Good to be back here again, Mallorca – Part 2

Juhuu…  setelah selingan beberapa cerita di postingan sebelumnya, yuk kita lanjutkan cerita tentang liburan di Mallorca kemarin sebelum saya lupa semua. Jadi buat saya, tujuan nulis blog ini selain buat berbagi pengalaman (siapa tahu ada yang tertarik), juga sebagai diary buat saya, supaya saya nggak lupa dulu pernah ngapain aja, kemana aja. Syukur-syukur bisa diulang lagi liburannya.

Kemarin postingan di Mallorca Part 1 berakhir di kota Cala d’Or, kali ini masih di situ juga karena memang banyak banget tempat asyik di Cala d’Or dan sekitarnya jadi kita tuntaskan dulu perjalanan di Cala d’Or dan sekitarnya sebelum berlanjut ke kota tujuan ketiga.

Monacor

Kota Monacor terletak sekitar 30km dari Cala d’Or. Niat kita ke kota tetangga ini sebenarnya cuman mau nyuci baju di self-service laundry karena di apartemen-hotel concept kami, tarif laundry-nya muahiil. Dan secara bawa anak kecil, kebayang kan berapa kali dia harus ganti baju sehari. Saya mah minta ampun saja kalau musti ngucek pake tangan. Biaya washing dan drying di sini, untuk 6kg cukup 6€ saja, sementara kalau di hotel tarif untuk satu kaus 5€. Nah sembari nunggu laundry kelar, kami jalan-jalan di sekitar situ.

Letak self-service laundry ini berada di pusat kotanya Monacor di mana terdapat pasar terbuka yang isinya dari jualan burung sampai baju. Sementara Flipper sibuk mengamati burung-burung dengan papanya, saya muter-muter lihat pasar yang hanya buka sampai jam dua siang. Siesta time. Kami sempat juga tersesat di gang-gang yang sepi di kota tersebut. Untungnya meskipun sepi, gangnya cantik. Secara keseluruhan sih, nggak ada yang menarik dengan kota ini. Etapi kami hanya mengitari daerah seputar pusat kota aja lho ya.

2775s2779s

12
Si Flipper terpukau dengan mesin cuci yang gede-gede.
11
Sibuk mengamati burung.
9
Pasar Monacor.

Portocolom

Salah satu result dari pencarian kota-kota worth to visit di sekitar Cala d’Or menurut Google adalah kota Portocolom yang hanya berjarak 12 km dari Cala d’Or. Kota itu terkenal sebagai kota nelayan kecil yang sepi tapi indah, maka kamipun ke sana. Kotanya ternyata beneran sepi, nggak banyak turis. Kami sempat menyusuri pelabuhan kecilnya dan nemenin Flipper makan es di satu-satunya warung es krim di sana.

2821

2823

2819

Setelah lempar-lempar kerikil ke air, kamipun mulai bosan dan memutuskan untuk mencari pantai. Dari pelabukan Portocolom kami bisa melihat ada sebuah pantai di ujung horison dan hubby mikir kita bisa kesana jalan kaki saja, tinggal muterin pelabuhan, katanya. Untung saya menolak karena waktu itu puanas dan ternyata yang konon sekadar ‘muterin pelabuhan’ itu jauh boo… Untung jadinya naik mobil. Nama pantai yang kami lihat dari pelabuhan tadi apadah Cala Marcal

Pantai Cala Marcal

Buat yang nggak bisa lepas dari sosmed, pantai ini penting karena di sini ada free wifi-nya. Buat saya, pantai ini juga penting banget karena ada proper toiletnya, yang artinya toiletnya berada di bangunan tembok dengan air bersih yang mengalir. Tidak semua pantai di Mallorca memiliki fasilitas tersebut, kebanyakan adanya toilet box yang panas itu, nggak ada airnya, dan kadang bauu! Makanya saya suka enggan pipis di sini. Atau numpang pipis di restoran terdekat juga bisa sih cuman kalau pantainya di pedalaman ya nggak ada resto/ warungnya.

Di sini kami beruntung banget, dapat ‘hibahan inflatablemattress dari turis yang mau pulang ke Jerman dan nggak butuh mainannya lagi sehingga Flipper dan papanya bisa happy berlayar dengan pelampung kasur (not sure apa terjemahannya yang bener hihi…) itu.

Saya rasa ini semacam etik berlibur ya karena ini bukan pertama kalinya kami dapat hibahan beach stuffs dari orang yang sudah selesai berlibur. Dulu di Turki Flipper juga sempat dapat hibahan mainan pasir (cetakan, ember, sekop, etc) dari stranger. Kamipun kalau space di koper mepet juga nggak bawa mainan pantai dari Jerman, mending beli di kota tujuan lalu kalau kami udah mau balik ke DE, dikasih aja ke random turis yang kira-kira butuh dan so far yang dikasih seneng banget.

