Kindergarten time

Hello moms with toddler, have you read this article yet? 7 Ways to Help Your Child Handle Their ‘After School Restraint Collapse’  Great article, very true. We’ve been there, done that. Our trick is simple; after school we make a small picnic.

On the way home from Kindergarten, we sit under a certain tree. Flipper always choose the same tree every day because she thinks the shadow is perfect to sit on. I ask her to check, if she still have some food left in her snack box, if not then I give her small surprise like wrapped single Orea or 2 pieces of M&M’s. Well after the third day it’s no longer surprise anyway, because Flipper knows if we go picnic after school and the snack box is empty, means she will get either black cookie (that’s how she calls Oreo) or sweets…. But still she’s surprised (or pretend to be surprised) and her face shines with happines every times I give her the treat 😍.

Look at her shine! Oh don’t mind her dirty face and dirty clothes, dirty legs… it’s always like that after school 😄

The black cookie 🙂
And like adults sit over coffee, we talk- without coffee. She will start talking about her day in Kindergarten without I have to ask first. After 15 minutes or so we continue to walk home. Sometimes she stopped to ride a wooden horse  in the playgroup for few minutes and that’s it, we walk home hand in hand without drama.

At home she’ll play or read her favorites books without any fuss. The picnic trick works well. Before, she always came home in fury and the rest of the day was no longer fun for both of us.

Now, slowly but sure the weather is getting colder, I have to think a better place to do our picnic or maybe different activities. 

So how about your toddler, mon? Do they behave well after school? And if not, what is your trick to calm them down? 

Advertisements

Pengaturan Sampah di Jerman

Di beberapa postingan saya sebelumnya, saya sempat menyinggung tentang sistem pembuangan sampah di Jerman yang sangatlah tidak mudah, tidak bisa asal pluk-pluk buang. Di sini sampah dibedakan menjadi DELAPAN golongan. Iya delapan. Pusing nggak tuh memilah-milahnya. Empat diantaranya berada di rumah kita. Makanya jangan heran kalau rumah sebagus apapun, di depannya atau sampingnya pasti ada 4 kotak sampah gede-gede yang dekil. Gedenya kira-kira 50cm x 50cm x 150cm per kotak sampah. Kebanyakan orang sih membuat ruangan khusus untuk 4 tempat sampah ini supaya tidak merusak pemandangan gitu. Empat kotak sampah tersebut warnanya dibedakan sesuai dengan jenis sampahnya, yaitu:

IMG_2335e.jpg
Kotak sampah kami, sengaja dijejer dulu sebelum difoto. Kami tidak punya ruang khusus untuk kotak-kotak ini namun posisi rumah kami yang berada di dekat taman bermain lumayan menguntungkan karena ada space di antaranya yang bisa untuk ‘menyembunyikan’ tempat sampah.
  1. Sampah BIO (COKLAT)Sampah ini isinya antara lain:

    – Tumbuhan dan guntingan tumbuhan (rumbut, daun, ranting, dsb)

    – Bulu-bulu binatang

    – Buah, sayuran segar maupun busuk dan kulit bekas kupasannya

    – Kulit telur

    – Sisa kopi dan sisa teh

  2. Sampah KERTAS (BIRU)Seperti judulnya, yang boleh masuk kotak ini adalah kertas, kardus, majalah, buku dll yang masih bersih. Bersih di sini maksudnya bukan kertas yang putih nggak ada tulisannya ya, tapi yang belum kecampuran zat-zat lain misalnya minyak atau cat. Jadi Kertas bungkus kentang goreng, bungkus daging sapi, atau tissue abis bersihin umbel, tissue yang disemprot pembersih untuk membersihkan kaca, dinding kertas bekas (karena ada sisa lemnya), dsb TIDAK BOLEH dimasukkan sini.
  3. Sampah KEMASAN (KUNING)Yang masuk kategori ini di antaranya:

    – Segala macam plastik kemasan (tempat shampoo, kantung plastik, bungkus jajan, toples plastik, dsb.)

