(Semi) Multilingual Child

999A7378-1eSS

Kemarin waktu di Indonesia saya banyak melihat orang tua Indonesia yang ngajak anak balitanya ngobrol dengan bahasa Inggris. Menurut saya bagus banget anak sudah mulai dikenalkan dengan bahasa asing sejak dini. Beberapa teman dan kenalan juga bertanya ke saya kenapa Flipper nggak bisa berbahasa Inggris? Kan dia tinggal di luar negeri? First, Fliper memang tinggal di luar negeri which is Jerman yang bahasa sehari-harinya adalah bahasa Jerman dan second, kami memang tidak (belum) mengajarkan bahasa Inggris ke dia.

Flipper sendiri bilingual, berbahasa Jerman dan Indonesia tapi Jermannya lebih banyak dari pada bahasa Indonesianya. Bisa jadi karena faktor lingkungan di sini dimana semua orang berbahasa Jerman kecuali mamanya dan saya sendiri kadang tidak konsisten mengajak dia  berbahasa Indonesia, seringnya ngajak berbahasa Jerman pula :D. Menurut kami, suami dan saya, belajar bahasa paling efektif untuk anak balita adalah ketika dia belajar satu bahasa dari satu orang di mana di keluarga kami, si papa yang berbahasa Jerman dan si mama  yang berbahasa Indonesia. Seandainya ada oma atau opa atau tante yang bisa berbahasa Inggris tentu akan asyik banget bila Flipper bisa berbahasa inggris dengan the third person itu. Namun sayangnya di lingkungan terdekat kami nggak ada yang bisa mengajak Flipper berbahasa Inggris.

Bahasa Inggris selama ini hanya kami kenalkan lewat lagu anak-anak. Dari bayi Flipper sudah sering mendengarkan lagu anak-anak berbahasa Inggris. Saking seringnya mendengarkan lagu-lagu yang sama setiap hari, lama-lama dia bisa sebut angka dan abjad sendiri dengan English pronounciation tanpa saya ajarin. Lalu mulai umur 2 tahun dia sudah mulai saya kasih lihat video lagu-lagu yang biasanya (hanya) dia dengar tersebut. Kanal Youtube  favorit kami adalah ‘Super Simple Songs’ dari ‘Super Simple Learning’ dan ‘Bob The Train‘ . Setelah melihat video-videonya, Flipper jadi tahu mana itu angka 123, mama itu huruf ABC, mana itu head, shoulder, knee, tomato, etc.

Umur 3 tahun Flipper mulai masuk TK dan mulai kenal lagu-lagu berbahasa Jerman yang ternyata beberapa di antaranya adalah terjemahan dari lagu anak-anak berbahasa Inggris itu tadi (atau vice versa). Pada awalnya dia suka galau karena lagu-lagu yang dia kenal selama ini kalau dinyanyin di TK kok jadi lain bahasanya. Kadang dia kalau nyanyi pun bahasanya campur-campur. Nah akhir-akhir ini Flipper mulai bisa tuh misahin bahasa. Flipperpun mulai meninggalkan ‘Super Simple Songs’ dan stick dengan ‘Bob the Train’ karena Bob punya video versi bahasa Jerman juga (yang sebenernya menurutku versi Jermannya enggak banget! 😂). Dia bahkan minta sendiri kalau lihat YouTube di TV dia maunya yang berbahasa Jerman sedangkan kalau di iPad dia maunya yang berbahasa Inggris. Kadang nih out of the blue, pas kita lagi mainan bareng, dia bilang, “Mama tahu nggak, Fenster heisst window auf Englisch…” Ih mentang-mentang maknya nggak pernah ngajarin eh dia yang ngajarin emaknya hihi…

Iya jadi angka, abjad dan kosa kata bahasa Inggris dia belajar sendiri dari lagu anak-anak tersebut. Selain itu dia juga suka kalau dibacakan buku anak-anak yang berbahasa Inggris. Saya sendiri belum  mengajarkan Flipper angka dan abjad, paling hanya menyediakan fasilitas seperti lagu-lagu tadi dan membantu mengoreksi saja kalau dia salah. Dan melihat progress dia yang lumayan cepat belajar bahasa sendiri, kami mulai kepikiran untuk memasukkan dia ke kursus bahasa Inggris, kalau anaknya mau ya…

Oh iya, gaya parenting tiap orang tua beda-beda ya… Menurut saya nggak ada yang salah karena tiap anak juga berbeda jadi kebutuhannya juga pasti berbeda. Ada yang melarang anaknya pegang gadget at all, ada yang ngasih bebas. Flipper saya kasih pegang iPad dan lihat TV program anak-anak yang dibatasin waktunya dan so far efeknya baik buat dia, bisa belajar bahasa itu tadi. Ada juga orang tua yang sudah mengajarkan anak-anaknya berhitung dan membaca dari umur 19 bulan (saya baca kemarin dari FB Pagenya Toddler Approved), kalau untuk hal-hal yang akademik begitu saya termasuk nyantai. Di sini sebelum anak masuk SD, mereka tidak diwajibkan mengerti angka dan abjad. Jadi ya biarkan anaknya bermain saja dulu, angka dan abjad bisa dikenalkan sambil lalu dengan lagu-lagu itu tadi.

Di sini ada yang anaknya multilanguage nggak, gimana methode ngajarinnya? Mungkin bisa share tips 🙂

Advertisements

Road Trip with Flipper – Mengunjungi Danau Garda di Bagian Utara.

Dari Province Venezia, tujuan kami berikutnya yang juga merupakan tujuan terakhir road trip kami adalah danau Garda. Danau Garda adalah danau terbesar di Italia yang panjang dan lebarnya 56,1 km x 16, 7 km dengan luas permukaan keseluruhannya bila kita mengelilingi danau adalah 370 km persegi. Saking luasnya kami jadi memiliki banyak pilihan untuk menginap di sisi danau yang mana. Sebelum road trip beberapa teman yang sudah pernah mengunjungi danau Garda menyarankan supaya memilih daerah di bagian utara karena pemandangan pegunungannya yang lebih bagus dan lebih bersih dari pada di bagian selatan. D pun memutuskan untuk menginap 4 hari di kota Arco, Trentino yang tidak jauh dari kota Riva Del Garda di mana danau Garda berada.

garda map

Kami berangkat sekitar jam 10 siang dari Cavallino namun karena kemacetan yang luar biasa ketika memasuki daerah Arco, perjalanan yang harusnya menempuh 3 jam jadi molor menjadi 4 jam. Karena sudah kelaparan, kami memutuskan untuk mampir dulu di pusat kota Arco sebelum ke penginapan. Sampai di pusat kota Arco, kami celingak-celinguk merasa salah kostum. Bagaimana tidak? Hampir semua orang yang ada di sana dari anak-anak sampai kakek nenek semua berpakaian sporty. Rupanya Arco memang terkenal sebagai tempat untuk outdoor activities. Water sport, cycling dan panjat tebing merupakan olah raga favorit di sana. Tak heran bila banyak orang berbaju ketat bersliweran. Baju ketat buat sepedaan itu lhoo…

2225s
Pemandangan pertama ketika kami baru parkir di pusat kota Arco. Baju ketat.
2227s
Church Collegiata Dell Assunta Arco.
2232s
Ruin dari Arco Castle dilihat dari pusat kota Arco.
2244s
Sarca River, Arco. Itu yang kecil pakai topi merah si Flipper.
2242s
Sarca River, Arco. Sungai ini mengalir ke danau Garda.

By the way mencari makan di daerah ini (dan konon di Italy pada umumnya) pada jam 2-an siang itu susah-susah gampang. Kabanyakan yang buka hanya snack cafe yang menjual bruschetta atau crackers yang dikasih dip macam-macam. Fine restaurant bahkan yang ‘hanya’ menjual pasta dan pizzapun hanya buka di jam makan malam. Mac Donald nggak ada di sini (apalagi nasi goreng). Suami yang terbiasa tidak makan siang cukup puas dengan crackers-nya, Flipper dan saya tidak puas hanya dengan bruschetta dan minta tambah ice cream.

