(Semi) Multilingual Child

999A7378-1eSS

Kemarin waktu di Indonesia saya banyak melihat orang tua Indonesia yang ngajak anak balitanya ngobrol dengan bahasa Inggris. Menurut saya bagus banget anak sudah mulai dikenalkan dengan bahasa asing sejak dini. Beberapa teman dan kenalan juga bertanya ke saya kenapa Flipper nggak bisa berbahasa Inggris? Kan dia tinggal di luar negeri? First, Fliper memang tinggal di luar negeri which is Jerman yang bahasa sehari-harinya adalah bahasa Jerman dan second, kami memang tidak (belum) mengajarkan bahasa Inggris ke dia.

Flipper sendiri bilingual, berbahasa Jerman dan Indonesia tapi Jermannya lebih banyak dari pada bahasa Indonesianya. Bisa jadi karena faktor lingkungan di sini dimana semua orang berbahasa Jerman kecuali mamanya dan saya sendiri kadang tidak konsisten mengajak dia  berbahasa Indonesia, seringnya ngajak berbahasa Jerman pula :D. Menurut kami, suami dan saya, belajar bahasa paling efektif untuk anak balita adalah ketika dia belajar satu bahasa dari satu orang di mana di keluarga kami, si papa yang berbahasa Jerman dan si mama  yang berbahasa Indonesia. Seandainya ada oma atau opa atau tante yang bisa berbahasa Inggris tentu akan asyik banget bila Flipper bisa berbahasa inggris dengan the third person itu. Namun sayangnya di lingkungan terdekat kami nggak ada yang bisa mengajak Flipper berbahasa Inggris.

Bahasa Inggris selama ini hanya kami kenalkan lewat lagu anak-anak. Dari bayi Flipper sudah sering mendengarkan lagu anak-anak berbahasa Inggris. Saking seringnya mendengarkan lagu-lagu yang sama setiap hari, lama-lama dia bisa sebut angka dan abjad sendiri dengan English pronounciation tanpa saya ajarin. Lalu mulai umur 2 tahun dia sudah mulai saya kasih lihat video lagu-lagu yang biasanya (hanya) dia dengar tersebut. Kanal Youtube  favorit kami adalah ‘Super Simple Songs’ dari ‘Super Simple Learning’ dan ‘Bob The Train‘ . Setelah melihat video-videonya, Flipper jadi tahu mana itu angka 123, mama itu huruf ABC, mana itu head, shoulder, knee, tomato, etc.

Umur 3 tahun Flipper mulai masuk TK dan mulai kenal lagu-lagu berbahasa Jerman yang ternyata beberapa di antaranya adalah terjemahan dari lagu anak-anak berbahasa Inggris itu tadi (atau vice versa). Pada awalnya dia suka galau karena lagu-lagu yang dia kenal selama ini kalau dinyanyin di TK kok jadi lain bahasanya. Kadang dia kalau nyanyi pun bahasanya campur-campur. Nah akhir-akhir ini Flipper mulai bisa tuh misahin bahasa. Flipperpun mulai meninggalkan ‘Super Simple Songs’ dan stick dengan ‘Bob the Train’ karena Bob punya video versi bahasa Jerman juga (yang sebenernya menurutku versi Jermannya enggak banget! 😂). Dia bahkan minta sendiri kalau lihat YouTube di TV dia maunya yang berbahasa Jerman sedangkan kalau di iPad dia maunya yang berbahasa Inggris. Kadang nih out of the blue, pas kita lagi mainan bareng, dia bilang, “Mama tahu nggak, Fenster heisst window auf Englisch…” Ih mentang-mentang maknya nggak pernah ngajarin eh dia yang ngajarin emaknya hihi…

Iya jadi angka, abjad dan kosa kata bahasa Inggris dia belajar sendiri dari lagu anak-anak tersebut. Selain itu dia juga suka kalau dibacakan buku anak-anak yang berbahasa Inggris. Saya sendiri belum  mengajarkan Flipper angka dan abjad, paling hanya menyediakan fasilitas seperti lagu-lagu tadi dan membantu mengoreksi saja kalau dia salah. Dan melihat progress dia yang lumayan cepat belajar bahasa sendiri, kami mulai kepikiran untuk memasukkan dia ke kursus bahasa Inggris, kalau anaknya mau ya…

Oh iya, gaya parenting tiap orang tua beda-beda ya… Menurut saya nggak ada yang salah karena tiap anak juga berbeda jadi kebutuhannya juga pasti berbeda. Ada yang melarang anaknya pegang gadget at all, ada yang ngasih bebas. Flipper saya kasih pegang iPad dan lihat TV program anak-anak yang dibatasin waktunya dan so far efeknya baik buat dia, bisa belajar bahasa itu tadi. Ada juga orang tua yang sudah mengajarkan anak-anaknya berhitung dan membaca dari umur 19 bulan (saya baca kemarin dari FB Pagenya Toddler Approved), kalau untuk hal-hal yang akademik begitu saya termasuk nyantai. Di sini sebelum anak masuk SD, mereka tidak diwajibkan mengerti angka dan abjad. Jadi ya biarkan anaknya bermain saja dulu, angka dan abjad bisa dikenalkan sambil lalu dengan lagu-lagu itu tadi.

Di sini ada yang anaknya multilanguage nggak, gimana methode ngajarinnya? Mungkin bisa share tips 🙂

Advertisements

Hari Pertama Masuk SD (Einschulungstag)

Kemarin di provinsi North Rhine Westphalia Jerman merupakan hari pertama anak-anak masuk SD atau di sini disebut Einschulungstag. Di sini hari pertama masuk SD adalah a big thing buat para orang tua. Eh pastinya di Indonesia juga ya, di mana para orang tua terharu biru karena si anak yang dulunya bayi, lalu menjadi toddler, kini sudah kelas satu SD. Tak heran bila kemarin banyak terlihat anak-anak yang menyandang ransel gede di punggungnya dan mendekap bingkisan besar berbentuk kerucut berhias  yang disebut Schultuete.

