Nonton Konsernya Lenny Kravitz and OH!

Hali halo! Sebenarnya saya masih ada peer buat menulis cerita lanjutan liburan di Mallorca kemarin nih tapi nggak apa-apa ya, disela satu cerita pendek dulu. Tentang Lenny Kravitz! Yeah, cowok yang ganteng dan sexy itu!

Ceritanya saya nih memang penggemar lagu-lagunya mas Lenny, tapi ngefans berat sih sebenarnya enggak. Nonton konser Lenny Kravitz juga nggak termasuk di wishlist saya tapi kebetulan nih semalem Lenny Kravitz mengadakan konser di Cologne dan pak suami ngajakin nonton. Tumben-tumbenan juga nih selera musik kita pas. Jadilah kita berangkat. Eh tapi biasanya pak suami memang suka baik hati nemenin saya lihat konser musik meskipun dia nggak suka musiknya sih…misalnya nonton Britney Spears waktu itu hihi…

Tiket Lenny Kravitz nggak sold out. Di last minute saya sempat ngecek Eventim (portal tiket online) dan masih banyak tiket dengan harga normal yang tidak terjual. Sambil nulis ini saya sambil meringis sedih, ingat beberapa bulan yang lalu pas mau beli tiket U2 buat September nanti, udah online berdua nih sama temen, nungguin detik-detik jam penjualan tiket dimulai. Eh tiket habis pada hitungan detik. Tinggal yang harganya 200€ ke atas dengan lokasi tempat duduk yang nggak enak. Aduh libur dulu deh nonton U2-nya kali ini.

Back to mas Lenny. Begitu dia muncul di atas panggung, meskipun saya beberapa kali lihat aksi panggung-nya dia di YouTube, melihat dia secara langsung bikin saya ter wow-wow… He’s so damn sexy! Oh My God, help me! Lalu suaranya, gayanya dan interaksinya dengan penonton, aduh Lenny! I’m your new fan!

Lenny menyapa salah satu fan beratnya yang rajin nonton konser dia dan selalu membawa spanduk bertuliskan nomor yang menunjukkan berapa kali dia nonton Lenny Kravitz dari nomor 1 sampai, pada malam itu adalah, yang ke-60 kali. Diapun diundang Lenny untuk naik ke panggung dan foto bersama. Check fotonya di IG Lenny:

Lalu Lenny juga sempat turun panggung dengan bandelnya joget-joget memutari standing area hall, bikin heboh penonton. Sayangnya saya duduk di lokasi yang agak atas jadi ditahan-tahan aja mau ikutan heboh di hall bawah. Ini video  punya orang pas Lenny ‘jalan-jalan’ di standing area hall.

View this post on Instagram

let❤️rule #lennykravitz #raisevibrationtour2018

A post shared by Mark Baumann (@mark__baumann) on

Terus terang saya nggak banyak ambil video/ foto pas konsernya karena selain lokasi yang jauh dari panggung , saya menikmati banget konsernya Lenny Kravitz, sayang banget kalau harus sibuk foto-foto. Ada dua video doang deh yang saya ambil semalem, itupun videonya goyang-goyang karena ngambilnya memang sambil goyang 😀  Toh foto/ video dengan kualitas baik pasti bisa didapat di YouTube. I danced the whole time woohoo… Pak suami sih lumayan, dia duduk sambil kepalanya doang yang dancing 😀

Konser berakhir sekitar jam 23.15 dan begitu keluar dari Lanxess Arena, saya udah mikir, aduh kapan nih ya Lenny Kravitz datang lagi… OMG I’m in love lho ❤ Lalu my second thought, mamanya Lenny pasti bangga banget punya anak seperti dia. Entah kenapa mikirnya begitu haha… Maybe because I’m a mom jadi mikirnya selalu kemama-mamaan 😄 My third though, saya otomatis membandingkan Lenny dengan alm. Prince. Oh but please Lenny, don’t die young! Meskpun kalau dipikir dia udah nggak muda lagi lho, 50+ tapi nggak kelihatan kan ya…

Video dibawah ini adalah karya Jos Beerens, fans beratnya Lenny yang bawa spanduk 60 tadi. Yup, setelah riset disana-sini, ketemu deh YouTube channelnya si Jos yang isinya kebanyakan memang mas Lenny. Enjoy!

Advertisements

Tradisi Advent – Menjelang Natal

Sebentar lagi Natal dan suasana di bumi sebelah sinipun mulai lebih ceria dari minggu-minggu sebelumnya. Sebenarnya kita nih nggak merayakan Natal dan sebelum ada Flipper, kami nggak terpengaruh dengan euforia Natal yang kental di negeri ini. Paling cuman ikutan tukar kado aja dengan big family-nya D, pak suami. Tapi sejak ada Flipper kami jadi ikutan beli pohon Natal, bikin Advent wreath sendiri dan bungkus-bungkus kado kecil-kecil buat Advent calendar.

Ini tahun kedua kami ‘beraktifitas’ Natal selain tukar kado. Itupun kalau dibanding dengan kebanyakan orang sini, aktifitas kami ini tergolong super basic banget. Iyalah, yang lain pada heboh menghias jendela bahkan seluruh rumah luar dalam dihias lampu warna-warni. Ada yang mengundang Nikolaus datang ke rumah lalu baking aneka macam cookies. Di luar rumah kami tidak ada deko apapun, sekedar lampu berbentuk rusa yang duduk antengpun nggak ada. Nggak ada hiasan atau lampu gantung apapun di jendela. Eh ada ding, gantungan di jendela dapur tapi itu mah memang menggantung sepanjang tahun, bukan khusus untuk natal.

Berikut ini adalah salah satu aftifitas menjelang Natal, membuat deko Lilin Advent. Aslinya sih disebut Advent wreath atau dalam bahasa Jermannya Adventskranz. Tapi saya nyebutnya Lilin Advent saja karena nggak ada wreath-nya sama sekali. Lilin ini berjumlah 4 yang dinyalakan satu persatu, dimulai pada minggu ke-4 sebelum Natal. Tahun ini Advent pertama jatuhnya besok, tanggal 3 Desember. Karena dinyalakannya satu-satu, maka dianjurkan lilin yang pertama dinyalakan lebih tinggi dari ketiga lilin lainnya, tapi nggak harus sih.

Tahun lalu Flipper tidak ikut membantu membuat Lilin Advent, dia kebagian acara tiup lilin saja setiap malam.

IMG_3626
Our first Advent Candles ever, 2016.

Tahun ini Flipper tetap nggak ikut mendekor Lilin Advent karena saya dapat idenya tengah malam dan langsung eksekusi. Keesokan harinya Flipper menambahkan kuda-kudaannya di sebelah lilinnya. Lucu juga, tapi masa kuda? Setelah mengantar Flipper ke TK-pun, saya langsung meluncur ke toko deko mencari rusa. Got two of them!

999A0081-1s

999A0087-1s
Advent Wreath 2017. Kudanya Flipper nongkrong di bawah saja 😀

Lalu tentang aktifitas dengan Advent Calendar yang selanjutnya disebut AC saja. AC yang entah dari mana asal muasal tradisinya ini adalah kalender dari tanggal 1 sampai 24 Desember yang berisi kado-kado kecil, jadi semacam excitement of Christmas countdown. Saya sendiri mengenal AC sejak tinggal di Jerman. Isi kadonya biasanya hal-hal sederhana saja seperti misalnya permen, puisi, lilin, karet penghapus, notebook (bukan laptop) sketsa gambar, etc. Tapi saat ini mulai banyak dijumpai AC baik yang homemade maupun yang ‘instant’ (beli di toko) yang harganya di atas 200€. Itu baru AC lho ya, belum hadiah Natalnya yang secara logisnya harus lebih heboh dari AC. Ah kalau yang mahil-mahil gitu saya nggak ikutan ah.

Sebelum ada Flipper pak suami dan saya biasa beli AC ‘instant’ di toko yang isinya coklat untuk setiap harinya. AC coklat merek Lindt harganya di atas 5€ kalau yang merek ecek-ecek 2€ pun bisa dapet. Ini untuk 24 hari lho ya. Isinya coklat kecil-kecil.

Tapi sejak tahun lalu tradisi AC kami bertambah, yaitu bikin AC buat si Flipper. Sebenernya buat anak-anak banyak juga AC instant non sweets yang dijual misalnya dari brand Lego atau Play Mobil bahkan Schleich. Harganya mulai dari 20€ which is standard price menurut saya kalau untuk AC. 1€/ day. Tapi entah kenapa saya nggak sreg kalau beli AC instant, jadinya ya repot sediri beli pernik-pernik dan mbungkusi kado satu-satu buat si Flipper.

Advent-calendar-2016s
Flipper’s Advent calendar 2016
999A0100-1s
Flipper’s Advent Calendar 2017.

Jatah kado AC Flipper untuk 24 hari adalah 25€. Barang-barang yang saya beli untuk Flipper, yang sesuai dengan anak usia 4 tahun adalah beberapa Pixi books (buku bacaan anak-anak bergambar berukuran 10cmx10cm), kaus kaki, celdam, Kinder Surprise Eggs, bubble bath yang ada temanya dari Kneipp (misalnya yang bikin airnya berwarna hitam untuk tema nenek sihir atau pink untuk tema princess), pensil warna, washi tapes, etc.

Yang lebih seru lagi, tahun ini saya juga dapat AC setiap harinya, yay! Jadi saya dan 23 teman  mengadakan AC swap, masing-masing membungkus kado yang isinya sama sebanyak 24 biji. Budget-nya seperti biasa, nggak boleh lebih dari 25€. Lalu setelah lengkap, semuanya dikumpulkan dan disebar ke semua anggota. Saya dapat bagian membungkus kado untuk tanggal 11.

