Random Sunday- Ketika di Indonesia

Iyah, nggak terlalu random, ini cerita-cerita pendek  pas kita liburan 6 Minggu di Indonesia kemarin.

beach

Selama di Jogja, saya banyak wira-wiri dengan Grab dan Gojek, dimana saya nggak perlu lagi takut dikerjain argo sopir taxi dan nggak perlu ngrepotin mama untuk nganter kesana-sini (secara udah nggak berani nyetir si sini). So far saya selalu punya pengalaman bagus dengan sopir-sopir Grab dan Gojek, yang ada malah sering nggak enak hati sekaligus terharu karena banyak mas-mas yang mengucapkan terima kasihnya sampai terbungkuk-bungkuk bila dikasih tips apa adanya seolah saya ngasihnya 1 juta. Bahkan anak saya pernah sempat muntah di dalam mobil Grab tapi sopirnya nggak mau dikasih tips, saya bantu bersihin jok mobilpun, dia juga nggak mau.

Lalu pernah ada kejadian saya mendapat message seperti ini di henpun lokal saya. Critanya saya udah order Grab tp nggak jadi karena ternyata urusan nyokap di bengkel udah beres jadi bisa langsung pulang dengan mobil nyokap. Mau cancel ordernya Grab sebenarnya bisa tp saya pikir ah sudahlah, kasihan sopirnya udah jalan (di GPSnya juga kelihatan kalau sopirnya tadi extra muter arah untuk jemput saya), yawis titipkan saja biaya jasanya ke seorang bapak di bengkel. Saya nggak menyangka juga kalau bakalan dapat message dari pak sopir. Terima kasih doanya ya Pak, semoga Bapak juga selalu mendapat berkah dan lancar rejekinya ?￰Saya pasti akan kangen dengan keramahan dan ketulusan Jogja ini

grab

Masih tentang jasa transportasi. Kali ini ojek. Sebenarnya sih saya nggak asing dengan naik ojek. Di Jakarta dulu demi menghindari macet, ojek adalah langganan saya. Tapi naik ojek di Jogja memang baru kali ini dan sesuai dg semboyan kotanya, memang istimewa. Baik ojek online maupun ojek offline, sopirnya seneng banget ngajak penumpangnya ngobrol, dari sekedar apa kabar sampai curhat soal lebaran. Masalahnya nih, kita kan naik motor ya…bukan mobil. Susah lho ngobrol dg orang yg boncengin kita di tengah hiruk-pikuk jalanan apalagi pake helm cakil. Lebih serem lagi kalau sopirnya suka tolah-toleh ke kita, nggak lihat jalan saking semangatnya ngobrol. Mau dicuekin kok nggak enak juga.

Pas di Jogja pas suami sempat sempet beberapa kali fitness di Celebrity Fitness dan pada suatu hari pulang dari fitness dia curhat; pas ikutan body combat, di studionya semua pesertanya pada sibuk main henpun sampai instruktur bilang ‘yak mulai!’ Di cross trainer-pun banyak dijumpai mbak-mbak yang berjam-jam main di cross trainer, jalan super pelan-pelan sambil main henpun. Di atas treadmill pun juga demikian. Hebat ya, katanya. Multi tasking 😀

Tahun ini adalah Idul Fitri pak suami yang pertama di Indonesia. Bagaimana kesan dia? Ada beberapa komentar lucu, di antaranya; Pas hari H-Lebaran, abis shollat Ied, halal bihalal di masjid lalu acara makan opor dan ngobrol-ngobrol, kita semua somehow capek dan pada ketiduran. Pak suami bingung dan setelah pada bangun dia komentar: aku pikir Idul Fitri itu bakalan seharian pesta pake acara tari-tarian segala eh ternyata ada acara tidur siangnya. Enak juga ya…katanya. Yang kedua, pas main ke mall, kami bertemu teman lama saya sedang jalan bareng sekeluarga. Mereka pake baju batik kembaran dalam rangka lebaran. Komentar pak suami lugu: mereka peserta apa ya? Kok bajunya seragam?

Selama di Jogja nggak bisa shopping-shopping cantik atau bahkan window shopping sekalipun karena syusah shopping bawa balita (note: hubby hanya 3 minggu pertama di Indonesia). Sering sih main ke mall tapi di mall yang dituju kids entertainment doang karena memang public playground hampir nggak ada di sini. Di saat-saat seperti bisa bisa mendadak kangen rumah dimana kita bisa anteng shopping online sebanyak-banyaknya trus kalau nggak cocok ya bisa dibalikin sebanyak-banyaknya pula.

