Tidak Bisa Berhenti Cium

IMG_6322eSlogo

Pagi tadi seperti biasa saya mengantar Flipper ke TK, mengantarnya sampai ke kelasnya, ngobrol sebentar dengan gurunya lalu pamit, cium pipi kanan kiri si Flipper. Tapi tadi sebelum cabut saya sempatkan dulu membaca papan pengumuman di lobby TK, siapa tahu ada yang penting.

Melihat saya masih di lobby, si Flipper bolak-balik keluar masuk kelasnya nyamperin saya dan pamit berkali-kali sambil cium pipi lagi itupun jaraknya nggak lama wong saya nggak lebih dari 10 menit berada di lobby. Setelah yang ke-empat kalinya cium pipi akhirnya Flipper bilang: Mama, bisa nggak kalau mama pergi sekarang? Kalau mama di sini terus aku nggak bisa berhenti cium mama. Wah yang ada malah dia ta dekap erat dan cium klowoh nggak pulang-pulang sayanya…<3 ❤ Love my baby!

 

Childhood Idol

Last Sunday hubby took Flipper and her friend to watch Disney interactive movie in Cinema. The girls got goodie bags inclusive 2 posters from the event. Since then Flipper decided to like the Disney characters, Kion and Sofia, so much and had been busy arranging the best spots to hang the posters in her room. Sometimes here, sometimes there. Today finally she made up her mind that her room is not a good place for the posters. So now the Sofia poster is in bathroom and Kion poster is in living room. OK. Fine. I guess later she will move them somewhere else again.

kion

I started with poster collection as I was older than Flipper now, as I no longer toddler or threenager for sure! And I didn’t start with a cute animal or imaginary princess  posters but handsome boys like Axl Rose, Sebastian Bach and Nuno Bettencourt. Ah by the way I did love The Famous Five and The Three Investigators too but I didn’t have their poster 😦 How about you? Who’s your so-called childhood or teenagers idol? 

Karneval di Cologne

img_2754esblog
Saya bersama para heroes 😀

Seperti yang pernah  saya tulis di postingan tentang pasar Natal beberapa waktu yang lalu, salah satu hiburan di musim dingin yang tak kalah rame di sini adalah Karneval. Karneval ini resminya adalah ritual yang dilakukan oleh umat Roman Catholic sebelum LENT ( periode di antara Rabu Abu dan Paskah). Tidak semua kota di Jerman merayakan acara ini. Dan meskipun ini merupakan hari rayanya umat Catholic tapi di sini umat beragama apa saja bahkan yang tak beragama boleh ikut meramaikan. No question asked. Di Jerman daerah Selatan Karneval disebut Fasching, inti perayaannya sama meskipun ritualnya agak berbeda. Di sini saya hanya akan menulis tentang Karneval yang berlaku di daerah Rhein (daerah yang dilewati sungai Rhine), yaitu Cologne, Duesseldorf, Bonn, Aachen, Mainz dan kota-kota kecil di sekitarnya.  Di Cologne, Bonn dan Aachen pada masa-masa Karneval semua orang akan saling menyapa dengan kata-kata ‘Alaaf’ sedangkan di Duesseldorf adalah ‘Helau’. Jangan sampai kebalik ya karena Cologne dan Duesseldorf itu meskipun tetangga dekat namun mereka tidak akur jadi kalau kebalik bisa timpuk-timpukan permen deh jadinya.

Pembukaan Karneval dimulai pada tanggal 11 bulan 11 jam 11.11 siang. Pada hari ini bisa dilihat banyak orang dengan beraneka macam kostum berkeliaran di segala sudut kota. Orang-orang yang mengikuti acara resmi di club Karneval (Karnevalsverein) bisa mengikuti ceremony pembukaan di gedung-gedung yang mereka sewa. Yang tidak ikut club tetep boleh mengenakan kostum tanpa harus mengikuti acara peresmian. Pada hari ini banyak orang yang ambil cuti kantor atau tetap masuk kantor dengan mengenakan kostum. Yang tidak cuti menjalankan aktifitas sehari-hari berjalan dengan normal, bedanya hanya kostum saja dan malam harinya dilanjut dengan party di nightclub.

Setelah pembukaan Karneval, pada hari-hari berikutnya  orang-orang mulai disibukkan dengan persiapan Natal sehingga  euforia Karneval tenggelam oleh hiruk pikuk Natal. Setelah Natal, acara tahun baru mendapat giliran untuk tampil ke permukaan. Toko-toko dan restoran heboh menjual petasan dan paket New Years Gala dinner. Nah setelah keramaian tahun baru usai, semangat Karneval-pun muncul kembali ke permukaan. Toko khusus kostum Karneval mulai dipenuhi pengunjung bahkan supermarketpun turut menjual properti Karneval.