Rutinitas hari pertama masuk SD di sini diawali dengan kumpul bersama, sesama siswa baru ditemani orang tua, opa-oma dan saudara-saudara mereka di gereja yang sudah ditunjuk oleh pihak sekolah. Setelah itu  mereka pergi bersama-sama ke gedung SD. Di SD mereka akan diterima oleh kepala sekolah dan disambut dengan pidato selamat datangnya. Setelah itu mereka mulai dipisah di kelas masing-masing. Sejauh pengalaman saya motret hari pertama masuk SD, rata-rata di sini satu kelas diisi 20-25 anak.  Di dalam kelas mereka berkenalan dengan wali kelas mereka sekaligus menerima wejangan dan  aturan-aturan dos dan don’ts. Salah satu yang dianjurkan adalah supaya anak-anak pergi ke sekolah dengan jalan kaki (tentunya dengan ditemani orang dewasa dulu di hari-hari pertama) supaya mereka hapal jalan ke sekolah dan bisa belajar mandiri. Itulah sebabnya anak-anak di sini pilihan sekolahnya tergantung dengan jarak jauh-dekatnya dengan tempat tinggal. Di kota tempat tinggal saya, untuk selevel TK dan SD tidak ada golongan sekolah favorit dan non favorit, semua memiliki kualitas yang sama.  Nggak tahu ya kalau di kota lain.

Setelah prosesi penerimaan siswa baru yang kira-kira memakan waktu 2 jam, merekapun pulang ke rumah.  Di rumah  para orang tua biasanya mengadakan  pesta makan siang dengan mengundang keluarga dan teman dekat. Ada yang mengadakan pesta di rumah tapi ada juga yang booking tempat di restoran. Di saat makan siang inilah anak-anak mulai diperbolehkan membuka Schultuete mereka. Apa sebenarnya Schultute itu?

Schultuete  merupakan bagian dari tradisi hari pertama masuk SD dan bisa dibeli kosongan di toko-toko yang banyak menjualnya menjelang bulan Juli dan Agustus atau membuat sendiri. Kebanyakan sih  anak-anak di sini membuat Shultuete sendiri  dibantu papa mama. Sebelumnya, saat masih di Kindergarten, anak-anak yang akan masuk SD tersebut juga sudah diajarin oleh  gurunya bagaimana membuat Schultuete sendiri.

Tradisi ini berawal di kota Jena pada tahun 1800 an dimana untuk menambah semangat si anak masuk sekolah baru (baca: mengurangi kecemasan anak-anak) , para orang tua dan saudar-saudara yang lain memberi hadiah berupa permen dan coklat yang dimasukkan ke dalam Schultuete tersebut. Saat ini sih isi Schultuete nggak hanya permen-permenan namun juga alat-alat sekolah dan mainan.

Berikut ini adalah beberapa foto dari Einschulung photo session kemarin:



Don’t cry mama!

Selain Schultuete, hal yang menarik lainnya adalah ransel besar yang dikenakan anak-anak SD tersebut. Ransel ini akan dikenakan sehari-hari tentunya, tidak pada hari pertama saja.

Foto diambil dari: http://www.ksb-es.de/neue-ranzen-machen-kinder-gluecklich/

Orang pendatang yang melihat ransel itu pertama kalinya di Jerman pasti berpikir what the heck is that? Besar, terlihat berat dan desainnya jelek semua (at least menurut saya ya). Saya bahkan sempat kasihan melihat anak-anak yang mengenakan tas kebesaran tersebut. Namun rupanya, meskipun tidak wajib mengenakannya,  ransel tersebut ternyata sangat dianjurkan untuk dipakai karena desainnya sudah disesuaikan dengan proporsi pungggung, tubuh anak, dan ada ukuran-ukuran tertentu disesuaikan dengan umur dan berat/ tinggi badan mereka. Bahannyapun ternyata ringan jadi meskipun besar, dia tidak berat (yang bikin berat mah buku-buku di dalamnya).

Selain sudah diperhitungkan faktor ergonomic-nya, soal fungsi juga diperhitungkan banget. Di interior ranselnya terdapat sekat-sekat untuk buku, kotak bekal, botol minuman, pencil, dst. Lalu di exterior ada reflection sticker-nya supaya kalau pagi-pagi berangkat ke sekolah, meksipun gelap di musim dingin, anak-anak itu tetap terdeteksi. Oh iya, bahan ransel yang free toxic juga menjadi pertimbangan untuk membeli ransel sekolah. Tak heran deh pokoknya bila ransel jelek ini harganya di atas 100€, apalagi yang ada stempel TÜV nya. Ngalah-ngalahin harga tas mamanya deh pokoknya 😂


Foto diambil dari: http://www.t-online.de/leben/familie/schulkind-und-jugendliche/id_19084134/stiftung-warentest-schulranzen-muessen-vor-allem-stabil-sein.html

Kalau di tempat tinggal kalian ada tradisi khusus untuk anak sekolah nggak?

Karneval di Cologne

img_2754esblog
Saya bersama para heroes 😀

Seperti yang pernah  saya tulis di postingan tentang pasar Natal beberapa waktu yang lalu, salah satu hiburan di musim dingin yang tak kalah rame di sini adalah Karneval. Karneval ini resminya adalah ritual yang dilakukan oleh umat Roman Catholic sebelum LENT ( periode di antara Rabu Abu dan Paskah). Tidak semua kota di Jerman merayakan acara ini. Dan meskipun ini merupakan hari rayanya umat Catholic tapi di sini umat beragama apa saja bahkan yang tak beragama boleh ikut meramaikan. No question asked. Di Jerman daerah Selatan Karneval disebut Fasching, inti perayaannya sama meskipun ritualnya agak berbeda. Di sini saya hanya akan menulis tentang Karneval yang berlaku di daerah Rhein (daerah yang dilewati sungai Rhine), yaitu Cologne, Duesseldorf, Bonn, Aachen, Mainz dan kota-kota kecil di sekitarnya.  Di Cologne, Bonn dan Aachen pada masa-masa Karneval semua orang akan saling menyapa dengan kata-kata ‘Alaaf’ sedangkan di Duesseldorf adalah ‘Helau’. Jangan sampai kebalik ya karena Cologne dan Duesseldorf itu meskipun tetangga dekat namun mereka tidak akur jadi kalau kebalik bisa timpuk-timpukan permen deh jadinya.

