Berlin Trip bersama Mbak Yurop dan STING

Sekitar empat atau tiga bulan yang lalu saya mendapat email notification dari Eventim, sebuah portal yang menjual segala tiket hiburan di lebih dari 21 negara, bahwa penyanyi kesukaan saya STING akan mengadakan konser di Berlin pada tanggal 1 Agustus 2016. Sayapun langsung mengajak suami untuk pergi ke Berlin menemani saya nonton Sting. Ya ‘menemani’ saja karena dia memang bukan fansnya Sting. Namun rupanya dia sendiri sudah ada rencana untuk ke musik festival yang berlangsung 3 hari di luar kota, seminggu sesudah konsernya Sting. Untuk festival itu mah dia tidak perlu menawari saya mau ikut atau tidak karena selain  festival yang didatanginya selalu festival yang musiknya bukan selera saya, saya juga nggak sanggup lebih dari sehari nggak mandi dan trauma menggunakan toilet Dixie yang isinya sudah hampir penuh. Etapi kalau festivalnya Coachella, Tomorrowland atau Summer Jam saya mau kali ye ikutan… Balik ke soal konser Sting,  akhirnya diputuskan bahwa saya pergi sendiri ke Berlin sementara D ambil cuti untuk menemani Flipper. Seminggu kemudian gantian dia yang having his ‘me time’ di music festival.

Lalu saya pikir-pikir, pergi ke Berlin sendirian dan hang out sendirian di Berlin sih nggak masalah buat saya. Saya pernah tinggal di Berlin dan hapal liki-liku Berlin. Tapi nonton konser sendirian kok sepertinya nggak asyik ya… Maka sayapun mulai mengiming-imingi beberapa teman termasuk teman-teman di Mbakyurop* untuk ikutan nonton Sting. Alhamdulillah Anggi, Deny dan mba Dian tertarik untuk ikutan ke Berlin -meskipun sayangnya tidak tertarik untuk ikut nonton Sting. Ya sudahlah, yang penting ke Berlin dulu, soal Sting gampang, yang penting tiket sudah di tangan. Selain Anggi, Deny dan mba Dian,  Mia dan Mindy yang kebetulan juga sedang berlibur bersama keluarga ke Berlin juga menyempatkan bertemu kita-kita. Tadinya sih saya sudah siap-siap, kalau tidak ada temannya, hanya akan stay sehari di Berlin tapi karena kali ini rame-rame jadinya stay diperpanjang menjadi 3 malam 4 hari deh and it was a really great days in Berlin with the girls.

⊕ PENGINAPAN ⊕

Sebelum berangkat, kira-kira sebulan sebelum hari-H, kami mulai efektif rembukan tentang Berlin trip via WhatsApp.  Karena konser Sting jatuh pada hari Senin, 1 Agustus, kami sepakat untuk berada di Berlin dari tanggal 30 Juli (Jumat) sampai 2 Agustus (Selasa). Kami berempat, Anggi, Deny dan mba Dian menginap di sebuah apartment di daerah shopping terkenal di Berlin, yaitu Ku’damm. Apartment AMC yang kami sewa sangatlah nyaman meskipun berada di tengah kota namun di tepi jalanan yang sepi. Tidak ada fasilitas atau interior yang istimewa di sana namun semuanya bersih dan memenuhi standard. Lokasi apartment juga tidak jauh dari halte bus dan stasiun kereta. Dan yang paling penting, dekat dengan cafe bubble tea yang selalu uyel-uyelan pengunjungnya. Pokoknya strategis sekali deh.

Untuk urunan hotel kami hanya membayar €81, per person selama 3 malam itu. Murmer deh pokoknya. Itulah enaknya kalau trip rame-rame. Apartment kami terdiri dari dua double beds, satu set meja makan, kitchen set lengkap dengan peralatannya, lemari baju besar berikut setrikaan bahkan payungpun juga disediakan. Kamar mandinya  cukup besar meskipun tidak ada bath tub-nya. Cleaning service datang tiap hari kecuali hari Minggu namun dia hanya membersihkan, lantai, kamar mandi dan tempat tidur. Dapur dan meja makan tidak disentuh sama dia. Lumayan lah…biasanya  short term-apartment malah tidak menyediakan cleaning service sama sekali, hanya ngasih sapu dan vacuum cleaner saja.

IMG_0339.jpg
Kamar mandi dan lemari gedenya ada di sisi kiri, tidak kelihatan di foto.

Mia tidak ikut menginap, dia datang ke Berlin pada Minggu pagi dan balik lagi ke Hannover sore harinya. Mindy dan keluarga menginap di rumah temannya dan Mindy gabung dengan kita pada hari Seninnya, tlisipan deh dengan Mia.

Deny dan saya sampai di Berlin pada Sabtu sore jadi kami berdua sempat jalan-jalan duluan di sekitar hotel sambil melihat acara night run yang kebetulan diadakan di dekat hotel. Deny langsung gatal kakinya, ingin ikutan lari.

IMG_3537aeS.jpg
Selain lari-lari beneran, di NIght Run ini ada kompetisi inliner juga.

Malam hari sekitar jam 21 malam, datanglah Anggi yang kemudian disusul mbak Dian. Seneng deh akhirnya bisa ketemuan mereka berdua. Kalau Deny mah kami sudah beberapa kali bertemu. Kami tidur larut malam itu, biasalah ladies, ngobrol ngalor ngidul dulu 😀

Minggu pagi sekitar jam 8, datanglah Mia ke apartment kami. Saya dulu sempat ketemu Mia waktu meet-up di bakery dalam rangka Frankfurt Book Fair, tapi saat itu ketemunya hanya sak nyuk-an dan  tidak sempat ngobrol sama sekali. Eh kemarin ketemu Mia lagi, yay! Mia orangnya mungil, imut dan kalau bicara halus seperti Deny.

Acara kami hari itu adalah pergi ke Menara Teufelsberg. Jam 10 kami cabut dari apartment dan naik kereta dari stasiun Zoologischer Garten menuju stasiun Heerstr. Untungnya sebelum naik kereta kami sempat membeli bekal dulu (di apartment memang tidak ada service breakfast) karena di stasiun Heerstr. tidak ada kios sama sekali dan kami masih harus jalan kaki jauh menuju MenaraTeufelsberg.

⊕ MENARA TEUFELSBERG ⊕

Keluar dari stasiun Heerstr. kami melihat tanda menuju Teufelsberg masih sekitar 1100 m, melewati jalan aspal. Namun pada kenyataannya jaraknya lebih dari itu. Ketika sudah lewat dari 1km, mulai kebingungan, tidak melihat tanda-tanda lebih lanjut. Sempat bertanya kepada tiga orang; yang pertama tidak tahu sama sekali, yang kedua seorang ibu-ibu dan anak remajanya yang mau menuju ke menara juga namun tidak tahu juga di mana letak menara sebenarnya. Beliau malah mengajak kita potong kompas lewat hutan. Kami sempat tergoda karena sudah jalan jauh tetap tidak ada tanda-tanda, tapi kalau masuk hutan tersesat ya lebih gawat lagi. Barulah ketika bertanya pada bapak-bapak yang sedang jogging, kami mendapat pencerahan.

Untuk masuk komplek menara Teufelsberg kami dikenakan biaya €7/ person dan diskon kalau punya kartu pelajar seperti Mia. Mungkin terbiasa dengan kehidupan di Eropa yang semuanya serba rapi dan terawat, kami agak tak yakin melihat bangunan ticketing yang morat-marit serta  bapak-bapak pakai kaus oblong yang melayani penjualan tiket. Dalam hati saya sempat berpikir, ini  official apa preman? Eh tapi ini Berlin ding…dimana bangunan tua dan ruin memang banyak ‘berserakan’ di segala sudut Berlin, terutama di daerah bekas Jerman Timur dulu.

Setelah membayar tiket  tanpa mendapat lembaran tiket, kami harus menandatangani disclaimer yang isinya bila terjadi apa-apa dengan diri kita, pihak Teufelsberg tidak akan menanggung. Mengapa harus menandatangani pernyataan seperti itu, karena seperti halnya bangunan ticketing di depan, bangunan menara mata-mata Teufelsberg ini tidak lagi 100% utuh dan terdapat lokasi-lokasi yang berbahaya bila kita tidak hati-hati.

Jadi Menara Teufelsberg ini adalah sebuah menara untuk nguping atau mencuri dengar milik milik NSA (National Security Agency) Amerika, yang saat itu bekerja sama dengan Inggris Inggris, untuk mata-matai kegiatan Uni Soviet. Menara ini dibangun di atas bukit Teufelsberg (Bukit Setan), sebuah bukit buatan manusia setinggi 120 m di atas laut. Dinamakan bukit setan karena mengikuti nama danau di dekatnya, yaitu danau Teufelsee atau danau setan. Mengapa danau setan? Entahlah. Yang jelas bukit Teufelsberg ini dibuat untuk menutupi akademi teknik kemiliteran milik Nazi yang saking kuatnya tidak bisa dihancurkan saat perang dunia kedua berakhir. Jadi akademi tersebut ditimbun dengan puing-puing bekas perang bercampur tanah.

Menara Teufelsberg sebelumnya tidak terbuka untuk umum dan dijaga ketat oleh security namun seiring waktu menara ini mulai dibuka untuk umum. Setelah dulunya dibuka hanya pada hari Minggu dengan guided tour, kini dibuka setiap hari dengan atau tanpa guide. Dengan guide harga tiketnya  €15,00 dan guide-nya adalah orang Amerika mantan karyawan di menara NSA tersebut.

2327

2358

Begitu kami memasuki area abandonen building complex tersebut, kami semua langsung terpesona dengan segala puing-puing cantik di sana. Bagaimana tidak cantik, meskipun keadaannya sudah berantakan namun kehadiran para seniman yang ikut mengelola tempat ini menjadikan tempat ini benar-benar artsy. Di halaman komplek itu terdapat banyak properti cantik yang tidak pada tempatnya, misalnya mesin jahit antik di tengah taman. Atau bath tub dan sofa tua di semak-semak belukar yang langsung menjadi lokasi foto kami.

IMG_3629ae.jpg
Searah jarum jam: saya (baju hijau), Anggi, Mia, Mba Dian dan Deny.
IMG_0438ee.jpg
Mia bergaya di samping meja dan entah apa itu yang terbuat dari mesin jahit.
IMG_3600a.JPG
Properti rongsokan yang disusun sedemikian rupa sepertinya memang sengaja disediakan untuk penggemar foto seperti kami dan juga dua cowok ini yang akhirnya malah menjadi model dadakan kami.

Setelah puas menjelajahi halaman menara, kamipun memasuki gedung utama yang terdiri dari tiga lantai. Di atap gedung inilah terdapat menara dan kubah putih. Namun sebelum sampai ke atap, kami disuguhi mural-mural  yang luar biasa artistik di segala sudut ruangan. Gambar seorang perempuan yang memasukkan jari tengahnya ke mulut mencuri perhatian saya karena benar-benar seperti sebuah foto, di mana pandangan matanya selalu mengikuti ke mana saja saya pergi.  Tak heran bila si mbak itu paling banyak mencuri perhatian pengunjung. Seluruh ruangan dari lantai satu hingga lantai tiga penuh dengan mural. Tidak ada space yang kosong sama sekali.

