Menjelang Natal di Jerman

(Warning: banyak fotonya)

Meskipun aslinya nggak natalan, Natal merupakan sesuatu yang ditunggu di setiap akhir tahun. Selain acara tukar kado yang seru, tentunya acara-acara public dari sebelum hari-H menjadi hiburan tersendiri untuk mengurangi stress di musim dingin. Banyak diskonan adalah salah satunya.

Sudah saya amati dari tahun-tahun sebelumnya kalau menjelang Natal banyak toko-toko yang memberi diskon dengan harapan banyak orang yang membelinya untuk kado Natal. Tapi belinya kalau bisa sebelum bulan Desember ya, karena bila sudah masuk Desember harga-harga barang favorit untuk kado, seperti mainan anak-anak dan alat dapur bisa naik hingga 200%. Kalau apparel atau buku-buku harganya cenderung selalu diskon atau harga tetap.

Mainan favorit yang dicari para orang tua untuk kado Natal misalnya product dari Schleich dan Lego. Saya dari lama sudah mengincar Schleich model kandang kuda dan Lego model castle. Pada bulan-bulan normal, harga rata-rata kandang kuda Schleich beserta aksesorisnya adalah 76€. Harga termurah ada di Amazon yaitu 72€ yang pada saat-saat tertentu bisa diskon menjadi 65€. Sementara Lego Ritterburg berharga rata-rata €100. Saat masuk bulan Desember, di mana Amazon memulai program diskon harian untuk barang-barang yang berbeda di setiap harinya, Schleich kandang kuda sama sekali tidak masuk ke program diskon ini dan malah naik menjadi 105€. Phew banget kan harganya… Berapa harga Lego Ritterburg? Sudah tidak saya check lagi haha…

Intinya selain banyak diskon, banyak juga barang yang naik harga, jadi harus pinter-pinter mengatur waktu shopping-nya.

Yang tidak kalah seru selain shopping adalah WEIHNACHTSMARKT alias pasar natal. Secara kalau musim dingin itu banyak orang yang depresi, pasar Natal menjadi hiburan wajib untuk masyarakat Jerman. Asal tidak beli apa-apa masuk pasar Natal ini gratis. Ada juga sih pasar Natal yang musti beli entrance fee tapi biasanya berada di tempat yang spesial misalnya di dalam puri atau di atas kapal.

Cologne merupakan salah satu kota  yang memiliki pasar Natal cantik yang wajib dikunjungi selama di Jerman. Selain di Cologne, pasar Natal terkenal juga ada di kota Nuremberg, Berlin, Dresden, Freiburg, Aachen dan beberapa tempat lainnya.

Beruntung sekali kami tinggal di tempat yang tidak jauh dari Aachen dan Cologne, jadi setiap tahun bisa mengunjungi pasar Natal di kedua kota ini. Tahun lalu bahkan sempat melipir-melipir ke kota-kota lain seperti Duesseldorf dan Frankfurt.

Berikut ini foto-foto pasar Natal di beberapa tempat di antara kota Cologne dan Aachen saja:

Pasar Natal di halaman Katedral Koelner Dom.

6

1
Flipper dan papa bergaya duluan sebelum mengeksplore pasar Natal di halaman katedral Koelner Dom Cologne.
4
The entrance to the Christmas market with Koelner Dom Cathedral as the background.
7
The stage in Christmas market at Koelner Dom Cathedral with live music concert everyday.
8
Stunning, right?

img_1941s

3
The pretty lady is selling what so called Cologne biscuit. Stand jualan di pasar Natal Koelner Dom mempunyai warna seragam khas, warna merah.

Pasar Natal di Altstadt (old town) Cologne

bild-029s
Kelabu, gelap, hujan dan dingin di pasar Natal di Altstadt Cologne tapi pengunjung tetap bersemangat.
bild-024s
Ciri khas stand jualan di Altstadt Cologne adalah bangunan bergaya middle age.
bild-025s
Jualan roti bawang.

bild-030s

Pasar Natal di Atas Kapal di sungai Rhine, Cologne

bild-046s
Untuk masuk sini dikenakan biaya masuk 3€ saja. Yang dijual di dalamnya menurut saya biasa-biasa saja tapi suasananya dong yang asyik…dan tidak terlalu dingin pastinya.

Pasar Natal di Aachen

1050

1055

1057

1053

Pasar Natal di Sebuah Ladang Dekat Rumah

Sehari-harinya tempat ini merupakan ladang perkebunan di mana konsumen bisa  langsung memetik sendiri buah, sayur bahkan bunga yang akan dibeli. Kalau malas memetik sendiri, bisa juga langsung membeli di tokonya. Daging tidak dijual di sini, namun ada produk susu dan telur. Kebanyakan yang dijual di sini merupakan produk organic.

Selain ladang mereka juga memiliki tiga kuda poni dan beberapa kelinci yang membuat Flipper semangat banget kalau diajak ke sana. Oh iya, taman bermain untuk anak juga disediakan di sana.

Nah menjelang Natal selain tetap beraktifitas seperti biasanya, ladang ini membuka pasar Natal juga untuk masyarakat terdekat. Tidak semegah atau segemerlap pasar Natal di pusat kota Cologne atau Aachen tapi buat saya justru menyenangkan karena tidak unyel-unyelan, tidak perlu antri panjang untuk makan dan suasananya lebih kekeluargaan.

Ketika berkunjung ke sini, kami juga membeli pohon Natal asli hasil dari ladang tersebut, bahkan kalau mau kita juga bisa menebang sendiri tapi waktu itu kami memutuskan untuk beli yang sudah dipotong saja. Karena membeli pohon Natal di sana, kami mendapat gratisan dua porsi makanan dan minum, yay!  Reibunkuchen (kentang parut goreng yang dicocol dengan puree apel) dan susu coklatpun menjadi pilihan kami. Enak deh, dingin-dingin makan gorengan 😀 Flipper sibuk main karusel bolak-balik tanpa merasa pusing, bolak-balik menemui Sinterklas supaya dapat coklat dan rajin mencari rumput untuk bolak-balik ngasih makan kuda poni. Oh iya, keesokan harinya si Flipper sakit perut karena kebanyakan coklat dan sejak itu smapai sekarang dia agak-agak anti coklat 😀

2

3

4

Barang dan makanan yang dijual di pasar Natal rata-rata sama saja; kerajinan tangan, pernak-pernik untuk pohon Natal, hasil rajutan, biskuit, tumis kentang bawang, sosis curry, Reibenkuchen dll. Paling ketambahan barang khas daerah mereka saja.

bild-053s

bild-061s

bild-063s

img_1945s

1060

1059

Bila di Berlin, beberapa pasar Natal tetep buka hingga Januari, di daerah saya ini hanya buka dari tanggal 23 November sampai 23 Desember saja. Selanjutnya yang ada di mana-mana jual petasan dan WSV-Winterschlusserkauf alias Winter Sale Season pun dimulai. Setelah itu ada kegiatan public yang tak kalah seru  yaitu Karnaval yang insyaallah akan saya tulis juga nanti.