Pembukaan Karneval dimulai pada tanggal 11 bulan 11 jam 11.11 siang. Pada hari ini bisa dilihat banyak orang dengan beraneka macam kostum berkeliaran di segala sudut kota. Orang-orang yang mengikuti acara resmi di club Karneval (Karnevalsverein) bisa mengikuti ceremony pembukaan di gedung-gedung yang mereka sewa. Yang tidak ikut club tetep boleh mengenakan kostum tanpa harus mengikuti acara peresmian. Pada hari ini banyak orang yang ambil cuti kantor atau tetap masuk kantor dengan mengenakan kostum. Yang tidak cuti menjalankan aktifitas sehari-hari berjalan dengan normal, bedanya hanya kostum saja dan malam harinya dilanjut dengan party di nightclub.

Setelah pembukaan Karneval, pada hari-hari berikutnya  orang-orang mulai disibukkan dengan persiapan Natal sehingga  euforia Karneval tenggelam oleh hiruk pikuk Natal. Setelah Natal, acara tahun baru mendapat giliran untuk tampil ke permukaan. Toko-toko dan restoran heboh menjual petasan dan paket New Years Gala dinner. Nah setelah keramaian tahun baru usai, semangat Karneval-pun muncul kembali ke permukaan. Toko khusus kostum Karneval mulai dipenuhi pengunjung bahkan supermarketpun turut menjual properti Karneval.

Untuk penggemar berat Karneval, belanja kostum Karneval adalah event yang asyik. Untuk memilih kostum, selain tema, unsur cuaca juga harus diperhatikan di sini, secara perayaan ini kebanyakan berlangsung ourtdoor pada siang hari ynag berlanjut indoor di malam hari jadi soal kehangatan bahan kostum harus diperhatikan. Karena saya tidak pernah ikut merayakan Karneval sampai malam, kostum yang saya pilih biasanya yang berukuran besar supaya dalemnya masih bisa dipakein jaket. Kostum binatang berbulu-bulu juga relatif aman untuk cuaca dingin. Tapi tak jarang juga kita melihat orang-orang ynag berani dengan kostum ‘summer‘. Harga kostum Karneval bervariasi, mulai dari 5€ yang biasanya hanya bisa dipakai sekali lalu rusak sampe yang beratus-ratus Euro. Selama 9 tahun tinggal di Jerman saya hanya dua kali beli kostum Karneval selebihnya hanya beli atribut kecil-kecilan seperti topi atau wig.

img_6468
Karneval pertama saya di Jerman pada tahun 2008. Niat banget pokoknya.

Lanjut dengan ritual Karneval. Setelah dibuka pada tanggal 11 November, acara Karneval yang rame  berikutnya adalah pada Weiberfastnacht (Fat Thursday) yang pada tahun ini jatuh pada tanggal 23 Februari 2017. Pada hari ini kebanyakan perkantoran hanya buka setengah hari atau bahkan tutup, demikian pula dengan pertokoan. Tidak ada parade pada hari ini namun orang-orang tetap menggunakan kostum dan party di jalanan yang kemudian dilanjutkan di nightclub. Musik Karneval bisa terdengar di santero kota karena hampir semua pertokoan memainkannya. Pada hari ini jangan kaget bila melihat banyak wanita berkostum sambil membawa gunting karena pada hari ini mereka ‘diperbolehkan’ menggunting dasi para pria sebagai simbol bahwa hari ini perempuanlah yang berkuasa.  Para pria yang biasanya sudah mahfum dengan tradisi ini memilih ke kantor tanpa dasi atau sengaja memakai dasi yang sudah bulukan.

Meskipun seminggu sebelum dan sesudahnya anak-anak boleh mengenakan kostum di TK, TK-nya Flipper resmi merayakannya Karneval pada hari Weiberfastnacht ini. Flipper dan teman-temannya menaruh kostum di TK supaya mereka bisa ganti-ganti sesukanya. Flipper sendiri menaruh dua kostum di lemari TK-nya. Pada perayaan resmi Karneval kemarin grup TKnya Flipper menggelar teater dengan tema Frau Holle (English: Mother Hulda), sebuah cerita terkenal dari Brothers Grimm. Tak hanya anak-anak yang mengenakan kostum, guru TKnya pun semua menggunakan kostum disesuaikan dengan tema Frau Holle. Saya tidak punya foto acara di TK, namun berikut ini ada foto-foto Flipper yang exist berkarnaval:

akukenklub
Karneval pertama dalam hidup Flipper, tahun 2015, merayakannya bersama-teman-teman di Babyclub.
adalmatian
Pada karneval kedua di tahun 2016, dia boleh turun ke jalan mengumpulkan (dan makan) permen 😀
aimg_6379
Fitting kostum at home sebelum diangkut ke TKnya, Karneval 2017.

Setelah acara Weiberfastnacht para Karneval fans bisa agak slow down lagi. Ritual berikutnya baru berlangsung 4 hari lagi yaitu di acara Rosenmontag, yang tahun ini jatuh pada tanggal 27 Februari kemarin. Rosenmontag yang artinya Rose Monday adalah puncak dari sekian banyak (dan lama) ritual Karneval. Pada hari ini diselenggarakan parade kendaraaan hias dengan tema-tema yang lagi heboh. Tahun ini tema yang banyak tampil adalah Angie, Putin, Erdogan dan Trump tentu saja. Masalah sosial seperti asyl, kesejahteraan penduduk, juga tak lepas dari sindiran tema Karneval.