2333s
Si mas ini sedang mengagumi gelang mbaknya yang berkilau-kilau seperti logam beneran.
2334s
Deny khusyu dengan kameranya.
IMG_3566ae
Angipun memanfaatkan sofa yang disiapkan di sana.
IMG_0580e
Mbak Dian semangat dari lantai ke lantai.
IMG_0493e
Maunya sih gajah ini saya bawa pulang untuk si Flipper 😀

Kami sempat bersyukur tidak mengambil guide untuk masuk sini karena bisa dipastikan guide-nya bakalan bosen nungguin kita foto-fotoan. Dan secara itu bukan private guide, pengunjung yang lainpun pasti akan sebel dengan kita. Saking lamanya menikmati mural-mural di sini, saya sampai kelaparan dan membuka bungkusan makan siang di sini. Bungkusan isi roti, bukan nasi.

Kemudian ketika akhirnya kita sampai di  di atap lantai 3, pemandangan yang kami dapati tak kalah breathtaking, menara 5 lantai dengan kubah putih di atasnya, dua kubah putih tanpa menara dan tentu saja pemandangan kota Berlin yang tampak hijau dari atas sana. Sayangnya tak seorangpun dari kami berlima mau naik ke menara. Kami semua mendadak takut ketinggian melihat keadaan menara yang tidak lengkap dan hanya dilindungi dengan kawat tebal di tepi-tepinya. Namun tanpa naik ke menarapun, suasana di atap sana sudah sangat menyenangkan. Perjalanan jauh kami tak sia-sia. Kalau saja saya masih lama di Berlin, pasti saya menghabiskan sehari penuh hanya berada di sana.

2343s
Berlin TV Tower pun terlihat dari sini.
2346s
Dua kubah tanpa menara.
2352s
Menara Teufelsberg.

 

byAnggiDSC01516e.jpg
Saya sedang beraksi di dalam kubah.
2357s
Model dadakan kita memanfaatkan bathtub yang dipajang di sana.

 

IMG_0586eeS.jpg
Pose lagi sebelum keluar dari Teufelsberg. Mbak Dian tidak kelihatan karena dia yang motret.

Ada yang seru ketika kami keluar dari Teufelsberg, mau balik ke kota. Serunya gimana, coba mampir ke blog Deny deh…Dia yang cerita 😀

Dari Teufelsberg, tujuan kami berikutnya adalah Restoran Nusantara di jalan Turmstr. untuk late lunch. Restoran dengan harga warung ini adalah langganan saya ketika tinggal di Berlin. Menu favorit saya di sana sebenarnya adalah lontong sayur tapi kali ini ingin makan yang lain, mi ayam bakso yang ternyata enak juga. Dessert yang saya pesan es teler durian dong… Mak nyus juga tapi tidak se-spektakuler es teler durian di Resto Si Des Den Haag. Anggi, Deny, mba Dian dan Mia puas semua dengan menu yang dipesan mereka. Alhamdulillah, saya yang ngajak-ngajakin mereka ke Berlin ikut senang bila para tamu senang. Hihi… Sok jadi host padahal tinggalnya sudah tidak di Berlin lagi.

Setelah puas recharge energi di Resto Indonesia, Mia kembali ke Hannover dan sisanya, kami berempat loncat ke kereta menuju stasiun Hackescher Markt untuk menghabiskan sore di daerah Museuminsel (Museum Island). Mengapa disebut Museuminsel, karena di daerah ini berkumpul beberapa museum penting di Berlin, yaitu: Altes Museum, Neues Museum, Alte Nationalgalerie, Bode Museum, dan Pergamon Museum. Selain museum-museum tersebut, kalau agak mlipir dikit terdapatlah Neue Synagoge dengan bangunan emasnya di jalan Oranienburgerstr, Humboldt-Box Museum serta  Berliner Dom atau Berlin Cathedral, sebuah gereja Evangelic yang dibangun pada tahun 1451. Di sini kami sempat leyeh-leyeh sebentar sebelum diguyur hujan.

selonjoran
Leyeh-leyeh di depan Berliner Dom.

 

⊕ HARI KEDUA ⊕

Hari berikutnya, jam 10 pagi Anggi, Deny dan mbak Dian ikutan program free walking tour yang meeting point-nya di Brandenburger Tor. Mindy saat itu sudah di Berlin jadi Mindy dan saya ketemu duluan di mall terbaru di Berlin yaitu Mal of Berlin. Jangan salah, kita nggak niat mau shopping di sini tapi mau moto-moto. Jadi ceritanya selama ini saya sering melihat foto sebuah mall Berlin yang keren spot-nya di Instagram dan saya suka banget melihatnya, sebuah bangunan mall modern dengan view bangunan tua Bundesrat. Dan akhirnya sayapun bisa kesana, memotretnya sendiri. Ini nih fotonya…

2366

Keren kan? Setelah jepret-jepret di situ, Mindy dan saya ngupi-ngupi bentar sambil jalan-jalan di daerah situ menghabiskan waktu karena pada jam makan siang kami akan bertemu dengan trio yang ikutan tour tadi di Warung Mabuhay.  Jangan salah, meskipun namanya Mabuhay ini bukan warung Filipina tapi warung Indonesia lho. Namanya begitu karena dulunya warung ini memang milik orang Filipina yang diambil alih orang Indonesia. Berbeda dengan Restoran Nusantara yang memang bergaya restoran (meskipun sederhana, menurut saya), Mabuhay ini benar-benar warung atau Imbiss kalau orang Jerman bilang, yang space-nya kecil dan tidak ada hiasan neko-neko di warungnya.

Kami makan seperti preman, rame, rebutan dan gogot. Gogot apa ya bahasa Indonesianya? Makan banyak membabi buta begitu deh 😂 Selain memang lapar berat, menu yang ditawarkan Mabuhay memang menggiurkan semua dan rasanya memang top. Tidak rugi kita menunggu lama untuk dapat tempat duduk karena pada jam makan siang memang warung itu penuh dengan orang kantoran yang makan siang di situ.

dianunspecified10.jpg
Di Warung Mabuhay. Yang sebelah kiri adalah Mindy.

Setelah makan siang, masih dengan obrolan tentang enaknya makan siang tadi, kami lanjut naik kereta ke Regierungsviertel. Regierungsviertel adalah daerah di mana kantor-kantor penting pemerintahan Jerman ada di sini semua. Dari gedung parlemen (Reichstag), kantornya Angele Merkel hingga menteri-menterinya.

anggiDSC01648s
Di depan Reichstag, gedung parlemen Jerman.

Sayangnya di sini Mindy dan saya tidak bisa lama-lama. Mindy ada janjian dengan temannya dan saya harus bergegas ke konsernya Sting.

⊕ KONSER STING ⊕

Ini sebenarnya alasan utama saya ke Berlin. Nonton Sting. Dan saya happy sekali Anggi, Deny, mba Dian mau ikutan gabung. Bahkan Mia dan Mindypun nyempetin ketemu kita-kita. Many thanks girls!

Jadi setelah tanya sana-sini tentang siapa yang nonton Sting, seorang teman Instagram yang tinggal di Berlin mengenalkan saya dengan sepupunya yang mau nonton Sting juga malam itu. Setelah telpun-telpunan kamipun sepakat bertemu pada jam 17.30 di entrance amphitheatre Waldbuehne (Wald: hutan. Buehne: panggung), tempat konser musik paling asoy yang pernah saya datangi. Waktu saya tinggal di Berlin, saya sempat beberapa kali nonton musik di sini. Karena open air, dia hanya berfungsi ketika musim panas saja. Berbeda dengan tempat-tempat konser yang biasa, untuk memasuki panggung open air ini, begitu keluar dari stasiun kereta kita musti melewati perkebunan orang dulu.

IMG_0882s.jpg
Berjalan beriringan menuju Waldbuehne.

Sore itu saya datang tepat jam 17.30 dan ternyata di entrance sudah ada dua antrian panjang untuk memasuki Waldbuehne. Sayapun  menelpun Susanna, ‘date‘ saya malam itu, menanyakan keberadaannya. Rupanya dia malah masih di kota, belum on the way ke lokasi karena saling tunggu-tungguan dengan teman yang lain. Kita akan telpun-telpunan lagi nanti bila sudah di dalam. Alhasil sayapun ngantri sendirian. Agak ingah-ingih juga sih secara yang lain pada ngobrol dengan teman-temannya, tapi cuek ajalah. Konsernya sendiri mulai pada jam 19.30.

Malam itu ada pengecekan security yang lebih ketat dari biasanya karena sebelumnya ada kejadian serangan bom di sebuah festival musik di kota Ansbach, Bayern oleh IS simpatisan. Oleh karena itu pula, saya yang selama di Berlin hanya membawa koper troli dan tas ransel, harus beli tas cangklong baru karena di last minute email notification disebutkan bahkan tas ransel tidak diperbolehkan sedangkan saya kalau tanpa membawa tas ya kelabakan juga mau naruh dompet, handphone dan jas hujan secara cuaca saat itu memang punya chance untuk hujan.

Setelah akhirnya lolos dari pengecekan security dan pengecekan tiket, sayapun melenggang  menuruni tangga-tangga open air Waldbuehne. Langit saat itu setengah biru dan setengah abu-abu. Alhamdulillah saya dipinjami jaket kulit oleh Anggi karena saya terlalu percaya diri akan langit yang selalu cerah di Berlin, hanya membawa jaket tipis dari rumah.

IMG_0883es.jpg
Waldbuehne dibangun pada tahun 1934 dan bisa mengakomodasi 22.000 orang.
IMG_0908s.jpg
Ketika sudah penuh.

Di sini saya makan malam Brezel yang dijual oleh mas-mas yang keliling naik turun tangga. Secara tidak ada yang jualan minuman hangat, yasud, minumnya cukup air putih saja. Saya sempat pindah-pindah tempat duduk mencari lokasi yang strategis dan ketika sudah mendapat tempat yang benar-benar nyaman, tiba-tiba Susanna menelpon, mengatakan bahwa dia sudah di dalam, berada di standing area dan saya disuruh nyusul. Merasa sudah nyaman dengan tempat saya duduk, sayapun menolak turun. Berdasarkan pengalaman, di Waldbuehne memang tidak ada kategori tempat duduk dan nomor-nomoran. Semua bebas mau duduk dimana. Tempat duduk yang nyaman di sini menurut saya adalah yang bisa melihat panggung dari depan, atau serong dikit juga tidak apa-apa dan dekat dengan toilet. Maklum saya orangnya beser 😀

IMG_0891.jpg
Otw ke toilet. Toilet di Waldbuehne sangat bersih (ada yang jaga dan bersihin) dan ruangannya banyak jadi jarang ada antrian panjang.

Jam 19.30 lebih dikit keluarlah penyanyi pembuka yaitu Joe Sumner, anak sulungnya Sting dari istri pertama. Joe, wajah dan suaranya mirip sekali dengan Sting. Bedanya hanya dua: Sting lebih tua dan Sting lebih ganteng. Karena Joe inilah saya jadi ‘berteman’ dengan penonton di sebelah kiri dan kanan saya. Di sebelah kiri saya adalah dua orang wanita berusia 60 something sedangkan di kanan saya adalah suami istri, 50 something. Saya sempat mendengar bahwa mereka rasan-rasan tentang Joe yang ‘kok mirip sekali dengan Sting ya?’. Saya yang kebetulan tahupun sok akrab menjelaskan kepada mereka kalau Joe memang anaknya Sting. Wah beneran abis itu saya jadi nggak cengoh lagi nonton musik sendirian, ada ‘teman’ yang diajakin ngobrol dan joget bareng. Dua oma di sebelah kiri heboh banget kalau joget, saya mah kalah. Sedangkan suami istri di samping kanan, si suami ternyata pernah main ke Indonesia dan berkeliling dari Sabang sampai Merauke, jadilah kita seru ngobrol. Senang deh saya malam itu, ternyata nonton konser sendirian is absolutley fine.