    – Tube bekas pasta gigi, pasta tomat

    – Bekas kemasan jus dan susu

    – Bekas tempat hairspray, deodorant

    – Bekas minuman kaleng

  4. Sampah DOMESTIK (HITAM)Tempat sampah ini berisi sampah-sampah rumahan yang tidak bisa dimasukkan ke dalam 3 kategori di atas (tapi tentu tidak semuanya bisa dimasukkan, nanti di bawah ada pemilahan lagi :p). Yang bisa dimasukkan ke tempat sampah ini intinya tidak bisa didaur ulang, di antaranya:

    – Sisa-sisa makanan

    – Abu rokok

    – Popok bayi, tampon, pembalut

    – Debu-debu abis beberes rumah

    – Bohlam rusak

           

Mendapatkan Kotak Sampah

Jadi nih, ketika kita baru pindah ke kota Ahoy misalnya, ketika kita mendaftarkan diri, otomatis kita digiring ke departemen sampah setempat. Di situ ditanya ada berapa orang yang tinggal di rumah kita, untuk menentukan seberapa besar kotak sampah hitam yang akan kita terima. Kalau yang kuning, biru dan coklat ukurannya selalu sama. Sampah hitam ada dua pilihan, yang gede (sama dengan ketiga kotak sampah yang lain) atau lebih kecil. Karena kami hanya 2,5 orang maka kami memilih mengambil kotak yang kecil dimana iurannya lebih murah yaitu yang isi volume 120 liter. Kalau yang besar 240 liter.

Iuran Sampah

Biaya iuran sampah tidaklah murah tapi untungnya hanya sampah hitam saja yang harus bayar karena sampah ini tidak bisa didaur ulang. Kalau dipikir-pikir kenapa justru yang nggak bisa didaur ulang harus bayar? Bukannya yang bisa didaur ulang itu harusnya yang butuh proses lebih lanjut sehingga memerlukan dana? Yang nggak bisa didaur ulang kan ya tinggal dibuang saja? Logikanya memang begitu, tapi dengan ditariknya iuran untuk non daur ulang ini justru untuk membuat orang enggan menerbitkan sampah non daur ulang. Supaya kita tidak boros mengotori bumi kita.

Iuran sampah hitam di kota kami (tiap kota berbeda) per-bulan adalah 114 Euro untuk yang 120 liter. Itu iuran tetapnya. Jadwal pengambilan sampah hitam ini seminggu sekali dan pada setiap pengambilan sampah, kita kena charge lagi 4,60 Euro. Jadi kalau mau ngirit, bila sampah hitam kita belum penuh pada saat jadwal pengambilan, ya jangan ‘disetor’ ke depan, otomatis kita sudah ngirit biaya 4,60 Euro. Kotak sampah hitam punya chips khusus yang bisa mendeteksi apakah sampah kita diangkut atau enggak, untuk menentukan tagihan kita pada akhir bulan.

Cara Setor Sampah

Oh iya, ‘setor’ sampah itu juga ada caranya. Pas kita mendaftar sebagai penduduk baru tadi, selain mendapat tempat sampah kita juga mendapat jadwal pengangkutan sampah yang berbeda sesuai warna sampahnya. Yang paling sering diangkut adalah sampah hitam (seminggu sekali)  yang disusul sampah kuning, coklat lalu yang pualing jarang (3 bulan sekali) adalah sampah biru. Kalau pada hari pengangkutan kita lupa nggak ‘setor’ sampah ya harus menunggu jadwal minggu/ bulan berikutnya. Kalau kotak sampahnya sudah penuh dan lupa setor agak repot juga. Cara menyetornya: kotak-kotak sampah itu kan property kita, jadi letaknyaya harus di dalam property rumah kita. Nah ketika jadwal angkut sampah datang, kita harus menarik sampah yang terjadwal ke pinggir jalan dengan pegangan menghadap ke depan supaya tukang sampahnya gampang menariknya langsung. Ya kan kotak sampahnya guede dan kalau ada isinya jadi berat. Meskipun ada rodanya tapi untuk mempercepat kerja tuang sampah ya itu tadi, gagang pegangannya musti menghadap ke depan. Pokoknya semua sudah diperhitungkan (icon wajah berpeluh). Petugas sampah selalu lebih dari 1 orang, minimal dua orang karena yang satu harus nyopir dan yang lain ambil kotak sampah di sisi kanan dan kiri jalan.