It’s not easy to go on holiday alone with what so-called strong-willed child. Go beauty shopping like dress, shoes or even souvenirs is impossible because at the end we will spend the entire time in a game station in the mall. Enjoying yummi food in restaurants is just an alien concept because what I have to do is to eat as fast as I can without finishing it before that child jump off her chair and go run somewhere to do whatever she wants to do. A thought to have beautiful mother-daughter moment; strolling along the seashore will stay as a thought because the fact was, I had to catch her here and there, yelled stops thousand times before she throw herself in the deep sea. At least we managed to enjoy one single beautiful sunset in Double-Six Beach without tantrum. And in this pic, I tried to tell her that iPad time is over, because I had finished my lunch already (yes, mama wanted at least once to enjoy her meal). You see her face. You know what happened next.

mecucu

Advertisements

Tentang Mimpi Yang Berakhir Di Borobudur

IMG_6905-1eS

90% mimpi-mimpi saya berlokasi di rumah lama keluarga di Pacitan. Doesn’t matter siapa saja yang berada di mimpi saya dan cerita di mimpinya apa, lokasinya ya di situ itu. Dari lahir sampai tahun 1994 saya memang tinggal di Pacitan. Dulu orang tua saya memiliki rumah besar berkamar enam yang sudah lama dijual secara kami tidak balik ke Pacitan lagi. Kemungkinan sih rumah tersebut oleh pemiliknya sekarang sudah direnovasi tapi karena sering melihat rumah itu di mimpi-mimpi saya, saya masih ingat semua detail di rumah itu. Saya sih lahirnya di rumah yang lain, tapi tinggal di rumah itu memang dari kecil banget, dimana orang tua saya membangunnya sedikit-demi sedikit dari keringat mereka. Saya bahkan masih ingat bagaimana bentuk awal rumah kami. Dapurnya berdinding bambu dan belum ada pintu permanennya. Di dalam mimpi saya, penampilan rumahnya sudah seperti yang terakhir kami tinggalkan di tahun 1994.

Kata beberapa teman sih saya harus mengunjungi rumah itu lagi karena sepertinya saya masih penasaran dengan rumah itu sehingga selalu muncul di mimpi. Hmm…penasaran apa ya? Saya sih memiliki masa kecil yang indah di situ tapi sepertinya tidak ada hal-hal tertentu yang saya ingin tahu di sana. Saya sendiri sudah beberapa kali main ke Pacitan setelah pindah. Terakhir tahun 2011 tapi terus terang belum pernah masuk ke rumah itu lagi. Cuman lewat doang di depannya.

Nah itu mimpi saya. Sekarang mimpinya Flipper.

Beberapa waktu yang lalu Flipper pernah tiba-tiba terbangun dari tidurnya menjerit ketakutan, sampai saya yang  waktu itu ketiduran di sampingnya ikut ketakutan (saya sih aslinya memang penakut hihi…). Saya nggak bertanya ada apaan malam itu, pokoknya langsung berpelukan lagi berusaha tidur lagi. Keesokan harinya barulah kita membahas hal tersebut dan Flipper bilang dia melihat ada schwarze Kopf (kepala hitam) di kamar. Buset, saya langsung merinding dong. Pada umur-umur segitu kan katanya anak-anak memang bisa melihat hal-hal yang orang dewasa nggak bisa lihat… hiiy! Sejak saat itu Flipper jadi susah diajak tidur, takut ada si kepala hitam itu, trus kalau pas kelonan dia juga nggak mau kalau saya membelakangi dia karena yg kelihatan jadi kepala/ rambut saya saja, yang hitam bikin dia ingat yang tidak-tidak. Kalau sama papanya sih nggak ngaruh karena papanya nggak punya rambut 😀