Joe menulis lagu untuk anak perempuannya berjudul Jely Bean dan diapun mengenalkan anaknya ke atas panggung ketika dia menyayikan lagu itu. So sweet! Bikin saya tambah kangen dengan Flipper karena anaknya Joe umurnya sama dengan Flipper. Waktu penampilan Sting pun, penonton bisa melihat Joe dan anaknya menari-nari di belakang panggung. Kadang si anak menunggu dengan manis di tangga kalau papanya harus jadi backing vocal kakeknya. Sweet, very sweet family. Love it!

Setelah kira-kira 45 menit, Sting pun muncul di panggung dengan lagu pembukaan dari The Police ‘Every Little Thing She Does is Magic’. Semua penontonpun langsung berdiri dan bergoyang. Konser Sting sangat menghibur sekali dan penontonnyapun meskipun kebanyakan berusia di atas 50 (kalau dilihat dari segi wajah dan penampilan lho ya), semuanya tidak hanya duduk anteng mendengarkan musik. Semuanya mau heboh. Salut!

Penampilan Panggung konser Sting sendiri sangatlah sederhana. Hanya ada panggung standardnya Walbuehne tanpa dihias apa-apa kecuali dua layar lebar di kanan kiri panggung. Sekedar background bertuliskan Sting-pun tidak ada. So modest, membuat saya otomatis membandingkannya dengan konser U2 di Frankfurt beberapa tahun lalu yang panggungnya super heboh. Jangankan U2, konser Maroon 5 aja tata panggungnya lebih rame dari pada Sting.

39963_458227586356_4829150_n.jpg
Konser U2 2010
IMG_0917e.jpg
Konser Sting 2016

Tapi siapa yang mau mempermasalahkan tata panggung selama musiknya asoy? Saya sih hanya memberi berbandingan nggak penting saja. U2 concert was super dan tanpa tata panggung berlebihanpun saya yakin penampilan mereka akan tetap super. Stingpun tak kalah super dan bila dia mau repot dengan tata panggung aneh-aneh, pasti tak akan mengurangi kualitas musik dia.

Saya sudah berada di apartment lagi sekitar jam 23.30 dan langsung dikerjai oleh Anggi, Deny dan mbak Dian untuk foto-fotoan OOTD, kostum nonton Sting. Harusnya sih ya, foto-fotoanny sebelum nonton, bukan sesudahnyaa…Ini modelnya udah kucel kalau difoto tengah malam begini >.<

IMG_0930e.jpg
OOTD: Top: Superdry/ Jeans: Levi’s/ Shoes: Nike/ Jacket: Punya Anggi/ Tas: Beli dadakan/ Photographer: Mbak Dian/ Lighting: Anggi’s phone/ Model: Kecapekan

Keesokan harianyapun kami sudah harus berpisah, kembali ke keluarga masing-masing. Anggi ke Edinburgh, Deny ke Den Haag, mbak Dian nginep dulu semalam di rumah temannya lalu balik Salzburg dan saya yang sudah kangen berat dengan Flipper, ke Cologne. 3 hari di Berlin rasanya kurang banget deh! Semoga next time masih ada kesempatan untuk ikutan girl trip lagi ya teman-teman. Senang sekali bisa bertemu kalian, saling bercerita dan sharing hal-hal positif. Sudah kangen lagi nih saya hiks…<3

 

*Mbakyurop merupakan kumpulan ibu-ibu dan mbak-mbak Instagrammer yang rajin ikutan kompetisi yang diadakan oleh @Uploadkompakan. Hashtag yang digunakan di Instagram adalah #mbakyurop

**Foto-foto Berlin trip kami ada di Instagram dengan hashtag #mbakyuropdiberlin

***Foto-foto dari saya yang lain bisa dilihat di album Berlin Flickr saya

Advertisements

Short trip ke kota kecil Monschau.

2300s.jpg

2305s.jpg

Saya tahu tentang kota Monschau untuk pertama kalinya di sebuah film di televisi tapi karena film fiksi ya nama kotanyapun fiksi (maaf judul filmnyapun lupa, pokoknya film Jerman deh… ). Waktu itu saya sudah tertarik dengan kota tersebut. Setelah baca blognya Deny yang ini baru ngeh bahwa ternyata kota yang di film itu namanya Monschau dan kebih mengejutkan lagi, letaknya hanya satu jam-an dari rumah kami.

Pas memperlihatkan blognya Deny ke suami, dia malah bilang: eh ini kan kotanya nggak jauh dari sini. Lho la iya, kenapa saya nggak pernah diajak ke sana? Nggak kepikiran, katanya. Iya, biasanya mata kita memang lebih sering melihat yang  jauh-jauh, yang dekat-dekat malah terlupakan atau kalaupun ingat pasti ditunda-tunda dengan alasan ‘ah dekat ini, nanti saja belakangan’. Tapi kali ini kami tidak mau menunda untuk pergi ke Monschau, keesokan harinya, di sebuah hari Minggu di bulan Mei (iya, ini #latepost), kamipun pergi ke Monschau.

Monschau adalah sebuah kota kecil yang terletak di distrik Aachen Jerman yang tak jauh dari perbatasan negara Belgia dan Belanda. Ciri khas kota ini adalah rumah-rumahnya yang bergaya ‘half-timbered houses’ yang hampir tidak berubah gayanya dari 300 tahun yang lalu. Kebanyakan bangunan unik ini dijadikan pertokoan yang tetap buka di hari Minggu dan juga untuk penginapan.

2292s

2301s

2306s

2312s

 

Mengelilingi kota Monschau tidak akan memakan waktu lama karena memang kotanya kecil. Untuk pengunjung, terdapat beberapa tempat parkir luas sebelum memasuki kota tersebut. Anak-anakpun bisa berlarian bebas di sepanjang jalan berbatu karena memang tidak ada kendaraan yang berlalu-lalang kecuali sepeda dan kendaraan bermotor milik penghuni di sana yang sangat mengutamakan pejalan kaki. Oh iya, ada juga kereta wisata yang lewat. Tarifnya kereta ini €6,00/ person. Mahal menurutku. Apalagi bila dibandingkan dengan kereta wisata di kota Arco Italy yang tarifnya hanya €2 mengelilingi kota tua yang lebih besar dari Monschau selama 30 menit.

2310s

2287s
Sebuah gubuk di pinggir sungai. Entah ada penghuninya atau tidak.
IMG_3061-1e
Flipper bergaya di depan rumah orang.

Foto-foto kota Monschau yang lain bisa dilihat di. FLickr saya.

Road Trip with Flipper – Mengunjungi Danau Garda di Bagian Utara.

Dari Province Venezia, tujuan kami berikutnya yang juga merupakan tujuan terakhir road trip kami adalah danau Garda. Danau Garda adalah danau terbesar di Italia yang panjang dan lebarnya 56,1 km x 16, 7 km dengan luas permukaan keseluruhannya bila kita mengelilingi danau adalah 370 km persegi. Saking luasnya kami jadi memiliki banyak pilihan untuk menginap di sisi danau yang mana. Sebelum road trip beberapa teman yang sudah pernah mengunjungi danau Garda menyarankan supaya memilih daerah di bagian utara karena pemandangan pegunungannya yang lebih bagus dan lebih bersih dari pada di bagian selatan. D pun memutuskan untuk menginap 4 hari di kota Arco, Trentino yang tidak jauh dari kota Riva Del Garda di mana danau Garda berada.

garda map

Kami berangkat sekitar jam 10 siang dari Cavallino namun karena kemacetan yang luar biasa ketika memasuki daerah Arco, perjalanan yang harusnya menempuh 3 jam jadi molor menjadi 4 jam. Karena sudah kelaparan, kami memutuskan untuk mampir dulu di pusat kota Arco sebelum ke penginapan. Sampai di pusat kota Arco, kami celingak-celinguk merasa salah kostum. Bagaimana tidak? Hampir semua orang yang ada di sana dari anak-anak sampai kakek nenek semua berpakaian sporty. Rupanya Arco memang terkenal sebagai tempat untuk outdoor activities. Water sport, cycling dan panjat tebing merupakan olah raga favorit di sana. Tak heran bila banyak orang berbaju ketat bersliweran. Baju ketat buat sepedaan itu lhoo…

2225s
Pemandangan pertama ketika kami baru parkir di pusat kota Arco. Baju ketat.
2227s
Church Collegiata Dell Assunta Arco.
2232s
Ruin dari Arco Castle dilihat dari pusat kota Arco.
2244s
Sarca River, Arco. Itu yang kecil pakai topi merah si Flipper.
2242s
Sarca River, Arco. Sungai ini mengalir ke danau Garda.

By the way mencari makan di daerah ini (dan konon di Italy pada umumnya) pada jam 2-an siang itu susah-susah gampang. Kabanyakan yang buka hanya snack cafe yang menjual bruschetta atau crackers yang dikasih dip macam-macam. Fine restaurant bahkan yang ‘hanya’ menjual pasta dan pizzapun hanya buka di jam makan malam. Mac Donald nggak ada di sini (apalagi nasi goreng). Suami yang terbiasa tidak makan siang cukup puas dengan crackers-nya, Flipper dan saya tidak puas hanya dengan bruschetta dan minta tambah ice cream.

Setelah makan kamipun menuju hotel secara si Flipper sudah nggak sabar ingin main air dan karena kami belum paham dengan medannya danau Garda, D mengusulkan untuk main air di kolam hotel dulu. Kali ini D memilih penginapan yang bertema agricultural. Hotel Maso Le 4 Stagioni merupakan agricultural private hotel yang dikelola oleh suami istri petani yang memiliki vineyard, ladang apel dan ladang pohon zaitun. Mereka juga memproduksi hasil-hasil pertanian mereka sendiri menjadi jus apel, selai apel dan minyak zaitun. Sayangnya kami tidak sempat mengunjungi tempat pengolahan tersebut meskipun Daniela, si pemilik hotel bakalan dengan senang hati menunjukkannya kepada kami. Vineyard saat itu juga belum berbuah jadi harapan untuk memetik anggur langsung dari pohonnya tidak terlaksana.

Hotel kami berada di sebuah bukit dengan jalan yang berliku-liku sempit yang agak problematis bila berpapasan dengan kendaraan lain atau bila sedang ada konvoi sepeda di depan. Tapi begitu sampai hotel, sambutan Daniela, yang super ramah membuat kami langsung merasa nyaman di hotel tersebut. Si Flipperpun langsung nyemplung di kolam renang organic-nya hotel dan main panjatan di taman bermainnya. Kami menghabiskan sore itu di hotel saja. Berikut ini beberapa pemandangan di dalam dan di luar hotel.

flipper main air
Flipper, slowly but sure masuk ke air >.<
2248s
Pemandangan dari halaman hotel.
2249s
Pemandangan dari halaman hotel. Danau Gardapun terlihat dari sini.
2251s
Si penunggu taman hotel.

Keesokan harinya, setelah sarapan kamipun siap menjelajahi danau Garda. Perjalanan naik mobil dari hotel ke kota Riva di mana danau Garda berada hanya 10 menit. Parkir di sana cukup luas, mudah dan juga murah. Kami langsung jatuh cinta pada pandangan pertama dengan danau Garda. Tikar piknik kotak-kotakpun segera digelar di pantainya. Air masih sangat dingin saat itu jadi Flipper pun tak ada niat untuk nyemplung. Dia cukup puas berjam-jam melempar kerikil ke danau dan kamipun puas berjam-jam mengawasinya sambil menikmati pemandangan indah di depan kami.

