Kebiasaan Orang Jerman – Part 1

Hai hai…ternyata lumayan lama juga ya saya nggak nulis-nulis di sini. Lagi sibuk ini ituu… Sok sibuk tepatnya hihi… Kali ini tepat banget waktunya, pas males nulis (tapi pengen exist) eh nemu tulisan ini di draft, tentang kebiasaan-kebiasaan kecil orang-orang di Jerman. Yawis diselesaikan aja dulu yang bagian pertama ini.

Kebiasaan-kebiasaan ini meskipun sebenarnya nggak terlalu penting untuk dicermati tapi menarik buat saya karena berbeda aja dengan kebiasaan-kebiasaan yang ada di Indonesia. Dan seperti biasa, kebiasaan-kebiasaan ini nggak mutlak berlaku buat semua orang Jerman ya… Tapi ya kebanyakan begitulah 😀

Ngebel pintu rumah orang cukup satu kali saja.

Yup. Ngebel sekali lalu ditunggu ada yang bukain nggak. Kalau nggak ada ya sudah kita pergi lagi. Kecuali kalau memang sudah janjian sebelumnya, biasanya kita ngebel lagi atau nilpun, bilang kalau kita sudah di depan pintu. Kalau ada bunyi bel pintu berkali-kali biasanya bisa ditebak, itu adalah anak-anak yang mainan bel pintu orang.

Dapur berada di ruangan depan.

Jadi biasanya interior rumah atau flat orang Jerman itu -tidak seperti rumah-rumah di Indonesia yang begitu masuk dari pintu depan langsung ruang tamu atau ruang keluarga dengan sofa, meja,rak TV, dan sebagainya- begitu kita masuk dari pintu depan akan terdapat semacam lorong yang dinamakan Flür (EN: floor) yang menyambungkan ke ruang-ruang lainnya. Mengapa di Jerman kebanyakan rumahnya ada lorongnya karena faktor cuaca, supaya kalau pas pintu depan dibuka, udara dingin tidak langsung masuk ke main room (ruang tamu/ keluarga) dimana kebanyakan anggota keluarga menghabiskan waktunya di situ. Lalu di lorong tersebut, selain rak sepatu juga terdapat lemari atau sekedar gantungan untuk menaruh barang-barang yang dikenakan dari luar seperti tas, syal, jaket. Setelah semua dilepas di lorong, baru deh nyantai masuk main room-nya.

Nah begitu masuk lorong ini, biasanya ruangan yang paling dekat diakses, alias ruangan yang paling depan adalah dapur. Kalau ini saya nggak tahu sebabnya, mengapa demikian. kalau di Indonesia kan dapurnya di belakang bahkan kalau rumah model lama malah di belakang banget, diumpetin. Di sini justru di ruangan paling depan dan banyak juga yang dapurnya jadi satu dengan main room, open kitchen gitu. Buat saya sih nggak cocok karena saya nggak suka kalau main room jadi bau bawang atau terasi ketika masak.

37519474520_82e652d446_o
Ini dapur di rumah. Begitu masuk rumah, dapur ini ada di sebelah kanan. Di sebelah kirinya toilet tamu. Dapur saya aslinya ada pintunya tapi kami copot, diganti dengan pembatas ruangan yang bisa digeser-geser itu.

Kalau traffic light di depan sedang hijau, orang-orang bukannya ngebut ngejar hijaunya tapi malah pelan-pelan.

Mengapa? Karena kalau ngebut trus lampunya merah lagi kita nggak bakalan bisa mengontrol kecepatan, bisa-bisa nggak sempat ngerem dan akibatnya malah menerobos lampu merah. Jadi mending pelan-pelan menunggu sampai lampu merah lalu hijau lagi dan berjalan lagi dengan nyaman. Lampu merah di sini tidak pernah lama kok jadi nggak ada yang keberatan berhenti di lampu merah demi keamanan. Saya nggak tahu berapa denda melanggar lampu merah di Jerman tapi orang-orang di sini sangat disiplin dengan lampu merah. Di tengah malampun di mana nggak ada kendaraan di ketiga sisi persimpangan, kalau lampu merah ya kita berhenti menunggu sampai hijau. Dulu sih pertama-tama tinggal di Jerman saya merasa dungu juga berhenti sendiri di lampu merah padahal dari jauh juga kelihatan kalau nggak ada kendaraan di sisi lain 😀

Hampir semua mobil berkaca bening maka jangan kaget kalau melihat ada orang ngobrol antar mobil ketika berhenti di lampu merah.