Kalau tinggal di apartemen mah enak, karena biasanya di apartemen ada Hausmeister (semacam Pak Bon gitu) yang mengurusi urusan persampahan. Kita hanya diharuskan membuang sampah sesuai warnanya saja dan membayar iurannya.

3030577_1_212_008_9116_hal_muellwage

Sumber foto: http://www.ruhrnachrichten.de/storage/pic/repl-bauer/xmlios/zbm-import/oer-erkenschwick/3030577_1_212_008_9116_hal_muellwage.jpg?version=1330965876

 
Itu baru sampah-sampah yang bisa dibuang di rumah yaa…Ini lanjutannya masih ada…kan saya bilang tadi ada DELAPAN. Dan setelah kupkir-pikir sebenarnya ada SEPULUH LHO. Nah Lho. Ini lanjutannya:

  1. Sampah KEMASAN KACA (warnanya COKLAT, HIJAU DAN PUTIH)Kontainer besi guede-guede untuk pembuangan gelas kaca ini ada di beberapa sudut kota. Di sini sampah gelas kaca misalnya bekas saus tomat, Nutella, kecap manis, selai dsb dibuang ke tempat sampah disesuaikan dengan warnanya di atas. Karena sampah ini berisik suaranya, maka pembuangannyapun ada jadwalnya. Kalau kita membuang ssampah gelas pada hari Minggu atau saat jam tidur siang, pasti deh diomelin orang. Oh iya, piring, gelas minuman nggak boleh dimasukkan sini.

    15380001118_ce02881ca1_o
    Kontainer untuk membuang sampah kemasan kaca.
  1. Sampah BATTERYBaterry bekas tidak boleh dibuang sembarangan karena mengandung zat kimia berbahaya yang bisa merusak proses daur ulang sampah. Jadi battery rusak di rumah biasanya kami kumpulkan dulu di toples bulukan trus pas ke supermarket sekalian dibawa. Ya, di supermarket disediakan tempat pembuangan sampah battery.
  2. Sampah BULKYIsinya sampah-sampah gede yang tidak masuk ke tong sampah, antara lain:

    – Furnitur bekas (kursi, sofa, meja, rak, dsb.)

    – Karpet bekas

    – Lampu (bukan bohlamnya)

    – Mainan outdoor (trampolin, children garden house, perosotan)

    – Kasur, futton

    Khusus untuk sampah ini, kalau tinggal di apartemen, empat kali setahun kita bisa menaruh sampah bulky kitadi depan apartemen, dikumpulkan dengan milik penghuni apartemen yang lain. Petugas sampah akan mengangkutnya ke tempat pembuangan sampah. Tapi biasanya sebelum petugas sampah datang, sudah ada ‘oknum’ yang lebih dulu datang mengambil barang-barang yang kira-kira masih bisa dipakai atau tidak. Kadang dipake sendiri, kadang ada yang menjualnya kembali. Sebenarnya pengambilan barang tidak resmi ini dilarang dan bisa dikenai pasal pencurian tapi biasanya kedua pihak (yang membuang dan yang mengambil) nggak peduli karena keduanya merasa diuntungkan. Yang apes kalau pas ada kontrol dari pihak Ordnungsamt saja.

Untuk yang tinggal di rumah pribadi, sampah bulky harus dibawa sendiri ke tempat organisasi sampah di kota kita atau bisa juga menelpon untuk minta diambil tapi dikenakan biaya.

  1. Sampah ELEKTRONIKIni mah gampang, pokoknya yang ada listriknya masuk sini. Sampah ini musti dibawa sendiri ke tempat organisasi sampah di kota kita atau bisa juga menelpon untuk minta diambil tapi dikenakan biaya.