Di Rosenmontag para penduduk kota yang merayakan Karneval tumpah ruah di jalanan ingin melihat parade (Yang tidak suka Karneval biasanya melarikan diri ke toko mebel atau bahkan keluar kota) sambil membawa minuman alkohol. Bagian ini nih yang tidak saya suka dari Karneval karena banyak orang yang mabuk di jalanan. Meskipun tidak pernah diganggu orang mabuk, tapi sebel aja kadang lihat sampai ada yang muntah-muntah di pojokan atau teriak-teriak nggak jelas. Tapi konon alkohol memang membantu mengatasi cuaca dingin di saat Karneval. Keluyuran di luar rumah seharian di musim dingin memang bukan sesuatu yang gampang 😀

Siapa saja boleh melihat parade Karneval, bebas dan tidak dipungut bayaran. Kalau mau melihat di tempat yang strategis sih bisa duduk di tribun-tribun yang sudah dipersiapkan secara khusus tapi pakai bayar dan biasanya tiketnya sudah sold out jauh-jauh hari. Di parade ini para peserta parade membagikan permen dan snack manis kepada para pengunjung dengan cara melemparnya dari kendaraan hias mereka ke segara penjuru mata angin. Mereka akan semakin semangat menebar permen bila ada teriakan ‘kamelle-kamelle’ dari pengunjung. Kamelle artinya permen tapi ini bukan bahasa sehari-hari, istilah ini hanya terdengar ketika musim Karneval. Berikut ini adalah foto dari parade Karneval tahun 2011, satu-satunya Karneval di mana saya bisa melihat parade dengan lumayan jelas (meskipun angle-nya nggak perfect). Biasanya nggak pernah bisa nonton parade karena desak-desakan. Maklum saya petite 😀 Klik tiap foto untuk tampilan lebih jelas ya…

 

Saya sendiri sebenarnya bukan penggemar berat Karneval. Tapi kalau ada temennya rame-rame dan cuaca juga memungkinkan (baca: nggak hujan, nggak terlalu dingin, nggak berangin) ya saya ikutan. Kalau anak-anak pasti suka diajak melihat parade karena mereka bisa mengumpulkan permen banyak. Oh iya kalau mau melihat parade jangan lupa membawa kantung buat wadah permen ya. Dan kalau memang mau ikut melihat parade sebaiknya menggunakan kostum meskipun minimalis karena kalau tidak pakai kostum pasti merasa salah gaya 😀

Setelah karnaval biasanya banyak orang sakit karena kebanyakan kena angin dan kebanyakan alkohol. Hari ini saja sudah tiga anak buah suami ynag telpun karena sakit. Tiga lainnya sudah telpun Jumat kemarin setelah acara Weiberfastnacht. Ya, untuk orang yang benar-benar fans Karneval, Karneval merupakan party time dan itu mulai dari 11 November sampai Rabu Abu (Ash Wednesday) tahun berikutnya, hampir setiap hari party, kalaupun tidak di jalanan ya di nightclub yang menyelenggarakan acara khusus Karneval. Besok, Rabu Abu yang bahasa Jermannya Aschermittwoch acara Karneval resmi ditutup. Ada ritual penutupannya juga saat ini tapi pengikutnya tak seramai eperti di Rosenmontag. Setelah Rabu Abu, kegiatan sehari-hari di sinipun kembali berjalan normal seperti biasa. Cuaca pelan-pelan mulai menghangat dan orang-orang mulai riang menyambut Paskah dan musim semi.

Dan berikut ini adalah kumpulan  foto suasana Rosenmontag  dari beberapa Karneval ynag saya ikuti di kota Cologne:

img_0390oks
The crowd.
img_0398oks
Enaknya sih memang bisa nonton di teras rumah begini, kalau kedinginan tinggal tutup jendela.
img_0408oks
Saya dan Charlie Chaplin. Wig Pippi Langstrumpf sudah saya copot karena udah on the way mau pulang ke rumah (tapi alisku masih kelihatan sedikit blonde tuh) 😀
img_0409oks
A woman with her two guardian angels.
img_2732esblog
Di depan Kathedral Koelned Dom.
img_2739esblog
Saya si pecinta binatang 😀

img_2789esblog

img_2745esblog
Enter a caption

img_2753esblog

img_2747esblog

img_2758esblog
Noo!
img_2767blogs
Tua muda ikut merayakan Karneval.
img_2802blogs
The crowd.

Untuk acara Rosenmontag tahun ini, which was kemarin, karena cuacanya sangat dingin dan berangin, saya tidak ikut berpartisipasi (baca: malas). Saya dan keluarga kemarin menikmati hari libur dengan brunch di sebuah hotel. Enak banget suasananya sepi karena banyak orang  ikut Karneval. Foto-foto Rosenmontag di kota Cologne kemarin bisa diintip die websitenya  Zeit Online.

 

 

Winter Wonderland in Willingen

Weekend kemarin kami berlibur ke kota Willingen, sebuah kota yang terkenal dengan winter activity-nya. Hubby dan saya sudah beberapa kali ke kota ini tapi untuk Flipper, ini adalah kunjungan yang pertama kali. Selama ini kami selalu datang ke Willingen di saat musim dingin, ketika kangen dengan salju. Maklum kota tempat tinggal kami termasuk kota paling hangat di Jerman sehingga di musim dingin, meskipun dingin njekut seperti saat ini, salju datangnya cuman sauprit. Selama musim dingin kali ini, salju baru turun sekali di tempat kami itupun tak terlalu tebal dan tak tahan lama, hanya sehari lalu semua hilang lagi menjadi becek.

