Persiapan Trip ke Jepang

Kurang dari sebulan lagi terbanglah kami ke Jepang. I’m so excited! Soalnya Jepang nih masuk ke bucket list sayah… Kalau semua lancar insyalaah Jepang bisa dicoret dari bucket list deh… Yay! (Trus masukin yang baru di list haha!)

Anyway, tentang visit Jepang nih, bagi orang lain mungkin buat ke Jepang ya enak tinggal terbang aja tapi buat saya persiapannya berbulan-bulan boo. Kenapa? Karena begitu hubby ok dengan tujuan liburan kali ini, sayapun langsung semangat mengurusnya padahal waktu itu masih bulan September tahun lalu 🤣 Tapi serius, liburan ke Jepang kali ini buat saya banyak banget persiapannya. Biasanya kalau liburan di tempat lain kan cukup mencari tahu children friendly place to sleep and to see aja, buat Jepang kali ini more than that. Entahlah, mungkin karena Jepang nggak pake ABC, saya udah nervous duluan, takut lost in translation! Oh iya, kali iya saya yang organize liburannya. Kami kan suka gantian ngurus liburan tiap tahun, tahun lalu D yang organize semuanya di Spain.

Jadi ceritanya waktu itu kita galau mau kemana. Harusnya tahun 2019 ini jadwalnya ke Indonesia sih tapi ada beberapa alasan kenapa kami nggak pengen ke Indonesia kali ini, yaitu:

1. Ada pemilu. Gak pengen ke Indonesia sebelum Pemilu. So what? Datang aja sesudah pemilu… but

2. Flipper Agustus besok masuk SD dan banyak appointment yang berhubungan dengan pendaftaran sekolah (wawancara, test kesehatan, trial days) dan selain itu sebagai anak Vorschulkind (anak yang mau lulus TK), banyak kegiatan dan trips yang diadakan oleh TKnya yang sayang banget kalau dilewatkan seperti misalnya circus project, visit airport, visit pemadam kebakaran, dll.

3. Kesempatan terakhir mengambil liburan di luar high season sebelum Flipper masuk SD dan kesempatan ini dipake ke Jepang yang konon mahal. ‘Konon’ karena hanya dengar dari sana-sini, kan belum mengalami langsung. Mahal dan murah itu sebenarnya subjective ya tapi nanti deh setelah pulang dari Jepang at least saya bisa membandingkannya mahal murahnya dengan liburan di negara lain yang sudah kami kunjungi. Jadi intinya kalau nggak sekarang, jangan-jangan kita nggak bakalan nyampe Jepang 😀

So let see, persiapan apa saja yang sudah saya lakukan so far ( di luar proses beli tiket pesawat dan proses apply visa). Btw ini sekedar my preference aja ya, siapa tahu bisa jadi acuan buat first timer yang lain.

Memutuskan mau mengunjungi/ melihat apa saja

Yup, mau melihat apa saja selama di Jepang ini adalah persiapan pertama yang saya lakukan untuk mempermudah proses liburan selanjutnya. Bila kita sudah tahu mau melihat apa saja – di kota apa, maka bisa diputuskan deh mau menginap di kota mana. Tokyo buat kami sudah wajib, selain gampang cari tiket pesawatnya, di sana juga banyak yang ingin kami lihat. Kyoto menjadi tujuan kedua kami dan kota tujuan ketiga adalah Kanazawa.

Transportasi antar 3 kota- JR PASS

Seorang teman yang udah beberapa kali ke Jepang mentioned tentang Japan Rail Pass. JR Pass ini berguna banget bila kita ingin pindah-pindah kota selama di Japan. Kalau hanya stay di Tokyo saja sih, it’s not necessary. Dilihat sekilas, harga JR Pass untuk 7 hari, apalagi 14 hari memang mahal tapi bila dibandingkan dengan harga tiket satuan untuk travelling antar kota, dengan JR Pass kita bisa menghemat banyak banget.

Karena kami memutuskan untuk menggunakan JR Pass selama 7 hari saja, maka saya mengatur itinerary-nya sedemikian rupa sehingga JR Pass kami bisa dipakai ketika kami pindah-pindah kota which is: Day 1-4: Tokyo > Day 4 -8: Kyoto > Day 8 – 11: Kanazawa > Day 11 – 15: Tokyo again

Jadi JR Pass adalah Pass yang bisa digunakan untuk naik bullet train (shinkasen) antar kota. Dengan bullet train kita bisa menghemat banyak waktu. Harga JR Pass untuk 7 hari 231€/ Adult. Untuk 14 hari 367€ (Harga bisa berbeda 1-5€ tergantung vendor yang jual). JR Pass ini hanya disediakan untuk foreigner, dan biasanya belinya nggak bisa di Jepang, harus dibeli sebelum kita sampai di Jepang. Menurut website ini, saat ini sampai dengan Maret 2020, JR Pass bisa juga dibeli di Jepang tapi saya membelinya duluan supaya pas di Jepangnya nggak repot lagi mikirin JR Pass.

