Good to be back here again, Mallorca – Part 3

Wow! Maaf, ternyata cukup memakan waktu lama juga untuk posting bagian yang ketiga ini. Why oh why, simple answer, karena saya lupa! Hihi… Kirain utang postingan Mallorca sudah lunas tapi ternyata masih kurang satu.

Ini postingan terakhir tentang trip ke Mallorca bulan Mei kemarin ya… sambungan dari yang bagian pertama dan kedua. Di postingan terakhir ini akan saya tulis juga tips-tips berguna yang bisa dipakai bila berlibur di pulau Mallorca.

Jadi kami ceritanya sudah berada di kota tujuan terakhir kami, Alcudia nih… Berikut ini adalah tempat yang wajib dikunjungi saat berada di Alcudia:

Playa de Alcudia

Pantai yang paling dekat dengan hotel kami,adalah Playa de Alcudia. Pantainya buat saya membosankan, hanya pasir memanjaaaang, tidak ada pohon-pohonnya. Cocok banget deh untuk yang suka sun tanning.

Untuk menuju ke pantai ini, kami cukup jalan kaki saja dari hotel, melewati arena kuda pony dan bouncy castle yang selalu menjadi tujuan kami setelah pulang dari pantai. Selain itu banyak toko-toko dan cafe di sepanjang jalan yang bikin saya rajin jalan ke pantai meskipun pantainya membosankan 😀

Berikut ini foto-foto dari Playa de Alcudia:

2891

2892

2894

Cala San Vicente/ Cala Molins

Pantai Cala San Vicente  lumayan jauh dari hotel kami, around 1 hour by car. Tapi it’s worth to visit, pantainya indah dan bening. Di dekat pantai itu terdapat banyak hotel dan yang menurut saya paling outstanding bangunannya, karena berada tepat di tepi pantai adalah hotel Grupotel Molins.

2865

2870

2866

Karena di Cala san Vicente, meskipun view-nya bagus, nggak asyik buat leyeh-leyeh di atas pasir, kamipun lalu mencoba menelusuri lebih lanjut area sekitarnya. Ternyata tak jauh dari sana, hanya mengikuti jalan utama dengan jalan kaki, kami menemukan pantai yang layak untuk disinggahi (baca: ditiduri) yaitu pantai Cala Molins.

cala molins.jpg

Begitu pak suami dan Flipper mulai ganti baju renang dan segala propertinya, sayapun mulai pasang posisi buat baca buku. Oh iya, salah satu buku yang saya baca selama liburan adalah ‘The Curious Incident of the Dog in the Night-Time’. Keren abis ceritanya! Saking kerennya, sekali baca langsung habis. Berikut linknya dan check review-nya di Amazon deh, siapa tahu tertarik

.//ws-eu.amazon-adsystem.com/widgets/q?ServiceVersion=20070822&OneJS=1&Operation=GetAdHtml&MarketPlace=DE&source=ac&ref=tf_til&ad_type=product_link&tracking_id=zbethz-21&marketplace=amazon&region=DE&placement=0099470438&asins=0099470438&linkId=91727d7a8c07da4bd5fe97cb91355071&show_border=false&link_opens_in_new_window=true&price_color=333333&title_color=0066c0&bg_color=ffffff

Oh iya, waktu jalan kaki menuju Cala Molins, dari atas kami sempat melihat sesi pemotretan wedding (kalau di Eropa biasanya bukan pre-wedding tapi post-wedding ceremony). Pasangannya nyemplung di laut pake pelampung. Seru deh! sayangnya saya nggak bawa lensa tele jadi ya cuman kelihatan kecil di fotoku tapi lucuk ah!

2876

2877s
Flipper main air di Cala Molins.
cala molins bobok
Lalu bobok. Air dan angin laut memang bikin ngantuk ya 😀

Necropolis de Son Real

Kali ini meskipun ada pantainya, tapi bukan untuk bermain atau berjemu, melainkan mengunjungi kuburan. Necropolis de Son Real adalah kuburan jaman purbakala yang terletak di sepanjang pantai di kota Can Picafort, sekitar 15 km dari hotel kami. Luas komplek kuburan ini sekitar 1000 m2 dimana terdapat lebih dari 400 pemakaman dengan sekitar 130 batu nisan besar.

Untuk menuju Necropolis de Son Real dari hotel kami, akses terdekat adalah naik mobil sampai depan kantor info turis khusus untuk necropolis tersebut lalu dilanjutkan dengan jalan kaki atau naik sepeda sepanjang 2 km (4km pp) untuk sampai ke komplek pekuburan di pinggir pantai.

Saat itu kami agak sial karena kurang info, menyangka akses mobil bisa sampai lokasi kuburan dan kesialan kedua, saat kami tiba di kantor info, mereka sedang tutup sehingga tidak bisa menyewa sepeda yang disediakan untuk pengunjung. Ya sudahlah, akhirnya kami jalan kaki saja. Lumayan ya apalagi saat itu saya puasa. Tapi begitu sampai lokasi, segala kecapekan hilanglah…It’s worth it.

Profil Necropolis de Son real bisa dilihat di sini.

2788s
Jalan menuju Necropolis.

2799s

2793s

2801s
Komplek Pekuburan.
2803s
Komplek pekuburan.

 Alcudia Old Town

Paling asyik pergi ke old town ini waktu sore hari, kita bisa strolling di sepanjang jalanan berbatu kota tua ini lalu berlanjut dnegan makan malam di salah satu restauran yang cantik-cantik di sana.

Mau shopping di sini juga monggo, lebih banyak üilihannya dari toko-toko di sekitar hotel yang kebanyakan hanya menjual souvenirs.

2886

2880

alc oldtown

Cap de Formentor

Last but not least, the magnificient Cap de Formentor. Pada kunjungan pertama kami ke pulau Mallorca pada tahun 2010, kami sudah mengunjungi tempat ini dan sangat terpesona sehingga kali ini kami memutuskan untuk kembali lagi ke sana. Setelah sekian tahun, ternyata lumayan banyak juga bedanya. Bukan di pemandangannya melainkan pengunjungnya.

Sebelumnya, perlu dijelaskan dulu apakah Cap de Formentor ini. Cap de Formentor yang artinya ujung Formentor berada di atas pegunungan Serra de Tramuntana yang berada di ujung utara pulau Mallorca. Di ujung sini terdapat mercu suar angin yang meskipun tidak terbuka untuk umum tapi area luarnya terbuka untuk umum dan inilah yang membuat Cap de Formentor terkenal karena pemandangan ynag menarik dari atas sana.

Dulu, saya bisa dengan bebas foto-fotoan di lokasi karena saat itu selain kami hanya ada 1-2 pengunjung lain di sana dan parkirpun pun easy peasy. Kali ini, untuk menuju kesana, pas sudah hampir sampai ke ujung, macetnya minta ampun dan parkirpun susah karena penuh dan medan jalannya yang sempit dan berliku-liku tidak memungkinkan untuk parkir sembarangan. Mau foto juga nggak bisa leluasa saking banyaknya manusia, mengingatkan saya dengan suasana lebaran di puncak Borobudur.

nn
Jaman masih langsing, di Cap de Formentor tahun 2010 😀
cap de f
dan foto aktul, ambil nafas panjang dulu sebelum sampai puncak Formentor 😀

Berikut ini pemandangan dari lokasi mercu suar Cap de Formentor:

2861

2859

2856

Dan demikianlah, trip kita berakhir di sini, nggak ada ynag bagian empat ya… Ini udah taman 😀 Semoga berkenan dan bila pengen lihat foto-foto Mallorca ynag lain, bisa check di album Flickr saya di sini.