Untuk penggemar berat Karneval, belanja kostum Karneval adalah event yang asyik. Untuk memilih kostum, selain tema, unsur cuaca juga harus diperhatikan di sini, secara perayaan ini kebanyakan berlangsung ourtdoor pada siang hari ynag berlanjut indoor di malam hari jadi soal kehangatan bahan kostum harus diperhatikan. Karena saya tidak pernah ikut merayakan Karneval sampai malam, kostum yang saya pilih biasanya yang berukuran besar supaya dalemnya masih bisa dipakein jaket. Kostum binatang berbulu-bulu juga relatif aman untuk cuaca dingin. Tapi tak jarang juga kita melihat orang-orang ynag berani dengan kostum ‘summer‘. Harga kostum Karneval bervariasi, mulai dari 5€ yang biasanya hanya bisa dipakai sekali lalu rusak sampe yang beratus-ratus Euro. Selama 9 tahun tinggal di Jerman saya hanya dua kali beli kostum Karneval selebihnya hanya beli atribut kecil-kecilan seperti topi atau wig.

img_6468
Karneval pertama saya di Jerman pada tahun 2008. Niat banget pokoknya.

Lanjut dengan ritual Karneval. Setelah dibuka pada tanggal 11 November, acara Karneval yang rame  berikutnya adalah pada Weiberfastnacht (Fat Thursday) yang pada tahun ini jatuh pada tanggal 23 Februari 2017. Pada hari ini kebanyakan perkantoran hanya buka setengah hari atau bahkan tutup, demikian pula dengan pertokoan. Tidak ada parade pada hari ini namun orang-orang tetap menggunakan kostum dan party di jalanan yang kemudian dilanjutkan di nightclub. Musik Karneval bisa terdengar di santero kota karena hampir semua pertokoan memainkannya. Pada hari ini jangan kaget bila melihat banyak wanita berkostum sambil membawa gunting karena pada hari ini mereka ‘diperbolehkan’ menggunting dasi para pria sebagai simbol bahwa hari ini perempuanlah yang berkuasa.  Para pria yang biasanya sudah mahfum dengan tradisi ini memilih ke kantor tanpa dasi atau sengaja memakai dasi yang sudah bulukan.

Meskipun seminggu sebelum dan sesudahnya anak-anak boleh mengenakan kostum di TK, TK-nya Flipper resmi merayakannya Karneval pada hari Weiberfastnacht ini. Flipper dan teman-temannya menaruh kostum di TK supaya mereka bisa ganti-ganti sesukanya. Flipper sendiri menaruh dua kostum di lemari TK-nya. Pada perayaan resmi Karneval kemarin grup TKnya Flipper menggelar teater dengan tema Frau Holle (English: Mother Hulda), sebuah cerita terkenal dari Brothers Grimm. Tak hanya anak-anak yang mengenakan kostum, guru TKnya pun semua menggunakan kostum disesuaikan dengan tema Frau Holle. Saya tidak punya foto acara di TK, namun berikut ini ada foto-foto Flipper yang exist berkarnaval:

akukenklub
Karneval pertama dalam hidup Flipper, tahun 2015, merayakannya bersama-teman-teman di Babyclub.
adalmatian
Pada karneval kedua di tahun 2016, dia boleh turun ke jalan mengumpulkan (dan makan) permen 😀
aimg_6379
Fitting kostum at home sebelum diangkut ke TKnya, Karneval 2017.

Setelah acara Weiberfastnacht para Karneval fans bisa agak slow down lagi. Ritual berikutnya baru berlangsung 4 hari lagi yaitu di acara Rosenmontag, yang tahun ini jatuh pada tanggal 27 Februari kemarin. Rosenmontag yang artinya Rose Monday adalah puncak dari sekian banyak (dan lama) ritual Karneval. Pada hari ini diselenggarakan parade kendaraaan hias dengan tema-tema yang lagi heboh. Tahun ini tema yang banyak tampil adalah Angie, Putin, Erdogan dan Trump tentu saja. Masalah sosial seperti asyl, kesejahteraan penduduk, juga tak lepas dari sindiran tema Karneval.

