Flipper mau masuk SD

Tanggal 29 Agustus besok bakalan menjadi hari bersejarah buat kami karena di hari itu Flipper resmi menjadi anak Grundschule-SD, yay! Nggak terasa anak kecil yang waktu bayi dulu suka kembung perutnya, yang sempat nggak bisa tidur sendirian di kamarnya, yang ketika pertama-tama masuk TK pemalu nggak mau ngomong sama orang sekarang sudah mau masuk SD. Perasaan saya antara rela nggak rela nih… Time flies dan setelah sekian kedipan mata, tiba-tiba si anak sudah besar. Soon dia nggak mau dikeloni lagi, soon nggak mau diajak jalan bareng… Ah anyway saya nggak mau menye-menye ya di sini tapi pengen share tentang seluk-beluk masuk SD di negara ini, at least di province tempat kami tinggal.

kolase-cilik2
Cieh yang mau masuk SD nii…

Di Jerman ada aturan bahwa anak-anak yang pada waktu Stichtag (effective date) berusia 6 tahun, dia wajib masuk SD di tahun itu. Di sini istilahnya Schulpflicht. Stichttag di tiap provinsi beda-beda tanggalnya. Di provinsi Nord Rhine Westphalia, tempat kami tinggal adalah 30 September. Jadi anak yang sudah berusia 6 tahun pada tanggal 30 September, dia wajib masuk sekolah. Anak-anak yang belum berusia 6 tahun tapi (ortunya) merasa mampu untuk masuk SD bisa juga daftar sekolah.  Kebanyakan ortu yang saya kenal sih justru reluctant memasukkan anaknya sebelum usia 6 tahun. Bahkan idealnya sih kalau bisa anaknya masuk SD kalau sudah berumur 7 tahun.

‘Mampu’ di sini bukan soal keuangan (karena sekolah di Jerman kan gratis) melainkan si anak dianggap mampu untuk belajar akademik seperti baca tulis, berhitung, juga duduk lama di bangku sekolah, konsentrasi, bertanggungbjawab dengan PR… hal-hal seperti itu yang sebelumnya nggak diajarkan di TK.

Pada bulan Juli 2018 kami mendapat surat dari kabupaten yang menyebutkan bahwa pada tahun 2019 Flipper merupakan anak wajib sekolah. Di surat tersebut ditulis sekolah-sekolah yang lokasinya berada di jangkauan jalan kaki rumah kami. Kami tidak harus mendaftar di sekolah tersebut, bisa juga daftar di sekolah lain tapi sekolah yang dekat dari rumah selalu dianjurkan supaya anak nantinya bisa jalan sendiri ke sekolah. Kemandirian memang diajarkan sedini mungkin di sini.

Kami beruntung ada 2 sekolah yang dekat rumah, SD A dan SD B. Kalau dilihat dari jaraknya, kedua sekolah itu berjarak kurang lebih sama yaitu 1,2 km dari rumah tapi sekolah A lebih menjadi favorit anak-anak di kompleks perumahan karena aksesnya lebih mudah (tidak melewati kawasan sepi). Dengan pertimbangan akses yang lebih mudah tadi dan juga karena banyak anak tetangga dan anak-anak dari TK Flipper yang bersekolah di SD A itu (Flipper jadi punya barengan untuk berangkat-pulang sekolah dan banyak temannya di sekitar rumah kalau mau main atau bikin peer bareng), maka pilihan kamipun juga ke SD A.

Di kota saya ada 4 SD dan semuanya mendapat reputasi yang bagus. Tidak ada SD favorit atau SD yang jelek. SD privat juga nggak ada. Kalau mau anaknya sekolah privat, paling dekat harus ke kota Cologne, 20 minutes away naik kereta atau sekitar 1 jam naik mobil saat rush hour.

