Random Sunday- Ketika di Indonesia

Iyah, nggak terlalu random, ini cerita-cerita pendek  pas kita liburan 6 Minggu di Indonesia kemarin.

beach

Selama di Jogja, saya banyak wira-wiri dengan Grab dan Gojek, dimana saya nggak perlu lagi takut dikerjain argo sopir taxi dan nggak perlu ngrepotin mama untuk nganter kesana-sini (secara udah nggak berani nyetir si sini). So far saya selalu punya pengalaman bagus dengan sopir-sopir Grab dan Gojek, yang ada malah sering nggak enak hati sekaligus terharu karena banyak mas-mas yang mengucapkan terima kasihnya sampai terbungkuk-bungkuk bila dikasih tips apa adanya seolah saya ngasihnya 1 juta. Bahkan anak saya pernah sempat muntah di dalam mobil Grab tapi sopirnya nggak mau dikasih tips, saya bantu bersihin jok mobilpun, dia juga nggak mau.

Lalu pernah ada kejadian saya mendapat message seperti ini di henpun lokal saya. Critanya saya udah order Grab tp nggak jadi karena ternyata urusan nyokap di bengkel udah beres jadi bisa langsung pulang dengan mobil nyokap. Mau cancel ordernya Grab sebenarnya bisa tp saya pikir ah sudahlah, kasihan sopirnya udah jalan (di GPSnya juga kelihatan kalau sopirnya tadi extra muter arah untuk jemput saya), yawis titipkan saja biaya jasanya ke seorang bapak di bengkel. Saya nggak menyangka juga kalau bakalan dapat message dari pak sopir. Terima kasih doanya ya Pak, semoga Bapak juga selalu mendapat berkah dan lancar rejekinya ?￰Saya pasti akan kangen dengan keramahan dan ketulusan Jogja ini

grab

Masih tentang jasa transportasi. Kali ini ojek. Sebenarnya sih saya nggak asing dengan naik ojek. Di Jakarta dulu demi menghindari macet, ojek adalah langganan saya. Tapi naik ojek di Jogja memang baru kali ini dan sesuai dg semboyan kotanya, memang istimewa. Baik ojek online maupun ojek offline, sopirnya seneng banget ngajak penumpangnya ngobrol, dari sekedar apa kabar sampai curhat soal lebaran. Masalahnya nih, kita kan naik motor ya…bukan mobil. Susah lho ngobrol dg orang yg boncengin kita di tengah hiruk-pikuk jalanan apalagi pake helm cakil. Lebih serem lagi kalau sopirnya suka tolah-toleh ke kita, nggak lihat jalan saking semangatnya ngobrol. Mau dicuekin kok nggak enak juga.

Pas di Jogja pas suami sempat sempet beberapa kali fitness di Celebrity Fitness dan pada suatu hari pulang dari fitness dia curhat; pas ikutan body combat, di studionya semua pesertanya pada sibuk main henpun sampai instruktur bilang ‘yak mulai!’ Di cross trainer-pun banyak dijumpai mbak-mbak yang berjam-jam main di cross trainer, jalan super pelan-pelan sambil main henpun. Di atas treadmill pun juga demikian. Hebat ya, katanya. Multi tasking 😀

Tahun ini adalah Idul Fitri pak suami yang pertama di Indonesia. Bagaimana kesan dia? Ada beberapa komentar lucu, di antaranya; Pas hari H-Lebaran, abis shollat Ied, halal bihalal di masjid lalu acara makan opor dan ngobrol-ngobrol, kita semua somehow capek dan pada ketiduran. Pak suami bingung dan setelah pada bangun dia komentar: aku pikir Idul Fitri itu bakalan seharian pesta pake acara tari-tarian segala eh ternyata ada acara tidur siangnya. Enak juga ya…katanya. Yang kedua, pas main ke mall, kami bertemu teman lama saya sedang jalan bareng sekeluarga. Mereka pake baju batik kembaran dalam rangka lebaran. Komentar pak suami lugu: mereka peserta apa ya? Kok bajunya seragam?

Selama di Jogja nggak bisa shopping-shopping cantik atau bahkan window shopping sekalipun karena syusah shopping bawa balita (note: hubby hanya 3 minggu pertama di Indonesia). Sering sih main ke mall tapi di mall yang dituju kids entertainment doang karena memang public playground hampir nggak ada di sini. Di saat-saat seperti bisa bisa mendadak kangen rumah dimana kita bisa anteng shopping online sebanyak-banyaknya trus kalau nggak cocok ya bisa dibalikin sebanyak-banyaknya pula.

It’s not easy to go on holiday alone with what so-called strong-willed child. Go beauty shopping like dress, shoes or even souvenirs is impossible because at the end we will spend the entire time in a game station in the mall. Enjoying yummi food in restaurants is just an alien concept because what I have to do is to eat as fast as I can without finishing it before that child jump off her chair and go run somewhere to do whatever she wants to do. A thought to have beautiful mother-daughter moment; strolling along the seashore will stay as a thought because the fact was, I had to catch her here and there, yelled stops thousand times before she throw herself in the deep sea. At least we managed to enjoy one single beautiful sunset in Double-Six Beach without tantrum. And in this pic, I tried to tell her that iPad time is over, because I had finished my lunch already (yes, mama wanted at least once to enjoy her meal). You see her face. You know what happened next.

mecucu

Advertisements

Road Trip with Flipper – Mengunjungi Danau Garda di Bagian Utara.

Dari Province Venezia, tujuan kami berikutnya yang juga merupakan tujuan terakhir road trip kami adalah danau Garda. Danau Garda adalah danau terbesar di Italia yang panjang dan lebarnya 56,1 km x 16, 7 km dengan luas permukaan keseluruhannya bila kita mengelilingi danau adalah 370 km persegi. Saking luasnya kami jadi memiliki banyak pilihan untuk menginap di sisi danau yang mana. Sebelum road trip beberapa teman yang sudah pernah mengunjungi danau Garda menyarankan supaya memilih daerah di bagian utara karena pemandangan pegunungannya yang lebih bagus dan lebih bersih dari pada di bagian selatan. D pun memutuskan untuk menginap 4 hari di kota Arco, Trentino yang tidak jauh dari kota Riva Del Garda di mana danau Garda berada.

garda map

Kami berangkat sekitar jam 10 siang dari Cavallino namun karena kemacetan yang luar biasa ketika memasuki daerah Arco, perjalanan yang harusnya menempuh 3 jam jadi molor menjadi 4 jam. Karena sudah kelaparan, kami memutuskan untuk mampir dulu di pusat kota Arco sebelum ke penginapan. Sampai di pusat kota Arco, kami celingak-celinguk merasa salah kostum. Bagaimana tidak? Hampir semua orang yang ada di sana dari anak-anak sampai kakek nenek semua berpakaian sporty. Rupanya Arco memang terkenal sebagai tempat untuk outdoor activities. Water sport, cycling dan panjat tebing merupakan olah raga favorit di sana. Tak heran bila banyak orang berbaju ketat bersliweran. Baju ketat buat sepedaan itu lhoo…

2225s
Pemandangan pertama ketika kami baru parkir di pusat kota Arco. Baju ketat.
2227s
Church Collegiata Dell Assunta Arco.
2232s
Ruin dari Arco Castle dilihat dari pusat kota Arco.
2244s
Sarca River, Arco. Itu yang kecil pakai topi merah si Flipper.
2242s
Sarca River, Arco. Sungai ini mengalir ke danau Garda.

By the way mencari makan di daerah ini (dan konon di Italy pada umumnya) pada jam 2-an siang itu susah-susah gampang. Kabanyakan yang buka hanya snack cafe yang menjual bruschetta atau crackers yang dikasih dip macam-macam. Fine restaurant bahkan yang ‘hanya’ menjual pasta dan pizzapun hanya buka di jam makan malam. Mac Donald nggak ada di sini (apalagi nasi goreng). Suami yang terbiasa tidak makan siang cukup puas dengan crackers-nya, Flipper dan saya tidak puas hanya dengan bruschetta dan minta tambah ice cream.

Setelah makan kamipun menuju hotel secara si Flipper sudah nggak sabar ingin main air dan karena kami belum paham dengan medannya danau Garda, D mengusulkan untuk main air di kolam hotel dulu. Kali ini D memilih penginapan yang bertema agricultural. Hotel Maso Le 4 Stagioni merupakan agricultural private hotel yang dikelola oleh suami istri petani yang memiliki vineyard, ladang apel dan ladang pohon zaitun. Mereka juga memproduksi hasil-hasil pertanian mereka sendiri menjadi jus apel, selai apel dan minyak zaitun. Sayangnya kami tidak sempat mengunjungi tempat pengolahan tersebut meskipun Daniela, si pemilik hotel bakalan dengan senang hati menunjukkannya kepada kami. Vineyard saat itu juga belum berbuah jadi harapan untuk memetik anggur langsung dari pohonnya tidak terlaksana.

Hotel kami berada di sebuah bukit dengan jalan yang berliku-liku sempit yang agak problematis bila berpapasan dengan kendaraan lain atau bila sedang ada konvoi sepeda di depan. Tapi begitu sampai hotel, sambutan Daniela, yang super ramah membuat kami langsung merasa nyaman di hotel tersebut. Si Flipperpun langsung nyemplung di kolam renang organic-nya hotel dan main panjatan di taman bermainnya. Kami menghabiskan sore itu di hotel saja. Berikut ini beberapa pemandangan di dalam dan di luar hotel.

flipper main air
Flipper, slowly but sure masuk ke air >.<
2248s
Pemandangan dari halaman hotel.
2249s
Pemandangan dari halaman hotel. Danau Gardapun terlihat dari sini.
2251s
Si penunggu taman hotel.