Di Rosenmontag para penduduk kota yang merayakan Karneval tumpah ruah di jalanan ingin melihat parade (Yang tidak suka Karneval biasanya melarikan diri ke toko mebel atau bahkan keluar kota) sambil membawa minuman alkohol. Bagian ini nih yang tidak saya suka dari Karneval karena banyak orang yang mabuk di jalanan. Meskipun tidak pernah diganggu orang mabuk, tapi sebel aja kadang lihat sampai ada yang muntah-muntah di pojokan atau teriak-teriak nggak jelas. Tapi konon alkohol memang membantu mengatasi cuaca dingin di saat Karneval. Keluyuran di luar rumah seharian di musim dingin memang bukan sesuatu yang gampang 😀

Siapa saja boleh melihat parade Karneval, bebas dan tidak dipungut bayaran. Kalau mau melihat di tempat yang strategis sih bisa duduk di tribun-tribun yang sudah dipersiapkan secara khusus tapi pakai bayar dan biasanya tiketnya sudah sold out jauh-jauh hari. Di parade ini para peserta parade membagikan permen dan snack manis kepada para pengunjung dengan cara melemparnya dari kendaraan hias mereka ke segara penjuru mata angin. Mereka akan semakin semangat menebar permen bila ada teriakan ‘kamelle-kamelle’ dari pengunjung. Kamelle artinya permen tapi ini bukan bahasa sehari-hari, istilah ini hanya terdengar ketika musim Karneval. Berikut ini adalah foto dari parade Karneval tahun 2011, satu-satunya Karneval di mana saya bisa melihat parade dengan lumayan jelas (meskipun angle-nya nggak perfect). Biasanya nggak pernah bisa nonton parade karena desak-desakan. Maklum saya petite 😀 Klik tiap foto untuk tampilan lebih jelas ya…

 

Saya sendiri sebenarnya bukan penggemar berat Karneval. Tapi kalau ada temennya rame-rame dan cuaca juga memungkinkan (baca: nggak hujan, nggak terlalu dingin, nggak berangin) ya saya ikutan. Kalau anak-anak pasti suka diajak melihat parade karena mereka bisa mengumpulkan permen banyak. Oh iya kalau mau melihat parade jangan lupa membawa kantung buat wadah permen ya. Dan kalau memang mau ikut melihat parade sebaiknya menggunakan kostum meskipun minimalis karena kalau tidak pakai kostum pasti merasa salah gaya 😀

Setelah karnaval biasanya banyak orang sakit karena kebanyakan kena angin dan kebanyakan alkohol. Hari ini saja sudah tiga anak buah suami ynag telpun karena sakit. Tiga lainnya sudah telpun Jumat kemarin setelah acara Weiberfastnacht. Ya, untuk orang yang benar-benar fans Karneval, Karneval merupakan party time dan itu mulai dari 11 November sampai Rabu Abu (Ash Wednesday) tahun berikutnya, hampir setiap hari party, kalaupun tidak di jalanan ya di nightclub yang menyelenggarakan acara khusus Karneval. Besok, Rabu Abu yang bahasa Jermannya Aschermittwoch acara Karneval resmi ditutup. Ada ritual penutupannya juga saat ini tapi pengikutnya tak seramai eperti di Rosenmontag. Setelah Rabu Abu, kegiatan sehari-hari di sinipun kembali berjalan normal seperti biasa. Cuaca pelan-pelan mulai menghangat dan orang-orang mulai riang menyambut Paskah dan musim semi.

Dan berikut ini adalah kumpulan  foto suasana Rosenmontag  dari beberapa Karneval ynag saya ikuti di kota Cologne:

img_0390oks
The crowd.
img_0398oks
Enaknya sih memang bisa nonton di teras rumah begini, kalau kedinginan tinggal tutup jendela.
img_0408oks
Saya dan Charlie Chaplin. Wig Pippi Langstrumpf sudah saya copot karena udah on the way mau pulang ke rumah (tapi alisku masih kelihatan sedikit blonde tuh) 😀
img_0409oks
A woman with her two guardian angels.
img_2732esblog
Di depan Kathedral Koelned Dom.
img_2739esblog
Saya si pecinta binatang 😀

img_2789esblog

img_2745esblog
Enter a caption

img_2753esblog

img_2747esblog

img_2758esblog
Noo!
img_2767blogs
Tua muda ikut merayakan Karneval.
img_2802blogs
The crowd.

Untuk acara Rosenmontag tahun ini, which was kemarin, karena cuacanya sangat dingin dan berangin, saya tidak ikut berpartisipasi (baca: malas). Saya dan keluarga kemarin menikmati hari libur dengan brunch di sebuah hotel. Enak banget suasananya sepi karena banyak orang  ikut Karneval. Foto-foto Rosenmontag di kota Cologne kemarin bisa diintip die websitenya  Zeit Online.

 

 

Play Date Bocah.

IMG_3619s.jpg
Flipper (kiri) gandengan dengan temannya mau main ke rumah.