-beth-

Advertisements

Menyanyi Bersama Frau Höpker

Beberapa minggu yang lalu seorang teman yang belum lama saya kenal bertanya apa saya suka menyanyi. Suka dong, saya dulu vocalist di sebuah band kampus yang akhirnya pensiun dan sekarang aktif berkaraoke ria dengan Xbox di rumah atau sambil main gitar semampunya. Si teman ini, sebut saja namanya Penny, lalu mengajak saya ikutan acara menyanyi bersama di sebuah gedung pertemuan di kota sebelah. Pertama-tama saya pikir menyanyi bersama yang dimaksud itu semacam choir tapi setelah melihat sekilas info yang disodorkan Penny, acara ini adalah sebuah konsep menyanyi berbeda, yang baru pertama kali ini saya temui.

Website dalam bahasa Jerman ada di sini.

Jadi kita menyanyi bareng bersama audience lain yang datang ke acara tersebut, kenal nggak kenal  nggak masalah dan kita nggak harus kenalan dulu. Kitapun tidak harus menguasai ilmu menyanyi apapun. Tidak bisa menyanyi asalkan bisa mengeluarkan suara dan enjoy musik sudah cukup. Frau atau nona Höpker ‘memimpin’ kita di atas panggung dengan keyboard-nya. Di samping Frau Höpker ada sebuah layar lebar yang memuat text lagu yang diputar supaya kita tidak missing text. Aturan mainnya gampang saja, Frau Höpker yang menentukan lagu apa yang akan dinyayikan dan pada gerakan tangan tertentu, audience diharapkan diam dan konsentrasi lagi untuk menyanyi di lagu selanjutnya (karena di setiap jeda lagu si Frau Höpke mengajak penonton ngobrol dulu).

Waktu diajakin Penny untuk ikutan acara itu, saya sebenarnya sudah pesimis membayangkan kebanyakan lagunya pasti lagu berbahasa Jerman yang langsung ditukas oleh Penny, “ya nggak papa tho? Kan ada text-nya, pasti kamu bisa mengikuti lagunya”. Okaylah toh saya juga menyukai beberapa lagu Jerman, tapi selain soal bahasa, saya juga sudah curiga pasti bakalan banyak lagu-lagu schlager yang dimainkan di sana which I don’t really enjoy it. Schlager itu adalah aliran musik folk Jerman yang bisa disamakan dengan dangdut untuk di Indonesia atau country music untuk di Amrik sana. Dangdut sih asal bukan yang menye-menye, saya masih suka dengernya (bahkan bisa ikutan joget), tapi kalau schlager… Pernah sih sekali berdamai dengan hati, ikut memeriahkan acara musik schlager tapi waktu itu temannya banyak dan memang sedang party, jadi suasana juga mendukung. Lokasinya juga asyik sekali, yaitu di Ballerman, Mallorca-Spanyol, kota tujuannya orang Jerman bila mau party. Anyway, karena tertarik dengan konsep baru menyanyi ini, saya akhirnya menyetujui untuk ikut Penny.

Pada hari H-nya, yaitu tanggal 5 November kemarin, Penny bersama dua temannya menjemput saya jam 6 sore. Ketika sampai di hall tempat pertunjukan, saya makin pesimis melihat pengunjungnya yang rata-rata berusia 55 plus. Di websitenya disebutkan bahwa wawasan musik Frau Höpker sangat luas dan dia selalu memastikan bahwa semua generasi bakalan mendapat kesempatan untuk menyanyikan lagi favoritnya. Namun saya tetap pesimis. Bukan berarti saya hanya mendengarkan lagu  yang kekinian saja, saya juga kenal kok lagu-lagu lama dari jaman papa mama saya dulu. Namun…ah sudahlah, semuanya harus dicoba dulu, jangan pesimis duluan. Setelah membayar tiket seharga €15/ person yang sudah di-booking oleh Penny beberapa minggu sebelumnya (khas Jerman, semua harus dibuking duluan), kamipun masuk ke hall sederhana dengan lighting decor yang minimalis alias gelap, makanya saya nggak foto-foto.

Di sini disediakan beberapa meja tinggi untuk pengunjung. Di pojokan ada sederetan kursi yang sepertinya disediakan untuk lansia. Saya sempat bersemangat ketika melihat beberapa remaja di antara pengunjung, tetapi ternyata mereka adalah petugas yang menjual minuman dan snack. Jam 20.00 tepat acara dimulai. Frau Höpker membuka acara dengan bertanya, siapa yang sudah pernah datang ke acara ini sebelumnya (rupanya acara ini digelar setahun sekali di kota ini). Hampir 50% pengunjung mengacungkan tangan. Dan yang mengacungkan tangan ini adalah orang yang sepuh-sepuh. Oh no…berarti Frau Höpker sudah punya fans tetap di sini, berarti dia sudah tahu selera audience-nya di sini…Impian saya untuk mendengar lagu-lagu dari Shawn Mendes, Maroon Five atau yang agak senior seperti Madonna atau Michael Jackson-pun menguap.

Lagu terbaru yang dimainkan Frau Höpker hanya ‘Happy’ nya Pharel Williams dan yang lagu Jerman adalah ‘Applaus’ dari Sportfreunde Stiller yang sempat menjadi hit di tahun 2013. Selebihnya adalah lagu-lagu super lama dimana ketiga wanita Jerman ynag menemani sayapun tidak akrab dengan lagu-lagu tersebut. But they enjoyed it! And I did not! Lagu berbahasa Inggrisnya juga tak kalah tua, beberapa yang saya kenal adalah ‘Venus’-Shocking Blue, ‘Living the Next Door to Alice’-Smokie, ‘(Everything I Do) I Do It for You’-Bryan Adams. Selebihnya adalah lagu-lagu schlager tua dan karena Frau Höpker (entah kenapa) ikutan aktif berkampanya untuk Hillary Clinton, beberapa lagu dari Bruce Springsteen dari tahun 70-an pun keluar.