Keesokan harinya, setelah sarapan kamipun siap menjelajahi danau Garda. Perjalanan naik mobil dari hotel ke kota Riva di mana danau Garda berada hanya 10 menit. Parkir di sana cukup luas, mudah dan juga murah. Kami langsung jatuh cinta pada pandangan pertama dengan danau Garda. Tikar piknik kotak-kotakpun segera digelar di pantainya. Air masih sangat dingin saat itu jadi Flipper pun tak ada niat untuk nyemplung. Dia cukup puas berjam-jam melempar kerikil ke danau dan kamipun puas berjam-jam mengawasinya sambil menikmati pemandangan indah di depan kami.

IMG_8545eS
Flipper yang selalu penuh energi ketika berada di dekat air.

2252s.jpg

2268s

2271s

2274s

2275s

Sejak jumpa pertama dengan danau Garda, kami memutuskan untuk pergi ke sana setiap hari dari pagi hingga sore. Sebelum jam 12 siang kita gunakan waktu dengan rebahan di pantainya. Kalau tahan dengan dinginnya air, bolehlah mainan air dikit-dikit. Tapi bila sudah di atas jam 12, angin yang kencang membuat air di pantainya berombak tinggi seperti di laut, orang-orangpun meringsut menjauh dari air dan kami menggunakan waktu ini dengan mencari snack di kota tuanya Riva atau menemani Flipper bermain di Spielplatz (taman bermain anak).

IMG_8354eS
Mengumpulkan kerikil yang tepat untuk dilempar ke air.
IMG_8364eS.jpg
Salah satu taman bermain di area danau Garda.

Ketika panas tidak lagi menyengat, kamipun kembali menelusuri danau yang diakhiri dengan jalan-jalan  ke old town-nya kota Riva Del Garda sambil mencari makan malam. Pada malam pertama menginap di Arco, kami mengambil makan malam di hotel. Daniela dan Ricardo, suaminya, sangat pintar memasak. waktu itu mereka membuat makanan khas daerah Trentino, yaitu Carne Salada, berupa irisan daing sapi tipis yang diasinkan selama seminggu lalu dibakar sebentar sebelum dihidangkan. Buset deh enaknya masih terbayang sampai sekarang. Saya bahkan sempat browsing dan mencoba resep ini di rumah, namun meskipun rasanya juga enak tapi tak seenak buatan Daniela dan Ricardo. Mungkin karena saya tidak memiliki mesin pengiris daging, jadi daging saya agak ketebalan. #alasan .

Kenapa kami hanya sekali saja makan di hotel meskipun menunya enak adalah karena jam makan malamnya terlalu larut buat kami yaitu pukul 19.30. Bukan itu saja, karena menunya merupakan 3 courses food yang fresh made, penyajiannya juga menjadi lama, apalagi Daniela selalu entertain para tamunya di setiap jeda courses, jadi lebih lama lagi. Daniela ini, unlike suaminya yang super kalem, sangatlah rame dan lucu. Flipper senang sekali kalau berada di dekat Daniela. Daniela belum mengucapkan sepatah katapun, Flipper sudah ngakak duluan. Makanya bila dia guyon di waktunya dinner, suasana jadi rame dan makananpun jadi lama datangnya karena yang masak melawak dulu 😀

IMG_8482eS
Daniela dan si piccolino bambina-nya 😀

Dinner pertama di kota Arco usai pada pukul 22.30. Untung Flipper sempat ketiduran di mobil siangnya jadi dia agak tahan bangun sampai malam sambil sesekali keluar ke halaman bermain di Spielplatz. Restoran di Arco maupun di Riva sebenarnya juga tidak ada yang buka sebelum jam 19.00. Tapi paling tidak kita bisa memesan satu menu saja dan langsung pulang tanpa entertainment dan basa-basi.

Sayangnya kami hanya sebentar berlibur di sini. Banyak kegiatan yang bisa dilakukan bersama toddler di sana dan di Riva Del Garda tentunya, mulai dari hiking, bersepeda atau berkesenian. Sepeda dan peralatan hiking bisa disewa di sana, lengkap untuk anak dan dewasa mulai dari 3 tahun ke atas. Kalau anaknya lebih kecil, tinggal dimasukkan ke bike trailer yang bisa disewa juga. Pada kunjungan pertama kami ini, danau Garda begitu memukau kami sehingga kami tidak ingin jauh-jauh darinya. Cieh romantis… D yang memang jago bersepeda dan pernah bersepeda dari  Scotland ke Jerman ini, langsung berjanji bahwa dia akan kembali ke sini lagi sambil mengangkut sepedanya. Flipper dan mamanya ikut doong 😀

2236s
Riva Del Garda old town.
2238s
RIva Del Garda old town.
2235s
Riva Del Garda old town.

More photos on my Flickr.

Road Trip with Flipper – Venice

Dari Bled Slovenia, perjalanan kami berlanjut ke Italy. Meskipun tujuan pertama kali di Italy adalah berkunjung ke Venesia (Venezia, Venice, Venedig), namun kami menginap di luar kotanya yaitu di Cavallino-Treporti dengan pertimbangan  ongkos harian yang mahal hanya untuk parkir mobil di luar kota Venesia. Ya di Venesia kita tidak bisa membawa mobil karena tidak ada jalannya. D kali ini memilih sebuah camping village, CaBerton yang letaknya tidak jauh dari port penyeberangan ke Venesia. Selain itu Ca’Berton juga memiliki pantai dan children animation, pas banget untuk Flipper.

Cavallino map
Kota Cavallino-Treporti dengan outline merah.

 Di Ca’Berton Camping Village

Meskipun namanya camping, bukan berarti kami musti gelar tenda di sini. Ca’Berton Camping Village menyediakan beberapa bungalow dan caravan dengan berbagai ukuran yang sudah dilengkapi dengan kitchen set beserta perlengkapannya termasuk kulkas, tempat tidur bahkan AC dan heater. Kami hanya perlu membawa sprei dan handuk sendiri tapi bila lupa atau malas bisa juga menyewa di sana. Kami menginap di Ca’Berton selama tiga hari di sebuah maxi caravan, caravan terbesar yang ada di sana, yang bisa memuat 6 orang. Secara kita hanya 2 1/2 orang jadinya caravan yang yang sebenarnya segalanya serba terbatas ini jadi terasa lumayan lebar juga.

caravan
Little but comfy, our nest for 3 days in Ca’Berton Camping Village.
caravan2.jpg
Flipper mengajak bersepeda keliling kampung.

Secara belum high season, maka keadaan di Ca’Berton lumayan sepi. Di satu sisi hal ini menguntungkan kami, selain harga menginap yang 60% lebih murah, suasana di sana juga tidak terlalu ramai, di samping kanan kiri kami masih banyak caravan yang kosong. Tak bisa dibayangkan ramainya di saat summer karena letak caravan dan bungalow yang berdekatan satu sama lain. Namun tidak enaknya juga ada, children animation programs yang di Ca’Berton ternyata belum aktif di bulan Mei, jadi Flipper tidak bisa beraksi di mini disco tapi alhamdulillah fasilitas taman bermain indoor dan outdoor bisa dipakai kapan saja. Selain itu, restaurant dan toko-toko yang ada di sana belum buka semuanya, hanya satu resto, satu supermarket dan satu toko kelontong yang waktu itu sudah buka. Oh dan satu gelato (es krim) cafe juga sudah buka, itu yang penting 😀

Di Venesia

Pada hari kedua di Cavallino-Treporti, tepat pada hari ulang tahun D, setelah ritual ulang tahun, kami berkunjung ke Venesia. Perjalanan dari Ca’Berton ke port Punto Sabbioni bisa ditempuh kurang dari 10 menit dengan mobil. Kalau tidak ada mobil, halte bus menuju Punto Sabbiano berada tak jauh dari Ca’Berton. Saya tidak tahu berapa ongkos naik bis ke port, namun biaya parkir di port hanya €5 untuk 12 jam, sangat murah bila dibandingkan dengan parkir harian bila kita menginapnya  di Venesia dan parkirnya di luar Venesia yang berharga sekitar €40/ hari.

IMG_2628-2eS
Port Punto Sabbioni.

Harga tiket boat dari Punto Sabbioni ke Venesia adalah €7,50/ person dengan penyeberangan yang  memakan waktu 3o menit. Begitu kami mendarat di port Venesia, saya terkaget-kaget melihat banyaknya lautan manusia sejauh mata memandang. Saya pikir waktu itu, okelah ini pasti orang-orang yang baru saja turun dari boat dan langsung berpusat di lapangan utama yaitu St. Mark Square, di tempat lain pasti tidak sepadat ini keadaannya. Ternyata saya salah, hampir di semua sudut Venesia penuh manusia. Jalan ke sana kemari pasti saling bersenggolan dengan orang lain. Kios-kios kecil yang menjual souvenir juga banyak bertebar di setiap sudut kota. Banyaknya turis yang memenuhi segala penjuru Venesia membuat saya tidak bisa sepenuhnya menikmati kunjungan kami. Baru mendongak sebentar, ingin mengagumi arsitektur gothic-nya Venesia yang cantik eh kesenggol orang ke kanan kiri. Mau motretpun tidak tidak bisa leluasa mengambil sudut pengambilan.

Niat dari awal ingin masuk ke salah satu museum atau gereja, lupakan saja…di mana-mana antrinya sepanjang jalan kenangan. Selain too touristy, kesan kotor juga tak bisa dihindari dari Venesia. Ya, sayangnya Venesia tidak seromantis seperti yang saya lihat di foto-foto dan film. Saya merasa kasihan dengan penduduk lokal di sana, semoga sih mereka tidak merasa keberatan dengan launtan manusia yang menginjak bumi mereka di segala musim.  Mungkin mereka harus meniru Mallorca, Spanyol yang mulai menerapkan aturan macam-macam untuk mengurangi kedatangan turis ke pulau cantik mereka.