Berikut ini dua kategori yang barusan saya ingat:

  1. Sampah OBAT-OBATANMenurut aturan, obat yang kadaluarsa harus dikembalikan ke apotik (tidak harus apotik yang sama tempat kita membeli dulu) untuk mengurangi pencemaran lingkungan tapi kalau saya tanya kenalan di sana-sini, kebanyakan mereka membuanganya ke kotak sampah domestik (hitam).
  2. Sampah BAJU & SEPATUSeperti halnya kotak sampah botol/ gelas kaca yang terdapat di beberapa sudut kota, demikian juga dengan tempat sampah untuk baju dan sepatu. Bedanya bila sampah gelas yang mengelola adalah dinas persampahan, sampah baju dan sepatu ini yang mengelola adalah pihak swasta, umumnya organisasi charity seperti Humana dan Johanniter.

ORDNUNGSAMT

Ordnungsamt adalah dinas yang menjaga supaya masyarakat tetap in ordnung (sesuai aturan). Selain bertugas mengawasi mobil-mobil yang parkir sesuai dengan jam parkir yang dibayar atau make sure bahwa spielplatz (taman bermain) benar-benar buat bermain anak-anak dan bukan buat orang dewasa atau anjing, mereka juga bertugas mengawasi bahwa garbage arrangement berjalan sesuai aturan. Kalau sampai kepergok membuang sampah tidak pada tempatnya, bisa kena denda (baca juga cerita tentang tetangga usil yang suka mengawasi sampah orang di sini). Enggak saklek juga sih, kalau salahnya dikit biasanya dicuekin juga sama mereka.

Tukang sampah  hanya bertugas mengambil sampah. Dengan teknologi yang ada di truk sampahnya, mereka bahkan tidak perlu membuka tutup kotak sampah kita. Tinggal geret pegangannya, cantolin ke alat yang di mobil dan bruuk! Masuk truk. Yang truk pengangkut sampah kertas bahkan lebih canggih lagi, ada alat yang bisa nge-press kertasnya sekalian di truknya. Anehnya , meskipun kesempatan untuk membuang sampah sembarangan itu tinggi, orang-orang sini taat banget kalau membuang sampah. Bukan takut dnegan denda Ordnungsamt tapi memang sadar lingkungan sekali.

Jadi bagaimana menurut kalian? Ribet kuadrat kan ya? Saya saja yang sudah 9 tahun tinggal di Jerman masih merasa ribet memilah-milah sampah, makanya urusan ini saya serahkan ke suami. Yang cita-cita mau tinggal di Jerman, masih minat? >.<

 

 

Mengakali Urusan Household Chores

Kemarin pas lagi buka-buka FB, saya membaca status teman lama saya yang isinya begini (dikutip dengan seijin yang penulisnya):

“Jika dalam sehari seorang ibu rumah tangga memasak 2 kali, dan setiap kali memasak ada 2 menu (satu jenis sayur dan satu jenis lauk), maka artinya:

– Dalam sehari dia memasak 2 menu x 2 = 4 menu

– Dalam seminggu : 4 menu x 7 hari = 28 menu

– Dalam sebulan : 4 menu x 30 hari  = 120 menu

– Dalam setahun: 4 menu x 365 hari = 1.460 menu

Jika lebih dari 2 menu, silahkan dihitung sendiri ya….. Dan silahkan hitung juga jumlah porsinya dengan mengalikan jumlah anggota keluarga 😜

Amazing bukan? Maka itulah….

– Emak-emak sering kehilangan ide untuk memasak. ‘Masak apa hari ini?’ merupakan pertanyaan paling menghantui yang harus dijawab setiap hari. Tidak ada jawaban benar atau salah, namun mempengaruhi kelangsungan hidup seluruh anggota keluarga 😬

– Jangan heran jika sering sekali menu berulang. Mikir menu sehari-hari itu tidak segampang yang dikira. Banyak faktor yang terlibat: nutrisi, budget, durasi, selera, frekwensi….  

– Emak-emak paling suka jika makanan yang dimasak dihabiskan sampai tandas. Ga heran lah, wong masaknya harus dengan hati dan penuh perjuangan begitu. Dan jika sudah capek-capek memasak, namun yang dimasakkan lebih suka makan di luar, you will be in trouble 💪🏼

– Emak-emak itu sangat sayang jika ada makanan yang tersisa. Anak makan ga habis, langsung dihabiskan. Ada sisa sayur sedikit, disimpan. Lumayan  kan buat sarapan besok…. Hmmm…. This is where the body growth comes from 😂

– Selisih harga does matter. Harga cabe beda seribu perak, bisa dikejar sampe di pasar kampung tetangga. Lebih dari 1000 menu setahun boooo….

