Berlin Trip bersama Mbak Yurop dan STING

Sekitar empat atau tiga bulan yang lalu saya mendapat email notification dari Eventim, sebuah portal yang menjual segala tiket hiburan di lebih dari 21 negara, bahwa penyanyi kesukaan saya STING akan mengadakan konser di Berlin pada tanggal 1 Agustus 2016. Sayapun langsung mengajak suami untuk pergi ke Berlin menemani saya nonton Sting. Ya ‘menemani’ saja karena dia memang bukan fansnya Sting. Namun rupanya dia sendiri sudah ada rencana untuk ke musik festival yang berlangsung 3 hari di luar kota, seminggu sesudah konsernya Sting. Untuk festival itu mah dia tidak perlu menawari saya mau ikut atau tidak karena selain  festival yang didatanginya selalu festival yang musiknya bukan selera saya, saya juga nggak sanggup lebih dari sehari nggak mandi dan trauma menggunakan toilet Dixie yang isinya sudah hampir penuh. Etapi kalau festivalnya Coachella, Tomorrowland atau Summer Jam saya mau kali ye ikutan… Balik ke soal konser Sting,  akhirnya diputuskan bahwa saya pergi sendiri ke Berlin sementara D ambil cuti untuk menemani Flipper. Seminggu kemudian gantian dia yang having his ‘me time’ di music festival.

Lalu saya pikir-pikir, pergi ke Berlin sendirian dan hang out sendirian di Berlin sih nggak masalah buat saya. Saya pernah tinggal di Berlin dan hapal liki-liku Berlin. Tapi nonton konser sendirian kok sepertinya nggak asyik ya… Maka sayapun mulai mengiming-imingi beberapa teman termasuk teman-teman di Mbakyurop* untuk ikutan nonton Sting. Alhamdulillah Anggi, Deny dan mba Dian tertarik untuk ikutan ke Berlin -meskipun sayangnya tidak tertarik untuk ikut nonton Sting. Ya sudahlah, yang penting ke Berlin dulu, soal Sting gampang, yang penting tiket sudah di tangan. Selain Anggi, Deny dan mba Dian,  Mia dan Mindy yang kebetulan juga sedang berlibur bersama keluarga ke Berlin juga menyempatkan bertemu kita-kita. Tadinya sih saya sudah siap-siap, kalau tidak ada temannya, hanya akan stay sehari di Berlin tapi karena kali ini rame-rame jadinya stay diperpanjang menjadi 3 malam 4 hari deh and it was a really great days in Berlin with the girls.

⊕ PENGINAPAN ⊕

Sebelum berangkat, kira-kira sebulan sebelum hari-H, kami mulai efektif rembukan tentang Berlin trip via WhatsApp.  Karena konser Sting jatuh pada hari Senin, 1 Agustus, kami sepakat untuk berada di Berlin dari tanggal 30 Juli (Jumat) sampai 2 Agustus (Selasa). Kami berempat, Anggi, Deny dan mba Dian menginap di sebuah apartment di daerah shopping terkenal di Berlin, yaitu Ku’damm. Apartment AMC yang kami sewa sangatlah nyaman meskipun berada di tengah kota namun di tepi jalanan yang sepi. Tidak ada fasilitas atau interior yang istimewa di sana namun semuanya bersih dan memenuhi standard. Lokasi apartment juga tidak jauh dari halte bus dan stasiun kereta. Dan yang paling penting, dekat dengan cafe bubble tea yang selalu uyel-uyelan pengunjungnya. Pokoknya strategis sekali deh.

Untuk urunan hotel kami hanya membayar €81, per person selama 3 malam itu. Murmer deh pokoknya. Itulah enaknya kalau trip rame-rame. Apartment kami terdiri dari dua double beds, satu set meja makan, kitchen set lengkap dengan peralatannya, lemari baju besar berikut setrikaan bahkan payungpun juga disediakan. Kamar mandinya  cukup besar meskipun tidak ada bath tub-nya. Cleaning service datang tiap hari kecuali hari Minggu namun dia hanya membersihkan, lantai, kamar mandi dan tempat tidur. Dapur dan meja makan tidak disentuh sama dia. Lumayan lah…biasanya  short term-apartment malah tidak menyediakan cleaning service sama sekali, hanya ngasih sapu dan vacuum cleaner saja.

IMG_0339.jpg
Kamar mandi dan lemari gedenya ada di sisi kiri, tidak kelihatan di foto.

Mia tidak ikut menginap, dia datang ke Berlin pada Minggu pagi dan balik lagi ke Hannover sore harinya. Mindy dan keluarga menginap di rumah temannya dan Mindy gabung dengan kita pada hari Seninnya, tlisipan deh dengan Mia.

Deny dan saya sampai di Berlin pada Sabtu sore jadi kami berdua sempat jalan-jalan duluan di sekitar hotel sambil melihat acara night run yang kebetulan diadakan di dekat hotel. Deny langsung gatal kakinya, ingin ikutan lari.