Namun, meskipun tidak sesuai harapan, Vanesia tetap memiliki inner beauty dan kami sudah berada di sana, maka kamipun harus menikmatinya dan mensyukurinya. Ngomel dan ngeluh tidak ada gunanya. Semangat! Yay! Flipper yang paling bahagia dalam kunjungan ini karena air ada di mana-mana, tapi papa dan mamanya harus terus pacu jantung deg-degan melihat anaknya selalu mendekati air, takut kecebur. Saking penasaranannya dengan cebur mencebur, ketika sudah berada di caravan lagi, saya sempatkan untuk browsing tentang kasus orang tenggelam di Venesia. Tidak banyak yang saya temukan kecuali beberapa berita yang menyebutkan bahwa pemerintah Italy menyimpan rapat kasus orang tenggelam di Venesia.

kolase 2s
Flipper langsung pecicilan begitu turun dari boat.

Saat Flipper sibuk melempat kerikil ke kanal-kanal dan papanya sibuk mengawasinya, sayapun sibuk jepret sana-sini. Kebanyakan foto saya adalah gaya #lookup karena menghindari wajah-wajah turis. Foto selfie di jembatan juga sebuah kewajiban ketika berada di Venesia maka selfie stick seharga €5,00 (aslinya €10,00) pun dibeli. Suami tidak bisa diharapkan untuk memotret, karena selain dia harus mengawasi Flipper, he’s not so keen doing #instahubby 😂 . Selain jalan-jalan mengitari kota, kami juga tak melewatkan kesempatan untuk naik water taxi, mengelilingi Venesia dari Grand Canal. Naik gondola tidak masuk ke budget kami karena harganya yang mahil, €80,00 di siang hari dan €100,00 di malam hari. Water taxi yang harganya hanya €7,00 ini adalah boat yang berhenti di tiap-tiap halte dan juga selalu penuh dengan turis dan penduduk lokal. Satu lagi yang membuat kami betah berlama-lama di Venesia adalah es krimnya yang enak. Kami beberapa kali mengadakan break untuk menikmati es krim. Btw hati-hati ya turis, di salah satu gelato parlor, meskipun sudah jelas-jelas kami menunjuk gambar es krim 1 scoop yg harganya €2,00 dan juga benar-benar dikasih es 1 scoop not less dan not more, tapi kami harus bayar €4,00/ scoop which was total €12 for 3 scoops. Why on earth? Mbaknya menjawab dengan bahasa Italy yang tidak kami mengerti. Entah apa gunanya gambar es dan harganya yang terpampang besar-besar di depan parlor-nya.

2212s
Water taxi di Grand Canal.

2219s

Setelah sekitar 6 jam berada di Venesia, kamipun kembali ke tempat camping kami di Ca’Berton yang nyaman dan selonjoran di pantai sambil menikmati es krim (lagi) dari gelato terdekat yang tak kalah enaknya dari es krim di Venesia. Dengan harga yang jauh lebih murah pula. Harga-harga di pertokoan di camping village ini memang termasuk normal, dari roti, makanan restoran hingga barang kelontong harganya tidak berbeda dengan harga supermarket di tempat umum.

Kegiatan kami lainnya selama di Cavallino adalah berkunjung ke kota sebelah, yaitu Lido Di Jeselo. Kota ini terkenal sebagai tujuan pariwisata pantai dengan hotel-hotel sepanjang pantai dan pusat perbelanjaan yang mengingatkan saya kepada Kuta Bali. Bedanya, di Lido Di Jesolo dan Italy pada umumnya, pada jam 12 siang sampai jam 3 sore (bahkan ada yang sampai jam 4), toko-toko banyak yang tutup. Restoranpun hanya sedikit yang buka pada siang hari. Saya baru tahu, ternyata di Italy pun ada siesta seperti di Spanyol.

2221s
Pusat kota Jeselo.
2224s
Pantai di Lido Di Jeselo.

Begitulah trip kami di Venesia dan sekitarnya. It was nice to visit Venice tapi sepertinya tidak perlu diulang. Seperti biasa, foto-foto Venesia ada di Flickr saya ya… dan trip selanjutnya masih di Italy juga tapi lokasi kali ini berbeda sekali dengan Venesia, much better! 💕

Road trip with Flipper – Bled, Slovenia

Seperti yang sudah direncanakan, pada tanggal 27 April kemarin kami memulai liburan kami melalui jalan darat ke Slovenia dan Italy. Ini bukan merupakan road trip kami yang pertama. Road trip terjauh kami sebelumnya adalah ke Prague. Eh kami pernah juga ding road trip di sepanjang Algarve, Portugal, not sure juga jauhan mana dengan Cologne-Prague. Road trip kami kali ini berbeda karena ada Flipper.

Jadi persiapan khusus kami untuk roda trip kali ini adalah begaimana caranya supaya Flipper bisa betah dalam perjalanan lama ini. Kami membawa organizer box dari merek Hauck yang isinya buku-buku, mainan, snack, alat gambar, dll. Selain itu ada meja portable yang memudahkan Flipper untuk menggambar dan CD sanggar cerita berisi cerita-cerita kesukaan dia. Semuanya berfungsi seperti yang kami harapkan. Selain itu carseat yang bisa di-set ke sleeping position dan sunscreens untuk jendela mobil juga bisa menambah kenyamanan si Flipper istirahat di dalam mobil. Istirahat minimal setiap 3 jam sekali juga wajib dilakukan. Bila cuacanya bagus, kami juga mengeluarkan sepeda mininya Flipper atau bola sepaknya untuk bermain-main di saat istirahat. Kalau cuacanya jelek ya cukup mainan indoor di restoran tempat istirahat.

img_7618
Flipper sibuk bermain dengan buku stickernya.

Karena liburan  kali ini juga dalam rangka merayakan ulang tahun D, suami saya, maka dia jugalah yang mengurus segala sesuatunya termasuk memilih kota persinggahan, apa saja yg mau dikunjungi di kota tersebut dan memilih penginapan yang biasanya menjadi tugas saya yang memang rada sensitive kalau soal urusan tempat menginap. Kali ini saya tinggal packing dan berangkat saja dan tidak boleh ngomel kalau tidak cocok dengan penginapannya. Baiklah.

3 kota tujuan utama kami adalah Bled di Slovenia serta Venice dan Arco di Italy, namun kami juga siap-siap bila harus ada penginapan tambahan ketika berangkat ke Bled yang berjarak 900km dari rumah dan juga penginapan ketika balik ke Jerman mengingat kami tidak tahu berapa lama Flipper bisa tahan duduk anteng di dalam mobil. Dan benar saja, rencana yang tadinya mau berangkat jam 3 dini hari dan langsung ke Bled tidak terlaksanakan. Suami tidak bisa bangun dini hari karena sebelumnya kerja lembur. Kami berangkat jam 6 pagi dan menginap di kota Aschau di perbatasan antara Jerman dan Austria pada pukul 5 sore.

Ketika kami istirahat di outlet city Metzingen (dekat Stuttgart), kami sempat googling sebentar mencari penginapan murmer di Aschau. Kalau dilihat di websitenya, losmennya terlihat biasa-biasa saja, cenderung jelek dan sama sekali bukan style saya tapi letaknya di bukit dan pemandangannya super asoy jadi kami memutuskan untuk menginap di situ, toh hanya satu malam saja. Karena di website itu tertera bahwa losmen tersebut merupakan oase ketenangan hati dan jiwa, sebelum kesana suami tilpun dulu menanyakan apakah it’s ok membawa balita menginap di situ, secara Flipper bukan tipe balita yang tenang (memangnya ada gitu balita yang tenang?) dan si pemilik losmen bilang it’s ok.

Begitu kami sampai di losmen tersebut, kami langsung terpukau dengan pemandangan di sekitar losmen yang berada di bukit itu. Apalagi saat itu salju baru saja turun menyisakan ketebalan sekitar 10 cm. Matahari yang bersinar cerah membuat pemandangannya dobel indah, ketambahan penampakan pegunungan Alpen, triple indah. Setelah checkin cepat-cepat, kamipun segera main di luar. Ini adalah salju pertama yang bisa dibuat mainan oleh Flipper. Sebelumnya dia sudah dua kali melihat hujan salju, namun saljunya langsung meresap ke tanah dan hilang.

Urlaub 019-4eS
Flipper dan papa bermain salju di depan penginapan di Aschau.

Keesokan harinya setelah sarapan kamipun melanjutkan perjalanan ke Bled, Slovenia. Waktu check out yang punya hotel ngomel, katanya Flipper rame. We told ya.

Menuju Bled, D memutuskan untuk melewati jalur di luar Autobahn, maksudnya sambil lihat-lihat pemandangan lokal dan supaya bisa berhenti-berhenti kalau ada kota atau pemandangan yang menarik. Pemandangan menarik banyak, sepanjang jalan malahan, namun kita tidak bisa begitu saja berhenti menikmati pemandangan karena salju turun deras dan suhu udara menukik turun ke minus 3. Celakanya jalur yang kita lewati ini ternyata jalur pegunungan yang sempit dan berliku-liku serta banyak tanjakan. D musti super hati-hati nyetir karena roda mobil kami sudah ganti dari roda untuk musim dingin ke roda musim panas. Ya salju di akhir bulan April memang tidak lazim dan meskipun kami sudah siap siaga dengan membawa pakaian empat musim untuk liburan ini, icy street dan live hujan salju sangatlah di luar perhitungan kami.

IMG_7531eS
Up close and personal with the Alps di sepanjang perjalanan menuju Bled.