Flipper lumayan lama sih mengalami trauma tentang si kepala hitam itu. Setiap dia memasuki ruangan yang baru atau ruangan di rumah, matanya selalu scanning dulu ke seluruh penjuru ruangan, was-was apakah ada kepala hitam di pojokan. Sampai pada suatu hari ketika kita lagi nonton TV (entah tentang apa, saya lupa) dan ada figure patung Buddha yang terbuat dari batu hitam, sambil melonjak kaget, Flipper menuding ke layar TV, “Schwarze Kopf!” teriaknya. kamipun ikut kaget dan langsung menginterogasi si Flipper, emang si kepala hitamnya seperti itu bentuknya? Flipper mengiyakan. Saya pun langsung mengambil buku tentang Buddha dan buka-buka internet untuk memastikan ke Flipper apakah beneran itu yang dilihat. Flipper yakin seyakin-yakinnya. Terus terang saya lega mendengarnya, kalau memang itu yang dilihat berarti si kepala hitam itu baik hati dan tidak sombong dan dia (baca: saya juga) tidak perlu takut lagi. Lalu suami dan saya pun mulai ‘mengenalkan’ si Budda ini ke Flipper dan akhirnya memang membuat Flipper tidak takut lagi dengan si kepala hitam. Yang terjadi justru seblaiknya, dia ngefans berat sama si Buddha. Tiap melihat Buddha di display toko atau di majalah, dia heboh teriak-teriak, “Schwarze Kopf! Schwarze Kopf!”

Lalu sayapun berjanji kalau suatu hari kita akan pergi ke ‘rumahnya’ Buddha, di Borobudur Indonesia. Melihat foto Borobudur di Internet dengan sekian banyak patung Buddhanya membuat Flipper sungguh antusias dan ketika akhirnya bulan Juni kemarin kita beneran bisa mengunjungi Borobudur, wow! saya masih ingat betapa berbinarnya  wajah Flipper ❤

IMG_6880-1eS.jpgIMG_6848-1eS.jpg

Saat itu empat hari sesudah lebaran, pengunjung di Borobudur sangatlah banyak namun Flipper tak patah semangat memanjat sendirian hingga puncak di arus pengunjung yang padat merayap. Di sepanjang putaran Borobudur Flipper katawa-ketawa sendiri saking senangnya. Dia juga tidak keberatan difotoin terus sama mama (biasanya dia kalau sudah 2-3x jepret nggak semangat lagi kalau difoto). Sayangnya padatnya pengunjung pada hari itu membuat pemotretan jadi agak susah.

IMG_6805-1eSIMG_6815-1eSIMG_6821-1eSIMG_6823-1eSIMG_6824-1eSIMG_6835-1eSIMG_6847-1eS

IMG_6858-1eS
Berusaha menjamah Buddha di dalam stupa tapi tidak berhasil. Ya sudah ngemil saja 😀

Entah sampai kapan Flipper akan stay dengan Buddha euphoria -nya ini. Semoga di lain waktu dia masih semangat untuk mendaki Borobudur, menikmati salah satu harta berharga Indonesia tanpa harus umpel-umpelan dengan orang lain. Atau mungkin suatu hari lagi dia bakalan mengalami mimpi yang lain lagi, yangg tak kalah menarik sehingga kami bisa mengunjungi tempat yang lain lagi? Yang mamanya juga belum pernah melihat? *ngarep.

Bagaimana dengan kamu? Apakah mimpimu spesial? Mungkin mimpimu selalu hitam-putih? Atau selalu ada mimpi yang sama yang datang secara berkala?

3x Perayaan Ulang Tahun si Flipper Yang ke-4

1Ini merupakan late post tentang ulang tahun si Flipper bulan Juni kemarin. Nggak terasa si Flipper sudah berulang tahun lagi padahal rasanya baru minggu lalu kita merayakan ulang tahun ke-3 dengan tema gajah. Waktu berlalu cepat, sangat cepat malah. Ulang tahun Flipper kali dirayakan 3 kali, bukan bermaksud mewah-mewahan tapi memang keadaan yang tidak memungkinkan untuk merayakannya sekalian.

PRINCESS BIRTHDAY PARTY DI RUMAH

Untuk perayaan ulang tahun yang ke-4 pas hari- H nya yaitu tanggal 20 Juni, saya tidak membuat banyak pernak-pernik seperti tahun lalu. yang diundangpun hanya 5 anak (tanpa orang tua) karena keesokan harinya dia merayakannya di TK dan  lusanya, tanggal 23 Juni kami terbang ke Indonesia. Jadi lumayan ribet dan bercabang-cabang pikiran saya, alhasil saya bikin yang simpel-simpel saja untuk acara ultahnya.