Saya melihat hampir semua orang menikmati acara malam itu, banyak yang joget dan gaya Frau Höpker juga heboh, seperti DJ-DJ yang keren itu, put her hands in the air…yeah!  Ada sih beberapa bapak-bapak yang tampak bosan seperti saya, mungkin mereka terpaksa datang untuk menemani istrinya. Penny, Kathrin dan Nadine yang seumuran dengan saya (Penny bahkan beberapa tahun lebih muda) bahkan sudah janjian mau datang lagi tahun depan. Waktu mereka bertanya apa saya mau ikutan lagi, saya langsung bilang ‘enggak’ dan merekapun tertawa ngakak mengasihani saya yang terjebak kebosanan di sana.

Entahlah mungkin wawasan musik saya yang memang tidak seluas yang saya percaya sebelumnya. Atau kebetulan sekitar 20 lagu yang dimainkan frau Höpker tidak ada satupun yang menjadi favorit saya. Atau  memang konsep menyanyi bersama yang hanya diiringi keyboard ini kurang seru untuk saya. Menurut saya kalau musiknya playback atau ada band lengkapnya sekalian pasti asyik. BUT, it doesn’t mind, saya toh puas karena akhirnya ngerti ini acara musik apaan. Yang tidak saya mengerti adalah, ketika banyak orang suka menyanyi di sini, kenapa tidak ada bisnis karaoke di sini?

Setelah acara menyanyi bersama Frau Höpker selesai, saya sempat ngobrol-ngobrol bersama Penny dan kedua kenalan baru saya dan beberapa ibu-ibu di sebelah. Dari mereka dan setelah browsing websitenya Frau Höpker lagi, bisa dikatakan bahwa konsep menyanyi bersama yang diciptakan pada tahun 2008 leh Frau Höpker ini lumayan sukses. Frau Höpker jadwal konsernya padat di segala penjuru Jerman dan pengunjungnya selalu ramai. lalu sayapun melontarkan pertanyaan di atas kepada the ladies, kalau kalian begitu suka menyanyi, kenapa nggak pergi ke karaoke? “Nooo…”, jawab mereka. Nyanyi di karaoke bar kan malu, banyak orang lain yang melihat dan kita suaranya nggak bagus-bagus amat. Kalau menyanyi di sini kan semuanya ikut menyanyi, nggak ketahuan mana suara jelek dan bagus. Dan kalau karaokean sendiri di rumah tidak seru….adalah beberapa alasan mereka.

Lalu saya bercerita tentang karaoke cabine/ room di Indonesia yang bisa di-book rame-rame bersama teman dan kita bisa memilih lagu sesuka hati dengan ketinggian nada yang bisa diatur pula. Sajian makanan dan minuman pun bisa dipesan sesuka hati. Wah mereka antuasis sekali dengan acara menyanyi yang model begini dan berharap bakalan ada bisnis seperti itu di Jerman segera karena kalau mau setia dengan Frau Höpker ya harus menunggu setahun lagi. Memang belum banyak orang yang menawarkan jasa seperti si Frau Höpker ini, cerdas juga sih idenya si Frau ini. Tapi kalau saya lebih suka ke karaoke sajalah. Siapa ya yang kenal pengusaha atau orang yang duitnya kebanyakan, sini ajakin saya berbisnis karaoke di Jerman 😀

Remember the day when…(4) Brazilian Waxing

Di kota kecil saya ada salon waxing baru dan meskipun saya tahu bahwa di sini rata-rata harus janjian dulu kalau mau ke salon, saya coba saja untung-untungan mampir ke situ. Kalaupun mereka jadwalnya penuh toh masih bisa bikin janji untuk nanti-nanti.

Waktu saya masuk ke salon tersebut, ruang resepsionis tampak kosong dan hanya terlihat dua pria yangsedang membuka-buka majalah wanita dengan tatapan tak minat. Di sebelah mereka ada tas wanita, pasti milik pasangan mereka yang sedang ‘dikerjai’ di ruang waxing. Melihat saya tolah-toleh nggak tahu musti ngapain karena tidak ada petugas yang approach, salah satu pria menunjuk dengan dagunya sebuah lonceng yang tergeletak di atas meja resepsionis. Agak ketutupan majalah, jadinya saya tadi tidak melihatnya. Setelah menggoyang loncengnya, muncullah mbak-mbak dari salah satu ruang praktek. Tangannya dibungkus sarung tangan plastik seperti dokter-dokter itu.

Sayapun mengutarakan niat saya untuk waxing bagian intim alias Brazilian wax dengan lirih, malu kan kalau didengar dua pria yang duduk di situ. Mbaknya bilang untuk hari itu sayangnya tidak ada jadwal yang kosong, jadi saya dibuatkan jadwal untuk beberapa hari ke depan. Saya setuju.

Lalu nih, dengan penuh penghayatan, dengan suara keras, mbaknya bertanya apakah saya mau Brazilian waxing yang model Hollywood cut, landing strip apa triangle. Sambil bertanya begitu dia juga menjelaskan dengan tangannya yang membentuk segitiga, garis lurus dan gaya ‘jebret-jebret’ di depan anunya dia sendiri (mbaknya pakai baju sopan sih jadi jangan dibayangkan yang tidak-tidak). Saya tentu saja jadi nggak enak melihat mbaknya yang dramatical begitu, apalagi dua pria yang yang ada di situ serta merta menaruh majalah mereka dan menatap saya seolah-olah sangat tertarik dengan jawaban yang akan saya berikan ke mbaknya.