Berikut ini tips saya kalau ada yang mau main ke Mallorca:

  1. Kalau waktu liburannya panjang, disarankan tidak stay di satu kota saja. Sewa mobil sangat dianjurkan untuk yang mau pindah-pindah kota di pulau Mallorca.
  2. Kalau liburnya sebentar, ya tinggal di satu kota saja. Di dalam satu kota, di Mallorca, selalu terdapat banyak sudut yang menarik untuk dikunjungi.
  3. I’m not sure about public transport tapi kalaupun tidak menyewa mobil sendiri, tidak ada kendala untuk jalan-jalan ke tempat yang agak jauh karena di sana terdapat banyak jasa short tour dengan biaya yang terjangkau.
  4. Pantai-pantai di Mallorca termasuk children friendly, tidak ada ombak gedenya dan selalu ada baywatch-nya. Tapi tetap ya, kalau sama anak-anak sebaiknya selalu waspada. Flipper selalu bawa ban pelampung atau pake arm floats kalau ke pantai.  Kapan itu di koran ada berita tentang  ibu dan anak terbawa arus sampai jauh di atas pelampung unicorn mereka, di Mallorca, sampai helicopter dikerahkan untuk menyelamatkan mereka. Critanya mereka ketiduran… Kok bisa ya? Untung nggak ada yang kecemplung ke laut.
  5. Harga payung dan 2 bangku yang disewakan di pantai-pantai di Mallorca bervariasi. Mulai dari 25€ sampai 40€ sehari. Selama dua minggu di Mallorca, kami hanya sekali sewa payung, selebihnya berteduh di bawah tebing atau bawah pohon.
  6. Makanan di mallorca enak-enak tapi menurut saya kurang pedes dan unlike di negara lain yang bisa dengan gampang mendapatkan cabe, di Mallorca saya tidak menemukan cabe sebijipun. Tips: bawalah saos cabe!
  7. Meskipun banyak pantai yang letaknya nyempil di pedalaman, somehow selalu terdapat decent parking area di dekatnya.
  8. Jangan lupa nggembol makanan kalau mau jalan, apalagi kalau ada anak kecil. Kalau pas di kota sih nggak masalah. Tidak semua pantai menyediakan tempat makan atau sekedar kios. Bekal wajib kami adalah pisang, apel dan air putih.
Advertisements

Good to be back here again, Mallorca – Part 2

Juhuu…  setelah selingan beberapa cerita di postingan sebelumnya, yuk kita lanjutkan cerita tentang liburan di Mallorca kemarin sebelum saya lupa semua. Jadi buat saya, tujuan nulis blog ini selain buat berbagi pengalaman (siapa tahu ada yang tertarik), juga sebagai diary buat saya, supaya saya nggak lupa dulu pernah ngapain aja, kemana aja. Syukur-syukur bisa diulang lagi liburannya.

Kemarin postingan di Mallorca Part 1 berakhir di kota Cala d’Or, kali ini masih di situ juga karena memang banyak banget tempat asyik di Cala d’Or dan sekitarnya jadi kita tuntaskan dulu perjalanan di Cala d’Or dan sekitarnya sebelum berlanjut ke kota tujuan ketiga.

Monacor

Kota Monacor terletak sekitar 30km dari Cala d’Or. Niat kita ke kota tetangga ini sebenarnya cuman mau nyuci baju di self-service laundry karena di apartemen-hotel concept kami, tarif laundry-nya muahiil. Dan secara bawa anak kecil, kebayang kan berapa kali dia harus ganti baju sehari. Saya mah minta ampun saja kalau musti ngucek pake tangan. Biaya washing dan drying di sini, untuk 6kg cukup 6€ saja, sementara kalau di hotel tarif untuk satu kaus 5€. Nah sembari nunggu laundry kelar, kami jalan-jalan di sekitar situ.

Letak self-service laundry ini berada di pusat kotanya Monacor di mana terdapat pasar terbuka yang isinya dari jualan burung sampai baju. Sementara Flipper sibuk mengamati burung-burung dengan papanya, saya muter-muter lihat pasar yang hanya buka sampai jam dua siang. Siesta time. Kami sempat juga tersesat di gang-gang yang sepi di kota tersebut. Untungnya meskipun sepi, gangnya cantik. Secara keseluruhan sih, nggak ada yang menarik dengan kota ini. Etapi kami hanya mengitari daerah seputar pusat kota aja lho ya.

2775s2779s

12
Si Flipper terpukau dengan mesin cuci yang gede-gede.
11
Sibuk mengamati burung.
9
Pasar Monacor.

Portocolom

Salah satu result dari pencarian kota-kota worth to visit di sekitar Cala d’Or menurut Google adalah kota Portocolom yang hanya berjarak 12 km dari Cala d’Or. Kota itu terkenal sebagai kota nelayan kecil yang sepi tapi indah, maka kamipun ke sana. Kotanya ternyata beneran sepi, nggak banyak turis. Kami sempat menyusuri pelabuhan kecilnya dan nemenin Flipper makan es di satu-satunya warung es krim di sana.

2821

2823

2819

Setelah lempar-lempar kerikil ke air, kamipun mulai bosan dan memutuskan untuk mencari pantai. Dari pelabukan Portocolom kami bisa melihat ada sebuah pantai di ujung horison dan hubby mikir kita bisa kesana jalan kaki saja, tinggal muterin pelabuhan, katanya. Untung saya menolak karena waktu itu puanas dan ternyata yang konon sekadar ‘muterin pelabuhan’ itu jauh boo… Untung jadinya naik mobil. Nama pantai yang kami lihat dari pelabuhan tadi apadah Cala Marcal

Pantai Cala Marcal

Buat yang nggak bisa lepas dari sosmed, pantai ini penting karena di sini ada free wifi-nya. Buat saya, pantai ini juga penting banget karena ada proper toiletnya, yang artinya toiletnya berada di bangunan tembok dengan air bersih yang mengalir. Tidak semua pantai di Mallorca memiliki fasilitas tersebut, kebanyakan adanya toilet box yang panas itu, nggak ada airnya, dan kadang bauu! Makanya saya suka enggan pipis di sini. Atau numpang pipis di restoran terdekat juga bisa sih cuman kalau pantainya di pedalaman ya nggak ada resto/ warungnya.

Di sini kami beruntung banget, dapat ‘hibahan inflatablemattress dari turis yang mau pulang ke Jerman dan nggak butuh mainannya lagi sehingga Flipper dan papanya bisa happy berlayar dengan pelampung kasur (not sure apa terjemahannya yang bener hihi…) itu.

Saya rasa ini semacam etik berlibur ya karena ini bukan pertama kalinya kami dapat hibahan beach stuffs dari orang yang sudah selesai berlibur. Dulu di Turki Flipper juga sempat dapat hibahan mainan pasir (cetakan, ember, sekop, etc) dari stranger. Kamipun kalau space di koper mepet juga nggak bawa mainan pantai dari Jerman, mending beli di kota tujuan lalu kalau kami udah mau balik ke DE, dikasih aja ke random turis yang kira-kira butuh dan so far yang dikasih seneng banget.

2834s
Can you spot si boss Flipper lagi nangkring di atas pelampung kasur, didorong papanya? 😀

2835s

ALCUDIA

Setelah menginap 5 hari di kota Cala d’Or, kamipun  pindah lagi ke kota tujuan terakhir kami, Alcudia. Perjalanan dari Cala d’Or ditempuh sekitar 1, 5 jam untuk jarak 70km. Jalannya sebenarnya tidak terlalu berbelok-belok tapi banyak jalan tikusnya, alias sempit. Dalam perjalanan ke Alcudia ini Flipper sempet mabuk darat, muntah-muntah jadi kitapun istirahat dulu di pinggir jalan. Berhubung ini mabuk pertamanya Flipper, dia sempat panik dan bingung gitu pas muntah. Dia bertanya kenapa kok muntah padahal dia nggak makan coklat banyak dan nggak makan cabe hihi… Ceritanya, dia dulu memang pernah muntah karena kebanyakan coklat tapi kalau soal cabe, entah dari mana dia mendapat kesimpulan seperti itu.

13

Istirahat di pinggir jalan setelah mabuk darat.