IMG_3537aeS.jpg
Selain lari-lari beneran, di NIght Run ini ada kompetisi inliner juga.

Malam hari sekitar jam 21 malam, datanglah Anggi yang kemudian disusul mbak Dian. Seneng deh akhirnya bisa ketemuan mereka berdua. Kalau Deny mah kami sudah beberapa kali bertemu. Kami tidur larut malam itu, biasalah ladies, ngobrol ngalor ngidul dulu 😀

Minggu pagi sekitar jam 8, datanglah Mia ke apartment kami. Saya dulu sempat ketemu Mia waktu meet-up di bakery dalam rangka Frankfurt Book Fair, tapi saat itu ketemunya hanya sak nyuk-an dan  tidak sempat ngobrol sama sekali. Eh kemarin ketemu Mia lagi, yay! Mia orangnya mungil, imut dan kalau bicara halus seperti Deny.

Acara kami hari itu adalah pergi ke Menara Teufelsberg. Jam 10 kami cabut dari apartment dan naik kereta dari stasiun Zoologischer Garten menuju stasiun Heerstr. Untungnya sebelum naik kereta kami sempat membeli bekal dulu (di apartment memang tidak ada service breakfast) karena di stasiun Heerstr. tidak ada kios sama sekali dan kami masih harus jalan kaki jauh menuju MenaraTeufelsberg.

⊕ MENARA TEUFELSBERG ⊕

Keluar dari stasiun Heerstr. kami melihat tanda menuju Teufelsberg masih sekitar 1100 m, melewati jalan aspal. Namun pada kenyataannya jaraknya lebih dari itu. Ketika sudah lewat dari 1km, mulai kebingungan, tidak melihat tanda-tanda lebih lanjut. Sempat bertanya kepada tiga orang; yang pertama tidak tahu sama sekali, yang kedua seorang ibu-ibu dan anak remajanya yang mau menuju ke menara juga namun tidak tahu juga di mana letak menara sebenarnya. Beliau malah mengajak kita potong kompas lewat hutan. Kami sempat tergoda karena sudah jalan jauh tetap tidak ada tanda-tanda, tapi kalau masuk hutan tersesat ya lebih gawat lagi. Barulah ketika bertanya pada bapak-bapak yang sedang jogging, kami mendapat pencerahan.

Untuk masuk komplek menara Teufelsberg kami dikenakan biaya €7/ person dan diskon kalau punya kartu pelajar seperti Mia. Mungkin terbiasa dengan kehidupan di Eropa yang semuanya serba rapi dan terawat, kami agak tak yakin melihat bangunan ticketing yang morat-marit serta  bapak-bapak pakai kaus oblong yang melayani penjualan tiket. Dalam hati saya sempat berpikir, ini  official apa preman? Eh tapi ini Berlin ding…dimana bangunan tua dan ruin memang banyak ‘berserakan’ di segala sudut Berlin, terutama di daerah bekas Jerman Timur dulu.

Setelah membayar tiket  tanpa mendapat lembaran tiket, kami harus menandatangani disclaimer yang isinya bila terjadi apa-apa dengan diri kita, pihak Teufelsberg tidak akan menanggung. Mengapa harus menandatangani pernyataan seperti itu, karena seperti halnya bangunan ticketing di depan, bangunan menara mata-mata Teufelsberg ini tidak lagi 100% utuh dan terdapat lokasi-lokasi yang berbahaya bila kita tidak hati-hati.

Jadi Menara Teufelsberg ini adalah sebuah menara untuk nguping atau mencuri dengar milik milik NSA (National Security Agency) Amerika, yang saat itu bekerja sama dengan Inggris Inggris, untuk mata-matai kegiatan Uni Soviet. Menara ini dibangun di atas bukit Teufelsberg (Bukit Setan), sebuah bukit buatan manusia setinggi 120 m di atas laut. Dinamakan bukit setan karena mengikuti nama danau di dekatnya, yaitu danau Teufelsee atau danau setan. Mengapa danau setan? Entahlah. Yang jelas bukit Teufelsberg ini dibuat untuk menutupi akademi teknik kemiliteran milik Nazi yang saking kuatnya tidak bisa dihancurkan saat perang dunia kedua berakhir. Jadi akademi tersebut ditimbun dengan puing-puing bekas perang bercampur tanah.

Menara Teufelsberg sebelumnya tidak terbuka untuk umum dan dijaga ketat oleh security namun seiring waktu menara ini mulai dibuka untuk umum. Setelah dulunya dibuka hanya pada hari Minggu dengan guided tour, kini dibuka setiap hari dengan atau tanpa guide. Dengan guide harga tiketnya  €15,00 dan guide-nya adalah orang Amerika mantan karyawan di menara NSA tersebut.