Tahun ini Flipper minta tema princess yang (untungnya) nggak specific princess apaan, pokoknya princess aja. Karena tema princess, jadi yang diundang ya hanya cewek-cewek saja. Di undangan ditulis kalau mau si anak bisa mengenakan pakaian princess ke ultah Flipper. Tapi karena cuaca hari itu lumayan panas, baru beberapa menit mengenakan gaun, beberapa anak mengganti gaun princess-nya dengan baju biasa.

Seperti biasa untuk ulang tahun Flipper, saya selalu usahakan untuk membuat kue sendiri namun kali ini berbeda dengan kue-kue sebelumnya yang bergaya standard,  kuenya agak challenging yaitu kue berbentuk princess dengan kepala si Barbie. Kue ini lumayan trend banget sih kayaknya, beberapa kali melihat di FB feed dan juga di Pinterest. Tapi alhamdulillah meskipun bentuknya belum sempurna, overall menurut saya not bad…rasanyapun enak. Muji diri sendiri nggak papa ya 😀

cakeS
The Birthday Cake.
InvitationS.jpg
Princess Birthday Party Invitation.
2a.jpg
Acara berlangsung di halaman belakang.

Pada pukul 3 sore anak-anak datang diantar oleh orang tuanya. Di undangan sudah disebutkan kalau acara berlangsung sampai pukul 6 sore dan anak-anak mendapat makan malam di rumah. Setelah semua anak berkumpul, kita menyanyikan lagu ulang tahun dan makan kue. Selanjutnya ada acara main-main dan seperti biasa, buka kado.

7.jpg

6

Ternyata ‘menghadapi’ lima anak cewek tanpa orang tuanya, lumayan bikin stress juga. Ada dua anak di sini yang stubborn, kalau dikasih tahu ini itu nggak mau dengerin. Si A ngeyel pengen main di kamar Flipper sedangkan dari awal sudah saya tegaskan bahwa area bermain hanya di halaman dan ruang tamu jadi A tidak boleh naik ke atas main ke kamar. Eh tiba-tiba saja dia dan B tanpa saya ketahui sudah menyelinap ke atas dan jingkrak-jingkrak semaunya. Pas disuruh turun keduanya malah nyolot, marah. Lalu ada satu anak lagi ynag makan terus, bahkan jatah temannya ikut dimakan sehingga temennya marah hihi… Untungnya nggak ada yang sampai nangis dan gulung-gulung di lantai sih haha…

Waktu itu saya juga tidak sepenuhnya sendiri sih, ada salah satu mami yang juga teman baik saja ikut mengawasi anak-anak. Pak suami datang dari kantor baru sekitar jam 4.30 sore. Jam 5.30 kita makan pizza bersama-sama sampai anak-anak dijemput orang-tuanya masing-masing.

Bungkus-MitgebselS
Goodie bagsnya masih memakai sisa tahun lalu, kebetulan warnanya pas untuk tema princess.
MitgebselS
Seperti biasa isi goodie bags anak.anak TK di sini sederhana saja. Punya Flipper isinya cukup Oreo, set pensil warna, washi tapes and sticker binatang.
5
Para princess foto bersama.


BIRTHDAY PARTY DI TK

Ultah Flipper di TK diadakan pada tanggal 21 Juni, sehari setelah perayaan di rumah. Sebenarnya merayakan ulang tahun di TK bukanlah suatu kewajiban tapi kasihan saja Flippernya kalau tidak dirayakan karena dia dari bulan-bulan sebelumnya, setiap ada temannya yang ultah di TK, dia selalu bertanya, “ultahku di TK masih lama ya ma?”. Bagusnya, merayakan ultah di TK tidak perlu neko-neko, cukup membawa snack yang gampang. Biasanya sih ibu-ibu di TK memberi kue, menu sarapan ( roti, selai, mentega, daging asap, telur, etc), buah-buahan atau bahkan cukup es saja bila anaknya merayakan ultah di TK. Ada panduan makanan apa saja yang boleh dan tidak boleh dibawa ke TK dan muffin termasuk yang sering dibawa oleh ibu-ibu karena aman dan gampang. Sayapun hanya membawa muffin saja pada hari itu.