Alcudia ternyata lebih touristy dibanding Cala d’Or. Baru masuk kotanya aja sudah kelihatan gedung-gedung tinggi dengan nama-nama chain hotels di pinggiran jalan. Hotel kita untungnya nggak berada di main street, agak menepi sedikit, berada tepat di pingir danau. Kali ini si D salah booking karena kebanyakan tamu hotel di sini manula, ngga ada anak kecil sama sekali kecuali Flipper. Di sini nggak ada acara mini disco, adanya   Elvis night dan Bingo game. Flipper sempat ikutan nonton live music Elvisnya dan komentarnya: why on earth orang ini gemeteran kakinya? Haha… Kebanyakan tamu di hotel ini sini orang Jerman dan orang Spanyol. Dari ketiga hotel yang kami inapi, makanan di sini paling enak dan variasi menunya tidak membosankan.

14

Karena Alcudia berada tak terlalu jauh dari Cap de Formentor dan kami juga masih jatuh cinta dengan perjalanan menuju Cap de Formentor delapan tahun yang lalu, kali ini kami memutuskan untuk ke sana kembali supaya Flipper juga bisa menikmati indahnya Cap de Formentor ynag terkenal itu.

Apaan sih sebenarnya Cap de Formentor itu? Bersambung lagi ya teman-teman… Maaf, bukannya bermaksud bikin penasaran, tapi saya musti sortirin foto-fotonya dulu hihi… Janji deh, kali ini nggak pake lama! 😀

Much love,

-beth-

Good to be back here again, Mallorca – Part 1

Setelah delapan tahun, akhirnya awal Mei kemarin kita mengunjungi Mallorca lagi. Kalau dulu bareng temen-temen dan yang masuk agenda liburan di antaranya adalah party, kali ini, karena bareng Flipper, agenda party digantikan dengan mengunjungi taman bermain.

Mallorca adalah salah satu pulau di kepulauan Balearic, Spanyol. Buat orang Indonesia, pulau Ibiza yang berada di sebelahnya Mallorca mungkin lebih akrab di telinga (hint: Venga Boys “We’re Going to Ibiza”). Pada kunjungan kali ini, kita kembali mengadakan road trip mengelilingi pulau, karena hanya diam di satu kota di Mallorca adalah rugi besar. Sekedar gambaran, pulau Mallorca tidak semungil pulau Umang tapi juga tidak sebesar pulau Bali. Menurut MapFight, Pulau Bali lebih besar 1,59 kali pulau Mallorca. Karena kami sudah menjelajahi Mallorca bagian barat dan utara delapan tahun yang lalu, kali giliran bagian utara, timur dan selatan yang kami kunjungi.

Penerbangan dari Cologne ke ibu kotanya Mallorca, Palma De Mallorca Airport hanya 2 jam saja. Begitu mendarat, kami dijemput minibus yang membawa kami ke stasiun penyewaan mobil yang sudah kami booking sebelumnya. Setelah mendapat mobil, kamipun menuju kota pertama tujuan kami, Magaluf.

MAGALUF

Di Magaluf kami menginap di hotel yang punya amusent park yang kami pikir pasti menyenangkan buat Flipper, which was right. Tapi buat D dan saya… alamaak, kalau nggak sayang anak, meskipun sudah bayar kami rela lho pindah hotel karena berisik sekalii… Berisik dengan suara anak–anak sih sudah kami pertimbangkan tentunya, namun ini yang dewasapun tak kalah berisik.

Hotel yang kami pilih kali ini rupanya penuh dengan turis dari Inggris dan inilah yang membuat berbeda. Selama ini kalau berlibur biasanya kami selalu berada di daerah yang mayoritas turisnya orang warga negara campur-campur atau mayoritas turis Jerman. Kami tidak sengaja mencari yang seperti itu sih tapi dapatnya kebanyakan begitu, makanya saya sempat mikir orang Jerman tuh buset deh, ada di mana-mana. Kecuali di Magaluf di hotel kita tempati selama 4 malam. Dan tidak bermaksud untuk rasis, bedanya demikian:

  1. Di hotel, main language yang digunakan adalah Inggris dan Spanish yang bagi kami sebenarnya tidak bermasalah tapi buat Flipper agak susah karena crews di acara Mini Disco dan Kids Club-nya nggak ada yang bisa berbahasa Jerman sedangkan bahasa Inggrisnya Flipper standard saja, what’s your name, how wold are you, how are you, I am hungry, do you like banana, one two, three…  Selebihnya dia gak mudeng haha…
  2. Para orang tua dari negaranya pangeran Harry ini, terutama ibu-ibunya gemar sekali meneriaki anak-anaknya. Nggak semua pastinya tapi mayoritas. Ngomong baik-baik dan marah nggak ada bedanya, yang pasti ngomongnya kenceng. Mungkin mereka menganggap pendengaran anak-anak nggak setajam telinga mereka, Entahlah. Etapi di antara dewasapun ngomongnya juga kenceng. Mereka juga tidak mempertimbangkan tempat dan waktu dimana harus ngomong kenceng, di koridor kamar hotel jam 12 malem pun jadi. Atau di sebelah orang yang clearly sedang tidur di lounger di kolam renang sampai orangnya mencolot. Saya yang melihatnya antara prihatin dan pengen ketawa.
  3. Dibandingkan dengan orang Jerman yang kebanyakan langsing, ibu-ibu Inggris banyak yang overweight. Perlu perjuangan buat saya mencari sosok wanita Inggris yang normal, yang semok atau yang gemuk biasa. Postur para pria dan anak-anak serta remajanya sih biasa-biasa aja tapi yang ibu-ibunya, let say, yang di atas umur 20 tahun, kebanyakan size XXL.
  4. Mereka sangat memanjakan anak-anaknya dalam soal makanan. Saatnya makan (kami ambil paket half -board; breakfast dan dinner) di mana aneka sweets dan kue-kue disajikan sebagai makanan penutup, ibu-ibu ini memberikan sepiring Haribo atau setumpuk tart beraneka rasa ke anak-anaknya as main course. Saat makan churros  pun, instead of menggunakan wadah kecil-kecil yang sudah disediakan untuk celupan coklatnya, mereka  mengisi cangkir coffee latte yang tinggi itu dengan coklat, OMG. Dalam satu sisi saya maklum sih, si anak-anak pasti merengek pingin makan sweets dan si ortu pengen menikmati makannyanya tanpa rengekan ini itu, tapi sepiring penuh permen? Flipper juga merengek minta permen dan tentu saja saya kasih juga tapi syaratnya musti makan dulu. Setelah makan dia boleh milih 2 macam dessert aja and it worked well  meskipun kadang-kadang dia kelamaan mempertimbangkan dessert mana yang mau dia ambil hihi… Pernah nih, waktu saya ambil mini donat 1 biji buat Flipper, ada seorang ibu yang bilang ramah ke saya, “Eh kamu boleh ambil banyak lho, jangan malu-malu… “Atau mungkin prinsip mereka, mumpung all you can eat jadi ngambilnya banyak-banyak gitu kali ya?
  5. Kalau di Jerman area, kebanyakan anak-anak pake baju merek H&M, di sini banyak yang pake baju merek Inggris punya, Next. Bajunya Flipper jadi banyak yang nyamain. Yang ini point nggak penting deh 😀

 

1
Hotel kami di Magaluf. Untung tempat tidurnya nggak kebalik pulak 😀

Selama di Magaluf, tak banyak yang kami kunjungi karena kebanyakan Flipper dan papanya menghabiskan waktu di waterpark nya hotel atau di pantai. Saya mah kebanyakan jalan- jalan, (window) shopping karena lokasi hotel memang strategis, dekat pantai, dekat tempat party, dekat tempat makan dan pertokoan. Aldi dan fitness studiopun ada di sudut pengkolan. Setelah Flipper dan papanya main air, biasanya kami menghabiskan waktu bermain di amusement park nya hotel, dimana ada rumah kaca, mini golf, arena bermain dan berkarya, rumah kebalik, etc.