Setelah makan kamipun menuju hotel secara si Flipper sudah nggak sabar ingin main air dan karena kami belum paham dengan medannya danau Garda, D mengusulkan untuk main air di kolam hotel dulu. Kali ini D memilih penginapan yang bertema agricultural. Hotel Maso Le 4 Stagioni merupakan agricultural private hotel yang dikelola oleh suami istri petani yang memiliki vineyard, ladang apel dan ladang pohon zaitun. Mereka juga memproduksi hasil-hasil pertanian mereka sendiri menjadi jus apel, selai apel dan minyak zaitun. Sayangnya kami tidak sempat mengunjungi tempat pengolahan tersebut meskipun Daniela, si pemilik hotel bakalan dengan senang hati menunjukkannya kepada kami. Vineyard saat itu juga belum berbuah jadi harapan untuk memetik anggur langsung dari pohonnya tidak terlaksana.

Hotel kami berada di sebuah bukit dengan jalan yang berliku-liku sempit yang agak problematis bila berpapasan dengan kendaraan lain atau bila sedang ada konvoi sepeda di depan. Tapi begitu sampai hotel, sambutan Daniela, yang super ramah membuat kami langsung merasa nyaman di hotel tersebut. Si Flipperpun langsung nyemplung di kolam renang organic-nya hotel dan main panjatan di taman bermainnya. Kami menghabiskan sore itu di hotel saja. Berikut ini beberapa pemandangan di dalam dan di luar hotel.

flipper main air
Flipper, slowly but sure masuk ke air >.<
2248s
Pemandangan dari halaman hotel.
2249s
Pemandangan dari halaman hotel. Danau Gardapun terlihat dari sini.
2251s
Si penunggu taman hotel.

Keesokan harinya, setelah sarapan kamipun siap menjelajahi danau Garda. Perjalanan naik mobil dari hotel ke kota Riva di mana danau Garda berada hanya 10 menit. Parkir di sana cukup luas, mudah dan juga murah. Kami langsung jatuh cinta pada pandangan pertama dengan danau Garda. Tikar piknik kotak-kotakpun segera digelar di pantainya. Air masih sangat dingin saat itu jadi Flipper pun tak ada niat untuk nyemplung. Dia cukup puas berjam-jam melempar kerikil ke danau dan kamipun puas berjam-jam mengawasinya sambil menikmati pemandangan indah di depan kami.

IMG_8545eS
Flipper yang selalu penuh energi ketika berada di dekat air.

2252s.jpg

2268s

2271s

2274s

2275s

Sejak jumpa pertama dengan danau Garda, kami memutuskan untuk pergi ke sana setiap hari dari pagi hingga sore. Sebelum jam 12 siang kita gunakan waktu dengan rebahan di pantainya. Kalau tahan dengan dinginnya air, bolehlah mainan air dikit-dikit. Tapi bila sudah di atas jam 12, angin yang kencang membuat air di pantainya berombak tinggi seperti di laut, orang-orangpun meringsut menjauh dari air dan kami menggunakan waktu ini dengan mencari snack di kota tuanya Riva atau menemani Flipper bermain di Spielplatz (taman bermain anak).

IMG_8354eS
Mengumpulkan kerikil yang tepat untuk dilempar ke air.
IMG_8364eS.jpg
Salah satu taman bermain di area danau Garda.

Ketika panas tidak lagi menyengat, kamipun kembali menelusuri danau yang diakhiri dengan jalan-jalan  ke old town-nya kota Riva Del Garda sambil mencari makan malam. Pada malam pertama menginap di Arco, kami mengambil makan malam di hotel. Daniela dan Ricardo, suaminya, sangat pintar memasak. waktu itu mereka membuat makanan khas daerah Trentino, yaitu Carne Salada, berupa irisan daing sapi tipis yang diasinkan selama seminggu lalu dibakar sebentar sebelum dihidangkan. Buset deh enaknya masih terbayang sampai sekarang. Saya bahkan sempat browsing dan mencoba resep ini di rumah, namun meskipun rasanya juga enak tapi tak seenak buatan Daniela dan Ricardo. Mungkin karena saya tidak memiliki mesin pengiris daging, jadi daging saya agak ketebalan. #alasan .

Kenapa kami hanya sekali saja makan di hotel meskipun menunya enak adalah karena jam makan malamnya terlalu larut buat kami yaitu pukul 19.30. Bukan itu saja, karena menunya merupakan 3 courses food yang fresh made, penyajiannya juga menjadi lama, apalagi Daniela selalu entertain para tamunya di setiap jeda courses, jadi lebih lama lagi. Daniela ini, unlike suaminya yang super kalem, sangatlah rame dan lucu. Flipper senang sekali kalau berada di dekat Daniela. Daniela belum mengucapkan sepatah katapun, Flipper sudah ngakak duluan. Makanya bila dia guyon di waktunya dinner, suasana jadi rame dan makananpun jadi lama datangnya karena yang masak melawak dulu 😀

IMG_8482eS
Daniela dan si piccolino bambina-nya 😀

Dinner pertama di kota Arco usai pada pukul 22.30. Untung Flipper sempat ketiduran di mobil siangnya jadi dia agak tahan bangun sampai malam sambil sesekali keluar ke halaman bermain di Spielplatz. Restoran di Arco maupun di Riva sebenarnya juga tidak ada yang buka sebelum jam 19.00. Tapi paling tidak kita bisa memesan satu menu saja dan langsung pulang tanpa entertainment dan basa-basi.

Sayangnya kami hanya sebentar berlibur di sini. Banyak kegiatan yang bisa dilakukan bersama toddler di sana dan di Riva Del Garda tentunya, mulai dari hiking, bersepeda atau berkesenian. Sepeda dan peralatan hiking bisa disewa di sana, lengkap untuk anak dan dewasa mulai dari 3 tahun ke atas. Kalau anaknya lebih kecil, tinggal dimasukkan ke bike trailer yang bisa disewa juga. Pada kunjungan pertama kami ini, danau Garda begitu memukau kami sehingga kami tidak ingin jauh-jauh darinya. Cieh romantis… D yang memang jago bersepeda dan pernah bersepeda dari  Scotland ke Jerman ini, langsung berjanji bahwa dia akan kembali ke sini lagi sambil mengangkut sepedanya. Flipper dan mamanya ikut doong 😀

2236s
Riva Del Garda old town.
2238s
RIva Del Garda old town.
2235s
Riva Del Garda old town.

More photos on my Flickr.

Road Trip with Flipper – Venice

Dari Bled Slovenia, perjalanan kami berlanjut ke Italy. Meskipun tujuan pertama kali di Italy adalah berkunjung ke Venesia (Venezia, Venice, Venedig), namun kami menginap di luar kotanya yaitu di Cavallino-Treporti dengan pertimbangan  ongkos harian yang mahal hanya untuk parkir mobil di luar kota Venesia. Ya di Venesia kita tidak bisa membawa mobil karena tidak ada jalannya. D kali ini memilih sebuah camping village, CaBerton yang letaknya tidak jauh dari port penyeberangan ke Venesia. Selain itu Ca’Berton juga memiliki pantai dan children animation, pas banget untuk Flipper.

Cavallino map
Kota Cavallino-Treporti dengan outline merah.

 Di Ca’Berton Camping Village

Meskipun namanya camping, bukan berarti kami musti gelar tenda di sini. Ca’Berton Camping Village menyediakan beberapa bungalow dan caravan dengan berbagai ukuran yang sudah dilengkapi dengan kitchen set beserta perlengkapannya termasuk kulkas, tempat tidur bahkan AC dan heater. Kami hanya perlu membawa sprei dan handuk sendiri tapi bila lupa atau malas bisa juga menyewa di sana. Kami menginap di Ca’Berton selama tiga hari di sebuah maxi caravan, caravan terbesar yang ada di sana, yang bisa memuat 6 orang. Secara kita hanya 2 1/2 orang jadinya caravan yang yang sebenarnya segalanya serba terbatas ini jadi terasa lumayan lebar juga.

caravan
Little but comfy, our nest for 3 days in Ca’Berton Camping Village.
caravan2.jpg
Flipper mengajak bersepeda keliling kampung.

