(Semi) Multilingual Child

999A7378-1eSS

Kemarin waktu di Indonesia saya banyak melihat orang tua Indonesia yang ngajak anak balitanya ngobrol dengan bahasa Inggris. Menurut saya bagus banget anak sudah mulai dikenalkan dengan bahasa asing sejak dini. Beberapa teman dan kenalan juga bertanya ke saya kenapa Flipper nggak bisa berbahasa Inggris? Kan dia tinggal di luar negeri? First, Fliper memang tinggal di luar negeri which is Jerman yang bahasa sehari-harinya adalah bahasa Jerman dan second, kami memang tidak (belum) mengajarkan bahasa Inggris ke dia.

Flipper sendiri bilingual, berbahasa Jerman dan Indonesia tapi Jermannya lebih banyak dari pada bahasa Indonesianya. Bisa jadi karena faktor lingkungan di sini dimana semua orang berbahasa Jerman kecuali mamanya dan saya sendiri kadang tidak konsisten mengajak dia  berbahasa Indonesia, seringnya ngajak berbahasa Jerman pula :D. Menurut kami, suami dan saya, belajar bahasa paling efektif untuk anak balita adalah ketika dia belajar satu bahasa dari satu orang di mana di keluarga kami, si papa yang berbahasa Jerman dan si mama  yang berbahasa Indonesia. Seandainya ada oma atau opa atau tante yang bisa berbahasa Inggris tentu akan asyik banget bila Flipper bisa berbahasa inggris dengan the third person itu. Namun sayangnya di lingkungan terdekat kami nggak ada yang bisa mengajak Flipper berbahasa Inggris.

Bahasa Inggris selama ini hanya kami kenalkan lewat lagu anak-anak. Dari bayi Flipper sudah sering mendengarkan lagu anak-anak berbahasa Inggris. Saking seringnya mendengarkan lagu-lagu yang sama setiap hari, lama-lama dia bisa sebut angka dan abjad sendiri dengan English pronounciation tanpa saya ajarin. Lalu mulai umur 2 tahun dia sudah mulai saya kasih lihat video lagu-lagu yang biasanya (hanya) dia dengar tersebut. Kanal Youtube  favorit kami adalah ‘Super Simple Songs’ dari ‘Super Simple Learning’ dan ‘Bob The Train‘ . Setelah melihat video-videonya, Flipper jadi tahu mana itu angka 123, mama itu huruf ABC, mana itu head, shoulder, knee, tomato, etc.

Umur 3 tahun Flipper mulai masuk TK dan mulai kenal lagu-lagu berbahasa Jerman yang ternyata beberapa di antaranya adalah terjemahan dari lagu anak-anak berbahasa Inggris itu tadi (atau vice versa). Pada awalnya dia suka galau karena lagu-lagu yang dia kenal selama ini kalau dinyanyin di TK kok jadi lain bahasanya. Kadang dia kalau nyanyi pun bahasanya campur-campur. Nah akhir-akhir ini Flipper mulai bisa tuh misahin bahasa. Flipperpun mulai meninggalkan ‘Super Simple Songs’ dan stick dengan ‘Bob the Train’ karena Bob punya video versi bahasa Jerman juga (yang sebenernya menurutku versi Jermannya enggak banget! 😂). Dia bahkan minta sendiri kalau lihat YouTube di TV dia maunya yang berbahasa Jerman sedangkan kalau di iPad dia maunya yang berbahasa Inggris. Kadang nih out of the blue, pas kita lagi mainan bareng, dia bilang, “Mama tahu nggak, Fenster heisst window auf Englisch…” Ih mentang-mentang maknya nggak pernah ngajarin eh dia yang ngajarin emaknya hihi…

Iya jadi angka, abjad dan kosa kata bahasa Inggris dia belajar sendiri dari lagu anak-anak tersebut. Selain itu dia juga suka kalau dibacakan buku anak-anak yang berbahasa Inggris. Saya sendiri belum  mengajarkan Flipper angka dan abjad, paling hanya menyediakan fasilitas seperti lagu-lagu tadi dan membantu mengoreksi saja kalau dia salah. Dan melihat progress dia yang lumayan cepat belajar bahasa sendiri, kami mulai kepikiran untuk memasukkan dia ke kursus bahasa Inggris, kalau anaknya mau ya…

