Mencuri Moment, Mencari Spotlight

Ich
I
Aku. Saya.

Pernah nggak pas teman kita si A lagi seru-serunya cerita tentang pengalaman baru dia, tiba-tiba kita nyeletuk, “Oh iyaaa tempat itu emang asyik! Aku tahun lalu juga pernah kesana…bla…bla….” lalu kitapun bercerita panjang lebar, tanpa peduli kalau si A tadi belum selesai bercerita? Teman-teman yang tadinya tekun dengerin cerita si A jadi beralih perhatiannya ke kita. Dan si A pun manyun.

Atau mungkin kamu pernah menjadi si A?

Saya pernah jadi yang suka nyeletuk itu. Dan pernah jadi si A juga, makanya tahu rasanya ngga asyik kalau ada teman yang menyerobot, mencuri moment bercerita kita dan berusaha sebisa mungkin untuk tidak mencuri moment teman yang lain. Ini berlaku nggak hanya di pergaulan sehari-hari tapi juga di sosmed.

Sebenarnya saya yakin celetukan ‘aku-aku’  keluarnya tanpa maksud buruk, terjadi karena seseorang semangat mendengar ceritanya si original poster/speaker. Dan kalau kejadian sekali dua kali masih bisa dimaklumi lah tapi kalau keseringan, selalu ber’aku-aku’ di setiap postingan teman jadi memperlihatkan karakter seseorang sebenarnya. Self-centered.  ‘Aku, kalau aku, aku sih, akunya, aku nih, dan aku aku lainnya’. Padahal si original poster nggak nanya apa pendapat kita TENTANG DIRI KAMU lho…

Yang paling nggak asyik sih kalau tone nya merasa lebih baik atau nggak mau kalah dengan si original poster;
“ooh kalau AKU sih begini, begono…”
“AKU kalau Hawaii udah pernah sih…”
Versi yang agak tersamar; “Oh jadi ngingetin acara AKU 3 tahun yang lalu, pernah salaman sama Madonna juga…”

Bukan berarti dilarang komen model begitu tapi mungkin sebaiknya dikurangi. Apalagi kalau di sosmed, harusnya lebih mudah mengontrolnya dari pada di pergaulan langsung. Kadang si teman hanya ingin bercerita atau sharing tentang dirinya, tentang pengalamannya and it’s NOT about YOU at all. Kecuali memang dia specific nanya what about you.

Mending sih kalau kita terinspirasi dengan postingan teman, ya bikin aja postingan aja sendiri. „Waktu baca Instagram si A tentang Nord Pole, aku jadi ingat tahun sekian ketika berkunjung ke North Pole bla…bla…“ Silahkan mau nulis panjang lebar, kan di lapaknya sendiri, nggak ‚mencuri‘ moment di lapak teman. Mau self-centered di lapak sendiri juga bebas dong.

img_3194-2

Salah satu karya seniman Joan Miró di sebuah pameran di Bruehl.

By the way soal kehidupan social media, resolution saya untuk tahun 2018 adalah spending less time di Facebook which works well.  Udah jarang banget nih log in di FB, kalaupun log in paling cuman scroll down news feed sebentar, liking postingan teman seadanya lalu stuck di Page-nya Jimmy Fallon atau Human of New York. Posting-posting juga udah mulai jarang. Tapi kalau di Instagram saya masih rajin sih hihi… Yang berminat boleh ya follow Instagram saya (eh kok jadi promosi? Haha!) @milolalil (private account) dan @frausie.

Di sini bebas mau komen atau diskusi dengan tema di atas ya… ber’aku-aku juga boleh lho 😊

Happy Sunday!
Love, Bethie

 

Advertisements

The Great Big Book of Families

999A0237-1s

Check it here: http://amzn.to/2EbKu0i
(affiliate link)

This book is a great start to teach our children about tolerance, start from family. It’s not a book about a child who has big family members nor a book which has plot or story.