– Cobalah untuk ‘njajan’ berturut-turut selama sebulan. Selain bakal menjebol gawang perduitan, dijamin bakalan bosen. I had been there (saat hamil). Meskipun makanan di luaran (katanya) jauh lebih enak dan bervariasi, tetep kangen juga sama tempe goreng dan sambel bawang yang diulek dengan cobek gupil di rumah👌🏻

– Sesekali makan di luaran sangatlah membantu meringankan beban emak-emak. Namun jika keseringan, kembali ke poin yang di atas ☝🏼️

Demikian catatan ga penting menjelang shopping ke pasar BKK

Sayapun langsung komen mengungkapkan betapa salutnya saya akan rajinnya dia masak dua kali sehari untuk keluarga, apalagi dengan menu yang beraneka ragam. Membaca komentar teman-temannya yang lainpun saya bisa menyimpulkan bahwa untuk beberapa ibu, memasak lebih dari sekali sehari itu memang sesuatu ynag sudah biasa.

Saya sendiri di sini masak minimal sehari sekali, bahkan bisa juga seminggu sekali. Waktu di Indonesia dulu, secara belum berkeluarga dan pulang kerja selalu malam, kalau siang saya jajan di sekitar kantor dan kalau malam catering bareng teman-teman sekontrakan. Kosa kata memasak hanya digunakan ketika bikin Indomie 😀

Sekarang hidup di Jerman di mana tidak ada penjual makanan lewat, di mana Mac Donald dan KFC itu tidak ada menu nasinya dan tidak bisa delivery (dan tidak sehat), di mana asisten rumah tangga dan nanny itu bayarannya minimal 10,00€ per jam, di mana jajan di luar yang paling  murah itu hanya dapat kentang goreng atau makanan instant di supermarket dengan segala zat pengawetnya maka mau tak mau harus masak sendiri dan juga mengurus segala keperluan rumah tangga sendiri. Lalu bagaimana mengakali supaya rumah tetap rapi, bisa me-time, bisa kerja, bisa punya waktu dengan keluarga dan tetep bisa makan enak (baca: makan makanan Indonesia/ Asia yang bumbunya 100 macam dan masaknya ribet. Bukan roti tangkup isi mentega dan keju)? Ada caranya….

Untuk Urusan Makan-Makan

1. Saya membuat menu plan untuk seminggu atau 2 minggu. Dengan menu plan ini, otomatis apa yang mau dibeli juga terencana. Selain menghemat waktu di supermarket karena sudah tahu apa yang mau dibeli, juga menghemat waktu mikir tentang ‘hari ini mau masak apa ya?’ ‘Coba lihat di kulkas adanya bahan apa ya’. Sabtu dan Minggu sengaja saya kosongi karena biasanya kalau weekend kita makan di luar atau suami yang masak atau makan makanan sisa sebelumnya. Sejak membuat menu plan, bahan yang ada di kulkas selalu terpakai jadi tidak ada istilah terong terbuang  krn busuk, lupa nggak dimasak atau tidak tahu mau dibuat apa.

Dengan adanya menu plan ini,  variasi makanan jadi gampang diatur; kalau kemarin sudah makan lauk ikan bakar maka hari ini nggak pake ikan lagi. Prinsip menu plan saya pada dasarnya, dalam seminggu minimal 1x ada ikan, 1x menu vegan, 1 kali tanpa nasi, minimal 1x daging-dagingan (daging merah sebulan sekali, selebihnya ayam), minimal 1x ada telur.