IMG_8545eS
Flipper yang selalu penuh energi ketika berada di dekat air.

2252s.jpg

2268s

2271s

2274s

2275s

Sejak jumpa pertama dengan danau Garda, kami memutuskan untuk pergi ke sana setiap hari dari pagi hingga sore. Sebelum jam 12 siang kita gunakan waktu dengan rebahan di pantainya. Kalau tahan dengan dinginnya air, bolehlah mainan air dikit-dikit. Tapi bila sudah di atas jam 12, angin yang kencang membuat air di pantainya berombak tinggi seperti di laut, orang-orangpun meringsut menjauh dari air dan kami menggunakan waktu ini dengan mencari snack di kota tuanya Riva atau menemani Flipper bermain di Spielplatz (taman bermain anak).

IMG_8354eS
Mengumpulkan kerikil yang tepat untuk dilempar ke air.
IMG_8364eS.jpg
Salah satu taman bermain di area danau Garda.

Ketika panas tidak lagi menyengat, kamipun kembali menelusuri danau yang diakhiri dengan jalan-jalan  ke old town-nya kota Riva Del Garda sambil mencari makan malam. Pada malam pertama menginap di Arco, kami mengambil makan malam di hotel. Daniela dan Ricardo, suaminya, sangat pintar memasak. waktu itu mereka membuat makanan khas daerah Trentino, yaitu Carne Salada, berupa irisan daing sapi tipis yang diasinkan selama seminggu lalu dibakar sebentar sebelum dihidangkan. Buset deh enaknya masih terbayang sampai sekarang. Saya bahkan sempat browsing dan mencoba resep ini di rumah, namun meskipun rasanya juga enak tapi tak seenak buatan Daniela dan Ricardo. Mungkin karena saya tidak memiliki mesin pengiris daging, jadi daging saya agak ketebalan. #alasan .

Kenapa kami hanya sekali saja makan di hotel meskipun menunya enak adalah karena jam makan malamnya terlalu larut buat kami yaitu pukul 19.30. Bukan itu saja, karena menunya merupakan 3 courses food yang fresh made, penyajiannya juga menjadi lama, apalagi Daniela selalu entertain para tamunya di setiap jeda courses, jadi lebih lama lagi. Daniela ini, unlike suaminya yang super kalem, sangatlah rame dan lucu. Flipper senang sekali kalau berada di dekat Daniela. Daniela belum mengucapkan sepatah katapun, Flipper sudah ngakak duluan. Makanya bila dia guyon di waktunya dinner, suasana jadi rame dan makananpun jadi lama datangnya karena yang masak melawak dulu 😀

IMG_8482eS
Daniela dan si piccolino bambina-nya 😀

Dinner pertama di kota Arco usai pada pukul 22.30. Untung Flipper sempat ketiduran di mobil siangnya jadi dia agak tahan bangun sampai malam sambil sesekali keluar ke halaman bermain di Spielplatz. Restoran di Arco maupun di Riva sebenarnya juga tidak ada yang buka sebelum jam 19.00. Tapi paling tidak kita bisa memesan satu menu saja dan langsung pulang tanpa entertainment dan basa-basi.

Sayangnya kami hanya sebentar berlibur di sini. Banyak kegiatan yang bisa dilakukan bersama toddler di sana dan di Riva Del Garda tentunya, mulai dari hiking, bersepeda atau berkesenian. Sepeda dan peralatan hiking bisa disewa di sana, lengkap untuk anak dan dewasa mulai dari 3 tahun ke atas. Kalau anaknya lebih kecil, tinggal dimasukkan ke bike trailer yang bisa disewa juga. Pada kunjungan pertama kami ini, danau Garda begitu memukau kami sehingga kami tidak ingin jauh-jauh darinya. Cieh romantis… D yang memang jago bersepeda dan pernah bersepeda dari  Scotland ke Jerman ini, langsung berjanji bahwa dia akan kembali ke sini lagi sambil mengangkut sepedanya. Flipper dan mamanya ikut doong 😀

2236s
Riva Del Garda old town.
2238s
RIva Del Garda old town.
2235s
Riva Del Garda old town.

More photos on my Flickr.

Road Trip with Flipper – Venice

Dari Bled Slovenia, perjalanan kami berlanjut ke Italy. Meskipun tujuan pertama kali di Italy adalah berkunjung ke Venesia (Venezia, Venice, Venedig), namun kami menginap di luar kotanya yaitu di Cavallino-Treporti dengan pertimbangan  ongkos harian yang mahal hanya untuk parkir mobil di luar kota Venesia. Ya di Venesia kita tidak bisa membawa mobil karena tidak ada jalannya. D kali ini memilih sebuah camping village, CaBerton yang letaknya tidak jauh dari port penyeberangan ke Venesia. Selain itu Ca’Berton juga memiliki pantai dan children animation, pas banget untuk Flipper.

Cavallino map
Kota Cavallino-Treporti dengan outline merah.

 Di Ca’Berton Camping Village

Meskipun namanya camping, bukan berarti kami musti gelar tenda di sini. Ca’Berton Camping Village menyediakan beberapa bungalow dan caravan dengan berbagai ukuran yang sudah dilengkapi dengan kitchen set beserta perlengkapannya termasuk kulkas, tempat tidur bahkan AC dan heater. Kami hanya perlu membawa sprei dan handuk sendiri tapi bila lupa atau malas bisa juga menyewa di sana. Kami menginap di Ca’Berton selama tiga hari di sebuah maxi caravan, caravan terbesar yang ada di sana, yang bisa memuat 6 orang. Secara kita hanya 2 1/2 orang jadinya caravan yang yang sebenarnya segalanya serba terbatas ini jadi terasa lumayan lebar juga.

caravan
Little but comfy, our nest for 3 days in Ca’Berton Camping Village.
caravan2.jpg
Flipper mengajak bersepeda keliling kampung.

Secara belum high season, maka keadaan di Ca’Berton lumayan sepi. Di satu sisi hal ini menguntungkan kami, selain harga menginap yang 60% lebih murah, suasana di sana juga tidak terlalu ramai, di samping kanan kiri kami masih banyak caravan yang kosong. Tak bisa dibayangkan ramainya di saat summer karena letak caravan dan bungalow yang berdekatan satu sama lain. Namun tidak enaknya juga ada, children animation programs yang di Ca’Berton ternyata belum aktif di bulan Mei, jadi Flipper tidak bisa beraksi di mini disco tapi alhamdulillah fasilitas taman bermain indoor dan outdoor bisa dipakai kapan saja. Selain itu, restaurant dan toko-toko yang ada di sana belum buka semuanya, hanya satu resto, satu supermarket dan satu toko kelontong yang waktu itu sudah buka. Oh dan satu gelato (es krim) cafe juga sudah buka, itu yang penting 😀

Di Venesia

Pada hari kedua di Cavallino-Treporti, tepat pada hari ulang tahun D, setelah ritual ulang tahun, kami berkunjung ke Venesia. Perjalanan dari Ca’Berton ke port Punto Sabbioni bisa ditempuh kurang dari 10 menit dengan mobil. Kalau tidak ada mobil, halte bus menuju Punto Sabbiano berada tak jauh dari Ca’Berton. Saya tidak tahu berapa ongkos naik bis ke port, namun biaya parkir di port hanya €5 untuk 12 jam, sangat murah bila dibandingkan dengan parkir harian bila kita menginapnya  di Venesia dan parkirnya di luar Venesia yang berharga sekitar €40/ hari.

IMG_2628-2eS
Port Punto Sabbioni.

Harga tiket boat dari Punto Sabbioni ke Venesia adalah €7,50/ person dengan penyeberangan yang  memakan waktu 3o menit. Begitu kami mendarat di port Venesia, saya terkaget-kaget melihat banyaknya lautan manusia sejauh mata memandang. Saya pikir waktu itu, okelah ini pasti orang-orang yang baru saja turun dari boat dan langsung berpusat di lapangan utama yaitu St. Mark Square, di tempat lain pasti tidak sepadat ini keadaannya. Ternyata saya salah, hampir di semua sudut Venesia penuh manusia. Jalan ke sana kemari pasti saling bersenggolan dengan orang lain. Kios-kios kecil yang menjual souvenir juga banyak bertebar di setiap sudut kota. Banyaknya turis yang memenuhi segala penjuru Venesia membuat saya tidak bisa sepenuhnya menikmati kunjungan kami. Baru mendongak sebentar, ingin mengagumi arsitektur gothic-nya Venesia yang cantik eh kesenggol orang ke kanan kiri. Mau motretpun tidak tidak bisa leluasa mengambil sudut pengambilan.

Niat dari awal ingin masuk ke salah satu museum atau gereja, lupakan saja…di mana-mana antrinya sepanjang jalan kenangan. Selain too touristy, kesan kotor juga tak bisa dihindari dari Venesia. Ya, sayangnya Venesia tidak seromantis seperti yang saya lihat di foto-foto dan film. Saya merasa kasihan dengan penduduk lokal di sana, semoga sih mereka tidak merasa keberatan dengan launtan manusia yang menginjak bumi mereka di segala musim.  Mungkin mereka harus meniru Mallorca, Spanyol yang mulai menerapkan aturan macam-macam untuk mengurangi kedatangan turis ke pulau cantik mereka.

Namun, meskipun tidak sesuai harapan, Vanesia tetap memiliki inner beauty dan kami sudah berada di sana, maka kamipun harus menikmatinya dan mensyukurinya. Ngomel dan ngeluh tidak ada gunanya. Semangat! Yay! Flipper yang paling bahagia dalam kunjungan ini karena air ada di mana-mana, tapi papa dan mamanya harus terus pacu jantung deg-degan melihat anaknya selalu mendekati air, takut kecebur. Saking penasaranannya dengan cebur mencebur, ketika sudah berada di caravan lagi, saya sempatkan untuk browsing tentang kasus orang tenggelam di Venesia. Tidak banyak yang saya temukan kecuali beberapa berita yang menyebutkan bahwa pemerintah Italy menyimpan rapat kasus orang tenggelam di Venesia.

kolase 2s
Flipper langsung pecicilan begitu turun dari boat.

Saat Flipper sibuk melempat kerikil ke kanal-kanal dan papanya sibuk mengawasinya, sayapun sibuk jepret sana-sini. Kebanyakan foto saya adalah gaya #lookup karena menghindari wajah-wajah turis. Foto selfie di jembatan juga sebuah kewajiban ketika berada di Venesia maka selfie stick seharga €5,00 (aslinya €10,00) pun dibeli. Suami tidak bisa diharapkan untuk memotret, karena selain dia harus mengawasi Flipper, he’s not so keen doing #instahubby 😂 . Selain jalan-jalan mengitari kota, kami juga tak melewatkan kesempatan untuk naik water taxi, mengelilingi Venesia dari Grand Canal. Naik gondola tidak masuk ke budget kami karena harganya yang mahil, €80,00 di siang hari dan €100,00 di malam hari. Water taxi yang harganya hanya €7,00 ini adalah boat yang berhenti di tiap-tiap halte dan juga selalu penuh dengan turis dan penduduk lokal. Satu lagi yang membuat kami betah berlama-lama di Venesia adalah es krimnya yang enak. Kami beberapa kali mengadakan break untuk menikmati es krim. Btw hati-hati ya turis, di salah satu gelato parlor, meskipun sudah jelas-jelas kami menunjuk gambar es krim 1 scoop yg harganya €2,00 dan juga benar-benar dikasih es 1 scoop not less dan not more, tapi kami harus bayar €4,00/ scoop which was total €12 for 3 scoops. Why on earth? Mbaknya menjawab dengan bahasa Italy yang tidak kami mengerti. Entah apa gunanya gambar es dan harganya yang terpampang besar-besar di depan parlor-nya.