This book reveals about many kinds of different families. None of them is bad or good. None of the is normal or abnormal. They’re just different. Some children live only with their daddy or their mommy. Some children even have two moms or two dads. There are children who live with grandpa and grandma without parents. There is a child who has only one or many siblings, etc.

Flipper (4,5 years) and I had fun reading this book. So many questions from Flipper emerged from the communicative illustrations and simple sentences. Yes, this book creates a valuable discussion about how different but equal we are.

The English text are easy to understand for non English native speaker. I need to mention this, because one of my German friend interested in this book but not sure about the English language. But after she borrowed our book for one day, she said it’s easy peasy and decided to buy it

Check it here: http://amzn.to/2EbKu0i
(affiliate link)

999A0236-1s

Remember The Day When…(6) – Foto buat Pacar Online

IMG_2673e
Foto diri terbaru 😀

Dari SD saya hobi banget dengan koresponden. Waktu itu kami berlangganan majalah Ananda dan saya selalu rajin menyurati profil-profil di kolom Sahabat Pena. Ada beberapa yang nggak dibalas, ada juga yang berlanjut rutin lumayan lama salah satunya yang ingat adalah atlet anggar nasional yang berasal dari Situbondo. Tapi namanya saya lupa 😦 Sayang sekali.  Saya bahkan pernah menyurati Rajiv Gandhi (I don’t know why, though!) dan dua atlet renang Indonesia yang waktu itu berjaya… Aduk kok lupa juga ya siapanya namanya, dua atlet renang pria bersaudara jaman 1990an yang cakep? Mingkin ada ynag bisa bantu saya untuk ingat karena mereka ini berjaya sekali pada jamannya, pernah mewakili nama Indonesia di Sea Games.

Rajiv Gandhi sampai sekarang tidak pernah membalas surat persahabatan saya tapi si atlet bersaudara membalas doong…meskipun tanda tangannya merupakan stempelan. Jadi kayaknya mereka nggak membalas surat fans satu-satu, tapi ada sekretaris yang bantu balesin satu-satu trus tinggal distempel dengan nama mereka.

Setelah berpen-pal via majalah Ananda, waktu remaja pun meningkat ke majalah Hai. Lalu ketika mulai kenal internet, aktifitas surat-suratan mulai berkurang diganti dnegan chatting dan email. Sejak chatting lingkup kenalan saya jadi lebih jadi meluas, nggak hanya nasional tapi internasional… Suka banget deh punya teman chatting dari luar negeri, doesn’t matter cowok atau cewek, warga negara atau ras apa yang penting bisa saling komunikasi dalam bahasa Inggris aja sayanya udah seneng banget (meskipun kebanyakan orang India. Mungkin karena faktor time zone?). Beberapa dari random chat partners saya banyak juga yang menjadi real friends bahkan beberapa dari mereka pernah ketemu baik yang dari Indonesia maupun dari luar negeri. Lalu niih ada juga yang jadi pacar online haha! Yang pacar ini malah belum sempat ketemu sama sekali, omaigod! *ngakak dulu

Pacar online saya waktu itu namanya Marty, cowok Inggris. Kita chatting rutin tiap hari, ngobrolin ini itu sampai suatu hari dia tanya foto. Mak glek. Jaman itu belum ada smart-phone dan istilah selfie pun belum masuk kamus. Terus terang saya nggak punya foto diri. Ada juga foto-foto jadul yang disimpan mama saya di album foto. Padahal saya lulusan kuliah jurusan fotografi lho tapi entah kenapa nggak punya foto diri sendiri. Kayaknya teman kuliahan saya dulu juga nggak ada yang tertarik motoin saya *laugh. Anyway effort saya waktu itu untuk mendapatkan foto diri  lumayan lama sampai Marty nggak sabar dan bilang: aku nggak yakin kamu sejelek itu sampai nggak mau ngasih foto…

Antara sedih dan geli karena saya sebenarnya nggak pernah merasa jelek sih (meskipun nggak merasa cantik juga enggak haha!). Anyway waktu itu saya akhirnya pergi ke foto studio dan hubungan pacaran online kita berlanjut aman.