Contoh menu plan kami dalam seminggu (Setiap hari selalu ada tambahan salad sayur atau sayur kukus):

Senin: Sambal goreng udang+kentang, nasi
Selasa: Noodle pasta dengan ikan tuna, seledri dan tomat (kalau yang mau versi vegan tinggal skip tunanya)
Rabu: Nasi uduk, dadar telur, kering tempe
Kamis: French fries
Jumat: chicken soup, tempe goreng, sambal, nasi

Untuk kami sekeluarga, satu menu (sayur dan lauk) sehari sudah cukup secara Flipper dan papanya kalau siang tidak makan di rumah. Paginya makan roti-rotian, oats atau sereal, jadi menu kita adalah untuk makan malam. Dulu sebelum masuk TK, Flipper dan saya makan siang bersama di rumah dengan menu yang sama dengan makan malam. No problemo. Alhamdulillah juga suami  adalah pemakan segala (kecuali ikan yang masih ada matanya). Flipper juga bisa makan apa saja sebenarnya, tapi kalau saya masak yang pedas-pedas ya saya bikin yang lain buat dia.

Tuna noodle salad
Tuna noodle pasta
IMG_3703-1eS.jpg
Nggak nyangak bisa bikin gudeg sendiri lengkap dengan baceman lauknya. Kreceknya saja yang missing.

Saya seringnya hanya masak yang gampang-gampang karena saya memang nggak begitu canggih dengan urusan dapur. Masakan semacam siomay atau pempek, meskipun saya suka berat dan di sini susah belinya, tetep aja lebih suka beli ke teman yang bisa bikin hihi… Kalau mau sekedar nambah-nambah ide buat masakan, boleh deh intip blog masakan saya (in English) zbethz.wordpress.com Buat saya semua resep masakan ynag saya muat di situ rasanya enak, kalau tidak enak ya nggak saya muat haha…

2. Bila weekend cuaca buruk dan harus berada di rumah saja, saya sempatkan untuk membuat stock makanan yang nantinya dimasukkan freezer, dimakan ketika tiba-tiba malas masak, capek, sedang sakit atau ada tamu dadakan.

Banyak sekali lho masakan yang bisa disimpan di freezer, misalnya Rendang, opor, ungkepan ayam, tempe dan tahu yang nantinya tinggal digoreng atau dibakar saja, chicken nugget, perkedel kentang, lodeh, sayur asem, kuah chicken soup (jadi kalau mau masak sup, tinggal masukin sayurnya saja), kuah daging (untuk bikin bakso misalnya,tinggal masukin bakso dan pernak perniknya plung! plung!), saus bolognese, macam-macam sambal, bumbu gado-gado atau pecel, bumbu urap, dll.

Ini petunjuk bagaimana caranya menyimpan makanan di freezer dengan baik supaya nutrisinya tidak hilang (in English)

Untuk menyimpan sambal, saus atau pesto di toples kaca, jangan lupa disterilkan dulu toplesnya, dengar air panas atau masukkan oven.

Believe me, freezing food ahead allows you to save time, money and be healthier eating homemade meals with simple recipe from the scratch.

3. Membuat stock bumbu dasar  (bumbu merah, putih, kuning) dalam jumlah banyak, lumayan bisa menguarangi acara kupas-megupas dan iris-mengiris setiap hari. Ini bisa dimasukkan freezer juga.

Untuk Urusan Bersih-Bersih Rumah

Untuk urusan bersih-bersih ini terus terang nggak bisa dibandingkan dengan bersih-bersih rumah di Indonesia karena di Indonesia banyak debu sehingga rumah harus dibersihkan setiap hari. Eh tapi kalau rumah ber-AC yang selalu tertutup, nggak terlalu banyak AC kali ya? Mama saya di Jogja bahkan membersihkan rumah tiap pagi dan sore (nggak ada AC). Di kontrakan dulu hanya kamar tidur yang ber-AC  dan mbak yang membantu bersih-bersih rumah  juga selalu datang tiap pagi dan sore. Sini kalau tidak kotor-kotor banget, bersih-bersih rumah cukup dilakukan seminggu sekali.

Suami dan saya bantu membantu untuk urusan household chores. Tanggung jawab dia adalah mengurus halaman, membersihkan kamar mandi dan mengurus sampah (urusan sampah di Jerman itu ribet, ada 6 pembagian jenis sampah! Kapan-kapan kalau saya mood, saya tulis deh soal sampah ini.) Selebihnya adalah tanggung jawab saya.