Alhamdulillah bulan ini Flipper sudah genap 8 bulan di TK dan sejauh ini tidak ada kendala-kendala yang berarti. Absen karena sakit hanya dua kali dan makan siang di TK, meskipun menunya tidak selalu favorit dia, kata gurunya dia tetap mau makan. Makan bareng bersama teman-teman memang selalu lebih asyik kan.

Sejak masuk TK jadwal play date atau janjian bermain bersama teman-temannya juga makin padat. Dulu sebelum masuk TK kami punya jadwal tetap untuk play date bersama teman dari baby club yang alhamdulillah sampai sekarang masih tetap berhubungan baik, kini ada tambahan play date dengan teman TK di mana si orang tua tidak wajib ikutan hadir di play date.

Dengan teman sekelas, Flipper punya jadwal tetap untuk play date dengan Laura yaitu pada hari Senin dan Rabu. Mamanya Laura ini kan kalau hari Senin kerja sampai jam 5 sore sehingga tidak bisa menjemput Laura jam 3 sore jadi saya jemput mereka berdua sekalian dan mengajak bermain bareng di rumah. Nanti sekitar jam setengah enam sore mamanya Laura datang menjemput.

Hari Rabunya Flipper ada les tari jam 14.30 sedangkan saya kerja sampai jam 14.00, itupun kalau pulangnya bisa on time. Lumayan gedabrukan juga kalau dari tempat kerja jemput Flipper trus lanjut ke les tari. Nah si Laura kan juga ikutan les tari yang sama, jadi kalau hari Rabu gantian mamanya Laura yang jemput si bocah berdua dan membawa mereka ke tempat les. Usai les tari mereka main di rumah Laura yang kebetulan nggak jauh dari tempat les. Nanti jam 5-an baru deh saya jemput Flipper. Dalam hal ini mamanya Laura dan saya saling diuntungkan, saling membantu dan si bocah berdua juga senang bisa bermain bareng.

Selain jadwal yang tetap itu, Flipper juga punya random play date dengan teman-temannya yang lain. Either Flipper yang datang ke tempat mereka atau si teman yang main ke tempat kami. Anak-anak TK ini rupaya sering janjian sendiri buat main di rumah temannya. Kronologinya biasanya begini: Flipper mengundang si A untuk datang bermain ke rumah. Kalau si A setuju, baru Flipper tanya ke saya apa dia boleh mengundang si A. Kalau saya pas nggak sibuk selalu saya iyakan namun Flipper harus minta ijin dulu ke mamanya A (meskipun biasanya si A sendiri sudah bilang ke mamanya). Nah adegan minta ijin ke mama temannya ini yang suka lucu. Saya sempat melihat sendiri waktu menjemput Flipper di TK, kebetulan mama A juga datang menjemput A. Flipperpun langsung sok imut nglendot-nglendot mama A sambil ngrayu: A boleh ya main ke rumahku? Please…ya…ya… Boleh ya?

Dulu pertama-tama melihat kejadian itu saya ketawa, ada-ada aja bocah ini. Tapi rupanya adegan seperti itu sudah wajar di kelas Flipper (nggak tahu ya kalau di kelas-kelas lain). Saya juga pernah dirayu, let say si B, dia yang waktu itu pengen bermain ke rumah kami tapi saat itu saya sedang sibuk dan tidak bisa mengawasi dua bocah di rumah jadinya saya tolak. Si B yang sudah peluk-peluk saya jadi sedih, tapi saya janji ke dia kalau minggu depan dia boleh datang, diapun ceria lagi.

Beberapa anak laki-laki juga sempat minta ijin saya untuk mengundang Flipper play date ke tempat mereka tapi begitu undangannya saya teruskan ke Flipper, Flippernya menolak. Dia so far hanya mau datang ke rumah teman perempuan. Kalau anak laki-laki minta ijinnya nggak pakai acara merayu dan lendotan seperti anak-anak perempuan. Mereka bertanya dengan sopan seperti halnya gentleman mau ngajak anak cewe dating. So sweet deh pokoknya anak-anak ini.

Setahu saya sih, para orang tua tidak pernah memaksakan anak untuk mengundang temannya main ke rumah atau menyuruh anak main ke rumah temannya. Biasanya anak-anak sendiri yang punya ide dan kami para orang tua tinggal menyesuaikan jadwal. Kebanyakan ibu di kelas Flipper  bekerja paruh waktu, tidak full time. Saya sendiri bekerja hanya dari hari Rabu hingga Jumat, mamanya Laura hanya hari Senin dan Selasa tapi full time sampai jam 5 sore, demikian juga mama-mama yang lain, mereka bekerja pada hari-hari tertentu saja. Jadi kami memanfaatkan janjian anak-anak dengan jadwal kerja/ kegiatan kami sehingga tidak ada yang saling dirugikan dan yang penting anak-anak happy.