Pantai yang dekat dengan hotel namanya Playa Es Carregador dan  menurut saya tidak terlalu indah. Standard long, boring beach seperti Playa Palma de Mallorca. Tapi kami sempat menjelajahi pantai yang indah, di desa Portal Vells, yang hanya berjarak 9 km dari hotel. Nama pantainya Cala de Portals Vells. Mengapa cala dan bukan playa? Karena pantainya kecil, kalau playa panjang. Dan kami, seperti anak kecil dapat permen, kegirangan, mendapati pantai yang indah. Sementara Flipper dan papanya langsung ganti kostum berenang, sayapun (yang memang agak anti dengan air laut hihi…) mulai mengeksplorasi daerah sekitar dengan kamera. Setelah main air, Flipper dan D sempat tidur siang di pantai dan begitu mereka fit kembali, mereka ikut menemani saya melanjutkan eksplorasi di tebing-tebing sekitar.

Berikut ini foto-foto di Potals Vells:

23

2764s2752s

2749s
Flipper bisa menghabiskan waktu lama nih, lempar-lempar batu ke air.
2753s
Anak-anak di ujung kanan itu sedang meloncat ke air bergantian. Seru!

2757s

CALA D’OR

Setelah empat malam tinggal di Magaluf, pada hari kelima kami pindah ke kota Cala d’Or yang jaraknya 85 km dari Magaluf. Nama kota ini menggunakan kata cala mungkin karena di situ banyak pantai-pantai kecil. Ini perkiraan saya saja ya, tidak dari sumber yang bisa dipercaya. Kali ini, di Cala d’Or, kami menyewa apartment. D dan saya happy, akhirnya bisa menghabiskan waktu di tempat yang spacious dan tidak berisik seperti di hotel sebelumnya. Flipper sempat kecewa karena tidak ada fasilitas untuk anak-anak di hotel-apartment ini selain kolam renang anak. Jangankan amusement park, mini disco aja tidak ada tapi kemudian dia  tidak peduli lagi dengan itu karena setiap hari, setelah pergi ke pantai, sorenya  dia bisa main jumpalitan di arena bermain yang letaknya persis di belakang apartemen.

4
Huge bouncy castle di belakang apartemen kami. Itu mulut gajahnya bisa membuka-menutup.
999A0221EEs
Trampolin 3€ 10 menit.
999A0218EEs
Komplek apartemen kami.

Tempat-tempat yang kami kunjungi selama menginap di kota Cala d’Or lumayan banyak. Saya tulis yang saya ingat ya…

Pantai Cala Gran dan Cala Esmerelda

Kedua pantai ini bisa ditempuh 5 menit jalan kaki dari apartemen. Di Cala Gran, Flipper kenalan dengan anak sebaya dan selalu janjian ketemuan di sana untuk main bola dan main air bersama. Di Cala Gran juga saya sempet bertemu (tapi tidak kenalan) dengan dua pasangan muda dari Indonesia yang saya bisa kenali dari logat Suroboyoan-nya. Mbaknya-mbaknya sibuk selfie di sana-sini sedangkan mas-masnya cuman ngikutin doang sambil mencangklong tas Chanel-nya pasangan mereka. Kadang kedua cewek itu minta tolong si mas untuk motoin dan dua cowok ini harus bertikai duluan karena sama-sama nggak mau motoin. Komentarnya si D ke saya: glad you are not that worse! Hihi… Di bawah ini adalah foto-foto di Cala Gran:

5999A0095EEs999A0100EEs

Es Pontas

Es Pontas adalah highlight kami selama di Cala d’Or. Es Pontas  merupakan tebing batu besar melengkung yang terletak di kota Santanyi, di antara teluk Santanyi dan teluk Llombards. Tebing batu ini merupakan salah satu objek panjat tebing tersulit di dunia. Tak banyak yang bisa memanjat Es Pontas. So far hanya dua orang yang berhasil memanjat Es Pontas dari bagian lengkung dalamnya yaitu Chris Sharma (American) dan Jernej Kruder (Slovenian). Coba check video dimana Chris Sharma memanjat Es Pontas berikut ini, pasti ikut deg-degan deh lihatnya: See why Chris Sharma is one of the world’s best climbers as he searches for the hardest and most beautiful route in the world.

Saat menyusuri tepian berbatu di area Es Pontas, seorang polisi ganteng menyampiri kami, bertanya apakah kami melihat orang yang terluka kakinya dan mengalami kesulitan berjalan. Kami tidak melihatnya dan mas polisi itu mulai terlihat panik. Di belakang tampak beberapa polisi yang lain dan dari kejauhan kami mulai melihat beberapa safe guards dengan peralatannya lari kesana-kemari. Rupanya polisi menerima report bahwa seseorang terluka di sana dan tidak bisa berjalan dengan normal, posisi orang itu di pinggir tebing jadi karena orang itu tidak bisa dikontak lagi, dikuatirkan orang tersebut kecebur ke laut.

Lokasi area Es Pontas memang memungkinkan untuk tercebur bila orang tidak berhati-hati. Yang dipagari hanya spot-spot tertentu saja. Saya sendiri melihat dua sejoli dengan selfie stick mereka, yang melanggar warning sign untuk tidak terlalu dekat ke pinggir tebing karena dikuatirkan batunya longsor. Well, the power of social media.

2738s
Polisi yang panik mencari the missing man.
2739s
Area Es Pontas.
2732s
Tebing batu melengkung itu…

999A0159-1EEs

Karena di Es Pontas tidak ada pantainya dan akses ke air cukup jauh, sehingga tidak memungkinkan untuk lempar-lempar batu, Flipper nggak mau berlama-lama di sana. Kamipun kemudian melanjutkan perjalanan ke pantai terdekat, Playa S’Amarador.

Playa S’Amarador

Untuk menuju ke pantai ini kami harus naik mobil melalui jalan sempit yang kalau papasan dengan mobil lain, kedua mobil musti saling maju mundur dulu. Di pantai S’Amarador, tanpa diduga ternyata kami harus bayar parkir. Selama ini kami belum pernah bayar parkir lho. Parkir di pantai sini bayarnya 5€, waktunya bebas. Di dalam parkiran ternyata ada sign yang menyatakan bahwa uang parkir 5€ tersebut digunakan untuk menyantuni yayasan orang cacat.

Pantai S’Amarador menurut saya juga biasa saja. Pokoknya kalau namanya playa (dan bukan cala) itu bagi saya boring. Nggak ada tebing dan pohon-pohonnya. Yah, kan seperti yang sudah saya tulis di atas, saya bukan fans untuk berjemur atau main air laut. Saya lebih suka meneduh di bawah pohon atau muter-muterin daerah sekitar pantai. Jadi selama Flipper dan D mainan air, saya kemulan di pasir sambil baca buku saja. Selama liburan 15 hari ini saya berhasil menghabiskan 3 novel hihi…

Eh ternyata nih, pas kita mau pulang, baru sadar bahwa sebelum memasuki arena pantai, ada kawasan hutan cagar alam. Kamipun masuk situ dan tentunya asyik sekali meneduh sesudah kepanasan di pantai.

6
Di cagar alam dekat pantai S’Amarador.

Sanctuary De Sant Salvador

Santuari De Sant Salvador adalah sebuah monastery yang dibangun pada tahun 1348 dan berada di 509 meter di atas ketinggian laut. Untuk pergi kesini jalannya lumayan naik dan berliku-liku seperti jepit rambut. Selain sempit, berliku-liku dan naik turun, kami harus berbagi jalan dengan para biker, baik yang solo maupun yang rombongan panjang. Salut deh buat para biker ini, perjuangan banget pasti naik ke Sant Salvador.

Begitu sampai ke atas, kitapun dijamu dengan pemandangan indah kota Felanitx. Nggak rugi deh sport jantung naik ke sini. Oh iya, di puncak sini ada restorannya jadi nggak perlu panik kalau bekalnya habis. Area piknik juga disediakan di beberapa sudut.

2693s2691s2696s2699s

2690s
Flipper nemu kucing di puncak Sant Salvador.