Dan meskipun saya sudah sepelan mungkin menjawab pertanyaan mbaknya, si mbak ini mengulangnya kenceng-kenceng sambil menulis di buku jadwalnya. Asyem tenan ini si mbak. Sayapun buru-buru cabut dari salon tersebut tanpa tolah-toleh lagi. Malu! >.<

img_0633-1es

Pengaturan Sampah di Jerman

Di beberapa postingan saya sebelumnya, saya sempat menyinggung tentang sistem pembuangan sampah di Jerman yang sangatlah tidak mudah, tidak bisa asal pluk-pluk buang. Di sini sampah dibedakan menjadi DELAPAN golongan. Iya delapan. Pusing nggak tuh memilah-milahnya. Empat diantaranya berada di rumah kita. Makanya jangan heran kalau rumah sebagus apapun, di depannya atau sampingnya pasti ada 4 kotak sampah gede-gede yang dekil. Gedenya kira-kira 50cm x 50cm x 150cm per kotak sampah. Kebanyakan orang sih membuat ruangan khusus untuk 4 tempat sampah ini supaya tidak merusak pemandangan gitu. Empat kotak sampah tersebut warnanya dibedakan sesuai dengan jenis sampahnya, yaitu:

IMG_2335e.jpg
Kotak sampah kami, sengaja dijejer dulu sebelum difoto. Kami tidak punya ruang khusus untuk kotak-kotak ini namun posisi rumah kami yang berada di dekat taman bermain lumayan menguntungkan karena ada space di antaranya yang bisa untuk ‘menyembunyikan’ tempat sampah.
  1. Sampah BIO (COKLAT)Sampah ini isinya antara lain:

    – Tumbuhan dan guntingan tumbuhan (rumbut, daun, ranting, dsb)

    – Bulu-bulu binatang

    – Buah, sayuran segar maupun busuk dan kulit bekas kupasannya

    – Kulit telur

    – Sisa kopi dan sisa teh

  2. Sampah KERTAS (BIRU)Seperti judulnya, yang boleh masuk kotak ini adalah kertas, kardus, majalah, buku dll yang masih bersih. Bersih di sini maksudnya bukan kertas yang putih nggak ada tulisannya ya, tapi yang belum kecampuran zat-zat lain misalnya minyak atau cat. Jadi Kertas bungkus kentang goreng, bungkus daging sapi, atau tissue abis bersihin umbel, tissue yang disemprot pembersih untuk membersihkan kaca, dinding kertas bekas (karena ada sisa lemnya), dsb TIDAK BOLEH dimasukkan sini.
  3. Sampah KEMASAN (KUNING)Yang masuk kategori ini di antaranya:

    – Segala macam plastik kemasan (tempat shampoo, kantung plastik, bungkus jajan, toples plastik, dsb.)

    – Tube bekas pasta gigi, pasta tomat

    – Bekas kemasan jus dan susu

    – Bekas tempat hairspray, deodorant

    – Bekas minuman kaleng

  4. Sampah DOMESTIK (HITAM)Tempat sampah ini berisi sampah-sampah rumahan yang tidak bisa dimasukkan ke dalam 3 kategori di atas (tapi tentu tidak semuanya bisa dimasukkan, nanti di bawah ada pemilahan lagi :p). Yang bisa dimasukkan ke tempat sampah ini intinya tidak bisa didaur ulang, di antaranya:

    – Sisa-sisa makanan

    – Abu rokok

    – Popok bayi, tampon, pembalut

    – Debu-debu abis beberes rumah

    – Bohlam rusak

           

Mendapatkan Kotak Sampah

Jadi nih, ketika kita baru pindah ke kota Ahoy misalnya, ketika kita mendaftarkan diri, otomatis kita digiring ke departemen sampah setempat. Di situ ditanya ada berapa orang yang tinggal di rumah kita, untuk menentukan seberapa besar kotak sampah hitam yang akan kita terima. Kalau yang kuning, biru dan coklat ukurannya selalu sama. Sampah hitam ada dua pilihan, yang gede (sama dengan ketiga kotak sampah yang lain) atau lebih kecil. Karena kami hanya 2,5 orang maka kami memilih mengambil kotak yang kecil dimana iurannya lebih murah yaitu yang isi volume 120 liter. Kalau yang besar 240 liter.

Iuran Sampah

Biaya iuran sampah tidaklah murah tapi untungnya hanya sampah hitam saja yang harus bayar karena sampah ini tidak bisa didaur ulang. Kalau dipikir-pikir kenapa justru yang nggak bisa didaur ulang harus bayar? Bukannya yang bisa didaur ulang itu harusnya yang butuh proses lebih lanjut sehingga memerlukan dana? Yang nggak bisa didaur ulang kan ya tinggal dibuang saja? Logikanya memang begitu, tapi dengan ditariknya iuran untuk non daur ulang ini justru untuk membuat orang enggan menerbitkan sampah non daur ulang. Supaya kita tidak boros mengotori bumi kita.

Iuran sampah hitam di kota kami (tiap kota berbeda) per-bulan adalah 114 Euro untuk yang 120 liter. Itu iuran tetapnya. Jadwal pengambilan sampah hitam ini seminggu sekali dan pada setiap pengambilan sampah, kita kena charge lagi 4,60 Euro. Jadi kalau mau ngirit, bila sampah hitam kita belum penuh pada saat jadwal pengambilan, ya jangan ‘disetor’ ke depan, otomatis kita sudah ngirit biaya 4,60 Euro. Kotak sampah hitam punya chips khusus yang bisa mendeteksi apakah sampah kita diangkut atau enggak, untuk menentukan tagihan kita pada akhir bulan.

Cara Setor Sampah

Oh iya, ‘setor’ sampah itu juga ada caranya. Pas kita mendaftar sebagai penduduk baru tadi, selain mendapat tempat sampah kita juga mendapat jadwal pengangkutan sampah yang berbeda sesuai warna sampahnya. Yang paling sering diangkut adalah sampah hitam (seminggu sekali)  yang disusul sampah kuning, coklat lalu yang pualing jarang (3 bulan sekali) adalah sampah biru. Kalau pada hari pengangkutan kita lupa nggak ‘setor’ sampah ya harus menunggu jadwal minggu/ bulan berikutnya. Kalau kotak sampahnya sudah penuh dan lupa setor agak repot juga. Cara menyetornya: kotak-kotak sampah itu kan property kita, jadi letaknyaya harus di dalam property rumah kita. Nah ketika jadwal angkut sampah datang, kita harus menarik sampah yang terjadwal ke pinggir jalan dengan pegangan menghadap ke depan supaya tukang sampahnya gampang menariknya langsung. Ya kan kotak sampahnya guede dan kalau ada isinya jadi berat. Meskipun ada rodanya tapi untuk mempercepat kerja tuang sampah ya itu tadi, gagang pegangannya musti menghadap ke depan. Pokoknya semua sudah diperhitungkan (icon wajah berpeluh). Petugas sampah selalu lebih dari 1 orang, minimal dua orang karena yang satu harus nyopir dan yang lain ambil kotak sampah di sisi kanan dan kiri jalan.