Pada bulan Oktober 2018 kami mendapat jadwal untuk mendaftar di SD A tersebut. Si Flipper harus ikut karena selain urusan paperwork, kepala sekolahnya juga mau berkenalan langsung dengan calon siswa baru. Di acara pengenalan ini, selain ngobrol-ngobrol dengan kepala sekolah, ada test kecil-kecilan yang harus ditempuh Flipper. Dia disuruh menulis nama depan dia lalu disuruh menghitung ada berapa pensil yang ada di box dan harus memisahkan berdasarkan warnanya. Yang terakhir dia disuruh menyusun cerita bergambar secara kronologis: gambar karet balon > ditiup > jadi besar > terbang tertiup angin > nyantol ke pohon berduri > balon meletus. Easy peasy, test passed! Lalu pak Paul, nama kepala sekolahnya itu bertanya Flipper nanti pengen sekelas dengan siapa? Flipper menjawab dia ingin sekelas dengan Clara. Pak Paul menulis nama Clara di notice book-nya.

Sebuah gesture yang bagus dari pihak sekolah untuk menanyakan soal teman sekelas ini. Di kemudian hari, si Clarapun bercerita bahwa ketika Pak Paul bertanya dengan siapa dia ingin sekelas, Clara menjawab ingin sekelas dengan Flipper maka sudah bisa dipastikan bahwa Flipper dan Clara bakalan sekelas kalau dua-duanya diterima di SD ini.

Setelah pendaftaran usai, kita mendapat jadwal untuk periksa kesehatan. Iya, untuk masuk SD anak-anak harus melakukan test kesehatan yang dilakukan oleh dinas kesehatan (bukan dokter yang kita pilih sendiri). Jadwal test kesehatan Flipper jatuh pada tanggal 30 January 2019. Apa saja yang harus dilakukan Flipper di test kesehatan?

Test kesehatan ini dilakukan di gedung sekolah A. Pertama-tama kami masuk ke ruang A. Di sini Flipper diukur tinggi dan berat badannya, dicek mata dan telinganya lalu disuruh menggambar orang dan rumah. Soal menggambar, test ini tidak menilai estetika gambarnya tapi lebih pada kemampuan si anak mengamati dan mengenali bentuk-bentuk banal di sekitarnya yang artinya kalau gambar orang ya harus ada tangan, kaki, mata, telinga, mulut dan hidungnya. Kalau gambar rumah ya harus ada pintu dan jendelanya. Setelah sukses di ruang A. Flipper diajak masuk ke ruang B. Di sini dia diminta melakukan test fisik seperti meloncat dari samping kanan ke ke kiri dan vice versa lalu berjalan di atas garis yang ditentukan. Lalu bu dokter mengeluarkan sebuah kertas yang bergambar beberapa bujur sangkar berwarna-warni. Flipper harus menghitung bujur sangkar yang berwarna putih saja. Ada 20 seingat saya. Bu dokter lalu menutup mulutnya dan mengucapkan random word yang nggak ada artinya semacam blakoradu, kureladimoh… Ini saya ngarang ya words-nya, tapi memang beneran kata-kata ngawur gitu deh dan Flipper harus menirukannya. Masih ada beberapa test yang dilakukan Flipper di sini, saya lupa detilnya.

Test kesehatan ini berjalan kurang lebih 45 menit. Setelah test kesehatan selesai, kami langsung mendapat surat yang menyatakan bahwa Flipper fit, bisa masuk sekolah dan tidak diperlukan pemeriksaan lanjutan. Alhamdulillah. Sekedar info, kalau si anak tidak fit, atau punya penyakit tertentu maka dia juga tidak harus masuk sekolah meskipun usianya sudah 6 tahun. So far yang saya tahu, dari 12 anak di TK Flipper yang harus masuk SD tahun ini, ada satu anak yang gagal test kesehatan sehingga harus tinggal di TK 1 tahun lagi. Ada juga yang hanya gagal test randow words, tetep bisa masuk SD dengan syarat dia harus ikut speech therapy.