Oh iya, gaya parenting tiap orang tua beda-beda ya… Menurut saya nggak ada yang salah karena tiap anak juga berbeda jadi kebutuhannya juga pasti berbeda. Ada yang melarang anaknya pegang gadget at all, ada yang ngasih bebas. Flipper saya kasih pegang iPad dan lihat TV program anak-anak yang dibatasin waktunya dan so far efeknya baik buat dia, bisa belajar bahasa itu tadi. Ada juga orang tua yang sudah mengajarkan anak-anaknya berhitung dan membaca dari umur 19 bulan (saya baca kemarin dari FB Pagenya Toddler Approved), kalau untuk hal-hal yang akademik begitu saya termasuk nyantai. Di sini sebelum anak masuk SD, mereka tidak diwajibkan mengerti angka dan abjad. Jadi ya biarkan anaknya bermain saja dulu, angka dan abjad bisa dikenalkan sambil lalu dengan lagu-lagu itu tadi.

Di sini ada yang anaknya multilanguage nggak, gimana methode ngajarinnya? Mungkin bisa share tips 🙂

Advertisements

Terbang Dengan Balita

Sejauh ini si Flipper sudah 3 kali naik pesawat terbang. Pengalaman terbang pertama langsung menempuh long haul flight 18 jam (baliknya 20 jam) ke Indonesia. Yang kedua terbang ke Turki, 3 jam saja dan yang ketiga ke Mesir, 5 jam (baliknya 6 jam). Meskipun yang ke Indonesia terdengar paling horror, ‘first long haul flight with baby’ namun pada kenyataannya penerbangan itu adalah penerbangan paling easy peasy bersama si Flipper.

Saya ceritain tentang penerbangan yang pertama dulu ya…Meskipun dalam penerbangan pertama pada tahun 2014 nggak ada masalah apapun dengan si Flipper namun persiapan pra terbangnya itu yang heboh. Maklum mamanya Flipper super nervous membayangkan betapa repotnya terbang bersama baby yang umurnya baru 9 bulan. Persiapan dilakukan jauh-jauh hari sebelum penerbangan, membuat list ini-itu, what to do, what to buy and what to bring.

Saat itu Flipper masih MPASI sehingga urusan makanan merupakan urusan yang paling ribet secara saya konsen sekali dengan gizi dan kebersihan makanan. Saya sempat ingin menyewa jasa catering makanan bayi di Bali, bahkan saya sudah mendapatkan daftar menunya tapi secara kami muter di tiga kota yaitu Jakarta, Jogja dan terakhir Bali, maka saya putuskan untuk membawa baby cook Philips Avent saya ke Indonesia. Meskipun lumayan makan tempat di koper, alat ini sangat praktis karena dia bisa mengukus sekaligus menghaluskan makanan. Selain itu saya juga membawa beberapa gelas baby jar food dari merek Hipp karena setelah tanya-tanya teman, ternyata makanan semacam itu tidak ada di Indonesia. Ada hanya satu merek dari Australia yang harganya mahal dan tidak organik. Baby jar food ini sangat praktis untuk travelling. Ketika tidak sempat masak, tinggal dipanaskan di microwave atau diangetin di atas mangkuk berisi air panas. Makanan ini bisa juga langsung dikomsumsi begitu saja kalau tidak memungkinkan untuk memanasinya. Dan yang penting, isi dari baby jar food ini adalah makanan yang bergizi buat bayi yaitu sayuran, buah-buahan, grains dan daging, bukan biskuit manis seperti rata-rata makanan bayi kemasan di Indonesia.

beikost_ratgeber_ernaehrungsplan_produktbilder_nach_4_bis_6_monat

(Foto diambil dari: http://www.hipp.de/beikost/ratgeber/ernaehrungsplan/nach-dem-4-bis-6-monat/)

Untuk bekal di kabin selama perjalanan 18 jam ke Jakarta (termasuk transit lama di Schippol Amsterdam), bekal yang saya bawa untuk Flipper adalah buah pisang, buah alpukat, 3 jars baby food Hipp berbeda rasa dan termos air yang bisa minta diisi di dalam pesawat. Tak lupa alat makan plastik seperti mangkuk, sendok, garpu, serbet makan, tissu dan botol minumnya Flipper. Waktu itu saya tidak tahu bahwa ternyata di pesawat, Malaysian Airlines, Flipper juga mendapat jatah baby package yang isinya jar food juga, alat makan, tissu basah dan diapers. Tahu gitu mah kita tidak perlu membawa makanan banyak-banyak. Tapi tidak apa. Kelebihan selalu lebih bagus dari pada kekurangan.