Alhamdulillah setelah  4 jam perjalanan, begitu memasuki Bled, meskipun suhu masih rendah, sekitar 6 derajat celcius, cuaca mulai membaik. Kami tiba di farm house family hotel  Mulej Farm disambut oleh Damjana, pemilik hotel yang sedang meriang. Dia ngomel menyalahkan turunnya salju yang tidak normal. Suami Jamdana, Joze juga ikut mengeluh, curhat kalau dia baru saja merapikan ladang dan kebunnya, rutinitas di saat musim semi ketika tiba-tiba salju turun lagi. Saya juga mengeluh karena suhu yang dingin dan memutuskan untuk membeli sepatu boots plastik karena area farm house yang becek campur salju. D mengeluh karena kecapekan setelah nyetir yang menegangkan. Tapi Flipper? Kurasa dia satu-satunya yang justru excited dengan salju. Belum selesai kami mengangkuti barang dari mobil kamar, dia sudah merengek-rengek minta main salju.

Meskipun trip ini sebenarnya adalah trip dalam rangka ultah D, tapi pilihan akomodasi yang dipilih D semuanya berorientasi ke Flipper (kecuali hotel dadakan di Aschau). Tempat yang tak sekedar children friendly namun juga bisa memberi aktifitas untuk anak-anak. Mulej Farm yang dimiliki dan dikelola oleh keluarga Master Joze ini memiliki peternakan sapi, kuda dan lebah. Mereka juga memiliki dua traktor besar untuk mengelola pertanian namun sepertinya lokasi pertanian mereka berada di lokasi yang berbeda dengan lokasi di mana kami tinggal.

Joze beserta Damjana dan 3 anaknya yang berusia antara 13-20 tahun bahu membahu mengurus penginapan dan farm mereka. Tidak ada pegawai yang membantu mengurus penginapan atau pertanian, semua dikerjakan sendiri oleh mereka. Si sulung Jaka beserta ayahnya sejak subuh sudah sibuk dengan traktor dan hewan-hewannya. Kedua adiknya, manja dan Jani  juga ikut membantu di pertanian begitu mereka pulang dari sekolah. Manja kadang juga membantu ibunya mengurusi sarapan dan makan malam para tamu penginapana. Masakan Damjana super enak lho. Meskipun menu makan paginya tidak pernah berubah dan variasinya sedikit namun menu makan malamnya super enak dan porsinya selalu melimpah.

Apartment yang kami ambil letaknya berada di samping kandang sapi. yang kalau jendelanya terbuka, bau sapipun semerbak masuk ruangan. Tapi entah kenapa kami tidak terganggu dengan baunya. Selain hewan-hewan di peternakan, keluarga Joze juga memiliki anjing rotweiler ramah sebesar sapi yang bernama Donna. Flipper yang biasanya tidak suka anjing (bukan takut tapi tidak suka) mendadak jadi fans beratnya Donna. Setiap bangun tidur yang dicari Donna, padahal Donnanya tidur di mana saya juga tidak tahu 😀

Di penginapan ini Flipper puas jasmani dan  rohani. Maunya main di luar terus, saat makan pagi dia selalu tidak tenang karena maunya kejar-kejaran dengan Donna di kandang sapi atau main comberan dengan traktor mininya.

IMG_7580e
Flipper mau main basket bersama Donna.
IMG_7548eS
Suasana di Mulej Farm ketika kami baru datang.
IMG_7544eS
Pemandangan di Mulej Farm dari jendela apartment kami.
IMG_7603eS
Flipper joget sambil dilihatin sapi-sapi.
Urlaub 133-1eS
Petani cilik dengan traktor ciliknya.

Selain sibuk di peternakan, kami tentu saja juga jalan-jalan mengelilingi kota Bled. Kota Bled terkenal dengan danau Blednya. Danau ini terletak tidak jauh dari Mulej Farm, hanya sekitar 10 menit naik mobil. Letak danau Bled lumayan di tengah kota sehingga cari parkiran agak susah di sini. Eh cari parkiran secara keseluruhan memang susah di kota ini. Sepertinya hanya supermarket ynag menyediakan lahan khusus untuk parkiran, selebihnya ya sedikit cari-cari kesempatan dalam kesempitan.  Selama empat hari kami di Bled, saya juga belum pernah melihat adanya bis umum. Keretapun adanya hanya kereta khusus untuk turis yang mau mengelilingi danau Bled. Toko-toko yang ‘decent‘ juga tidak terlalu banyak di Bled, yang ada hanya supermarket dan toko-toko souvenir.

Selama di Bled, kami banyak menghabiskan waktu di farm dan di danau Bled, sekedar duduk-duduk menikmati suasana yang indah di danau Bled. Di tengah danau Bled terdapat pulau kecil, Bled island, dengan beberapa bangunan di atasnya, salah satunya  adalah gereja yang dibangun pada tahun 1470. Lalu berdiri dengan gagahnya, di atas tebing di samping danau Bled, adalah puri Bled. Sayangnya rencana kami untuk mengunjungi puri Bled di hari terakhir tidak terlaksana karena saat itu hujan deras dan Flipper tidak mau berhenti bermain hujan di farm. Yasud, sayang anak, emak dan bapaknya ikutan hujan-hujanan. Si Donna juga 😀

2178s
Danau Bled.
2156s
Puri Bled.

Tujuan lain yang bisa dikunjungi di kota Bled adalah Vintgar Gorge letaknya sekitar 8km dari pusat kota Bled. kami sempat dua kali mengunjungi gorge ini namun yang pertama kali ditolak masuk karena saat itu salju baru saja mencair dan membahayakan pejalan kaki. Petugasnya sempat bilang bahwa penutupan ini bisa berlangsung 2-3 hari. Kami kecewa dan pasrah tak bisa mengunjungi Vintgar gorge. Keesokan harinya, iseng-iseng kami ke sana lagi, eh ternyata sudah dibuka. Alhamdulillah.

Vintgar Gorge sepanjang 1,6 km ini dibuka untuk umum dengan membayar tiket seharga €4,00 (balita gratis). Para pengunjung bisa berjalan melalui jalan setapak dan jembatan di sana-sini menyusuri sungai Radovna dengan tebing-tebing setinggi antara 50 sampai 100 meter di kiri-kanannya. Jalan setapak ini berakhir di sebuah jembatan setinggi 13 meter di atas air terjun sungai Radovna. Saat itu cuaca memungkinkan kami untuk melihat pelangi di bawah jembatan dan bila mendongak ke atas, tampaklah pegunungan Alpen dengan gagahnya. Indah sekali. Flipper hampir tak mau diajak pergi dari gorge, secara di sana banyak air dan meskipun tidak bisa bermain air langsung di sungai namun dia bisa puas berjam-jam melempar kerikil ke sungai (oh ya, 1,6 km bersama Flipper itu bisa memakan waktu 2 jam saking seringnya berhenti minta lempar batu :D)

2174s
Vintgar Gorge.
2167s
Vintgar Gorge.

Demikianlah liburan 4 hari kita di Bled, Slovenia. We love it! Pada hari keempat, setelah sarapan kamipun pamit kepada keluarga Joze untuk melanjutkan perjalanan ke Italy, ke kota Cavallino di Metropolitan City of Venice. Kami disangoni sebotol madu murni oleh mereka. Alhamdulillah.

Nantikan cerita saya berikutnya tentang Venice dan Arco di tulisan selanjutnya  ya…<3

Foto-foto yang lain tentang danau Bled dan Vintgar Gorge bisa dilihat di Flickr saya ❤

 


Sehari di Den Haag (The Hague)

Menyambung postingan saya sebelumnya, setelah mampir beberapa jam di Gouda, kamipun tiba di Den Haag sekitar jam 9 malam. Untungnya dalam perjalanan ke Belanda Flipper sempat tidur di mobil selama 1,5 jam sehingga dia tidak rewel karena biasanya dia tidur antara jam 7-8 malam. Sempat bermasalah dengan parkiran di basement NH Hotel Den Haag karena mereka sedang mengadakan renovasi sehingga lokasi parkirpun agak ruwet dan lift tidak berfungsi.Setelah angkut-angkut koper ke lobby, saya agak kecewa dengan penampilan lobby hotel yang cenderung apa adanya, membuat saya wondering bagaimana nanti keadaan kamar hotel. Tapi ternyata kekuatiran saya tidak terbukti, kamar superior yang kami booking tidak mengecewakan, bahkan letak kamar yang berada di lantai 16 dan jendela kaca yang super lebar menjadi highlight tersendiri untuk si Flipper yang tidak terbiasa melihat gedung-gedung dan kelap-kelip kota dari atas. Maklum anak desa 😀

IMG_7016e
Flipper menikmati pemandangan kota yang sepi dari atas.

Keesokan harinya, setelah sarapan kamipun naik tram dari halte Beatrixkwartier yang berada di sebelah hotel menuju stasiun pusat Den Haag yang hanya berjarak 3 menit. Arsitektur di halte Beatrixkwartier yang berupa jaring-jaring ini lumayan menarik perhatian saya.  Zwarts & Jansma Architects merupakan desainer dibalik tubular spaceframe  viaduct sepanjang 400 meter yang keren ini. Karena hotel kami berada di komplek perkantoran, tak heran bila pada hari Sabtu jam 10.30 ini  hanya kami bertiga yang ada di halte bis ini. Di dalam tram pun tak banyak penumpang.

IMG_7140e
Saat menunggu tram di halte Beatrixwartier.

Tepat jam 11 kami tiba di stasiun pusat dan kembali bertemu dengan Rurie sekeluarga yang sangat berbaik hati mau meluangkan waktu mereka untuk menemani kami keliling Den Haag hari ini. Tidak ada agenda khusus tentang apa yang mau dikunjungi di kota ini, saya pokoknya manut Rurie saja, yang penting nanti ending-nya harus makan di resto Indonesia yang menunya sudah beberapa kali dipamerkan oleh Rurie ke saya.