Dan hari gini…mau selfie tinggal click-clik…Foto diri dipajang dimana-mana tanpa ada yang minta haha…

Eh by the way hari gini masih ada nggak sih yang kirim-kirim surat atau email ke idola??

Agama Makanan

2634s

Pas malem tahun baruan kemarin ada teman, sebut saja namanya Anni, yang pengen bikin pesta di rumahnya. Dia sudah bikin guestlist dan daftar makanan apa aja yang mau dibikin. Tapi pada last minute pestanya dibatalkan dan kita end up merayakan malam tahun baruan di sebuah restoran. Di restoran ini si Anni cerita, dia membatalkan acaranya karena ada salah satu teman dia  yang tadinya gaya makannya biasa-biasa saja barusan ‘convert’ menjadi yang tidak biasa-biasa saja dan cukup radikal sampai membuat Anni bad mood nggak niat masak, nggak niat ngundang teman, nggak niat lagi pesta.

Menurut Anni, si teman ini sedang gencar-gencarnya posting di Facebook tentang gaya makan dia yang sekarang serba organic, no salt, no sugar, no palm oil, no processed food pokoknya super eco dan suka tersinggung kalau ada yang ngajak guyon dengan gaya makan dia yang berubah drastis. Dan parahnya, pas Anni bilang ke temannya itu kalau dia mau mengadakan pesta, si teman itu langsung menodong Anni untuk beli bahan-bahan organic dan worst, berniat mbayarin belanjanya kalau Anni merasa kemahalan belanja organic. Glek. Ya mungkin hubungan mereka memang dekat banget sehingga si teman merasa it’s fine to say something like that. But if I were Anni, saya juga bakalan langsung bad mood juga deh kalau digituin.

Saya perhatikan biasanya orang-orang yang baru saja merubah gaya makan mereka, baik menjadi vegan, vegetarian, clean eater, fruitarian atau apa lagilah…mereka cenderung lebih saklek dari pada yang sudah lama menganutnya. Penganut lama ini sudah menganggap hal itu biasa, jadi ya sudah nggak perlu dipamer-pamerkan di sosial media dan juga lebih pengertian kalau diundang makan oleh orang yang aliran makannya berbeda.

Saya sendiri juga pernah berada ‘dicela’ orang karena gaya makan saya. Waktu itu anak saya baru memasuki usia 6 bulan dan lagi rajin-rajinnya bikin mpasi (makanan pendamping ASI). Secara untuk bayi, makanan yang dibikin pasti sehat-sehat dong, serba sayuran dan organic lalu pas cerita-cerita dengan sesama mommies, ada yang bertanya bakalan bertahan berapa lama saya ngasih makan baby organic food. Saya bilang bahwa sebelum ada baby pun kami udah makan organic jadi insyaallah bertahan lama. Lah kok trus si mom ini ngelonjak, ngatain kalau organic belum tentu bagus. Lalu dia sengaja cari-cari news tentang perusahaan makanan yang pasang label organic tapi ternyata membohongi konsumen. Dia juga bertanya kalau saya makan di luar, diundang orang atau makan di restoran gimana? Apa harus makan yang organic juga? Saya jawab apa adanya dong, kalau makan di luar/ diundang orang ya makan seadanya saja asal halal, nggak tanya soal organic. Eh si mom itu langsung merasa menang karena menganggap saya semacam pemakan organic palsu dan hanya mau nyombong. To be honest I don’t get it mengapa dia gusar dengan pilihan makanan saya untuk keluarga dan selain itu saya juga nggak merasa bilang bahwa saya anti non-organic.

Well anyway, saya sih terserah apa anggapan orang. Bagi saya urusan perut itu seperti agama, urusan pribadi masing-masing. Prinsip makan di rumah kami sederhana, kami suka makanan itu (iyalah, kalau nggak suka ya ngapain dimasak, dimakan hihi…), halal dan diusahakan sehat. Diusahakan sehat itu salah satunya ya dengan beli bahan makanan yang organic itu tadi tapi tidak harus 100% . Untuk daging-dagingan misalnya, saya lebih mengutamakan halalnya dulu dari pada organic. Di kota tempat saya tinggal belum ada daging halal organic. Roti-rotian kalau sempat bikin ya bikin sendiri dari bahan organic tapi kalau enggak ya beli seadanya. Di sini ada sih dijual roti organic tapi pilihannya sangat terbatas sekali.