Suatu hari di musim panas, saya nyetir mobil dengan rambut tertutup hoodie. Tiba-tiba di lampu merah mas-mas di mobil sebelah buka jendela lebar-lebar dan bertanya ngapain pake hoodie di cuaca seindah ini… Yaolo mas-nya care banget, pikir saya. Saya jawab aja kalau lagi having bad hair day. Masnya ngakak trus iseng aja nanyain apa kabar, mau kemana…sampai lampunya hijau  lagi dan kita saling dadah-dadah karena saya harus nyetir terus ke depan, dan dianya belok kanan. Apa kita sudah saling kenal? No.

Kalau ada yang ngasih jalan, yg dikasih melambai tanda terima kasih.

Kebanyakan pengendara mobil di Jerman itu sopan-sopan. Mereka suka memberi kesempatan kepada pengendara lain untuk jalan duluan jadi macet di belokan karena rebutan jalan itu hampir nggak ada. Kalau lawan pengendara ngedim ke kita, berarti kita disuruh jalan duluan. Sebagai balasannya kita akan melambaikan tangan tanda terima kasih. Apa aturan tersebut diajarkan di tempat kursus nyetir? Di tempat saya kursus dulu sih gurunya ngasih tahu sekilas tapi nggak ada aturan tertulisnya.

Apapun cuacanya, ngajak anak main di luar.

Yup, apapun cuacanya. Kecuali kalau ada angin puting beliung aja kali. Yang harus disesuaikan cuman bajunya saja. Kalau pas hujan ya pakai raincoat. Kalau pas salju tebal ya pakai baju khusis salju. Minimal 1x sehari para orang tua pasti mengajak anaknya main di luar.  Kalau saya sih termasuk golongan yang sangat melihat-lihat cuaca dulu sebelum keluar hihi…

Makan makanan hangat cukup sekali dalam sehari.

Makanan hangat atau yang biasa disebut Warmes Essen yang dimaksud adalah makanan yang ‘dimasak’, misalnya nasi, sup, kentang, daging-dagingan. Kebanyakan orang Jerman makan makanan hangat hanya saat lunch ATAU dinner saja, selebihnya ya makan makanan dingin. Makanan dingin ynag dimaksud misalnya roti dengan sosis dan selada atau selai-selaian, pokoknya yang tinggal comot dan nggak harus nyalain kompor. Praktis memang mereka tapi kalau soal urusan perut saya lebih suka repot dikit. Kami makan hangat dua kali sehari, lunch DAN dinner. Paginya makan roti-rotian atau oatmeal. Kalau kamu sarapannya gimana?

Kalau pas kerja, saya lunch-nya random. Kadang bawa makanan hangat dari rumah yang bisa dipanasin di microwave, kadang bawa overnight oatmeal doang dan side dishnya apa aja yang bisa  diambil di dapur kantor misalnya kripik pisang dan waffle instant.
999A0389-1eS
Homemade artisan bread buat sarapan.

Itu dulu tentang kebiasaan-kebiasaan kecil orang Jerman. Selebihnya ditulis nanti ya, biar next time ada bahan tulisan lagi 🙂

To be continued…

 

Advertisements

(Semi) Multilingual Child

999A7378-1eSS

Kemarin waktu di Indonesia saya banyak melihat orang tua Indonesia yang ngajak anak balitanya ngobrol dengan bahasa Inggris. Menurut saya bagus banget anak sudah mulai dikenalkan dengan bahasa asing sejak dini. Beberapa teman dan kenalan juga bertanya ke saya kenapa Flipper nggak bisa berbahasa Inggris? Kan dia tinggal di luar negeri? First, Fliper memang tinggal di luar negeri which is Jerman yang bahasa sehari-harinya adalah bahasa Jerman dan second, kami memang tidak (belum) mengajarkan bahasa Inggris ke dia.

Flipper sendiri bilingual, berbahasa Jerman dan Indonesia tapi Jermannya lebih banyak dari pada bahasa Indonesianya. Bisa jadi karena faktor lingkungan di sini dimana semua orang berbahasa Jerman kecuali mamanya dan saya sendiri kadang tidak konsisten mengajak dia  berbahasa Indonesia, seringnya ngajak berbahasa Jerman pula :D. Menurut kami, suami dan saya, belajar bahasa paling efektif untuk anak balita adalah ketika dia belajar satu bahasa dari satu orang di mana di keluarga kami, si papa yang berbahasa Jerman dan si mama  yang berbahasa Indonesia. Seandainya ada oma atau opa atau tante yang bisa berbahasa Inggris tentu akan asyik banget bila Flipper bisa berbahasa inggris dengan the third person itu. Namun sayangnya di lingkungan terdekat kami nggak ada yang bisa mengajak Flipper berbahasa Inggris.

