Bitte Anstellen (Line Up, Please!)

Flipper fell in love at the first sight with this book of Tomoko Ohmura as she saw it in a local library and put it by herself into our ‘borrowing bag’. No wonder, her fave animals are on the cover. And I fell in love with this book too as I read it. A short, simple but full of surprise and very hilarious book. Love! Love! Love! I gave it a 5 stars in Goodreads. After some times always doing renewal for this book in the library, I then decided to order the book from Amazon but before I buy it, the Lesestart Project had this book for 3 years old children. Flipper is not 3 years old yet but the librarian was so nice and gave the book to her anyway. Yay!

IMG_5464.jpg

The story began as a frog saw a sign ‘Bitte anstellen’ and he was curious to see what was all about. A bird, as a kind of tour guide, welcomed him. In the next pages, there were  more animals already in queue line, from the little one -in this case frog with number 50- until the biggest one -elephant- number 1.

Yes it seems like only some animals standing in a line, queuing but it’s not boring. They have queue problems like impatient, hungry, smelly body, aggressive and even some unsympathetic animal were all there… Just like us, human being in a looong line for, an example,  merry go round or roller coaster in an amusement park…it could be a pain in the *ss. It’s amusing that a weasel even didn’t know what was he queuing for. Yes, what was the animals queuing for anyway??

IMG_5640
The zebra was shaking, standing between the lion and the tiger. Both were hungry and the bird tried to calm down the lion with some sea grass 😀

It’s a roller coaster on a giant whale! All the 50 animals go on board the whale and the  whale brought them to slalom, spin, dive, dip and to splash! All the animals had sooo much fun. When the ride ended, the animals couldn’t wait to line up again even agree that the long queue was really worth it.

IMG_5776

I use this book to train Flipper how to be patience in a waiting line. We had bad experiences in waiting such as in check in desk and security portal in airport or even in supermarket during waiting in check out desk. Well, she’s now still impatient and dislike waiting (oh who likes it anyway?! :D) but this book definitely brings some progress. Flipper now able to wait for her turn to play something (after some other kids) or waiting until I finished preparing her meal BUT waiting in supermarket, well…we have to learn it harder!

Beside that, with this book we can make some games for example I’ll ask Flipper which animals she already knows? How’s the sounds of the animals? What happened with the sheep? Why he didn’t want to move further? (because he’s afraid of wolf who tried to intimidating him), etc. Very recommended book, indeed.

German: Bitte Anstellen
English: Line Up, Please!
By Tomoko Ohmura,
44 pages.
Price in Amazon.de is €12,00 (German language)

Advertisements

Buku Anak-Anak ‘Indahnya Negeriku’

Waktu di Frankfurt Book fair kemarin, saya membeli beberapa buku anak-anak berbahasa Indonesia buat si Flipper, salah satunya adalah buku ‘Indahnya Negeriku’ – Berpetualangan bersama Ella dan Eza dari penulis Fitri Kurniawan dan Watik Ideo (Penerbit: Bhuana Ilmu Populer). Buku yang rupanya bilingual ini (Indonesia dan Inggris), mengisahkan tentang dua kakak beradik Ella dan Eza yang berwisata berkeliling Indonesia ke 13 kota dari Sumbawa sampai ke Sulawesi Utara.

IMG_0605-4eS

Menurut saya ceritanya standar saja. Di setiap kota yang disinggahi, mereka bertemu dengan kenalan baru yang mengenalkan mereka dengan budaya setempat seperti tari-tarian, kerajinan tangan dan makanan dengan latar belakang ilustrasi rumah adat mereka. Saya sebut standar karena informasi-informasi pendek seperti ini seingat saya sudah ada di buku pelajaran jaman SD atau SMP dulu yang saya yakin saat inipun masih ada. Tapi dengan illustrasi penuh warna dan teks non-formal membuat buku ini tentu saja lebih menarik dari buku pelajaran sekolah.

Yang lebih menarik lagi  -dan tidak ada di buku pelajaran- adalah pengenalan makanan setempat di setiap kota yang mereka singgahi.  238 halaman, 13 kota, 19 ilustrasi makanan (38 halaman), nom! Waktu suami saya baca buku ini komentar pertamanya adalah, “pantas saja orang Indonesia suka makan.” Yup, pengenalan makanan sejak dini! Bisa jadi dia iri hati juga karena kulinari Jerman tidak sekaya kulinari di Indonesia.