Kalau sayuran yang saya inginkan nggak ada versi organic-nya, ya nggak papa, beli saja yang dari bagian sayuran regional. Kalau di situ juga nggak ada, sayuran beku adalah alternatif terakhir karena sayuran beku jauh lebih sehat dari pada sayuran ‘segar’ yang sudah menempuh perjalanan berjam-jam atau bahkan berhari-hari dan kemungkinan besar disuntik ini itu supaya tidak rusak selama perjalanan. Sayuran beku biasanya langsung dicuci dan dibekukan setelah panen sehingga nutrisinya langsung terkunci. Tapi kalau sudah kangen berat dengan sawi, bayam ala tanah air atau durian, yasud, beli sayuran dan durian impor di Asian Shop 😄.

Saya juga bukan tipe yang iyik, yang harus make sure dulu menu makanannya apa ketika diundang makan orang. Udah diundang aja udah alhamdulillah lho. Tapi tetap saja di lokasi saya bertanya dengan sopan, “maaf ini daging apa ya?” Kalau b2 ya sudah dilewatkan saja… tapi sumpah saya nggak pernah nanya, ini buncisnya organic nggak? Belinya tadi di mana ya? 😀

Saya sendiri kalau mengundang orang yang nggak terlalu kenal, selalu tanya duluan apa mereka intolerant terhadap makanan tertentu. Pertanyaan saya sih sebenarnya lebih konsen ke soal alergi, bukan soal gaya makanan dan so far karena belum pernah mengundang lebih dari 10 orang, gampang aja ngaturnya kalau ada yang vegan atau nggak bisa makan daging tertentu. Tamu-tamu saya so far juga nggak ada yang pernah nanya soal organic atau enggak, mengandung palm oil atau enggak. Paling pertanyaannya seputaran resep saja.

Sebuah contoh saja nih; selain dengan mertua dan ipar, hampir setiap tahun kami selalu merayakan Natal dengan keluarga besar hubby juga…Dengan tante, om, keponakan, sepupu dan ipar-ipar, sekitar 30an orang. Organisator pesta ini adalah para sesepuh yang nggak pernah bertanya soal food intolerance. Di antara 30 orang ini ada yang nggak bisa makan babi, ada yang nggak bisa makan ayam, ada yang memiliki milk intolerance akut, ada juga yang vegan. Semua tahu diri dan nggak demanding. Cukup makan salad dan kuenya saja, easypeasy. Bisa dibayangkan kalau member keluarga lapor duluan tentang makanan yang nggak bisa ditolerir oleh mereka, we’ll end up makan kentang rebus doang. Eh wait, fruitarian nggak bisa makan kentang!

My point is, people…do what you want to do, eat what you want to eat tapi please deh jangan merepotkan orang. Mau pamer-pamer ke medsos juga silahkan tapi jangan sampai menjadi hyprocrite, menganggap paling benar sehingga harus mencela gaya hidup/ makan yang berbeda. Yang merasa punya gaya makan biasa-biasa saja nggak perlu gusar kalau tiba-tiba ada yang anti minum dawet karena ada zat pewarnanya, nggak usah ikut-ikutan iyik, ini bukan lagi soal selera makanan melainkan prinsip hidup dan urusan perut sendiri-sendiri.

Ah jadi ingat ada seorang teman lain lagi yang sering posting foto makanan-makanan yang dia makan di restoran mewah. Michelin Star restaurants adalah langganan dia. Dia pernah menolak ketika saya ajak makan kebab falafel di kaki lima, alasannya dia nggak makan makanan kaki lima. Di FB dia ada quote “You are what you eat”. Ah ok, lumayan berprinsip dan konsisten.