2327

2358

Begitu kami memasuki area abandonen building complex tersebut, kami semua langsung terpesona dengan segala puing-puing cantik di sana. Bagaimana tidak cantik, meskipun keadaannya sudah berantakan namun kehadiran para seniman yang ikut mengelola tempat ini menjadikan tempat ini benar-benar artsy. Di halaman komplek itu terdapat banyak properti cantik yang tidak pada tempatnya, misalnya mesin jahit antik di tengah taman. Atau bath tub dan sofa tua di semak-semak belukar yang langsung menjadi lokasi foto kami.

IMG_3629ae.jpg
Searah jarum jam: saya (baju hijau), Anggi, Mia, Mba Dian dan Deny.
IMG_0438ee.jpg
Mia bergaya di samping meja dan entah apa itu yang terbuat dari mesin jahit.
IMG_3600a.JPG
Properti rongsokan yang disusun sedemikian rupa sepertinya memang sengaja disediakan untuk penggemar foto seperti kami dan juga dua cowok ini yang akhirnya malah menjadi model dadakan kami.

Setelah puas menjelajahi halaman menara, kamipun memasuki gedung utama yang terdiri dari tiga lantai. Di atap gedung inilah terdapat menara dan kubah putih. Namun sebelum sampai ke atap, kami disuguhi mural-mural  yang luar biasa artistik di segala sudut ruangan. Gambar seorang perempuan yang memasukkan jari tengahnya ke mulut mencuri perhatian saya karena benar-benar seperti sebuah foto, di mana pandangan matanya selalu mengikuti ke mana saja saya pergi.  Tak heran bila si mbak itu paling banyak mencuri perhatian pengunjung. Seluruh ruangan dari lantai satu hingga lantai tiga penuh dengan mural. Tidak ada space yang kosong sama sekali.

2333s
Si mas ini sedang mengagumi gelang mbaknya yang berkilau-kilau seperti logam beneran.
2334s
Deny khusyu dengan kameranya.
IMG_3566ae
Angipun memanfaatkan sofa yang disiapkan di sana.
IMG_0580e
Mbak Dian semangat dari lantai ke lantai.
IMG_0493e
Maunya sih gajah ini saya bawa pulang untuk si Flipper 😀

Kami sempat bersyukur tidak mengambil guide untuk masuk sini karena bisa dipastikan guide-nya bakalan bosen nungguin kita foto-fotoan. Dan secara itu bukan private guide, pengunjung yang lainpun pasti akan sebel dengan kita. Saking lamanya menikmati mural-mural di sini, saya sampai kelaparan dan membuka bungkusan makan siang di sini. Bungkusan isi roti, bukan nasi.

Kemudian ketika akhirnya kita sampai di  di atap lantai 3, pemandangan yang kami dapati tak kalah breathtaking, menara 5 lantai dengan kubah putih di atasnya, dua kubah putih tanpa menara dan tentu saja pemandangan kota Berlin yang tampak hijau dari atas sana. Sayangnya tak seorangpun dari kami berlima mau naik ke menara. Kami semua mendadak takut ketinggian melihat keadaan menara yang tidak lengkap dan hanya dilindungi dengan kawat tebal di tepi-tepinya. Namun tanpa naik ke menarapun, suasana di atap sana sudah sangat menyenangkan. Perjalanan jauh kami tak sia-sia. Kalau saja saya masih lama di Berlin, pasti saya menghabiskan sehari penuh hanya berada di sana.

2343s
Berlin TV Tower pun terlihat dari sini.
2346s
Dua kubah tanpa menara.
2352s
Menara Teufelsberg.

 

byAnggiDSC01516e.jpg
Saya sedang beraksi di dalam kubah.
2357s
Model dadakan kita memanfaatkan bathtub yang dipajang di sana.

 

IMG_0586eeS.jpg
Pose lagi sebelum keluar dari Teufelsberg. Mbak Dian tidak kelihatan karena dia yang motret.

Ada yang seru ketika kami keluar dari Teufelsberg, mau balik ke kota. Serunya gimana, coba mampir ke blog Deny deh…Dia yang cerita 😀

Dari Teufelsberg, tujuan kami berikutnya adalah Restoran Nusantara di jalan Turmstr. untuk late lunch. Restoran dengan harga warung ini adalah langganan saya ketika tinggal di Berlin. Menu favorit saya di sana sebenarnya adalah lontong sayur tapi kali ini ingin makan yang lain, mi ayam bakso yang ternyata enak juga. Dessert yang saya pesan es teler durian dong… Mak nyus juga tapi tidak se-spektakuler es teler durian di Resto Si Des Den Haag. Anggi, Deny, mba Dian dan Mia puas semua dengan menu yang dipesan mereka. Alhamdulillah, saya yang ngajak-ngajakin mereka ke Berlin ikut senang bila para tamu senang. Hihi… Sok jadi host padahal tinggalnya sudah tidak di Berlin lagi.