Kalau tinggal di apartemen mah enak, karena biasanya di apartemen ada Hausmeister (semacam Pak Bon gitu) yang mengurusi urusan persampahan. Kita hanya diharuskan membuang sampah sesuai warnanya saja dan membayar iurannya.

3030577_1_212_008_9116_hal_muellwage

Sumber foto: http://www.ruhrnachrichten.de/storage/pic/repl-bauer/xmlios/zbm-import/oer-erkenschwick/3030577_1_212_008_9116_hal_muellwage.jpg?version=1330965876

 
Itu baru sampah-sampah yang bisa dibuang di rumah yaa…Ini lanjutannya masih ada…kan saya bilang tadi ada DELAPAN. Dan setelah kupkir-pikir sebenarnya ada SEPULUH LHO. Nah Lho. Ini lanjutannya:

  1. Sampah KEMASAN KACA (warnanya COKLAT, HIJAU DAN PUTIH)Kontainer besi guede-guede untuk pembuangan gelas kaca ini ada di beberapa sudut kota. Di sini sampah gelas kaca misalnya bekas saus tomat, Nutella, kecap manis, selai dsb dibuang ke tempat sampah disesuaikan dengan warnanya di atas. Karena sampah ini berisik suaranya, maka pembuangannyapun ada jadwalnya. Kalau kita membuang ssampah gelas pada hari Minggu atau saat jam tidur siang, pasti deh diomelin orang. Oh iya, piring, gelas minuman nggak boleh dimasukkan sini.

    15380001118_ce02881ca1_o
    Kontainer untuk membuang sampah kemasan kaca.
  1. Sampah BATTERYBaterry bekas tidak boleh dibuang sembarangan karena mengandung zat kimia berbahaya yang bisa merusak proses daur ulang sampah. Jadi battery rusak di rumah biasanya kami kumpulkan dulu di toples bulukan trus pas ke supermarket sekalian dibawa. Ya, di supermarket disediakan tempat pembuangan sampah battery.
  2. Sampah BULKYIsinya sampah-sampah gede yang tidak masuk ke tong sampah, antara lain:

    – Furnitur bekas (kursi, sofa, meja, rak, dsb.)

    – Karpet bekas

    – Lampu (bukan bohlamnya)

    – Mainan outdoor (trampolin, children garden house, perosotan)

    – Kasur, futton

    Khusus untuk sampah ini, kalau tinggal di apartemen, empat kali setahun kita bisa menaruh sampah bulky kitadi depan apartemen, dikumpulkan dengan milik penghuni apartemen yang lain. Petugas sampah akan mengangkutnya ke tempat pembuangan sampah. Tapi biasanya sebelum petugas sampah datang, sudah ada ‘oknum’ yang lebih dulu datang mengambil barang-barang yang kira-kira masih bisa dipakai atau tidak. Kadang dipake sendiri, kadang ada yang menjualnya kembali. Sebenarnya pengambilan barang tidak resmi ini dilarang dan bisa dikenai pasal pencurian tapi biasanya kedua pihak (yang membuang dan yang mengambil) nggak peduli karena keduanya merasa diuntungkan. Yang apes kalau pas ada kontrol dari pihak Ordnungsamt saja.

Untuk yang tinggal di rumah pribadi, sampah bulky harus dibawa sendiri ke tempat organisasi sampah di kota kita atau bisa juga menelpon untuk minta diambil tapi dikenakan biaya.

  1. Sampah ELEKTRONIKIni mah gampang, pokoknya yang ada listriknya masuk sini. Sampah ini musti dibawa sendiri ke tempat organisasi sampah di kota kita atau bisa juga menelpon untuk minta diambil tapi dikenakan biaya.

Berikut ini dua kategori yang barusan saya ingat:

  1. Sampah OBAT-OBATANMenurut aturan, obat yang kadaluarsa harus dikembalikan ke apotik (tidak harus apotik yang sama tempat kita membeli dulu) untuk mengurangi pencemaran lingkungan tapi kalau saya tanya kenalan di sana-sini, kebanyakan mereka membuanganya ke kotak sampah domestik (hitam).
  2. Sampah BAJU & SEPATUSeperti halnya kotak sampah botol/ gelas kaca yang terdapat di beberapa sudut kota, demikian juga dengan tempat sampah untuk baju dan sepatu. Bedanya bila sampah gelas yang mengelola adalah dinas persampahan, sampah baju dan sepatu ini yang mengelola adalah pihak swasta, umumnya organisasi charity seperti Humana dan Johanniter.

ORDNUNGSAMT

Ordnungsamt adalah dinas yang menjaga supaya masyarakat tetap in ordnung (sesuai aturan). Selain bertugas mengawasi mobil-mobil yang parkir sesuai dengan jam parkir yang dibayar atau make sure bahwa spielplatz (taman bermain) benar-benar buat bermain anak-anak dan bukan buat orang dewasa atau anjing, mereka juga bertugas mengawasi bahwa garbage arrangement berjalan sesuai aturan. Kalau sampai kepergok membuang sampah tidak pada tempatnya, bisa kena denda (baca juga cerita tentang tetangga usil yang suka mengawasi sampah orang di sini). Enggak saklek juga sih, kalau salahnya dikit biasanya dicuekin juga sama mereka.

Tukang sampah  hanya bertugas mengambil sampah. Dengan teknologi yang ada di truk sampahnya, mereka bahkan tidak perlu membuka tutup kotak sampah kita. Tinggal geret pegangannya, cantolin ke alat yang di mobil dan bruuk! Masuk truk. Yang truk pengangkut sampah kertas bahkan lebih canggih lagi, ada alat yang bisa nge-press kertasnya sekalian di truknya. Anehnya , meskipun kesempatan untuk membuang sampah sembarangan itu tinggi, orang-orang sini taat banget kalau membuang sampah. Bukan takut dnegan denda Ordnungsamt tapi memang sadar lingkungan sekali.