2145s
Di stasiun kereta api Den Haag

Sebagai ibokota provinsi Zuid Holland, Kota Den Haag ternyata tidak seperti yang saya bayangkan sebelumnya. Saya pikir kotanya seperti Frankfurt, kota besar yang hiruk pikuk dengan gedung-gedung yang tinggi menjulang dan lalu lintas yang padat merayap seperti di Cologne. Den Haag, meskipun memiliki gedung-gedung tinggi, jauh lebih tenang dan sepi. Mungkin saja karena saya berada di sana di saat hari Sabtu. Namun bila dibandingkan dengan hari Sabtu di pusat kota Cologne yang hectic, jauh bedanya. jalan-jalan di Cologne pada hari Sabtu justru kalau bisa saya hindari karena terlalu crowded sampai senggol-senggolan dan banyak kemungkinan adanya copet yang beraksi.

2152s
#lookup in Den Haag

Rurie mengajak kami ke Binnenhof, sebuah komplek bangunan tua di tepi danau Hofvijver yang saat ini menjadi perkantoran di mana perdana menteri Belanda berkantor di sini. Kata Rurie, kalau kami beruntung, kami bisa melihat si bapak menteri datang atau pergi dari kantornya naik sepeda. Asyik banget ya, menteripun bersepeda di sini. Sayangnya hari itu Sabtu, si bapak pasti tidak ngantor.Komplek bangunan bergaya gothic yang dibangun pada abad ke-13 ini memang cantik. Selain berfungsi sebagai perkantoran dan juga tourist destination, tak jarang tempat ini juga menjadi lokasi foto wedding, demikian kata Rurie yang selain memiliki bisnis catering juga memiliki bisnis fotografi.

2150s
Binnenhof.
2148s
Binnenhof.
IMG_1983-1eS
Kana dan Flipper ngemil bersama di Binnenhof.

Setelah puas mengelilingi komplek Binnenhof, kami beristirahat sebentar untuk makan siang sederhana di pinggir jalan dengan menu the famous Frit, Dutsch French fries. Di Belanda rupanya tak berbeda jauh dengan di Jerman, kebanyakan makan French fries-nya pakai mayonaise (meskipun ada beberapa pilihan saus yang lain). Niatnya makan sedikit saja supaya nanti pas makan malam di resto Indonesia bisa lahap tapi eh ternyata kentang goreng ini enak juga, jatah Milapun banyak yang mendarat di perut mamanya.

Puas dengan kentang goreng, kamipun melanjutkan berkeliling pusat kota Den Haag, kali ini sambil mampir-mampir masuk ke beberapa pertokoan (baca: shopping). Kami mampir ke Asian shop langganan teman-teman Indonesia yang tinggal di Den Haag. Di toko ini  barang-barangnya memang lengkap, tak jauh berbeda dengan Asian shop tempat saya biasa belanja di Cologne. Hanya saja suasana tokonya lebih modern dan rapi. Selain itu, di sini juga ada daun dan biji melinjo! OMG, entah sudah berapa tahun saya tidak makan daun melinjo. Kalau tak salah terakhir makan adalah tahun 2011 ketika saya diundang makan oleh teman lama ketika mengunjungi kota Pacitan. Lodeh melinjo dan sayur asem pun langsung terbayang di pelupuk mata. Untung masih ingat resiko kolesterol, sehingga sayapun hanya mengambil sedikit daun melinjo dan bijinya – untuk tombo kangen (tapi belakangan menyesal juga 😀 ). Sementara saya sibuk beredar mencari makanan di toko ini, juragan Kios Kana sibuk mencari property untuk orderan catering-nya yang akan datang. Kami keluar dari toko sama-sama dengan kresek penuh belanjaan. Saya sendiri tidak berani belanja terlalu banyak karena sempat kepikiran freezer yang sudah penuh di rumah.

Selanjutnya kami mampir ke Chinese bakery dan saya ngiler berat melihat kue dan roti-roti yang dijual di sana karena macamnya seperti kue-kue di bakery Indonesia-dan bukan bakery Jerman. Meskipun punya banyak keinginan untuk beli ini itu, saya memilih membeli   12 buah onde-onde raksasa. Lagi-lagi saya ingat freezer saya. Ah mbuhlah.

Saya juga belanja sedikit di Marks and Spencer Food. Kalau yang ini memang masuk agenda dalam berkunjung ke Den Haag secara di Jerman tidak ada M&S dan selama ini bisanya hanya online shopping. Di sini saya membeli beberapa biskuit dan serabi jadi-jadian.

serabi.jpg
Penampilan serabi jadi-jadian alias crumpets dari M&S dengan saus gula merah buatan sendiri.

Setelah muter dan belanja di sana-sini, tibalah saat yang dinanti-nantikan, makan di restoran Indonesia Si Des. Sebelumnya saya sudah check website mereka dan sudah galau duluan mana yang akan dipesan. Begitu sampai di sana tetap saja galau dan ahirnya malah pesan ayam goreng kremes. Menu ayam kremes adalah menu yang tak terlalu istimewa sebenarnya karena saya pasti bisa juga membuatnya di rumah namun dengan pertimbangan supaya si Flipper bisa ikutan makan, ya pesan itu saja dan alhamdulillah rasanya enak gila! Sambalnyapun mantap. Aduh sambil nulis ini saya jadi kepingin lagi lho… Rurie memesan rujak cingur dan saya sempat mencicipi sesendok. Enak super gila! Entah kenapa saya waktu itu tidak kepikiran untuk pesan rujak cingur bungkus, mungkin karena perut sudah kenyang juga kemasukan ayam goreng kremes dan es teler durian yang juga enak gila. Pokoknya enaknya gila semua kecuali rendang pesanan suami yang rasanya kurang mantap. Kata dia sih masih enakan juga rendang buatan saya. Aih. Oh ya, saya tidak sempat foto-foto makanan karena begitu makanan tersaji, saya langsung kalap makannya 😀

Setelah makan malam usai, kamipun berpisah untuk hari ini. Besok kami janjian lagi untuk mengunjungi taman bunga sebelum kami cabut balik ke Jerman. Saya sendiri malamnya sudah punya janjian berikutnya, yaitu kunjungan Deny dan suaminya. Karena Deny tidak sempat ikut jalan-jalan di kota hari ini maka dia menyempatkan untuk main ke hotel. Sebenarnya Deny mengundang kami untuk makan malan di rumahnya, namun mengingat waktu yang terbatas dan sudah bisa dipastikan si Flipper akan kecapekan sesudah jalan-jalan, undangan itu terpaksa kami tolak. Selain membawa angklung untuk Flipper,  Deny juga membungkuskan  makanan juga untuk mamanya Flipper. Ada gudeg, sambel pecel dan mendol andalannya si Deny. Waaah…suwun banget Deny, masakanmu, seperti halnya sambelmu yang dulu itu, enak sekali! Dan yang pasti makasih sekali sudah menyempatkan main ke hotel, senang banget bisa bertemu Deny dan om Ewald lagi meskipun hanya sak nyuk! Semoga lain waktu bisa saling silahturahmi lagi ❤

IMG_7014e
Deny, saya dan angklung pemberiannya. Yang dikasih angklung sudah rewel dan minta bobok duluan.

—-

Keesokan harinya, hari Minggu kami sudah harus balik ke Jerman lagi. Suami menyarankan supaya kami tidak terlalu siang berangkat dari Belanda karena saat itu adalah hari terakhir liburan Paskah di Jerman, ditakutkan kita akan terjebak di kemacetan arus balik. Sesudah rembukan dengan Rurie, dia tidak keberatan untuk ke taman bunga pagi-pagi. Setelah sarapan pagi kamipun check out dari hotel dan menuju meeting point di kota Lisse yang ditempuh sekitar 30 menit naik mobil untuk kemudian menjelajahi kebun-kebun bunga di berbagai tempat di kota itu

Sayangnya saat itu bunga tulipnya belum tumbuh sempurna dan cuaca mendung setelah malamnya sempat hujan namun asyik juga bisa turun dari mobil, menikmati indahnya kebun pribadi milik orang. Flipper pun langsung bahagia melihat yang becek-becek. Jadi ingat, dulu saya sempat foto gaya di kebun gandum milik orang di dekat rumah, eh ditegur dan diinterogasi macam-macam sama yang punya 😀 Di sini kami dan beberapa pengunjung lain bisa foto-fotoan tanpa teguran (dan kami juga tidak merusak bunganya lho).

IMG_7151e
Wefie bersama Rurie (kiri) dan Novi (kanan).

Setelah puas foto-fotoan di kebun bunga daffofil kuning, kamipun pamit untuk kembali ke Jerman. Rurie family dan Novi, teman baru yang saya temui hari itu, melanjutkan perjalanan menjelajahi perkebunan bunga yang lain.

Terima kasih yang tak terhingga dari kami sekeluarga  untuk Van Sark family yang menemani kami berhari-hari, di Gouda, Den Haag dan Lisse. Maafkan bila ada yang kurang-kurang dan jangan lupa kedatangan kalian selalu ditunggu di tempat kami ❤

IMG_1999-1efiltered
Rurie, Peter dan Kana Van Sark.

Kota Tua Al Qusayr, Mesir

Menyambung  cerita dari postingan saya sebelumnya, sebenarnya banyak tour-tour yang ditawarkan di resort selain diving dan snorkling tour, di antaranya  adalah safari desert yang saat itu tidak dianjurkan oleh pihak hotel karena faktor keamanan. Lalu ada tour ke kota bersejarah Luxor atau ke Kairo, mengunjungi Pyramid yang sayangnya harus ditempuh dengan pesawat dan harus menginap, terlalu jauh dari lokasi kami. Pyramid dan Luxor insyaallah akan selalu ada di sana dan kami masih bisa mengunjunginya di lain waktu tanpa harus menginap di tempat yang jauh. Saat itu kami hanya mengambil tour yang jaraknya tidak terlalu jauh dari resort, ke kota tua Al Qusayr yang jaraknya sekitar 70km dari Resta Grand Resort.

