Drama Baby


Semalam waktu tidur tiba-tiba terdengar bunyi crack dari bawah tempat tidur. Antara setengah bangun dan setengah tidur, kami abaikan saja suara itu. Paginya setelah makan pagi baru suami ngintip-ngintip ke kolong tempat tidur dan ternyata salah satu penyangga tempat tidur kami yang di tengah patah.  Suami punya ide untuk menumpuk beberapa buku di bawah tempat tidur sampai penyangga aslinya datang. Maklum di sini hari Minggu toko tutup semua. Dan tentu saja sayalah yang mendapat tugas  merangkak, ndlosor-ndlosor ke bawah tempat tidur menyusun buku-buku tebal termasuk Harry Potter.

Tiba-tiba masuklah si Flipper (usia 27 bulan). Melihat mamanya terlentang di bawah tempat tidur, hanya kakinya yang nongol di luar, tiba-tiba si Flipper panik menjerit-jerit memanggil mamanya. Saya saking kagetnya sampai kejeduk kepalanya. Flipper mungkin beranggapan bahwa mamanya sedang tertimpa, tergencet ranjang. Dia panik nangis-nangis sambil berlari mengitari tempat tidur berusaha mencari jalan keluar buat saya. Kaki sayapun tak lupa ditarik-tarik sambil tetap jerit-jerit ‘mama! Mama!’ Papanya yang jadi repot berusaha menenangkan si Fliper.

Saya geli campur terharu melihat reaksi Flipper. Saya jadi membayangkan, bagaimana seandainya saya sakit, kecelakaan, pingsan lama…tidak bisa bermain lagi dengan Flipper, tidak bisa  ngeloni Flipper, menyuapi makan, ngomel-ngomel… Dan tiba-tiba sayapun teringat tantenya suami saya yang baru saja meninggal setelah koma lama sekali. Saat mulai koma, anak satu-satunya baru saja berusia 3 tahun dan bulan lalu beliau meninggal begitu saja tanpa sadar dari 25 tahun komanya.

Di acara pemakamannya kemarin, si anak laki-laki yang  sekarang sudah berusia 28 tahun ini bercerita bahwa dia tidak punya ingatan sama sekali tentang ibunya sewaktu beliau masih sadar. Disuapi, main bersama, gendong mama… Nihil. Dia hanya bisa melihatnya dari beberapa foto, tapi tidak bisa mengingatnya. Sedih sekali saya mendengar ceritanya. Apalagi sejak ibunya jatuh sakit, ayahnya tidak pernah menikah lagi, jadi sampai sekarang dia tidak mengenal bagaimana kasih sayang seorang ibu.

Semoga Allah SWT mengijinkan saya untuk mengasuh, menemani Flipper sampai dia dewasa… Sampai dia memiliki kenangan  tentang mamanya baik yang indah maupun yang bagian diomelin. Amiiin…

Advertisements