2212s
Water taxi di Grand Canal.

2219s

Setelah sekitar 6 jam berada di Venesia, kamipun kembali ke tempat camping kami di Ca’Berton yang nyaman dan selonjoran di pantai sambil menikmati es krim (lagi) dari gelato terdekat yang tak kalah enaknya dari es krim di Venesia. Dengan harga yang jauh lebih murah pula. Harga-harga di pertokoan di camping village ini memang termasuk normal, dari roti, makanan restoran hingga barang kelontong harganya tidak berbeda dengan harga supermarket di tempat umum.

Kegiatan kami lainnya selama di Cavallino adalah berkunjung ke kota sebelah, yaitu Lido Di Jeselo. Kota ini terkenal sebagai tujuan pariwisata pantai dengan hotel-hotel sepanjang pantai dan pusat perbelanjaan yang mengingatkan saya kepada Kuta Bali. Bedanya, di Lido Di Jesolo dan Italy pada umumnya, pada jam 12 siang sampai jam 3 sore (bahkan ada yang sampai jam 4), toko-toko banyak yang tutup. Restoranpun hanya sedikit yang buka pada siang hari. Saya baru tahu, ternyata di Italy pun ada siesta seperti di Spanyol.

2221s
Pusat kota Jeselo.
2224s
Pantai di Lido Di Jeselo.

Begitulah trip kami di Venesia dan sekitarnya. It was nice to visit Venice tapi sepertinya tidak perlu diulang. Seperti biasa, foto-foto Venesia ada di Flickr saya ya… dan trip selanjutnya masih di Italy juga tapi lokasi kali ini berbeda sekali dengan Venesia, much better! 💕

Road trip with Flipper – Bled, Slovenia

Seperti yang sudah direncanakan, pada tanggal 27 April kemarin kami memulai liburan kami melalui jalan darat ke Slovenia dan Italy. Ini bukan merupakan road trip kami yang pertama. Road trip terjauh kami sebelumnya adalah ke Prague. Eh kami pernah juga ding road trip di sepanjang Algarve, Portugal, not sure juga jauhan mana dengan Cologne-Prague. Road trip kami kali ini berbeda karena ada Flipper.

Jadi persiapan khusus kami untuk roda trip kali ini adalah begaimana caranya supaya Flipper bisa betah dalam perjalanan lama ini. Kami membawa organizer box dari merek Hauck yang isinya buku-buku, mainan, snack, alat gambar, dll. Selain itu ada meja portable yang memudahkan Flipper untuk menggambar dan CD sanggar cerita berisi cerita-cerita kesukaan dia. Semuanya berfungsi seperti yang kami harapkan. Selain itu carseat yang bisa di-set ke sleeping position dan sunscreens untuk jendela mobil juga bisa menambah kenyamanan si Flipper istirahat di dalam mobil. Istirahat minimal setiap 3 jam sekali juga wajib dilakukan. Bila cuacanya bagus, kami juga mengeluarkan sepeda mininya Flipper atau bola sepaknya untuk bermain-main di saat istirahat. Kalau cuacanya jelek ya cukup mainan indoor di restoran tempat istirahat.

img_7618
Flipper sibuk bermain dengan buku stickernya.

Karena liburan  kali ini juga dalam rangka merayakan ulang tahun D, suami saya, maka dia jugalah yang mengurus segala sesuatunya termasuk memilih kota persinggahan, apa saja yg mau dikunjungi di kota tersebut dan memilih penginapan yang biasanya menjadi tugas saya yang memang rada sensitive kalau soal urusan tempat menginap. Kali ini saya tinggal packing dan berangkat saja dan tidak boleh ngomel kalau tidak cocok dengan penginapannya. Baiklah.

3 kota tujuan utama kami adalah Bled di Slovenia serta Venice dan Arco di Italy, namun kami juga siap-siap bila harus ada penginapan tambahan ketika berangkat ke Bled yang berjarak 900km dari rumah dan juga penginapan ketika balik ke Jerman mengingat kami tidak tahu berapa lama Flipper bisa tahan duduk anteng di dalam mobil. Dan benar saja, rencana yang tadinya mau berangkat jam 3 dini hari dan langsung ke Bled tidak terlaksanakan. Suami tidak bisa bangun dini hari karena sebelumnya kerja lembur. Kami berangkat jam 6 pagi dan menginap di kota Aschau di perbatasan antara Jerman dan Austria pada pukul 5 sore.

Ketika kami istirahat di outlet city Metzingen (dekat Stuttgart), kami sempat googling sebentar mencari penginapan murmer di Aschau. Kalau dilihat di websitenya, losmennya terlihat biasa-biasa saja, cenderung jelek dan sama sekali bukan style saya tapi letaknya di bukit dan pemandangannya super asoy jadi kami memutuskan untuk menginap di situ, toh hanya satu malam saja. Karena di website itu tertera bahwa losmen tersebut merupakan oase ketenangan hati dan jiwa, sebelum kesana suami tilpun dulu menanyakan apakah it’s ok membawa balita menginap di situ, secara Flipper bukan tipe balita yang tenang (memangnya ada gitu balita yang tenang?) dan si pemilik losmen bilang it’s ok.

Begitu kami sampai di losmen tersebut, kami langsung terpukau dengan pemandangan di sekitar losmen yang berada di bukit itu. Apalagi saat itu salju baru saja turun menyisakan ketebalan sekitar 10 cm. Matahari yang bersinar cerah membuat pemandangannya dobel indah, ketambahan penampakan pegunungan Alpen, triple indah. Setelah checkin cepat-cepat, kamipun segera main di luar. Ini adalah salju pertama yang bisa dibuat mainan oleh Flipper. Sebelumnya dia sudah dua kali melihat hujan salju, namun saljunya langsung meresap ke tanah dan hilang.

Urlaub 019-4eS
Flipper dan papa bermain salju di depan penginapan di Aschau.

Keesokan harinya setelah sarapan kamipun melanjutkan perjalanan ke Bled, Slovenia. Waktu check out yang punya hotel ngomel, katanya Flipper rame. We told ya.

Menuju Bled, D memutuskan untuk melewati jalur di luar Autobahn, maksudnya sambil lihat-lihat pemandangan lokal dan supaya bisa berhenti-berhenti kalau ada kota atau pemandangan yang menarik. Pemandangan menarik banyak, sepanjang jalan malahan, namun kita tidak bisa begitu saja berhenti menikmati pemandangan karena salju turun deras dan suhu udara menukik turun ke minus 3. Celakanya jalur yang kita lewati ini ternyata jalur pegunungan yang sempit dan berliku-liku serta banyak tanjakan. D musti super hati-hati nyetir karena roda mobil kami sudah ganti dari roda untuk musim dingin ke roda musim panas. Ya salju di akhir bulan April memang tidak lazim dan meskipun kami sudah siap siaga dengan membawa pakaian empat musim untuk liburan ini, icy street dan live hujan salju sangatlah di luar perhitungan kami.

IMG_7531eS
Up close and personal with the Alps di sepanjang perjalanan menuju Bled.

Alhamdulillah setelah  4 jam perjalanan, begitu memasuki Bled, meskipun suhu masih rendah, sekitar 6 derajat celcius, cuaca mulai membaik. Kami tiba di farm house family hotel  Mulej Farm disambut oleh Damjana, pemilik hotel yang sedang meriang. Dia ngomel menyalahkan turunnya salju yang tidak normal. Suami Jamdana, Joze juga ikut mengeluh, curhat kalau dia baru saja merapikan ladang dan kebunnya, rutinitas di saat musim semi ketika tiba-tiba salju turun lagi. Saya juga mengeluh karena suhu yang dingin dan memutuskan untuk membeli sepatu boots plastik karena area farm house yang becek campur salju. D mengeluh karena kecapekan setelah nyetir yang menegangkan. Tapi Flipper? Kurasa dia satu-satunya yang justru excited dengan salju. Belum selesai kami mengangkuti barang dari mobil kamar, dia sudah merengek-rengek minta main salju.

Meskipun trip ini sebenarnya adalah trip dalam rangka ultah D, tapi pilihan akomodasi yang dipilih D semuanya berorientasi ke Flipper (kecuali hotel dadakan di Aschau). Tempat yang tak sekedar children friendly namun juga bisa memberi aktifitas untuk anak-anak. Mulej Farm yang dimiliki dan dikelola oleh keluarga Master Joze ini memiliki peternakan sapi, kuda dan lebah. Mereka juga memiliki dua traktor besar untuk mengelola pertanian namun sepertinya lokasi pertanian mereka berada di lokasi yang berbeda dengan lokasi di mana kami tinggal.

Joze beserta Damjana dan 3 anaknya yang berusia antara 13-20 tahun bahu membahu mengurus penginapan dan farm mereka. Tidak ada pegawai yang membantu mengurus penginapan atau pertanian, semua dikerjakan sendiri oleh mereka. Si sulung Jaka beserta ayahnya sejak subuh sudah sibuk dengan traktor dan hewan-hewannya. Kedua adiknya, manja dan Jani  juga ikut membantu di pertanian begitu mereka pulang dari sekolah. Manja kadang juga membantu ibunya mengurusi sarapan dan makan malam para tamu penginapana. Masakan Damjana super enak lho. Meskipun menu makan paginya tidak pernah berubah dan variasinya sedikit namun menu makan malamnya super enak dan porsinya selalu melimpah.

Apartment yang kami ambil letaknya berada di samping kandang sapi. yang kalau jendelanya terbuka, bau sapipun semerbak masuk ruangan. Tapi entah kenapa kami tidak terganggu dengan baunya. Selain hewan-hewan di peternakan, keluarga Joze juga memiliki anjing rotweiler ramah sebesar sapi yang bernama Donna. Flipper yang biasanya tidak suka anjing (bukan takut tapi tidak suka) mendadak jadi fans beratnya Donna. Setiap bangun tidur yang dicari Donna, padahal Donnanya tidur di mana saya juga tidak tahu 😀

Di penginapan ini Flipper puas jasmani dan  rohani. Maunya main di luar terus, saat makan pagi dia selalu tidak tenang karena maunya kejar-kejaran dengan Donna di kandang sapi atau main comberan dengan traktor mininya.

IMG_7580e
Flipper mau main basket bersama Donna.
IMG_7548eS
Suasana di Mulej Farm ketika kami baru datang.
IMG_7544eS
Pemandangan di Mulej Farm dari jendela apartment kami.
IMG_7603eS
Flipper joget sambil dilihatin sapi-sapi.
Urlaub 133-1eS
Petani cilik dengan traktor ciliknya.

Selain sibuk di peternakan, kami tentu saja juga jalan-jalan mengelilingi kota Bled. Kota Bled terkenal dengan danau Blednya. Danau ini terletak tidak jauh dari Mulej Farm, hanya sekitar 10 menit naik mobil. Letak danau Bled lumayan di tengah kota sehingga cari parkiran agak susah di sini. Eh cari parkiran secara keseluruhan memang susah di kota ini. Sepertinya hanya supermarket ynag menyediakan lahan khusus untuk parkiran, selebihnya ya sedikit cari-cari kesempatan dalam kesempitan.  Selama empat hari kami di Bled, saya juga belum pernah melihat adanya bis umum. Keretapun adanya hanya kereta khusus untuk turis yang mau mengelilingi danau Bled. Toko-toko yang ‘decent‘ juga tidak terlalu banyak di Bled, yang ada hanya supermarket dan toko-toko souvenir.