Bahasa Inggris selama ini hanya kami kenalkan lewat lagu anak-anak. Dari bayi Flipper sudah sering mendengarkan lagu anak-anak berbahasa Inggris. Saking seringnya mendengarkan lagu-lagu yang sama setiap hari, lama-lama dia bisa sebut angka dan abjad sendiri dengan English pronounciation tanpa saya ajarin. Lalu mulai umur 2 tahun dia sudah mulai saya kasih lihat video lagu-lagu yang biasanya (hanya) dia dengar tersebut. Kanal Youtube  favorit kami adalah ‘Super Simple Songs’ dari ‘Super Simple Learning’ dan ‘Bob The Train‘ . Setelah melihat video-videonya, Flipper jadi tahu mana itu angka 123, mama itu huruf ABC, mana itu head, shoulder, knee, tomato, etc.

Umur 3 tahun Flipper mulai masuk TK dan mulai kenal lagu-lagu berbahasa Jerman yang ternyata beberapa di antaranya adalah terjemahan dari lagu anak-anak berbahasa Inggris itu tadi (atau vice versa). Pada awalnya dia suka galau karena lagu-lagu yang dia kenal selama ini kalau dinyanyin di TK kok jadi lain bahasanya. Kadang dia kalau nyanyi pun bahasanya campur-campur. Nah akhir-akhir ini Flipper mulai bisa tuh misahin bahasa. Flipperpun mulai meninggalkan ‘Super Simple Songs’ dan stick dengan ‘Bob the Train’ karena Bob punya video versi bahasa Jerman juga (yang sebenernya menurutku versi Jermannya enggak banget! 😂). Dia bahkan minta sendiri kalau lihat YouTube di TV dia maunya yang berbahasa Jerman sedangkan kalau di iPad dia maunya yang berbahasa Inggris. Kadang nih out of the blue, pas kita lagi mainan bareng, dia bilang, “Mama tahu nggak, Fenster heisst window auf Englisch…” Ih mentang-mentang maknya nggak pernah ngajarin eh dia yang ngajarin emaknya hihi…

Iya jadi angka, abjad dan kosa kata bahasa Inggris dia belajar sendiri dari lagu anak-anak tersebut. Selain itu dia juga suka kalau dibacakan buku anak-anak yang berbahasa Inggris. Saya sendiri belum  mengajarkan Flipper angka dan abjad, paling hanya menyediakan fasilitas seperti lagu-lagu tadi dan membantu mengoreksi saja kalau dia salah. Dan melihat progress dia yang lumayan cepat belajar bahasa sendiri, kami mulai kepikiran untuk memasukkan dia ke kursus bahasa Inggris, kalau anaknya mau ya…

Oh iya, gaya parenting tiap orang tua beda-beda ya… Menurut saya nggak ada yang salah karena tiap anak juga berbeda jadi kebutuhannya juga pasti berbeda. Ada yang melarang anaknya pegang gadget at all, ada yang ngasih bebas. Flipper saya kasih pegang iPad dan lihat TV program anak-anak yang dibatasin waktunya dan so far efeknya baik buat dia, bisa belajar bahasa itu tadi. Ada juga orang tua yang sudah mengajarkan anak-anaknya berhitung dan membaca dari umur 19 bulan (saya baca kemarin dari FB Pagenya Toddler Approved), kalau untuk hal-hal yang akademik begitu saya termasuk nyantai. Di sini sebelum anak masuk SD, mereka tidak diwajibkan mengerti angka dan abjad. Jadi ya biarkan anaknya bermain saja dulu, angka dan abjad bisa dikenalkan sambil lalu dengan lagu-lagu itu tadi.

Di sini ada yang anaknya multilanguage nggak, gimana methode ngajarinnya? Mungkin bisa share tips 🙂

Hari Pertama Masuk SD (Einschulungstag)

Kemarin di provinsi North Rhine Westphalia Jerman merupakan hari pertama anak-anak masuk SD atau di sini disebut Einschulungstag. Di sini hari pertama masuk SD adalah a big thing buat para orang tua. Eh pastinya di Indonesia juga ya, di mana para orang tua terharu biru karena si anak yang dulunya bayi, lalu menjadi toddler, kini sudah kelas satu SD. Tak heran bila kemarin banyak terlihat anak-anak yang menyandang ransel gede di punggungnya dan mendekap bingkisan besar berbentuk kerucut berhias  yang disebut Schultuete.