Kalau ada orang tua yang mendadak berhalangan menjemput anaknya, kita juga biasa saling bantu menjemput. Yang penting kita harus berkomunikasi juga dengan gurunya di TK sehingga mereka tahu kalau si A hari ini bakalan ikut si B ke rumah. Meskipun tidak ada aturan tertulis kalau para orang tua harus saling bantu, saling gantian jemput anak namun kami sudah sama-sama tahu etikanya. Ada juga orang tua yang tidak pernah mengajak teman anaknya main ke rumah karena dia tidak mau terbebani acara ‘balas jasa’ ini, which is okay. Biasanya orang tua yang tidak mau gantian ini kakek neneknya tinggal dekat rumah, atau ada tante om yang bisa dititipin anak.

Buat saya pribadi dimana orang tua saya dan orang tua suami  serta sanak saudara tinggalnya jauh semua, acara gantian jemput-jaga anak ini membantu sekali melancarkan kegiatan sehari-hari dan untuk Flipper juga selalu menyenangkan punya teman main yang lebih private, tidak rame-rame dan berisik seperti di TK. Intinya simpel saja, tidak ada yang keberatan dalam hal ini, baik si bocah maupun si orang tua.

Kalau ada anak main ke rumahpun kita tidak perlu repot menyiapkan makanan macam-macam. Obstteller atau sajian buah potong di piring adalah wajib, selain itu paling roti-rotian dan kacang. Tidak semua anak di sini boleh makan kue atau yang manis-manis tapi biasanya para orang tua akan saling ngasih informasi duluan kalau anaknya nggak boleh makan ini dan itu. Saya jarang menyiapkan makanan berat buat teman Flipper karena biasanya mereka datang setelah jam makan siang dan pulang sebelum jam makan malam tapi kalaupun ada yang ikutan makan malam di rumah, menu netral yang saya sajikan yang pasti anak-anak mau makan adalah mac and cheese. Kalau soal kegiatan yang mereka lalukan, kita nggak perlu repot sama sekali, anak-anak bisa menentukan sendiri apa yang mau mereka lakukan. Kalau cuaca di luar pas bagus, sering juga kita main di luar. Setelah acara play date usaipun mereka membereskan mainannya bareng-bareng.

Hari ini kebetulan Flipper nggak ada janjian dengan temannya jadi saya bisa mengajak dia jalan-jalan. Flipper pengen ke perpustakaan tapi pulangnya harus mampir ke kedai es krim. Haha semoga sudah ada kedai es krim yang buka secara masih musim dingin begini. Kalau nggak ada yang buka ya sudahlah, dibelikan Ben & Jerry’s di supermarket saja ya nak…

IMG_5354s.jpg
Perkenalkan: Band Ngemil

-beth-

Winter Wonderland in Willingen

Weekend kemarin kami berlibur ke kota Willingen, sebuah kota yang terkenal dengan winter activity-nya. Hubby dan saya sudah beberapa kali ke kota ini tapi untuk Flipper, ini adalah kunjungan yang pertama kali. Selama ini kami selalu datang ke Willingen di saat musim dingin, ketika kangen dengan salju. Maklum kota tempat tinggal kami termasuk kota paling hangat di Jerman sehingga di musim dingin, meskipun dingin njekut seperti saat ini, salju datangnya cuman sauprit. Selama musim dingin kali ini, salju baru turun sekali di tempat kami itupun tak terlalu tebal dan tak tahan lama, hanya sehari lalu semua hilang lagi menjadi becek.

Dari kota kami sebenarnya jarak ke kota Willingen bisa ditempuh hanya 2,5 jam saja tapi karena hari Jumat kemarin macet total hingga, jadinya molor menjadi 4,5 jam. Salju yang turun lebat plus banyaknya kendaraan yang menuju Willingen menjadi biang kerok kemacetan ini. Oh iya saat macet itu Flipper sempat tantrum minta jajan, sedangkan jajan yang sudah saya siapkan di box sudah habis dicamilin sama dia. Alhasil sayapun musti keluar dari mobil mengambil Oreo di bagasi belakang. Melihat saya menenteng kemasan besar Oreo, pemilik mobil di  belakang kami mainin lampu, ngasih kode minta Oreo juga, sayapun dengan senang hati bagi-bagi Oreo juga ke mereka. Jadi ingat penjaja tahu goreng dan Aqua di jalanan di tanah air sana deh haha!