Selama di Bled, kami banyak menghabiskan waktu di farm dan di danau Bled, sekedar duduk-duduk menikmati suasana yang indah di danau Bled. Di tengah danau Bled terdapat pulau kecil, Bled island, dengan beberapa bangunan di atasnya, salah satunya  adalah gereja yang dibangun pada tahun 1470. Lalu berdiri dengan gagahnya, di atas tebing di samping danau Bled, adalah puri Bled. Sayangnya rencana kami untuk mengunjungi puri Bled di hari terakhir tidak terlaksana karena saat itu hujan deras dan Flipper tidak mau berhenti bermain hujan di farm. Yasud, sayang anak, emak dan bapaknya ikutan hujan-hujanan. Si Donna juga 😀

2178s
Danau Bled.
2156s
Puri Bled.

Tujuan lain yang bisa dikunjungi di kota Bled adalah Vintgar Gorge letaknya sekitar 8km dari pusat kota Bled. kami sempat dua kali mengunjungi gorge ini namun yang pertama kali ditolak masuk karena saat itu salju baru saja mencair dan membahayakan pejalan kaki. Petugasnya sempat bilang bahwa penutupan ini bisa berlangsung 2-3 hari. Kami kecewa dan pasrah tak bisa mengunjungi Vintgar gorge. Keesokan harinya, iseng-iseng kami ke sana lagi, eh ternyata sudah dibuka. Alhamdulillah.

Vintgar Gorge sepanjang 1,6 km ini dibuka untuk umum dengan membayar tiket seharga €4,00 (balita gratis). Para pengunjung bisa berjalan melalui jalan setapak dan jembatan di sana-sini menyusuri sungai Radovna dengan tebing-tebing setinggi antara 50 sampai 100 meter di kiri-kanannya. Jalan setapak ini berakhir di sebuah jembatan setinggi 13 meter di atas air terjun sungai Radovna. Saat itu cuaca memungkinkan kami untuk melihat pelangi di bawah jembatan dan bila mendongak ke atas, tampaklah pegunungan Alpen dengan gagahnya. Indah sekali. Flipper hampir tak mau diajak pergi dari gorge, secara di sana banyak air dan meskipun tidak bisa bermain air langsung di sungai namun dia bisa puas berjam-jam melempar kerikil ke sungai (oh ya, 1,6 km bersama Flipper itu bisa memakan waktu 2 jam saking seringnya berhenti minta lempar batu :D)

2174s
Vintgar Gorge.
2167s
Vintgar Gorge.

Demikianlah liburan 4 hari kita di Bled, Slovenia. We love it! Pada hari keempat, setelah sarapan kamipun pamit kepada keluarga Joze untuk melanjutkan perjalanan ke Italy, ke kota Cavallino di Metropolitan City of Venice. Kami disangoni sebotol madu murni oleh mereka. Alhamdulillah.

Nantikan cerita saya berikutnya tentang Venice dan Arco di tulisan selanjutnya  ya…<3

Foto-foto yang lain tentang danau Bled dan Vintgar Gorge bisa dilihat di Flickr saya ❤

 


Sehari di Den Haag (The Hague)

Menyambung postingan saya sebelumnya, setelah mampir beberapa jam di Gouda, kamipun tiba di Den Haag sekitar jam 9 malam. Untungnya dalam perjalanan ke Belanda Flipper sempat tidur di mobil selama 1,5 jam sehingga dia tidak rewel karena biasanya dia tidur antara jam 7-8 malam. Sempat bermasalah dengan parkiran di basement NH Hotel Den Haag karena mereka sedang mengadakan renovasi sehingga lokasi parkirpun agak ruwet dan lift tidak berfungsi.Setelah angkut-angkut koper ke lobby, saya agak kecewa dengan penampilan lobby hotel yang cenderung apa adanya, membuat saya wondering bagaimana nanti keadaan kamar hotel. Tapi ternyata kekuatiran saya tidak terbukti, kamar superior yang kami booking tidak mengecewakan, bahkan letak kamar yang berada di lantai 16 dan jendela kaca yang super lebar menjadi highlight tersendiri untuk si Flipper yang tidak terbiasa melihat gedung-gedung dan kelap-kelip kota dari atas. Maklum anak desa 😀

IMG_7016e
Flipper menikmati pemandangan kota yang sepi dari atas.

Keesokan harinya, setelah sarapan kamipun naik tram dari halte Beatrixkwartier yang berada di sebelah hotel menuju stasiun pusat Den Haag yang hanya berjarak 3 menit. Arsitektur di halte Beatrixkwartier yang berupa jaring-jaring ini lumayan menarik perhatian saya.  Zwarts & Jansma Architects merupakan desainer dibalik tubular spaceframe  viaduct sepanjang 400 meter yang keren ini. Karena hotel kami berada di komplek perkantoran, tak heran bila pada hari Sabtu jam 10.30 ini  hanya kami bertiga yang ada di halte bis ini. Di dalam tram pun tak banyak penumpang.

IMG_7140e
Saat menunggu tram di halte Beatrixwartier.

Tepat jam 11 kami tiba di stasiun pusat dan kembali bertemu dengan Rurie sekeluarga yang sangat berbaik hati mau meluangkan waktu mereka untuk menemani kami keliling Den Haag hari ini. Tidak ada agenda khusus tentang apa yang mau dikunjungi di kota ini, saya pokoknya manut Rurie saja, yang penting nanti ending-nya harus makan di resto Indonesia yang menunya sudah beberapa kali dipamerkan oleh Rurie ke saya.

2145s
Di stasiun kereta api Den Haag

Sebagai ibokota provinsi Zuid Holland, Kota Den Haag ternyata tidak seperti yang saya bayangkan sebelumnya. Saya pikir kotanya seperti Frankfurt, kota besar yang hiruk pikuk dengan gedung-gedung yang tinggi menjulang dan lalu lintas yang padat merayap seperti di Cologne. Den Haag, meskipun memiliki gedung-gedung tinggi, jauh lebih tenang dan sepi. Mungkin saja karena saya berada di sana di saat hari Sabtu. Namun bila dibandingkan dengan hari Sabtu di pusat kota Cologne yang hectic, jauh bedanya. jalan-jalan di Cologne pada hari Sabtu justru kalau bisa saya hindari karena terlalu crowded sampai senggol-senggolan dan banyak kemungkinan adanya copet yang beraksi.

2152s
#lookup in Den Haag

Rurie mengajak kami ke Binnenhof, sebuah komplek bangunan tua di tepi danau Hofvijver yang saat ini menjadi perkantoran di mana perdana menteri Belanda berkantor di sini. Kata Rurie, kalau kami beruntung, kami bisa melihat si bapak menteri datang atau pergi dari kantornya naik sepeda. Asyik banget ya, menteripun bersepeda di sini. Sayangnya hari itu Sabtu, si bapak pasti tidak ngantor.Komplek bangunan bergaya gothic yang dibangun pada abad ke-13 ini memang cantik. Selain berfungsi sebagai perkantoran dan juga tourist destination, tak jarang tempat ini juga menjadi lokasi foto wedding, demikian kata Rurie yang selain memiliki bisnis catering juga memiliki bisnis fotografi.

2150s
Binnenhof.
2148s
Binnenhof.
IMG_1983-1eS
Kana dan Flipper ngemil bersama di Binnenhof.

Setelah puas mengelilingi komplek Binnenhof, kami beristirahat sebentar untuk makan siang sederhana di pinggir jalan dengan menu the famous Frit, Dutsch French fries. Di Belanda rupanya tak berbeda jauh dengan di Jerman, kebanyakan makan French fries-nya pakai mayonaise (meskipun ada beberapa pilihan saus yang lain). Niatnya makan sedikit saja supaya nanti pas makan malam di resto Indonesia bisa lahap tapi eh ternyata kentang goreng ini enak juga, jatah Milapun banyak yang mendarat di perut mamanya.

Puas dengan kentang goreng, kamipun melanjutkan berkeliling pusat kota Den Haag, kali ini sambil mampir-mampir masuk ke beberapa pertokoan (baca: shopping). Kami mampir ke Asian shop langganan teman-teman Indonesia yang tinggal di Den Haag. Di toko ini  barang-barangnya memang lengkap, tak jauh berbeda dengan Asian shop tempat saya biasa belanja di Cologne. Hanya saja suasana tokonya lebih modern dan rapi. Selain itu, di sini juga ada daun dan biji melinjo! OMG, entah sudah berapa tahun saya tidak makan daun melinjo. Kalau tak salah terakhir makan adalah tahun 2011 ketika saya diundang makan oleh teman lama ketika mengunjungi kota Pacitan. Lodeh melinjo dan sayur asem pun langsung terbayang di pelupuk mata. Untung masih ingat resiko kolesterol, sehingga sayapun hanya mengambil sedikit daun melinjo dan bijinya – untuk tombo kangen (tapi belakangan menyesal juga 😀 ). Sementara saya sibuk beredar mencari makanan di toko ini, juragan Kios Kana sibuk mencari property untuk orderan catering-nya yang akan datang. Kami keluar dari toko sama-sama dengan kresek penuh belanjaan. Saya sendiri tidak berani belanja terlalu banyak karena sempat kepikiran freezer yang sudah penuh di rumah.

Selanjutnya kami mampir ke Chinese bakery dan saya ngiler berat melihat kue dan roti-roti yang dijual di sana karena macamnya seperti kue-kue di bakery Indonesia-dan bukan bakery Jerman. Meskipun punya banyak keinginan untuk beli ini itu, saya memilih membeli   12 buah onde-onde raksasa. Lagi-lagi saya ingat freezer saya. Ah mbuhlah.

Saya juga belanja sedikit di Marks and Spencer Food. Kalau yang ini memang masuk agenda dalam berkunjung ke Den Haag secara di Jerman tidak ada M&S dan selama ini bisanya hanya online shopping. Di sini saya membeli beberapa biskuit dan serabi jadi-jadian.

serabi.jpg
Penampilan serabi jadi-jadian alias crumpets dari M&S dengan saus gula merah buatan sendiri.

Setelah muter dan belanja di sana-sini, tibalah saat yang dinanti-nantikan, makan di restoran Indonesia Si Des. Sebelumnya saya sudah check website mereka dan sudah galau duluan mana yang akan dipesan. Begitu sampai di sana tetap saja galau dan ahirnya malah pesan ayam goreng kremes. Menu ayam kremes adalah menu yang tak terlalu istimewa sebenarnya karena saya pasti bisa juga membuatnya di rumah namun dengan pertimbangan supaya si Flipper bisa ikutan makan, ya pesan itu saja dan alhamdulillah rasanya enak gila! Sambalnyapun mantap. Aduh sambil nulis ini saya jadi kepingin lagi lho… Rurie memesan rujak cingur dan saya sempat mencicipi sesendok. Enak super gila! Entah kenapa saya waktu itu tidak kepikiran untuk pesan rujak cingur bungkus, mungkin karena perut sudah kenyang juga kemasukan ayam goreng kremes dan es teler durian yang juga enak gila. Pokoknya enaknya gila semua kecuali rendang pesanan suami yang rasanya kurang mantap. Kata dia sih masih enakan juga rendang buatan saya. Aih. Oh ya, saya tidak sempat foto-foto makanan karena begitu makanan tersaji, saya langsung kalap makannya 😀

Setelah makan malam usai, kamipun berpisah untuk hari ini. Besok kami janjian lagi untuk mengunjungi taman bunga sebelum kami cabut balik ke Jerman. Saya sendiri malamnya sudah punya janjian berikutnya, yaitu kunjungan Deny dan suaminya. Karena Deny tidak sempat ikut jalan-jalan di kota hari ini maka dia menyempatkan untuk main ke hotel. Sebenarnya Deny mengundang kami untuk makan malan di rumahnya, namun mengingat waktu yang terbatas dan sudah bisa dipastikan si Flipper akan kecapekan sesudah jalan-jalan, undangan itu terpaksa kami tolak. Selain membawa angklung untuk Flipper,  Deny juga membungkuskan  makanan juga untuk mamanya Flipper. Ada gudeg, sambel pecel dan mendol andalannya si Deny. Waaah…suwun banget Deny, masakanmu, seperti halnya sambelmu yang dulu itu, enak sekali! Dan yang pasti makasih sekali sudah menyempatkan main ke hotel, senang banget bisa bertemu Deny dan om Ewald lagi meskipun hanya sak nyuk! Semoga lain waktu bisa saling silahturahmi lagi ❤

IMG_7014e
Deny, saya dan angklung pemberiannya. Yang dikasih angklung sudah rewel dan minta bobok duluan.