Rutinitas hari pertama masuk SD di sini diawali dengan kumpul bersama, sesama siswa baru ditemani orang tua, opa-oma dan saudara-saudara mereka di gereja yang sudah ditunjuk oleh pihak sekolah. Setelah itu  mereka pergi bersama-sama ke gedung SD. Di SD mereka akan diterima oleh kepala sekolah dan disambut dengan pidato selamat datangnya. Setelah itu mereka mulai dipisah di kelas masing-masing. Sejauh pengalaman saya motret hari pertama masuk SD, rata-rata di sini satu kelas diisi 20-25 anak.  Di dalam kelas mereka berkenalan dengan wali kelas mereka sekaligus menerima wejangan dan  aturan-aturan dos dan don’ts. Salah satu yang dianjurkan adalah supaya anak-anak pergi ke sekolah dengan jalan kaki (tentunya dengan ditemani orang dewasa dulu di hari-hari pertama) supaya mereka hapal jalan ke sekolah dan bisa belajar mandiri. Itulah sebabnya anak-anak di sini pilihan sekolahnya tergantung dengan jarak jauh-dekatnya dengan tempat tinggal. Di kota tempat tinggal saya, untuk selevel TK dan SD tidak ada golongan sekolah favorit dan non favorit, semua memiliki kualitas yang sama.  Nggak tahu ya kalau di kota lain.

Setelah prosesi penerimaan siswa baru yang kira-kira memakan waktu 2 jam, merekapun pulang ke rumah.  Di rumah  para orang tua biasanya mengadakan  pesta makan siang dengan mengundang keluarga dan teman dekat. Ada yang mengadakan pesta di rumah tapi ada juga yang booking tempat di restoran. Di saat makan siang inilah anak-anak mulai diperbolehkan membuka Schultuete mereka. Apa sebenarnya Schultuete itu?

Schultuete  merupakan bagian dari tradisi hari pertama masuk SD dan bisa dibeli kosongan di toko-toko yang banyak menjualnya menjelang bulan Juli dan Agustus atau membuat sendiri. Kebanyakan sih  anak-anak di sini membuat Schultuete sendiri  dibantu papa mama. Sebelumnya, saat masih di Kindergarten, anak-anak yang akan masuk SD tersebut juga sudah diajarin oleh  gurunya bagaimana membuat Schultuete sendiri.

Tradisi ini berawal di kota Jena pada tahun 1800 an dimana untuk menambah semangat si anak masuk sekolah baru (baca: mengurangi kecemasan anak-anak) , para orang tua dan saudar-saudara yang lain memberi hadiah berupa permen dan coklat yang dimasukkan ke dalam Schultuete tersebut. Saat ini sih isi Schultuete nggak hanya permen-permenan namun juga alat-alat sekolah dan mainan.

Berikut ini adalah beberapa foto dari Einschulung photo session kemarin:



Don’t cry mama!

 

Selain Schultuete, hal yang menarik lainnya adalah ransel besar yang dikenakan anak-anak SD tersebut. Ransel ini akan dikenakan sehari-hari tentunya, tidak pada hari pertama saja.

Orang pendatang yang melihat ransel itu pertama kalinya di Jerman pasti berpikir what the heck is that? Besar, terlihat berat dan desainnya jelek semua (at least menurut saya ya). Saya bahkan sempat kasihan melihat anak-anak yang mengenakan tas kebesaran tersebut. Namun rupanya, meskipun tidak wajib mengenakannya,  ransel tersebut ternyata sangat dianjurkan untuk dipakai karena desainnya sudah disesuaikan dengan proporsi pungggung, tubuh anak, dan ada ukuran-ukuran tertentu disesuaikan dengan umur dan berat/ tinggi badan mereka. Bahannyapun ternyata ringan jadi meskipun besar, dia tidak berat (yang bikin berat mah buku-buku di dalamnya).

Selain sudah diperhitungkan faktor ergonomic-nya, soal fungsi juga diperhitungkan banget. Di interior ranselnya terdapat sekat-sekat untuk buku, kotak bekal, botol minuman, pencil, dst. Lalu di exterior ada reflection sticker-nya supaya kalau pagi-pagi berangkat ke sekolah, meksipun gelap di musim dingin, anak-anak itu tetap terdeteksi. Oh iya, bahan ransel yang free toxic juga menjadi pertimbangan untuk membeli ransel sekolah. Tak heran deh pokoknya bila ransel jelek ini harganya di atas 100€, apalagi yang ada stempel TÜV nya. Ngalah-ngalahin harga tas mamanya deh pokoknya 😂

Yang mau lihat gimana bentuk ranselnya, bisa klik di google images sini ya.