IMG_1777
Kado no 11 yang saya bikin untuk Advent Calendar Swap bersama teman-teman.
IMG_1874
Kado yang saya terima balik dari teman-teman. Yay!

Kemarin saya mendapat tempat lilin dari Anna dan hari ini saya dapat homemade jam untuk roti dari Olga. Besok dapat apa lagi ya? Curious!

Lepas dari unsur keagamaannya, saya pikir aktifitas seperti ini asyik juga demi mengurangi suasanya yang selalu cenderung muram di musim dingin. Seneng aja ketika suhu di bawah nol derajat, jam 4 sore sudah gelap gulita, namun di segala penjuru tampak lampu hiasan natal berkelap-kelip. Lalu saat jam 8 pagi, masih gelap gulita juga dan kabut yang tebal di luar sana, kita punya kado kecil untuk dibuka.

Kalau di tempatmu bagaimana tradisi Natalnya? Apakah heboh juga seperti film-film Natal di TV? Oh ya, agenda saya setiap menjelang Natal dari tahun 2007 adalah nonton film Bad Santa yang dibintangi Billy Bob Thornton dan sejak tahun lalu ditambah dengan Bad Santa 2 ❤ Kamu punya film Natal favorit nggak? Home Alone Movie, mungkin?

Tulisan saya tentang Natal yang lain bisa dibaca di sini.

Karneval di Cologne

img_2754esblog
Saya bersama para heroes 😀

Seperti yang pernah  saya tulis di postingan tentang pasar Natal beberapa waktu yang lalu, salah satu hiburan di musim dingin yang tak kalah rame di sini adalah Karneval. Karneval ini resminya adalah ritual yang dilakukan oleh umat Roman Catholic sebelum LENT ( periode di antara Rabu Abu dan Paskah). Tidak semua kota di Jerman merayakan acara ini. Dan meskipun ini merupakan hari rayanya umat Catholic tapi di sini umat beragama apa saja bahkan yang tak beragama boleh ikut meramaikan. No question asked. Di Jerman daerah Selatan Karneval disebut Fasching, inti perayaannya sama meskipun ritualnya agak berbeda. Di sini saya hanya akan menulis tentang Karneval yang berlaku di daerah Rhein (daerah yang dilewati sungai Rhine), yaitu Cologne, Duesseldorf, Bonn, Aachen, Mainz dan kota-kota kecil di sekitarnya.  Di Cologne, Bonn dan Aachen pada masa-masa Karneval semua orang akan saling menyapa dengan kata-kata ‘Alaaf’ sedangkan di Duesseldorf adalah ‘Helau’. Jangan sampai kebalik ya karena Cologne dan Duesseldorf itu meskipun tetangga dekat namun mereka tidak akur jadi kalau kebalik bisa timpuk-timpukan permen deh jadinya.

Pembukaan Karneval dimulai pada tanggal 11 bulan 11 jam 11.11 siang. Pada hari ini bisa dilihat banyak orang dengan beraneka macam kostum berkeliaran di segala sudut kota. Orang-orang yang mengikuti acara resmi di club Karneval (Karnevalsverein) bisa mengikuti ceremony pembukaan di gedung-gedung yang mereka sewa. Yang tidak ikut club tetep boleh mengenakan kostum tanpa harus mengikuti acara peresmian. Pada hari ini banyak orang yang ambil cuti kantor atau tetap masuk kantor dengan mengenakan kostum. Yang tidak cuti menjalankan aktifitas sehari-hari berjalan dengan normal, bedanya hanya kostum saja dan malam harinya dilanjut dengan party di nightclub.

Setelah pembukaan Karneval, pada hari-hari berikutnya  orang-orang mulai disibukkan dengan persiapan Natal sehingga  euforia Karneval tenggelam oleh hiruk pikuk Natal. Setelah Natal, acara tahun baru mendapat giliran untuk tampil ke permukaan. Toko-toko dan restoran heboh menjual petasan dan paket New Years Gala dinner. Nah setelah keramaian tahun baru usai, semangat Karneval-pun muncul kembali ke permukaan. Toko khusus kostum Karneval mulai dipenuhi pengunjung bahkan supermarketpun turut menjual properti Karneval.

Untuk penggemar berat Karneval, belanja kostum Karneval adalah event yang asyik. Untuk memilih kostum, selain tema, unsur cuaca juga harus diperhatikan di sini, secara perayaan ini kebanyakan berlangsung ourtdoor pada siang hari ynag berlanjut indoor di malam hari jadi soal kehangatan bahan kostum harus diperhatikan. Karena saya tidak pernah ikut merayakan Karneval sampai malam, kostum yang saya pilih biasanya yang berukuran besar supaya dalemnya masih bisa dipakein jaket. Kostum binatang berbulu-bulu juga relatif aman untuk cuaca dingin. Tapi tak jarang juga kita melihat orang-orang ynag berani dengan kostum ‘summer‘. Harga kostum Karneval bervariasi, mulai dari 5€ yang biasanya hanya bisa dipakai sekali lalu rusak sampe yang beratus-ratus Euro. Selama 9 tahun tinggal di Jerman saya hanya dua kali beli kostum Karneval selebihnya hanya beli atribut kecil-kecilan seperti topi atau wig.

img_6468
Karneval pertama saya di Jerman pada tahun 2008. Niat banget pokoknya.

Lanjut dengan ritual Karneval. Setelah dibuka pada tanggal 11 November, acara Karneval yang rame  berikutnya adalah pada Weiberfastnacht (Fat Thursday) yang pada tahun ini jatuh pada tanggal 23 Februari 2017. Pada hari ini kebanyakan perkantoran hanya buka setengah hari atau bahkan tutup, demikian pula dengan pertokoan. Tidak ada parade pada hari ini namun orang-orang tetap menggunakan kostum dan party di jalanan yang kemudian dilanjutkan di nightclub. Musik Karneval bisa terdengar di santero kota karena hampir semua pertokoan memainkannya. Pada hari ini jangan kaget bila melihat banyak wanita berkostum sambil membawa gunting karena pada hari ini mereka ‘diperbolehkan’ menggunting dasi para pria sebagai simbol bahwa hari ini perempuanlah yang berkuasa.  Para pria yang biasanya sudah mahfum dengan tradisi ini memilih ke kantor tanpa dasi atau sengaja memakai dasi yang sudah bulukan.

Meskipun seminggu sebelum dan sesudahnya anak-anak boleh mengenakan kostum di TK, TK-nya Flipper resmi merayakannya Karneval pada hari Weiberfastnacht ini. Flipper dan teman-temannya menaruh kostum di TK supaya mereka bisa ganti-ganti sesukanya. Flipper sendiri menaruh dua kostum di lemari TK-nya. Pada perayaan resmi Karneval kemarin grup TKnya Flipper menggelar teater dengan tema Frau Holle (English: Mother Hulda), sebuah cerita terkenal dari Brothers Grimm. Tak hanya anak-anak yang mengenakan kostum, guru TKnya pun semua menggunakan kostum disesuaikan dengan tema Frau Holle. Saya tidak punya foto acara di TK, namun berikut ini ada foto-foto Flipper yang exist berkarnaval:

akukenklub
Karneval pertama dalam hidup Flipper, tahun 2015, merayakannya bersama-teman-teman di Babyclub.
adalmatian
Pada karneval kedua di tahun 2016, dia boleh turun ke jalan mengumpulkan (dan makan) permen 😀
aimg_6379
Fitting kostum at home sebelum diangkut ke TKnya, Karneval 2017.

Setelah acara Weiberfastnacht para Karneval fans bisa agak slow down lagi. Ritual berikutnya baru berlangsung 4 hari lagi yaitu di acara Rosenmontag, yang tahun ini jatuh pada tanggal 27 Februari kemarin. Rosenmontag yang artinya Rose Monday adalah puncak dari sekian banyak (dan lama) ritual Karneval. Pada hari ini diselenggarakan parade kendaraaan hias dengan tema-tema yang lagi heboh. Tahun ini tema yang banyak tampil adalah Angie, Putin, Erdogan dan Trump tentu saja. Masalah sosial seperti asyl, kesejahteraan penduduk, juga tak lepas dari sindiran tema Karneval.