Quote saya begini aja deh “My belly is my problem” atau yang versi pendek: “Sambal? Oye!” Kalau quote hidupmu yang tentang makanan kira-kira apa? 😊

Tradisi Advent – Menjelang Natal

Sebentar lagi Natal dan suasana di bumi sebelah sinipun mulai lebih ceria dari minggu-minggu sebelumnya. Sebenarnya kita nih nggak merayakan Natal dan sebelum ada Flipper, kami nggak terpengaruh dengan euforia Natal yang kental di negeri ini. Paling cuman ikutan tukar kado aja dengan big family-nya D, pak suami. Tapi sejak ada Flipper kami jadi ikutan beli pohon Natal, bikin Advent wreath sendiri dan bungkus-bungkus kado kecil-kecil buat Advent calendar.

Ini tahun kedua kami ‘beraktifitas’ Natal selain tukar kado. Itupun kalau dibanding dengan kebanyakan orang sini, aktifitas kami ini tergolong super basic banget. Iyalah, yang lain pada heboh menghias jendela bahkan seluruh rumah luar dalam dihias lampu warna-warni. Ada yang mengundang Nikolaus datang ke rumah lalu baking aneka macam cookies. Di luar rumah kami tidak ada deko apapun, sekedar lampu berbentuk rusa yang duduk antengpun nggak ada. Nggak ada hiasan atau lampu gantung apapun di jendela. Eh ada ding, gantungan di jendela dapur tapi itu mah memang menggantung sepanjang tahun, bukan khusus untuk natal.

Berikut ini adalah salah satu aftifitas menjelang Natal, membuat deko Lilin Advent. Aslinya sih disebut Advent wreath atau dalam bahasa Jermannya Adventskranz. Tapi saya nyebutnya Lilin Advent saja karena nggak ada wreath-nya sama sekali. Lilin ini berjumlah 4 yang dinyalakan satu persatu, dimulai pada minggu ke-4 sebelum Natal. Tahun ini Advent pertama jatuhnya besok, tanggal 3 Desember. Karena dinyalakannya satu-satu, maka dianjurkan lilin yang pertama dinyalakan lebih tinggi dari ketiga lilin lainnya, tapi nggak harus sih.

Tahun lalu Flipper tidak ikut membantu membuat Lilin Advent, dia kebagian acara tiup lilin saja setiap malam.

IMG_3626
Our first Advent Candles ever, 2016.

Tahun ini Flipper tetap nggak ikut mendekor Lilin Advent karena saya dapat idenya tengah malam dan langsung eksekusi. Keesokan harinya Flipper menambahkan kuda-kudaannya di sebelah lilinnya. Lucu juga, tapi masa kuda? Setelah mengantar Flipper ke TK-pun, saya langsung meluncur ke toko deko mencari rusa. Got two of them!

999A0081-1s

999A0087-1s
Advent Wreath 2017. Kudanya Flipper nongkrong di bawah saja 😀

Lalu tentang aktifitas dengan Advent Calendar yang selanjutnya disebut AC saja. AC yang entah dari mana asal muasal tradisinya ini adalah kalender dari tanggal 1 sampai 24 Desember yang berisi kado-kado kecil, jadi semacam excitement of Christmas countdown. Saya sendiri mengenal AC sejak tinggal di Jerman. Isi kadonya biasanya hal-hal sederhana saja seperti misalnya permen, puisi, lilin, karet penghapus, notebook (bukan laptop) sketsa gambar, etc. Tapi saat ini mulai banyak dijumpai AC baik yang homemade maupun yang ‘instant’ (beli di toko) yang harganya di atas 200€. Itu baru AC lho ya, belum hadiah Natalnya yang secara logisnya harus lebih heboh dari AC. Ah kalau yang mahil-mahil gitu saya nggak ikutan ah.

Sebelum ada Flipper pak suami dan saya biasa beli AC ‘instant’ di toko yang isinya coklat untuk setiap harinya. AC coklat merek Lindt harganya di atas 5€ kalau yang merek ecek-ecek 2€ pun bisa dapet. Ini untuk 24 hari lho ya. Isinya coklat kecil-kecil.