By the way, jangan takut membawa liquid atau makanan cair untuk bayi ke dalam kabin pesawat, asal jumlahnya reasonable kita pasti diperbolehkan membawanya. Di bandara Schippol kami sempat dihampiri petugas security dan ditanya apakah kami membawa makanan untuk Flipper ke dalam kabin. Sempat deg-degan kalau makanannya bakalan diambil, eh ternyata malah sebaliknya. Mereka hanya mau mengemas semua bekalnya Flipper dalam sebuah sealed bag dan diberi label kalau makanan sudah dicek dan aman untuk dibawa.

Itu soal makanan. Sekarang persiapan sebelum berangkat yang salah satunya adalah vaksinasi. Bebelum kami berangkat ke Indonesia, kami konsultasi dulu ke dokternya Flipper, cek apakah vaksinasi dia sudah update dan apakah diperlukan vaksinasi-vaksinasi tambahan. Waktu itu ada teman yang menganjurkan untuk tambah vaksinasi rabies secara binatang-binatang di Indonesia tidak semua disuntik anti rabies tapi dokternya Flipper malah tertawa dan bilang bahwa itu tidak perlu selama bayi tidak dibiarkan mainan di halaman yang ada binatangnya tanpa kontrol. Selain itu kami juga disangoni obat panas, obat malaria dan obat diare oleh dokter, sekedar untuk jaga-jaga. Ketika saya mengambil obat-obatan itu di apotik (btw obat-obatan dengan resep dokter sampai usia 17 tahun di Jerman gratis), saya sekalian membeli stiker anti nyamuk yang bisa ditempelkan si baju atau stroller atau di mana saja di sekitar Flipper. Tau sendiri kan, nyamuk di Indonesia bandel-bandel. Alhamdulillah waktu di Indonesia Flipper hanya sekali pengalami diare ringan dan ternyata sticker anti nyamuk tidak berpengaruh banyak terhadap nyamuk Indonesia. Namun meskipun badan Flipper bentol-bentol digigit nyamuk, dia tidak pernah merasa gatal atau garuk-garuk, sepertinya dia tidak merasa kalau banyak gigitan nyamuk. Seperti kulit badak, kata mbah kakungnya :D.

Lalu, selain soal vaksinasi adalah soal baby bassinet. Di pesawat disediakan baby bassinet untuk bayi yang beratnya tidak lebih dari 10 kg. Baby bassinet  yang merupakan tempat tidur kecil seperti mini play and pack yang digantung di depan tempat duduk ini sangat membantu kami sekali karena tidak harus memangku Flipper sepanjang jalan kenangan. Dia juga senang-senang saja bobok atau duduk mainan di dalam bassinet.

Untuk mendapatkan baby bassinet, ketika membeli tiket pesawat kita harus memesannya sekaligus, gratis. Enaknya, bila baby bassinet available (karena belum tentu available, tergantung berapa baby bassinet yang  dimiliki Airline dan jenis pesawatnya) sudah tentu kita mendapat tempat duduk di bulkhead seat, yaitu tempat duduk yang lokasinya di belakang partisi pembatas, lokasi paling nyaman di pesawat karena luasnya ruang untuk kaki.

Kami beruntung mendapatkan bulkhead seat yang untuk berdua, tidak perlu senggol-senggolan sikut dengan penumpang lain. Seperti ilustrasi di bawah ini, tempat duduk kami PP Cologne-Jakarta, Denpasar-Cologne adalah di nomor 21 A dan C (entah B-nya di mana ya?).