Setelah puas recharge energi di Resto Indonesia, Mia kembali ke Hannover dan sisanya, kami berempat loncat ke kereta menuju stasiun Hackescher Markt untuk menghabiskan sore di daerah Museuminsel (Museum Island). Mengapa disebut Museuminsel, karena di daerah ini berkumpul beberapa museum penting di Berlin, yaitu: Altes Museum, Neues Museum, Alte Nationalgalerie, Bode Museum, dan Pergamon Museum. Selain museum-museum tersebut, kalau agak mlipir dikit terdapatlah Neue Synagoge dengan bangunan emasnya di jalan Oranienburgerstr, Humboldt-Box Museum serta  Berliner Dom atau Berlin Cathedral, sebuah gereja Evangelic yang dibangun pada tahun 1451. Di sini kami sempat leyeh-leyeh sebentar sebelum diguyur hujan.

selonjoran
Leyeh-leyeh di depan Berliner Dom.

 

⊕ HARI KEDUA ⊕

Hari berikutnya, jam 10 pagi Anggi, Deny dan mbak Dian ikutan program free walking tour yang meeting point-nya di Brandenburger Tor. Mindy saat itu sudah di Berlin jadi Mindy dan saya ketemu duluan di mall terbaru di Berlin yaitu Mal of Berlin. Jangan salah, kita nggak niat mau shopping di sini tapi mau moto-moto. Jadi ceritanya selama ini saya sering melihat foto sebuah mall Berlin yang keren spot-nya di Instagram dan saya suka banget melihatnya, sebuah bangunan mall modern dengan view bangunan tua Bundesrat. Dan akhirnya sayapun bisa kesana, memotretnya sendiri. Ini nih fotonya…

2366

Keren kan? Setelah jepret-jepret di situ, Mindy dan saya ngupi-ngupi bentar sambil jalan-jalan di daerah situ menghabiskan waktu karena pada jam makan siang kami akan bertemu dengan trio yang ikutan tour tadi di Warung Mabuhay.  Jangan salah, meskipun namanya Mabuhay ini bukan warung Filipina tapi warung Indonesia lho. Namanya begitu karena dulunya warung ini memang milik orang Filipina yang diambil alih orang Indonesia. Berbeda dengan Restoran Nusantara yang memang bergaya restoran (meskipun sederhana, menurut saya), Mabuhay ini benar-benar warung atau Imbiss kalau orang Jerman bilang, yang space-nya kecil dan tidak ada hiasan neko-neko di warungnya.

Kami makan seperti preman, rame, rebutan dan gogot. Gogot apa ya bahasa Indonesianya? Makan banyak membabi buta begitu deh 😂 Selain memang lapar berat, menu yang ditawarkan Mabuhay memang menggiurkan semua dan rasanya memang top. Tidak rugi kita menunggu lama untuk dapat tempat duduk karena pada jam makan siang memang warung itu penuh dengan orang kantoran yang makan siang di situ.

dianunspecified10.jpg
Di Warung Mabuhay. Yang sebelah kiri adalah Mindy.

Setelah makan siang, masih dengan obrolan tentang enaknya makan siang tadi, kami lanjut naik kereta ke Regierungsviertel. Regierungsviertel adalah daerah di mana kantor-kantor penting pemerintahan Jerman ada di sini semua. Dari gedung parlemen (Reichstag), kantornya Angele Merkel hingga menteri-menterinya.

anggiDSC01648s
Di depan Reichstag, gedung parlemen Jerman.

Sayangnya di sini Mindy dan saya tidak bisa lama-lama. Mindy ada janjian dengan temannya dan saya harus bergegas ke konsernya Sting.

⊕ KONSER STING ⊕

Ini sebenarnya alasan utama saya ke Berlin. Nonton Sting. Dan saya happy sekali Anggi, Deny, mba Dian mau ikutan gabung. Bahkan Mia dan Mindypun nyempetin ketemu kita-kita. Many thanks girls!

Jadi setelah tanya sana-sini tentang siapa yang nonton Sting, seorang teman Instagram yang tinggal di Berlin mengenalkan saya dengan sepupunya yang mau nonton Sting juga malam itu. Setelah telpun-telpunan kamipun sepakat bertemu pada jam 17.30 di entrance amphitheatre Waldbuehne (Wald: hutan. Buehne: panggung), tempat konser musik paling asoy yang pernah saya datangi. Waktu saya tinggal di Berlin, saya sempat beberapa kali nonton musik di sini. Karena open air, dia hanya berfungsi ketika musim panas saja. Berbeda dengan tempat-tempat konser yang biasa, untuk memasuki panggung open air ini, begitu keluar dari stasiun kereta kita musti melewati perkebunan orang dulu.

IMG_0882s.jpg
Berjalan beriringan menuju Waldbuehne.