2834s
Can you spot si boss Flipper lagi nangkring di atas pelampung kasur, didorong papanya? 😀

2835s

ALCUDIA

Setelah menginap 5 hari di kota Cala d’Or, kamipun  pindah lagi ke kota tujuan terakhir kami, Alcudia. Perjalanan dari Cala d’Or ditempuh sekitar 1, 5 jam untuk jarak 70km. Jalannya sebenarnya tidak terlalu berbelok-belok tapi banyak jalan tikusnya, alias sempit. Dalam perjalanan ke Alcudia ini Flipper sempet mabuk darat, muntah-muntah jadi kitapun istirahat dulu di pinggir jalan. Berhubung ini mabuk pertamanya Flipper, dia sempat panik dan bingung gitu pas muntah. Dia bertanya kenapa kok muntah padahal dia nggak makan coklat banyak dan nggak makan cabe hihi… Ceritanya, dia dulu memang pernah muntah karena kebanyakan coklat tapi kalau soal cabe, entah dari mana dia mendapat kesimpulan seperti itu.

13

Istirahat di pinggir jalan setelah mabuk darat.

Alcudia ternyata lebih touristy dibanding Cala d’Or. Baru masuk kotanya aja sudah kelihatan gedung-gedung tinggi dengan nama-nama chain hotels di pinggiran jalan. Hotel kita untungnya nggak berada di main street, agak menepi sedikit, berada tepat di pingir danau. Kali ini si D salah booking karena kebanyakan tamu hotel di sini manula, ngga ada anak kecil sama sekali kecuali Flipper. Di sini nggak ada acara mini disco, adanya   Elvis night dan Bingo game. Flipper sempat ikutan nonton live music Elvisnya dan komentarnya: why on earth orang ini gemeteran kakinya? Haha… Kebanyakan tamu di hotel ini sini orang Jerman dan orang Spanyol. Dari ketiga hotel yang kami inapi, makanan di sini paling enak dan variasi menunya tidak membosankan.

14

Karena Alcudia berada tak terlalu jauh dari Cap de Formentor dan kami juga masih jatuh cinta dengan perjalanan menuju Cap de Formentor delapan tahun yang lalu, kali ini kami memutuskan untuk ke sana kembali supaya Flipper juga bisa menikmati indahnya Cap de Formentor ynag terkenal itu.

Apaan sih sebenarnya Cap de Formentor itu? Bersambung lagi ya teman-teman… Maaf, bukannya bermaksud bikin penasaran, tapi saya musti sortirin foto-fotonya dulu hihi… Janji deh, kali ini nggak pake lama! 😀

Much love,

-beth-

Advertisements

Winter Wonderland in Willingen

Weekend kemarin kami berlibur ke kota Willingen, sebuah kota yang terkenal dengan winter activity-nya. Hubby dan saya sudah beberapa kali ke kota ini tapi untuk Flipper, ini adalah kunjungan yang pertama kali. Selama ini kami selalu datang ke Willingen di saat musim dingin, ketika kangen dengan salju. Maklum kota tempat tinggal kami termasuk kota paling hangat di Jerman sehingga di musim dingin, meskipun dingin njekut seperti saat ini, salju datangnya cuman sauprit. Selama musim dingin kali ini, salju baru turun sekali di tempat kami itupun tak terlalu tebal dan tak tahan lama, hanya sehari lalu semua hilang lagi menjadi becek.

Dari kota kami sebenarnya jarak ke kota Willingen bisa ditempuh hanya 2,5 jam saja tapi karena hari Jumat kemarin macet total hingga, jadinya molor menjadi 4,5 jam. Salju yang turun lebat plus banyaknya kendaraan yang menuju Willingen menjadi biang kerok kemacetan ini. Oh iya saat macet itu Flipper sempat tantrum minta jajan, sedangkan jajan yang sudah saya siapkan di box sudah habis dicamilin sama dia. Alhasil sayapun musti keluar dari mobil mengambil Oreo di bagasi belakang. Melihat saya menenteng kemasan besar Oreo, pemilik mobil di  belakang kami mainin lampu, ngasih kode minta Oreo juga, sayapun dengan senang hati bagi-bagi Oreo juga ke mereka. Jadi ingat penjaja tahu goreng dan Aqua di jalanan di tanah air sana deh haha!