Kalau di tempat tinggal kalian ada tradisi khusus untuk anak sekolah nggak?

Karneval di Cologne

img_2754esblog
Saya bersama para heroes 😀

Seperti yang pernah  saya tulis di postingan tentang pasar Natal beberapa waktu yang lalu, salah satu hiburan di musim dingin yang tak kalah rame di sini adalah Karneval. Karneval ini resminya adalah ritual yang dilakukan oleh umat Roman Catholic sebelum LENT ( periode di antara Rabu Abu dan Paskah). Tidak semua kota di Jerman merayakan acara ini. Dan meskipun ini merupakan hari rayanya umat Catholic tapi di sini umat beragama apa saja bahkan yang tak beragama boleh ikut meramaikan. No question asked. Di Jerman daerah Selatan Karneval disebut Fasching, inti perayaannya sama meskipun ritualnya agak berbeda. Di sini saya hanya akan menulis tentang Karneval yang berlaku di daerah Rhein (daerah yang dilewati sungai Rhine), yaitu Cologne, Duesseldorf, Bonn, Aachen, Mainz dan kota-kota kecil di sekitarnya.  Di Cologne, Bonn dan Aachen pada masa-masa Karneval semua orang akan saling menyapa dengan kata-kata ‘Alaaf’ sedangkan di Duesseldorf adalah ‘Helau’. Jangan sampai kebalik ya karena Cologne dan Duesseldorf itu meskipun tetangga dekat namun mereka tidak akur jadi kalau kebalik bisa timpuk-timpukan permen deh jadinya.

Pembukaan Karneval dimulai pada tanggal 11 bulan 11 jam 11.11 siang. Pada hari ini bisa dilihat banyak orang dengan beraneka macam kostum berkeliaran di segala sudut kota. Orang-orang yang mengikuti acara resmi di club Karneval (Karnevalsverein) bisa mengikuti ceremony pembukaan di gedung-gedung yang mereka sewa. Yang tidak ikut club tetep boleh mengenakan kostum tanpa harus mengikuti acara peresmian. Pada hari ini banyak orang yang ambil cuti kantor atau tetap masuk kantor dengan mengenakan kostum. Yang tidak cuti menjalankan aktifitas sehari-hari berjalan dengan normal, bedanya hanya kostum saja dan malam harinya dilanjut dengan party di nightclub.

Setelah pembukaan Karneval, pada hari-hari berikutnya  orang-orang mulai disibukkan dengan persiapan Natal sehingga  euforia Karneval tenggelam oleh hiruk pikuk Natal. Setelah Natal, acara tahun baru mendapat giliran untuk tampil ke permukaan. Toko-toko dan restoran heboh menjual petasan dan paket New Years Gala dinner. Nah setelah keramaian tahun baru usai, semangat Karneval-pun muncul kembali ke permukaan. Toko khusus kostum Karneval mulai dipenuhi pengunjung bahkan supermarketpun turut menjual properti Karneval.

Untuk penggemar berat Karneval, belanja kostum Karneval adalah event yang asyik. Untuk memilih kostum, selain tema, unsur cuaca juga harus diperhatikan di sini, secara perayaan ini kebanyakan berlangsung ourtdoor pada siang hari ynag berlanjut indoor di malam hari jadi soal kehangatan bahan kostum harus diperhatikan. Karena saya tidak pernah ikut merayakan Karneval sampai malam, kostum yang saya pilih biasanya yang berukuran besar supaya dalemnya masih bisa dipakein jaket. Kostum binatang berbulu-bulu juga relatif aman untuk cuaca dingin. Tapi tak jarang juga kita melihat orang-orang ynag berani dengan kostum ‘summer‘. Harga kostum Karneval bervariasi, mulai dari 5€ yang biasanya hanya bisa dipakai sekali lalu rusak sampe yang beratus-ratus Euro. Selama 9 tahun tinggal di Jerman saya hanya dua kali beli kostum Karneval selebihnya hanya beli atribut kecil-kecilan seperti topi atau wig.

img_6468
Karneval pertama saya di Jerman pada tahun 2008. Niat banget pokoknya.