Mengingat keesokan harinya kami sudah harus terbang ke Indonesia, saya sempat memutuskan untuk merayakan ultah di TK nanti saja setelah pulang dari Indonesia, supaya tidak kerepotan tapi mengingat beberapa teman TK Flipper sudah tidak berada di TK lagi ketika kita balik dari liburan nanti (mereka sudah masuk SD), maka sayapun mengambil jalan singkat, membeli muffin yang sudah jadi sesuai jumlah anak di grup Flipper dan merayakannya sebelum liburan, beres. Kali ini saya ikut perayaan ultah Flipper di TK karena setelah acara yang berlangsung 1 jam itu selesai, saya segera ajak Flipper pulang ke rumah untuk persiapan liburan kita.

IMG_8518s
Flipper mengenakan mahkota yang dibuat teman-temannya rame-rame.
IMG_8523s
Jadi ‘bintang’ di grupnya untuk 1 jam 😀
IMG_8526s
Dapat kado dari bu gurunya.
IMG_0054s
Mainan kayu yang critanya sebagai isi goodie bags ultah Flipper di TK tapi ngasihnya setelah kita pulang dari Indonesia (hari ini). Belinya di pasar Beringharjo. Murah meriah dan anak-anak pada seneng, bisa main musik rame-rame 😀


BIRTHDAY PARTY SUSULAN DI INDONESIA

Senang sekali waktu di Indonesia Flipper bisa merayakan ultahnya lagi bersama mbah putri, mbah kakung, tante, om dan sepupu-sepupunya. Selain itu alhamdulillah kami turut mengundang anak-anak dari yayasan anak yatim terdekat untuk ikut merayakan ultahnya Flipper.

Acara kali ini dirayakan di sebuah restoran dekat rumah yang bangunannya ala pendopo, alias terbuka tidak ada AC-nya. Cuaca hari itu lumayan panas, nggak ada angin sehingga Flipper agak rewel. Selain itu banyaknya tamu yang datang juga membuat Flipper kaget dan rewel karena harus salaman dengan banyak orang. Biasanya kan kita kalau merayakan ultah dia yang datang tak pernah lebih dari 10 orang 😀 Tapi alhamdulillah kerewelan itu tak berlangsung lama. Flipper bahkan ikut sholawatan, nyanyi-nyanyi dengan lafal semau dia 😀

7a
Ngobrol dulu sama mbah putri sebelum para undangan datang.
8
Teman-teman dari yayasan anak yatim.
9
Flipper ikut semangat sholawatan 🙂
10
Suapin mama maem.
11
Suapin papa juga. Ih papa makannya banyak!
12
Suapin mbah putri nasi kuning.
13
Menu makannya. Nom!
14
Goodie bags berisi alat tulis/ gambar dan snack box.
15
Foto bareng-bareng.

Alhamdulillah ya nak, kamu sudah berusia empat tahun sekarang. Masih lucu, masih suka nyanyi keras-keras meksipun salah, masih suka ngambek, masih keras kepala juga tapi sudah bisa diajak diskusi, kerja sama dan ngobrol enak. Sehat selalu ya nak… nothing I wish for your future but be yourself and be happy ❤

Buku Anak-Anak ‘Indahnya Negeriku’

Waktu di Frankfurt Book fair kemarin, saya membeli beberapa buku anak-anak berbahasa Indonesia buat si Flipper, salah satunya adalah buku ‘Indahnya Negeriku’ – Berpetualangan bersama Ella dan Eza dari penulis Fitri Kurniawan dan Watik Ideo (Penerbit: Bhuana Ilmu Populer). Buku yang rupanya bilingual ini (Indonesia dan Inggris), mengisahkan tentang dua kakak beradik Ella dan Eza yang berwisata berkeliling Indonesia ke 13 kota dari Sumbawa sampai ke Sulawesi Utara.

IMG_0605-4eS

Menurut saya ceritanya standar saja. Di setiap kota yang disinggahi, mereka bertemu dengan kenalan baru yang mengenalkan mereka dengan budaya setempat seperti tari-tarian, kerajinan tangan dan makanan dengan latar belakang ilustrasi rumah adat mereka. Saya sebut standar karena informasi-informasi pendek seperti ini seingat saya sudah ada di buku pelajaran jaman SD atau SMP dulu yang saya yakin saat inipun masih ada. Tapi dengan illustrasi penuh warna dan teks non-formal membuat buku ini tentu saja lebih menarik dari buku pelajaran sekolah.