Screen Shot 2016-02-29 at 14.06.34

(Ilustrasi diambil dari http://www.seatguru.com/airlines/Malaysia_Airlines/Malaysia_Airlines_Airbus_A330-200.php)

Dalam penerbangan dari Amsterdam ke Jakarta yang menempuh sekitar 15 jam perjalanan, dari 8 bulkhead seats yang tersedia di barisan depan, hanya saya dan suami yang membawa bayi. Di barisan tengah yang berisi 4 deret kursi, hanya tampak 1 pria muda berperawakan kecil, Asian seperti saya duduk sendiri. Aneh, padahal waktu  check-in dan  di ruang tunggu saya banyak melihat ibu-ibu lain yang membawa balita. Rupanya para ibu-ibu ini tidak memesan baby bassinet sebelumnya. Untungnya pramugari Malaysian Airlines baik hati dan mempersilahkan tiga ibu dengan balitanya tadi untuk pindah duduk di bulkhead seat di samping si mas tadi. Mereka menerima dengan senang hati meskipun harus pisah duduk dengan suami di belakang. Mbak pramugari juga menawarkan si mas untuk pindah duduk ke belakang supaya tidak terganggu dengan tangisan bayi-bayi, eh tapi si mas menolak lho. Dia enjoy duduk anteng di tengah-tengah para ibu, cuek dengan pandangan ‘pergi gih!’ dari para ibu yang tak jarang harus mengeluarkan payudara untuk menyusui. Moral of the story from bulkhead seat adalah: Bila kakimu tidak panjang-panjang banget, bila bahumu tidak lebar-lebar banget, bila kamu tidak membawa balita, jangan coba-coba pesan bulkhead seat deh dari pada mendapat lirikan kebencian dari penumpang lain karena  kursi tersebut memang diutamakan untuk orang-orang dengan kriteria seperti tersebut di atas.

2
Flipper asyik menonton video musik dalam perjalanan pulang menuju Cologne. Saya khusus men-download lagu-lagu kesayangan Flipper dari Youtube sebelum travelling ke Indonesia. Ini pertama kalinya Flipper melihat video musik, biasanya hanya mendengar lagunya saja. Dia antara bingung dan excited gitu melihatnya 😀

+++

Penerbangan kedua adalah ke Antalya Turki pada bulan Mei 2015. Flipper waktu itu berusia 23 bulan. Satu bulan lagi, harus bayar tiket pesawat deh dia 🙂 Karena pengalaman terbang pertama dengan Flipper sangat memuaskan, maka saya tidak terlalu worry dengan penerbangan kali ini. Toh hanya 3,5 jam ini. Eh ternyata saudara-saudara, Flipper yang sekarang tidak lagi sama seperti yang dulu! Flipper maunya jalan-jalan di dalam pesawat atau berdiri loncat-loncat di atas paha saya atau papanya. Ya, duduk  di space yang sempit (pesawat kecil) pasti sangat untuk membosankan untuk Flipper padahal dia beruntung bisa duduk sendiri karena kursi di sebelah kosong. Mainan dan snack macam-macam hanya bisa bertahan sebentar menghibur Flipper. Untungnya  penumpang yang duduk di depan kami tidak protes dengan ulah Flipper, mungkin karena Flipper tidak menangis, hanya kebanyakan ulah saja. Begitu pesawat mendarat di bandara Antalya, kami masih harus menempuh perjalanan 2 jam menuju resort. Di sini Flipper anteng luar biasa alias bobok klipuk karena kecapekan kebanyakan ulah di pesawat.

3.jpg
On the way dari Cologne ke Antalya yang alhamdulillah kursi di samping kami kosong jadi Flipper bisa nangkring di situ.
Waktu balik ke Cologne, drama sudah dimulai sejak kami naik bis dari hotel ke bandara. Cuaca di Antalya saat itu luar biasa panas meskipun ada AC di dalam bis tapi tidak banyak menolong dan membuat Flipper tantrum. Aneh juga bocah ini, sepanas-panasnya Antalya menurut saya masih lebih nyaman dibanding panasnya Indonesia yang cetar dan humid namun di Indonesia Flipper tidak pernah protes meskipun badannya selalu basah oleh keringat. Giliran di Turki? Ya seperti yang saya bilang tadi, si Flipper yang sekarang berbeda dengan yang dulu.

Ketika tiba di bandara, keadaan bertambah parah karena sepertinya di sana tidak ada AC atau AC-nya rusak. Di sini mulai kelihatan sifat aslinya Flipper (jiah, sifat asli :D), yaitu impatient. Sementara kita masih harus checkin, ngantri di security check, di imigration dan ngantri boarding…Flippernya tidak suka menunggu. Setiap melihat deretan orang-orang antri, tantrumnya kumat. Banyak yang menatap sadis si Flipper namun banyak pula yang berusaha ikut membantu menghiburnya. Untung kami sedang berada di Turki dan kebanyakan orang sedang dalam good mood sesudah liburan, kalau di Jerman yang ada mungkin sadis semua (ada cerita tentang children haters  di Jerman tapi nanti saja saya tulis kapan-kapan).