Lanjut dengan ritual Karneval. Setelah dibuka pada tanggal 11 November, acara Karneval yang rame  berikutnya adalah pada Weiberfastnacht (Fat Thursday) yang pada tahun ini jatuh pada tanggal 23 Februari 2017. Pada hari ini kebanyakan perkantoran hanya buka setengah hari atau bahkan tutup, demikian pula dengan pertokoan. Tidak ada parade pada hari ini namun orang-orang tetap menggunakan kostum dan party di jalanan yang kemudian dilanjutkan di nightclub. Musik Karneval bisa terdengar di santero kota karena hampir semua pertokoan memainkannya. Pada hari ini jangan kaget bila melihat banyak wanita berkostum sambil membawa gunting karena pada hari ini mereka ‘diperbolehkan’ menggunting dasi para pria sebagai simbol bahwa hari ini perempuanlah yang berkuasa.  Para pria yang biasanya sudah mahfum dengan tradisi ini memilih ke kantor tanpa dasi atau sengaja memakai dasi yang sudah bulukan.

Meskipun seminggu sebelum dan sesudahnya anak-anak boleh mengenakan kostum di TK, TK-nya Flipper resmi merayakannya Karneval pada hari Weiberfastnacht ini. Flipper dan teman-temannya menaruh kostum di TK supaya mereka bisa ganti-ganti sesukanya. Flipper sendiri menaruh dua kostum di lemari TK-nya. Pada perayaan resmi Karneval kemarin grup TKnya Flipper menggelar teater dengan tema Frau Holle (English: Mother Hulda), sebuah cerita terkenal dari Brothers Grimm. Tak hanya anak-anak yang mengenakan kostum, guru TKnya pun semua menggunakan kostum disesuaikan dengan tema Frau Holle. Saya tidak punya foto acara di TK, namun berikut ini ada foto-foto Flipper yang exist berkarnaval:

akukenklub
Karneval pertama dalam hidup Flipper, tahun 2015, merayakannya bersama-teman-teman di Babyclub.
adalmatian
Pada karneval kedua di tahun 2016, dia boleh turun ke jalan mengumpulkan (dan makan) permen 😀
aimg_6379
Fitting kostum at home sebelum diangkut ke TKnya, Karneval 2017.

Setelah acara Weiberfastnacht para Karneval fans bisa agak slow down lagi. Ritual berikutnya baru berlangsung 4 hari lagi yaitu di acara Rosenmontag, yang tahun ini jatuh pada tanggal 27 Februari kemarin. Rosenmontag yang artinya Rose Monday adalah puncak dari sekian banyak (dan lama) ritual Karneval. Pada hari ini diselenggarakan parade kendaraaan hias dengan tema-tema yang lagi heboh. Tahun ini tema yang banyak tampil adalah Angie, Putin, Erdogan dan Trump tentu saja. Masalah sosial seperti asyl, kesejahteraan penduduk, juga tak lepas dari sindiran tema Karneval.

Di Rosenmontag para penduduk kota yang merayakan Karneval tumpah ruah di jalanan ingin melihat parade (Yang tidak suka Karneval biasanya melarikan diri ke toko mebel atau bahkan keluar kota) sambil membawa minuman alkohol. Bagian ini nih yang tidak saya suka dari Karneval karena banyak orang yang mabuk di jalanan. Meskipun tidak pernah diganggu orang mabuk, tapi sebel aja kadang lihat sampai ada yang muntah-muntah di pojokan atau teriak-teriak nggak jelas. Tapi konon alkohol memang membantu mengatasi cuaca dingin di saat Karneval. Keluyuran di luar rumah seharian di musim dingin memang bukan sesuatu yang gampang 😀

Siapa saja boleh melihat parade Karneval, bebas dan tidak dipungut bayaran. Kalau mau melihat di tempat yang strategis sih bisa duduk di tribun-tribun yang sudah dipersiapkan secara khusus tapi pakai bayar dan biasanya tiketnya sudah sold out jauh-jauh hari. Di parade ini para peserta parade membagikan permen dan snack manis kepada para pengunjung dengan cara melemparnya dari kendaraan hias mereka ke segara penjuru mata angin. Mereka akan semakin semangat menebar permen bila ada teriakan ‘kamelle-kamelle’ dari pengunjung. Kamelle artinya permen tapi ini bukan bahasa sehari-hari, istilah ini hanya terdengar ketika musim Karneval. Berikut ini adalah foto dari parade Karneval tahun 2011, satu-satunya Karneval di mana saya bisa melihat parade dengan lumayan jelas (meskipun angle-nya nggak perfect). Biasanya nggak pernah bisa nonton parade karena desak-desakan. Maklum saya petite 😀 Klik tiap foto untuk tampilan lebih jelas ya…