Berikut ini foto selama di perjalanan yang saya ambil dengan iPhone 6 dan Samsung S7 Edge  #takenfromacar (klik tiap foto untuk penampilan lebih jelas)

Kota Willingen sendiri memang ramenya hanya pada musim dingin saja dimana banyak turis datang untuk main ski. Meskipun tidak seterkenal ski resort di Alpen sana, di Willingen setiap tahunnya diadakan pertandingan ski-jumping yang diadakan oleh International Ski Federation. Saya sih tidak bisa main ski dan somehow tidak tertarik untuk belajar (takut jatuh, ha!). Seringnya hanya naik skilift menuju cafe di puncak gunung yang isinya rame dengan pengunjung ski lalu turun lagi setelah kenyang. Masih ingat deh saya waktu pertama kali naik skilift yang model terbuka gitu,  jari-jari tangan saya sampe freezing nggak bisa dipake motret meskipun sudah mengenakan sarung tangan. Padahal perjalanan dari bawah ke atas gunung itu nggak terlalu lama, around 15 menit saja, haha. Saat itu, tahun 2006 memang untuk pertama kalinya saya berhadapan dengan salju dalam hidup saya.

Selain naik turun di pegunungan ski tanpa ikutan ski, hiking  juga menjadi kegiatan favorit saya. Holiday house milik mertua ini ada di pinggiran kota, dari sini ada 3 jalan menuju pusat kota; melalui jalan raya normal atau jalur hiking lewat pegunungan di belakang rumah. Jalur hikingnya sendiri ada dua rute yang bisa ditempuh para pejalan kaki yaitu yang 1,5 sampai pusat kota atau agak memutar 3 km sampai sana. Kemarin ini sayangnya jalur yang 3 km tertutup salju tebal dan karena medannya tidak memungkinkan, tidak bisa dibuka jalurnya oleh mobil pengeruk salju yang banyak mondar-mandi di kota ini. Padahal pemandangan dari jalur 3 km ini lebih asyik. Tapi ya sudahlah, mengingat salju setinggi 40 cm, tebing-tebing yang tak kelihatan serta adanya toddler yang super aktif…mending kita lewat jalur pendek saja pulang-pergi.

Berikut ini foto-foto selama hiking:

2423

2437

2427

2448

Di foto ini holiday house kami hanya terlihat atapnya saja, di sebelah kanan agak bawah.

2440

Kami selama dua kali hiking kemarin selalu berangkat ke pusat kota jam 10 pagi, sesudah sarapan. Dengan toddler perjalanan 1,5km bisa ditempuh 2-3 jaman pake acara bangun snow man, lempar-lemparan salju, sekedar guling-gulingan di salju dan main perosotan dengan slide-nya.

img_5396-1s

img_5404-1s

img_5446-1s

Suhu yang berada di pusaran -5 sampai 3 derajat celcius saat itu tidak terasa dingin bagi kami karena selain mengenakan baju yang sesuai, kami  juga aktif bergerak. Yang ada malah keringatan. Cuaca memang perfect saat itu, meskipun matahari jarang keluar namun tidak ada angin. Sesudah jalan sih biasanya saya jadi lapar berat :D.

Sampai di pusat kota Willingen, kami window shopping sebentar lalu mencari makan siang di restoran atau sekedar makan kue dan ngupi di kafe. Setelah itu melanjutkan perjalanan pulang melalui jalur yang sama. Di bawah ini suasana kota Willingen yang berpenduduk sekitar 6.000 orang. Oh iya, di sini, meskipun termasuk ‘desa’ ada supermarket yang buka di hari Minggu. Something uncommon in Germany.

2468

2469

1091

img_4898esimg_4899es

Setelah sampai di penginapan lagi, si Flipper tidak bisa bertahan lama main di dalam rumah. Setelah main sebentar dan snacking lagi, dia lalu usrek minta mainan salju lagi di luar. Kamipun keluar lagi. Pokoknya 3 hari kemarin benar-benar hanya kami gunakan untuk berkecimpung dengan salju.

img_5004es
Nggak sabar pengen keluar rumah.

img_4930es
Mendaki tumpukan salju di depan penginapan.

img_5479-1s
Main di lapangan sepak bola yang tidak kelihatan lapangannya.

Senin sore kita balik ke rumah lagi. Sampai di rumah, suhu ternyata lebih rendah dari dataran tinggi Willingen. Uadem pol dan tidak ada salju. Untungnya matahari selalu bersinar cerah di sini jadi sama-sama asyik lah. Di sini tidak banyak orang yang suka salju. Kalau anak-anak sih pasti suka tapi kalau para dewasa biasanya suka mengeluh karena jalanan jadi macet, public transport banyak yang mengalami kendala dan orang yang tinggal di rumah berhalaman dan bertrotoat musti rajin-rajin ngerok salju di depan rumah mereka karena kalau sampai ada orang yang jatuh terpeleset di situ (pak pos misalnya), maka yang bertanggung-jawab adalah yang tinggal di situ.

Kamu yang tinggal di negara empat musim, lebih suka winter yang bagaimana?