Yang lebih menarik lagi  -dan tidak ada di buku pelajaran- adalah pengenalan makanan setempat di setiap kota yang mereka singgahi.  238 halaman, 13 kota, 19 ilustrasi makanan (38 halaman), nom! Waktu suami saya baca buku ini komentar pertamanya adalah, “pantas saja orang Indonesia suka makan.” Yup, pengenalan makanan sejak dini! Bisa jadi dia iri hati juga karena kulinari Jerman tidak sekaya kulinari di Indonesia.

Berikut ini beberapa foto halaman makanan di buku Indahnya Negeriku 😀

IMG_0610-9eS
Ikan gabus kuah kuning, makanan khas Papua
IMG_0611-10eS
Makan wadi, makanan khas suku Dayak sambil membahas senjata Sipet dan Mandau
IMG_0608-7eS
Eza kelaparan dan membayangkan masakan khas Lombok
IMG_0609-8eS
Tahu tek dan rujak cingur. Hayo makanan khas mana itu?
IMG_0607-6eS
Makanan khas suku Bima, ikan kuah sepat, gecok, ayam bakar taliwang dan rambangan terong

Kunjungan ke Frankfurt Book Fair 2015

Hajat tahunan Frankfurt Book Fair yang digelar selama lima hari akhirnya selesai juga hari Minggu kemarin. Konon banyak buku-buku yang diobral bahkan gratis di hari terakhir (Minggu 18 Oktober 2015). Sayangnya saya datang hanya di hari Sabtunya saja, jadi tidak kebagian obralan. Tapi lumayan juga sih, mendapat buku-buku kortingan setelah tawar menawar tingkat tinggi dengan di beberapa stand penerbit. Untung suami saya tidak ikut masuk ke pameran buku ini, dia suka malu mendapati istrinya nggak tahu malu tawar-menawar harga 😀

Indonesia menjadi tamu kehormatan di acara Franfurt Book Fair tahun ini dengan fokus utama penulis-penulis wanita Indonesia yang menyinggung topik tabu seperti seks dan agama dalam karya-karya mereka. Jauh hari sebelum hajatan literatur terbesar di dunia ini dibuka, berita tentang kultur, budaya dan literatur Indonesia sudah banyak menghiasi beberapa media di Jerman. Di samping berita tentang kehadiran Salman Rushdie di acara pembukaan pameran dan boikot dari negara Iran karenanya, tentunya.

Frankfurt Book fair dibuka untuk umum pada dua hari terakhir, 17 dan 18 Oktober 2015. Tiket masuknya berharga 18,00 Euro sehari, yang termasuk normal untuk tiket pameran berkelas internasional seperti ini. Khusus untuk refugees, yang saat ini sedang ramai-ramainya membuat pemerintah dan warga negara Jerman pusing tujuh keliling, mereka mendapat fasilitas masuk gratis.

Saya lumayan menyesal hanya datang di hari Sabtunya saja. Bukan masalah obralan buku di hari terakhir, namun karena saya belum khatam mengelilingi semua halls dan stand. Hari itu saya hanya berkonsentrasi pada jadwal acara dari Indonesia dan mencari buku anak-anak sedangkan sebenarnya ada lebih dari 7000 peserta pameran dari 100 negara yang rutin mengikuti Frankfurt Book Fair. Tapi not bad juga sih, semua target saya terpenuhi; melihat acara tanya jawab Laksmi Pamuntjak dan Leila S. Chudori, menemui senior jaman kuliah Beng Rahardian dan Eko Nugroho-para komikus kondang tanah air, mengikuti acara interview Andrea Hirata dan tentunya membeli beberapa buku anak berbahasa Indonesia yang tidak bisa saya dapatkan di sini -itupun pilihannya terbatas karena sebenarnya hari Sabtu itu belum diadakan transaksi jual beli. Oh ada satu acara yang tak bisa saya ikuti karena saya datangnya telat, acara show cooking-nya Chef Vindex!