Kami naik minibus bersama 5 tamu resort yang lain, dua orang dari Belanda dan tiga orang dari Finlandia. Tidak banyak yang bisa saya lihat dari perjalanan antara resort dan Al Qusayr. Sejauh mata memandang hanya padang pasir. Setelah kira-kira 15 menit perjalanan, tiba-tiba saya melihat ada beberapa spots di mana terlihat susunan pohon palem yang berjajar membentuk pagar, memagari area padang pasir yang luas. Sopir yang mengantar kami menjelaskan bahwa di daerah itu akan dibangun hotel dan sebelum hotel berdiri, pohon palem harus sudah ditanam bertahun-tahun sebelumnya untuk membiasakan tanah (baca: pasir) di lokasi dan juga karena menumbuhkan pohon palem itu memakan waktu lama meskipun tidak ditanam dari bibit. Pohon-pohon tersebut diambil dari pinggiran sungai Nil, di mana mereka banyak tumbuh dengan subur. Ketika saya bertanya, sudah berapa lama pohon-pohon itu ada di sana dan kapan hotelnya akan dibangun, Ahmed, si sopir hanya mengangkat bahu. Yah, dengan keadaan pariwisata di Mesir yang sedang memburuk seperti ini rasanya memang tak perlu terburu-buru membangun hotel di sini.

gereja1
On the way to Al Qusayr.

Setelah hampir satu jam naik minibus kamipun tiba di kota tua Al Qusayr. Seorang penduduk lokal yang rupanya bertugas menjadi guide menyambut kami dan mengajak kami berjalan kaki berkeliling kota. Kota ini terlihat jauh berbeda dari yang saya bayangkan sebelumnya. Kota tua yang saya bayangkan adalah kota dengan reruntuhan bangunan-bangunan purbakala seperti di filmnya Indiana Jones sedangkan yang saya lihat adalah kota kecil dengan bangunan yang relatif modern. Beberapa bangunan terlihat memiliki AC namun semuanya kumuh dan berdebu.

Hampir semua bangunan berwarna kuning kecoklatan dan ciri khas bangunan di sana adalah balkonnya yang menjorok keluar. Jalanan di kota ini tidak beraspal atau berbatu, semuanya berpasir jadi bisa dimaklumi bila debu di mana-mana. Beberapa mobil tua tampak bersliweran dan beberapa tampak terbengkelai dengan keadaan tidak utuh di pinggir jalan.

2081s2085s2092s

2103s
Bangunan bertingkat sering didapati di Al Qusayr dimana beberapa generasi dalam sebuah keluarga hidup bersama di dalamnya.

2106s

2107s
Rumah dengan gambar Ka’bah-nya artinya pemiliknya sudah pernah menunaikan ibadah haji.

Setelah menyusuri gang-gang kecil, Pak Hassan, nama guide kami, mengajak kami ke salah satu masjid. Kota Al Qusayr secara keseluruhan berpenduduk 20.000 dan di bagian kota tuanya sendiri hanya 6.000 penduduk. Di kota tua ini berdiri 27 masjid dan sebuah gereja. Masjid yang kami kunjungi, dari segi bangunan, bagi saya sebenarnya tidak terlalu istimewa. Masjid ini mirip seperti mesjid di perumahan di mana orang tua saya tinggal di Jogjakarta dan menurut Pak Hassan, masjid ini adalah bangunan masjid terbaru di kota ini. Ketika saya bertanya mengapa kita tidak pergi mengunjungi masjid yang paling tua, Pak Hassan mengatakan bahwa pada saat itu sedang ada kegiatan pengajian rutin sesudah Asyar sehingga tidak terbuka untuk turis.

Saat itu memang sekitar pukul empat sore dan sepanjang perjalanan di Al Qusayr, tidak banyak aktifitas yang terlihat di kota ini. Saya melihat beberapa toko yang menjual souvenirs, sebuah toko baju anak-anak, sebuah salon dan sebuah toko kelontong yang semuanya tutup. Saya sempat mengintip ke dalam toko kelontong dari jendela kacanya, sepertinya bila toko itu bukapun, tak akan banyak orang yang mau datang karena dari bangunan sampai isinya, semuanya terlihat sangat kotor dan berdebu. Sesekali saya menjumpai anak-anak yang bermain di luar dan sedikit pria yang lalu lalang. Tidak ada wajah perempuan. Pak Hassan mengatakan, para perempuan sedang berada di dalam rumah menyiapkan makan malam untuk keluarga.

Setelah mengunjungi masjid, Pak Hamid mengajak kami berjalan menyusuri pantai menuju ke gereja Virgin Mary. Penganut agama Islam dan Katolik hidup berdampingan dengan rukun di Al Qusayr. Pak Hassan yang seorang muslim bercerita bahwa orang-orang muslim di sini senang sekali bila hari Minggu tiba, di mana saatnya para penganut agama Katolik pergi ke gereja. Orang-orang yang akan pergi ke gereja selalu mengenakan pakaian terbagus mereka, berdandan semaksimal mungkin, seperti mau datang ke pesta dan itu membuat pemandangan di Al Qusayr bertambah indah, demikian menurut Pak Hassan. Mengingatkan saya pada gereja Katolik di Kota Baru, Jogja yang pada hari Minggu penuh dengan orang-orang dengan penampilan terbaik mereka. Bahkan teman-teman kuliah saya yang biasanya kalau kuliah berlomba untuk terlihat paling nyentrik dengan baju kebalik, rambut dikucir 10 dan bahkan tidak mandi (ya, saya dulu kuliah di ISI tapi tidak pernah nyentrik lho :D), tapi bila saatnya ke gereja tiba-tiba memakai gaun dan sepatu mengkilap 🙂

Dalam perjalanan menuju ke gereja tersebut Pak Hassan bercerita bahwa di Al Qusayr dulu sempat ada pertambangan fosfat milik perusahaan dari Italia yang beroperasi di sini. Perusahaan itu menjadi jantung kehidupan di kota ini sejak tahun 1916 dan  hampir semua penduduk Al Qusayr bekerja di perusahaan tersebut. Namun sejak lima tahun yang lalu, perusahaan ini menghentikan operasinya di Al Qusayr dan sejak itulah generasi muda Al Qusayr mulai meninggalkan kota mereka mencari pencaharian di kota lain. Al Qusayr-pun terbengkelai bersama generasi tua dan anak-anaknya. Pariwisata Al Qusayr yang tadinya juga lumayan banyak dikunjungi turis-turis dari Italiapun berlahan turun pamornya. Satu-satunya hotel di sini, yang dibangun oleh dermawan asal Swedia sekarang menjadi museum hotel yang bisa dikunjungi masyarakat umum hanya untuk melihat-lihat.

Gereja Virgin Mary yang tadinya bernama St. Barbara dibangun oleh perusahaan penambang fosfat tersebut, tak heran bila letaknyapun di bagian belakang komplek besar perusahaan. Ketika kami memasuki komplek perusahaan, bangunan pertama yang saya lihat adalah sebuah bangunan megah yang tadinya menjadi tempat tinggal bos perusahaan. Sebuah rumah impian saya; berada di tepi pantai dengan teras dan balkon yang besar serta kebun. Tapi kalau saya masih boleh bermimpi lagi, akan lebih sempurna bila rumah ini berada di Mallorca, Spanyol dan bukan di tanah gersang Al Qusayr yang hanya menerima hujan sekali dalam 10-12 tahun.

Kami terus berjalan menyusuri halaman yang berdebu dengan beberapa bangunan kosong di kanan kiri kami. Di sinilah dulu terdapat aktifitas mengelolaan fosfat. Gedung-gedung berwarna kuning tersebut mengalami rusak di sana sini namun secara keseluruhan masih tampak kokoh. Pak Hassan mengatakan bahwa ada isyu yang beredar bahwa orang-orang Italia akan kembali ke Al Qusayr untuk mengaktifkan kembali penambangan ini. Semoga isyu itu benar dan kota Al Qusayr akan kembali hidup.

2115s2109s2112s2111s

2108s
Bangunan-bangunan yang terbengkelai di komplek perusahaan penambangan fosfat.
Arsitektur gereja Virgin Mary tampak biasa saja dari depan, namun begitu saya memasukinya, sayapun ternganga. Inilah bangunan tercantik yang saya lihat selama di Mesir. Gereja yang dibangun pada tahun 1920 ini memiliki satu altar dengan Noah arcs-nya yang antik. Beberapa ikon tokoh dari Italia tampak tergambar di interior gereja yang dihias dengan kerang. Mozaik di jendela-jendela gereja merupakan contoh dari kehebatan kesenian Italia.

Keluar dari gereja, tanpa sadar waktu tour kami sudah hampir habis. Pak Hassan mengajak kami ke tokonya dan menyuguhi kami dengan teh hangat. Beliau memiliki toko souvenirs yang sebenarnya lumayan besar namun sayangnya tidak terlalu terawat. Semua barangnya berdebu bahkan ada beberapa yang rusak. Kami menyempatkan untuk membeli sebuah selimut kecil untuk Flipper. Oh ya, di Mesir kita bisa berbelanja dengan beberapa mata uang; Pound Mesir, USD dan Euro.