Tapi sejak tahun lalu tradisi AC kami bertambah, yaitu bikin AC buat si Flipper. Sebenernya buat anak-anak banyak juga AC instant non sweets yang dijual misalnya dari brand Lego atau Play Mobil bahkan Schleich. Harganya mulai dari 20€ which is standard price menurut saya kalau untuk AC. 1€/ day. Tapi entah kenapa saya nggak sreg kalau beli AC instant, jadinya ya repot sediri beli pernik-pernik dan mbungkusi kado satu-satu buat si Flipper.

Advent-calendar-2016s
Flipper’s Advent calendar 2016
999A0100-1s
Flipper’s Advent Calendar 2017.

Jatah kado AC Flipper untuk 24 hari adalah 25€. Barang-barang yang saya beli untuk Flipper, yang sesuai dengan anak usia 4 tahun adalah beberapa Pixi books (buku bacaan anak-anak bergambar berukuran 10cmx10cm), kaus kaki, celdam, Kinder Surprise Eggs, bubble bath yang ada temanya dari Kneipp (misalnya yang bikin airnya berwarna hitam untuk tema nenek sihir atau pink untuk tema princess), pensil warna, washi tapes, etc.

Yang lebih seru lagi, tahun ini saya juga dapat AC setiap harinya, yay! Jadi saya dan 23 teman  mengadakan AC swap, masing-masing membungkus kado yang isinya sama sebanyak 24 biji. Budget-nya seperti biasa, nggak boleh lebih dari 25€. Lalu setelah lengkap, semuanya dikumpulkan dan disebar ke semua anggota. Saya dapat bagian membungkus kado untuk tanggal 11.

IMG_1777
Kado no 11 yang saya bikin untuk Advent Calendar Swap bersama teman-teman.
IMG_1874
Kado yang saya terima balik dari teman-teman. Yay!

Kemarin saya mendapat tempat lilin dari Anna dan hari ini saya dapat homemade jam untuk roti dari Olga. Besok dapat apa lagi ya? Curious!

Lepas dari unsur keagamaannya, saya pikir aktifitas seperti ini asyik juga demi mengurangi suasanya yang selalu cenderung muram di musim dingin. Seneng aja ketika suhu di bawah nol derajat, jam 4 sore sudah gelap gulita, namun di segala penjuru tampak lampu hiasan natal berkelap-kelip. Lalu saat jam 8 pagi, masih gelap gulita juga dan kabut yang tebal di luar sana, kita punya kado kecil untuk dibuka.

Kalau di tempatmu bagaimana tradisi Natalnya? Apakah heboh juga seperti film-film Natal di TV? Oh ya, agenda saya setiap menjelang Natal dari tahun 2007 adalah nonton film Bad Santa yang dibintangi Billy Bob Thornton dan sejak tahun lalu ditambah dengan Bad Santa 2 ❤ Kamu punya film Natal favorit nggak? Home Alone Movie, mungkin?

Tulisan saya tentang Natal yang lain bisa dibaca di sini.

Kebiasaan Orang Jerman – Part 1

Hai hai…ternyata lumayan lama juga ya saya nggak nulis-nulis di sini. Lagi sibuk ini ituu… Sok sibuk tepatnya hihi… Kali ini tepat banget waktunya, pas males nulis (tapi pengen exist) eh nemu tulisan ini di draft, tentang kebiasaan-kebiasaan kecil orang-orang di Jerman. Yawis diselesaikan aja dulu yang bagian pertama ini.

Kebiasaan-kebiasaan ini meskipun sebenarnya nggak terlalu penting untuk dicermati tapi menarik buat saya karena berbeda aja dengan kebiasaan-kebiasaan yang ada di Indonesia. Dan seperti biasa, kebiasaan-kebiasaan ini nggak mutlak berlaku buat semua orang Jerman ya… Tapi ya kebanyakan begitulah 😀

Ngebel pintu rumah orang cukup satu kali saja.