Secara belum high season, maka keadaan di Ca’Berton lumayan sepi. Di satu sisi hal ini menguntungkan kami, selain harga menginap yang 60% lebih murah, suasana di sana juga tidak terlalu ramai, di samping kanan kiri kami masih banyak caravan yang kosong. Tak bisa dibayangkan ramainya di saat summer karena letak caravan dan bungalow yang berdekatan satu sama lain. Namun tidak enaknya juga ada, children animation programs yang di Ca’Berton ternyata belum aktif di bulan Mei, jadi Flipper tidak bisa beraksi di mini disco tapi alhamdulillah fasilitas taman bermain indoor dan outdoor bisa dipakai kapan saja. Selain itu, restaurant dan toko-toko yang ada di sana belum buka semuanya, hanya satu resto, satu supermarket dan satu toko kelontong yang waktu itu sudah buka. Oh dan satu gelato (es krim) cafe juga sudah buka, itu yang penting 😀

Di Venesia

Pada hari kedua di Cavallino-Treporti, tepat pada hari ulang tahun D, setelah ritual ulang tahun, kami berkunjung ke Venesia. Perjalanan dari Ca’Berton ke port Punto Sabbioni bisa ditempuh kurang dari 10 menit dengan mobil. Kalau tidak ada mobil, halte bus menuju Punto Sabbiano berada tak jauh dari Ca’Berton. Saya tidak tahu berapa ongkos naik bis ke port, namun biaya parkir di port hanya €5 untuk 12 jam, sangat murah bila dibandingkan dengan parkir harian bila kita menginapnya  di Venesia dan parkirnya di luar Venesia yang berharga sekitar €40/ hari.

IMG_2628-2eS
Port Punto Sabbioni.

Harga tiket boat dari Punto Sabbioni ke Venesia adalah €7,50/ person dengan penyeberangan yang  memakan waktu 3o menit. Begitu kami mendarat di port Venesia, saya terkaget-kaget melihat banyaknya lautan manusia sejauh mata memandang. Saya pikir waktu itu, okelah ini pasti orang-orang yang baru saja turun dari boat dan langsung berpusat di lapangan utama yaitu St. Mark Square, di tempat lain pasti tidak sepadat ini keadaannya. Ternyata saya salah, hampir di semua sudut Venesia penuh manusia. Jalan ke sana kemari pasti saling bersenggolan dengan orang lain. Kios-kios kecil yang menjual souvenir juga banyak bertebar di setiap sudut kota. Banyaknya turis yang memenuhi segala penjuru Venesia membuat saya tidak bisa sepenuhnya menikmati kunjungan kami. Baru mendongak sebentar, ingin mengagumi arsitektur gothic-nya Venesia yang cantik eh kesenggol orang ke kanan kiri. Mau motretpun tidak tidak bisa leluasa mengambil sudut pengambilan.

Niat dari awal ingin masuk ke salah satu museum atau gereja, lupakan saja…di mana-mana antrinya sepanjang jalan kenangan. Selain too touristy, kesan kotor juga tak bisa dihindari dari Venesia. Ya, sayangnya Venesia tidak seromantis seperti yang saya lihat di foto-foto dan film. Saya merasa kasihan dengan penduduk lokal di sana, semoga sih mereka tidak merasa keberatan dengan launtan manusia yang menginjak bumi mereka di segala musim.  Mungkin mereka harus meniru Mallorca, Spanyol yang mulai menerapkan aturan macam-macam untuk mengurangi kedatangan turis ke pulau cantik mereka.

Namun, meskipun tidak sesuai harapan, Vanesia tetap memiliki inner beauty dan kami sudah berada di sana, maka kamipun harus menikmatinya dan mensyukurinya. Ngomel dan ngeluh tidak ada gunanya. Semangat! Yay! Flipper yang paling bahagia dalam kunjungan ini karena air ada di mana-mana, tapi papa dan mamanya harus terus pacu jantung deg-degan melihat anaknya selalu mendekati air, takut kecebur. Saking penasaranannya dengan cebur mencebur, ketika sudah berada di caravan lagi, saya sempatkan untuk browsing tentang kasus orang tenggelam di Venesia. Tidak banyak yang saya temukan kecuali beberapa berita yang menyebutkan bahwa pemerintah Italy menyimpan rapat kasus orang tenggelam di Venesia.

kolase 2s
Flipper langsung pecicilan begitu turun dari boat.

Saat Flipper sibuk melempat kerikil ke kanal-kanal dan papanya sibuk mengawasinya, sayapun sibuk jepret sana-sini. Kebanyakan foto saya adalah gaya #lookup karena menghindari wajah-wajah turis. Foto selfie di jembatan juga sebuah kewajiban ketika berada di Venesia maka selfie stick seharga €5,00 (aslinya €10,00) pun dibeli. Suami tidak bisa diharapkan untuk memotret, karena selain dia harus mengawasi Flipper, he’s not so keen doing #instahubby 😂 . Selain jalan-jalan mengitari kota, kami juga tak melewatkan kesempatan untuk naik water taxi, mengelilingi Venesia dari Grand Canal. Naik gondola tidak masuk ke budget kami karena harganya yang mahil, €80,00 di siang hari dan €100,00 di malam hari. Water taxi yang harganya hanya €7,00 ini adalah boat yang berhenti di tiap-tiap halte dan juga selalu penuh dengan turis dan penduduk lokal. Satu lagi yang membuat kami betah berlama-lama di Venesia adalah es krimnya yang enak. Kami beberapa kali mengadakan break untuk menikmati es krim. Btw hati-hati ya turis, di salah satu gelato parlor, meskipun sudah jelas-jelas kami menunjuk gambar es krim 1 scoop yg harganya €2,00 dan juga benar-benar dikasih es 1 scoop not less dan not more, tapi kami harus bayar €4,00/ scoop which was total €12 for 3 scoops. Why on earth? Mbaknya menjawab dengan bahasa Italy yang tidak kami mengerti. Entah apa gunanya gambar es dan harganya yang terpampang besar-besar di depan parlor-nya.

2212s
Water taxi di Grand Canal.

2219s

Setelah sekitar 6 jam berada di Venesia, kamipun kembali ke tempat camping kami di Ca’Berton yang nyaman dan selonjoran di pantai sambil menikmati es krim (lagi) dari gelato terdekat yang tak kalah enaknya dari es krim di Venesia. Dengan harga yang jauh lebih murah pula. Harga-harga di pertokoan di camping village ini memang termasuk normal, dari roti, makanan restoran hingga barang kelontong harganya tidak berbeda dengan harga supermarket di tempat umum.

Kegiatan kami lainnya selama di Cavallino adalah berkunjung ke kota sebelah, yaitu Lido Di Jeselo. Kota ini terkenal sebagai tujuan pariwisata pantai dengan hotel-hotel sepanjang pantai dan pusat perbelanjaan yang mengingatkan saya kepada Kuta Bali. Bedanya, di Lido Di Jesolo dan Italy pada umumnya, pada jam 12 siang sampai jam 3 sore (bahkan ada yang sampai jam 4), toko-toko banyak yang tutup. Restoranpun hanya sedikit yang buka pada siang hari. Saya baru tahu, ternyata di Italy pun ada siesta seperti di Spanyol.

2221s
Pusat kota Jeselo.
2224s
Pantai di Lido Di Jeselo.

Begitulah trip kami di Venesia dan sekitarnya. It was nice to visit Venice tapi sepertinya tidak perlu diulang. Seperti biasa, foto-foto Venesia ada di Flickr saya ya… dan trip selanjutnya masih di Italy juga tapi lokasi kali ini berbeda sekali dengan Venesia, much better! 💕

Sehari di Den Haag (The Hague)

Menyambung postingan saya sebelumnya, setelah mampir beberapa jam di Gouda, kamipun tiba di Den Haag sekitar jam 9 malam. Untungnya dalam perjalanan ke Belanda Flipper sempat tidur di mobil selama 1,5 jam sehingga dia tidak rewel karena biasanya dia tidur antara jam 7-8 malam. Sempat bermasalah dengan parkiran di basement NH Hotel Den Haag karena mereka sedang mengadakan renovasi sehingga lokasi parkirpun agak ruwet dan lift tidak berfungsi.Setelah angkut-angkut koper ke lobby, saya agak kecewa dengan penampilan lobby hotel yang cenderung apa adanya, membuat saya wondering bagaimana nanti keadaan kamar hotel. Tapi ternyata kekuatiran saya tidak terbukti, kamar superior yang kami booking tidak mengecewakan, bahkan letak kamar yang berada di lantai 16 dan jendela kaca yang super lebar menjadi highlight tersendiri untuk si Flipper yang tidak terbiasa melihat gedung-gedung dan kelap-kelip kota dari atas. Maklum anak desa 😀

IMG_7016e
Flipper menikmati pemandangan kota yang sepi dari atas.