 

Saya sendiri sebenarnya bukan penggemar berat Karneval. Tapi kalau ada temennya rame-rame dan cuaca juga memungkinkan (baca: nggak hujan, nggak terlalu dingin, nggak berangin) ya saya ikutan. Kalau anak-anak pasti suka diajak melihat parade karena mereka bisa mengumpulkan permen banyak. Oh iya kalau mau melihat parade jangan lupa membawa kantung buat wadah permen ya. Dan kalau memang mau ikut melihat parade sebaiknya menggunakan kostum meskipun minimalis karena kalau tidak pakai kostum pasti merasa salah gaya 😀

Setelah karnaval biasanya banyak orang sakit karena kebanyakan kena angin dan kebanyakan alkohol. Hari ini saja sudah tiga anak buah suami ynag telpun karena sakit. Tiga lainnya sudah telpun Jumat kemarin setelah acara Weiberfastnacht. Ya, untuk orang yang benar-benar fans Karneval, Karneval merupakan party time dan itu mulai dari 11 November sampai Rabu Abu (Ash Wednesday) tahun berikutnya, hampir setiap hari party, kalaupun tidak di jalanan ya di nightclub yang menyelenggarakan acara khusus Karneval. Besok, Rabu Abu yang bahasa Jermannya Aschermittwoch acara Karneval resmi ditutup. Ada ritual penutupannya juga saat ini tapi pengikutnya tak seramai eperti di Rosenmontag. Setelah Rabu Abu, kegiatan sehari-hari di sinipun kembali berjalan normal seperti biasa. Cuaca pelan-pelan mulai menghangat dan orang-orang mulai riang menyambut Paskah dan musim semi.

Dan berikut ini adalah kumpulan  foto suasana Rosenmontag  dari beberapa Karneval ynag saya ikuti di kota Cologne:

img_0390oks
The crowd.
img_0398oks
Enaknya sih memang bisa nonton di teras rumah begini, kalau kedinginan tinggal tutup jendela.
img_0408oks
Saya dan Charlie Chaplin. Wig Pippi Langstrumpf sudah saya copot karena udah on the way mau pulang ke rumah (tapi alisku masih kelihatan sedikit blonde tuh) 😀
img_0409oks
A woman with her two guardian angels.
img_2732esblog
Di depan Kathedral Koelned Dom.
img_2739esblog
Saya si pecinta binatang 😀

img_2789esblog

img_2745esblog
Enter a caption

img_2753esblog

img_2747esblog

img_2758esblog
Noo!
img_2767blogs
Tua muda ikut merayakan Karneval.
img_2802blogs
The crowd.

Untuk acara Rosenmontag tahun ini, which was kemarin, karena cuacanya sangat dingin dan berangin, saya tidak ikut berpartisipasi (baca: malas). Saya dan keluarga kemarin menikmati hari libur dengan brunch di sebuah hotel. Enak banget suasananya sepi karena banyak orang  ikut Karneval. Foto-foto Rosenmontag di kota Cologne kemarin bisa diintip die websitenya  Zeit Online.

 

 

Remember the day when…(3) I am his Best


Dulu sebelum pacaran dan menikah dengan si D, saya di Jakarta sempat pacaran dengan orang Jerman juga. Si Kraut ini (sebut saja namanya begitu) demen banget cerita tentang saya ke teman-temannya. Kalau refers ke saya si Kraut bilangnya selalu “my best”. Wah saya bangga dong disebut begitu, I’m his best, yay! Ternyata usut punya usut, meskipun sudah lama kerja hampir di seluruh dunia dengan bahasa sehari-hari bahasa Inggris, si Kraut tetap tidak bisa menghilangkan aksen Jermannya. Jadii… Seperti beberapa orang Jerman yang saya kenal di sini (termasuk mertua), akhiran -th itu bagi mereka susah dieja. Jadi instead of Beth, nama saya sering berubah menjadi Bess/ Best di sini. Demikian juga dengan si Kraut tadi, dia aslinya cuman bilang my Beth, bukan my best 😂😅 #geer

Short trip ke kota kecil Monschau.