Selain untuk transportasi antar kota, JR Pass sebenarnya bisa digunakan untuk naik kereta lokal juga yang ada tulisan JR-nya, tapi kalau hanya di dalam kota saja tak perlu beli JR Pass karena jatuhnya terlalu mahal banget.

Keterangan lengkap tentang JR Pass dan bagaimana mengaktifkannya bisa dilihat di website vendor ini ya. Di vendor ini pula saya membeli JR Pass di dengan pertimbangan mereka punya cabang di Jerman sehingga kalau ada urusan dengan custemor service dan delivery-nya lebih mudah (dalam negeri). Oh iya, JR Pass ini merupakan pass yang berbentuk fisik, tidak bisa di-print sendiri.

jr pass
Dua tiket pembelian JR Passes (Flipper belum 6 tahun jadi masih gratis) yang ketika tiba di Jepang nanti harus ditukar dengan pass yang sebenarnya. User guide termasuk di delivery package.

Noted: Buat saya, menentukan apa saja yang mau dilihat/ dikunjungi sebelum beli JR Pass lebih mudah karena saya membatasi JR Pass hanya untuk 7 hari. Tapi kalau soal waktu tidak terbatas, bisa juga beli JR Pass duluan untuk 14 atau 21 days lalu baru menentukan mana saja yang mau dikunjungi.

Keterangan untuk transportasi di kota Tokyo, scroll ke bawah ya.

Mencari Penginapan

Setelah kota dan tanggal menginap di tiap kota sudah ditentukan, saatnya mencari penginapan. Pilihan penginapan di Jepang, Tokyo apalagi, sebenarnya banyak dan harganya bervariasi. Ada hotel kapsul, hotel dorm, hotel standard, hotel mewah, hotel apartment, ryokan dan vacation rental. Sekarang tinggal kebutuhan dan budget kita saja mau yang seperti apa. Karena bawa anak kecil, hotel kapsul dan dorm yang satu kamar rame-rame tidak menjadi pilihan. Menginap di ryokan (penginapan tradisional Jepang yang menggunakan tatami dan kasur futon) juga tidak menjadi pilihan karena setelah survey di sana-sini, tidur di futon ini ternyata nggak dianjurkan untuk yang bermasalah dengan punggung (insert emoji ‘lirik suami’) menjadikan pilihan kami hanya terbatas dengan hotel dan vacation rental.

Kalau lagi lihat-lihat penginapan di internet, harus teliti ya. Baca juga review orang-orang yang sudah mengunjunginya. Dari situ pula saya bisa menyimpulkan bahwa kamar hotel di Jepang rata-rata kecil, bayangkan saja, kamar dengan kasur queen size, ukuran kamarnya 8 m2? Trus pas baca reviewnya, banyak yang bilang, there’s no space to restore the suitcase. Ouh. But don’t worry, kamar yang ukuran standard dengan more space pasti ada juga. Pokoknya kalau orang Jawa bilang ono duit ono rupa.

Untuk Tokyo dan Kyoto, kami booking apartment di mana tersedia dapur pribadi, mesin cucinya dan ada enough space buat Flipper kalau dia mau pecicilan. Hanya di Kanazawa saja kami menginap di hotel dimana kali ini 1 king size bed buat bertiga. It’s ok lah cuman 3 hari ini. Kami memang paling nggak bisa berlama-lama untel-untelan tidur bertiga di satu tempat tidur, apalagi kalau 2 minggu. Secara selama liburan kami selalu banyak beraktifitas di luar, sleeping quality penting banget.

Oh iya, saya lebih suka booking penginapan melalui booking.com instead of Air BnB. Saya banyak survey di dua portal tersebut dan menjumpai banyak  penginapan  pasang iklan di kedua portal tersebut, bahkan dengan harga yang sama BUT kenapa saya lebih suka booking di booking.com? Karena di sini policy untuk cancel-nya lebih longgar dari pada di Air BnB. Di Air BnB untuk mendapat full refund, saya harus sudah men-cancel rental 48 hours sesudah booking. Kalau nggak salah di Air BnB namanya strict cancellation policy. Selain strict ada juga yang moderate dan flexible tapi kebanyakan rental yang saya minati di Jepang memiliki strict policy ini.

Di Booking.com cancellation policy tiap rental juga berbeda -beda tapi kebanyakan memberi waktu berbulan-bulan untuk cancel. Secara saya cari hotelnya 7 bulanan sebelum liburan, cancel policy yang longgar ini penting banget seandainya itinerary liburan saya berubah atau sekedar pengen ganti karena nemu penginapan yang lebih asyik.