Berikut ini foto selama di perjalanan yang saya ambil dengan iPhone 6 dan Samsung S7 Edge  #takenfromacar (klik tiap foto untuk penampilan lebih jelas)

Kota Willingen sendiri memang ramenya hanya pada musim dingin saja dimana banyak turis datang untuk main ski. Meskipun tidak seterkenal ski resort di Alpen sana, di Willingen setiap tahunnya diadakan pertandingan ski-jumping yang diadakan oleh International Ski Federation. Saya sih tidak bisa main ski dan somehow tidak tertarik untuk belajar (takut jatuh, ha!). Seringnya hanya naik skilift menuju cafe di puncak gunung yang isinya rame dengan pengunjung ski lalu turun lagi setelah kenyang. Masih ingat deh saya waktu pertama kali naik skilift yang model terbuka gitu,  jari-jari tangan saya sampe freezing nggak bisa dipake motret meskipun sudah mengenakan sarung tangan. Padahal perjalanan dari bawah ke atas gunung itu nggak terlalu lama, around 15 menit saja, haha. Saat itu, tahun 2006 memang untuk pertama kalinya saya berhadapan dengan salju dalam hidup saya.

Selain naik turun di pegunungan ski tanpa ikutan ski, hiking  juga menjadi kegiatan favorit saya. Holiday house milik mertua ini ada di pinggiran kota, dari sini ada 3 jalan menuju pusat kota; melalui jalan raya normal atau jalur hiking lewat pegunungan di belakang rumah. Jalur hikingnya sendiri ada dua rute yang bisa ditempuh para pejalan kaki yaitu yang 1,5 sampai pusat kota atau agak memutar 3 km sampai sana. Kemarin ini sayangnya jalur yang 3 km tertutup salju tebal dan karena medannya tidak memungkinkan, tidak bisa dibuka jalurnya oleh mobil pengeruk salju yang banyak mondar-mandi di kota ini. Padahal pemandangan dari jalur 3 km ini lebih asyik. Tapi ya sudahlah, mengingat salju setinggi 40 cm, tebing-tebing yang tak kelihatan serta adanya toddler yang super aktif…mending kita lewat jalur pendek saja pulang-pergi.

Berikut ini foto-foto selama hiking:

2423

2437

2427

2448

Di foto ini holiday house kami hanya terlihat atapnya saja, di sebelah kanan agak bawah.

2440

Kami selama dua kali hiking kemarin selalu berangkat ke pusat kota jam 10 pagi, sesudah sarapan. Dengan toddler perjalanan 1,5km bisa ditempuh 2-3 jaman pake acara bangun snow man, lempar-lemparan salju, sekedar guling-gulingan di salju dan main perosotan dengan slide-nya.

img_5396-1s

img_5404-1s

img_5446-1s

Suhu yang berada di pusaran -5 sampai 3 derajat celcius saat itu tidak terasa dingin bagi kami karena selain mengenakan baju yang sesuai, kami  juga aktif bergerak. Yang ada malah keringatan. Cuaca memang perfect saat itu, meskipun matahari jarang keluar namun tidak ada angin. Sesudah jalan sih biasanya saya jadi lapar berat :D.

Sampai di pusat kota Willingen, kami window shopping sebentar lalu mencari makan siang di restoran atau sekedar makan kue dan ngupi di kafe. Setelah itu melanjutkan perjalanan pulang melalui jalur yang sama. Di bawah ini suasana kota Willingen yang berpenduduk sekitar 6.000 orang. Oh iya, di sini, meskipun termasuk ‘desa’ ada supermarket yang buka di hari Minggu. Something uncommon in Germany.

2468

2469

1091

img_4898esimg_4899es

Setelah sampai di penginapan lagi, si Flipper tidak bisa bertahan lama main di dalam rumah. Setelah main sebentar dan snacking lagi, dia lalu usrek minta mainan salju lagi di luar. Kamipun keluar lagi. Pokoknya 3 hari kemarin benar-benar hanya kami gunakan untuk berkecimpung dengan salju.

img_5004es
Nggak sabar pengen keluar rumah.

img_4930es
Mendaki tumpukan salju di depan penginapan.

img_5479-1s
Main di lapangan sepak bola yang tidak kelihatan lapangannya.

Senin sore kita balik ke rumah lagi. Sampai di rumah, suhu ternyata lebih rendah dari dataran tinggi Willingen. Uadem pol dan tidak ada salju. Untungnya matahari selalu bersinar cerah di sini jadi sama-sama asyik lah. Di sini tidak banyak orang yang suka salju. Kalau anak-anak sih pasti suka tapi kalau para dewasa biasanya suka mengeluh karena jalanan jadi macet, public transport banyak yang mengalami kendala dan orang yang tinggal di rumah berhalaman dan bertrotoat musti rajin-rajin ngerok salju di depan rumah mereka karena kalau sampai ada orang yang jatuh terpeleset di situ (pak pos misalnya), maka yang bertanggung-jawab adalah yang tinggal di situ.