Foto-foto di Willingen ynag lain bisa dilihat di Flickr saya ya 🙂

-beth-

Short trip ke kota kecil Monschau.

2300s.jpg

2305s.jpg

Saya tahu tentang kota Monschau untuk pertama kalinya di sebuah film di televisi tapi karena film fiksi ya nama kotanyapun fiksi (maaf judul filmnyapun lupa, pokoknya film Jerman deh… ). Waktu itu saya sudah tertarik dengan kota tersebut. Setelah baca blognya Deny yang ini baru ngeh bahwa ternyata kota yang di film itu namanya Monschau dan kebih mengejutkan lagi, letaknya hanya satu jam-an dari rumah kami.

Pas memperlihatkan blognya Deny ke suami, dia malah bilang: eh ini kan kotanya nggak jauh dari sini. Lho la iya, kenapa saya nggak pernah diajak ke sana? Nggak kepikiran, katanya. Iya, biasanya mata kita memang lebih sering melihat yang  jauh-jauh, yang dekat-dekat malah terlupakan atau kalaupun ingat pasti ditunda-tunda dengan alasan ‘ah dekat ini, nanti saja belakangan’. Tapi kali ini kami tidak mau menunda untuk pergi ke Monschau, keesokan harinya, di sebuah hari Minggu di bulan Mei (iya, ini #latepost), kamipun pergi ke Monschau.

Monschau adalah sebuah kota kecil yang terletak di distrik Aachen Jerman yang tak jauh dari perbatasan negara Belgia dan Belanda. Ciri khas kota ini adalah rumah-rumahnya yang bergaya ‘half-timbered houses’ yang hampir tidak berubah gayanya dari 300 tahun yang lalu. Kebanyakan bangunan unik ini dijadikan pertokoan yang tetap buka di hari Minggu dan juga untuk penginapan.

2292s

2301s

2306s

2312s

 

Mengelilingi kota Monschau tidak akan memakan waktu lama karena memang kotanya kecil. Untuk pengunjung, terdapat beberapa tempat parkir luas sebelum memasuki kota tersebut. Anak-anakpun bisa berlarian bebas di sepanjang jalan berbatu karena memang tidak ada kendaraan yang berlalu-lalang kecuali sepeda dan kendaraan bermotor milik penghuni di sana yang sangat mengutamakan pejalan kaki. Oh iya, ada juga kereta wisata yang lewat. Tarifnya kereta ini €6,00/ person. Mahal menurutku. Apalagi bila dibandingkan dengan kereta wisata di kota Arco Italy yang tarifnya hanya €2 mengelilingi kota tua yang lebih besar dari Monschau selama 30 menit.

2310s

2287s
Sebuah gubuk di pinggir sungai. Entah ada penghuninya atau tidak.
IMG_3061-1e
Flipper bergaya di depan rumah orang.

Foto-foto kota Monschau yang lain bisa dilihat di. FLickr saya.

Autumn is Okay

Autumn atau musim gugur atau bahasa Jermannya Herbst adalah suatu musim yang menurut saya musim paling indah di negara empat musim. Dedaunan mulai berganti warna sebelum akhirnya berguguran. Kuning adalah warna yang mendominasi di bulan Oktober. Golden October istilah kerennya. 

Meskipun bagi beberapa orang autumn berarti ‘duh sebentar lagi winter‘, bagi saya autumn justru berarti ‘ah senangnya, summer akan datang lagi tahun depan!’ Adanya Penantian dan pengharapan akan musim panas itu yang membuat saya menjadikan musim ini sebagai musim favorit saya – selain pemandangannya yang indah tentunya. Itu juga sebabnya mengapa ketika musim panas sudah benar-benar tiba, saya justru galau karena paham sekali bahwa musim panas di Jerman tidak bertahan lama dan musim dingin, si winter itu sudah mengintip di ujung jalan. Entah mengapa orientasi saya justru selalu ke depan, terlalu jauh kedepan. Apa mungkin karena toko-toko obral summer fashion di saat winter dan obral winter fashion di saat summer ya? 

Berikut ini adalah beberapa foto di sekitar rumah yang saya ambil dengan iPhone kemarin sekitar pukul 10 pagi,  ketika si Flipper lagi bad mood. Setelah kena angin-angin sepoi-sepoi di luar, ketiduran deh dia. Saat ini belum terlalu kuning, masih banyak hijaunya. Mungkin minggu depan datang si golden October.

5s

4s

3s

2s 1s

Musim apakah sekarang di bumi bagian teman-teman tinggal? Sudah menyalakan pemanas ruangan kah? Di sini kami menyalakan pemanas di ruang tamu hanya malam hari. Di ruang tidur kami menyalakan pemanas sekitar 2 jam sebelum kami tidur, pas waktunya tidur pemanas kami matikan. Hemat energi tanpa takut kedinginan 😉