Di Rosenmontag para penduduk kota yang merayakan Karneval tumpah ruah di jalanan ingin melihat parade (Yang tidak suka Karneval biasanya melarikan diri ke toko mebel atau bahkan keluar kota) sambil membawa minuman alkohol. Bagian ini nih yang tidak saya suka dari Karneval karena banyak orang yang mabuk di jalanan. Meskipun tidak pernah diganggu orang mabuk, tapi sebel aja kadang lihat sampai ada yang muntah-muntah di pojokan atau teriak-teriak nggak jelas. Tapi konon alkohol memang membantu mengatasi cuaca dingin di saat Karneval. Keluyuran di luar rumah seharian di musim dingin memang bukan sesuatu yang gampang 😀

Siapa saja boleh melihat parade Karneval, bebas dan tidak dipungut bayaran. Kalau mau melihat di tempat yang strategis sih bisa duduk di tribun-tribun yang sudah dipersiapkan secara khusus tapi pakai bayar dan biasanya tiketnya sudah sold out jauh-jauh hari. Di parade ini para peserta parade membagikan permen dan snack manis kepada para pengunjung dengan cara melemparnya dari kendaraan hias mereka ke segara penjuru mata angin. Mereka akan semakin semangat menebar permen bila ada teriakan ‘kamelle-kamelle’ dari pengunjung. Kamelle artinya permen tapi ini bukan bahasa sehari-hari, istilah ini hanya terdengar ketika musim Karneval. Berikut ini adalah foto dari parade Karneval tahun 2011, satu-satunya Karneval di mana saya bisa melihat parade dengan lumayan jelas (meskipun angle-nya nggak perfect). Biasanya nggak pernah bisa nonton parade karena desak-desakan. Maklum saya petite 😀 Klik tiap foto untuk tampilan lebih jelas ya…

 

Saya sendiri sebenarnya bukan penggemar berat Karneval. Tapi kalau ada temennya rame-rame dan cuaca juga memungkinkan (baca: nggak hujan, nggak terlalu dingin, nggak berangin) ya saya ikutan. Kalau anak-anak pasti suka diajak melihat parade karena mereka bisa mengumpulkan permen banyak. Oh iya kalau mau melihat parade jangan lupa membawa kantung buat wadah permen ya. Dan kalau memang mau ikut melihat parade sebaiknya menggunakan kostum meskipun minimalis karena kalau tidak pakai kostum pasti merasa salah gaya 😀

Setelah karnaval biasanya banyak orang sakit karena kebanyakan kena angin dan kebanyakan alkohol. Hari ini saja sudah tiga anak buah suami ynag telpun karena sakit. Tiga lainnya sudah telpun Jumat kemarin setelah acara Weiberfastnacht. Ya, untuk orang yang benar-benar fans Karneval, Karneval merupakan party time dan itu mulai dari 11 November sampai Rabu Abu (Ash Wednesday) tahun berikutnya, hampir setiap hari party, kalaupun tidak di jalanan ya di nightclub yang menyelenggarakan acara khusus Karneval. Besok, Rabu Abu yang bahasa Jermannya Aschermittwoch acara Karneval resmi ditutup. Ada ritual penutupannya juga saat ini tapi pengikutnya tak seramai eperti di Rosenmontag. Setelah Rabu Abu, kegiatan sehari-hari di sinipun kembali berjalan normal seperti biasa. Cuaca pelan-pelan mulai menghangat dan orang-orang mulai riang menyambut Paskah dan musim semi.

Dan berikut ini adalah kumpulan  foto suasana Rosenmontag  dari beberapa Karneval ynag saya ikuti di kota Cologne:

img_0390oks
The crowd.
img_0398oks
Enaknya sih memang bisa nonton di teras rumah begini, kalau kedinginan tinggal tutup jendela.
img_0408oks
Saya dan Charlie Chaplin. Wig Pippi Langstrumpf sudah saya copot karena udah on the way mau pulang ke rumah (tapi alisku masih kelihatan sedikit blonde tuh) 😀
img_0409oks
A woman with her two guardian angels.
img_2732esblog
Di depan Kathedral Koelned Dom.
img_2739esblog
Saya si pecinta binatang 😀

img_2789esblog

img_2745esblog
Enter a caption

img_2753esblog

img_2747esblog

img_2758esblog
Noo!
img_2767blogs
Tua muda ikut merayakan Karneval.
img_2802blogs
The crowd.

Untuk acara Rosenmontag tahun ini, which was kemarin, karena cuacanya sangat dingin dan berangin, saya tidak ikut berpartisipasi (baca: malas). Saya dan keluarga kemarin menikmati hari libur dengan brunch di sebuah hotel. Enak banget suasananya sepi karena banyak orang  ikut Karneval. Foto-foto Rosenmontag di kota Cologne kemarin bisa diintip die websitenya  Zeit Online.

 

 

Menjelang Natal di Jerman

(Warning: banyak fotonya)

Meskipun aslinya nggak natalan, Natal merupakan sesuatu yang ditunggu di setiap akhir tahun. Selain acara tukar kado yang seru, tentunya acara-acara public dari sebelum hari-H menjadi hiburan tersendiri untuk mengurangi stress di musim dingin. Banyak diskonan adalah salah satunya.

Sudah saya amati dari tahun-tahun sebelumnya kalau menjelang Natal banyak toko-toko yang memberi diskon dengan harapan banyak orang yang membelinya untuk kado Natal. Tapi belinya kalau bisa sebelum bulan Desember ya, karena bila sudah masuk Desember harga-harga barang favorit untuk kado, seperti mainan anak-anak dan alat dapur bisa naik hingga 200%. Kalau apparel atau buku-buku harganya cenderung selalu diskon atau harga tetap.

Mainan favorit yang dicari para orang tua untuk kado Natal misalnya product dari Schleich dan Lego. Saya dari lama sudah mengincar Schleich model kandang kuda dan Lego model castle. Pada bulan-bulan normal, harga rata-rata kandang kuda Schleich beserta aksesorisnya adalah 76€. Harga termurah ada di Amazon yaitu 72€ yang pada saat-saat tertentu bisa diskon menjadi 65€. Sementara Lego Ritterburg berharga rata-rata €100. Saat masuk bulan Desember, di mana Amazon memulai program diskon harian untuk barang-barang yang berbeda di setiap harinya, Schleich kandang kuda sama sekali tidak masuk ke program diskon ini dan malah naik menjadi 105€. Phew banget kan harganya… Berapa harga Lego Ritterburg? Sudah tidak saya check lagi haha…

Intinya selain banyak diskon, banyak juga barang yang naik harga, jadi harus pinter-pinter mengatur waktu shopping-nya.

Yang tidak kalah seru selain shopping adalah WEIHNACHTSMARKT alias pasar natal. Secara kalau musim dingin itu banyak orang yang depresi, pasar Natal menjadi hiburan wajib untuk masyarakat Jerman. Asal tidak beli apa-apa masuk pasar Natal ini gratis. Ada juga sih pasar Natal yang musti beli entrance fee tapi biasanya berada di tempat yang spesial misalnya di dalam puri atau di atas kapal.

Cologne merupakan salah satu kota  yang memiliki pasar Natal cantik yang wajib dikunjungi selama di Jerman. Selain di Cologne, pasar Natal terkenal juga ada di kota Nuremberg, Berlin, Dresden, Freiburg, Aachen dan beberapa tempat lainnya.

Beruntung sekali kami tinggal di tempat yang tidak jauh dari Aachen dan Cologne, jadi setiap tahun bisa mengunjungi pasar Natal di kedua kota ini. Tahun lalu bahkan sempat melipir-melipir ke kota-kota lain seperti Duesseldorf dan Frankfurt.

Berikut ini foto-foto pasar Natal di beberapa tempat di antara kota Cologne dan Aachen saja:

Pasar Natal di halaman Katedral Koelner Dom.

6

1
Flipper dan papa bergaya duluan sebelum mengeksplore pasar Natal di halaman katedral Koelner Dom Cologne.
4
The entrance to the Christmas market with Koelner Dom Cathedral as the background.
7
The stage in Christmas market at Koelner Dom Cathedral with live music concert everyday.
8
Stunning, right?

img_1941s

3
The pretty lady is selling what so called Cologne biscuit. Stand jualan di pasar Natal Koelner Dom mempunyai warna seragam khas, warna merah.

Pasar Natal di Altstadt (old town) Cologne

bild-029s
Kelabu, gelap, hujan dan dingin di pasar Natal di Altstadt Cologne tapi pengunjung tetap bersemangat.
bild-024s
Ciri khas stand jualan di Altstadt Cologne adalah bangunan bergaya middle age.
bild-025s
Jualan roti bawang.

bild-030s

Pasar Natal di Atas Kapal di sungai Rhine, Cologne

bild-046s
Untuk masuk sini dikenakan biaya masuk 3€ saja. Yang dijual di dalamnya menurut saya biasa-biasa saja tapi suasananya dong yang asyik…dan tidak terlalu dingin pastinya.

Pasar Natal di Aachen

1050

1055

1057

1053

Pasar Natal di Sebuah Ladang Dekat Rumah

Sehari-harinya tempat ini merupakan ladang perkebunan di mana konsumen bisa  langsung memetik sendiri buah, sayur bahkan bunga yang akan dibeli. Kalau malas memetik sendiri, bisa juga langsung membeli di tokonya. Daging tidak dijual di sini, namun ada produk susu dan telur. Kebanyakan yang dijual di sini merupakan produk organic.

Selain ladang mereka juga memiliki tiga kuda poni dan beberapa kelinci yang membuat Flipper semangat banget kalau diajak ke sana. Oh iya, taman bermain untuk anak juga disediakan di sana.

Nah menjelang Natal selain tetap beraktifitas seperti biasanya, ladang ini membuka pasar Natal juga untuk masyarakat terdekat. Tidak semegah atau segemerlap pasar Natal di pusat kota Cologne atau Aachen tapi buat saya justru menyenangkan karena tidak unyel-unyelan, tidak perlu antri panjang untuk makan dan suasananya lebih kekeluargaan.

Ketika berkunjung ke sini, kami juga membeli pohon Natal asli hasil dari ladang tersebut, bahkan kalau mau kita juga bisa menebang sendiri tapi waktu itu kami memutuskan untuk beli yang sudah dipotong saja. Karena membeli pohon Natal di sana, kami mendapat gratisan dua porsi makanan dan minum, yay!  Reibunkuchen (kentang parut goreng yang dicocol dengan puree apel) dan susu coklatpun menjadi pilihan kami. Enak deh, dingin-dingin makan gorengan 😀 Flipper sibuk main karusel bolak-balik tanpa merasa pusing, bolak-balik menemui Sinterklas supaya dapat coklat dan rajin mencari rumput untuk bolak-balik ngasih makan kuda poni. Oh iya, keesokan harinya si Flipper sakit perut karena kebanyakan coklat dan sejak itu smapai sekarang dia agak-agak anti coklat 😀

2

3

4

Barang dan makanan yang dijual di pasar Natal rata-rata sama saja; kerajinan tangan, pernak-pernik untuk pohon Natal, hasil rajutan, biskuit, tumis kentang bawang, sosis curry, Reibenkuchen dll. Paling ketambahan barang khas daerah mereka saja.

bild-053s

bild-061s

bild-063s

img_1945s

1060

1059

Bila di Berlin, beberapa pasar Natal tetep buka hingga Januari, di daerah saya ini hanya buka dari tanggal 23 November sampai 23 Desember saja. Selanjutnya yang ada di mana-mana jual petasan dan WSV-Winterschlusserkauf alias Winter Sale Season pun dimulai. Setelah itu ada kegiatan public yang tak kalah seru  yaitu Karnaval yang insyaallah akan saya tulis juga nanti.