Jadi bagaimana menurut kalian? Ribet kuadrat kan ya? Saya saja yang sudah 9 tahun tinggal di Jerman masih merasa ribet memilah-milah sampah, makanya urusan ini saya serahkan ke suami. Yang cita-cita mau tinggal di Jerman, masih minat? >.<

 

 

Mengakali Urusan Household Chores

Kemarin pas lagi buka-buka FB, saya membaca status teman lama saya yang isinya begini (dikutip dengan seijin yang penulisnya):

“Jika dalam sehari seorang ibu rumah tangga memasak 2 kali, dan setiap kali memasak ada 2 menu (satu jenis sayur dan satu jenis lauk), maka artinya:

– Dalam sehari dia memasak 2 menu x 2 = 4 menu

– Dalam seminggu : 4 menu x 7 hari = 28 menu

– Dalam sebulan : 4 menu x 30 hari  = 120 menu

– Dalam setahun: 4 menu x 365 hari = 1.460 menu

Jika lebih dari 2 menu, silahkan dihitung sendiri ya….. Dan silahkan hitung juga jumlah porsinya dengan mengalikan jumlah anggota keluarga 😜

Amazing bukan? Maka itulah….

– Emak-emak sering kehilangan ide untuk memasak. ‘Masak apa hari ini?’ merupakan pertanyaan paling menghantui yang harus dijawab setiap hari. Tidak ada jawaban benar atau salah, namun mempengaruhi kelangsungan hidup seluruh anggota keluarga 😬

– Jangan heran jika sering sekali menu berulang. Mikir menu sehari-hari itu tidak segampang yang dikira. Banyak faktor yang terlibat: nutrisi, budget, durasi, selera, frekwensi….  

– Emak-emak paling suka jika makanan yang dimasak dihabiskan sampai tandas. Ga heran lah, wong masaknya harus dengan hati dan penuh perjuangan begitu. Dan jika sudah capek-capek memasak, namun yang dimasakkan lebih suka makan di luar, you will be in trouble 💪🏼

– Emak-emak itu sangat sayang jika ada makanan yang tersisa. Anak makan ga habis, langsung dihabiskan. Ada sisa sayur sedikit, disimpan. Lumayan  kan buat sarapan besok…. Hmmm…. This is where the body growth comes from 😂

– Selisih harga does matter. Harga cabe beda seribu perak, bisa dikejar sampe di pasar kampung tetangga. Lebih dari 1000 menu setahun boooo….

– Cobalah untuk ‘njajan’ berturut-turut selama sebulan. Selain bakal menjebol gawang perduitan, dijamin bakalan bosen. I had been there (saat hamil). Meskipun makanan di luaran (katanya) jauh lebih enak dan bervariasi, tetep kangen juga sama tempe goreng dan sambel bawang yang diulek dengan cobek gupil di rumah👌🏻

– Sesekali makan di luaran sangatlah membantu meringankan beban emak-emak. Namun jika keseringan, kembali ke poin yang di atas ☝🏼️

Demikian catatan ga penting menjelang shopping ke pasar BKK

Sayapun langsung komen mengungkapkan betapa salutnya saya akan rajinnya dia masak dua kali sehari untuk keluarga, apalagi dengan menu yang beraneka ragam. Membaca komentar teman-temannya yang lainpun saya bisa menyimpulkan bahwa untuk beberapa ibu, memasak lebih dari sekali sehari itu memang sesuatu ynag sudah biasa.

Saya sendiri di sini masak minimal sehari sekali, bahkan bisa juga seminggu sekali. Waktu di Indonesia dulu, secara belum berkeluarga dan pulang kerja selalu malam, kalau siang saya jajan di sekitar kantor dan kalau malam catering bareng teman-teman sekontrakan. Kosa kata memasak hanya digunakan ketika bikin Indomie 😀

Sekarang hidup di Jerman di mana tidak ada penjual makanan lewat, di mana Mac Donald dan KFC itu tidak ada menu nasinya dan tidak bisa delivery (dan tidak sehat), di mana asisten rumah tangga dan nanny itu bayarannya minimal 10,00€ per jam, di mana jajan di luar yang paling  murah itu hanya dapat kentang goreng atau makanan instant di supermarket dengan segala zat pengawetnya maka mau tak mau harus masak sendiri dan juga mengurus segala keperluan rumah tangga sendiri. Lalu bagaimana mengakali supaya rumah tetap rapi, bisa me-time, bisa kerja, bisa punya waktu dengan keluarga dan tetep bisa makan enak (baca: makan makanan Indonesia/ Asia yang bumbunya 100 macam dan masaknya ribet. Bukan roti tangkup isi mentega dan keju)? Ada caranya….

Untuk Urusan Makan-Makan

1. Saya membuat menu plan untuk seminggu atau 2 minggu. Dengan menu plan ini, otomatis apa yang mau dibeli juga terencana. Selain menghemat waktu di supermarket karena sudah tahu apa yang mau dibeli, juga menghemat waktu mikir tentang ‘hari ini mau masak apa ya?’ ‘Coba lihat di kulkas adanya bahan apa ya’. Sabtu dan Minggu sengaja saya kosongi karena biasanya kalau weekend kita makan di luar atau suami yang masak atau makan makanan sisa sebelumnya. Sejak membuat menu plan, bahan yang ada di kulkas selalu terpakai jadi tidak ada istilah terong terbuang  krn busuk, lupa nggak dimasak atau tidak tahu mau dibuat apa.

Dengan adanya menu plan ini,  variasi makanan jadi gampang diatur; kalau kemarin sudah makan lauk ikan bakar maka hari ini nggak pake ikan lagi. Prinsip menu plan saya pada dasarnya, dalam seminggu minimal 1x ada ikan, 1x menu vegan, 1 kali tanpa nasi, minimal 1x daging-dagingan (daging merah sebulan sekali, selebihnya ayam), minimal 1x ada telur.

Contoh menu plan kami dalam seminggu (Setiap hari selalu ada tambahan salad sayur atau sayur kukus):

Senin: Sambal goreng udang+kentang, nasi
Selasa: Noodle pasta dengan ikan tuna, seledri dan tomat (kalau yang mau versi vegan tinggal skip tunanya)
Rabu: Nasi uduk, dadar telur, kering tempe
Kamis: French fries
Jumat: chicken soup, tempe goreng, sambal, nasi

Untuk kami sekeluarga, satu menu (sayur dan lauk) sehari sudah cukup secara Flipper dan papanya kalau siang tidak makan di rumah. Paginya makan roti-rotian, oats atau sereal, jadi menu kita adalah untuk makan malam. Dulu sebelum masuk TK, Flipper dan saya makan siang bersama di rumah dengan menu yang sama dengan makan malam. No problemo. Alhamdulillah juga suami  adalah pemakan segala (kecuali ikan yang masih ada matanya). Flipper juga bisa makan apa saja sebenarnya, tapi kalau saya masak yang pedas-pedas ya saya bikin yang lain buat dia.