Berikut ini beberapa foto halaman makanan di buku Indahnya Negeriku 😀

IMG_0610-9eS
Ikan gabus kuah kuning, makanan khas Papua
IMG_0611-10eS
Makan wadi, makanan khas suku Dayak sambil membahas senjata Sipet dan Mandau
IMG_0608-7eS
Eza kelaparan dan membayangkan masakan khas Lombok
IMG_0609-8eS
Tahu tek dan rujak cingur. Hayo makanan khas mana itu?
IMG_0607-6eS
Makanan khas suku Bima, ikan kuah sepat, gecok, ayam bakar taliwang dan rambangan terong

Kunjungan ke Frankfurt Book Fair 2015

Hajat tahunan Frankfurt Book Fair yang digelar selama lima hari akhirnya selesai juga hari Minggu kemarin. Konon banyak buku-buku yang diobral bahkan gratis di hari terakhir (Minggu 18 Oktober 2015). Sayangnya saya datang hanya di hari Sabtunya saja, jadi tidak kebagian obralan. Tapi lumayan juga sih, mendapat buku-buku kortingan setelah tawar menawar tingkat tinggi dengan di beberapa stand penerbit. Untung suami saya tidak ikut masuk ke pameran buku ini, dia suka malu mendapati istrinya nggak tahu malu tawar-menawar harga 😀

Indonesia menjadi tamu kehormatan di acara Franfurt Book Fair tahun ini dengan fokus utama penulis-penulis wanita Indonesia yang menyinggung topik tabu seperti seks dan agama dalam karya-karya mereka. Jauh hari sebelum hajatan literatur terbesar di dunia ini dibuka, berita tentang kultur, budaya dan literatur Indonesia sudah banyak menghiasi beberapa media di Jerman. Di samping berita tentang kehadiran Salman Rushdie di acara pembukaan pameran dan boikot dari negara Iran karenanya, tentunya.

Frankfurt Book fair dibuka untuk umum pada dua hari terakhir, 17 dan 18 Oktober 2015. Tiket masuknya berharga 18,00 Euro sehari, yang termasuk normal untuk tiket pameran berkelas internasional seperti ini. Khusus untuk refugees, yang saat ini sedang ramai-ramainya membuat pemerintah dan warga negara Jerman pusing tujuh keliling, mereka mendapat fasilitas masuk gratis.

Saya lumayan menyesal hanya datang di hari Sabtunya saja. Bukan masalah obralan buku di hari terakhir, namun karena saya belum khatam mengelilingi semua halls dan stand. Hari itu saya hanya berkonsentrasi pada jadwal acara dari Indonesia dan mencari buku anak-anak sedangkan sebenarnya ada lebih dari 7000 peserta pameran dari 100 negara yang rutin mengikuti Frankfurt Book Fair. Tapi not bad juga sih, semua target saya terpenuhi; melihat acara tanya jawab Laksmi Pamuntjak dan Leila S. Chudori, menemui senior jaman kuliah Beng Rahardian dan Eko Nugroho-para komikus kondang tanah air, mengikuti acara interview Andrea Hirata dan tentunya membeli beberapa buku anak berbahasa Indonesia yang tidak bisa saya dapatkan di sini -itupun pilihannya terbatas karena sebenarnya hari Sabtu itu belum diadakan transaksi jual beli. Oh ada satu acara yang tak bisa saya ikuti karena saya datangnya telat, acara show cooking-nya Chef Vindex!