—-

Keesokan harinya, hari Minggu kami sudah harus balik ke Jerman lagi. Suami menyarankan supaya kami tidak terlalu siang berangkat dari Belanda karena saat itu adalah hari terakhir liburan Paskah di Jerman, ditakutkan kita akan terjebak di kemacetan arus balik. Sesudah rembukan dengan Rurie, dia tidak keberatan untuk ke taman bunga pagi-pagi. Setelah sarapan pagi kamipun check out dari hotel dan menuju meeting point di kota Lisse yang ditempuh sekitar 30 menit naik mobil untuk kemudian menjelajahi kebun-kebun bunga di berbagai tempat di kota itu

Sayangnya saat itu bunga tulipnya belum tumbuh sempurna dan cuaca mendung setelah malamnya sempat hujan namun asyik juga bisa turun dari mobil, menikmati indahnya kebun pribadi milik orang. Flipper pun langsung bahagia melihat yang becek-becek. Jadi ingat, dulu saya sempat foto gaya di kebun gandum milik orang di dekat rumah, eh ditegur dan diinterogasi macam-macam sama yang punya 😀 Di sini kami dan beberapa pengunjung lain bisa foto-fotoan tanpa teguran (dan kami juga tidak merusak bunganya lho).

IMG_7151e
Wefie bersama Rurie (kiri) dan Novi (kanan).

Setelah puas foto-fotoan di kebun bunga daffofil kuning, kamipun pamit untuk kembali ke Jerman. Rurie family dan Novi, teman baru yang saya temui hari itu, melanjutkan perjalanan menjelajahi perkebunan bunga yang lain.

Terima kasih yang tak terhingga dari kami sekeluarga  untuk Van Sark family yang menemani kami berhari-hari, di Gouda, Den Haag dan Lisse. Maafkan bila ada yang kurang-kurang dan jangan lupa kedatangan kalian selalu ditunggu di tempat kami ❤

IMG_1999-1efiltered
Rurie, Peter dan Kana Van Sark.

Terbang Dengan Balita

Sejauh ini si Flipper sudah 3 kali naik pesawat terbang. Pengalaman terbang pertama langsung menempuh long haul flight 18 jam (baliknya 20 jam) ke Indonesia. Yang kedua terbang ke Turki, 3 jam saja dan yang ketiga ke Mesir, 5 jam (baliknya 6 jam). Meskipun yang ke Indonesia terdengar paling horror, ‘first long haul flight with baby’ namun pada kenyataannya penerbangan itu adalah penerbangan paling easy peasy bersama si Flipper.

Saya ceritain tentang penerbangan yang pertama dulu ya…Meskipun dalam penerbangan pertama pada tahun 2014 nggak ada masalah apapun dengan si Flipper namun persiapan pra terbangnya itu yang heboh. Maklum mamanya Flipper super nervous membayangkan betapa repotnya terbang bersama baby yang umurnya baru 9 bulan. Persiapan dilakukan jauh-jauh hari sebelum penerbangan, membuat list ini-itu, what to do, what to buy and what to bring.

Saat itu Flipper masih MPASI sehingga urusan makanan merupakan urusan yang paling ribet secara saya konsen sekali dengan gizi dan kebersihan makanan. Saya sempat ingin menyewa jasa catering makanan bayi di Bali, bahkan saya sudah mendapatkan daftar menunya tapi secara kami muter di tiga kota yaitu Jakarta, Jogja dan terakhir Bali, maka saya putuskan untuk membawa baby cook Philips Avent saya ke Indonesia. Meskipun lumayan makan tempat di koper, alat ini sangat praktis karena dia bisa mengukus sekaligus menghaluskan makanan. Selain itu saya juga membawa beberapa gelas baby jar food dari merek Hipp karena setelah tanya-tanya teman, ternyata makanan semacam itu tidak ada di Indonesia. Ada hanya satu merek dari Australia yang harganya mahal dan tidak organik. Baby jar food ini sangat praktis untuk travelling. Ketika tidak sempat masak, tinggal dipanaskan di microwave atau diangetin di atas mangkuk berisi air panas. Makanan ini bisa juga langsung dikomsumsi begitu saja kalau tidak memungkinkan untuk memanasinya. Dan yang penting, isi dari baby jar food ini adalah makanan yang bergizi buat bayi yaitu sayuran, buah-buahan, grains dan daging, bukan biskuit manis seperti rata-rata makanan bayi kemasan di Indonesia.

beikost_ratgeber_ernaehrungsplan_produktbilder_nach_4_bis_6_monat

(Foto diambil dari: http://www.hipp.de/beikost/ratgeber/ernaehrungsplan/nach-dem-4-bis-6-monat/)

Untuk bekal di kabin selama perjalanan 18 jam ke Jakarta (termasuk transit lama di Schippol Amsterdam), bekal yang saya bawa untuk Flipper adalah buah pisang, buah alpukat, 3 jars baby food Hipp berbeda rasa dan termos air yang bisa minta diisi di dalam pesawat. Tak lupa alat makan plastik seperti mangkuk, sendok, garpu, serbet makan, tissu dan botol minumnya Flipper. Waktu itu saya tidak tahu bahwa ternyata di pesawat, Malaysian Airlines, Flipper juga mendapat jatah baby package yang isinya jar food juga, alat makan, tissu basah dan diapers. Tahu gitu mah kita tidak perlu membawa makanan banyak-banyak. Tapi tidak apa. Kelebihan selalu lebih bagus dari pada kekurangan.

By the way, jangan takut membawa liquid atau makanan cair untuk bayi ke dalam kabin pesawat, asal jumlahnya reasonable kita pasti diperbolehkan membawanya. Di bandara Schippol kami sempat dihampiri petugas security dan ditanya apakah kami membawa makanan untuk Flipper ke dalam kabin. Sempat deg-degan kalau makanannya bakalan diambil, eh ternyata malah sebaliknya. Mereka hanya mau mengemas semua bekalnya Flipper dalam sebuah sealed bag dan diberi label kalau makanan sudah dicek dan aman untuk dibawa.

Itu soal makanan. Sekarang persiapan sebelum berangkat yang salah satunya adalah vaksinasi. Bebelum kami berangkat ke Indonesia, kami konsultasi dulu ke dokternya Flipper, cek apakah vaksinasi dia sudah update dan apakah diperlukan vaksinasi-vaksinasi tambahan. Waktu itu ada teman yang menganjurkan untuk tambah vaksinasi rabies secara binatang-binatang di Indonesia tidak semua disuntik anti rabies tapi dokternya Flipper malah tertawa dan bilang bahwa itu tidak perlu selama bayi tidak dibiarkan mainan di halaman yang ada binatangnya tanpa kontrol. Selain itu kami juga disangoni obat panas, obat malaria dan obat diare oleh dokter, sekedar untuk jaga-jaga. Ketika saya mengambil obat-obatan itu di apotik (btw obat-obatan dengan resep dokter sampai usia 17 tahun di Jerman gratis), saya sekalian membeli stiker anti nyamuk yang bisa ditempelkan si baju atau stroller atau di mana saja di sekitar Flipper. Tau sendiri kan, nyamuk di Indonesia bandel-bandel. Alhamdulillah waktu di Indonesia Flipper hanya sekali pengalami diare ringan dan ternyata sticker anti nyamuk tidak berpengaruh banyak terhadap nyamuk Indonesia. Namun meskipun badan Flipper bentol-bentol digigit nyamuk, dia tidak pernah merasa gatal atau garuk-garuk, sepertinya dia tidak merasa kalau banyak gigitan nyamuk. Seperti kulit badak, kata mbah kakungnya :D.

Lalu, selain soal vaksinasi adalah soal baby bassinet. Di pesawat disediakan baby bassinet untuk bayi yang beratnya tidak lebih dari 10 kg. Baby bassinet  yang merupakan tempat tidur kecil seperti mini play and pack yang digantung di depan tempat duduk ini sangat membantu kami sekali karena tidak harus memangku Flipper sepanjang jalan kenangan. Dia juga senang-senang saja bobok atau duduk mainan di dalam bassinet.

Untuk mendapatkan baby bassinet, ketika membeli tiket pesawat kita harus memesannya sekaligus, gratis. Enaknya, bila baby bassinet available (karena belum tentu available, tergantung berapa baby bassinet yang  dimiliki Airline dan jenis pesawatnya) sudah tentu kita mendapat tempat duduk di bulkhead seat, yaitu tempat duduk yang lokasinya di belakang partisi pembatas, lokasi paling nyaman di pesawat karena luasnya ruang untuk kaki.

Kami beruntung mendapatkan bulkhead seat yang untuk berdua, tidak perlu senggol-senggolan sikut dengan penumpang lain. Seperti ilustrasi di bawah ini, tempat duduk kami PP Cologne-Jakarta, Denpasar-Cologne adalah di nomor 21 A dan C (entah B-nya di mana ya?).

Screen Shot 2016-02-29 at 14.06.34

(Ilustrasi diambil dari http://www.seatguru.com/airlines/Malaysia_Airlines/Malaysia_Airlines_Airbus_A330-200.php)

Dalam penerbangan dari Amsterdam ke Jakarta yang menempuh sekitar 15 jam perjalanan, dari 8 bulkhead seats yang tersedia di barisan depan, hanya saya dan suami yang membawa bayi. Di barisan tengah yang berisi 4 deret kursi, hanya tampak 1 pria muda berperawakan kecil, Asian seperti saya duduk sendiri. Aneh, padahal waktu  check-in dan  di ruang tunggu saya banyak melihat ibu-ibu lain yang membawa balita. Rupanya para ibu-ibu ini tidak memesan baby bassinet sebelumnya. Untungnya pramugari Malaysian Airlines baik hati dan mempersilahkan tiga ibu dengan balitanya tadi untuk pindah duduk di bulkhead seat di samping si mas tadi. Mereka menerima dengan senang hati meskipun harus pisah duduk dengan suami di belakang. Mbak pramugari juga menawarkan si mas untuk pindah duduk ke belakang supaya tidak terganggu dengan tangisan bayi-bayi, eh tapi si mas menolak lho. Dia enjoy duduk anteng di tengah-tengah para ibu, cuek dengan pandangan ‘pergi gih!’ dari para ibu yang tak jarang harus mengeluarkan payudara untuk menyusui. Moral of the story from bulkhead seat adalah: Bila kakimu tidak panjang-panjang banget, bila bahumu tidak lebar-lebar banget, bila kamu tidak membawa balita, jangan coba-coba pesan bulkhead seat deh dari pada mendapat lirikan kebencian dari penumpang lain karena  kursi tersebut memang diutamakan untuk orang-orang dengan kriteria seperti tersebut di atas.