Pocket Wifi

Selama di Jepang, sangat dianjurkan untuk connect dengan internet. Sebenarnya dimana-mana juga sih ya… Tapi sebelumnya saya nggak pernah bermasalah dengan wifi dan bisa tahan untuk nggak internetan kalau lagi di jalan. Toh malemnya, pas di hotel bisa internetan sepuasnya BUT di Jepang lain. 

Selama di Jepang kita butuh internet selama di jalan dan pocket wifi bisa mewujudkannya. Terus terang, selfie atau moto-moto demi sosmed tidak menjadi prioritas saya mengapa harus pakai pocket wifi tapi demi mencari info transportasi selama di Jepang dan akses Google map. Intinya biar nggak lost in translation. Sosmed mah buat bonus saja. Saya juga sudah mengaktifkan fitur kamera di Google dictionary sehingga nanti kalau nemu kata-kata kanji tinggal di-scan aja. Life is easier, yeah. Secara sebelumnya nggak pernah kepikiran dengan huruf-huruf selain ABC, girang banget deh nemu fitur ini hihi…

Back to the pocket wifi, selama di Jepang kita bisa menyewa pocket wifi ini. Kita bisa apply dan bayar online sesuai berapa lama kita mau menyewanya dan pocket wifi-nya akan dikirim ke hotel tujuan kita atau bisa juga ke counter khusus di bandara sehingga ketika kita landing di Jepang, bisa sekalian mengambil dan mengaktifkan pocket wifi-nya. Sewa langsung di bandara juga bisa tapi harganya lebih mahal dari pada online.

Setelah saya melakukan survey di Tripadvisor, saya memutuskan untuk menyewa pocket wifi dari Genki Mobile. Pocket wifi-nya nanti bisa diambil ketika kami landing di Narita hanya dengan menunjukkan bukti pembayaran yang sudah dikirim via email. Setelah itu kami bisa bisa langsung connect internet demi mencari jalur kereta ke penginapan. Cara mengembalikan Pocket Wifinya juga gampang, kita tinggal memasukkannya ke dalam kotak surat di mana saja termasuk di bandara.

Selain pocket wifi, membeli data-only SIM Cards bisa juga menjadi pilihan. Di internet banyak dijumpai rental pocket wifi dan penjual SIM cards ini, tinggal pinter-pinter ajalah milih yang mana sehingga tidak dapat koneksi yang lelet. Semoga koneksi pocket wifi kami nanti lancar deh.

Public Transport Selama di Tokyo

Sistem public transport di Tokyo ternyata berbeda dengan di Jerman jadi kami musti belajar dulu soal ini. Di Jerman selama kita punya tiket, kita bisa naik bis atau kereta yang mana saja, tidak peduli perusahaan mana yang mengoperasikannya. Di Jepang berbeda karena pemilik fasilitas public transport di Jepang lebih dari satu jadi, say…kalau kita punya tiket perusahaan transport Rahayu, maka kita hanya bisa naik kereta dan bisnya si ‘Rahayu Jaya’, nggak boleh naik kereta/ bisnya si perusahaan ‘Angrek Berbunga’.

Di Tokyo ada tiket diskon yang namanya ‘Unlimited Tokyo Subway Ticket’ (TST). TST ini bisa dibeli untuk 1, 2 atau 3 hari. Tapi don’t get fooled dengan kata ‘unlimited’ karena meskipun unlimited bukan berarti kita bisa naik subway apa saja. Unlimited di sini hanya untuk kereta punya perusahaan Tokyo Metro Line dan Toei Line saja. Padahal selain dua lines tersebut ada juga JR Yamanote Line dan JR Chuo Line. Contoh: kita mau pergi dari stasiun Kasuga (dekat penginapan kami) ke stasiun Mitaka (Ghibli Museum), naiknya Tokyo Metro lalu transit naik JR Chop Line, jadi TST-nya hanya bisa dipakai setengah jalan saja

Di Trip Advisor banyak yang discourage saya untuk membeli tiket ini dengan alasan itu tadi, not really unlimited KECUALI kita memang sudah tahu mau kemana saja dengan jalur Metro dan Toei Line dan make sure bahwa  kita benar-benar sering menaikinya otherwise it’s not worth it.

Check tentang Tokyo Subway Ticket here

Alternatif lainnya adalah dengan membeli IC cards. IC cards ini bukan tiket diskonan melainkan pre-paid rechargable card. Secara kalau wira-wiri di Jepang dibutuhkan banyak uang kecil buat beli tiket angkot, nah dari pada gembol karung isi recehan mending load sejumlah uang ke dalam IC card dan pas mau naik kereta tinggal gesek aja card-nya di gate.