-beth-

Berlin Trip bersama Mbak Yurop dan STING

Sekitar empat atau tiga bulan yang lalu saya mendapat email notification dari Eventim, sebuah portal yang menjual segala tiket hiburan di lebih dari 21 negara, bahwa penyanyi kesukaan saya STING akan mengadakan konser di Berlin pada tanggal 1 Agustus 2016. Sayapun langsung mengajak suami untuk pergi ke Berlin menemani saya nonton Sting. Ya ‘menemani’ saja karena dia memang bukan fansnya Sting. Namun rupanya dia sendiri sudah ada rencana untuk ke musik festival yang berlangsung 3 hari di luar kota, seminggu sesudah konsernya Sting. Untuk festival itu mah dia tidak perlu menawari saya mau ikut atau tidak karena selain  festival yang didatanginya selalu festival yang musiknya bukan selera saya, saya juga nggak sanggup lebih dari sehari nggak mandi dan trauma menggunakan toilet Dixie yang isinya sudah hampir penuh. Etapi kalau festivalnya Coachella, Tomorrowland atau Summer Jam saya mau kali ye ikutan… Balik ke soal konser Sting,  akhirnya diputuskan bahwa saya pergi sendiri ke Berlin sementara D ambil cuti untuk menemani Flipper. Seminggu kemudian gantian dia yang having his ‘me time’ di music festival.

Lalu saya pikir-pikir, pergi ke Berlin sendirian dan hang out sendirian di Berlin sih nggak masalah buat saya. Saya pernah tinggal di Berlin dan hapal liki-liku Berlin. Tapi nonton konser sendirian kok sepertinya nggak asyik ya… Maka sayapun mulai mengiming-imingi beberapa teman termasuk teman-teman di Mbakyurop* untuk ikutan nonton Sting. Alhamdulillah Anggi, Deny dan mba Dian tertarik untuk ikutan ke Berlin -meskipun sayangnya tidak tertarik untuk ikut nonton Sting. Ya sudahlah, yang penting ke Berlin dulu, soal Sting gampang, yang penting tiket sudah di tangan. Selain Anggi, Deny dan mba Dian,  Mia dan Mindy yang kebetulan juga sedang berlibur bersama keluarga ke Berlin juga menyempatkan bertemu kita-kita. Tadinya sih saya sudah siap-siap, kalau tidak ada temannya, hanya akan stay sehari di Berlin tapi karena kali ini rame-rame jadinya stay diperpanjang menjadi 3 malam 4 hari deh and it was a really great days in Berlin with the girls.

⊕ PENGINAPAN ⊕

Sebelum berangkat, kira-kira sebulan sebelum hari-H, kami mulai efektif rembukan tentang Berlin trip via WhatsApp.  Karena konser Sting jatuh pada hari Senin, 1 Agustus, kami sepakat untuk berada di Berlin dari tanggal 30 Juli (Jumat) sampai 2 Agustus (Selasa). Kami berempat, Anggi, Deny dan mba Dian menginap di sebuah apartment di daerah shopping terkenal di Berlin, yaitu Ku’damm. Apartment AMC yang kami sewa sangatlah nyaman meskipun berada di tengah kota namun di tepi jalanan yang sepi. Tidak ada fasilitas atau interior yang istimewa di sana namun semuanya bersih dan memenuhi standard. Lokasi apartment juga tidak jauh dari halte bus dan stasiun kereta. Dan yang paling penting, dekat dengan cafe bubble tea yang selalu uyel-uyelan pengunjungnya. Pokoknya strategis sekali deh.

Untuk urunan hotel kami hanya membayar €81, per person selama 3 malam itu. Murmer deh pokoknya. Itulah enaknya kalau trip rame-rame. Apartment kami terdiri dari dua double beds, satu set meja makan, kitchen set lengkap dengan peralatannya, lemari baju besar berikut setrikaan bahkan payungpun juga disediakan. Kamar mandinya  cukup besar meskipun tidak ada bath tub-nya. Cleaning service datang tiap hari kecuali hari Minggu namun dia hanya membersihkan, lantai, kamar mandi dan tempat tidur. Dapur dan meja makan tidak disentuh sama dia. Lumayan lah…biasanya  short term-apartment malah tidak menyediakan cleaning service sama sekali, hanya ngasih sapu dan vacuum cleaner saja.

IMG_0339.jpg
Kamar mandi dan lemari gedenya ada di sisi kiri, tidak kelihatan di foto.

Mia tidak ikut menginap, dia datang ke Berlin pada Minggu pagi dan balik lagi ke Hannover sore harinya. Mindy dan keluarga menginap di rumah temannya dan Mindy gabung dengan kita pada hari Seninnya, tlisipan deh dengan Mia.

Deny dan saya sampai di Berlin pada Sabtu sore jadi kami berdua sempat jalan-jalan duluan di sekitar hotel sambil melihat acara night run yang kebetulan diadakan di dekat hotel. Deny langsung gatal kakinya, ingin ikutan lari.

IMG_3537aeS.jpg
Selain lari-lari beneran, di NIght Run ini ada kompetisi inliner juga.

Malam hari sekitar jam 21 malam, datanglah Anggi yang kemudian disusul mbak Dian. Seneng deh akhirnya bisa ketemuan mereka berdua. Kalau Deny mah kami sudah beberapa kali bertemu. Kami tidur larut malam itu, biasalah ladies, ngobrol ngalor ngidul dulu 😀

Minggu pagi sekitar jam 8, datanglah Mia ke apartment kami. Saya dulu sempat ketemu Mia waktu meet-up di bakery dalam rangka Frankfurt Book Fair, tapi saat itu ketemunya hanya sak nyuk-an dan  tidak sempat ngobrol sama sekali. Eh kemarin ketemu Mia lagi, yay! Mia orangnya mungil, imut dan kalau bicara halus seperti Deny.

Acara kami hari itu adalah pergi ke Menara Teufelsberg. Jam 10 kami cabut dari apartment dan naik kereta dari stasiun Zoologischer Garten menuju stasiun Heerstr. Untungnya sebelum naik kereta kami sempat membeli bekal dulu (di apartment memang tidak ada service breakfast) karena di stasiun Heerstr. tidak ada kios sama sekali dan kami masih harus jalan kaki jauh menuju MenaraTeufelsberg.

⊕ MENARA TEUFELSBERG ⊕

Keluar dari stasiun Heerstr. kami melihat tanda menuju Teufelsberg masih sekitar 1100 m, melewati jalan aspal. Namun pada kenyataannya jaraknya lebih dari itu. Ketika sudah lewat dari 1km, mulai kebingungan, tidak melihat tanda-tanda lebih lanjut. Sempat bertanya kepada tiga orang; yang pertama tidak tahu sama sekali, yang kedua seorang ibu-ibu dan anak remajanya yang mau menuju ke menara juga namun tidak tahu juga di mana letak menara sebenarnya. Beliau malah mengajak kita potong kompas lewat hutan. Kami sempat tergoda karena sudah jalan jauh tetap tidak ada tanda-tanda, tapi kalau masuk hutan tersesat ya lebih gawat lagi. Barulah ketika bertanya pada bapak-bapak yang sedang jogging, kami mendapat pencerahan.

Untuk masuk komplek menara Teufelsberg kami dikenakan biaya €7/ person dan diskon kalau punya kartu pelajar seperti Mia. Mungkin terbiasa dengan kehidupan di Eropa yang semuanya serba rapi dan terawat, kami agak tak yakin melihat bangunan ticketing yang morat-marit serta  bapak-bapak pakai kaus oblong yang melayani penjualan tiket. Dalam hati saya sempat berpikir, ini  official apa preman? Eh tapi ini Berlin ding…dimana bangunan tua dan ruin memang banyak ‘berserakan’ di segala sudut Berlin, terutama di daerah bekas Jerman Timur dulu.

Setelah membayar tiket  tanpa mendapat lembaran tiket, kami harus menandatangani disclaimer yang isinya bila terjadi apa-apa dengan diri kita, pihak Teufelsberg tidak akan menanggung. Mengapa harus menandatangani pernyataan seperti itu, karena seperti halnya bangunan ticketing di depan, bangunan menara mata-mata Teufelsberg ini tidak lagi 100% utuh dan terdapat lokasi-lokasi yang berbahaya bila kita tidak hati-hati.

Jadi Menara Teufelsberg ini adalah sebuah menara untuk nguping atau mencuri dengar milik milik NSA (National Security Agency) Amerika, yang saat itu bekerja sama dengan Inggris Inggris, untuk mata-matai kegiatan Uni Soviet. Menara ini dibangun di atas bukit Teufelsberg (Bukit Setan), sebuah bukit buatan manusia setinggi 120 m di atas laut. Dinamakan bukit setan karena mengikuti nama danau di dekatnya, yaitu danau Teufelsee atau danau setan. Mengapa danau setan? Entahlah. Yang jelas bukit Teufelsberg ini dibuat untuk menutupi akademi teknik kemiliteran milik Nazi yang saking kuatnya tidak bisa dihancurkan saat perang dunia kedua berakhir. Jadi akademi tersebut ditimbun dengan puing-puing bekas perang bercampur tanah.