Sore itu saya datang tepat jam 17.30 dan ternyata di entrance sudah ada dua antrian panjang untuk memasuki Waldbuehne. Sayapun  menelpun Susanna, ‘date‘ saya malam itu, menanyakan keberadaannya. Rupanya dia malah masih di kota, belum on the way ke lokasi karena saling tunggu-tungguan dengan teman yang lain. Kita akan telpun-telpunan lagi nanti bila sudah di dalam. Alhasil sayapun ngantri sendirian. Agak ingah-ingih juga sih secara yang lain pada ngobrol dengan teman-temannya, tapi cuek ajalah. Konsernya sendiri mulai pada jam 19.30.

Malam itu ada pengecekan security yang lebih ketat dari biasanya karena sebelumnya ada kejadian serangan bom di sebuah festival musik di kota Ansbach, Bayern oleh IS simpatisan. Oleh karena itu pula, saya yang selama di Berlin hanya membawa koper troli dan tas ransel, harus beli tas cangklong baru karena di last minute email notification disebutkan bahkan tas ransel tidak diperbolehkan sedangkan saya kalau tanpa membawa tas ya kelabakan juga mau naruh dompet, handphone dan jas hujan secara cuaca saat itu memang punya chance untuk hujan.

Setelah akhirnya lolos dari pengecekan security dan pengecekan tiket, sayapun melenggang  menuruni tangga-tangga open air Waldbuehne. Langit saat itu setengah biru dan setengah abu-abu. Alhamdulillah saya dipinjami jaket kulit oleh Anggi karena saya terlalu percaya diri akan langit yang selalu cerah di Berlin, hanya membawa jaket tipis dari rumah.

IMG_0883es.jpg
Waldbuehne dibangun pada tahun 1934 dan bisa mengakomodasi 22.000 orang.
IMG_0908s.jpg
Ketika sudah penuh.

Di sini saya makan malam Brezel yang dijual oleh mas-mas yang keliling naik turun tangga. Secara tidak ada yang jualan minuman hangat, yasud, minumnya cukup air putih saja. Saya sempat pindah-pindah tempat duduk mencari lokasi yang strategis dan ketika sudah mendapat tempat yang benar-benar nyaman, tiba-tiba Susanna menelpon, mengatakan bahwa dia sudah di dalam, berada di standing area dan saya disuruh nyusul. Merasa sudah nyaman dengan tempat saya duduk, sayapun menolak turun. Berdasarkan pengalaman, di Waldbuehne memang tidak ada kategori tempat duduk dan nomor-nomoran. Semua bebas mau duduk dimana. Tempat duduk yang nyaman di sini menurut saya adalah yang bisa melihat panggung dari depan, atau serong dikit juga tidak apa-apa dan dekat dengan toilet. Maklum saya orangnya beser 😀

IMG_0891.jpg
Otw ke toilet. Toilet di Waldbuehne sangat bersih (ada yang jaga dan bersihin) dan ruangannya banyak jadi jarang ada antrian panjang.

Jam 19.30 lebih dikit keluarlah penyanyi pembuka yaitu Joe Sumner, anak sulungnya Sting dari istri pertama. Joe, wajah dan suaranya mirip sekali dengan Sting. Bedanya hanya dua: Sting lebih tua dan Sting lebih ganteng. Karena Joe inilah saya jadi ‘berteman’ dengan penonton di sebelah kiri dan kanan saya. Di sebelah kiri saya adalah dua orang wanita berusia 60 something sedangkan di kanan saya adalah suami istri, 50 something. Saya sempat mendengar bahwa mereka rasan-rasan tentang Joe yang ‘kok mirip sekali dengan Sting ya?’. Saya yang kebetulan tahupun sok akrab menjelaskan kepada mereka kalau Joe memang anaknya Sting. Wah beneran abis itu saya jadi nggak cengoh lagi nonton musik sendirian, ada ‘teman’ yang diajakin ngobrol dan joget bareng. Dua oma di sebelah kiri heboh banget kalau joget, saya mah kalah. Sedangkan suami istri di samping kanan, si suami ternyata pernah main ke Indonesia dan berkeliling dari Sabang sampai Merauke, jadilah kita seru ngobrol. Senang deh saya malam itu, ternyata nonton konser sendirian is absolutley fine.

Joe menulis lagu untuk anak perempuannya berjudul Jely Bean dan diapun mengenalkan anaknya ke atas panggung ketika dia menyayikan lagu itu. So sweet! Bikin saya tambah kangen dengan Flipper karena anaknya Joe umurnya sama dengan Flipper. Waktu penampilan Sting pun, penonton bisa melihat Joe dan anaknya menari-nari di belakang panggung. Kadang si anak menunggu dengan manis di tangga kalau papanya harus jadi backing vocal kakeknya. Sweet, very sweet family. Love it!

Setelah kira-kira 45 menit, Sting pun muncul di panggung dengan lagu pembukaan dari The Police ‘Every Little Thing She Does is Magic’. Semua penontonpun langsung berdiri dan bergoyang. Konser Sting sangat menghibur sekali dan penontonnyapun meskipun kebanyakan berusia di atas 50 (kalau dilihat dari segi wajah dan penampilan lho ya), semuanya tidak hanya duduk anteng mendengarkan musik. Semuanya mau heboh. Salut!