Yup. Ngebel sekali lalu ditunggu ada yang bukain nggak. Kalau nggak ada ya sudah kita pergi lagi. Kecuali kalau memang sudah janjian sebelumnya, biasanya kita ngebel lagi atau nilpun, bilang kalau kita sudah di depan pintu. Kalau ada bunyi bel pintu berkali-kali biasanya bisa ditebak, itu adalah anak-anak yang mainan bel pintu orang.

Dapur berada di ruangan depan.

Jadi biasanya interior rumah atau flat orang Jerman itu -tidak seperti rumah-rumah di Indonesia yang begitu masuk dari pintu depan langsung ruang tamu atau ruang keluarga dengan sofa, meja,rak TV, dan sebagainya- begitu kita masuk dari pintu depan akan terdapat semacam lorong yang dinamakan Flür (EN: floor) yang menyambungkan ke ruang-ruang lainnya. Mengapa di Jerman kebanyakan rumahnya ada lorongnya karena faktor cuaca, supaya kalau pas pintu depan dibuka, udara dingin tidak langsung masuk ke main room (ruang tamu/ keluarga) dimana kebanyakan anggota keluarga menghabiskan waktunya di situ. Lalu di lorong tersebut, selain rak sepatu juga terdapat lemari atau sekedar gantungan untuk menaruh barang-barang yang dikenakan dari luar seperti tas, syal, jaket. Setelah semua dilepas di lorong, baru deh nyantai masuk main room-nya.

Nah begitu masuk lorong ini, biasanya ruangan yang paling dekat diakses, alias ruangan yang paling depan adalah dapur. Kalau ini saya nggak tahu sebabnya, mengapa demikian. kalau di Indonesia kan dapurnya di belakang bahkan kalau rumah model lama malah di belakang banget, diumpetin. Di sini justru di ruangan paling depan dan banyak juga yang dapurnya jadi satu dengan main room, open kitchen gitu. Buat saya sih nggak cocok karena saya nggak suka kalau main room jadi bau bawang atau terasi ketika masak.

37519474520_82e652d446_o
Ini dapur di rumah. Begitu masuk rumah, dapur ini ada di sebelah kanan. Di sebelah kirinya toilet tamu. Dapur saya aslinya ada pintunya tapi kami copot, diganti dengan pembatas ruangan yang bisa digeser-geser itu.

Kalau traffic light di depan sedang hijau, orang-orang bukannya ngebut ngejar hijaunya tapi malah pelan-pelan.

Mengapa? Karena kalau ngebut trus lampunya merah lagi kita nggak bakalan bisa mengontrol kecepatan, bisa-bisa nggak sempat ngerem dan akibatnya malah menerobos lampu merah. Jadi mending pelan-pelan menunggu sampai lampu merah lalu hijau lagi dan berjalan lagi dengan nyaman. Lampu merah di sini tidak pernah lama kok jadi nggak ada yang keberatan berhenti di lampu merah demi keamanan. Saya nggak tahu berapa denda melanggar lampu merah di Jerman tapi orang-orang di sini sangat disiplin dengan lampu merah. Di tengah malampun di mana nggak ada kendaraan di ketiga sisi persimpangan, kalau lampu merah ya kita berhenti menunggu sampai hijau. Dulu sih pertama-tama tinggal di Jerman saya merasa dungu juga berhenti sendiri di lampu merah padahal dari jauh juga kelihatan kalau nggak ada kendaraan di sisi lain 😀

Hampir semua mobil berkaca bening maka jangan kaget kalau melihat ada orang ngobrol antar mobil ketika berhenti di lampu merah.

Suatu hari di musim panas, saya nyetir mobil dengan rambut tertutup hoodie. Tiba-tiba di lampu merah mas-mas di mobil sebelah buka jendela lebar-lebar dan bertanya ngapain pake hoodie di cuaca seindah ini… Yaolo mas-nya care banget, pikir saya. Saya jawab aja kalau lagi having bad hair day. Masnya ngakak trus iseng aja nanyain apa kabar, mau kemana…sampai lampunya hijau  lagi dan kita saling dadah-dadah karena saya harus nyetir terus ke depan, dan dianya belok kanan. Apa kita sudah saling kenal? No.