Menara Teufelsberg sebelumnya tidak terbuka untuk umum dan dijaga ketat oleh security namun seiring waktu menara ini mulai dibuka untuk umum. Setelah dulunya dibuka hanya pada hari Minggu dengan guided tour, kini dibuka setiap hari dengan atau tanpa guide. Dengan guide harga tiketnya  €15,00 dan guide-nya adalah orang Amerika mantan karyawan di menara NSA tersebut.

2327

2358

Begitu kami memasuki area abandonen building complex tersebut, kami semua langsung terpesona dengan segala puing-puing cantik di sana. Bagaimana tidak cantik, meskipun keadaannya sudah berantakan namun kehadiran para seniman yang ikut mengelola tempat ini menjadikan tempat ini benar-benar artsy. Di halaman komplek itu terdapat banyak properti cantik yang tidak pada tempatnya, misalnya mesin jahit antik di tengah taman. Atau bath tub dan sofa tua di semak-semak belukar yang langsung menjadi lokasi foto kami.

IMG_3629ae.jpg
Searah jarum jam: saya (baju hijau), Anggi, Mia, Mba Dian dan Deny.
IMG_0438ee.jpg
Mia bergaya di samping meja dan entah apa itu yang terbuat dari mesin jahit.
IMG_3600a.JPG
Properti rongsokan yang disusun sedemikian rupa sepertinya memang sengaja disediakan untuk penggemar foto seperti kami dan juga dua cowok ini yang akhirnya malah menjadi model dadakan kami.

Setelah puas menjelajahi halaman menara, kamipun memasuki gedung utama yang terdiri dari tiga lantai. Di atap gedung inilah terdapat menara dan kubah putih. Namun sebelum sampai ke atap, kami disuguhi mural-mural  yang luar biasa artistik di segala sudut ruangan. Gambar seorang perempuan yang memasukkan jari tengahnya ke mulut mencuri perhatian saya karena benar-benar seperti sebuah foto, di mana pandangan matanya selalu mengikuti ke mana saja saya pergi.  Tak heran bila si mbak itu paling banyak mencuri perhatian pengunjung. Seluruh ruangan dari lantai satu hingga lantai tiga penuh dengan mural. Tidak ada space yang kosong sama sekali.

2333s
Si mas ini sedang mengagumi gelang mbaknya yang berkilau-kilau seperti logam beneran.
2334s
Deny khusyu dengan kameranya.
IMG_3566ae
Angipun memanfaatkan sofa yang disiapkan di sana.
IMG_0580e
Mbak Dian semangat dari lantai ke lantai.
IMG_0493e
Maunya sih gajah ini saya bawa pulang untuk si Flipper 😀

Kami sempat bersyukur tidak mengambil guide untuk masuk sini karena bisa dipastikan guide-nya bakalan bosen nungguin kita foto-fotoan. Dan secara itu bukan private guide, pengunjung yang lainpun pasti akan sebel dengan kita. Saking lamanya menikmati mural-mural di sini, saya sampai kelaparan dan membuka bungkusan makan siang di sini. Bungkusan isi roti, bukan nasi.

Kemudian ketika akhirnya kita sampai di  di atap lantai 3, pemandangan yang kami dapati tak kalah breathtaking, menara 5 lantai dengan kubah putih di atasnya, dua kubah putih tanpa menara dan tentu saja pemandangan kota Berlin yang tampak hijau dari atas sana. Sayangnya tak seorangpun dari kami berlima mau naik ke menara. Kami semua mendadak takut ketinggian melihat keadaan menara yang tidak lengkap dan hanya dilindungi dengan kawat tebal di tepi-tepinya. Namun tanpa naik ke menarapun, suasana di atap sana sudah sangat menyenangkan. Perjalanan jauh kami tak sia-sia. Kalau saja saya masih lama di Berlin, pasti saya menghabiskan sehari penuh hanya berada di sana.

2343s
Berlin TV Tower pun terlihat dari sini.
2346s
Dua kubah tanpa menara.
2352s
Menara Teufelsberg.

 

byAnggiDSC01516e.jpg
Saya sedang beraksi di dalam kubah.
2357s
Model dadakan kita memanfaatkan bathtub yang dipajang di sana.

 

IMG_0586eeS.jpg
Pose lagi sebelum keluar dari Teufelsberg. Mbak Dian tidak kelihatan karena dia yang motret.

Ada yang seru ketika kami keluar dari Teufelsberg, mau balik ke kota. Serunya gimana, coba mampir ke blog Deny deh…Dia yang cerita 😀

Dari Teufelsberg, tujuan kami berikutnya adalah Restoran Nusantara di jalan Turmstr. untuk late lunch. Restoran dengan harga warung ini adalah langganan saya ketika tinggal di Berlin. Menu favorit saya di sana sebenarnya adalah lontong sayur tapi kali ini ingin makan yang lain, mi ayam bakso yang ternyata enak juga. Dessert yang saya pesan es teler durian dong… Mak nyus juga tapi tidak se-spektakuler es teler durian di Resto Si Des Den Haag. Anggi, Deny, mba Dian dan Mia puas semua dengan menu yang dipesan mereka. Alhamdulillah, saya yang ngajak-ngajakin mereka ke Berlin ikut senang bila para tamu senang. Hihi… Sok jadi host padahal tinggalnya sudah tidak di Berlin lagi.

Setelah puas recharge energi di Resto Indonesia, Mia kembali ke Hannover dan sisanya, kami berempat loncat ke kereta menuju stasiun Hackescher Markt untuk menghabiskan sore di daerah Museuminsel (Museum Island). Mengapa disebut Museuminsel, karena di daerah ini berkumpul beberapa museum penting di Berlin, yaitu: Altes Museum, Neues Museum, Alte Nationalgalerie, Bode Museum, dan Pergamon Museum. Selain museum-museum tersebut, kalau agak mlipir dikit terdapatlah Neue Synagoge dengan bangunan emasnya di jalan Oranienburgerstr, Humboldt-Box Museum serta  Berliner Dom atau Berlin Cathedral, sebuah gereja Evangelic yang dibangun pada tahun 1451. Di sini kami sempat leyeh-leyeh sebentar sebelum diguyur hujan.

selonjoran
Leyeh-leyeh di depan Berliner Dom.

 

⊕ HARI KEDUA ⊕

Hari berikutnya, jam 10 pagi Anggi, Deny dan mbak Dian ikutan program free walking tour yang meeting point-nya di Brandenburger Tor. Mindy saat itu sudah di Berlin jadi Mindy dan saya ketemu duluan di mall terbaru di Berlin yaitu Mal of Berlin. Jangan salah, kita nggak niat mau shopping di sini tapi mau moto-moto. Jadi ceritanya selama ini saya sering melihat foto sebuah mall Berlin yang keren spot-nya di Instagram dan saya suka banget melihatnya, sebuah bangunan mall modern dengan view bangunan tua Bundesrat. Dan akhirnya sayapun bisa kesana, memotretnya sendiri. Ini nih fotonya…

2366

Keren kan? Setelah jepret-jepret di situ, Mindy dan saya ngupi-ngupi bentar sambil jalan-jalan di daerah situ menghabiskan waktu karena pada jam makan siang kami akan bertemu dengan trio yang ikutan tour tadi di Warung Mabuhay.  Jangan salah, meskipun namanya Mabuhay ini bukan warung Filipina tapi warung Indonesia lho. Namanya begitu karena dulunya warung ini memang milik orang Filipina yang diambil alih orang Indonesia. Berbeda dengan Restoran Nusantara yang memang bergaya restoran (meskipun sederhana, menurut saya), Mabuhay ini benar-benar warung atau Imbiss kalau orang Jerman bilang, yang space-nya kecil dan tidak ada hiasan neko-neko di warungnya.

Kami makan seperti preman, rame, rebutan dan gogot. Gogot apa ya bahasa Indonesianya? Makan banyak membabi buta begitu deh 😂 Selain memang lapar berat, menu yang ditawarkan Mabuhay memang menggiurkan semua dan rasanya memang top. Tidak rugi kita menunggu lama untuk dapat tempat duduk karena pada jam makan siang memang warung itu penuh dengan orang kantoran yang makan siang di situ.

dianunspecified10.jpg
Di Warung Mabuhay. Yang sebelah kiri adalah Mindy.

Setelah makan siang, masih dengan obrolan tentang enaknya makan siang tadi, kami lanjut naik kereta ke Regierungsviertel. Regierungsviertel adalah daerah di mana kantor-kantor penting pemerintahan Jerman ada di sini semua. Dari gedung parlemen (Reichstag), kantornya Angele Merkel hingga menteri-menterinya.

anggiDSC01648s
Di depan Reichstag, gedung parlemen Jerman.

Sayangnya di sini Mindy dan saya tidak bisa lama-lama. Mindy ada janjian dengan temannya dan saya harus bergegas ke konsernya Sting.

⊕ KONSER STING ⊕

Ini sebenarnya alasan utama saya ke Berlin. Nonton Sting. Dan saya happy sekali Anggi, Deny, mba Dian mau ikutan gabung. Bahkan Mia dan Mindypun nyempetin ketemu kita-kita. Many thanks girls!