2300s.jpg

2305s.jpg

Saya tahu tentang kota Monschau untuk pertama kalinya di sebuah film di televisi tapi karena film fiksi ya nama kotanyapun fiksi (maaf judul filmnyapun lupa, pokoknya film Jerman deh… ). Waktu itu saya sudah tertarik dengan kota tersebut. Setelah baca blognya Deny yang ini baru ngeh bahwa ternyata kota yang di film itu namanya Monschau dan kebih mengejutkan lagi, letaknya hanya satu jam-an dari rumah kami.

Pas memperlihatkan blognya Deny ke suami, dia malah bilang: eh ini kan kotanya nggak jauh dari sini. Lho la iya, kenapa saya nggak pernah diajak ke sana? Nggak kepikiran, katanya. Iya, biasanya mata kita memang lebih sering melihat yang  jauh-jauh, yang dekat-dekat malah terlupakan atau kalaupun ingat pasti ditunda-tunda dengan alasan ‘ah dekat ini, nanti saja belakangan’. Tapi kali ini kami tidak mau menunda untuk pergi ke Monschau, keesokan harinya, di sebuah hari Minggu di bulan Mei (iya, ini #latepost), kamipun pergi ke Monschau.

Monschau adalah sebuah kota kecil yang terletak di distrik Aachen Jerman yang tak jauh dari perbatasan negara Belgia dan Belanda. Ciri khas kota ini adalah rumah-rumahnya yang bergaya ‘half-timbered houses’ yang hampir tidak berubah gayanya dari 300 tahun yang lalu. Kebanyakan bangunan unik ini dijadikan pertokoan yang tetap buka di hari Minggu dan juga untuk penginapan.

2292s

2301s

2306s

2312s

 

Mengelilingi kota Monschau tidak akan memakan waktu lama karena memang kotanya kecil. Untuk pengunjung, terdapat beberapa tempat parkir luas sebelum memasuki kota tersebut. Anak-anakpun bisa berlarian bebas di sepanjang jalan berbatu karena memang tidak ada kendaraan yang berlalu-lalang kecuali sepeda dan kendaraan bermotor milik penghuni di sana yang sangat mengutamakan pejalan kaki. Oh iya, ada juga kereta wisata yang lewat. Tarifnya kereta ini €6,00/ person. Mahal menurutku. Apalagi bila dibandingkan dengan kereta wisata di kota Arco Italy yang tarifnya hanya €2 mengelilingi kota tua yang lebih besar dari Monschau selama 30 menit.

2310s

2287s
Sebuah gubuk di pinggir sungai. Entah ada penghuninya atau tidak.
IMG_3061-1e
Flipper bergaya di depan rumah orang.

Foto-foto kota Monschau yang lain bisa dilihat di. FLickr saya.

Barang Gratisan

Di Jerman, tidak seperti di Indonesia yang kadang kita sampai kaget ada barang murah tapi bagus, tidak ada barang yang inexpensive. Mungkin itu juga penyebabnya kenapa kebanyakan orang Jerman cenderung uptight, less smile, tidak relax… Eh tapi itu bahasan lain ya… Saya hanya ingin cerita bahwa selama tinggal delapan tahun di Jerman, saya belum pernah sekalipun beli ballpoint – bolpen! Never! Tapi serunya saya punya ratusan bolpen di rumah. Yup ratusan.

Bagaimana caranya? Kami di sini sering sekali mendapat bolpen gratisan yang merupakan merchandise dari kampanye politik atau produk baru, kantor, hotel, workshop, dll. Masalahnya, kami berdua bukan fan-nya bolpen. Untuk menulis atau menggambar saya lebih suka menggunakan rapidograph atau spidol. Bolpen hampir tidak ada gunanya sama sekali di rumah, apalagi sekarang apapun bisa ‘ditulis’ di smartphone. Suami juga hampir nggak pernah nulis-nulis di rumah. Tapi entahlah, jari-jari ini pasrah saja kalau disodorin bolpen gratisan.

Menyadari bahwa kami punya bolpen banyak, suami hobi banget meletakkan 20an bolpen di atas meja telefon. Alasannya biar cepat kalau mau mencatat info penting dari telepon landline. Tapi 20 sekaligus? Katanya; iya sekaligus krn pulpen sering banget ilang dari meja telepon. Ya iyalah sering ilang krn sering saya buang dikit-dikit (psst!). 20 bolpen tergeletak tak berdaya di atas meja yg mini itu merusak pemandangan keseluruhan di dalam rumah!

Kalau kamu, ada nggak barang gratisan yang nggak suka tapi nggak bisa nolak?

Ini beberapa bolpen yang saya temukan di dapur saja >.<