Transportasi Umum di Jepang (Tokyo pada khususnya)

Ilustrasi di atas menggambarkan bedanya stasiun kereta yang biasa saya kunjungi di Eropa atau Indonesia dan yang ‘tak biasa’ di Jepang. Jadi jangan kaget kalau musti jalan kesana-kemari ketika ganti koneksi kereta di stasiun. Aslinya area stasiun kereta lebih ruwet dari ilustrasi di atas ya… Ini karena saya nggak pinter aja menggambarkannya.

Kenapa bisa ruwet begitu stasiunnya? Karena di Jepang, perusahaan transportasi itu tidak hanya ada satu atau dua melainkan lebih dari 17! 17 itu baru nama perusahaannya doang ya… Tiap perusahaan itu memiliki jalur (line) lebih dari satu.

JR (Japan Rail) adalah perusahan transportasi milik pemerintah Jepang yang memiliki 11 lines di seluruh Jepang dan setidaknya ada 6 yang beroperasi di Tokyo saja. Bullet train Shinkansen ini termasuk salah satu line milik JR. 16 + perusahaan lainnya adalah milik swasta. Jadi kalau kita ganti koneksi kereta dan harus mengambil koneksi dari parusahan yang berbeda, maka kita harus pindah area dulu. Setiap masuk ke area baru, kita musti check out dari area sebelumnya dan check in ke area selanjutnya. Makanya stasiun kereta di sana kebanyakan gede-gede dan mbulet. Untuk jalan dari area 1 ke area 2 aja ada yang jaraknya hampir 1 km. The good news is, menggunakan koneksi kereta yang berasal dari perusahaan yang berbeda-beda itu tidak sesulit kedengarannya. Semua petunjuk arah dan nama ditulis dengan jelas, ada versi bahasa Inggrisnya. At least begitulah yang saya lihat di Tokyo, Kyoto dan Kanazawa.

Selanjutnya, ada 3 alternatif yang bisa digunakan untuk naik public transport:

1. Beli tiket eceran.

Di dekat mesin automatic gate buat masuk dan keluar, selalu ada vending machine buat beli tiket kereta. Kita bisa beli tiket satuan di sana. Setahu saya ticket eceran hanya bisa dibeli dengan uang cash. But i might be wrong. Tiket yang bentuknya kecil ini, dimasukkan ke dalam slot di dalam automatic gate ketika kita masuk ke dalam paid fare zone. Istilah kita sih check-in. Tiketnya akan keluar lagi di mesin yang sama. Tiket harus diambil lagi, disimpan jangan sampai hilang karena nanti di stasiun tujuan, tiketnya harus dimasukkan lagi ke auto gate ketika mau keluar dan tiketnya akan ‘dimakan’ oleh gate ini alias nggak keluar lagi (check out)

2. Beli IC Cards.

Metode ini yang kami gunakan selama di Jepang. Kami beli IC Cards dari Suica. Selama 2 minggu di Jepang kami mengisi Suica Card kami sebanyak 19.700 Yen (sekitar 160 €) untuk berdua dan masih sisa sekitar 400 Yen di each cards ketika kita meninggalkan Jepang.

Cara menggunakan IC cards, instead of memasukkan kartunya ke slot, kita cukup meng-scan kartunya ke card reader aja. Scan ketika check in dan scan lagi ketika check out. Saldo yang ada di IC Card bisa langsung dilihat di auto gate saat check-in check-out itu tadi.

Btw 19.700 Yen untuk IC Cards itu nggak hanya kami pake buat transport aja ya tapi juga buat belanja keperluan di inconvenience stores, meskipun nggak banyak… Mungkin sekitar 4000 Yen saja. Saat meninggalkan Jepang, saldo kami masih ada sekitar 400 Yen di setiap kartu. Sempat kepikiran mau mengembalikan kartunya sehingga uang sisanya bisa balik tapi, ah total 800 Yen itu kan cuman sekitar 6€, mending simpan aja kartunya, dibawa pulang buat kenang-kenangan. Lagian nih, IC Cards ini berlaku sampai 10 tahun lho, jadi bila ada rejeki, saya masih bisa menggunakan saldo yang sisa itu next time di Jepang lagi hihi… Amiiin!

IC Cards berlaku juga di Kyoto tapi di Kanazawa tidak bisa untuk naik angkot (not sure kalau untuk belanja, kami nggak mencoba).