Jadi setelah tanya sana-sini tentang siapa yang nonton Sting, seorang teman Instagram yang tinggal di Berlin mengenalkan saya dengan sepupunya yang mau nonton Sting juga malam itu. Setelah telpun-telpunan kamipun sepakat bertemu pada jam 17.30 di entrance amphitheatre Waldbuehne (Wald: hutan. Buehne: panggung), tempat konser musik paling asoy yang pernah saya datangi. Waktu saya tinggal di Berlin, saya sempat beberapa kali nonton musik di sini. Karena open air, dia hanya berfungsi ketika musim panas saja. Berbeda dengan tempat-tempat konser yang biasa, untuk memasuki panggung open air ini, begitu keluar dari stasiun kereta kita musti melewati perkebunan orang dulu.

IMG_0882s.jpg
Berjalan beriringan menuju Waldbuehne.

Sore itu saya datang tepat jam 17.30 dan ternyata di entrance sudah ada dua antrian panjang untuk memasuki Waldbuehne. Sayapun  menelpun Susanna, ‘date‘ saya malam itu, menanyakan keberadaannya. Rupanya dia malah masih di kota, belum on the way ke lokasi karena saling tunggu-tungguan dengan teman yang lain. Kita akan telpun-telpunan lagi nanti bila sudah di dalam. Alhasil sayapun ngantri sendirian. Agak ingah-ingih juga sih secara yang lain pada ngobrol dengan teman-temannya, tapi cuek ajalah. Konsernya sendiri mulai pada jam 19.30.

Malam itu ada pengecekan security yang lebih ketat dari biasanya karena sebelumnya ada kejadian serangan bom di sebuah festival musik di kota Ansbach, Bayern oleh IS simpatisan. Oleh karena itu pula, saya yang selama di Berlin hanya membawa koper troli dan tas ransel, harus beli tas cangklong baru karena di last minute email notification disebutkan bahkan tas ransel tidak diperbolehkan sedangkan saya kalau tanpa membawa tas ya kelabakan juga mau naruh dompet, handphone dan jas hujan secara cuaca saat itu memang punya chance untuk hujan.

Setelah akhirnya lolos dari pengecekan security dan pengecekan tiket, sayapun melenggang  menuruni tangga-tangga open air Waldbuehne. Langit saat itu setengah biru dan setengah abu-abu. Alhamdulillah saya dipinjami jaket kulit oleh Anggi karena saya terlalu percaya diri akan langit yang selalu cerah di Berlin, hanya membawa jaket tipis dari rumah.

IMG_0883es.jpg
Waldbuehne dibangun pada tahun 1934 dan bisa mengakomodasi 22.000 orang.
IMG_0908s.jpg
Ketika sudah penuh.

Di sini saya makan malam Brezel yang dijual oleh mas-mas yang keliling naik turun tangga. Secara tidak ada yang jualan minuman hangat, yasud, minumnya cukup air putih saja. Saya sempat pindah-pindah tempat duduk mencari lokasi yang strategis dan ketika sudah mendapat tempat yang benar-benar nyaman, tiba-tiba Susanna menelpon, mengatakan bahwa dia sudah di dalam, berada di standing area dan saya disuruh nyusul. Merasa sudah nyaman dengan tempat saya duduk, sayapun menolak turun. Berdasarkan pengalaman, di Waldbuehne memang tidak ada kategori tempat duduk dan nomor-nomoran. Semua bebas mau duduk dimana. Tempat duduk yang nyaman di sini menurut saya adalah yang bisa melihat panggung dari depan, atau serong dikit juga tidak apa-apa dan dekat dengan toilet. Maklum saya orangnya beser 😀

IMG_0891.jpg
Otw ke toilet. Toilet di Waldbuehne sangat bersih (ada yang jaga dan bersihin) dan ruangannya banyak jadi jarang ada antrian panjang.

Jam 19.30 lebih dikit keluarlah penyanyi pembuka yaitu Joe Sumner, anak sulungnya Sting dari istri pertama. Joe, wajah dan suaranya mirip sekali dengan Sting. Bedanya hanya dua: Sting lebih tua dan Sting lebih ganteng. Karena Joe inilah saya jadi ‘berteman’ dengan penonton di sebelah kiri dan kanan saya. Di sebelah kiri saya adalah dua orang wanita berusia 60 something sedangkan di kanan saya adalah suami istri, 50 something. Saya sempat mendengar bahwa mereka rasan-rasan tentang Joe yang ‘kok mirip sekali dengan Sting ya?’. Saya yang kebetulan tahupun sok akrab menjelaskan kepada mereka kalau Joe memang anaknya Sting. Wah beneran abis itu saya jadi nggak cengoh lagi nonton musik sendirian, ada ‘teman’ yang diajakin ngobrol dan joget bareng. Dua oma di sebelah kiri heboh banget kalau joget, saya mah kalah. Sedangkan suami istri di samping kanan, si suami ternyata pernah main ke Indonesia dan berkeliling dari Sabang sampai Merauke, jadilah kita seru ngobrol. Senang deh saya malam itu, ternyata nonton konser sendirian is absolutley fine.

Joe menulis lagu untuk anak perempuannya berjudul Jely Bean dan diapun mengenalkan anaknya ke atas panggung ketika dia menyayikan lagu itu. So sweet! Bikin saya tambah kangen dengan Flipper karena anaknya Joe umurnya sama dengan Flipper. Waktu penampilan Sting pun, penonton bisa melihat Joe dan anaknya menari-nari di belakang panggung. Kadang si anak menunggu dengan manis di tangga kalau papanya harus jadi backing vocal kakeknya. Sweet, very sweet family. Love it!

Setelah kira-kira 45 menit, Sting pun muncul di panggung dengan lagu pembukaan dari The Police ‘Every Little Thing She Does is Magic’. Semua penontonpun langsung berdiri dan bergoyang. Konser Sting sangat menghibur sekali dan penontonnyapun meskipun kebanyakan berusia di atas 50 (kalau dilihat dari segi wajah dan penampilan lho ya), semuanya tidak hanya duduk anteng mendengarkan musik. Semuanya mau heboh. Salut!

Penampilan Panggung konser Sting sendiri sangatlah sederhana. Hanya ada panggung standardnya Walbuehne tanpa dihias apa-apa kecuali dua layar lebar di kanan kiri panggung. Sekedar background bertuliskan Sting-pun tidak ada. So modest, membuat saya otomatis membandingkannya dengan konser U2 di Frankfurt beberapa tahun lalu yang panggungnya super heboh. Jangankan U2, konser Maroon 5 aja tata panggungnya lebih rame dari pada Sting.

39963_458227586356_4829150_n.jpg
Konser U2 2010
IMG_0917e.jpg
Konser Sting 2016

Tapi siapa yang mau mempermasalahkan tata panggung selama musiknya asoy? Saya sih hanya memberi berbandingan nggak penting saja. U2 concert was super dan tanpa tata panggung berlebihanpun saya yakin penampilan mereka akan tetap super. Stingpun tak kalah super dan bila dia mau repot dengan tata panggung aneh-aneh, pasti tak akan mengurangi kualitas musik dia.

Saya sudah berada di apartment lagi sekitar jam 23.30 dan langsung dikerjai oleh Anggi, Deny dan mbak Dian untuk foto-fotoan OOTD, kostum nonton Sting. Harusnya sih ya, foto-fotoanny sebelum nonton, bukan sesudahnyaa…Ini modelnya udah kucel kalau difoto tengah malam begini >.<

IMG_0930e.jpg
OOTD: Top: Superdry/ Jeans: Levi’s/ Shoes: Nike/ Jacket: Punya Anggi/ Tas: Beli dadakan/ Photographer: Mbak Dian/ Lighting: Anggi’s phone/ Model: Kecapekan

Keesokan harianyapun kami sudah harus berpisah, kembali ke keluarga masing-masing. Anggi ke Edinburgh, Deny ke Den Haag, mbak Dian nginep dulu semalam di rumah temannya lalu balik Salzburg dan saya yang sudah kangen berat dengan Flipper, ke Cologne. 3 hari di Berlin rasanya kurang banget deh! Semoga next time masih ada kesempatan untuk ikutan girl trip lagi ya teman-teman. Senang sekali bisa bertemu kalian, saling bercerita dan sharing hal-hal positif. Sudah kangen lagi nih saya hiks…<3

 

*Mbakyurop merupakan kumpulan ibu-ibu dan mbak-mbak Instagrammer yang rajin ikutan kompetisi yang diadakan oleh @Uploadkompakan. Hashtag yang digunakan di Instagram adalah #mbakyurop

**Foto-foto Berlin trip kami ada di Instagram dengan hashtag #mbakyuropdiberlin

***Foto-foto dari saya yang lain bisa dilihat di album Berlin Flickr saya

Elephant Birthday Party

Sabtu kemarin akhirnya sukses juga mengadakan acara pesta ulang tahun yang  gedean untuk si Flipper. ‘Gedean’ di sini jangan dibayangkan dengan gedean ala di Indonesia yang undangannya bisa sampai berpuluh-puluh bahkan ratusan orang ya. Di ultah Flipper kemarin ada 7 teman yang diundang. Totalnya hanya 18 orang, termasuk kami, para ortu dan adik-adik teman Flipper. Sebenarnya sih pada ultah pertama Flipper lebih banyak lagi tamunya, tapi waktu itu yang diundang hanya teman-teman suami dan saya saja, nggak ada anak kecil yang lain selain Flipper. Ultah kedua dirayakan dua kali, yang pertama hanya dengan papa mama, opa, oma dan tantenya Flipper lalu perayaan yang kedua hanya dirayakan dengan 4 teman dari playgroup bersama para maminya.