Dari kota kami sebenarnya jarak ke kota Willingen bisa ditempuh hanya 2,5 jam saja tapi karena hari Jumat kemarin macet total hingga, jadinya molor menjadi 4,5 jam. Salju yang turun lebat plus banyaknya kendaraan yang menuju Willingen menjadi biang kerok kemacetan ini. Oh iya saat macet itu Flipper sempat tantrum minta jajan, sedangkan jajan yang sudah saya siapkan di box sudah habis dicamilin sama dia. Alhasil sayapun musti keluar dari mobil mengambil Oreo di bagasi belakang. Melihat saya menenteng kemasan besar Oreo, pemilik mobil di  belakang kami mainin lampu, ngasih kode minta Oreo juga, sayapun dengan senang hati bagi-bagi Oreo juga ke mereka. Jadi ingat penjaja tahu goreng dan Aqua di jalanan di tanah air sana deh haha!

Berikut ini foto selama di perjalanan yang saya ambil dengan iPhone 6 dan Samsung S7 Edge  #takenfromacar (klik tiap foto untuk penampilan lebih jelas)

Kota Willingen sendiri memang ramenya hanya pada musim dingin saja dimana banyak turis datang untuk main ski. Meskipun tidak seterkenal ski resort di Alpen sana, di Willingen setiap tahunnya diadakan pertandingan ski-jumping yang diadakan oleh International Ski Federation. Saya sih tidak bisa main ski dan somehow tidak tertarik untuk belajar (takut jatuh, ha!). Seringnya hanya naik skilift menuju cafe di puncak gunung yang isinya rame dengan pengunjung ski lalu turun lagi setelah kenyang. Masih ingat deh saya waktu pertama kali naik skilift yang model terbuka gitu,  jari-jari tangan saya sampe freezing nggak bisa dipake motret meskipun sudah mengenakan sarung tangan. Padahal perjalanan dari bawah ke atas gunung itu nggak terlalu lama, around 15 menit saja, haha. Saat itu, tahun 2006 memang untuk pertama kalinya saya berhadapan dengan salju dalam hidup saya.

Selain naik turun di pegunungan ski tanpa ikutan ski, hiking  juga menjadi kegiatan favorit saya. Holiday house milik mertua ini ada di pinggiran kota, dari sini ada 3 jalan menuju pusat kota; melalui jalan raya normal atau jalur hiking lewat pegunungan di belakang rumah. Jalur hikingnya sendiri ada dua rute yang bisa ditempuh para pejalan kaki yaitu yang 1,5 sampai pusat kota atau agak memutar 3 km sampai sana. Kemarin ini sayangnya jalur yang 3 km tertutup salju tebal dan karena medannya tidak memungkinkan, tidak bisa dibuka jalurnya oleh mobil pengeruk salju yang banyak mondar-mandi di kota ini. Padahal pemandangan dari jalur 3 km ini lebih asyik. Tapi ya sudahlah, mengingat salju setinggi 40 cm, tebing-tebing yang tak kelihatan serta adanya toddler yang super aktif…mending kita lewat jalur pendek saja pulang-pergi.

Berikut ini foto-foto selama hiking:

2423

2437

2427

2448

Di foto ini holiday house kami hanya terlihat atapnya saja, di sebelah kanan agak bawah.

2440

Kami selama dua kali hiking kemarin selalu berangkat ke pusat kota jam 10 pagi, sesudah sarapan. Dengan toddler perjalanan 1,5km bisa ditempuh 2-3 jaman pake acara bangun snow man, lempar-lemparan salju, sekedar guling-gulingan di salju dan main perosotan dengan slide-nya.

img_5396-1s

img_5404-1s

img_5446-1s

Suhu yang berada di pusaran -5 sampai 3 derajat celcius saat itu tidak terasa dingin bagi kami karena selain mengenakan baju yang sesuai, kami  juga aktif bergerak. Yang ada malah keringatan. Cuaca memang perfect saat itu, meskipun matahari jarang keluar namun tidak ada angin. Sesudah jalan sih biasanya saya jadi lapar berat :D.

Sampai di pusat kota Willingen, kami window shopping sebentar lalu mencari makan siang di restoran atau sekedar makan kue dan ngupi di kafe. Setelah itu melanjutkan perjalanan pulang melalui jalur yang sama. Di bawah ini suasana kota Willingen yang berpenduduk sekitar 6.000 orang. Oh iya, di sini, meskipun termasuk ‘desa’ ada supermarket yang buka di hari Minggu. Something uncommon in Germany.

2468

2469

1091

img_4898esimg_4899es

Setelah sampai di penginapan lagi, si Flipper tidak bisa bertahan lama main di dalam rumah. Setelah main sebentar dan snacking lagi, dia lalu usrek minta mainan salju lagi di luar. Kamipun keluar lagi. Pokoknya 3 hari kemarin benar-benar hanya kami gunakan untuk berkecimpung dengan salju.

img_5004es
Nggak sabar pengen keluar rumah.

img_4930es
Mendaki tumpukan salju di depan penginapan.

img_5479-1s
Main di lapangan sepak bola yang tidak kelihatan lapangannya.

Senin sore kita balik ke rumah lagi. Sampai di rumah, suhu ternyata lebih rendah dari dataran tinggi Willingen. Uadem pol dan tidak ada salju. Untungnya matahari selalu bersinar cerah di sini jadi sama-sama asyik lah. Di sini tidak banyak orang yang suka salju. Kalau anak-anak sih pasti suka tapi kalau para dewasa biasanya suka mengeluh karena jalanan jadi macet, public transport banyak yang mengalami kendala dan orang yang tinggal di rumah berhalaman dan bertrotoat musti rajin-rajin ngerok salju di depan rumah mereka karena kalau sampai ada orang yang jatuh terpeleset di situ (pak pos misalnya), maka yang bertanggung-jawab adalah yang tinggal di situ.

Kamu yang tinggal di negara empat musim, lebih suka winter yang bagaimana?

Foto-foto di Willingen ynag lain bisa dilihat di Flickr saya ya 🙂

-beth-

Potret Diri

Duluuu pas baru buka bisnis foto studio di sini, saya sempat menyebar brosur di kampung saya yang isinya portfolio singkat karya-karya portrait saya. Tak diduga tak dinyana, banyak orang yang komentar: loh kok ini bukan kamu yang di foto? Loh ini emangnya kamu? Kok blonde?