Kamu yang tinggal di negara empat musim, lebih suka winter yang bagaimana?

Foto-foto di Willingen ynag lain bisa dilihat di Flickr saya ya 🙂

-beth-

Potret Diri

Duluuu pas baru buka bisnis foto studio di sini, saya sempat menyebar brosur di kampung saya yang isinya portfolio singkat karya-karya portrait saya. Tak diduga tak dinyana, banyak orang yang komentar: loh kok ini bukan kamu yang di foto? Loh ini emangnya kamu? Kok blonde?

Err…maaf pak, bu, saya kan fotografernya… ini model-model saya yang di foto 😅

Lalu hari gini, Di saat Gorilaz dan Cro (penyanyi Jerman) masih tetep suka menyembunyikan muka asli mereka, seorang customer yang puas dengan hasil karya saya merekomendasikan saya ke beberapa temannya. Salah satu temannya itu langsung tilpun saya siang tadi dan bertanya ini itu. Sayapun memberi alamat website saya ke dia, biar dia bisa ceki-ceki sendiri. Beberapa saat kemudian datang sms darinya: Foto dirimu kok nggak ada ya? Saya pengen lihat…

Eh😅

Di sini sepertinya memang sudah kebiasaan kalau pemilik bisnis selalu memuat potret diri mereka tak hanya di website namun juga di kartu nama bahkan iklan koran (sayang siang tadi adalah hari pengambilan sampah kertas jadi udah nggak ada koran di rumah, nggak bisa kasih contoh). Mulai dari tukang ledeng sampai pengacara. Seriously, kalau mesin cuci di rumah rusak atau perlu pengacara atau notaris untuk ngurus rumah, saya nggak peduli deh muka mereka kayak gimana 😅 Kalau kamu?

Note: Foto-foto di bawah ini bukan saya ya 😀

img_5470lr_eoks

img_5061lr_e

img_0077-1es
-beth-

Menjelang Natal di Jerman

(Warning: banyak fotonya)

Meskipun aslinya nggak natalan, Natal merupakan sesuatu yang ditunggu di setiap akhir tahun. Selain acara tukar kado yang seru, tentunya acara-acara public dari sebelum hari-H menjadi hiburan tersendiri untuk mengurangi stress di musim dingin. Banyak diskonan adalah salah satunya.

Sudah saya amati dari tahun-tahun sebelumnya kalau menjelang Natal banyak toko-toko yang memberi diskon dengan harapan banyak orang yang membelinya untuk kado Natal. Tapi belinya kalau bisa sebelum bulan Desember ya, karena bila sudah masuk Desember harga-harga barang favorit untuk kado, seperti mainan anak-anak dan alat dapur bisa naik hingga 200%. Kalau apparel atau buku-buku harganya cenderung selalu diskon atau harga tetap.

Mainan favorit yang dicari para orang tua untuk kado Natal misalnya product dari Schleich dan Lego. Saya dari lama sudah mengincar Schleich model kandang kuda dan Lego model castle. Pada bulan-bulan normal, harga rata-rata kandang kuda Schleich beserta aksesorisnya adalah 76€. Harga termurah ada di Amazon yaitu 72€ yang pada saat-saat tertentu bisa diskon menjadi 65€. Sementara Lego Ritterburg berharga rata-rata €100. Saat masuk bulan Desember, di mana Amazon memulai program diskon harian untuk barang-barang yang berbeda di setiap harinya, Schleich kandang kuda sama sekali tidak masuk ke program diskon ini dan malah naik menjadi 105€. Phew banget kan harganya… Berapa harga Lego Ritterburg? Sudah tidak saya check lagi haha…

Intinya selain banyak diskon, banyak juga barang yang naik harga, jadi harus pinter-pinter mengatur waktu shopping-nya.

Yang tidak kalah seru selain shopping adalah WEIHNACHTSMARKT alias pasar natal. Secara kalau musim dingin itu banyak orang yang depresi, pasar Natal menjadi hiburan wajib untuk masyarakat Jerman. Asal tidak beli apa-apa masuk pasar Natal ini gratis. Ada juga sih pasar Natal yang musti beli entrance fee tapi biasanya berada di tempat yang spesial misalnya di dalam puri atau di atas kapal.

Cologne merupakan salah satu kota  yang memiliki pasar Natal cantik yang wajib dikunjungi selama di Jerman. Selain di Cologne, pasar Natal terkenal juga ada di kota Nuremberg, Berlin, Dresden, Freiburg, Aachen dan beberapa tempat lainnya.