Bersama-teman-teman di depan stand Mizan. Saya yang berbaju kuning.
Bersama-teman-teman di depan stand Mizan. Saya yang berbaju kuning
kolaseS
Beberapa buku anak-anak yang saya beli
Kolase Mila
Flipper menyukai buku-buku barunya terutama yang seri Odong-Odong karya Iput dan Oyas. Setiap ada kesempatan dia selalu membacanya

ANDREA HIRATA

Andrea Hirata untuk ketiga kalinya kembali diundang untuk menghadiri Frankfurt Book Fair, sebuah pameran buku terbesar di dunia. Seperti yang sudah saya tulis sebelumnya, saya sempat mengikuti interview Andrea Hirata di booth milik stasiun TV Jerman 3Sat. Sempat bangga juga saya melihat bangku penonton langsung penuh begitu session Andrea Hirata tiba. Dan serunya lagi, 95% penontonnya bukan orang Indonesia padahal buku-buku Andrea Hirata baru ada versi bahasa Jermannya sejak bulan September kemarin. Di Amazon.de buku Laskar Pelangi yang dalam bahasa Jermannya  Die Regenbogentruppe mendapat review 4,5 dari total 5 dari para pembacanya. Yay!

Dulu waktu saya masih baru-barunya di Jerman (tahun 2007), buku Andrea Hirata belum ada yang diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman dan setiap kali ada yang bertanya kepada saya tentang pendidikan di Indonesia, saya selalu menyelipkan cerita dari bukunya Andrea, tentang perjuangan Ikal dkk. dalam menempuh ilmunya. Teman-teman saya yang kebanyakan lahir dan besar di Jerman sangat tertarik dengan Laskar Pelangi dan banyak bertanya tentang kebenarannya, bagaimana dengan sistem pendidikan pada umumnya di Indonesia dan bagaimana dengan sekolah saya sendiri. Apalagi saat itu di Jerman sedang ramai-ramainya demonstrasi mahasiswa yang tidak puas dengan  fasilitas di Universitas Negeri yang kurang dan buku-buku diktatnya yang mahal. Teman-teman yang sudah kena setrum cerita Laskar Pelangi inipun kemudian berkata betapa kurang bersyukurnya mahasiswa di Jerman yang berdemo itu karena biaya kuliah di Jerman sebenarnya termasuk yang paling murah di dunia, bahkan biaya sekolah sampai SMA pun gratis. Dan buntutnya mereka ingin sekali membaca buku Laskar Pelangi. Tahun ini harapan mereka akan saya kabulkan!

Dalam interview di stasiun 3Sat kemarin, Andrea Hirata sempat diminta untuk mendeskripsikan bangsa Indonesia yang complex ini hanya dalam 3 kalimat pendek. Menurut Andrea, bangsa Indonesia itu toleran, bangsa Indonesia itu suka belajar dan yang terakhir, bangsa Indonesia itu suka tersenyum yang disambut dengan senyum lebar para pengunjung. Pembawa acara cantik yang mewawancarai Andrea Hirata juga sempat menanyakan seberapa penting pengaruh  magic di Indonesia karena dalam buku Sang Pemimpin (Jerman: Der Träumer) ada bagian di mana Ikal menuliskan harapannya di secarik kertas yang digantung di sebuah layang-layang. Menurut Andrea Hirata magic merupakan bagian dari kultur Indonesia dan  sebagai seorang penulis cultural fiction, memasukkan unsur-unsur magic itu baginya merupakan hal yang penting.

Yang paling lucu adalah ketika Andrea Hirata membacakan bagian dari buku Sang Pemimpi yang sudah ada versi bahasa Jermannya juga, tentang asal-usul namanya (Andrea Hirata sempat ganti nama 9 kali!) yang sayangnya tidak diterjemahkan secara lengkap oleh si penerjemah sehingga pemirsa non-Indonesia tidak bisa ikut cekikikan seperti saya. Video tentang interview Andrea Hirata ini bisa dilihat di websitenya 3Sat.

Andrea Hirata
Andrea Hirata di stasiun TV 3Sat booth

Setelah interview usai, saya dan dua orang teman saya langsung bergegas ke backstage, mau minta tanda tangan dan foto bareng. Rupanya di sana sudah banyak orang yang antri, kebanyakan mahasiswa dari Indonesia. Andrea Hirata sempat bertanya apakah ada dari kami yang memiliki bukunya dalam versi bahasa Jerman. Sayangnya kami belum punya tapi saya janji mas, saya akan segera beli buku itu secara dari dulu saya memang sudah tidak sabar, ingin teman-teman Jerman saya membaca buku itu.

Andrea Hirata orangnya sangat ramah, sedang sibuk-sibuknya sesi tanda tangan, dia sempat-sempatnya bercerita kalau editornya masih lajang. Maksudnya maaas? 😀