Keesokan harinya, setelah sarapan kamipun naik tram dari halte Beatrixkwartier yang berada di sebelah hotel menuju stasiun pusat Den Haag yang hanya berjarak 3 menit. Arsitektur di halte Beatrixkwartier yang berupa jaring-jaring ini lumayan menarik perhatian saya.  Zwarts & Jansma Architects merupakan desainer dibalik tubular spaceframe  viaduct sepanjang 400 meter yang keren ini. Karena hotel kami berada di komplek perkantoran, tak heran bila pada hari Sabtu jam 10.30 ini  hanya kami bertiga yang ada di halte bis ini. Di dalam tram pun tak banyak penumpang.

IMG_7140e
Saat menunggu tram di halte Beatrixwartier.

Tepat jam 11 kami tiba di stasiun pusat dan kembali bertemu dengan Rurie sekeluarga yang sangat berbaik hati mau meluangkan waktu mereka untuk menemani kami keliling Den Haag hari ini. Tidak ada agenda khusus tentang apa yang mau dikunjungi di kota ini, saya pokoknya manut Rurie saja, yang penting nanti ending-nya harus makan di resto Indonesia yang menunya sudah beberapa kali dipamerkan oleh Rurie ke saya.

2145s
Di stasiun kereta api Den Haag

Sebagai ibokota provinsi Zuid Holland, Kota Den Haag ternyata tidak seperti yang saya bayangkan sebelumnya. Saya pikir kotanya seperti Frankfurt, kota besar yang hiruk pikuk dengan gedung-gedung yang tinggi menjulang dan lalu lintas yang padat merayap seperti di Cologne. Den Haag, meskipun memiliki gedung-gedung tinggi, jauh lebih tenang dan sepi. Mungkin saja karena saya berada di sana di saat hari Sabtu. Namun bila dibandingkan dengan hari Sabtu di pusat kota Cologne yang hectic, jauh bedanya. jalan-jalan di Cologne pada hari Sabtu justru kalau bisa saya hindari karena terlalu crowded sampai senggol-senggolan dan banyak kemungkinan adanya copet yang beraksi.

2152s
#lookup in Den Haag

Rurie mengajak kami ke Binnenhof, sebuah komplek bangunan tua di tepi danau Hofvijver yang saat ini menjadi perkantoran di mana perdana menteri Belanda berkantor di sini. Kata Rurie, kalau kami beruntung, kami bisa melihat si bapak menteri datang atau pergi dari kantornya naik sepeda. Asyik banget ya, menteripun bersepeda di sini. Sayangnya hari itu Sabtu, si bapak pasti tidak ngantor.Komplek bangunan bergaya gothic yang dibangun pada abad ke-13 ini memang cantik. Selain berfungsi sebagai perkantoran dan juga tourist destination, tak jarang tempat ini juga menjadi lokasi foto wedding, demikian kata Rurie yang selain memiliki bisnis catering juga memiliki bisnis fotografi.

2150s
Binnenhof.
2148s
Binnenhof.
IMG_1983-1eS
Kana dan Flipper ngemil bersama di Binnenhof.

Setelah puas mengelilingi komplek Binnenhof, kami beristirahat sebentar untuk makan siang sederhana di pinggir jalan dengan menu the famous Frit, Dutsch French fries. Di Belanda rupanya tak berbeda jauh dengan di Jerman, kebanyakan makan French fries-nya pakai mayonaise (meskipun ada beberapa pilihan saus yang lain). Niatnya makan sedikit saja supaya nanti pas makan malam di resto Indonesia bisa lahap tapi eh ternyata kentang goreng ini enak juga, jatah Milapun banyak yang mendarat di perut mamanya.

Puas dengan kentang goreng, kamipun melanjutkan berkeliling pusat kota Den Haag, kali ini sambil mampir-mampir masuk ke beberapa pertokoan (baca: shopping). Kami mampir ke Asian shop langganan teman-teman Indonesia yang tinggal di Den Haag. Di toko ini  barang-barangnya memang lengkap, tak jauh berbeda dengan Asian shop tempat saya biasa belanja di Cologne. Hanya saja suasana tokonya lebih modern dan rapi. Selain itu, di sini juga ada daun dan biji melinjo! OMG, entah sudah berapa tahun saya tidak makan daun melinjo. Kalau tak salah terakhir makan adalah tahun 2011 ketika saya diundang makan oleh teman lama ketika mengunjungi kota Pacitan. Lodeh melinjo dan sayur asem pun langsung terbayang di pelupuk mata. Untung masih ingat resiko kolesterol, sehingga sayapun hanya mengambil sedikit daun melinjo dan bijinya – untuk tombo kangen (tapi belakangan menyesal juga 😀 ). Sementara saya sibuk beredar mencari makanan di toko ini, juragan Kios Kana sibuk mencari property untuk orderan catering-nya yang akan datang. Kami keluar dari toko sama-sama dengan kresek penuh belanjaan. Saya sendiri tidak berani belanja terlalu banyak karena sempat kepikiran freezer yang sudah penuh di rumah.

Selanjutnya kami mampir ke Chinese bakery dan saya ngiler berat melihat kue dan roti-roti yang dijual di sana karena macamnya seperti kue-kue di bakery Indonesia-dan bukan bakery Jerman. Meskipun punya banyak keinginan untuk beli ini itu, saya memilih membeli   12 buah onde-onde raksasa. Lagi-lagi saya ingat freezer saya. Ah mbuhlah.

Saya juga belanja sedikit di Marks and Spencer Food. Kalau yang ini memang masuk agenda dalam berkunjung ke Den Haag secara di Jerman tidak ada M&S dan selama ini bisanya hanya online shopping. Di sini saya membeli beberapa biskuit dan serabi jadi-jadian.

serabi.jpg
Penampilan serabi jadi-jadian alias crumpets dari M&S dengan saus gula merah buatan sendiri.

Setelah muter dan belanja di sana-sini, tibalah saat yang dinanti-nantikan, makan di restoran Indonesia Si Des. Sebelumnya saya sudah check website mereka dan sudah galau duluan mana yang akan dipesan. Begitu sampai di sana tetap saja galau dan ahirnya malah pesan ayam goreng kremes. Menu ayam kremes adalah menu yang tak terlalu istimewa sebenarnya karena saya pasti bisa juga membuatnya di rumah namun dengan pertimbangan supaya si Flipper bisa ikutan makan, ya pesan itu saja dan alhamdulillah rasanya enak gila! Sambalnyapun mantap. Aduh sambil nulis ini saya jadi kepingin lagi lho… Rurie memesan rujak cingur dan saya sempat mencicipi sesendok. Enak super gila! Entah kenapa saya waktu itu tidak kepikiran untuk pesan rujak cingur bungkus, mungkin karena perut sudah kenyang juga kemasukan ayam goreng kremes dan es teler durian yang juga enak gila. Pokoknya enaknya gila semua kecuali rendang pesanan suami yang rasanya kurang mantap. Kata dia sih masih enakan juga rendang buatan saya. Aih. Oh ya, saya tidak sempat foto-foto makanan karena begitu makanan tersaji, saya langsung kalap makannya 😀

Setelah makan malam usai, kamipun berpisah untuk hari ini. Besok kami janjian lagi untuk mengunjungi taman bunga sebelum kami cabut balik ke Jerman. Saya sendiri malamnya sudah punya janjian berikutnya, yaitu kunjungan Deny dan suaminya. Karena Deny tidak sempat ikut jalan-jalan di kota hari ini maka dia menyempatkan untuk main ke hotel. Sebenarnya Deny mengundang kami untuk makan malan di rumahnya, namun mengingat waktu yang terbatas dan sudah bisa dipastikan si Flipper akan kecapekan sesudah jalan-jalan, undangan itu terpaksa kami tolak. Selain membawa angklung untuk Flipper,  Deny juga membungkuskan  makanan juga untuk mamanya Flipper. Ada gudeg, sambel pecel dan mendol andalannya si Deny. Waaah…suwun banget Deny, masakanmu, seperti halnya sambelmu yang dulu itu, enak sekali! Dan yang pasti makasih sekali sudah menyempatkan main ke hotel, senang banget bisa bertemu Deny dan om Ewald lagi meskipun hanya sak nyuk! Semoga lain waktu bisa saling silahturahmi lagi ❤

IMG_7014e
Deny, saya dan angklung pemberiannya. Yang dikasih angklung sudah rewel dan minta bobok duluan.