Err…maaf pak, bu, saya kan fotografernya… ini model-model saya yang di foto 😅

Lalu hari gini, Di saat Gorilaz dan Cro (penyanyi Jerman) masih tetep suka menyembunyikan muka asli mereka, seorang customer yang puas dengan hasil karya saya merekomendasikan saya ke beberapa temannya. Salah satu temannya itu langsung tilpun saya siang tadi dan bertanya ini itu. Sayapun memberi alamat website saya ke dia, biar dia bisa ceki-ceki sendiri. Beberapa saat kemudian datang sms darinya: Foto dirimu kok nggak ada ya? Saya pengen lihat…

Eh😅

Di sini sepertinya memang sudah kebiasaan kalau pemilik bisnis selalu memuat potret diri mereka tak hanya di website namun juga di kartu nama bahkan iklan koran (sayang siang tadi adalah hari pengambilan sampah kertas jadi udah nggak ada koran di rumah, nggak bisa kasih contoh). Mulai dari tukang ledeng sampai pengacara. Seriously, kalau mesin cuci di rumah rusak atau perlu pengacara atau notaris untuk ngurus rumah, saya nggak peduli deh muka mereka kayak gimana 😅 Kalau kamu?

Note: Foto-foto di bawah ini bukan saya ya 😀

img_5470lr_eoks

img_5061lr_e

img_0077-1es
-beth-

Menjelang Natal di Jerman

(Warning: banyak fotonya)

Meskipun aslinya nggak natalan, Natal merupakan sesuatu yang ditunggu di setiap akhir tahun. Selain acara tukar kado yang seru, tentunya acara-acara public dari sebelum hari-H menjadi hiburan tersendiri untuk mengurangi stress di musim dingin. Banyak diskonan adalah salah satunya.

Sudah saya amati dari tahun-tahun sebelumnya kalau menjelang Natal banyak toko-toko yang memberi diskon dengan harapan banyak orang yang membelinya untuk kado Natal. Tapi belinya kalau bisa sebelum bulan Desember ya, karena bila sudah masuk Desember harga-harga barang favorit untuk kado, seperti mainan anak-anak dan alat dapur bisa naik hingga 200%. Kalau apparel atau buku-buku harganya cenderung selalu diskon atau harga tetap.

Mainan favorit yang dicari para orang tua untuk kado Natal misalnya product dari Schleich dan Lego. Saya dari lama sudah mengincar Schleich model kandang kuda dan Lego model castle. Pada bulan-bulan normal, harga rata-rata kandang kuda Schleich beserta aksesorisnya adalah 76€. Harga termurah ada di Amazon yaitu 72€ yang pada saat-saat tertentu bisa diskon menjadi 65€. Sementara Lego Ritterburg berharga rata-rata €100. Saat masuk bulan Desember, di mana Amazon memulai program diskon harian untuk barang-barang yang berbeda di setiap harinya, Schleich kandang kuda sama sekali tidak masuk ke program diskon ini dan malah naik menjadi 105€. Phew banget kan harganya… Berapa harga Lego Ritterburg? Sudah tidak saya check lagi haha…

Intinya selain banyak diskon, banyak juga barang yang naik harga, jadi harus pinter-pinter mengatur waktu shopping-nya.

Yang tidak kalah seru selain shopping adalah WEIHNACHTSMARKT alias pasar natal. Secara kalau musim dingin itu banyak orang yang depresi, pasar Natal menjadi hiburan wajib untuk masyarakat Jerman. Asal tidak beli apa-apa masuk pasar Natal ini gratis. Ada juga sih pasar Natal yang musti beli entrance fee tapi biasanya berada di tempat yang spesial misalnya di dalam puri atau di atas kapal.

Cologne merupakan salah satu kota  yang memiliki pasar Natal cantik yang wajib dikunjungi selama di Jerman. Selain di Cologne, pasar Natal terkenal juga ada di kota Nuremberg, Berlin, Dresden, Freiburg, Aachen dan beberapa tempat lainnya.

Beruntung sekali kami tinggal di tempat yang tidak jauh dari Aachen dan Cologne, jadi setiap tahun bisa mengunjungi pasar Natal di kedua kota ini. Tahun lalu bahkan sempat melipir-melipir ke kota-kota lain seperti Duesseldorf dan Frankfurt.

Berikut ini foto-foto pasar Natal di beberapa tempat di antara kota Cologne dan Aachen saja:

Pasar Natal di halaman Katedral Koelner Dom.

6

1
Flipper dan papa bergaya duluan sebelum mengeksplore pasar Natal di halaman katedral Koelner Dom Cologne.
4
The entrance to the Christmas market with Koelner Dom Cathedral as the background.
7
The stage in Christmas market at Koelner Dom Cathedral with live music concert everyday.
8
Stunning, right?
img_1941s

3
The pretty lady is selling what so called Cologne biscuit. Stand jualan di pasar Natal Koelner Dom mempunyai warna seragam khas, warna merah.
Pasar Natal di Altstadt (old town) Cologne

bild-029s
Kelabu, gelap, hujan dan dingin di pasar Natal di Altstadt Cologne tapi pengunjung tetap bersemangat.
bild-024s
Ciri khas stand jualan di Altstadt Cologne adalah bangunan bergaya middle age.
bild-025s
Jualan roti bawang.
bild-030s

Pasar Natal di Atas Kapal di sungai Rhine, Cologne

bild-046s
Untuk masuk sini dikenakan biaya masuk 3€ saja. Yang dijual di dalamnya menurut saya biasa-biasa saja tapi suasananya dong yang asyik…dan tidak terlalu dingin pastinya.
Pasar Natal di Aachen

1050

1055

1057

1053

Pasar Natal di Sebuah Ladang Dekat Rumah

Sehari-harinya tempat ini merupakan ladang perkebunan di mana konsumen bisa  langsung memetik sendiri buah, sayur bahkan bunga yang akan dibeli. Kalau malas memetik sendiri, bisa juga langsung membeli di tokonya. Daging tidak dijual di sini, namun ada produk susu dan telur. Kebanyakan yang dijual di sini merupakan produk organic.