Kami sekeluarga selalu makan malam di bawah jam 6 sore. Jam 18.30 saya mulai membersihkan meja makan dan dapur, memasukkan semua piring kotor ke dishwasher (dishwasher I love you so much!). Setelah itu mengajak Flipper bareng-bareng membereskan mainannya yang berserakan di seluruh penjuru ruangan. Kalau mainan sudah masuk box-nya semua, Flipperpun dibantu papanya bersih-bersih badan untuk persiapan bobok. Saya menyapu seperlunya (iya, pake sapu ijuk dari Indonesia). Kalau kotor banget karena Flipper sering keluar masuk rumah bawa barang aneh-aneh dari halaman ya vacuum cleaner-pun difungsikan. That’s it. Beres. Lalu menina-bobokkan Flipper dan Feierabend.

Nah kalau weekend nih acaranya bersih-bersih heboh mulai dari ganti sprei, ngelap-ngelap segala perabot, hoovering dan ngepel detil sampe ke sudut-sudut dan membersihkan kamar mandi lengkap dengan ngosek shower cabine dan bath tub serta ngepel juga. Dulu D dan saya kerja bakti melakukannya. Biasanya dia dulu yg bersihkan kamar mandi dan saya jagain Flipper, kalau dia sudah selesai gantian dia yang jaga Flipper. Sekarang sejak saya sudah kerja lagi, kami dibantu ibu-ibu yang datang setiap Sabtu selama 3 jam membersihkan rumah kami. Karena sayang juga kalau weekend, waktunya keluarga malah digunakan beberes, lagian kalau kita sendiri yang beberes, pasti memakan waktu lebih dari 3 jam!

Cara kami menangani urusan rumah tangga kami tentu berbeda dengan keluarga yang lain. Ada yang memang suka masak atau suka beberes, sehingga tidak keberatan kalau harus masak dan beberes berkali-kali. Ada yang merasa semua itu buang-buang waktu, which is okay selama semuanya merasa nyaman. Tetangga sebelah rumah saya, masaknya tiap hari hanya sandwhich (untung dia bukan orang Asia hihi…) tapi rumahnya mengkilap bahkan trotoar depan rumah diapun licin karena selalu dibersihkan, padahal punya dua anak balita. Salut juga saya dengan dia tapi yang seperti itu bukan untuk saya, saya masih suka makanan yg masaknya mbulet hihi. Kalau kamu, ada trik-trik untuk mengakali urusan rumah tangga supaya tidak terlalu membebani nggak? Share ya, siapa tahu cocok dan kita bisa saling menerapkan.

 

 

 

 

Dementia test

Jadi ceritanya selama 6 bulan terakhir ini saya merasa sangat pelupa banget dengan hal-hal yang baru terjadi beberapa menit yang lalu. Kalau ditanya kejadian pas pertama masuk SD atau hal-hal yang jadul lainnya, saya malah masih ingat banget. Hal-hal yang saya lupa misalnya pas lagi mandi (udah telenji dan udah basah-basahan nih) tiba-tiba kepikiran, eh saya tadi udah sabunan apa belum sih? Atau pas udah niat ke kantor pos mau kirim-kirim postcards, pas nyampe kantor pos, postcards-nya nggak kebawa. Untuk mbakyurop yang kemarin ikut jalan-jalan bareng ke Berlin tahu banget deh keluhan saya ini hihi…

Selain pelupa saya juga merasa makin bodoh akan hal-hal sepele misalnya singkatan Hauptbahnhof (stasiun kereta api pusat) itu kan Hbf nah pas lagi chatting sama temen saya nulisnya Bhf, nah lho?  Atau yang harusnya she has saya tulis she have. Pas membacanya kembali saya sebel sendiri kok bisa salah begitu. Merasa terganggu dengan gangguan-gangguan kecil tapi sering tersebut, pas cek kesehatan rutin dua tahunan saya curhat sekalian dengan dokter keluarga kami.