Penampilan Panggung konser Sting sendiri sangatlah sederhana. Hanya ada panggung standardnya Walbuehne tanpa dihias apa-apa kecuali dua layar lebar di kanan kiri panggung. Sekedar background bertuliskan Sting-pun tidak ada. So modest, membuat saya otomatis membandingkannya dengan konser U2 di Frankfurt beberapa tahun lalu yang panggungnya super heboh. Jangankan U2, konser Maroon 5 aja tata panggungnya lebih rame dari pada Sting.

39963_458227586356_4829150_n.jpg
Konser U2 2010
IMG_0917e.jpg
Konser Sting 2016

Tapi siapa yang mau mempermasalahkan tata panggung selama musiknya asoy? Saya sih hanya memberi berbandingan nggak penting saja. U2 concert was super dan tanpa tata panggung berlebihanpun saya yakin penampilan mereka akan tetap super. Stingpun tak kalah super dan bila dia mau repot dengan tata panggung aneh-aneh, pasti tak akan mengurangi kualitas musik dia.

Saya sudah berada di apartment lagi sekitar jam 23.30 dan langsung dikerjai oleh Anggi, Deny dan mbak Dian untuk foto-fotoan OOTD, kostum nonton Sting. Harusnya sih ya, foto-fotoanny sebelum nonton, bukan sesudahnyaa…Ini modelnya udah kucel kalau difoto tengah malam begini >.<

IMG_0930e.jpg
OOTD: Top: Superdry/ Jeans: Levi’s/ Shoes: Nike/ Jacket: Punya Anggi/ Tas: Beli dadakan/ Photographer: Mbak Dian/ Lighting: Anggi’s phone/ Model: Kecapekan

Keesokan harianyapun kami sudah harus berpisah, kembali ke keluarga masing-masing. Anggi ke Edinburgh, Deny ke Den Haag, mbak Dian nginep dulu semalam di rumah temannya lalu balik Salzburg dan saya yang sudah kangen berat dengan Flipper, ke Cologne. 3 hari di Berlin rasanya kurang banget deh! Semoga next time masih ada kesempatan untuk ikutan girl trip lagi ya teman-teman. Senang sekali bisa bertemu kalian, saling bercerita dan sharing hal-hal positif. Sudah kangen lagi nih saya hiks…<3

 

*Mbakyurop merupakan kumpulan ibu-ibu dan mbak-mbak Instagrammer yang rajin ikutan kompetisi yang diadakan oleh @Uploadkompakan. Hashtag yang digunakan di Instagram adalah #mbakyurop

**Foto-foto Berlin trip kami ada di Instagram dengan hashtag #mbakyuropdiberlin

***Foto-foto dari saya yang lain bisa dilihat di album Berlin Flickr saya

Advertisements

Sehari di Den Haag (The Hague)

Menyambung postingan saya sebelumnya, setelah mampir beberapa jam di Gouda, kamipun tiba di Den Haag sekitar jam 9 malam. Untungnya dalam perjalanan ke Belanda Flipper sempat tidur di mobil selama 1,5 jam sehingga dia tidak rewel karena biasanya dia tidur antara jam 7-8 malam. Sempat bermasalah dengan parkiran di basement NH Hotel Den Haag karena mereka sedang mengadakan renovasi sehingga lokasi parkirpun agak ruwet dan lift tidak berfungsi.Setelah angkut-angkut koper ke lobby, saya agak kecewa dengan penampilan lobby hotel yang cenderung apa adanya, membuat saya wondering bagaimana nanti keadaan kamar hotel. Tapi ternyata kekuatiran saya tidak terbukti, kamar superior yang kami booking tidak mengecewakan, bahkan letak kamar yang berada di lantai 16 dan jendela kaca yang super lebar menjadi highlight tersendiri untuk si Flipper yang tidak terbiasa melihat gedung-gedung dan kelap-kelip kota dari atas. Maklum anak desa 😀

IMG_7016e
Flipper menikmati pemandangan kota yang sepi dari atas.

Keesokan harinya, setelah sarapan kamipun naik tram dari halte Beatrixkwartier yang berada di sebelah hotel menuju stasiun pusat Den Haag yang hanya berjarak 3 menit. Arsitektur di halte Beatrixkwartier yang berupa jaring-jaring ini lumayan menarik perhatian saya.  Zwarts & Jansma Architects merupakan desainer dibalik tubular spaceframe  viaduct sepanjang 400 meter yang keren ini. Karena hotel kami berada di komplek perkantoran, tak heran bila pada hari Sabtu jam 10.30 ini  hanya kami bertiga yang ada di halte bis ini. Di dalam tram pun tak banyak penumpang.

IMG_7140e
Saat menunggu tram di halte Beatrixwartier.