Selain ladang mereka juga memiliki tiga kuda poni dan beberapa kelinci yang membuat Flipper semangat banget kalau diajak ke sana. Oh iya, taman bermain untuk anak juga disediakan di sana.

Nah menjelang Natal selain tetap beraktifitas seperti biasanya, ladang ini membuka pasar Natal juga untuk masyarakat terdekat. Tidak semegah atau segemerlap pasar Natal di pusat kota Cologne atau Aachen tapi buat saya justru menyenangkan karena tidak unyel-unyelan, tidak perlu antri panjang untuk makan dan suasananya lebih kekeluargaan.

Ketika berkunjung ke sini, kami juga membeli pohon Natal asli hasil dari ladang tersebut, bahkan kalau mau kita juga bisa menebang sendiri tapi waktu itu kami memutuskan untuk beli yang sudah dipotong saja. Karena membeli pohon Natal di sana, kami mendapat gratisan dua porsi makanan dan minum, yay!  Reibunkuchen (kentang parut goreng yang dicocol dengan puree apel) dan susu coklatpun menjadi pilihan kami. Enak deh, dingin-dingin makan gorengan 😀 Flipper sibuk main karusel bolak-balik tanpa merasa pusing, bolak-balik menemui Sinterklas supaya dapat coklat dan rajin mencari rumput untuk bolak-balik ngasih makan kuda poni. Oh iya, keesokan harinya si Flipper sakit perut karena kebanyakan coklat dan sejak itu smapai sekarang dia agak-agak anti coklat 😀

2

3

4

Barang dan makanan yang dijual di pasar Natal rata-rata sama saja; kerajinan tangan, pernak-pernik untuk pohon Natal, hasil rajutan, biskuit, tumis kentang bawang, sosis curry, Reibenkuchen dll. Paling ketambahan barang khas daerah mereka saja.

bild-053s

bild-061s

bild-063s

img_1945s

1060

1059

Bila di Berlin, beberapa pasar Natal tetep buka hingga Januari, di daerah saya ini hanya buka dari tanggal 23 November sampai 23 Desember saja. Selanjutnya yang ada di mana-mana jual petasan dan WSV-Winterschlusserkauf alias Winter Sale Season pun dimulai. Setelah itu ada kegiatan public yang tak kalah seru  yaitu Karnaval yang insyaallah akan saya tulis juga nanti.

-beth-

Menyanyi Bersama Frau Höpker

Beberapa minggu yang lalu seorang teman yang belum lama saya kenal bertanya apa saya suka menyanyi. Suka dong, saya dulu vocalist di sebuah band kampus yang akhirnya pensiun dan sekarang aktif berkaraoke ria dengan Xbox di rumah atau sambil main gitar semampunya. Si teman ini, sebut saja namanya Penny, lalu mengajak saya ikutan acara menyanyi bersama di sebuah gedung pertemuan di kota sebelah. Pertama-tama saya pikir menyanyi bersama yang dimaksud itu semacam choir tapi setelah melihat sekilas info yang disodorkan Penny, acara ini adalah sebuah konsep menyanyi berbeda, yang baru pertama kali ini saya temui.

Website dalam bahasa Jerman ada di sini.

Jadi kita menyanyi bareng bersama audience lain yang datang ke acara tersebut, kenal nggak kenal  nggak masalah dan kita nggak harus kenalan dulu. Kitapun tidak harus menguasai ilmu menyanyi apapun. Tidak bisa menyanyi asalkan bisa mengeluarkan suara dan enjoy musik sudah cukup. Frau atau nona Höpker ‘memimpin’ kita di atas panggung dengan keyboard-nya. Di samping Frau Höpker ada sebuah layar lebar yang memuat text lagu yang diputar supaya kita tidak missing text. Aturan mainnya gampang saja, Frau Höpker yang menentukan lagu apa yang akan dinyayikan dan pada gerakan tangan tertentu, audience diharapkan diam dan konsentrasi lagi untuk menyanyi di lagu selanjutnya (karena di setiap jeda lagu si Frau Höpke mengajak penonton ngobrol dulu).

Waktu diajakin Penny untuk ikutan acara itu, saya sebenarnya sudah pesimis membayangkan kebanyakan lagunya pasti lagu berbahasa Jerman yang langsung ditukas oleh Penny, “ya nggak papa tho? Kan ada text-nya, pasti kamu bisa mengikuti lagunya”. Okaylah toh saya juga menyukai beberapa lagu Jerman, tapi selain soal bahasa, saya juga sudah curiga pasti bakalan banyak lagu-lagu schlager yang dimainkan di sana which I don’t really enjoy it. Schlager itu adalah aliran musik folk Jerman yang bisa disamakan dengan dangdut untuk di Indonesia atau country music untuk di Amrik sana. Dangdut sih asal bukan yang menye-menye, saya masih suka dengernya (bahkan bisa ikutan joget), tapi kalau schlager… Pernah sih sekali berdamai dengan hati, ikut memeriahkan acara musik schlager tapi waktu itu temannya banyak dan memang sedang party, jadi suasana juga mendukung. Lokasinya juga asyik sekali, yaitu di Ballerman, Mallorca-Spanyol, kota tujuannya orang Jerman bila mau party. Anyway, karena tertarik dengan konsep baru menyanyi ini, saya akhirnya menyetujui untuk ikut Penny.