—-

Keesokan harinya, hari Minggu kami sudah harus balik ke Jerman lagi. Suami menyarankan supaya kami tidak terlalu siang berangkat dari Belanda karena saat itu adalah hari terakhir liburan Paskah di Jerman, ditakutkan kita akan terjebak di kemacetan arus balik. Sesudah rembukan dengan Rurie, dia tidak keberatan untuk ke taman bunga pagi-pagi. Setelah sarapan pagi kamipun check out dari hotel dan menuju meeting point di kota Lisse yang ditempuh sekitar 30 menit naik mobil untuk kemudian menjelajahi kebun-kebun bunga di berbagai tempat di kota itu

Sayangnya saat itu bunga tulipnya belum tumbuh sempurna dan cuaca mendung setelah malamnya sempat hujan namun asyik juga bisa turun dari mobil, menikmati indahnya kebun pribadi milik orang. Flipper pun langsung bahagia melihat yang becek-becek. Jadi ingat, dulu saya sempat foto gaya di kebun gandum milik orang di dekat rumah, eh ditegur dan diinterogasi macam-macam sama yang punya 😀 Di sini kami dan beberapa pengunjung lain bisa foto-fotoan tanpa teguran (dan kami juga tidak merusak bunganya lho).

IMG_7151e
Wefie bersama Rurie (kiri) dan Novi (kanan).

Setelah puas foto-fotoan di kebun bunga daffofil kuning, kamipun pamit untuk kembali ke Jerman. Rurie family dan Novi, teman baru yang saya temui hari itu, melanjutkan perjalanan menjelajahi perkebunan bunga yang lain.

Terima kasih yang tak terhingga dari kami sekeluarga  untuk Van Sark family yang menemani kami berhari-hari, di Gouda, Den Haag dan Lisse. Maafkan bila ada yang kurang-kurang dan jangan lupa kedatangan kalian selalu ditunggu di tempat kami ❤

IMG_1999-1efiltered
Rurie, Peter dan Kana Van Sark.

Remember the day when…(2) Si Gundul

::Remember the day when… adalah kejadian nyata yang terjadi pada saya yang kadang lucu, kadang tidak juga tapi herannya saya masih mengingatnya 😀

Suatu hari di Muenster. Saya bersama hubby dan beberapa kawannya pergi ke sebuah club. Secara hubby nggak hobi ajojing, dia memilih untuk duduk-duduk gaul di sudut ruangan sementara saya dan teman-temannya asyik ajojing. Sambil menari gaya bebek, saya sempatkan untuk berdadah-dadah kepadanya.

Setelah capek ajojing, sayapun mulai mencari mencari tempat duduk sementara teman yang lain masih terus ajojing. Karena di sebelah hubby sudah penuh, saya duduk di sudut yang lain sambil  sesekali berkode-kodean dengan bahasa  tangan ke suami, maklum musiknya kenceng banget. Tiba-tiba seorang pria mendekati saya dan berbisik sok mesra mengatakan supaya saya berhati-hati dengan pria yang berbaju hitam dan berkepala gundul yang sedari tadi berbahasa Tarzan dengan saya alias hubby. “Dia itu pasti neonazi, lihat saja penampilannya,” kata mas stranger itu membisiki saya. Sayapun antara pengen ketawa dan pengen sedih cuman mengangguk-angguk ke si mas yang sudah berbaik-hati memperingatkan saya. Masa iya neonazi istrinya orang Indonesia? Haha…Don’t judge someone dari kepalanya yang gundul deh  ya 😀

 


Terbang Dengan Balita

Sejauh ini si Flipper sudah 3 kali naik pesawat terbang. Pengalaman terbang pertama langsung menempuh long haul flight 18 jam (baliknya 20 jam) ke Indonesia. Yang kedua terbang ke Turki, 3 jam saja dan yang ketiga ke Mesir, 5 jam (baliknya 6 jam). Meskipun yang ke Indonesia terdengar paling horror, ‘first long haul flight with baby’ namun pada kenyataannya penerbangan itu adalah penerbangan paling easy peasy bersama si Flipper.

Saya ceritain tentang penerbangan yang pertama dulu ya…Meskipun dalam penerbangan pertama pada tahun 2014 nggak ada masalah apapun dengan si Flipper namun persiapan pra terbangnya itu yang heboh. Maklum mamanya Flipper super nervous membayangkan betapa repotnya terbang bersama baby yang umurnya baru 9 bulan. Persiapan dilakukan jauh-jauh hari sebelum penerbangan, membuat list ini-itu, what to do, what to buy and what to bring.

Saat itu Flipper masih MPASI sehingga urusan makanan merupakan urusan yang paling ribet secara saya konsen sekali dengan gizi dan kebersihan makanan. Saya sempat ingin menyewa jasa catering makanan bayi di Bali, bahkan saya sudah mendapatkan daftar menunya tapi secara kami muter di tiga kota yaitu Jakarta, Jogja dan terakhir Bali, maka saya putuskan untuk membawa baby cook Philips Avent saya ke Indonesia. Meskipun lumayan makan tempat di koper, alat ini sangat praktis karena dia bisa mengukus sekaligus menghaluskan makanan. Selain itu saya juga membawa beberapa gelas baby jar food dari merek Hipp karena setelah tanya-tanya teman, ternyata makanan semacam itu tidak ada di Indonesia. Ada hanya satu merek dari Australia yang harganya mahal dan tidak organik. Baby jar food ini sangat praktis untuk travelling. Ketika tidak sempat masak, tinggal dipanaskan di microwave atau diangetin di atas mangkuk berisi air panas. Makanan ini bisa juga langsung dikomsumsi begitu saja kalau tidak memungkinkan untuk memanasinya. Dan yang penting, isi dari baby jar food ini adalah makanan yang bergizi buat bayi yaitu sayuran, buah-buahan, grains dan daging, bukan biskuit manis seperti rata-rata makanan bayi kemasan di Indonesia.

beikost_ratgeber_ernaehrungsplan_produktbilder_nach_4_bis_6_monat

(Foto diambil dari: http://www.hipp.de/beikost/ratgeber/ernaehrungsplan/nach-dem-4-bis-6-monat/)

Untuk bekal di kabin selama perjalanan 18 jam ke Jakarta (termasuk transit lama di Schippol Amsterdam), bekal yang saya bawa untuk Flipper adalah buah pisang, buah alpukat, 3 jars baby food Hipp berbeda rasa dan termos air yang bisa minta diisi di dalam pesawat. Tak lupa alat makan plastik seperti mangkuk, sendok, garpu, serbet makan, tissu dan botol minumnya Flipper. Waktu itu saya tidak tahu bahwa ternyata di pesawat, Malaysian Airlines, Flipper juga mendapat jatah baby package yang isinya jar food juga, alat makan, tissu basah dan diapers. Tahu gitu mah kita tidak perlu membawa makanan banyak-banyak. Tapi tidak apa. Kelebihan selalu lebih bagus dari pada kekurangan.

By the way, jangan takut membawa liquid atau makanan cair untuk bayi ke dalam kabin pesawat, asal jumlahnya reasonable kita pasti diperbolehkan membawanya. Di bandara Schippol kami sempat dihampiri petugas security dan ditanya apakah kami membawa makanan untuk Flipper ke dalam kabin. Sempat deg-degan kalau makanannya bakalan diambil, eh ternyata malah sebaliknya. Mereka hanya mau mengemas semua bekalnya Flipper dalam sebuah sealed bag dan diberi label kalau makanan sudah dicek dan aman untuk dibawa.