7

8
Awan cantik bergelantungan, nggak tahan kalau nggak foto 😀

Okay deh segini dulu ya ceritanya, kalau kepanjangan nanti bosan. Laporan tempat-tempat cantik lainnya saya tulis di bagian dua nanti deh.

Happy weekend!

-beth-

Random Sunday- Ketika di Indonesia

Iyah, nggak terlalu random, ini cerita-cerita pendek  pas kita liburan 6 Minggu di Indonesia kemarin.

beach

Selama di Jogja, saya banyak wira-wiri dengan Grab dan Gojek, dimana saya nggak perlu lagi takut dikerjain argo sopir taxi dan nggak perlu ngrepotin mama untuk nganter kesana-sini (secara udah nggak berani nyetir si sini). So far saya selalu punya pengalaman bagus dengan sopir-sopir Grab dan Gojek, yang ada malah sering nggak enak hati sekaligus terharu karena banyak mas-mas yang mengucapkan terima kasihnya sampai terbungkuk-bungkuk bila dikasih tips apa adanya seolah saya ngasihnya 1 juta. Bahkan anak saya pernah sempat muntah di dalam mobil Grab tapi sopirnya nggak mau dikasih tips, saya bantu bersihin jok mobilpun, dia juga nggak mau.

Lalu pernah ada kejadian saya mendapat message seperti ini di henpun lokal saya. Critanya saya udah order Grab tp nggak jadi karena ternyata urusan nyokap di bengkel udah beres jadi bisa langsung pulang dengan mobil nyokap. Mau cancel ordernya Grab sebenarnya bisa tp saya pikir ah sudahlah, kasihan sopirnya udah jalan (di GPSnya juga kelihatan kalau sopirnya tadi extra muter arah untuk jemput saya), yawis titipkan saja biaya jasanya ke seorang bapak di bengkel. Saya nggak menyangka juga kalau bakalan dapat message dari pak sopir. Terima kasih doanya ya Pak, semoga Bapak juga selalu mendapat berkah dan lancar rejekinya ?￰Saya pasti akan kangen dengan keramahan dan ketulusan Jogja ini

grab

Masih tentang jasa transportasi. Kali ini ojek. Sebenarnya sih saya nggak asing dengan naik ojek. Di Jakarta dulu demi menghindari macet, ojek adalah langganan saya. Tapi naik ojek di Jogja memang baru kali ini dan sesuai dg semboyan kotanya, memang istimewa. Baik ojek online maupun ojek offline, sopirnya seneng banget ngajak penumpangnya ngobrol, dari sekedar apa kabar sampai curhat soal lebaran. Masalahnya nih, kita kan naik motor ya…bukan mobil. Susah lho ngobrol dg orang yg boncengin kita di tengah hiruk-pikuk jalanan apalagi pake helm cakil. Lebih serem lagi kalau sopirnya suka tolah-toleh ke kita, nggak lihat jalan saking semangatnya ngobrol. Mau dicuekin kok nggak enak juga.

Pas di Jogja pas suami sempat sempet beberapa kali fitness di Celebrity Fitness dan pada suatu hari pulang dari fitness dia curhat; pas ikutan body combat, di studionya semua pesertanya pada sibuk main henpun sampai instruktur bilang ‘yak mulai!’ Di cross trainer-pun banyak dijumpai mbak-mbak yang berjam-jam main di cross trainer, jalan super pelan-pelan sambil main henpun. Di atas treadmill pun juga demikian. Hebat ya, katanya. Multi tasking 😀

Tahun ini adalah Idul Fitri pak suami yang pertama di Indonesia. Bagaimana kesan dia? Ada beberapa komentar lucu, di antaranya; Pas hari H-Lebaran, abis shollat Ied, halal bihalal di masjid lalu acara makan opor dan ngobrol-ngobrol, kita semua somehow capek dan pada ketiduran. Pak suami bingung dan setelah pada bangun dia komentar: aku pikir Idul Fitri itu bakalan seharian pesta pake acara tari-tarian segala eh ternyata ada acara tidur siangnya. Enak juga ya…katanya. Yang kedua, pas main ke mall, kami bertemu teman lama saya sedang jalan bareng sekeluarga. Mereka pake baju batik kembaran dalam rangka lebaran. Komentar pak suami lugu: mereka peserta apa ya? Kok bajunya seragam?

Selama di Jogja nggak bisa shopping-shopping cantik atau bahkan window shopping sekalipun karena syusah shopping bawa balita (note: hubby hanya 3 minggu pertama di Indonesia). Sering sih main ke mall tapi di mall yang dituju kids entertainment doang karena memang public playground hampir nggak ada di sini. Di saat-saat seperti bisa bisa mendadak kangen rumah dimana kita bisa anteng shopping online sebanyak-banyaknya trus kalau nggak cocok ya bisa dibalikin sebanyak-banyaknya pula.

It’s not easy to go on holiday alone with what so-called strong-willed child. Go beauty shopping like dress, shoes or even souvenirs is impossible because at the end we will spend the entire time in a game station in the mall. Enjoying yummi food in restaurants is just an alien concept because what I have to do is to eat as fast as I can without finishing it before that child jump off her chair and go run somewhere to do whatever she wants to do. A thought to have beautiful mother-daughter moment; strolling along the seashore will stay as a thought because the fact was, I had to catch her here and there, yelled stops thousand times before she throw herself in the deep sea. At least we managed to enjoy one single beautiful sunset in Double-Six Beach without tantrum. And in this pic, I tried to tell her that iPad time is over, because I had finished my lunch already (yes, mama wanted at least once to enjoy her meal). You see her face. You know what happened next.

mecucu

Road Trip with Flipper – Mengunjungi Danau Garda di Bagian Utara.

Dari Province Venezia, tujuan kami berikutnya yang juga merupakan tujuan terakhir road trip kami adalah danau Garda. Danau Garda adalah danau terbesar di Italia yang panjang dan lebarnya 56,1 km x 16, 7 km dengan luas permukaan keseluruhannya bila kita mengelilingi danau adalah 370 km persegi. Saking luasnya kami jadi memiliki banyak pilihan untuk menginap di sisi danau yang mana. Sebelum road trip beberapa teman yang sudah pernah mengunjungi danau Garda menyarankan supaya memilih daerah di bagian utara karena pemandangan pegunungannya yang lebih bagus dan lebih bersih dari pada di bagian selatan. D pun memutuskan untuk menginap 4 hari di kota Arco, Trentino yang tidak jauh dari kota Riva Del Garda di mana danau Garda berada.

garda map

Kami berangkat sekitar jam 10 siang dari Cavallino namun karena kemacetan yang luar biasa ketika memasuki daerah Arco, perjalanan yang harusnya menempuh 3 jam jadi molor menjadi 4 jam. Karena sudah kelaparan, kami memutuskan untuk mampir dulu di pusat kota Arco sebelum ke penginapan. Sampai di pusat kota Arco, kami celingak-celinguk merasa salah kostum. Bagaimana tidak? Hampir semua orang yang ada di sana dari anak-anak sampai kakek nenek semua berpakaian sporty. Rupanya Arco memang terkenal sebagai tempat untuk outdoor activities. Water sport, cycling dan panjat tebing merupakan olah raga favorit di sana. Tak heran bila banyak orang berbaju ketat bersliweran. Baju ketat buat sepedaan itu lhoo…

2225s
Pemandangan pertama ketika kami baru parkir di pusat kota Arco. Baju ketat.
2227s
Church Collegiata Dell Assunta Arco.
2232s
Ruin dari Arco Castle dilihat dari pusat kota Arco.
2244s
Sarca River, Arco. Itu yang kecil pakai topi merah si Flipper.
2242s
Sarca River, Arco. Sungai ini mengalir ke danau Garda.