Karena ulang tahun Flipper yang ke-3 ini jatuh di bulan Ramadhan dan meskipun tamu yang diundang nggak ada yang puasa, tapi saya yakin, saya bakalan nggak sanggup jadi host pesta di saat puasa 19 jam. Jadi perayaan elephant birthday party ini mundur 2 minggu ke tanggal 9 Juli. Pada hari-H ulang tahun Flipper yang jatuh pada tanggal 20 Juni lalu saya hanya membuat bear paw muffins untuk dibawa ke perayaan ulang tahun di TK bersama teman-temannya.

bear paw
Muffins telapak kaki beruang yang juga menjadi sajian sukses di kelas Flipper.
ultah tk.jpg
Pulang dari perayaan di TK.

Selain muffins tersebut, saya juga membuat kue untuk tradisi tahunan di saat ulang tahun Flipper, yaitu foto dengan kue ulang tahun di hari-H ultahnya. Berikut ini adalah foto-foto tradisi ultah Flipper:

1year
Pertama kalinya makan kue, heboh banget!
2year
Yang ini foto ulang tahun ke-2, lilinnya ada 2 tuh.

Karena foto tradisi ulang tahun ke-3 Mila sudah saya muat di postingan sebelumnya, kali ini foto kuenya saja ya. Resep kue ini nanti akan saya tulis juga di food blog saya What Time is Dinner. Homemade cake memang menjadi bagian dari tradisi tahunan ini. Selama ini sih saya terus yang membuat kue, namun diharapkan untuk tahun-tahun ke depan, suami bahkan Flipper sendiri mau membuat kuenya. Semoga tradisi ini bisa awet teruuus, amin…

2cake
Official cake for the 3rd birthday.

Karena saya tipe orang yang lebih suka bersusah-susah dahulu lalu bersenang-senang kemudian, bukan tipe yang suka dadakan (etapi dulu kalau pas kuliah kok senangnya lembur di hari-hari terakhir ya?😁), maka persiapannya pesta ulang tahun Flipper tahun ini sudah dimulai dari dua bulan sebelumnya. Sebenarnya saya bisa saja sih dadakan, tapi pasti nanti panik sendiri dan hasilnya malah tidak maksimal semua. Selain itu saya tahu banget, selama ada Flipper around, segala persiapan tidak bisa diselesaikan dengan cepat dan lancar 😀

Berikut ini hal-hal yang saya persiapksn untuk ultah si Mila. Mungkin bisa membantu untuk para mami yang mau merayakan ulang tahun si kecil di rumah.

UNDANGAN

Menentukan siapa saja yang mau diundang ke pestanya Flipper ini yang susah-susah gampang. Gampang karena tak perlu mengundang banyak anak. Susahnya, nama teman yang disebut Flipper ternyata banyak banget. Jadi setelah seleksi sana-sini akhirnya diputuskan hanya 6 orang yang diundang. Undangan untuk ultah anak, seperti halnya undangan gala dinner harus memakai sistem RSVP juga supaya mamanya gampang menentukan seberapa banyak makanan yang musti dipersiapkan. Undangan tersebut sudah disebar 4-2 minggu sebelum hari H. Dari 6 anak yang diundang, hanya satu  yang berhalangan hadir,  Flipperpun lalu merajuk untuk menggantikan dengan teman yang lain. Akhirnya 7 anaklah yang diundang.

Inti dari isi undangan Flipper:

  • Mengundang si tamu kecil pada tempat, tanggal dan jam yang sudah ditentukan.
  • Pesta berlangsung maksimal 2,5 jam
  • Datang bersama papa ATAU mama (yang punya adik boleh diajak)
  • Membawa topi dan perlengkapan main air karena bila cuaca cerah kita bakalan membuka kolam plastik besar kita (sayangnya pada hari-H nya,meskipun cuaca cerah tapi tidak cukup panas untuk acara cibung-cibung.)
  • Mencantumkan notelp saya untuk konfirmasi apakah si anak bisa datang atau tidak

Di undangan ini saya tidak mencantumkan wishlist hadiah meskipun sebenarnya sistem wishlist ini cukup common di sini. Cerita selebihnya tentang birthday wish-list ada di postingan saya sebelumnya.

invitation.jpg
Undangan bergambar gajah dari stempelan tangan Flipper.

DEKORASI

Karena Flipper suka gajah, beruang dan pesawat, saya menawarkan ketiga tema itu untuk dipilih salah satu. Rupanya bagi Flipper hal itu merupakan pilihan yang sulit karena setiap hari kalau ditanya mana yang dipilih, jawabannya selalu ganti-ganti. Akhirnya, setelah lama galau, gajahlah yang menjadi pilihan. Mungkin karena di rumah lebih banyak mainan gajah daripada beruang dan pesawat, gajahpun unggul. Saya kan juga fans berat gajah, makanya banyak koleksi  pernik-pernik gajah saya yang akhirnya malah jadi  mainannya Flipper.

Begitu tema ditentukan, yaitu Elephant Party, sayapun mulai bisa mencari ide mau membuat apa saja untuk deko dan makanan untuk para undangan nanti. Pinterest banyak membantu saya dalam pencarian ide ini. Jadi tema gajah dengan warna dominan pink, biru dan abu-abu serta motif polkadot menjadi motif dan warna dominan di ultah Mila. Hampir semua dekorasi saya buat sendiri dengan melibatkan Flipper. Saya harus rela investasi banyak waktu dan banyak kertas yang terbuang karena Flipper kadang memiliki ide sendiri di kepalanya 😀

Berikut ini adalah beberapa item yang kami buat:

  • Welcomer yang ditempel di depan pintu. Saya lupa memberi angka 3 di perut gajah, tapi nggak apa-apalah begini saja.

welcomer

  • Topi gajah yang diberikan ke anak-anak ketika mereka baru saja datang.

hat

  • Mascot gajah yang dipajang di halaman.

mascot.jpg

  • Garland gajah.

garland

  • Banner.

banner

  • Gajah Photobox yang menjadi highlight. Anak-anak berebutan ingin foto di dalam photobox, sayangnya hanya satu anak yang mau memakai belalainya, mungkin karena saya membuatnya kegedean, jadi anak-anak pada takut memakainya.
photoboxS
Gajah photobox dari karton gede, minta tetangga. Pas hari-H baru sadar kalau gambar gajahnya masih ada yang kurang di sana-sini. Begini nih hasil dadakan, gapapalah 😀
  • Packaging untuk goodie bags yang dibawa tamu kecil pulang ke rumah. Kantung pinknya saya beli yang sudah jadi, hanya ditambahin aksesoris di sana-sini saja. Isi goodie bag-nya sederhana saja, penghapus gajah, buku gambar mini magic, jelly buah dan Smarties. Pada keesokan harinya saya juga memberi foto-foto bersama yang diambil pas acara ultah.

mitgebsel.jpg

Beberapa mami di acara ultah Flipper bertanya, di mana saya pesan segala dekorasi gajah tersebut. Waktu saya bilang saya membuat sendiri semuanya, mereka kaget dan membayangkan betapa sulitnya membuat sendiri. Sebenarnya tidak sulit, saya hanya membuat 1 logo (bunderan gajah seperti yang ditempel di bungkus goodie bags di atas) di komputer, kemudian nge-print banyak logo itu, dipotong-potong lalu ditempelkan di kertas warna atau kertas kado sesuai kebutuhan. Logo itu juga digunakan sebagai tempelan di gelas kertas, cupcake topper, fingger food stick dan food tag. Kalau tidak sempat mendesain logo sendiri, bisa juga mencari logo di internet misalnya beli clipart, ilustrasi murah meriah di Etsy. Menurut saya sendiri, yang rada ribet adalah membuat mascot gajah dan photobox-nya deh. Yang lainnya sih tinggal main gunting dan tempel.

MAKANAN

Dari awal saya sudah meniatkan bahwa makanan yang akan disajikan hanyalah kue-kue dan finger food saja, bukan makanan utama. Alasannya karena acaranya berlangsung sesudah jam makan siang hingga sebelum jam  makan malam. Alhamdulillah anak-anak senang dengan segala makanan yang ada (kecuali sayuran!) dan tak banyak makanan ynag tersisa. Oh iya, sebelum menentukan menu makanan, saya memastikan dulu apakah ada anak yang memiliki alergi tertentu dan alhamdulillah, tidak ada yang memiliki alergi.

Makanan yang saya sajikan semuanya bisa dimakan anak-anak dan orang dewasa, jadi tidak ada yang pedas-pedas atau bertulang-berduri. Kebanyakan makanan saya buat sendiri. Ada juga pizza dan pastry yang dibuatkan oleh seorang teman baik.

Berikut ini makanan yang  disajikan untuk acara Sabtu kemarin:

  • 3 layers carrot cake sebagai kue ulang tahunnya. Sempat panik berat ketika dua kali membuat frosting selalu gagal, padahal ini bukan resep yang baru pertama kali dipraktekkan. Setelah suami beli heavy cream merek baru, berhasil deh frostingnya. Phew!

cake.jpg

  • Pastry dengan isi strawberry jam (lupa nggak motoin!)
  • Pizzarolls (Pizza Schnecken)
  • Perkedel daging ayam
pizzaschnecken.jpg
Pizza rolls dengan latar belakang (blurred) perkedel ayam.
  • Chocolate raspberry cupcakes
  • Poffertjes dengan topping strawberry
poffertjes.jpg
Poffertjes dengan latar belakan raspberry cupcakes.
  • Oreo
  • Buttercookies gajah.

cookies jar.jpg

gajah kukis.jpg

  • Brezel without salt
  • Sate anggur dan keju
  • Semangka popsicles dan redcurrants

buah.jpg

  • Sayuran dengan quark-mentimun dip

poff dan gemuse.jpg

  • Popcorn

nose

Minumannya:

  • Es lemon tea
  • Choco milk in Tetra Pak
  • Orange juice in Tetra Pak

minuman

  • Water with and without sparkling
  • Cola dan kopi buat para dewasa

PROGRAM

Tidak ada program khusus untuk acara ini, apalagi pidato-pidatoan. Acaranya simple saja, setelah semua anak datang, mereka duduk bersama di kursi makan yang telah disediakan. Para orang tua boleh duduk bebas di mana saja. Setelah itu papanya Flipper masuk membawa kue ulang tahun, semua menyanyi ‘Happy Birthday’ bersama, tiup lilin, lalu makan.  Setelah makan, Flipper boleh buka-buka kado disaksikan teman-temannya lalu setelah itu acara bermain bebas di dalam dan di luar ruangan. Para orang tua mengawasi sambil ngobrol, duduk-duduk sambil ngemil ini itu.