Itu soal makanan. Sekarang persiapan sebelum berangkat yang salah satunya adalah vaksinasi. Bebelum kami berangkat ke Indonesia, kami konsultasi dulu ke dokternya Flipper, cek apakah vaksinasi dia sudah update dan apakah diperlukan vaksinasi-vaksinasi tambahan. Waktu itu ada teman yang menganjurkan untuk tambah vaksinasi rabies secara binatang-binatang di Indonesia tidak semua disuntik anti rabies tapi dokternya Flipper malah tertawa dan bilang bahwa itu tidak perlu selama bayi tidak dibiarkan mainan di halaman yang ada binatangnya tanpa kontrol. Selain itu kami juga disangoni obat panas, obat malaria dan obat diare oleh dokter, sekedar untuk jaga-jaga. Ketika saya mengambil obat-obatan itu di apotik (btw obat-obatan dengan resep dokter sampai usia 17 tahun di Jerman gratis), saya sekalian membeli stiker anti nyamuk yang bisa ditempelkan si baju atau stroller atau di mana saja di sekitar Flipper. Tau sendiri kan, nyamuk di Indonesia bandel-bandel. Alhamdulillah waktu di Indonesia Flipper hanya sekali pengalami diare ringan dan ternyata sticker anti nyamuk tidak berpengaruh banyak terhadap nyamuk Indonesia. Namun meskipun badan Flipper bentol-bentol digigit nyamuk, dia tidak pernah merasa gatal atau garuk-garuk, sepertinya dia tidak merasa kalau banyak gigitan nyamuk. Seperti kulit badak, kata mbah kakungnya :D.

Lalu, selain soal vaksinasi adalah soal baby bassinet. Di pesawat disediakan baby bassinet untuk bayi yang beratnya tidak lebih dari 10 kg. Baby bassinet  yang merupakan tempat tidur kecil seperti mini play and pack yang digantung di depan tempat duduk ini sangat membantu kami sekali karena tidak harus memangku Flipper sepanjang jalan kenangan. Dia juga senang-senang saja bobok atau duduk mainan di dalam bassinet.

Untuk mendapatkan baby bassinet, ketika membeli tiket pesawat kita harus memesannya sekaligus, gratis. Enaknya, bila baby bassinet available (karena belum tentu available, tergantung berapa baby bassinet yang  dimiliki Airline dan jenis pesawatnya) sudah tentu kita mendapat tempat duduk di bulkhead seat, yaitu tempat duduk yang lokasinya di belakang partisi pembatas, lokasi paling nyaman di pesawat karena luasnya ruang untuk kaki.

Kami beruntung mendapatkan bulkhead seat yang untuk berdua, tidak perlu senggol-senggolan sikut dengan penumpang lain. Seperti ilustrasi di bawah ini, tempat duduk kami PP Cologne-Jakarta, Denpasar-Cologne adalah di nomor 21 A dan C (entah B-nya di mana ya?).

Screen Shot 2016-02-29 at 14.06.34

(Ilustrasi diambil dari http://www.seatguru.com/airlines/Malaysia_Airlines/Malaysia_Airlines_Airbus_A330-200.php)

Dalam penerbangan dari Amsterdam ke Jakarta yang menempuh sekitar 15 jam perjalanan, dari 8 bulkhead seats yang tersedia di barisan depan, hanya saya dan suami yang membawa bayi. Di barisan tengah yang berisi 4 deret kursi, hanya tampak 1 pria muda berperawakan kecil, Asian seperti saya duduk sendiri. Aneh, padahal waktu  check-in dan  di ruang tunggu saya banyak melihat ibu-ibu lain yang membawa balita. Rupanya para ibu-ibu ini tidak memesan baby bassinet sebelumnya. Untungnya pramugari Malaysian Airlines baik hati dan mempersilahkan tiga ibu dengan balitanya tadi untuk pindah duduk di bulkhead seat di samping si mas tadi. Mereka menerima dengan senang hati meskipun harus pisah duduk dengan suami di belakang. Mbak pramugari juga menawarkan si mas untuk pindah duduk ke belakang supaya tidak terganggu dengan tangisan bayi-bayi, eh tapi si mas menolak lho. Dia enjoy duduk anteng di tengah-tengah para ibu, cuek dengan pandangan ‘pergi gih!’ dari para ibu yang tak jarang harus mengeluarkan payudara untuk menyusui. Moral of the story from bulkhead seat adalah: Bila kakimu tidak panjang-panjang banget, bila bahumu tidak lebar-lebar banget, bila kamu tidak membawa balita, jangan coba-coba pesan bulkhead seat deh dari pada mendapat lirikan kebencian dari penumpang lain karena  kursi tersebut memang diutamakan untuk orang-orang dengan kriteria seperti tersebut di atas.

2
Flipper asyik menonton video musik dalam perjalanan pulang menuju Cologne. Saya khusus men-download lagu-lagu kesayangan Flipper dari Youtube sebelum travelling ke Indonesia. Ini pertama kalinya Flipper melihat video musik, biasanya hanya mendengar lagunya saja. Dia antara bingung dan excited gitu melihatnya 😀

+++

Penerbangan kedua adalah ke Antalya Turki pada bulan Mei 2015. Flipper waktu itu berusia 23 bulan. Satu bulan lagi, harus bayar tiket pesawat deh dia 🙂 Karena pengalaman terbang pertama dengan Flipper sangat memuaskan, maka saya tidak terlalu worry dengan penerbangan kali ini. Toh hanya 3,5 jam ini. Eh ternyata saudara-saudara, Flipper yang sekarang tidak lagi sama seperti yang dulu! Flipper maunya jalan-jalan di dalam pesawat atau berdiri loncat-loncat di atas paha saya atau papanya. Ya, duduk  di space yang sempit (pesawat kecil) pasti sangat untuk membosankan untuk Flipper padahal dia beruntung bisa duduk sendiri karena kursi di sebelah kosong. Mainan dan snack macam-macam hanya bisa bertahan sebentar menghibur Flipper. Untungnya  penumpang yang duduk di depan kami tidak protes dengan ulah Flipper, mungkin karena Flipper tidak menangis, hanya kebanyakan ulah saja. Begitu pesawat mendarat di bandara Antalya, kami masih harus menempuh perjalanan 2 jam menuju resort. Di sini Flipper anteng luar biasa alias bobok klipuk karena kecapekan kebanyakan ulah di pesawat.

3.jpg
On the way dari Cologne ke Antalya yang alhamdulillah kursi di samping kami kosong jadi Flipper bisa nangkring di situ.
Waktu balik ke Cologne, drama sudah dimulai sejak kami naik bis dari hotel ke bandara. Cuaca di Antalya saat itu luar biasa panas meskipun ada AC di dalam bis tapi tidak banyak menolong dan membuat Flipper tantrum. Aneh juga bocah ini, sepanas-panasnya Antalya menurut saya masih lebih nyaman dibanding panasnya Indonesia yang cetar dan humid namun di Indonesia Flipper tidak pernah protes meskipun badannya selalu basah oleh keringat. Giliran di Turki? Ya seperti yang saya bilang tadi, si Flipper yang sekarang berbeda dengan yang dulu.

Ketika tiba di bandara, keadaan bertambah parah karena sepertinya di sana tidak ada AC atau AC-nya rusak. Di sini mulai kelihatan sifat aslinya Flipper (jiah, sifat asli :D), yaitu impatient. Sementara kita masih harus checkin, ngantri di security check, di imigration dan ngantri boarding…Flippernya tidak suka menunggu. Setiap melihat deretan orang-orang antri, tantrumnya kumat. Banyak yang menatap sadis si Flipper namun banyak pula yang berusaha ikut membantu menghiburnya. Untung kami sedang berada di Turki dan kebanyakan orang sedang dalam good mood sesudah liburan, kalau di Jerman yang ada mungkin sadis semua (ada cerita tentang children haters  di Jerman tapi nanti saja saya tulis kapan-kapan).