Di dalam pesawat Flipper mulai tenang, thanks to ASI. Setelah menyusui diapun tidur pulas, meskipun hanya sebentar tapi begitu bangun mood-nya sudah bagus lagi. Turun dari pesawat, kami merasa seperti artis karena hampir semua orang di pesawat mengenali kami sebagai pasangan dengan rebel baby. Mereka menyapa dan komentar betapa behave-nya Flipper di dalam pesawat karena ketika melihat ulah Flipper di bandara, mereka mengira  bahwa penerbangan kali ini bakalan ‘seru’ dengan ‘that toddler’. Alhamdulillah kekuatiran mereka tidak terbukti.

Berikut ini beberapa foto ketika liburan di Turki:

+++

Penerbangan terakhir adalah ke Mesir di akhir tahun 2015 kemarin. Terus terang saya agak trauma juga dengan penerbangan ke Turki kemarin namun life must go on. Flipper sudah rewel begitu melihat melihat antrian di check-in counter. Saumi dan saya harus costantly entertain dia supaya lupa dengan kewajiban antrinya. Bahkan dia sudah bisa teriak nyaring dengan penuh percaya diri: warte nicht!! (no waiting!!) dan bad mood-nya itu masih terbawa sampai dua jam pertama di dalam pesawat.

Selama dua jam pertama Flipper mendapat segala hiburan seperti membaca buku kesukaan dia, membongkar mainan baru yang sengaja saya beli untuk bekal di pesawat, ngemil snack kesukaan dia dan nonton musik video di iPad namun semuanya tidak bertahan lama, somehow Flipper cepat bosan dan rewel. Kemungkinan karena perasaan Flipper campur aduk antara excited berada di dalam pesawat dan ngantuk, capek campur menjadi satu. Setelah dua jam akhirnya dia bisa tidur di atas pangkuan papanya. Oh iya, Flipper saat itu sudah berusia 2,5 tahun jadi dia sudah harus duduk di kursi sendiri tapi entah mengapa dia histeris setiap kali didudukkan di kursinya. Ketika take-off pun dia berada di atas pangkuan sehingga dia harus memakai seatbelt extension seperti bayi. Sempat diomeli pramugaranya sih tapi tidak ada cara lain.

Untuk emergency saya juga membawa empat butir Kinder Surprise Eggs, coklat favorit Flipper yang baru akan diberikan bila hiburan yang lain benar-benar tidak mempan, yang alhamdulillah hanya kemakan 1 butir dalam keberangkatan ke Mesir. Sisanya dimakan ketika ribet di bandara Mesir (baca ceritanya di sini).

Dalam penerbangan pulang ke Cologne, Flipper untungnya (orang Jawa ya, untung melulu) hanya ribut ketika berada di bandara menghadapi antrian dan segala birokrasi bandara. Ketika acara antri usai, diapun serasa bebas, berlari ke sana ke mari, masuk ke semua toko di dalam bandara dan tidur klipuk di dalam pesawat. Pada awalnya  dia tetap tidak mau duduk di kursinya sendiri namun (kali ini tidak ada pramugara yang ngomel) ketika Flipper sudah pulas tidur di atas pangkuan papanya, pelan-pelan badannya digeser ke kursinya sendiri dan seatbelt-nya dikancingkan. Beberapa jam kemudian Flipper terbangun dan tampak bingung mendapati dirinya duduk sendiri dan malah kegirangan, terutama dengan seatbelt-nya. Dia kemudian menikmati buku Tiptoi-nya dan tidak rewel lagi sampai pesawat mendarat.