Ada beberapa macam IC Cards tapi yang paling sering digunakan adalah PASMO dan SUICA. Dua cards ini fungsinya sebenarnya sama saja hanya perusahaan yang jual saja yang berbeda. Enaknya IC Cards ini, selain bisa buat beli tiket angkot, bisa juga buat beli snack atau minuman di vending machine dan juga buat bayar di convenience shops.

IC Cards bisa diisi di vending machine di stasiun kereta dan bila liburan kita sudah usai, kita bisa mendapatkan kembali uang yang sisa di card itu. Asyiknya lagi, card ini nggak hanya bisa dipakai di Tokyo tapi juga di kota-kota yang lain.

More about Pasmo and Suica cards, bisa di-check di sini

Kalau mau ngirit mungkin musti tahu dulu semua tempat yang mau dikunjungi lalu check di Hyperdia.com. Di sini kita bisa tahu harga tiket dan jenis keretanya, apakah di-cover Tokyo Subway Ticket atau enggak. Kalau kebanyakan di-cover oleh TST ya enakan ambil itu.

Untuk kami, selain beberapa main destinations seperti misalnya Harajuku dan Mori Digital Museum, kami belum tahu secara detail mau kemana saja selama 7 hari di Tokyo. Flipper misalnya pengen ke cafe kucing tapi cafe kucing di sana banyak banget boo… kita belum tahu mau ambil yang mana hihi…

Oh iya, kami sebenarnya juga pengen ke Ghibli Museum. Ticket masuk Ghibli tidak bisa dibeli di lokasi, harus beli 1 bulan sebelumnya, online atau di Lawson convenience shop di Jepang sana. Nah saya nih udah pasang alarm buat beli tiketnya online ketika pembukaan untuk kunjungan di bulan Mei dibuka pada tanggal 10 April kemarin. Eh ternyata pas buka websitenya jam 9 pagi waktu Jerman, semua tiket untuk bulan Mei udah sold out. Jadi mungkin harus nongkrongin websitenya jam 01:00 waktu Jepang. Sedih deh nggak jadi ke Ghibli 😦

Hmm… saya rasa untuk sementara ini dulu deh yang bisa saya rangkum. Nanti mungkin ada sambungannya atau sambungannya pas udah bener-bener nyampai di Jepang saja. Berikut ini saya tulis lagi website-website yang bisa dilihat untuk keterangan lebih jelas tentang yang saya tulis di post ini. Website ini bukan merupakan affiliates link alias iklan gratisan kecuali dari booking.com. Bila kamu menggunakan link saya untuk reservasi akomodasi di booking.com, saya (dan kamu juga) akan mendapat sedikit komisi dari booking.com

Booking.com (akomodasi)

Hyperdia (Transportation planner)- Note: Hyperdia ini punya App buat IOS dan Android tapi App-nya bayar berlangganan. Mending buka pake browsing biasa di HP.

IC CARDS (Pasmo and Suica) (Kartu yang efisien buat wira-wira naik angkot dan belanja)

JR PASS (Check di sini bila kamu ingin mengunjungi lebih dari 3 kota selama di Jepang)

Japan Guide (info general tentang Jepang)

Tokyo Subway Ticket (Info tentang tiket diskonan TST selama di Jepang)

TripAdvisor (people in Japan forum in TripAdvisor are so helpful!)

Buat yang udah pernah ke Jepang, feel free buat nambah-nambah info atau tips ya… I will be so thankful! ❤

-beth-

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

5 Comments Add yours

  1. anis ketels says:

    Lengkap Beeeth persiapannya, moga-moga lancar jaya nanti yah liburannya! 😊 btw enak juga ya gantian sama suami buat holiday prep-nya, patut dicontoh 😉

    Aku pertama kali ke Tokyo tahun 2007 pas bulan puasa 🤣 karna bukan liburan dan masih oon sama luar negeri jadinya cuma ikut-ikut orang aja hihi.

    Like

    1. zbethz says:

      Amiin… Iya semoga lancaaar. Ini ntar juga pas puasa Nis tapi aku malah seneng karena waktu bukanya lebih cepet dari Jerman 🤣 Tahun lalu puasa panas-panas di Mallorca juga survive, Insyaallah di Jepang juga *sambil membayangkan buka puasa makan bento aneka rasa 😍😍

      Like

  2. shintadaniel says:

    See you in Tokyo, siapatau nanti kita telisipan di jalan.. saya juga mau kesana akhir April s.d awal Mei… hihihi….

    Like

    1. zbethz says:

      Oh kami baru nyampe sana tanggal 14 Mei, masih di sana kah?

      Like

Leave a Reply to anis ketels Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s