Tepat jam 11 kami tiba di stasiun pusat dan kembali bertemu dengan Rurie sekeluarga yang sangat berbaik hati mau meluangkan waktu mereka untuk menemani kami keliling Den Haag hari ini. Tidak ada agenda khusus tentang apa yang mau dikunjungi di kota ini, saya pokoknya manut Rurie saja, yang penting nanti ending-nya harus makan di resto Indonesia yang menunya sudah beberapa kali dipamerkan oleh Rurie ke saya.

2145s
Di stasiun kereta api Den Haag

Sebagai ibokota provinsi Zuid Holland, Kota Den Haag ternyata tidak seperti yang saya bayangkan sebelumnya. Saya pikir kotanya seperti Frankfurt, kota besar yang hiruk pikuk dengan gedung-gedung yang tinggi menjulang dan lalu lintas yang padat merayap seperti di Cologne. Den Haag, meskipun memiliki gedung-gedung tinggi, jauh lebih tenang dan sepi. Mungkin saja karena saya berada di sana di saat hari Sabtu. Namun bila dibandingkan dengan hari Sabtu di pusat kota Cologne yang hectic, jauh bedanya. jalan-jalan di Cologne pada hari Sabtu justru kalau bisa saya hindari karena terlalu crowded sampai senggol-senggolan dan banyak kemungkinan adanya copet yang beraksi.

2152s
#lookup in Den Haag

Rurie mengajak kami ke Binnenhof, sebuah komplek bangunan tua di tepi danau Hofvijver yang saat ini menjadi perkantoran di mana perdana menteri Belanda berkantor di sini. Kata Rurie, kalau kami beruntung, kami bisa melihat si bapak menteri datang atau pergi dari kantornya naik sepeda. Asyik banget ya, menteripun bersepeda di sini. Sayangnya hari itu Sabtu, si bapak pasti tidak ngantor.Komplek bangunan bergaya gothic yang dibangun pada abad ke-13 ini memang cantik. Selain berfungsi sebagai perkantoran dan juga tourist destination, tak jarang tempat ini juga menjadi lokasi foto wedding, demikian kata Rurie yang selain memiliki bisnis catering juga memiliki bisnis fotografi.

2150s
Binnenhof.
2148s
Binnenhof.
IMG_1983-1eS
Kana dan Flipper ngemil bersama di Binnenhof.

Setelah puas mengelilingi komplek Binnenhof, kami beristirahat sebentar untuk makan siang sederhana di pinggir jalan dengan menu the famous Frit, Dutsch French fries. Di Belanda rupanya tak berbeda jauh dengan di Jerman, kebanyakan makan French fries-nya pakai mayonaise (meskipun ada beberapa pilihan saus yang lain). Niatnya makan sedikit saja supaya nanti pas makan malam di resto Indonesia bisa lahap tapi eh ternyata kentang goreng ini enak juga, jatah Milapun banyak yang mendarat di perut mamanya.

Puas dengan kentang goreng, kamipun melanjutkan berkeliling pusat kota Den Haag, kali ini sambil mampir-mampir masuk ke beberapa pertokoan (baca: shopping). Kami mampir ke Asian shop langganan teman-teman Indonesia yang tinggal di Den Haag. Di toko ini  barang-barangnya memang lengkap, tak jauh berbeda dengan Asian shop tempat saya biasa belanja di Cologne. Hanya saja suasana tokonya lebih modern dan rapi. Selain itu, di sini juga ada daun dan biji melinjo! OMG, entah sudah berapa tahun saya tidak makan daun melinjo. Kalau tak salah terakhir makan adalah tahun 2011 ketika saya diundang makan oleh teman lama ketika mengunjungi kota Pacitan. Lodeh melinjo dan sayur asem pun langsung terbayang di pelupuk mata. Untung masih ingat resiko kolesterol, sehingga sayapun hanya mengambil sedikit daun melinjo dan bijinya – untuk tombo kangen (tapi belakangan menyesal juga 😀 ). Sementara saya sibuk beredar mencari makanan di toko ini, juragan Kios Kana sibuk mencari property untuk orderan catering-nya yang akan datang. Kami keluar dari toko sama-sama dengan kresek penuh belanjaan. Saya sendiri tidak berani belanja terlalu banyak karena sempat kepikiran freezer yang sudah penuh di rumah.

Selanjutnya kami mampir ke Chinese bakery dan saya ngiler berat melihat kue dan roti-roti yang dijual di sana karena macamnya seperti kue-kue di bakery Indonesia-dan bukan bakery Jerman. Meskipun punya banyak keinginan untuk beli ini itu, saya memilih membeli   12 buah onde-onde raksasa. Lagi-lagi saya ingat freezer saya. Ah mbuhlah.