Di dalam pesawat Flipper mulai tenang, thanks to ASI. Setelah menyusui diapun tidur pulas, meskipun hanya sebentar tapi begitu bangun mood-nya sudah bagus lagi. Turun dari pesawat, kami merasa seperti artis karena hampir semua orang di pesawat mengenali kami sebagai pasangan dengan rebel baby. Mereka menyapa dan komentar betapa behave-nya Flipper di dalam pesawat karena ketika melihat ulah Flipper di bandara, mereka mengira  bahwa penerbangan kali ini bakalan ‘seru’ dengan ‘that toddler’. Alhamdulillah kekuatiran mereka tidak terbukti.

Berikut ini beberapa foto ketika liburan di Turki:

+++

Penerbangan terakhir adalah ke Mesir di akhir tahun 2015 kemarin. Terus terang saya agak trauma juga dengan penerbangan ke Turki kemarin namun life must go on. Flipper sudah rewel begitu melihat melihat antrian di check-in counter. Saumi dan saya harus costantly entertain dia supaya lupa dengan kewajiban antrinya. Bahkan dia sudah bisa teriak nyaring dengan penuh percaya diri: warte nicht!! (no waiting!!) dan bad mood-nya itu masih terbawa sampai dua jam pertama di dalam pesawat.

Selama dua jam pertama Flipper mendapat segala hiburan seperti membaca buku kesukaan dia, membongkar mainan baru yang sengaja saya beli untuk bekal di pesawat, ngemil snack kesukaan dia dan nonton musik video di iPad namun semuanya tidak bertahan lama, somehow Flipper cepat bosan dan rewel. Kemungkinan karena perasaan Flipper campur aduk antara excited berada di dalam pesawat dan ngantuk, capek campur menjadi satu. Setelah dua jam akhirnya dia bisa tidur di atas pangkuan papanya. Oh iya, Flipper saat itu sudah berusia 2,5 tahun jadi dia sudah harus duduk di kursi sendiri tapi entah mengapa dia histeris setiap kali didudukkan di kursinya. Ketika take-off pun dia berada di atas pangkuan sehingga dia harus memakai seatbelt extension seperti bayi. Sempat diomeli pramugaranya sih tapi tidak ada cara lain.

Untuk emergency saya juga membawa empat butir Kinder Surprise Eggs, coklat favorit Flipper yang baru akan diberikan bila hiburan yang lain benar-benar tidak mempan, yang alhamdulillah hanya kemakan 1 butir dalam keberangkatan ke Mesir. Sisanya dimakan ketika ribet di bandara Mesir (baca ceritanya di sini).

Dalam penerbangan pulang ke Cologne, Flipper untungnya (orang Jawa ya, untung melulu) hanya ribut ketika berada di bandara menghadapi antrian dan segala birokrasi bandara. Ketika acara antri usai, diapun serasa bebas, berlari ke sana ke mari, masuk ke semua toko di dalam bandara dan tidur klipuk di dalam pesawat. Pada awalnya  dia tetap tidak mau duduk di kursinya sendiri namun (kali ini tidak ada pramugara yang ngomel) ketika Flipper sudah pulas tidur di atas pangkuan papanya, pelan-pelan badannya digeser ke kursinya sendiri dan seatbelt-nya dikancingkan. Beberapa jam kemudian Flipper terbangun dan tampak bingung mendapati dirinya duduk sendiri dan malah kegirangan, terutama dengan seatbelt-nya. Dia kemudian menikmati buku Tiptoi-nya dan tidak rewel lagi sampai pesawat mendarat.

Semoga untuk penerbangan berikutnya Flipper sudah mau duduk dengan sendirinya di kursinya. Takutnya kita bisa terusir keluar kalau Flipper tetap ingin dipangku karena menurut regulasi keamanan pesawat memang setelah berusia dua tahun, anak harus duduk sendiri. Namun untuk saat ini kami tidak perlu kuatir dulu. Jadwal untuk terbang lagi insyaallah masih lama. Paling cepat mungkin summer nanti. Untuk liburan musim semi ini papanya punya ide untuk road trip ke Slovenia dan Italy. Perjalanan ini nanti pasti tidak kalah challenging karena Flipper harus duduk lama di dalam mobil. Rute yang akan kami tempuh nanti seluruhnya sekitar 3000 km pp, menginap di beberapa kota di Slovenia dan Italy. Excited! Insyaalah akan saya tulis juga nanti.

+++

Berikut ini tips dari saya untuk yang akan terbang dengan balita. Perlu diingat, setiap anak mempunyai karakter yang berbeda jadi belum tentu tip-tip saya manjur untuk semua anak:

-Konsultasi dengan dokter anak sebelum keberangkatan.

Booking baby bassinet untuk bayi di bawah 1 tahun.

-Bawa mainan baru untuk di dalam pesawat dalam keadaan masih dalam kemasan. Biasanya balita suka dengan sensasi bongkar-bongkar barang baru. Atau umpetin mainan kesayangan dia sebulan sebelum keberangkatan dan dikasih lagi ke dia pas di dalam pesawat, pasti deh si anak akan excited lagi.

-Bila si anak sudah boleh bermain dengan gadget, download mainan atau video kesayangan anak ke tablet atau hp untuk hiburan di dalam pesawat. Audio book atau sanggar cerita juga sangat menghibur anak.

-Bawa snack kesukaan anak. Snack baru tidak dianjurkan karena belum tentu dia suka.

– Untuk penerbangan long haul atau terbang ketika malam hari, ganti baju balita dengan pyjama (atau baju rumah yang biasa dia pakai) ketika waktunya tidur sehingga dia tidak merasa ada yang berubah dengan rutinitasnya sehari-hari. Dongeng sebelum tidur juga sangat membantu.

-Bawa kantung plastik segulungan. Kantung ini berguna sekali untuk mengumpulkan sampah atau baju kotor karena ketumpahan makanan.

-Bawa baju ganti, tidak hanya untuk anak tapi juga untuk orang tuanya. Siapa tahu si anak tiba-tiba menumpahkan susu coklat ke badan kita.

-Ketika take off dan landing, beri minum atau cemilan ke balita supaya tidak sakit telinganya.

-Usahakan baby berpakaian properly di dalam pesawat. Para penumpang cenderung tidak suka bila melihat balita di dalam pesawat; membayangkan suara rewelnya nanti di pesawat, apalagi bila balitanya dekil. Waktu terbang ke Jakarta dulu kami harus check-in di bandara jam 4 pagi, semua calon penumpang tentunya masih pada ngantuk dan bad mood. Flipper saat itu memakai bando berpita besar buatan saya sendiri yang hasilnya memang membuat hampir semua orang di bandara tersenyum dan beberapa kali saya dengar suara ‘oh so cuute!’. It worked. Nanti di dalam pesawat, bisa deh yang lucu-lucu itu dicopotin biar baby nyaman.

– Bawa stroller atau bawa gendongan? Untuk praktisnya dan menghemat bawaan mungkin gendongan adalah pilihan pertama (untuk balita yang masih bisa digendong tentunya). Untuk penerbangan pertama dengan Flipper (9 bulan), saya memutuskan untuk membawa dua-duanya dengan pertimbangan it’s long haul flight dan ada kemungkinan pesawat delay lama sehingga hanya gendongan akan mempersulit situasi dan saya harus menjaga kondisi badan saya sendiri supaya tidak sakit punggung ketika sampai tujuan. Saya membawa  stroller ringan yang gampang dilipat dan bisa dibawa sampe ke depan pintu pesawat (Quinny Zapp Xtra) serta gendongan (Manduca) yang dipakai bila si Flipper bosan duduk di stroller atau mau menyusui. Untuk penerbangan ke Turki, kami hanya membawa stroller dan untuk penerbangan ketiga, ke Mesir,  Flipper sudah berumur 2,5 tahun sehingga stroller dan gendonganpun kami tinggal di rumah.

1
Flipper dengan bando pitanya berada di atas stroller dalam penerbangan pertama menuju Jakarta.
Semoga tip-tip di atas bisa membantu ya… Mungkin ada yang punya tip-tip tambahan?

 

 

 

 

Menyogok Pertemanan?