Semoga untuk penerbangan berikutnya Flipper sudah mau duduk dengan sendirinya di kursinya. Takutnya kita bisa terusir keluar kalau Flipper tetap ingin dipangku karena menurut regulasi keamanan pesawat memang setelah berusia dua tahun, anak harus duduk sendiri. Namun untuk saat ini kami tidak perlu kuatir dulu. Jadwal untuk terbang lagi insyaallah masih lama. Paling cepat mungkin summer nanti. Untuk liburan musim semi ini papanya punya ide untuk road trip ke Slovenia dan Italy. Perjalanan ini nanti pasti tidak kalah challenging karena Flipper harus duduk lama di dalam mobil. Rute yang akan kami tempuh nanti seluruhnya sekitar 3000 km pp, menginap di beberapa kota di Slovenia dan Italy. Excited! Insyaalah akan saya tulis juga nanti.

+++

Berikut ini tips dari saya untuk yang akan terbang dengan balita. Perlu diingat, setiap anak mempunyai karakter yang berbeda jadi belum tentu tip-tip saya manjur untuk semua anak:

-Konsultasi dengan dokter anak sebelum keberangkatan.

Booking baby bassinet untuk bayi di bawah 1 tahun.

-Bawa mainan baru untuk di dalam pesawat dalam keadaan masih dalam kemasan. Biasanya balita suka dengan sensasi bongkar-bongkar barang baru. Atau umpetin mainan kesayangan dia sebulan sebelum keberangkatan dan dikasih lagi ke dia pas di dalam pesawat, pasti deh si anak akan excited lagi.

-Bila si anak sudah boleh bermain dengan gadget, download mainan atau video kesayangan anak ke tablet atau hp untuk hiburan di dalam pesawat. Audio book atau sanggar cerita juga sangat menghibur anak.

-Bawa snack kesukaan anak. Snack baru tidak dianjurkan karena belum tentu dia suka.

– Untuk penerbangan long haul atau terbang ketika malam hari, ganti baju balita dengan pyjama (atau baju rumah yang biasa dia pakai) ketika waktunya tidur sehingga dia tidak merasa ada yang berubah dengan rutinitasnya sehari-hari. Dongeng sebelum tidur juga sangat membantu.

-Bawa kantung plastik segulungan. Kantung ini berguna sekali untuk mengumpulkan sampah atau baju kotor karena ketumpahan makanan.

-Bawa baju ganti, tidak hanya untuk anak tapi juga untuk orang tuanya. Siapa tahu si anak tiba-tiba menumpahkan susu coklat ke badan kita.

-Ketika take off dan landing, beri minum atau cemilan ke balita supaya tidak sakit telinganya.

-Usahakan baby berpakaian properly di dalam pesawat. Para penumpang cenderung tidak suka bila melihat balita di dalam pesawat; membayangkan suara rewelnya nanti di pesawat, apalagi bila balitanya dekil. Waktu terbang ke Jakarta dulu kami harus check-in di bandara jam 4 pagi, semua calon penumpang tentunya masih pada ngantuk dan bad mood. Flipper saat itu memakai bando berpita besar buatan saya sendiri yang hasilnya memang membuat hampir semua orang di bandara tersenyum dan beberapa kali saya dengar suara ‘oh so cuute!’. It worked. Nanti di dalam pesawat, bisa deh yang lucu-lucu itu dicopotin biar baby nyaman.

– Bawa stroller atau bawa gendongan? Untuk praktisnya dan menghemat bawaan mungkin gendongan adalah pilihan pertama (untuk balita yang masih bisa digendong tentunya). Untuk penerbangan pertama dengan Flipper (9 bulan), saya memutuskan untuk membawa dua-duanya dengan pertimbangan it’s long haul flight dan ada kemungkinan pesawat delay lama sehingga hanya gendongan akan mempersulit situasi dan saya harus menjaga kondisi badan saya sendiri supaya tidak sakit punggung ketika sampai tujuan. Saya membawa  stroller ringan yang gampang dilipat dan bisa dibawa sampe ke depan pintu pesawat (Quinny Zapp Xtra) serta gendongan (Manduca) yang dipakai bila si Flipper bosan duduk di stroller atau mau menyusui. Untuk penerbangan ke Turki, kami hanya membawa stroller dan untuk penerbangan ketiga, ke Mesir,  Flipper sudah berumur 2,5 tahun sehingga stroller dan gendonganpun kami tinggal di rumah.

1
Flipper dengan bando pitanya berada di atas stroller dalam penerbangan pertama menuju Jakarta.
Semoga tip-tip di atas bisa membantu ya… Mungkin ada yang punya tip-tip tambahan?