Lanjut Luntang-Luntung di rumah

Ya, seperti postingan sebelumnya, kali ini masih tentang Covid-19. Kemarin lusa tante Angie (Angela Merkel) berbicara di press conference, mengatakan bahwa pemerintah Jerman memperpanjang semi lock down hingga tanggal 4 Mei. Jadi another two weeks stay at home for us. Alhamdulillah dengan keterbatasan di sana-sini, sejauh ini kami masih merasa nyaman dengan kebijaksanaan ini dan ini kami syukuri banget karena bagi sebagian orang menghadapi restriction ini tidaklah mudah.

Semalem hubby cerita tentang sahabatnya yang tinggal di hometown-nya dia sana. Si sahabat ini sedang stress berat dengan adanya kebijaksanaan stay-at-home. Sahabatnya ini adalah koki senior di sebuah hotel yang saat ini harus tutup jadi si sahabat ini sehari-hari ya di rumah saja. Soal pekerjaan, dia tidak terlalu kuatir, ada jaminan bahwa dia tidak akan kehilangan pekerjaan dan gaji tetap mengalir meskipun tidak bekerja. Yang menjadi masalah adalah dia tidak bisa menghadapi kesendiriannya di rumah terlalu lama. Si sahabat ini seperti halnya hubby, sudah berkepala empat tapi masih single. Dia kebingungan sendiri dengan apa yang harus dilakukan setiap hari di rumah sendirian dan mulai meragukan keputusannya dulu untuk being single.

Sementara itu kolega hubby di kantor, seorang perempuan muda juga mengalami stress. Kolega ini sebelumnya tinggal bareng dengan pacarnya tapi mereka putus beberapa bulan yang lalu dan si mbak ini lumayan bisa melupakan cowoknya dengan cara sering hang out bersama teman-temannya tapi dengan adanya Covid-19 ini, dia jadi kebanyakan sendiri di apartment, ingat pacarnya terus dan nangis-nangis sendiri. Akhirnya demi kesehatan mentalnya dia pindah sementara ke tempat orang tuanya lagi.

Lalu ada kolega kerja saya. Si kolega ini menderita depresi dan sempat masuk klinik rehabilitasi beberapa kali. Dia terakhir masuk klinik bulan February kemarin selama 1 bulan. Waktu di klinik, kami sempat ngobrol di WA dan dia cerita bahwa dirinya merasa keadaannya sudah lebih baik. Tepat pas dia keluar dari klinik, dengan harapan bisa bekerja dan hidup dengan normal lagi, eh di Jerman malah sedang semi lock-down, toko tempat kami kerja tutup dan aktifitas kita sehari-hari dibatasi. Di satu sisi teman saya ini senang bisa berkumpul kembali dengan anak dan suaminya tapi di satu sisi dia juga kembali depresi dengan keadaan saat ini dimana orang tidak bisa beraktifitas normal.

Trus ada sahabat saya di sini, perempuan asal Italy yang tidak mau keluar rumah sama sekali sejak tanggal 16 Maret kemarin. Sebenarnya aturan semi lock down di Jerman tidaklah terlalu ketat dibanding Italy atau Prancis (makanya disebut SEMI). Kita masih boleh keluar rumah beberapa kali dalam sehari. Mau belanja 10x sehari pun juga bisa. Kami tidak perlu mengisi formulir untuk keterangan ngapain keluar rumah. Asalkan selalu jaga jarak minimal 2 meter dan tidak lebih dari 2 orang (kecuali untuk urusan pekerjaan atau untuk keluarga yang tinggal serumah), kita masih bisa jalan-jalan. Tapi teman saya ini benar-benar tidak mau keluar rumah sama sekali, buang sampah ke depanpun nggak mau. Mungkin orang lain menganggapnya berlebihan tapi bila melihat bagaimana keadaan di kampung halamannya di Italy, saya maklum apalagi beberapa temannya sudah ada yang meninggal dunia di Italy.

Sebelumnya saya sempat mikir bahwa yang paling bisa menikmati stay-at-home ini adalah yang single; bisa tidur pagi, bangun malem… Bisa fleksibel ikut kursus-kursus online yang sedang banyak gratisnya saat ini. Bisa baking, masak ini itu tanpa harus considering selera orang yang tinggal serumah, nggak ada yang ngrecokin kalau seharian hanya pake celana kolor atau bahkan tidak mandi beberapa hari… Pokoknya bisa bebas mau ngapain saja. Untuk keluarga yang tinggal di rumah tipe 4L (lu lagi lu lagi-saking seringnya ketemu di tiap sudut rumah :D), kami musti toleran berusaha membuat suasana stay-at home senyaman mungkin karena kalau enggak pasti jadi saling senggol bacok 😀 Ternyata buat yang single atau yang sudah berkeluarga, restriction ini sama-sama tidak mudah meskipun mungkin beda-beda tantangannya.

Bagi kami di sini, prioritasnya adalah Flipper. Karena Flipper anak tunggal dan masih dalam tahap perkenalan di sekolah, buat kami penting untuk menjaganya supaya dia tidak bosan dan tidak kehilangan semangat belajar meskipun tanpa teman-teman dan gurunya. Bosan sedikit bolehlah karena justru rasa kebosanan itu yang justru membuat anak menjadi kreatif.