3. Beli Unlimited Metro Subway Ticket.

Rencananya untuk di Tokyo, disamping IC Suica Card, kami mau beli tiket Unlimited Metro Subway ini. Mak-mak kan maunya ngirit di berbagai segi supaya bisa shopping banyak ya tapi ternyata setelah paham dengan sistem perkeretaan di Jeang, kami merasa IC Cards lebih praktis penggunaanya.

Jadi Unlimited Subway Ticket ini ada pilihannya untuk 1, 2 atau 3 hari tapi instead of unlimited bisa naik kereta local apa saja, tiket ini hanya berlaku untuk kereta miliknya Tokyo Metro. Seperti yang sudah saya tulis di atas, perusahaan kereta di Jepang ini banyak banget dan untuk jalur dari A ke B itu kita bisa gonta-ganti lines milik perusahaan kereta yang berbeda-beda, nggak hanya punya Tokyo Metro

Screenshot yang saya buat dari official websitenya Tokyo Metro: https://www.tokyometro.jp/en/ticket/travel/index.html Tokyo Metro dan Toei Subway itu seperti saudara tiri. Mereka berdua punya lines sendiri-sendiri tapi bapaknya (perusahaannya) sama yaitu Tokyo Metro

Nah 1500 Yen (sekitar 12€) untuk 3 hari kalau dipikir memang murah dengan catatan kita naiknya kereta milik Metro Tokyo saja, kalau enggak ya tetep aja harus nombok beli tiket eceran atau pake IC cards juga untuk lines non Tokyo Metro

Kalau mau ngirit dan mau repot, bisa sih semua harga transportasinya di-cek dulu di Hyperdia. Di situ bisa dilihat kita naiknya kereta milik Metro apa enggak. Yang bukan Metro, brp nomboknya? Saya sayangnya nggak bisa saklek gitu jadwalnya…Ada beberapa skedul yang terencana tapi banyak juga yang spontan jadi buat kami hanya pegang IC Cards aja lebih praktis. Intinya Unlimited Metro Subway Ticket ini worth it bila sering naik kereta miliknya Tokyo Metro. Harus sering ya,karena aslinya harga tiket kereta local di Jepang itu nggak mahal.

Suica Card dan tiket untuk Shinkansen. Tiket kereta local yang beli eceran gedeny ahanya 1/3 dari tiket Shinkansen. Atau malah 1/4 ya.. Hm… kecil pokoknya! Kami hanya sempat lirik punya orang soalnya haha…

Tips buat naik angkot di Jepang:

  1. Before using the train, keep in mind that you have to get up and down the stairs many times, walk here and there to go to different paid fare zones. So please take time. If you are in a rush, maybe better call a taxi but then it could be traffic jam. So stick with the take time.
  2. Most train stations have escalator and elevator but either they don’t cover all level of the floors or they’re in hidden place. Study the station plan if you have heavy luggage.
  3. Don’t make appointment to meet someone in front of train station unless you know exactly which entrance/ exit you meant. The train stations has sooo many exits/entrances. The distance from entrance 1 to entrance 18 could reach 1 km and could be in really different side of the town! So please make it clear or just meet in different place!
  4. If you’re not sure about everything, just ask! People are nice there. I once, tried to study all the signs in Ueno station (THIS station is huge!) and I’m sure that my face was pretty odd that a train station attendant approached me and ask if I need a help.
  5. If you have big luggage, avoid taking the train in rush hour (7-9 Am and 5-7 Pm).

Setelah pulang dari Jepang, pak suami bilang dia nggak mau lagi naik angkot selama setahun karena sudah menghabiskan too much time di stasiun selama di Jepang haha… So yea, go figure!

2 Comments Add yours

  1. shintadaniel says:

    Aku gak nyangka ternyata naik kereta di Jepang (Tokyo khususnya) selelah ituuuu, apalagi bawa 2 anak dan yg 1 selalu minta gendooooong… pulang holiday badan remuk redam.. hahaha…. pengalaman yg ga terlupakan…

    Like

    1. zbethz says:

      Ya kan… ya kan… Pulang dari Jepang aja suamiku kecapekkan dan ngajak liburan lagi, tapi yang bener2 relaxing katanya haha… Anakku seneng di Jepang especially di stasiun karena dia bisa naik turun escalator sepuasnya. Maklum anak ndeso, di kota tmp kami tinggal cuman ada 1 bangunan yangada escalatornya, duh 😀

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s