Hari sudah gelap ketika mobil penjemput kami tiba. Dan tiba-tiba saja kota yang tadinya tampak mati mendadak hidup. Semua orang; lelaki, perempuan, anak-anak keluar rumah. Toko-toko membuka gerainya, cahaya lampu warna-warni menyilaukan mata dan suara sepeda motor maupun mobil tua terdengar membisingkan. Pak Hassan berkata bahwa memang begitulah rutinitas di kota ini setiap hari. Siang hari kebanyakan orang berada di dalam rumah, anak-anak langsung mengerjakan PR sepulang sekolah dan begitu usai shollat Maghrib, semuanya ke luar rumah, bersosialisasi atau bekerja di toko. Pantas saja tour yang ditawarkan untuk ke kota ini ada yang jam mulai dari 20.00 sampai jam 22.00. Kami memilih tour yang siang hari karena faktor anak kecil, si Flipper. Tapi saya tidak menyesal karena bila datang malam hari pasti tak banyak yang bisa saya foto. Entahlah apa saya akan kembali lagi ke kota ini atau bahkan ke Marsa Alam, yang pasti doa saya untuk kota tua Al Qusayr: semoga perusahaan penambangan fosfat kembali aktif di sini, di kota yang memiliki pelabuhan kecil yang cantik. Amiin… Foto-foto Al Qusayr yang lain bisa dilihat di Flickr saya.

papanmilaS
Flipper dan papanya di pantai Al Qusayr.

Winter Holiday di Marsa Alam, Mesir

Home sweet home. Ya, akhirnya kami berada di rumah kembali setelah  menghabiskan 2 minggu liburan di Marsa Alam, Mesir. Tidak banyak yang kami lihat di Mesir karena tujuan liburan kali ini memang hanya untuk recharging body and mind alias hanya bermalas-malasan di resort, menikmati pantai dan mataharinya di kala benua Eropa sedang mengalami musim dingin. Orang Jerman biasa menyebut liburan semacam ini ‘Erholungsurlaub‘ atau ‘Badeurlaub‘ yang arti harafiahnya berdasarkan kamus pribadi Beth adalah liburan cibung-cibung – karena aktifitas utamanya memang bermain air di kolam renang dan di pantai (termasuk berjam-jam berjemur tentunya). Untungnya resort kami terletak di tepi laut merah yang terkenal dengan pemandangan bawah lautnya yang indah sehingga saya yang aslinya tidak bisa bertahan lama berjemur dan diam di atas kursi malas bisa snorkling hampir setiap hari. 

Kami berangkat dari bandara Cologne-Bonn pada hari Minggu tanggal 27 Desember 2015 dengan niat untuk merayakan tahun baru di sana. Penerbangan ke International Airport Marsa Alam memakan waktu 4 jam. Untuk empat jam penerbangan ini, Mila membawa sekoper mainan dan satu ransel tas penuh jajan supaya tidak rewel selama di pesawat. Delapan butir surprise eggs pun disiapkan tapi diumpetin dulu, hanya dikeluarkan ketika sogokan yang lain tidak mempan. Alhamdulillah kami hanya perlu mengeluarkan satu telur dalam penerbangan tersebut.

sangu mila
Koper isi mainan dan satu box jajan. Boxnya itu nanti dimasukkan ke ransel yang penuh jajan juga 😀

 Di Bandara Internasional Marsa Alam

Ketika kami tiba di bandara kecil Marsa Alam, sekitar pukul 17.00 waktu setempat, saya sempat kaget ketika penyambutan pertama yang kami temui adalah para agen tour. Saya pikir kami harus melewati imigrasi dulu di mana saya yang WNI harus pisah antrean dengan anak dan suami. Para agen tour ini berteriak-teriak memanggil penumpang yang sebelumnya sudah booking paket liburan dari mereka. Kamipun menghampiri agen tour kami, yaitu Vtour.

Kami bukan satu-satunya keluarga yang menggunakan jasa Vtour dan selain itu banyak agen-agen dari tour lain yang entah kenapa semuanya terburu-buru sehingga  suasana terasa chaos. Agen tour kami meminta paspor kami dan tanpa banyak cakap langsung menempel paspor kami dengan visa Mesir. Saya lihat agen-agen tour yang lain juga melakukan hal yang sama. Kami yang  pertama kali ke Mesir lumayan bingung juga, bandara ini nggak ada kontrol imigrasinya atau bagaimana. Lagian saya kan berdasarkan aturan, karena saya WNI, sudah harus apply di kedutaan Mesir di Frankfurt sebelum keberangkatan.  Namun saya pikir ya sudahlah, siapa tahu itu cuman sticker tambahan, pikir saya.

paspor
Visa on Arrival

 Ternyata setelah keluar dari keruwetan orang-orang dan para agen tur, baru deh di ujung ruangan terlihat ada loket imigrasi yang mengecek paspor kami. Sayapun baru paham, ternyata kerumunan agen tur tadi ‘nyambi’ sebagai petugas Visa On Arrival (yang tidak berlaku untuk WNI). Entah bagaimana prosesnya seandainya ada pengunjung  yang datang ke Marsa Alam tanpa agen tour, siapa yang akan melayani VOA-nya?  (Pengalaman tentang apply visa ke Mesir bisa dicek di postingan saya sebelumnya.)

Di pemeriksaan paspor yang hanya buka satu loket, visa yang distempel petugas adalah  visa yang dari kedutaan, bukan sticker mini dari agen tur. Setelah kontrol visa, kamipun mengambil bagasi kami dan keluar bandara, mencari agen tour kami yang menyediakan kendaraan transfer ke hotel. Nah di sini terjadi chaos lagi.  Kerumunan para agen tour yang sama kembali mengitari kami para penumpang yang baru datang. Agen tur Vtour kami yang tadi menempel sticker VOA datang lagi untuk menagih pembayaran visa  tersebut. Saya tentu saja menolak membayar karena saya sudah membayar €38,00 di kedutaan Mesir, lebih mahal dari harga Visa pemegang passpor Jerman yang hanya €32,00 (meskipun di sticker visanya jelas-jelas harganya tertera hanya $25- sekitar €23,00). Agen t0ur  tersebut menyalahkan saya yang tidak bilang bahwa saya sudah punya visa. Lah mana saya tahu, waktu dia minta kami menunjukkan visa, dia main tempel saja, plek plek plek? Mentang-mentang pesawatnya datang dari Jerman, dia pukul rata saja menganggap semua penumpang adalah pemegang paspor Jerman. Saya pikir dia tadi hanya mau mencocokkan nama di passpor dengan nama  di list dia. Lagi pula paspor saya warnanya hijau sendiri, kenapa dia tidak curiga?

Si mas agen itu tadinya ngeyel kalau saya harus bayar lagi karena sticker sudah terlanjur ditempel. Sticker artinya duit. Sayapun balik ngeyel dan mungkin karena disertai Mila yang nangis-nangis tak karuan minta keluar dari kerumunan orang, akhirnya mas agen mengalah dan menyobek halaman paspor saya yang ada sticker-nya. Sayapun tak perlu membayar.

Di Resort

Jarak antara bandara dan resort untungnya hanya 10 menit. Lega rasanya ketika memasuki area resort kami, Resta Grand Resort. Suasana natal di hotel terasa masih kental dengan segala dekorasinya. Flipper yang sejak turun dari pesawat serasa forever tantrum langsung bungah melihat Santa yang berdiri  di antara bungkusan kado-kado di lobby. Proses check-in yang disambi dengan suguhan minuman dingin berjalan cepat. Setelah mendapatkan gelang tanda all inclusive, kamipun di antar oleh petugas ke kamar kami.

Mila n Santa

Resort kami terdiri dari beberapa bangunan yang secara keseluruhan berjumlah 396 kamar (dan mereka sedang dalam proses menambah 352 kamarlagi). Kamar kami berada di lantai dua sebuah  bangunan yang terdiri dari 8 kamar. Saking jauhnya dari lobby, kami diantar naik golf cart ke kamar kami. Dalam hati saya happy, kamar jauh dari restoran berarti makin banyak lemak yang terbakar buat jalan. Petugas yang mengantar kami bilang bahwa kamar kami menghadap ke laut namun karena hari sudah gelap, kami hanya bisa mendengar deru ombaknya saja. Baru pada keesokan harinya kami bisa menikmati pemandangan dari balkon kami.

view from room
Kiri: view dari balkon depan. Kanan: view dari balkon belakang.

 Untuk liburan kali ini saya sengaja membawa 3 set baju fitness plus sepatunya karena sudah niat untuk tidak menambah berat badan seperti waktu liburan di Turki kemarin. Yah, memang inilah sisi negatif dari Badeurlaub yang all inclusive. Makanan enak-enak  dan minumannya tersedia 24 jam sehari tanpa harus extra membayar lagi. Waktu di Turki kemarin saya tidak membawa baju fitness dan makan uncontrollable karena saya memang penggemar makanan Turki (Turkish delight, oh!). Akibatnya, efek 10 hari liburan waktu itu belum hilang sampai sekarang. Makanya kali ini saya harus lebih hati-hati. Tapi setelah beberapa kali menikmati makanan di resort ini, dari appetizer sampai dessert, saya menyimpulkan bahwa with or without bakar lemak di fitness studio pun, saya tidak akan menambah berat badan karena makanan di sini tidak selezat di Turki. So I take it as a ‘yay’! 

Pada hari ke-4 saya sudah kehilangan nafsu makan di resort. Dan apesnya resort kami ini letaknya in the middle of sea and desert. Tidak ada kehidupan lain di sekitar hotel sehingga kami tidak bisa jajan di luar. Menu makanan yang disediakan di restoran-restoran hotel sebenarnya sangat beragam mulai dari local food sampai Chinese dan Italian food tapi semuanya terasa hambar sampai akhirnya pada hari ke -5 saya bertanya ke salah satu kokinya apa mereka punya cabe dan oh baiknya si bapak ini, dia berhasil mendapatkan cabe buat saya meskipun itu cabe jalapeno yang tidak sedasyat Thai chili tapi tidak apa-apa. Sekarang di tiap restoran selalu tersedia irisan cabe buat saya. Bahkan di bagian live cooking omelett dan pasta, tanpa banyak tanya,  ketika mereka melihat saya berjalan menuju mengunjungi counter mereka, merekapun sudah menyiapkan sesendok munjung cabe untuk diolah. Pada hari terakhir saya di hotel, ketika makan pagi saya bilang ke koki bagian telur-teluran bahwa mulai besok dia tidak perlu lagi menyiapkan cabe untuk saya karena malamnya kami harus terbang ke Jerman. Sahutan pak koki, “Oh no! We have a big box of chilies prepared for you! Would you like to bring it home?” Becanda nih si bapak. Belum tahu dia bahwa di rumah banyak cabe super pedes yang menunggu saya 😀 Btw, saya memang satu-satunya turis Asia di resort ini.