By the way mencari makan di daerah ini (dan konon di Italy pada umumnya) pada jam 2-an siang itu susah-susah gampang. Kabanyakan yang buka hanya snack cafe yang menjual bruschetta atau crackers yang dikasih dip macam-macam. Fine restaurant bahkan yang ‘hanya’ menjual pasta dan pizzapun hanya buka di jam makan malam. Mac Donald nggak ada di sini (apalagi nasi goreng). Suami yang terbiasa tidak makan siang cukup puas dengan crackers-nya, Flipper dan saya tidak puas hanya dengan bruschetta dan minta tambah ice cream.

Setelah makan kamipun menuju hotel secara si Flipper sudah nggak sabar ingin main air dan karena kami belum paham dengan medannya danau Garda, D mengusulkan untuk main air di kolam hotel dulu. Kali ini D memilih penginapan yang bertema agricultural. Hotel Maso Le 4 Stagioni merupakan agricultural private hotel yang dikelola oleh suami istri petani yang memiliki vineyard, ladang apel dan ladang pohon zaitun. Mereka juga memproduksi hasil-hasil pertanian mereka sendiri menjadi jus apel, selai apel dan minyak zaitun. Sayangnya kami tidak sempat mengunjungi tempat pengolahan tersebut meskipun Daniela, si pemilik hotel bakalan dengan senang hati menunjukkannya kepada kami. Vineyard saat itu juga belum berbuah jadi harapan untuk memetik anggur langsung dari pohonnya tidak terlaksana.

Hotel kami berada di sebuah bukit dengan jalan yang berliku-liku sempit yang agak problematis bila berpapasan dengan kendaraan lain atau bila sedang ada konvoi sepeda di depan. Tapi begitu sampai hotel, sambutan Daniela, yang super ramah membuat kami langsung merasa nyaman di hotel tersebut. Si Flipperpun langsung nyemplung di kolam renang organic-nya hotel dan main panjatan di taman bermainnya. Kami menghabiskan sore itu di hotel saja. Berikut ini beberapa pemandangan di dalam dan di luar hotel.

flipper main air
Flipper, slowly but sure masuk ke air >.<
2248s
Pemandangan dari halaman hotel.
2249s
Pemandangan dari halaman hotel. Danau Gardapun terlihat dari sini.
2251s
Si penunggu taman hotel.

Keesokan harinya, setelah sarapan kamipun siap menjelajahi danau Garda. Perjalanan naik mobil dari hotel ke kota Riva di mana danau Garda berada hanya 10 menit. Parkir di sana cukup luas, mudah dan juga murah. Kami langsung jatuh cinta pada pandangan pertama dengan danau Garda. Tikar piknik kotak-kotakpun segera digelar di pantainya. Air masih sangat dingin saat itu jadi Flipper pun tak ada niat untuk nyemplung. Dia cukup puas berjam-jam melempar kerikil ke danau dan kamipun puas berjam-jam mengawasinya sambil menikmati pemandangan indah di depan kami.

IMG_8545eS
Flipper yang selalu penuh energi ketika berada di dekat air.

2252s.jpg

2268s

2271s

2274s

2275s

Sejak jumpa pertama dengan danau Garda, kami memutuskan untuk pergi ke sana setiap hari dari pagi hingga sore. Sebelum jam 12 siang kita gunakan waktu dengan rebahan di pantainya. Kalau tahan dengan dinginnya air, bolehlah mainan air dikit-dikit. Tapi bila sudah di atas jam 12, angin yang kencang membuat air di pantainya berombak tinggi seperti di laut, orang-orangpun meringsut menjauh dari air dan kami menggunakan waktu ini dengan mencari snack di kota tuanya Riva atau menemani Flipper bermain di Spielplatz (taman bermain anak).

IMG_8354eS
Mengumpulkan kerikil yang tepat untuk dilempar ke air.
IMG_8364eS.jpg
Salah satu taman bermain di area danau Garda.

Ketika panas tidak lagi menyengat, kamipun kembali menelusuri danau yang diakhiri dengan jalan-jalan  ke old town-nya kota Riva Del Garda sambil mencari makan malam. Pada malam pertama menginap di Arco, kami mengambil makan malam di hotel. Daniela dan Ricardo, suaminya, sangat pintar memasak. waktu itu mereka membuat makanan khas daerah Trentino, yaitu Carne Salada, berupa irisan daing sapi tipis yang diasinkan selama seminggu lalu dibakar sebentar sebelum dihidangkan. Buset deh enaknya masih terbayang sampai sekarang. Saya bahkan sempat browsing dan mencoba resep ini di rumah, namun meskipun rasanya juga enak tapi tak seenak buatan Daniela dan Ricardo. Mungkin karena saya tidak memiliki mesin pengiris daging, jadi daging saya agak ketebalan. #alasan .

Kenapa kami hanya sekali saja makan di hotel meskipun menunya enak adalah karena jam makan malamnya terlalu larut buat kami yaitu pukul 19.30. Bukan itu saja, karena menunya merupakan 3 courses food yang fresh made, penyajiannya juga menjadi lama, apalagi Daniela selalu entertain para tamunya di setiap jeda courses, jadi lebih lama lagi. Daniela ini, unlike suaminya yang super kalem, sangatlah rame dan lucu. Flipper senang sekali kalau berada di dekat Daniela. Daniela belum mengucapkan sepatah katapun, Flipper sudah ngakak duluan. Makanya bila dia guyon di waktunya dinner, suasana jadi rame dan makananpun jadi lama datangnya karena yang masak melawak dulu 😀

IMG_8482eS
Daniela dan si piccolino bambina-nya 😀

Dinner pertama di kota Arco usai pada pukul 22.30. Untung Flipper sempat ketiduran di mobil siangnya jadi dia agak tahan bangun sampai malam sambil sesekali keluar ke halaman bermain di Spielplatz. Restoran di Arco maupun di Riva sebenarnya juga tidak ada yang buka sebelum jam 19.00. Tapi paling tidak kita bisa memesan satu menu saja dan langsung pulang tanpa entertainment dan basa-basi.

Sayangnya kami hanya sebentar berlibur di sini. Banyak kegiatan yang bisa dilakukan bersama toddler di sana dan di Riva Del Garda tentunya, mulai dari hiking, bersepeda atau berkesenian. Sepeda dan peralatan hiking bisa disewa di sana, lengkap untuk anak dan dewasa mulai dari 3 tahun ke atas. Kalau anaknya lebih kecil, tinggal dimasukkan ke bike trailer yang bisa disewa juga. Pada kunjungan pertama kami ini, danau Garda begitu memukau kami sehingga kami tidak ingin jauh-jauh darinya. Cieh romantis… D yang memang jago bersepeda dan pernah bersepeda dari  Scotland ke Jerman ini, langsung berjanji bahwa dia akan kembali ke sini lagi sambil mengangkut sepedanya. Flipper dan mamanya ikut doong 😀

2236s
Riva Del Garda old town.
2238s
RIva Del Garda old town.
2235s
Riva Del Garda old town.

More photos on my Flickr.

Road Trip with Flipper – Venice

Dari Bled Slovenia, perjalanan kami berlanjut ke Italy. Meskipun tujuan pertama kali di Italy adalah berkunjung ke Venesia (Venezia, Venice, Venedig), namun kami menginap di luar kotanya yaitu di Cavallino-Treporti dengan pertimbangan  ongkos harian yang mahal hanya untuk parkir mobil di luar kota Venesia. Ya di Venesia kita tidak bisa membawa mobil karena tidak ada jalannya. D kali ini memilih sebuah camping village, CaBerton yang letaknya tidak jauh dari port penyeberangan ke Venesia. Selain itu Ca’Berton juga memiliki pantai dan children animation, pas banget untuk Flipper.

Cavallino map
Kota Cavallino-Treporti dengan outline merah.