Beruntung sekali kami tinggal di tempat yang tidak jauh dari Aachen dan Cologne, jadi setiap tahun bisa mengunjungi pasar Natal di kedua kota ini. Tahun lalu bahkan sempat melipir-melipir ke kota-kota lain seperti Duesseldorf dan Frankfurt.

Berikut ini foto-foto pasar Natal di beberapa tempat di antara kota Cologne dan Aachen saja:

Pasar Natal di halaman Katedral Koelner Dom.

6

1
Flipper dan papa bergaya duluan sebelum mengeksplore pasar Natal di halaman katedral Koelner Dom Cologne.
4
The entrance to the Christmas market with Koelner Dom Cathedral as the background.
7
The stage in Christmas market at Koelner Dom Cathedral with live music concert everyday.
8
Stunning, right?
img_1941s

3
The pretty lady is selling what so called Cologne biscuit. Stand jualan di pasar Natal Koelner Dom mempunyai warna seragam khas, warna merah.
Pasar Natal di Altstadt (old town) Cologne

bild-029s
Kelabu, gelap, hujan dan dingin di pasar Natal di Altstadt Cologne tapi pengunjung tetap bersemangat.
bild-024s
Ciri khas stand jualan di Altstadt Cologne adalah bangunan bergaya middle age.
bild-025s
Jualan roti bawang.
bild-030s

Pasar Natal di Atas Kapal di sungai Rhine, Cologne

bild-046s
Untuk masuk sini dikenakan biaya masuk 3€ saja. Yang dijual di dalamnya menurut saya biasa-biasa saja tapi suasananya dong yang asyik…dan tidak terlalu dingin pastinya.
Pasar Natal di Aachen

1050

1055

1057

1053

Pasar Natal di Sebuah Ladang Dekat Rumah

Sehari-harinya tempat ini merupakan ladang perkebunan di mana konsumen bisa  langsung memetik sendiri buah, sayur bahkan bunga yang akan dibeli. Kalau malas memetik sendiri, bisa juga langsung membeli di tokonya. Daging tidak dijual di sini, namun ada produk susu dan telur. Kebanyakan yang dijual di sini merupakan produk organic.

Selain ladang mereka juga memiliki tiga kuda poni dan beberapa kelinci yang membuat Flipper semangat banget kalau diajak ke sana. Oh iya, taman bermain untuk anak juga disediakan di sana.

Nah menjelang Natal selain tetap beraktifitas seperti biasanya, ladang ini membuka pasar Natal juga untuk masyarakat terdekat. Tidak semegah atau segemerlap pasar Natal di pusat kota Cologne atau Aachen tapi buat saya justru menyenangkan karena tidak unyel-unyelan, tidak perlu antri panjang untuk makan dan suasananya lebih kekeluargaan.

Ketika berkunjung ke sini, kami juga membeli pohon Natal asli hasil dari ladang tersebut, bahkan kalau mau kita juga bisa menebang sendiri tapi waktu itu kami memutuskan untuk beli yang sudah dipotong saja. Karena membeli pohon Natal di sana, kami mendapat gratisan dua porsi makanan dan minum, yay!  Reibunkuchen (kentang parut goreng yang dicocol dengan puree apel) dan susu coklatpun menjadi pilihan kami. Enak deh, dingin-dingin makan gorengan 😀 Flipper sibuk main karusel bolak-balik tanpa merasa pusing, bolak-balik menemui Sinterklas supaya dapat coklat dan rajin mencari rumput untuk bolak-balik ngasih makan kuda poni. Oh iya, keesokan harinya si Flipper sakit perut karena kebanyakan coklat dan sejak itu smapai sekarang dia agak-agak anti coklat 😀

2

3

4

Barang dan makanan yang dijual di pasar Natal rata-rata sama saja; kerajinan tangan, pernak-pernik untuk pohon Natal, hasil rajutan, biskuit, tumis kentang bawang, sosis curry, Reibenkuchen dll. Paling ketambahan barang khas daerah mereka saja.

bild-053s

bild-061s

bild-063s

img_1945s

1060

1059

Bila di Berlin, beberapa pasar Natal tetep buka hingga Januari, di daerah saya ini hanya buka dari tanggal 23 November sampai 23 Desember saja. Selanjutnya yang ada di mana-mana jual petasan dan WSV-Winterschlusserkauf alias Winter Sale Season pun dimulai. Setelah itu ada kegiatan public yang tak kalah seru  yaitu Karnaval yang insyaallah akan saya tulis juga nanti.

-beth-