Tuna noodle salad
Tuna noodle pasta
IMG_3703-1eS.jpg
Nggak nyangak bisa bikin gudeg sendiri lengkap dengan baceman lauknya. Kreceknya saja yang missing.

Saya seringnya hanya masak yang gampang-gampang karena saya memang nggak begitu canggih dengan urusan dapur. Masakan semacam siomay atau pempek, meskipun saya suka berat dan di sini susah belinya, tetep aja lebih suka beli ke teman yang bisa bikin hihi… Kalau mau sekedar nambah-nambah ide buat masakan, boleh deh intip blog masakan saya (in English) zbethz.wordpress.com Buat saya semua resep masakan ynag saya muat di situ rasanya enak, kalau tidak enak ya nggak saya muat haha…

2. Bila weekend cuaca buruk dan harus berada di rumah saja, saya sempatkan untuk membuat stock makanan yang nantinya dimasukkan freezer, dimakan ketika tiba-tiba malas masak, capek, sedang sakit atau ada tamu dadakan.

Banyak sekali lho masakan yang bisa disimpan di freezer, misalnya Rendang, opor, ungkepan ayam, tempe dan tahu yang nantinya tinggal digoreng atau dibakar saja, chicken nugget, perkedel kentang, lodeh, sayur asem, kuah chicken soup (jadi kalau mau masak sup, tinggal masukin sayurnya saja), kuah daging (untuk bikin bakso misalnya,tinggal masukin bakso dan pernak perniknya plung! plung!), saus bolognese, macam-macam sambal, bumbu gado-gado atau pecel, bumbu urap, dll.

Ini petunjuk bagaimana caranya menyimpan makanan di freezer dengan baik supaya nutrisinya tidak hilang (in English)

Untuk menyimpan sambal, saus atau pesto di toples kaca, jangan lupa disterilkan dulu toplesnya, dengar air panas atau masukkan oven.

Believe me, freezing food ahead allows you to save time, money and be healthier eating homemade meals with simple recipe from the scratch.

3. Membuat stock bumbu dasar  (bumbu merah, putih, kuning) dalam jumlah banyak, lumayan bisa menguarangi acara kupas-megupas dan iris-mengiris setiap hari. Ini bisa dimasukkan freezer juga.

Untuk Urusan Bersih-Bersih Rumah

Untuk urusan bersih-bersih ini terus terang nggak bisa dibandingkan dengan bersih-bersih rumah di Indonesia karena di Indonesia banyak debu sehingga rumah harus dibersihkan setiap hari. Eh tapi kalau rumah ber-AC yang selalu tertutup, nggak terlalu banyak AC kali ya? Mama saya di Jogja bahkan membersihkan rumah tiap pagi dan sore (nggak ada AC). Di kontrakan dulu hanya kamar tidur yang ber-AC  dan mbak yang membantu bersih-bersih rumah  juga selalu datang tiap pagi dan sore. Sini kalau tidak kotor-kotor banget, bersih-bersih rumah cukup dilakukan seminggu sekali.

Suami dan saya bantu membantu untuk urusan household chores. Tanggung jawab dia adalah mengurus halaman, membersihkan kamar mandi dan mengurus sampah (urusan sampah di Jerman itu ribet, ada 6 pembagian jenis sampah! Kapan-kapan kalau saya mood, saya tulis deh soal sampah ini.) Selebihnya adalah tanggung jawab saya.

Kami sekeluarga selalu makan malam di bawah jam 6 sore. Jam 18.30 saya mulai membersihkan meja makan dan dapur, memasukkan semua piring kotor ke dishwasher (dishwasher I love you so much!). Setelah itu mengajak Flipper bareng-bareng membereskan mainannya yang berserakan di seluruh penjuru ruangan. Kalau mainan sudah masuk box-nya semua, Flipperpun dibantu papanya bersih-bersih badan untuk persiapan bobok. Saya menyapu seperlunya (iya, pake sapu ijuk dari Indonesia). Kalau kotor banget karena Flipper sering keluar masuk rumah bawa barang aneh-aneh dari halaman ya vacuum cleaner-pun difungsikan. That’s it. Beres. Lalu menina-bobokkan Flipper dan Feierabend.

Nah kalau weekend nih acaranya bersih-bersih heboh mulai dari ganti sprei, ngelap-ngelap segala perabot, hoovering dan ngepel detil sampe ke sudut-sudut dan membersihkan kamar mandi lengkap dengan ngosek shower cabine dan bath tub serta ngepel juga. Dulu D dan saya kerja bakti melakukannya. Biasanya dia dulu yg bersihkan kamar mandi dan saya jagain Flipper, kalau dia sudah selesai gantian dia yang jaga Flipper. Sekarang sejak saya sudah kerja lagi, kami dibantu ibu-ibu yang datang setiap Sabtu selama 3 jam membersihkan rumah kami. Karena sayang juga kalau weekend, waktunya keluarga malah digunakan beberes, lagian kalau kita sendiri yang beberes, pasti memakan waktu lebih dari 3 jam!

Cara kami menangani urusan rumah tangga kami tentu berbeda dengan keluarga yang lain. Ada yang memang suka masak atau suka beberes, sehingga tidak keberatan kalau harus masak dan beberes berkali-kali. Ada yang merasa semua itu buang-buang waktu, which is okay selama semuanya merasa nyaman. Tetangga sebelah rumah saya, masaknya tiap hari hanya sandwhich (untung dia bukan orang Asia hihi…) tapi rumahnya mengkilap bahkan trotoar depan rumah diapun licin karena selalu dibersihkan, padahal punya dua anak balita. Salut juga saya dengan dia tapi yang seperti itu bukan untuk saya, saya masih suka makanan yg masaknya mbulet hihi. Kalau kamu, ada trik-trik untuk mengakali urusan rumah tangga supaya tidak terlalu membebani nggak? Share ya, siapa tahu cocok dan kita bisa saling menerapkan.

 

 

 

 

Short trip ke kota kecil Monschau.