Bersama-teman-teman di depan stand Mizan. Saya yang berbaju kuning.
Bersama-teman-teman di depan stand Mizan. Saya yang berbaju kuning
kolaseS
Beberapa buku anak-anak yang saya beli
Kolase Mila
Flipper menyukai buku-buku barunya terutama yang seri Odong-Odong karya Iput dan Oyas. Setiap ada kesempatan dia selalu membacanya

ANDREA HIRATA

Andrea Hirata untuk ketiga kalinya kembali diundang untuk menghadiri Frankfurt Book Fair, sebuah pameran buku terbesar di dunia. Seperti yang sudah saya tulis sebelumnya, saya sempat mengikuti interview Andrea Hirata di booth milik stasiun TV Jerman 3Sat. Sempat bangga juga saya melihat bangku penonton langsung penuh begitu session Andrea Hirata tiba. Dan serunya lagi, 95% penontonnya bukan orang Indonesia padahal buku-buku Andrea Hirata baru ada versi bahasa Jermannya sejak bulan September kemarin. Di Amazon.de buku Laskar Pelangi yang dalam bahasa Jermannya  Die Regenbogentruppe mendapat review 4,5 dari total 5 dari para pembacanya. Yay!

Dulu waktu saya masih baru-barunya di Jerman (tahun 2007), buku Andrea Hirata belum ada yang diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman dan setiap kali ada yang bertanya kepada saya tentang pendidikan di Indonesia, saya selalu menyelipkan cerita dari bukunya Andrea, tentang perjuangan Ikal dkk. dalam menempuh ilmunya. Teman-teman saya yang kebanyakan lahir dan besar di Jerman sangat tertarik dengan Laskar Pelangi dan banyak bertanya tentang kebenarannya, bagaimana dengan sistem pendidikan pada umumnya di Indonesia dan bagaimana dengan sekolah saya sendiri. Apalagi saat itu di Jerman sedang ramai-ramainya demonstrasi mahasiswa yang tidak puas dengan  fasilitas di Universitas Negeri yang kurang dan buku-buku diktatnya yang mahal. Teman-teman yang sudah kena setrum cerita Laskar Pelangi inipun kemudian berkata betapa kurang bersyukurnya mahasiswa di Jerman yang berdemo itu karena biaya kuliah di Jerman sebenarnya termasuk yang paling murah di dunia, bahkan biaya sekolah sampai SMA pun gratis. Dan buntutnya mereka ingin sekali membaca buku Laskar Pelangi. Tahun ini harapan mereka akan saya kabulkan!

Dalam interview di stasiun 3Sat kemarin, Andrea Hirata sempat diminta untuk mendeskripsikan bangsa Indonesia yang complex ini hanya dalam 3 kalimat pendek. Menurut Andrea, bangsa Indonesia itu toleran, bangsa Indonesia itu suka belajar dan yang terakhir, bangsa Indonesia itu suka tersenyum yang disambut dengan senyum lebar para pengunjung. Pembawa acara cantik yang mewawancarai Andrea Hirata juga sempat menanyakan seberapa penting pengaruh  magic di Indonesia karena dalam buku Sang Pemimpin (Jerman: Der Träumer) ada bagian di mana Ikal menuliskan harapannya di secarik kertas yang digantung di sebuah layang-layang. Menurut Andrea Hirata magic merupakan bagian dari kultur Indonesia dan  sebagai seorang penulis cultural fiction, memasukkan unsur-unsur magic itu baginya merupakan hal yang penting.

Yang paling lucu adalah ketika Andrea Hirata membacakan bagian dari buku Sang Pemimpi yang sudah ada versi bahasa Jermannya juga, tentang asal-usul namanya (Andrea Hirata sempat ganti nama 9 kali!) yang sayangnya tidak diterjemahkan secara lengkap oleh si penerjemah sehingga pemirsa non-Indonesia tidak bisa ikut cekikikan seperti saya. Video tentang interview Andrea Hirata ini bisa dilihat di websitenya 3Sat.

Andrea Hirata
Andrea Hirata di stasiun TV 3Sat booth

Setelah interview usai, saya dan dua orang teman saya langsung bergegas ke backstage, mau minta tanda tangan dan foto bareng. Rupanya di sana sudah banyak orang yang antri, kebanyakan mahasiswa dari Indonesia. Andrea Hirata sempat bertanya apakah ada dari kami yang memiliki bukunya dalam versi bahasa Jerman. Sayangnya kami belum punya tapi saya janji mas, saya akan segera beli buku itu secara dari dulu saya memang sudah tidak sabar, ingin teman-teman Jerman saya membaca buku itu.

Andrea Hirata orangnya sangat ramah, sedang sibuk-sibuknya sesi tanda tangan, dia sempat-sempatnya bercerita kalau editornya masih lajang. Maksudnya maaas? 😀