Tadinya saya memang berniat membuat permainan tertentu, saya bahkan sudah membuat property untuk bermain lempar bola ke lubang tertentu tapi pada hari-H nya malah lupa dikeluarkan karena para bocah sudah sibuk sendiri-sendiri. Kebetulan di halaman belakang kami memang sudah ada trampolin, box pasir, rumah-rumahan dan beberapa mainan lainnya.

bermain.jpg

Sekitar jam lima sorepun para tamu mulai pamit. Senang sekali semua orang tua mengungkapkan kepuasannya bahwa ultahnya Flipper full joy dan tidak ada anak yang menangis atau ribut satu sama lain meskipun tidak semuanya saling kenal. Beberapa anak bahkan sudah bertanya, kapan Flipper ulang tahun lagi karena mereka mau datang lagi. Tamu puas, yang punya rumahpun senang. Saya sendiri sebenarnya mengira bahwa acara ulang tahun anak ini bakalan hectic, tapi ternyata saya salah…lancar jendral. Tahu gitu, saya masih bisa undang 5 anak lagi haha…

Malamnya Flipper tidak bisa tidur cepat karena ribut cerita tentang pestanya. Sampai hari inipun dia masih suka menyanyi lagi Happy Birthday untuk dirinya sendiri haha… Selamat ulang tahun lagi ya nak, semoga selalu sehat dan kebahagiaan selalu menyertaimu…Amiin ❤

gajah kolase-noname

Kunjungan ke Frankfurt Book Fair 2015

Hajat tahunan Frankfurt Book Fair yang digelar selama lima hari akhirnya selesai juga hari Minggu kemarin. Konon banyak buku-buku yang diobral bahkan gratis di hari terakhir (Minggu 18 Oktober 2015). Sayangnya saya datang hanya di hari Sabtunya saja, jadi tidak kebagian obralan. Tapi lumayan juga sih, mendapat buku-buku kortingan setelah tawar menawar tingkat tinggi dengan di beberapa stand penerbit. Untung suami saya tidak ikut masuk ke pameran buku ini, dia suka malu mendapati istrinya nggak tahu malu tawar-menawar harga 😀

Indonesia menjadi tamu kehormatan di acara Franfurt Book Fair tahun ini dengan fokus utama penulis-penulis wanita Indonesia yang menyinggung topik tabu seperti seks dan agama dalam karya-karya mereka. Jauh hari sebelum hajatan literatur terbesar di dunia ini dibuka, berita tentang kultur, budaya dan literatur Indonesia sudah banyak menghiasi beberapa media di Jerman. Di samping berita tentang kehadiran Salman Rushdie di acara pembukaan pameran dan boikot dari negara Iran karenanya, tentunya.

Frankfurt Book fair dibuka untuk umum pada dua hari terakhir, 17 dan 18 Oktober 2015. Tiket masuknya berharga 18,00 Euro sehari, yang termasuk normal untuk tiket pameran berkelas internasional seperti ini. Khusus untuk refugees, yang saat ini sedang ramai-ramainya membuat pemerintah dan warga negara Jerman pusing tujuh keliling, mereka mendapat fasilitas masuk gratis.

Saya lumayan menyesal hanya datang di hari Sabtunya saja. Bukan masalah obralan buku di hari terakhir, namun karena saya belum khatam mengelilingi semua halls dan stand. Hari itu saya hanya berkonsentrasi pada jadwal acara dari Indonesia dan mencari buku anak-anak sedangkan sebenarnya ada lebih dari 7000 peserta pameran dari 100 negara yang rutin mengikuti Frankfurt Book Fair. Tapi not bad juga sih, semua target saya terpenuhi; melihat acara tanya jawab Laksmi Pamuntjak dan Leila S. Chudori, menemui senior jaman kuliah Beng Rahardian dan Eko Nugroho-para komikus kondang tanah air, mengikuti acara interview Andrea Hirata dan tentunya membeli beberapa buku anak berbahasa Indonesia yang tidak bisa saya dapatkan di sini -itupun pilihannya terbatas karena sebenarnya hari Sabtu itu belum diadakan transaksi jual beli. Oh ada satu acara yang tak bisa saya ikuti karena saya datangnya telat, acara show cooking-nya Chef Vindex!

Bersama-teman-teman di depan stand Mizan. Saya yang berbaju kuning.
Bersama-teman-teman di depan stand Mizan. Saya yang berbaju kuning
kolaseS
Beberapa buku anak-anak yang saya beli
Kolase Mila
Flipper menyukai buku-buku barunya terutama yang seri Odong-Odong karya Iput dan Oyas. Setiap ada kesempatan dia selalu membacanya

ANDREA HIRATA

Andrea Hirata untuk ketiga kalinya kembali diundang untuk menghadiri Frankfurt Book Fair, sebuah pameran buku terbesar di dunia. Seperti yang sudah saya tulis sebelumnya, saya sempat mengikuti interview Andrea Hirata di booth milik stasiun TV Jerman 3Sat. Sempat bangga juga saya melihat bangku penonton langsung penuh begitu session Andrea Hirata tiba. Dan serunya lagi, 95% penontonnya bukan orang Indonesia padahal buku-buku Andrea Hirata baru ada versi bahasa Jermannya sejak bulan September kemarin. Di Amazon.de buku Laskar Pelangi yang dalam bahasa Jermannya  Die Regenbogentruppe mendapat review 4,5 dari total 5 dari para pembacanya. Yay!

Dulu waktu saya masih baru-barunya di Jerman (tahun 2007), buku Andrea Hirata belum ada yang diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman dan setiap kali ada yang bertanya kepada saya tentang pendidikan di Indonesia, saya selalu menyelipkan cerita dari bukunya Andrea, tentang perjuangan Ikal dkk. dalam menempuh ilmunya. Teman-teman saya yang kebanyakan lahir dan besar di Jerman sangat tertarik dengan Laskar Pelangi dan banyak bertanya tentang kebenarannya, bagaimana dengan sistem pendidikan pada umumnya di Indonesia dan bagaimana dengan sekolah saya sendiri. Apalagi saat itu di Jerman sedang ramai-ramainya demonstrasi mahasiswa yang tidak puas dengan  fasilitas di Universitas Negeri yang kurang dan buku-buku diktatnya yang mahal. Teman-teman yang sudah kena setrum cerita Laskar Pelangi inipun kemudian berkata betapa kurang bersyukurnya mahasiswa di Jerman yang berdemo itu karena biaya kuliah di Jerman sebenarnya termasuk yang paling murah di dunia, bahkan biaya sekolah sampai SMA pun gratis. Dan buntutnya mereka ingin sekali membaca buku Laskar Pelangi. Tahun ini harapan mereka akan saya kabulkan!

Dalam interview di stasiun 3Sat kemarin, Andrea Hirata sempat diminta untuk mendeskripsikan bangsa Indonesia yang complex ini hanya dalam 3 kalimat pendek. Menurut Andrea, bangsa Indonesia itu toleran, bangsa Indonesia itu suka belajar dan yang terakhir, bangsa Indonesia itu suka tersenyum yang disambut dengan senyum lebar para pengunjung. Pembawa acara cantik yang mewawancarai Andrea Hirata juga sempat menanyakan seberapa penting pengaruh  magic di Indonesia karena dalam buku Sang Pemimpin (Jerman: Der Träumer) ada bagian di mana Ikal menuliskan harapannya di secarik kertas yang digantung di sebuah layang-layang. Menurut Andrea Hirata magic merupakan bagian dari kultur Indonesia dan  sebagai seorang penulis cultural fiction, memasukkan unsur-unsur magic itu baginya merupakan hal yang penting.

Yang paling lucu adalah ketika Andrea Hirata membacakan bagian dari buku Sang Pemimpi yang sudah ada versi bahasa Jermannya juga, tentang asal-usul namanya (Andrea Hirata sempat ganti nama 9 kali!) yang sayangnya tidak diterjemahkan secara lengkap oleh si penerjemah sehingga pemirsa non-Indonesia tidak bisa ikut cekikikan seperti saya. Video tentang interview Andrea Hirata ini bisa dilihat di websitenya 3Sat.

Andrea Hirata
Andrea Hirata di stasiun TV 3Sat booth

Setelah interview usai, saya dan dua orang teman saya langsung bergegas ke backstage, mau minta tanda tangan dan foto bareng. Rupanya di sana sudah banyak orang yang antri, kebanyakan mahasiswa dari Indonesia. Andrea Hirata sempat bertanya apakah ada dari kami yang memiliki bukunya dalam versi bahasa Jerman. Sayangnya kami belum punya tapi saya janji mas, saya akan segera beli buku itu secara dari dulu saya memang sudah tidak sabar, ingin teman-teman Jerman saya membaca buku itu.

Andrea Hirata orangnya sangat ramah, sedang sibuk-sibuknya sesi tanda tangan, dia sempat-sempatnya bercerita kalau editornya masih lajang. Maksudnya maaas? 😀