By the way, di postingan sebelumnya saya cerita bahwa Flipper tidak bisa main lagi dengan anak tetangga sebelah, tapi rupanya hal itu tidak bertahan lama. Anak tetangga yang kecil (yang kirim surat cinta ke Flipper :D) nangis-nangis tidak bisa main dengan Flipper. Akhirnya tetangga sebelah dan kami sepakat bahwa anak-anak boleh main bersama, anak mereka dua orang plus Flipper. Mereka hanya boleh main di jalanan depan rumah atau di halaman belakang, tidak boleh masuk rumah. Selama mereka main, kami para orang tua, gantian mengawasi mereka jadi kami yang dewasa tetap jaga jarak. Saya senang tetangga dan kami sepakat dengan karena bagi Flipper dan juga anak-anak yang lain, bermain dengan teman sebayanya meskipun terbatas, sangat penting to keep them sane.

Bukan berarti kami jadi nggak punya kendala dengan stay-at home ya… tapi kendala kami selama ini nggak penting-penting amat sih… misalnya karena salon tutup, saya terpaksa harus potong poni sendiri dan hasilnya diluar keinginan. Saya juga tidak bisa maksimal beberes rumah karena dua penghuni rumah yang lain selalu keluar masuk rumah seenaknya (Rumah tipe 4L itu tadi). Yang pasti Covid-19 ini memberi efek yang berbeda-beda kepada setiap individu baik ekonomi, fisik maupun mental. Saat ini kami masih santai, tapi entah bagaimana dengan besok atau minggu depan atau bulan depan? We never know.

Oh ya kapan itu sempat ngobrol dengan beberapa teman yang saking takutnya kena loncatan virus, kalau mau papasan dengan orang, dia langsung balik badan untuk menghindari papasan. Saya sih tidak begitu-begitu amat, asal masih jarak aman. Ada juga curhatan tentang orang-orang yang kalau papasan mukanya jadi pada tegang karena takut ketularan itu tadi. Di lingkungan tempat saya tinggal, saya merasa, orang-orang justru lebih ramah dan legowo padahal biasanya orang-orang Jerman itu kan serius dan jutek mukanya. Mungkin udah pada pasrah kali ya, memang begini keadaannya, mau mau bagaimana lagi?

Misalnya waktu belanja, kami harus antri lama demi jaga jarak. Kadang sebel juga sih melihat orang memilih apel saja lama banget… tapi saya kan kadang begitu juga, milih stroberinya hati-hati dan lama biar nggak dapat yang rusak jadi saling senyum sajalah dengan sesama customer. Pernah kapan itu sebel banget dengan orang yang sedang mencari ragi roti. Sudah jelas-jelas di rak nya ada tulisan ragi habis eh dia geser-geser barang dagangan yang blain, mencari-cari siapa tahu ada ragi yang ketlisut. Duh.

Jalur kasir di supermarket yang dibatasi sekat putih.

Untuk saya pribadi nih, efek bagusnya restriction ini membuat saya lebih sabar dan juga bisa menahan nafsu untuk tidak sering-sering online shopping. Pada awalnya sih saya mikir; kalau tidak bisa belanja offline sesukanya, ya online shopping ajalah… tapi sekarang saya mikir, kasian lah orang- orang yang bekerja di warehouse-nya Amaz*n atau kurir paket/ post yang gara-gara Covid-19 pekerjaan mereka menjadi overload melebihi saat menjelang Natal. Hanya saja saat ini ada resiko terjangkit penyakit. Kalaupun memang harus online, saya usahakan hanya barang-barang yang penting saja dan kalaupun belanjanya lewat Amaz*n, saya usahakan cari third party seller, bukan dari Amaz*nnya, dengan begitu saya ikut men-support bisnis kecil dalam krisis ini.

Di kota tempat tinggal saya banyak juga toko-toko yang meskipun tutup masih menerima jasa pembelian dengan sistem delivery tapi sepertinya untuk toko-toko yang tadinya tidak punya konsep online, urusan pesan memesannya masih ribet. Saya sempat mau beli sesuatu di toko lokal sesuai petunjuk saya tulis pesan di WA. 24 jam tidak ada reaksi, saya tanya lagi dong… bisa nggak beli? Ada nggak barangnya? Eh yang jual balasnya kasar, nyuruh saya sabaran nunggu. Err… Kalau nunggu barangnya datang sih nggak papa, ini mah nunggu konfirmasi bisa beli atau enggak. Dan karena reply-nya kasar, ya sudahlah nggak saya balas lagi. Alhasil saya beli di toko lain via Amaz*n dimana barangnya datang dengan cepat, disertai bonus 1 roll toilet paper dan sticker yang bertuliskan: thank you to support small business.

Kamu bagaimana? Masih merasa nyaman belanja di supermarket kah? Atau lebih suka pake jasa delivery?

4 Comments Add yours

  1. denaldd says:

    Maaf buk, saya jarang mandi tapi ga ada yg ngerecokin 😅(sekarang lagi sering mandi, karena ongkep hawanya. Panas)

    Like

    1. zbethz says:

      Termasuk beruntung berarti dirimu, nggak ada yang ngrecokin 😄 Koloran aja juga kah?

      Like

  2. ohdearria says:

    Aku masih ke supermarket seminggu sekali sih. Dsini supermarket dan essential shops masih buka tapi mall or yg non essential tutup. Semua regions dan borders juga ditutup jadi asli ga bisa kmana mana dulu. Good news nya, per Sunday kmarin di Western Australia only 1 case of covid so hopefully, am praying, we will be get over this perhaps soon?
    Untung the boys uda remaja so they can entertain themselves😅 so I feel you. Stay safe and healthy darling😘

    Like

    1. zbethz says:

      Kami sekarang 2 minggu sekali ke spm, biasanya seminggu sekali juga. Mulai hari ini toko-toko yang luasnya di bawah 800 sq2 juga udah boleh buka tapi kayaknya bakalan diketatin lagi next time krn banyak yang nggak setuju dengan keputusan kelonggaran restrictions ini 🤷🏻‍♀️ We‘ll see… You too dear, stay safe and healthy!

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s