 Di Ca’Berton Camping Village

Meskipun namanya camping, bukan berarti kami musti gelar tenda di sini. Ca’Berton Camping Village menyediakan beberapa bungalow dan caravan dengan berbagai ukuran yang sudah dilengkapi dengan kitchen set beserta perlengkapannya termasuk kulkas, tempat tidur bahkan AC dan heater. Kami hanya perlu membawa sprei dan handuk sendiri tapi bila lupa atau malas bisa juga menyewa di sana. Kami menginap di Ca’Berton selama tiga hari di sebuah maxi caravan, caravan terbesar yang ada di sana, yang bisa memuat 6 orang. Secara kita hanya 2 1/2 orang jadinya caravan yang yang sebenarnya segalanya serba terbatas ini jadi terasa lumayan lebar juga.

caravan
Little but comfy, our nest for 3 days in Ca’Berton Camping Village.
caravan2.jpg
Flipper mengajak bersepeda keliling kampung.

Secara belum high season, maka keadaan di Ca’Berton lumayan sepi. Di satu sisi hal ini menguntungkan kami, selain harga menginap yang 60% lebih murah, suasana di sana juga tidak terlalu ramai, di samping kanan kiri kami masih banyak caravan yang kosong. Tak bisa dibayangkan ramainya di saat summer karena letak caravan dan bungalow yang berdekatan satu sama lain. Namun tidak enaknya juga ada, children animation programs yang di Ca’Berton ternyata belum aktif di bulan Mei, jadi Flipper tidak bisa beraksi di mini disco tapi alhamdulillah fasilitas taman bermain indoor dan outdoor bisa dipakai kapan saja. Selain itu, restaurant dan toko-toko yang ada di sana belum buka semuanya, hanya satu resto, satu supermarket dan satu toko kelontong yang waktu itu sudah buka. Oh dan satu gelato (es krim) cafe juga sudah buka, itu yang penting 😀

Di Venesia

Pada hari kedua di Cavallino-Treporti, tepat pada hari ulang tahun D, setelah ritual ulang tahun, kami berkunjung ke Venesia. Perjalanan dari Ca’Berton ke port Punto Sabbioni bisa ditempuh kurang dari 10 menit dengan mobil. Kalau tidak ada mobil, halte bus menuju Punto Sabbiano berada tak jauh dari Ca’Berton. Saya tidak tahu berapa ongkos naik bis ke port, namun biaya parkir di port hanya €5 untuk 12 jam, sangat murah bila dibandingkan dengan parkir harian bila kita menginapnya  di Venesia dan parkirnya di luar Venesia yang berharga sekitar €40/ hari.

IMG_2628-2eS
Port Punto Sabbioni.

Harga tiket boat dari Punto Sabbioni ke Venesia adalah €7,50/ person dengan penyeberangan yang  memakan waktu 3o menit. Begitu kami mendarat di port Venesia, saya terkaget-kaget melihat banyaknya lautan manusia sejauh mata memandang. Saya pikir waktu itu, okelah ini pasti orang-orang yang baru saja turun dari boat dan langsung berpusat di lapangan utama yaitu St. Mark Square, di tempat lain pasti tidak sepadat ini keadaannya. Ternyata saya salah, hampir di semua sudut Venesia penuh manusia. Jalan ke sana kemari pasti saling bersenggolan dengan orang lain. Kios-kios kecil yang menjual souvenir juga banyak bertebar di setiap sudut kota. Banyaknya turis yang memenuhi segala penjuru Venesia membuat saya tidak bisa sepenuhnya menikmati kunjungan kami. Baru mendongak sebentar, ingin mengagumi arsitektur gothic-nya Venesia yang cantik eh kesenggol orang ke kanan kiri. Mau motretpun tidak tidak bisa leluasa mengambil sudut pengambilan.

Niat dari awal ingin masuk ke salah satu museum atau gereja, lupakan saja…di mana-mana antrinya sepanjang jalan kenangan. Selain too touristy, kesan kotor juga tak bisa dihindari dari Venesia. Ya, sayangnya Venesia tidak seromantis seperti yang saya lihat di foto-foto dan film. Saya merasa kasihan dengan penduduk lokal di sana, semoga sih mereka tidak merasa keberatan dengan launtan manusia yang menginjak bumi mereka di segala musim.  Mungkin mereka harus meniru Mallorca, Spanyol yang mulai menerapkan aturan macam-macam untuk mengurangi kedatangan turis ke pulau cantik mereka.

Namun, meskipun tidak sesuai harapan, Vanesia tetap memiliki inner beauty dan kami sudah berada di sana, maka kamipun harus menikmatinya dan mensyukurinya. Ngomel dan ngeluh tidak ada gunanya. Semangat! Yay! Flipper yang paling bahagia dalam kunjungan ini karena air ada di mana-mana, tapi papa dan mamanya harus terus pacu jantung deg-degan melihat anaknya selalu mendekati air, takut kecebur. Saking penasaranannya dengan cebur mencebur, ketika sudah berada di caravan lagi, saya sempatkan untuk browsing tentang kasus orang tenggelam di Venesia. Tidak banyak yang saya temukan kecuali beberapa berita yang menyebutkan bahwa pemerintah Italy menyimpan rapat kasus orang tenggelam di Venesia.

kolase 2s
Flipper langsung pecicilan begitu turun dari boat.

Saat Flipper sibuk melempat kerikil ke kanal-kanal dan papanya sibuk mengawasinya, sayapun sibuk jepret sana-sini. Kebanyakan foto saya adalah gaya #lookup karena menghindari wajah-wajah turis. Foto selfie di jembatan juga sebuah kewajiban ketika berada di Venesia maka selfie stick seharga €5,00 (aslinya €10,00) pun dibeli. Suami tidak bisa diharapkan untuk memotret, karena selain dia harus mengawasi Flipper, he’s not so keen doing #instahubby 😂 . Selain jalan-jalan mengitari kota, kami juga tak melewatkan kesempatan untuk naik water taxi, mengelilingi Venesia dari Grand Canal. Naik gondola tidak masuk ke budget kami karena harganya yang mahil, €80,00 di siang hari dan €100,00 di malam hari. Water taxi yang harganya hanya €7,00 ini adalah boat yang berhenti di tiap-tiap halte dan juga selalu penuh dengan turis dan penduduk lokal. Satu lagi yang membuat kami betah berlama-lama di Venesia adalah es krimnya yang enak. Kami beberapa kali mengadakan break untuk menikmati es krim. Btw hati-hati ya turis, di salah satu gelato parlor, meskipun sudah jelas-jelas kami menunjuk gambar es krim 1 scoop yg harganya €2,00 dan juga benar-benar dikasih es 1 scoop not less dan not more, tapi kami harus bayar €4,00/ scoop which was total €12 for 3 scoops. Why on earth? Mbaknya menjawab dengan bahasa Italy yang tidak kami mengerti. Entah apa gunanya gambar es dan harganya yang terpampang besar-besar di depan parlor-nya.

2212s
Water taxi di Grand Canal.

2219s

Setelah sekitar 6 jam berada di Venesia, kamipun kembali ke tempat camping kami di Ca’Berton yang nyaman dan selonjoran di pantai sambil menikmati es krim (lagi) dari gelato terdekat yang tak kalah enaknya dari es krim di Venesia. Dengan harga yang jauh lebih murah pula. Harga-harga di pertokoan di camping village ini memang termasuk normal, dari roti, makanan restoran hingga barang kelontong harganya tidak berbeda dengan harga supermarket di tempat umum.

Kegiatan kami lainnya selama di Cavallino adalah berkunjung ke kota sebelah, yaitu Lido Di Jeselo. Kota ini terkenal sebagai tujuan pariwisata pantai dengan hotel-hotel sepanjang pantai dan pusat perbelanjaan yang mengingatkan saya kepada Kuta Bali. Bedanya, di Lido Di Jesolo dan Italy pada umumnya, pada jam 12 siang sampai jam 3 sore (bahkan ada yang sampai jam 4), toko-toko banyak yang tutup. Restoranpun hanya sedikit yang buka pada siang hari. Saya baru tahu, ternyata di Italy pun ada siesta seperti di Spanyol.

2221s
Pusat kota Jeselo.
2224s
Pantai di Lido Di Jeselo.