Si Flipper (bukan nama sebenarnya), meskipun belum masuk Kindergarten tapi sibuknya mengalahkan pak pos yang harus muter ke sana-sini. Mamanya musti setia mengantar dia ke segala kegiatan; perpustakaan, Kinderturnen (olah raga anak-anak), berenang, play groups, play dates, dll. Dari Senin sampai Minggu hanya Sabtu dan Minggu saja dia tidak memiliki kegiatan regular namun mulai minggu lalu,  hari Seninpun sekarang dia juga bebas kegiatan.

Biasanya di hari Senin pagi Flipper mendapat kunjungan play date dari Ciara (bukan nama sebenarnya). Ciara ini 8 bulan lebih muda dari Flipper namun badannya lebih bongsor. Mereka sudah berteman sejak Flipper masih berusia  20 bulan (sekarang Flipper berusia 29 bulan), keduanya mengikuti dua play groups yang sama yang kemudian berlanjut play date privat secara rutin di rumah kami.

Tadinya semua normal-normal saja, mereka bisa bermain bersama, masak-masakan, belajar sharing (meskipun masih seringan rebutannya dari pada sharing-nya 😀), kejar-kejaran, dll. Masalah mulai muncul ketika sekitar 2,5 bulan yang lalu ketika Ciara mulai memiliki kebiasaan baru yaitu main dorong sampai jatuh. Setiap kali ketemu, Flipper selalu menjadi korban dorongannya sampai kejengkang, nangis-nangis. Dan itupun tidak hanya satu kali namun berkali-kali. Mama Ciara sudah memarahi bahkan menghukum Ciara setiap kali dia main dorong dan saya juga mengajarkan Flipper untuk bilang ‘tidak’ yang keras kepada Ciara tapi antisipasi dari kedua mama tidak berpengaruh sama sekali kepada Ciara. Kadang sebelum jam play date usai Ciara sudah ditarik pulang oleh mamanya karena mamanya nggak mau juga anaknya mem-bully anak orang lain.

Pernah juga waktu Ciara dan Flipper sama-sama diundang di sebuah acara ulang tahun, mama Ciara sampai nangis dan mengajak pulang Ciara duluan karena baru 30 menit di sana Ciara sudah main dorong anak-anak yang lain sampai dimarahin oleh salah satu orang tua. Saya ngerti banget mama Ciara pasti sedih karena kebiasaan buruk Ciara dan juga karena anaknya dimarahin orang lain. Saya juga pasti bakalan sedih kalau Flipper dimarahi orang lain selain papa mamanya sendiri.

Akibat kebiasaan baru Ciara itu, Flipper jadi tidak mau lagi main dengan Ciara. Kalau hari Senin tidurnya dilama-lamain dan begitu bangun nggak mau langsung ke kamar mandi dan teriak-teriak minta sarapan seperti biasanya tapi minta kelonan dulu dengan saya. Kalau saya tanya boleh nggak Ciara datang, jawabnya tegas: nein(tidak). Jadinya play date yang biasanya seminggu sekali menjadi dua Minggu sekali yang akhirnya sekarang saya putuskan untuk ditiadakan sama sekali.

Hal itu tentu membuat mama Ciara  menjadi nggak enak hati dengan kita. Beberapa kali dia datang membawa hadiah kecil-kecilan buat Flipper seperti buku atau kalung toddler dari kayu. Seperti halnya saya, mama Ciara tentu juga tidak mau kalau Flipper dan Ciara harus putus berteman. Meskipun buat saya, tidak play date bukan berarti tidak berteman. Toh kita masih bertemu di hari Jumat, di sebuah play group yang terbuka untuk umum di youth center. Di situ Flipper masih bisa bertemu Ciara, karena play groupnya di hall yang luas, banyak anak-anak yang lain (20 anak lebih) dan beragam mainan/ aktifitas. Selain itu kalau kami mengadakan aktifitas di luar, misalnya sepedaan atau main di Spielplatz (tempat bermain umum) saya selalu mengajak Ciara dan mamanya untuk ikutan karena kalau di ruang terbuka Flipper juga tidak keberatan main dengan Ciara. Flipper hanya keberatan ketika bermain berdua dengan Ciara di ruangan yang membatasi ruang gerak. Private play group Flipper yang hari Rabu juga harus dipindah ke hari Selasa (dari penyelenggara yang sama) karena di situ pesertanya hanya 8 dan ruangannya juga tidak seluas play group-nya youth center jadi adegan dorong-dorongan tidak bisa dihindari di sana. Flipper sekarang bahkan menjadi trauma setiap kali mendengar nama Ciara.

Ciara (yang depan) sedang sepedaan dengan Flipper
Ciara (depan) dan Flipper sedang sepedaan

 Lalu sekitar 3 mingguan yang lalu saya berkenalan dengan seorang ibu yang anaknya juga sering play date dengan Ciara dan juga sambat karena Ciara sering main dorong tanpa alasan. Dan seperti halnya saya, ibu itu setelah beberapa kali mencoba mentolerir akhirnya dia juga memutuskan untuk tidak play date lagi dengan Ciara. Ya, menurut saya, kalau memang anak kita tidak mau, maka kita sebagai orang tua harus menghormatinya dan tidak perlu memaksa. Lagi pula tidak ada faedah atau hal yg bisa dipelajari dengan membiarkan/ memaksa anak untuk bermain dengan teman yang tidak disukai dan sering menyakiti dia (meskipun si Ciara mungkin belum paham apa itu for fun atau menyakiti). Akhirnya malah Flipper dan anaknya ibu itu yang sekarang selalu play date rutin setiap hari Rabu.

Masalahnya, sekarang mama Ciara seolah tidak rela kalau Ciara tidak bbf-an lagi dengan Flipper. Dia jadi tiba-tiba sering memberi hadiah yang TIDAK  kecil-kecilan lagi statusnya. Pas saya rasan-rasan bahwa saya akan membeli helm buat Flipper, keesokan harinya tiba-tiba dia muncul membawa 2 helm yang baru dibelinya. Dua helm kembar untuk Ciara dan Flipper. Eh?

Ketika cuaca mulai dingin dan melihat saya belum memberi footmuff untuk stroller-nya Flipper, tiba-tiba dia muncul lagi dengan footmuff warna hitam yang katanya pas dengan stroller Flipper yang warnanya merah. Lalu waktu dia melihat Flipper sibuk main puzzle karpet ABC di playgroup, dia sempat bertanya apa Flipper  sudah punya karpet gabus itu di rumah. Saya bilang belum tapi segera saya jelaskan pula bahwa Flipper sudah punya banyak puzzle di rumah dan  saya tidak suka puzzle karpet itu krn warnanya norak, secara saya sudah curiga pasti mama Ciara mau ngasih beginian. Eh benar saja…sorenya sebuah karpet puzzle norak diantar ke rumah. Saya sudah mencoba menolak segala hadiah dari mama Ciara tapi dia ngeyel ngasihnya. Dikasih duit untuk ganti harga dia juga nggak mau. Wah kok jadi gini?

Saya pribadi sebenarnya tidak ada masalah dengan mama Ciara. Orangnya menyenangkan dan  kami bisa sharing soal anak tanpa harus menggurui atau merasa digurui. Ngobrol lain-lain selain soal anakpun kami cocok.Tentang Ciara dan Flipper, saya rasa itu adalah masalah anak-anak yang masih dalam tahap wajar. Mungkin saja yang Ciara alami itu sekedar phase yang nantinya akan hilang sendiri dan bisa saja phase itu terjadi juga dengan Flipper suatu saat nanti (tapi bismillah, semoga tidak) yang artinya dengan berkurangnya waktu Ciara dan Flipper main berdua, bukan berarti saya lalu membenci mereka. Tapi saya juga nggak suka dengan adanya hadiah bertubi-tubi seperti ini, kesannya kok mama Ciara ‘menyogok’untuk tetap berteman dengannya dan Ciara.

Begini deh, masalah anak-anak jadinya merambat ke orang tuanya juga. Enaknya bagaimana ya? Dikasih tahu bahwa Flipper dan saya tidak perlu hadiah-hadiah itu, bahwa kita tetap berteman dan bisa jalan-jalan bareng dengan anak-anak sih sudah…tapi si mama ini sepertinya sungkan atau ketakutan berlebihan begitu… Kalau terus-terusan begini ya nantinya saya malah satru beneran… Piye jal?! (Jowone metu 😀 )