2
Flipper asyik menonton video musik dalam perjalanan pulang menuju Cologne. Saya khusus men-download lagu-lagu kesayangan Flipper dari Youtube sebelum travelling ke Indonesia. Ini pertama kalinya Flipper melihat video musik, biasanya hanya mendengar lagunya saja. Dia antara bingung dan excited gitu melihatnya 😀

+++

Penerbangan kedua adalah ke Antalya Turki pada bulan Mei 2015. Flipper waktu itu berusia 23 bulan. Satu bulan lagi, harus bayar tiket pesawat deh dia 🙂 Karena pengalaman terbang pertama dengan Flipper sangat memuaskan, maka saya tidak terlalu worry dengan penerbangan kali ini. Toh hanya 3,5 jam ini. Eh ternyata saudara-saudara, Flipper yang sekarang tidak lagi sama seperti yang dulu! Flipper maunya jalan-jalan di dalam pesawat atau berdiri loncat-loncat di atas paha saya atau papanya. Ya, duduk  di space yang sempit (pesawat kecil) pasti sangat untuk membosankan untuk Flipper padahal dia beruntung bisa duduk sendiri karena kursi di sebelah kosong. Mainan dan snack macam-macam hanya bisa bertahan sebentar menghibur Flipper. Untungnya  penumpang yang duduk di depan kami tidak protes dengan ulah Flipper, mungkin karena Flipper tidak menangis, hanya kebanyakan ulah saja. Begitu pesawat mendarat di bandara Antalya, kami masih harus menempuh perjalanan 2 jam menuju resort. Di sini Flipper anteng luar biasa alias bobok klipuk karena kecapekan kebanyakan ulah di pesawat.

3.jpg
On the way dari Cologne ke Antalya yang alhamdulillah kursi di samping kami kosong jadi Flipper bisa nangkring di situ.
Waktu balik ke Cologne, drama sudah dimulai sejak kami naik bis dari hotel ke bandara. Cuaca di Antalya saat itu luar biasa panas meskipun ada AC di dalam bis tapi tidak banyak menolong dan membuat Flipper tantrum. Aneh juga bocah ini, sepanas-panasnya Antalya menurut saya masih lebih nyaman dibanding panasnya Indonesia yang cetar dan humid namun di Indonesia Flipper tidak pernah protes meskipun badannya selalu basah oleh keringat. Giliran di Turki? Ya seperti yang saya bilang tadi, si Flipper yang sekarang berbeda dengan yang dulu.

Ketika tiba di bandara, keadaan bertambah parah karena sepertinya di sana tidak ada AC atau AC-nya rusak. Di sini mulai kelihatan sifat aslinya Flipper (jiah, sifat asli :D), yaitu impatient. Sementara kita masih harus checkin, ngantri di security check, di imigration dan ngantri boarding…Flippernya tidak suka menunggu. Setiap melihat deretan orang-orang antri, tantrumnya kumat. Banyak yang menatap sadis si Flipper namun banyak pula yang berusaha ikut membantu menghiburnya. Untung kami sedang berada di Turki dan kebanyakan orang sedang dalam good mood sesudah liburan, kalau di Jerman yang ada mungkin sadis semua (ada cerita tentang children haters  di Jerman tapi nanti saja saya tulis kapan-kapan).

Di dalam pesawat Flipper mulai tenang, thanks to ASI. Setelah menyusui diapun tidur pulas, meskipun hanya sebentar tapi begitu bangun mood-nya sudah bagus lagi. Turun dari pesawat, kami merasa seperti artis karena hampir semua orang di pesawat mengenali kami sebagai pasangan dengan rebel baby. Mereka menyapa dan komentar betapa behave-nya Flipper di dalam pesawat karena ketika melihat ulah Flipper di bandara, mereka mengira  bahwa penerbangan kali ini bakalan ‘seru’ dengan ‘that toddler’. Alhamdulillah kekuatiran mereka tidak terbukti.

Berikut ini beberapa foto ketika liburan di Turki:

+++

Penerbangan terakhir adalah ke Mesir di akhir tahun 2015 kemarin. Terus terang saya agak trauma juga dengan penerbangan ke Turki kemarin namun life must go on. Flipper sudah rewel begitu melihat melihat antrian di check-in counter. Saumi dan saya harus costantly entertain dia supaya lupa dengan kewajiban antrinya. Bahkan dia sudah bisa teriak nyaring dengan penuh percaya diri: warte nicht!! (no waiting!!) dan bad mood-nya itu masih terbawa sampai dua jam pertama di dalam pesawat.

Selama dua jam pertama Flipper mendapat segala hiburan seperti membaca buku kesukaan dia, membongkar mainan baru yang sengaja saya beli untuk bekal di pesawat, ngemil snack kesukaan dia dan nonton musik video di iPad namun semuanya tidak bertahan lama, somehow Flipper cepat bosan dan rewel. Kemungkinan karena perasaan Flipper campur aduk antara excited berada di dalam pesawat dan ngantuk, capek campur menjadi satu. Setelah dua jam akhirnya dia bisa tidur di atas pangkuan papanya. Oh iya, Flipper saat itu sudah berusia 2,5 tahun jadi dia sudah harus duduk di kursi sendiri tapi entah mengapa dia histeris setiap kali didudukkan di kursinya. Ketika take-off pun dia berada di atas pangkuan sehingga dia harus memakai seatbelt extension seperti bayi. Sempat diomeli pramugaranya sih tapi tidak ada cara lain.

Untuk emergency saya juga membawa empat butir Kinder Surprise Eggs, coklat favorit Flipper yang baru akan diberikan bila hiburan yang lain benar-benar tidak mempan, yang alhamdulillah hanya kemakan 1 butir dalam keberangkatan ke Mesir. Sisanya dimakan ketika ribet di bandara Mesir (baca ceritanya di sini).

Dalam penerbangan pulang ke Cologne, Flipper untungnya (orang Jawa ya, untung melulu) hanya ribut ketika berada di bandara menghadapi antrian dan segala birokrasi bandara. Ketika acara antri usai, diapun serasa bebas, berlari ke sana ke mari, masuk ke semua toko di dalam bandara dan tidur klipuk di dalam pesawat. Pada awalnya  dia tetap tidak mau duduk di kursinya sendiri namun (kali ini tidak ada pramugara yang ngomel) ketika Flipper sudah pulas tidur di atas pangkuan papanya, pelan-pelan badannya digeser ke kursinya sendiri dan seatbelt-nya dikancingkan. Beberapa jam kemudian Flipper terbangun dan tampak bingung mendapati dirinya duduk sendiri dan malah kegirangan, terutama dengan seatbelt-nya. Dia kemudian menikmati buku Tiptoi-nya dan tidak rewel lagi sampai pesawat mendarat.

Semoga untuk penerbangan berikutnya Flipper sudah mau duduk dengan sendirinya di kursinya. Takutnya kita bisa terusir keluar kalau Flipper tetap ingin dipangku karena menurut regulasi keamanan pesawat memang setelah berusia dua tahun, anak harus duduk sendiri. Namun untuk saat ini kami tidak perlu kuatir dulu. Jadwal untuk terbang lagi insyaallah masih lama. Paling cepat mungkin summer nanti. Untuk liburan musim semi ini papanya punya ide untuk road trip ke Slovenia dan Italy. Perjalanan ini nanti pasti tidak kalah challenging karena Flipper harus duduk lama di dalam mobil. Rute yang akan kami tempuh nanti seluruhnya sekitar 3000 km pp, menginap di beberapa kota di Slovenia dan Italy. Excited! Insyaalah akan saya tulis juga nanti.

+++

Berikut ini tips dari saya untuk yang akan terbang dengan balita. Perlu diingat, setiap anak mempunyai karakter yang berbeda jadi belum tentu tip-tip saya manjur untuk semua anak:

-Konsultasi dengan dokter anak sebelum keberangkatan.

Booking baby bassinet untuk bayi di bawah 1 tahun.

-Bawa mainan baru untuk di dalam pesawat dalam keadaan masih dalam kemasan. Biasanya balita suka dengan sensasi bongkar-bongkar barang baru. Atau umpetin mainan kesayangan dia sebulan sebelum keberangkatan dan dikasih lagi ke dia pas di dalam pesawat, pasti deh si anak akan excited lagi.

-Bila si anak sudah boleh bermain dengan gadget, download mainan atau video kesayangan anak ke tablet atau hp untuk hiburan di dalam pesawat. Audio book atau sanggar cerita juga sangat menghibur anak.

-Bawa snack kesukaan anak. Snack baru tidak dianjurkan karena belum tentu dia suka.

– Untuk penerbangan long haul atau terbang ketika malam hari, ganti baju balita dengan pyjama (atau baju rumah yang biasa dia pakai) ketika waktunya tidur sehingga dia tidak merasa ada yang berubah dengan rutinitasnya sehari-hari. Dongeng sebelum tidur juga sangat membantu.

-Bawa kantung plastik segulungan. Kantung ini berguna sekali untuk mengumpulkan sampah atau baju kotor karena ketumpahan makanan.

-Bawa baju ganti, tidak hanya untuk anak tapi juga untuk orang tuanya. Siapa tahu si anak tiba-tiba menumpahkan susu coklat ke badan kita.

-Ketika take off dan landing, beri minum atau cemilan ke balita supaya tidak sakit telinganya.

-Usahakan baby berpakaian properly di dalam pesawat. Para penumpang cenderung tidak suka bila melihat balita di dalam pesawat; membayangkan suara rewelnya nanti di pesawat, apalagi bila balitanya dekil. Waktu terbang ke Jakarta dulu kami harus check-in di bandara jam 4 pagi, semua calon penumpang tentunya masih pada ngantuk dan bad mood. Flipper saat itu memakai bando berpita besar buatan saya sendiri yang hasilnya memang membuat hampir semua orang di bandara tersenyum dan beberapa kali saya dengar suara ‘oh so cuute!’. It worked. Nanti di dalam pesawat, bisa deh yang lucu-lucu itu dicopotin biar baby nyaman.

– Bawa stroller atau bawa gendongan? Untuk praktisnya dan menghemat bawaan mungkin gendongan adalah pilihan pertama (untuk balita yang masih bisa digendong tentunya). Untuk penerbangan pertama dengan Flipper (9 bulan), saya memutuskan untuk membawa dua-duanya dengan pertimbangan it’s long haul flight dan ada kemungkinan pesawat delay lama sehingga hanya gendongan akan mempersulit situasi dan saya harus menjaga kondisi badan saya sendiri supaya tidak sakit punggung ketika sampai tujuan. Saya membawa  stroller ringan yang gampang dilipat dan bisa dibawa sampe ke depan pintu pesawat (Quinny Zapp Xtra) serta gendongan (Manduca) yang dipakai bila si Flipper bosan duduk di stroller atau mau menyusui. Untuk penerbangan ke Turki, kami hanya membawa stroller dan untuk penerbangan ketiga, ke Mesir,  Flipper sudah berumur 2,5 tahun sehingga stroller dan gendonganpun kami tinggal di rumah.

1
Flipper dengan bando pitanya berada di atas stroller dalam penerbangan pertama menuju Jakarta.
Semoga tip-tip di atas bisa membantu ya… Mungkin ada yang punya tip-tip tambahan?