2300s.jpg

2305s.jpg

Saya tahu tentang kota Monschau untuk pertama kalinya di sebuah film di televisi tapi karena film fiksi ya nama kotanyapun fiksi (maaf judul filmnyapun lupa, pokoknya film Jerman deh… ). Waktu itu saya sudah tertarik dengan kota tersebut. Setelah baca blognya Deny yang ini baru ngeh bahwa ternyata kota yang di film itu namanya Monschau dan kebih mengejutkan lagi, letaknya hanya satu jam-an dari rumah kami.

Pas memperlihatkan blognya Deny ke suami, dia malah bilang: eh ini kan kotanya nggak jauh dari sini. Lho la iya, kenapa saya nggak pernah diajak ke sana? Nggak kepikiran, katanya. Iya, biasanya mata kita memang lebih sering melihat yang  jauh-jauh, yang dekat-dekat malah terlupakan atau kalaupun ingat pasti ditunda-tunda dengan alasan ‘ah dekat ini, nanti saja belakangan’. Tapi kali ini kami tidak mau menunda untuk pergi ke Monschau, keesokan harinya, di sebuah hari Minggu di bulan Mei (iya, ini #latepost), kamipun pergi ke Monschau.

Monschau adalah sebuah kota kecil yang terletak di distrik Aachen Jerman yang tak jauh dari perbatasan negara Belgia dan Belanda. Ciri khas kota ini adalah rumah-rumahnya yang bergaya ‘half-timbered houses’ yang hampir tidak berubah gayanya dari 300 tahun yang lalu. Kebanyakan bangunan unik ini dijadikan pertokoan yang tetap buka di hari Minggu dan juga untuk penginapan.

2292s

2301s

2306s

2312s

 

Mengelilingi kota Monschau tidak akan memakan waktu lama karena memang kotanya kecil. Untuk pengunjung, terdapat beberapa tempat parkir luas sebelum memasuki kota tersebut. Anak-anakpun bisa berlarian bebas di sepanjang jalan berbatu karena memang tidak ada kendaraan yang berlalu-lalang kecuali sepeda dan kendaraan bermotor milik penghuni di sana yang sangat mengutamakan pejalan kaki. Oh iya, ada juga kereta wisata yang lewat. Tarifnya kereta ini €6,00/ person. Mahal menurutku. Apalagi bila dibandingkan dengan kereta wisata di kota Arco Italy yang tarifnya hanya €2 mengelilingi kota tua yang lebih besar dari Monschau selama 30 menit.

2310s

2287s
Sebuah gubuk di pinggir sungai. Entah ada penghuninya atau tidak.
IMG_3061-1e
Flipper bergaya di depan rumah orang.

Foto-foto kota Monschau yang lain bisa dilihat di. FLickr saya.

Wish-List

Jam 3 kemarin sore ada yang ngebel pintu rumah yang ternyata adalah salah satu mami yang anaknya diundang ke ultah Flipper Sabtu besok. Dia hanya mau bertanya si Flipper minta dikado apa. Aih baik banget, bela-belain datang padahal tilpun atau tulis di Whatsapp  saja juga bisa. Saya sebenarnya sungkan kalau mau jawab pertanyaan seperti ini, terutama dengan orang yang tidak terlalu saya kenal (ini kali  pertama saya bertemu muka dengan si mami). Kalau dengan para orang tua di play-group sih kami sudah lama kenal dan sudah biasa sharing birthday wish-lists -yang tidak hanya berlaku buat anaknya tapi juga bila mamanya yang ulang tahun 😁. 

Meskipun sebenarnya si Flipper punya banyak wishes, saya jawab saja bahwa kado itu nggak penting, yang penting anaknya  datang. Eh si mami ngeyel, nanya lagi, mau kado apa? Akhirnya dengan malu-malu kucing saya jawab buku karena Flipper suka baca. Lah si mami ini ngeyelnya masih berlanjut, mau buku tentang apa? Saya sih punya wish-list panjang yang isinya buku anak-anak dengan judul-judul tertentu, tapi masa iya saya terus ambil iPad dan liatin ke mami itu daftar bukunya? (Btw kita ngobrolnya hanya di depan pintu). Akhirnya saya bilang saja, buku apa saja asal bukan cerita Disney apalagi putri-putrian 😅 . Si mami pun setuju dan pamit. 

Si Flipper di hari ulang tahunnya tanggal 20 Juni kemarin. Perayaannya baru Sabtu besok karena kalau Ramadhan emaknya nggak sanggup repot 🙂

Dulu seingat saya waktu masih tinggal di Indonesia kalau sedang merayakan ulang tahun nggak ada deh yang nanya mau dikado apa. Prinsipnya dulu, kado itu adalah pemberian, jadi ya ikhlas sajalah menerimanya. Lah di sini, saya sering banget dapat kado berikut struk pembayarannya. Maksud si pemberi baik sih, kalau saya tidak suka, boleh ditukar sendiri  ke tokonya. Sharing birthday wish-list sebenarnya juga praktis, yang punya hajat menulis barang-barang yang dia inginkan tanpa paksaan bahwa si tamu harus benar-benar beli barang-barang tersebut. Si tamu juga tak perlu mikir lama tentang kesukaan si pemilik hajat, tinggal melihat wish-list-nya dan membelinya. Atau kalau pas nggak cocok dengan kantong ya beli yang serupa dengan yang di wish-list. Yang punya hajat dan tamunyapun sama-sama senang.

Model wish-list ini sebelumnya saya tahu  hanya ketika natalan. Itupun sejak tinggal di Jerman 9 tahun yang lalu. Di sini bahkan anak-anak yang belum bisa menulispun membuat wish-list dengan cara menggambarnya atau memotong gambar-gambar di majalah yang lalu dilem di selembar kertas. Orang tua memutuskan barang apa yang akan dibeli di wish-list tersebut. 

Sayapun sejak beberapa tahun lalu kalau natalan  juga ikut-ikutan membuat wish-list dan meminta suami supaya membuat wish-list juga supaya saya tidak pusing mikir mau ngasih kado apa ke si dia tapi rupanya si D ini tipe orang yang konvensional, wish-list menurut dia adalah tabu yang mengurangi joy ketika membuka kado karena tidak surprise lagi. Jadi dia tidak membuat wish-list dan wish-list saya juga tidak dibaca. Meh😄.

Kalau kamu suka dikado yang model gimana? Ngasih wish-list atau lebih suka yang surprise? Kalau surprise yang pake struk harga atau yang polosan?