Service keseluruhan di hotel ini memang sangat bagus tapi menurut saya service di bagian restoran yang paling top. Pelayannya semua super ramah dan mau repot untuk sesuatu yang dibutuhkan meskipun itu bukan bagian dari service. Selain soal cabe tadi, mereka bersedia menghangatkan susu untuk minum paginya Mila karena yang disediakan sebenarnya hanya susu dingin untuk cereal. Selain itu meskipun restoran tutup jam 22.00, saya masih boleh masuk mengambil roti karena si Mila suka tiba-tiba kelaparan lagi setelah acara mini disco. 

Seperti halnya di Turki atau Spanyol bahkan di Indonesia, meskipun tidak ada kebijakan khusus tentang tipping, di sini tipping is welcome. Di sudut restoran-restoran ada sebuah box untuk memasukkan uang tips sukarela kita. Demikian juga di cocktail lounge. Hanya di di restoran untuk gala dinner dan di bagian spa, kalau mau, kita bisa memberikan tips langsung ke orang yang melayani kita. Untuk housekeeping yang rajin membuat kreasi-kreasi menarik dengan handuk di kamar kami, kami meninggalkan tips di atas bantal secara berkala. Beda dengan hotel atau resort di mana kami pernah menginap sebelumnya, housekeeping yang datang membersihkan kamar kami setiap hari adalah orang yang sama, Muhammad. Para karyawan di resort ini hampir semuanya pria, mulai dari bagian reception, kitchen, housekeeping, gardeners, cleaning service, office administration, dll…hanya ada 5 wanita yang bekerja di resort ini, dua pemijat di bagian spa dan tiga hotel animators.

kolase handukS
Macam-macam kreasi handuk dan bantal karya Muhammad.

 Satu fasilitas penting yang selalu kami cari di hotel ketika pergi berlibur adalah fasilitas play ground untuk bermain anak-anak. Resta Grand Resort memiliki Spielplatz yang besar serta kids club yang mainannya sangat lengkap. Sayangnya waktu kami berada di sana, tidak banyak turis mini yang menginap sehingga Flipper nyaris satu-satumya pengunjung di kids club. Peserta mini disco yang diadakan setiap pukul 20.30, yang merupakan aktifitas favorit Flipperpun hanya 1-2 anak. Kadang sayapun ikut menari di panggung supaya Giada, hotel animator yang memimpin disco tetap bersemangat memberi intruksi meskipun pesertanya hanya Flipper seorang 😀

IMG_4925s
Di dalam Kids Club.

IMG_5351s
Taman bermain anak.

IMG_5377
Flipper bersama para crew resort.

Kami berlibur di Mesir di saat tingkat pariwisata di Mesir anjlok gara-gara kecelakaan pesawat dari Sharm El Sheiks menuju Rusia bulan Oktober lalu. Kami sebenarnya sudah booking hotel di Sharm El Sheiks dari jauh-jauh hari sebelumnya yang kemudian setelah kejadian kecelakaan pesawat, kami mengikuti advice dari agen tour untuk pindah ke Marsa Alam. Marsa Alam yang berada jauh dari Sharm El Sheiks (sekitar 300 km naik mobil plus nyebrang laut merah) ikut merasakan dampak dari kecelakaan pesawat tersebut. Di bulan-bulan ini biasanya tingkat hunian Resta Grand Resort isi  80%  karena banyak orang Eropa yang ingin merayakan natal dan tahun baru dengan suhu udara yang hangat. Kali ini tingkat hunian hanya isi 22%. Sangat jauh bedanya tapi tetap masih lebih bagus dari tingkat hunian hotel di Sharm El Sheiks yang nyaris nol persen. Dua dari tujuh hotel animators yang sering ngobrol dengan kami bahkan pindahan dari Sharm El Sheiks. Mereka dipindah ke Marsa Alam karena di sana tidak ada kunjungan sama sekali. Sad. Dan sepertinya tingkat pariwisata di Mesir akan terus anjlok setelah tanggal 8 Januari kemarin terjadi tembak-tembakan di kawasan turis di Kairo, di daerah Pyramid berlanjut dengan serangan di sebuah hotel di kawasan wisata Hurghada pada keesokan harinya. Sedih rasaya membayangkan bila tidak ada lagi turis yang datang ke tempat ini…Apakah bapak tua yang bertugas mencabuti rumput di halaman resort masih diperkerjakan? Apakah Hamyd yang rajin mondar-mandir mempromosikan paket-paket spa akan bisa mempertahankan pekerjaannya? Lalu para hotel animators, kemana lagi mereka akan dipindah? Salah satu pelayan restoran, Sofwan yang sempat pamit ke kami karena akan libur 10 hari merayakan natal di desanya (Di Mesir mereka merayakan natal pada tanggal 7 Januari) dan tidak bisa bertemu kami lagi nanti ketika dia kembali bekerja, apakah dia benar-benar bisa kembali bekerja? 

Kegiatan di Resort

Ketika di Eropa sedang mengalami musim dingin, demikian juga di Mesir. Bedanya bila di Eropa suhunya rendah mendekati angka nol bahkan di bawah nol, suhu  musim dingin di Mesir berkisar antara 16-27 derajat celcius. Suhu yang ideal. Sayangnya kadang suhu yang ideal ini disertai dengan angin kencang yang mengakibatkan dinaikkannya bendera warna hitam yang artinya dilarang turun ke laut. No snorkling. Jangankan untuk snorkling, untuk baring-baring di kolam renangpun lumayan membingungkan karena sengatnya panas matahari bila bercampur angin dingin membuat badan menggigil, apalagi kalau kita berada di tempat yang teduh, di bawah payung misalnya, rasanya ingin menyalakan pemanas.  Tak heran bila di area swimming pools banyak mbak-mbak berbikini yang dilapisi jaket tebal plus kupluknya. 

Ketika berangin inilah saya biasanya menghabiskan waktu di spa, massage. Di sini ada aturan tertulis bahwa customer dan pemijat harus sama gender-nya. Saya sendiri seumur hidup belum pernah dipijat pria, tapi buat saya pribadi selama mijatnya enak, apapun jenis kelaminnya tidak masalah. Tukang pijat langganan saya di Kerpen sendiri adalah ibu-ibu berpostur kecil yang umurnya di atas 50 tahun tapi tenaganya super. Thai massage emang the best lah menurut saya 😀

Private beach di resort kami airnya sangat jernih. Kami bisa melihat coral dan ikan warna-warni hanya dengan berdiri di pinggiran pantai. Untuk snorkling-pun banyak pilihan, snorkling di pantai yang jaraknya hanya 3 meteran dari bibir pantai atau berjalan dulu ke jembatan yang menjorok ke laut di mana ada tangga ke bawah untuk snorkling ke lautan yang lebih dalam. Di kedua lokasi itu ikan dan coralnya sama-sama cantik dan penuh warna, hanya saja di bagian yang lebih dalam bisa dijumpai jenis-jenis ikan yang lebih besar. 

Selain snorkling gratisan di pantai belakang resort, saya juga sempat mengikuti paket snorkling yang diadakan oleh snorkling tour di mana saya berkesempatan melihat seekor kura-kura raksasa dan seekor dugong dari dekat. Begitu melihat kura-kura, saya langsung ingat dengan film Nemo. Kura-kura ini pasti umurnya juga sudah ratusan tahun dan si kura-kurapun melirik nakal seolah mengiyakan dugaan saya. Saya tadinya beranggapan bahwa dugongyang panjangny sekitar 2 meter dan gendut itu adalah binatang pemalas yang hanya klesotan di dasar laut, ternyata saya salah, dia bisa juga berenang indah bergaya zigzag. Lalu belum lagi ikan aneka warna dan coral serta tumbuhan laut yang cantik jelita… Alhamdulillah sekali saya bisa menikmati keindahan alam bawah laut ini. Snorkling terakhir saya sebelum ini adalah di Nusa Dua, Bali yang sayangnya tak seindah di sini.

Foto-foto di pantai belakang resort bisa dilihat di Flickr saya

Jadi kalau mau disimpulkan, saya sebenarnya tidak leyeh-leyeh dan makan melulu di liburan ini. Snorkling hanya absen ketika bendera hitam berkibar. Zumba, dan jogging setiap hari. Massage 3 kali dalam 2 minggu adalah lebih dari cukup bila dibanding dengan aktifitas massage saya yang hanya sebulan sekali di Kerpen. Lalu main air atau main di Spielplatz bersama Flipper. Cukup hectic kan? Belum lagi bingung memilih dessert yang enak-enak dan nonton pertunjukan di panggung yang berganti-ganti setiap malam. Ah menyenangkan. Tapi tetap saja saya lebih senang berada di rumah kembali, back to routine dan merencanakan liburan-liburan selanjutnya 🙂

Ya itulah aktifitas liburan kami di resort. Untuk kegiatan di luar resort, selain snorkling tour,  kami sempat mengunjungi sebuah kota tua dan sebuah kota modern yang akan saya tulis di postingan selanjutnya.

IMG_5378IMG_5379IMG_5380