Ngobrol dengan anak umur 5 tahun tentang tragedy di gua Tham Luang Thailand

Drama di gua Tham Luang Thailand sudah berakhir dengan happy ending dan sampai sekarangpun saya masih rajin mengikuti beritanya; how are the boys doing now, sudah bisa makan normal apa belum, sudah bisa memeluk bapak ibunya apa belum.  Duh, drama tentang anak-anak yang terjebak di gua tersebut memang menyita perhatian saya sejak beritanya muncul di media. Setiap pagi, baru bangun tidur, berita yang saya cek pertama kali ya berita tentang anak-anak ini. Kadang bacanya pun sampai nangis lho, yang hari-hari terakhir sih nangis seneng. Saya juga setiap hari update berita ini ke Flipper. Kadang kita juga melihat video-video liputannya dari media.

Bagaimana lengkapnya cerita kejadian di Thailand ini, saya rasa bisa dibaca di mana-mana jadi saya nggak perlu bikin rangkuman di sini tapi saya mau share beberapa obrolan saya dengan Flipper tentang kasus ini  yang kadang temanya belok kemana-mana 😀

Waktu melihat video pas the Thai boys baru ditemukan oleh the British diver.
Saya: “Waa Flipper! Mereka sudah ditemukan! lengkap 13 orang! Yay!”
Flipper: “Mama, kok mereka ngomongnya pake bahasa Inggris? Bukan bahasa Indonesia?” Dia mikirnya orang Thailand ngomongnya bahasa Indonesia juga.
Saya: “Karena yang menemukan mereka orang Inggris, jadi harus pake bahasa Inggris.”
Flipper: “Kalau penyelamnya orang Jerman, berarti harus bahasa Jerman ya ma?”
Saya: “Kurasa orang Jermannya bisa berbahasa Inggris juga atau bahasa Thailand.”
Flipper: “Jerman nggak kepake ya ma.”
Saya: “Enggak.” Sambil wondering apa ada volunteer orang Jerman di tragedy itu.

Waktu anak-anak masih di dalam gua dan belum ada kepastian kapan mereka bisa keluar.
Saya: “Sedih banget, mereka masih di dalam gua. Mereka sudah 2 minggu di dalam gua lho Flipper. Guanya gelap gulita dan nggak ada makanan.”
Flipper: “Itu ada yang bawa lampu ma, don’t worry.”
Saya: “Ya, baru-baru ini aja ada lampunya. Sebelumnya nggak ada.”
Flipper: “Ma, kata oma saya kurus padahal saya kan nggak duduk di atas batu di dalam gua seperti anak-anak itu.”
Saya: “Oma juga kurus dan nggak pernah masuk gua. Ignore her.”

Flipper: “Ma, ngapain sih anak-anak itu di dalam gua? Kan waktu itu kita pernah juga masuk gua tapi nggak lama-lama.”
Saya: “Mungkin mereka abis main bola mau berteduh, istirahat di gua… Kan di luar panas. Trus hujan deras, mereka terus di dalam gua supaya tidak kehujanan. Eh ternyata banjir masuk gua, jadinya mereka terjebak dan nggak bisa keluar lagi.”
Flipper: “Kenapa mereka tidak menyelam keluar seperti penyelam yang kita lihat waktu kita ke gua.” She refers to sebuah gua yang pernah kita kunjungi di kota Willingen, yang ada area buat menyelamnya juga, tapi airnya jernih, nggak bisa dibandingkanlah dengan yang di Tham Luang ini.
Saya: “Karena mereka kan nggak bawa alat selam dan nggak semua anak bisa berenang lho. Makanya kamu beruntung banget bisa berenang. Mama nih, nggak bisa berenang!”
Flipper: “Eh mama, emangnya hanya anak laki-laki ya yang boleh main bola?”
saya: “Enggak ah, kamu juga boleh kalau mau.”
Flipper: “Tapi itu yang di gua anak laki-laki semua.”
Saya: “Ya pas kebetulan laki-laki semua.”
Flipper: “Yang di TV, yang papa suka nonton juga laki-laki semua yang main bola.”
Saya: “Mmm…ya betul kali ini pas Male World Cup, next time pasti ada Female World Cup” Jawaban ngarang
Flipper: “Kenapa nggak dicampur aja ma?”
Saya: “Eh Flip, ini apelnya dihabisin dulu!”

Pas kemarin, semua anak dan trainernya sudah keluar dari gua.
Saya: “Alhamdulillah Fliip…mereka udah keluar semua nih!”
Flipper: “Hore! Mereka bisa main bola lagi ya ma!”
Saya: “Pastinya!”
Flipper: “Kalau tahun depan kita ke Indonesia lagi berarti aku boleh ikut mereka main bola ya?”
Saya: “Thailand Flip, Thailaaand…. Bukan Indonesia.”
Flipper: “Ah egal (doesn’matter), kan sama semua wajahnya.”
Saya: Makan krupuk.

Barusan saya browsing gambar-gambar tentang drama di Tham Luang Thailand ini…dan nangis lagi hiks… Terlalu sensitive ya…  Anyway, this is my favorite drawing so far!

Screen Shot 2018-07-11 at 12.50.41.png
Picture from official FB Page of Thai NavySeal

What each animal represents

According to Aor Panasoot’s translation, each animal in the artwork represents a different person or group involved in the operation:

  • Wild Boars: The children and coach
  • White Elephant: Governor Narongsak [Osottanakorn]
  • White horse: “All heroes…involved in the mission. You are the knight in shining armour riding the white horse to help us!”
  • Seal: “Of course…Thai Navy SEAL Hooyah!”
  • Frog: The divers
  • Naga (Dragon): Water pumping and drilling teams

The rescuers from around the world are represented by:

  • Lion: England
  • Kangaroo: Australia
  • Panda: China
  • Crane: Japan
  • Moose: Sweden
  • Tiger: Myanmar
  • Brown Elephant: Laos
  • Dog: K9 unit
  • Martin: Climbers from Libong, Thailand
  • Eagle: United States

And others:

  • Iron man: Elon Musk
  • Birds: The media
  • Crow: “Just some bad comments/people/obstacle. No need to pay much attention.”

 

Happy Wednesday!

-beth-

Advertisements

2 thoughts on “Ngobrol dengan anak umur 5 tahun tentang tragedy di gua Tham Luang Thailand

  1. Flipper pinter dan kritis yaaa… apalah itu mama ngeles makan apel sm krupuk hahaha.. akupun terharu bgt nonton dan baca beritanya. Apalagi pengorbanan si ketua rescue yg akhirnya meninggal huwaa.. may he RIP..

    Like

    1. Yes may he rest in peace. Pas denger interview dengan salah satu divernya, serem banget…dia bilang sebenernya mereka nggak expected to retrieve the boys alive…just tiny tiny hope… Tapi ternyata mereka berhasil ❤ ❤ ❤

      Haha iya, ngemil krupuk karena gak tau mau jawab apa hihi…

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s