Saya juga belanja sedikit di Marks and Spencer Food. Kalau yang ini memang masuk agenda dalam berkunjung ke Den Haag secara di Jerman tidak ada M&S dan selama ini bisanya hanya online shopping. Di sini saya membeli beberapa biskuit dan serabi jadi-jadian.

serabi.jpg
Penampilan serabi jadi-jadian alias crumpets dari M&S dengan saus gula merah buatan sendiri.

Setelah muter dan belanja di sana-sini, tibalah saat yang dinanti-nantikan, makan di restoran Indonesia Si Des. Sebelumnya saya sudah check website mereka dan sudah galau duluan mana yang akan dipesan. Begitu sampai di sana tetap saja galau dan ahirnya malah pesan ayam goreng kremes. Menu ayam kremes adalah menu yang tak terlalu istimewa sebenarnya karena saya pasti bisa juga membuatnya di rumah namun dengan pertimbangan supaya si Flipper bisa ikutan makan, ya pesan itu saja dan alhamdulillah rasanya enak gila! Sambalnyapun mantap. Aduh sambil nulis ini saya jadi kepingin lagi lho… Rurie memesan rujak cingur dan saya sempat mencicipi sesendok. Enak super gila! Entah kenapa saya waktu itu tidak kepikiran untuk pesan rujak cingur bungkus, mungkin karena perut sudah kenyang juga kemasukan ayam goreng kremes dan es teler durian yang juga enak gila. Pokoknya enaknya gila semua kecuali rendang pesanan suami yang rasanya kurang mantap. Kata dia sih masih enakan juga rendang buatan saya. Aih. Oh ya, saya tidak sempat foto-foto makanan karena begitu makanan tersaji, saya langsung kalap makannya 😀

Setelah makan malam usai, kamipun berpisah untuk hari ini. Besok kami janjian lagi untuk mengunjungi taman bunga sebelum kami cabut balik ke Jerman. Saya sendiri malamnya sudah punya janjian berikutnya, yaitu kunjungan Deny dan suaminya. Karena Deny tidak sempat ikut jalan-jalan di kota hari ini maka dia menyempatkan untuk main ke hotel. Sebenarnya Deny mengundang kami untuk makan malan di rumahnya, namun mengingat waktu yang terbatas dan sudah bisa dipastikan si Flipper akan kecapekan sesudah jalan-jalan, undangan itu terpaksa kami tolak. Selain membawa angklung untuk Flipper,  Deny juga membungkuskan  makanan juga untuk mamanya Flipper. Ada gudeg, sambel pecel dan mendol andalannya si Deny. Waaah…suwun banget Deny, masakanmu, seperti halnya sambelmu yang dulu itu, enak sekali! Dan yang pasti makasih sekali sudah menyempatkan main ke hotel, senang banget bisa bertemu Deny dan om Ewald lagi meskipun hanya sak nyuk! Semoga lain waktu bisa saling silahturahmi lagi ❤

IMG_7014e
Deny, saya dan angklung pemberiannya. Yang dikasih angklung sudah rewel dan minta bobok duluan.

—-

Keesokan harinya, hari Minggu kami sudah harus balik ke Jerman lagi. Suami menyarankan supaya kami tidak terlalu siang berangkat dari Belanda karena saat itu adalah hari terakhir liburan Paskah di Jerman, ditakutkan kita akan terjebak di kemacetan arus balik. Sesudah rembukan dengan Rurie, dia tidak keberatan untuk ke taman bunga pagi-pagi. Setelah sarapan pagi kamipun check out dari hotel dan menuju meeting point di kota Lisse yang ditempuh sekitar 30 menit naik mobil untuk kemudian menjelajahi kebun-kebun bunga di berbagai tempat di kota itu

Sayangnya saat itu bunga tulipnya belum tumbuh sempurna dan cuaca mendung setelah malamnya sempat hujan namun asyik juga bisa turun dari mobil, menikmati indahnya kebun pribadi milik orang. Flipper pun langsung bahagia melihat yang becek-becek. Jadi ingat, dulu saya sempat foto gaya di kebun gandum milik orang di dekat rumah, eh ditegur dan diinterogasi macam-macam sama yang punya 😀 Di sini kami dan beberapa pengunjung lain bisa foto-fotoan tanpa teguran (dan kami juga tidak merusak bunganya lho).

IMG_7151e
Wefie bersama Rurie (kiri) dan Novi (kanan).

Setelah puas foto-fotoan di kebun bunga daffofil kuning, kamipun pamit untuk kembali ke Jerman. Rurie family dan Novi, teman baru yang saya temui hari itu, melanjutkan perjalanan menjelajahi perkebunan bunga yang lain.

Terima kasih yang tak terhingga dari kami sekeluarga  untuk Van Sark family yang menemani kami berhari-hari, di Gouda, Den Haag dan Lisse. Maafkan bila ada yang kurang-kurang dan jangan lupa kedatangan kalian selalu ditunggu di tempat kami ❤

IMG_1999-1efiltered
Rurie, Peter dan Kana Van Sark.