Pada hari H-nya, yaitu tanggal 5 November kemarin, Penny bersama dua temannya menjemput saya jam 6 sore. Ketika sampai di hall tempat pertunjukan, saya makin pesimis melihat pengunjungnya yang rata-rata berusia 55 plus. Di websitenya disebutkan bahwa wawasan musik Frau Höpker sangat luas dan dia selalu memastikan bahwa semua generasi bakalan mendapat kesempatan untuk menyanyikan lagi favoritnya. Namun saya tetap pesimis. Bukan berarti saya hanya mendengarkan lagu  yang kekinian saja, saya juga kenal kok lagu-lagu lama dari jaman papa mama saya dulu. Namun…ah sudahlah, semuanya harus dicoba dulu, jangan pesimis duluan. Setelah membayar tiket seharga €15/ person yang sudah di-booking oleh Penny beberapa minggu sebelumnya (khas Jerman, semua harus dibuking duluan), kamipun masuk ke hall sederhana dengan lighting decor yang minimalis alias gelap, makanya saya nggak foto-foto.

Di sini disediakan beberapa meja tinggi untuk pengunjung. Di pojokan ada sederetan kursi yang sepertinya disediakan untuk lansia. Saya sempat bersemangat ketika melihat beberapa remaja di antara pengunjung, tetapi ternyata mereka adalah petugas yang menjual minuman dan snack. Jam 20.00 tepat acara dimulai. Frau Höpker membuka acara dengan bertanya, siapa yang sudah pernah datang ke acara ini sebelumnya (rupanya acara ini digelar setahun sekali di kota ini). Hampir 50% pengunjung mengacungkan tangan. Dan yang mengacungkan tangan ini adalah orang yang sepuh-sepuh. Oh no…berarti Frau Höpker sudah punya fans tetap di sini, berarti dia sudah tahu selera audience-nya di sini…Impian saya untuk mendengar lagu-lagu dari Shawn Mendes, Maroon Five atau yang agak senior seperti Madonna atau Michael Jackson-pun menguap.

Lagu terbaru yang dimainkan Frau Höpker hanya ‘Happy’ nya Pharel Williams dan yang lagu Jerman adalah ‘Applaus’ dari Sportfreunde Stiller yang sempat menjadi hit di tahun 2013. Selebihnya adalah lagu-lagu super lama dimana ketiga wanita Jerman ynag menemani sayapun tidak akrab dengan lagu-lagu tersebut. But they enjoyed it! And I did not! Lagu berbahasa Inggrisnya juga tak kalah tua, beberapa yang saya kenal adalah ‘Venus’-Shocking Blue, ‘Living the Next Door to Alice’-Smokie, ‘(Everything I Do) I Do It for You’-Bryan Adams. Selebihnya adalah lagu-lagu schlager tua dan karena Frau Höpker (entah kenapa) ikutan aktif berkampanya untuk Hillary Clinton, beberapa lagu dari Bruce Springsteen dari tahun 70-an pun keluar.

Saya melihat hampir semua orang menikmati acara malam itu, banyak yang joget dan gaya Frau Höpker juga heboh, seperti DJ-DJ yang keren itu, put her hands in the air…yeah!  Ada sih beberapa bapak-bapak yang tampak bosan seperti saya, mungkin mereka terpaksa datang untuk menemani istrinya. Penny, Kathrin dan Nadine yang seumuran dengan saya (Penny bahkan beberapa tahun lebih muda) bahkan sudah janjian mau datang lagi tahun depan. Waktu mereka bertanya apa saya mau ikutan lagi, saya langsung bilang ‘enggak’ dan merekapun tertawa ngakak mengasihani saya yang terjebak kebosanan di sana.

Entahlah mungkin wawasan musik saya yang memang tidak seluas yang saya percaya sebelumnya. Atau kebetulan sekitar 20 lagu yang dimainkan frau Höpker tidak ada satupun yang menjadi favorit saya. Atau  memang konsep menyanyi bersama yang hanya diiringi keyboard ini kurang seru untuk saya. Menurut saya kalau musiknya playback atau ada band lengkapnya sekalian pasti asyik. BUT, it doesn’t mind, saya toh puas karena akhirnya ngerti ini acara musik apaan. Yang tidak saya mengerti adalah, ketika banyak orang suka menyanyi di sini, kenapa tidak ada bisnis karaoke di sini?

Setelah acara menyanyi bersama Frau Höpker selesai, saya sempat ngobrol-ngobrol bersama Penny dan kedua kenalan baru saya dan beberapa ibu-ibu di sebelah. Dari mereka dan setelah browsing websitenya Frau Höpker lagi, bisa dikatakan bahwa konsep menyanyi bersama yang diciptakan pada tahun 2008 leh Frau Höpker ini lumayan sukses. Frau Höpker jadwal konsernya padat di segala penjuru Jerman dan pengunjungnya selalu ramai. lalu sayapun melontarkan pertanyaan di atas kepada the ladies, kalau kalian begitu suka menyanyi, kenapa nggak pergi ke karaoke? “Nooo…”, jawab mereka. Nyanyi di karaoke bar kan malu, banyak orang lain yang melihat dan kita suaranya nggak bagus-bagus amat. Kalau menyanyi di sini kan semuanya ikut menyanyi, nggak ketahuan mana suara jelek dan bagus. Dan kalau karaokean sendiri di rumah tidak seru….adalah beberapa alasan mereka.

Lalu saya bercerita tentang karaoke cabine/ room di Indonesia yang bisa di-book rame-rame bersama teman dan kita bisa memilih lagu sesuka hati dengan ketinggian nada yang bisa diatur pula. Sajian makanan dan minuman pun bisa dipesan sesuka hati. Wah mereka antuasis sekali dengan acara menyanyi yang model begini dan berharap bakalan ada bisnis seperti itu di Jerman segera karena kalau mau setia dengan Frau Höpker ya harus menunggu setahun lagi. Memang belum banyak orang yang menawarkan jasa seperti si Frau Höpker ini, cerdas juga sih idenya si Frau ini. Tapi kalau saya lebih suka ke karaoke sajalah. Siapa ya yang kenal pengusaha atau orang yang duitnya kebanyakan, sini ajakin saya berbisnis karaoke di Jerman 😀