Kalau ada yang ngasih jalan, yg dikasih melambai tanda terima kasih.

Kebanyakan pengendara mobil di Jerman itu sopan-sopan. Mereka suka memberi kesempatan kepada pengendara lain untuk jalan duluan jadi macet di belokan karena rebutan jalan itu hampir nggak ada. Kalau lawan pengendara ngedim ke kita, berarti kita disuruh jalan duluan. Sebagai balasannya kita akan melambaikan tangan tanda terima kasih. Apa aturan tersebut diajarkan di tempat kursus nyetir? Di tempat saya kursus dulu sih gurunya ngasih tahu sekilas tapi nggak ada aturan tertulisnya.

Apapun cuacanya, ngajak anak main di luar.

Yup, apapun cuacanya. Kecuali kalau ada angin puting beliung aja kali. Yang harus disesuaikan cuman bajunya saja. Kalau pas hujan ya pakai raincoat. Kalau pas salju tebal ya pakai baju khusis salju. Minimal 1x sehari para orang tua pasti mengajak anaknya main di luar.  Kalau saya sih termasuk golongan yang sangat melihat-lihat cuaca dulu sebelum keluar hihi…

Makan makanan hangat cukup sekali dalam sehari.

Makanan hangat atau yang biasa disebut Warmes Essen yang dimaksud adalah makanan yang ‘dimasak’, misalnya nasi, sup, kentang, daging-dagingan. Kebanyakan orang Jerman makan makanan hangat hanya saat lunch ATAU dinner saja, selebihnya ya makan makanan dingin. Makanan dingin ynag dimaksud misalnya roti dengan sosis dan selada atau selai-selaian, pokoknya yang tinggal comot dan nggak harus nyalain kompor. Praktis memang mereka tapi kalau soal urusan perut saya lebih suka repot dikit. Kami makan hangat dua kali sehari, lunch DAN dinner. Paginya makan roti-rotian atau oatmeal. Kalau kamu sarapannya gimana?

Kalau pas kerja, saya lunch-nya random. Kadang bawa makanan hangat dari rumah yang bisa dipanasin di microwave, kadang bawa overnight oatmeal doang dan side dishnya apa aja yang bisa  diambil di dapur kantor misalnya kripik pisang dan waffle instant.
999A0389-1eS
Homemade artisan bread buat sarapan.

Itu dulu tentang kebiasaan-kebiasaan kecil orang Jerman. Selebihnya ditulis nanti ya, biar next time ada bahan tulisan lagi 🙂

To be continued…

 

Random Sunday – Di Sekitar Sini Saja

 

999A7246-1es
Fotonya nggak nyambung gapapa ya… kan random photo yang diambil 😀
Kapan itu pas nganter Flipper ke TK, saya ketemu dg seorang bapak yang sering saya lihat di playground, main dengan anaknya yg satu TK dengan Flipper tapi beda kelas. Si bapak tadi nyangklong roller yang menurutku pretty cool. Secara roller-nya Flipper udah kekecilan, saya nanya dong itu roller mereknya apa dan anaknya umur brp (faktor ukuran roller-nya). Eh lah ternyata si bapak ini mikir lama pas ditanya umur. Akhirnya dengan ragu-ragu dia menjawab: I think she is five…😅 #men #dad

Jadi biasanya anak- anak tetangga suka ngebel trus bertanya si Flipper mau keluar main nggak sama mereka? Tapi  beberapa hari yang lalu ada anak umur 5 tahunan, ngebel untuk pertama kalinya di rumah kami dan bertanya dengan sopannya, “Apa aku boleh mengajak anak perempuanmu keluar?” Aaaaw… yang terpesone emaknya 😄

Enaknya jadi pelanggan online shops adalah, ketika ulang tahun kita bisa dapat banyak voucher discount dari banyak olshop untuk belanja hihi… Lalu dari keluarga jauh biasanya dapat hadiah duit. Pas lah ya… #pengenultahterus