Setelah test kesehatan usai sebenarnya persyaratan masuk SD sudah dilaksanakan semua tapi kami masih harus menunggu surat pemberitahuan resmi yang menyatakan apakah Flipper diterima di sekolah ini atau tidak di mana suratnya baru datang Sabtu kemarin (6 April 2019). Datangnya pas banget, pas kami baru pulang dari beli Schulranzel (ransel sekolah) yang merupakan bagian penting buat anak SD. Eh kok beli ransel duluan padahal belum dapat surat resmi? Yah kami percaya saja kalau Flipper masuk SD. Kalaupun nggak diterima di SD A pasti bisa dimasukkan ke SD yang lain karena ya itu tadi, dia anak yang wajib masuk sekolah dan sudah lolos test kesehatan.

IMG_3357blog
Saya yang bukan fans Schulranzen seneng berat Flipper memilih ransel warna ini, nggak banyak motif, nggak rame warnanya. Badgenya sih bisa dibongkar pasang.

Nanti kami akan mendapat surat lagi yang menyatakan Flipper bakalan masuk ke kelas mana dan ada juga meeting yang membahas tentang Einschulungstag, hari pertama masuk SD (cerita khusus soal Einschulungstag dan ransel sekolah ‘khusus’ ini pernah saya tulis di sini).

Dari pihak Kindergarten sendiri ada beberapa aktifitas khusus untuk anak-anak yang mau masuk SD. Di TK Flipper namanya Maxi-Kinder. Tiap 2 bulan sekali anak-anak Maxi-Kinder ikut excursion bersama guru-gurunya di antaranya ke pos pemadam kebakaran, ke konser musik, ke bandar udara, ke pelabuhan. Selain itu di bulan Juni 2019 nanti (tanggalnya lupa) Maxi-Kinder harus melakukan ‘percobaan’ di SD. Mereka masuk SD 3 hari berturut-turut untuk pengenalan kayak gimana sekolah di SD itu yang pastinya berbeda banget dengan di Kindergarten.

Lama yah proses masuk SD…mulainya sudah dari bulan Juli 2018 sedangkan masuknya masih nanti tanggal 29 Agustus, lebih dari setahun bo! Saya nggak tahu sih gimana dulu proses masuk SD saya di Indonesia tapi pastinya nggak sampai setahun. Saya ingatnya pas lagi asyik main ayunan di TK, dijemput Papa trus diajak ke SD yang letaknya tidak jauh dari TK saya. Di situ saya diwawancari tanpa orang tua, papa menunggu di luar. Salah satu pertanyaannya adalah kenapa saya pengen masuk ke SD itu dan jawaban saya adalah (sesuai arahan papa sebelumnya) karena kakak saya juga sekolah di situ. Udah itu doang ingatnya 😀

Kalau di tempat kalian gimana sistemnya anak masuk SD? Ribet nggak?

Advertisements

6 Comments Add yours

  1. ameliasusilo says:

    Aku jadi ada bayangan.. suka bacanyaaa.. makasiii..

    Waa tiba2 udah masuk SD, aku masih inget ada postingan di IG Flipper main cekbecek gitu pulang TK masih kecil. Waktu berlalu cepat yaa

    Like

    1. zbethz says:

      Sama-sama Mia. Meskipun Altezza masih lama masuk SD (3 tahun lagi ya?) tapi ntar nggak terasa lho Mia… tiba-tiba jreng! Einschulungstag!🥰

      Like

      1. ameliasusilo says:

        2 tahun atau 3 ya.. anak Desember dia ikutnya yg berikutnya berarti kan? huhuhu.. masih pingin peluk2 anak keciil

        Like

      2. zbethz says:

        Berarti ntar Altezza ikut tahun depannya pas dia umur 6 tahun 8 bulan Mia. Pasti masih maulah si bocah dipeluk tapi memang udah nggak kecil lagi huhu…

        Like

      3. ameliasusilo says:

        Peluuuk mama Beth aja deh kalo gituuu

        Like

      4. zbethz says:

        Berpelukaaan 🤗🤗

        Like

Leave a Reply to zbethz Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s