Bu dokter bilang kasus lupa-lupaan seperti ini wajar terjadi terhadap orang tua (but mostly women) yang memiliki anak toddler. The main problem adalah lack of concentration yang nantinya akan hilang dengan sendirinya. Apalagi hasil test darah saya adalah perfect tapi melihat saya tidak terlalu convinced dengan kata-katanya, beliaupun lalu menawari saya untuk ikut dementia test. Sempet serem juga pas dengen dokternya mengucapkan kata dementia. Pikiran yang pertama terlintas adalah Julianne Moore di film ‘Still Alice’, meskipun di film itu kasusnya adalah alzheimers tapi tetep aja temanya sama; lupa.

Test yang berlangsung tadi pagi berlangsung tidak lama, sekitar 15 menit. Sayangnya lembaran test tidak boleh saya bawa pulang jadi saya ceritakan saja di sini. Saya masih ingatlah metode testnya meskipun tidak detil setiap soalnya hihi…

Yang pertama bu dokter mengucapkan 15 kata benda berturut-turut, pelan dan jelas. Saya disuruh mengulangi semua kata itu. Pengulangan pertama lancar. Eh disuruh pengulangi lagi, agak lambat tapi berhasil juga saya ingat semuanya.

Yang kedua ada 4 nominal yang dua berbentuk angka dan yang dua lagi berbentuk tulisan. Saya lupa angkanya berapa saja tapi saya tulis begini saja supaya yang baca paham maksud saya:

a. 123 : Saya disuruh menulis : seratus duapuluh tiga (dalam bahasa jerman tentunya)

b. Sama dengan di atas hanya beda angka

c. Tujuhribu empatpuluh lima: Saya disuruh menulis 7045

d. Sama dengan di atas hanya beda angka.

Yang ini saya lolos tanpa halangan.

Yang ketiga bu dokter bertanya barang apa saja yang bisa saya beli di supermarket. Saya diberi waktu  hanya 2 menit (eh apa 1 menit ya tadi? Tuh kan lupaaa :/) untuk mengucapkan nama barang-barang ini. Di sini entah kenapa saya tak bisa secara spontan cepat menjawab bla bla bla…Saya malah mikir beneran, ntar ke supermarket mau belanja apa (kan Jumat emang jatahnya ke spm). Jadinya dengan waktu yang terbatas itu saya hanya bisa menjawab 15 barang. Kata bu dokter sih itu nggak maksimal tapi termasuk bagus.

Yang keempat bu dokter mengucapkan angka-angka dari 2 digit sampai 6 digit dimana setiap dia selesai mengucapkan satu set angka, saya harus mengulanginya TAPI dari belakang. 123 dibaca kebalik 321, begitulah. Dua sampai empat digit lancar jendral. Lima digit mulai lambat. Enam digit hanya bisa mengulang 2-3 angka terakhir. Duh.

Yang kelima, tiba-tiba saya disuruh mengulang lagi 15 kata benda pada soal yang pertama. Di sini saya hanya bisa mengingat 11 kata. Duh lagi

Setelah soal kelima, bu dokterpun menghitung skor saya dan alhamdulillah dari skor final  saya bisa disimpulkan bahwa saya baik-baik saya. Ada tiga tingkat  dalam penghitungan skor ini, tingkat terendah berarti si pasien mengalami dementia. Tingkat tengah berarti pasien kemungkinan mengalami gangguan sementara karena sedang sakit atau mengalami kecelakaan dan tingkat tertinggi adalah tingkat baik-baik saja alias normal. Nah saya masuk tingkat yang tertinggi nih! Horee! Mekipun sebenarnya saya pribadi tidak puas dengan hasil test ringan ini karena tidak berhasil mengingat semuanya namun bu dokter tetap menyakinkan bahwa semuanya fine. Alhamdulillah…Saya hanya disuruh untuk mengurangi begadang , terus rutin berolah raga dan belajar lebih berkonsentrasi. Menurut saya sih musti disuruh piknik juga nih sayanya hihi…

Ada yang suka mengalami lupa-lupa nggak penting seperti saya nggak? Atau bahkan ikut test dementia juga? Barusan saya browsing-browsing ternyata test ini bisa juga dijalani online dan metodenya berbeda-beda. Ntar maunyoba yang metode lain ah.

IMG_2277-1eS.jpg