Begitulah trip kami di Venesia dan sekitarnya. It was nice to visit Venice tapi sepertinya tidak perlu diulang. Seperti biasa, foto-foto Venesia ada di Flickr saya ya… dan trip selanjutnya masih di Italy juga tapi lokasi kali ini berbeda sekali dengan Venesia, much better! 💕

Road trip with Flipper – Bled, Slovenia

Seperti yang sudah direncanakan, pada tanggal 27 April kemarin kami memulai liburan kami melalui jalan darat ke Slovenia dan Italy. Ini bukan merupakan road trip kami yang pertama. Road trip terjauh kami sebelumnya adalah ke Prague. Eh kami pernah juga ding road trip di sepanjang Algarve, Portugal, not sure juga jauhan mana dengan Cologne-Prague. Road trip kami kali ini berbeda karena ada Flipper.

Jadi persiapan khusus kami untuk roda trip kali ini adalah begaimana caranya supaya Flipper bisa betah dalam perjalanan lama ini. Kami membawa organizer box dari merek Hauck yang isinya buku-buku, mainan, snack, alat gambar, dll. Selain itu ada meja portable yang memudahkan Flipper untuk menggambar dan CD sanggar cerita berisi cerita-cerita kesukaan dia. Semuanya berfungsi seperti yang kami harapkan. Selain itu carseat yang bisa di-set ke sleeping position dan sunscreens untuk jendela mobil juga bisa menambah kenyamanan si Flipper istirahat di dalam mobil. Istirahat minimal setiap 3 jam sekali juga wajib dilakukan. Bila cuacanya bagus, kami juga mengeluarkan sepeda mininya Flipper atau bola sepaknya untuk bermain-main di saat istirahat. Kalau cuacanya jelek ya cukup mainan indoor di restoran tempat istirahat.

img_7618
Flipper sibuk bermain dengan buku stickernya.

Karena liburan  kali ini juga dalam rangka merayakan ulang tahun D, suami saya, maka dia jugalah yang mengurus segala sesuatunya termasuk memilih kota persinggahan, apa saja yg mau dikunjungi di kota tersebut dan memilih penginapan yang biasanya menjadi tugas saya yang memang rada sensitive kalau soal urusan tempat menginap. Kali ini saya tinggal packing dan berangkat saja dan tidak boleh ngomel kalau tidak cocok dengan penginapannya. Baiklah.

3 kota tujuan utama kami adalah Bled di Slovenia serta Venice dan Arco di Italy, namun kami juga siap-siap bila harus ada penginapan tambahan ketika berangkat ke Bled yang berjarak 900km dari rumah dan juga penginapan ketika balik ke Jerman mengingat kami tidak tahu berapa lama Flipper bisa tahan duduk anteng di dalam mobil. Dan benar saja, rencana yang tadinya mau berangkat jam 3 dini hari dan langsung ke Bled tidak terlaksanakan. Suami tidak bisa bangun dini hari karena sebelumnya kerja lembur. Kami berangkat jam 6 pagi dan menginap di kota Aschau di perbatasan antara Jerman dan Austria pada pukul 5 sore.

Ketika kami istirahat di outlet city Metzingen (dekat Stuttgart), kami sempat googling sebentar mencari penginapan murmer di Aschau. Kalau dilihat di websitenya, losmennya terlihat biasa-biasa saja, cenderung jelek dan sama sekali bukan style saya tapi letaknya di bukit dan pemandangannya super asoy jadi kami memutuskan untuk menginap di situ, toh hanya satu malam saja. Karena di website itu tertera bahwa losmen tersebut merupakan oase ketenangan hati dan jiwa, sebelum kesana suami tilpun dulu menanyakan apakah it’s ok membawa balita menginap di situ, secara Flipper bukan tipe balita yang tenang (memangnya ada gitu balita yang tenang?) dan si pemilik losmen bilang it’s ok.

Begitu kami sampai di losmen tersebut, kami langsung terpukau dengan pemandangan di sekitar losmen yang berada di bukit itu. Apalagi saat itu salju baru saja turun menyisakan ketebalan sekitar 10 cm. Matahari yang bersinar cerah membuat pemandangannya dobel indah, ketambahan penampakan pegunungan Alpen, triple indah. Setelah checkin cepat-cepat, kamipun segera main di luar. Ini adalah salju pertama yang bisa dibuat mainan oleh Flipper. Sebelumnya dia sudah dua kali melihat hujan salju, namun saljunya langsung meresap ke tanah dan hilang.

Urlaub 019-4eS
Flipper dan papa bermain salju di depan penginapan di Aschau.

Keesokan harinya setelah sarapan kamipun melanjutkan perjalanan ke Bled, Slovenia. Waktu check out yang punya hotel ngomel, katanya Flipper rame. We told ya.

Menuju Bled, D memutuskan untuk melewati jalur di luar Autobahn, maksudnya sambil lihat-lihat pemandangan lokal dan supaya bisa berhenti-berhenti kalau ada kota atau pemandangan yang menarik. Pemandangan menarik banyak, sepanjang jalan malahan, namun kita tidak bisa begitu saja berhenti menikmati pemandangan karena salju turun deras dan suhu udara menukik turun ke minus 3. Celakanya jalur yang kita lewati ini ternyata jalur pegunungan yang sempit dan berliku-liku serta banyak tanjakan. D musti super hati-hati nyetir karena roda mobil kami sudah ganti dari roda untuk musim dingin ke roda musim panas. Ya salju di akhir bulan April memang tidak lazim dan meskipun kami sudah siap siaga dengan membawa pakaian empat musim untuk liburan ini, icy street dan live hujan salju sangatlah di luar perhitungan kami.

IMG_7531eS
Up close and personal with the Alps di sepanjang perjalanan menuju Bled.

Alhamdulillah setelah  4 jam perjalanan, begitu memasuki Bled, meskipun suhu masih rendah, sekitar 6 derajat celcius, cuaca mulai membaik. Kami tiba di farm house family hotel  Mulej Farm disambut oleh Damjana, pemilik hotel yang sedang meriang. Dia ngomel menyalahkan turunnya salju yang tidak normal. Suami Jamdana, Joze juga ikut mengeluh, curhat kalau dia baru saja merapikan ladang dan kebunnya, rutinitas di saat musim semi ketika tiba-tiba salju turun lagi. Saya juga mengeluh karena suhu yang dingin dan memutuskan untuk membeli sepatu boots plastik karena area farm house yang becek campur salju. D mengeluh karena kecapekan setelah nyetir yang menegangkan. Tapi Flipper? Kurasa dia satu-satunya yang justru excited dengan salju. Belum selesai kami mengangkuti barang dari mobil kamar, dia sudah merengek-rengek minta main salju.

Meskipun trip ini sebenarnya adalah trip dalam rangka ultah D, tapi pilihan akomodasi yang dipilih D semuanya berorientasi ke Flipper (kecuali hotel dadakan di Aschau). Tempat yang tak sekedar children friendly namun juga bisa memberi aktifitas untuk anak-anak. Mulej Farm yang dimiliki dan dikelola oleh keluarga Master Joze ini memiliki peternakan sapi, kuda dan lebah. Mereka juga memiliki dua traktor besar untuk mengelola pertanian namun sepertinya lokasi pertanian mereka berada di lokasi yang berbeda dengan lokasi di mana kami tinggal.

Joze beserta Damjana dan 3 anaknya yang berusia antara 13-20 tahun bahu membahu mengurus penginapan dan farm mereka. Tidak ada pegawai yang membantu mengurus penginapan atau pertanian, semua dikerjakan sendiri oleh mereka. Si sulung Jaka beserta ayahnya sejak subuh sudah sibuk dengan traktor dan hewan-hewannya. Kedua adiknya, manja dan Jani  juga ikut membantu di pertanian begitu mereka pulang dari sekolah. Manja kadang juga membantu ibunya mengurusi sarapan dan makan malam para tamu penginapana. Masakan Damjana super enak lho. Meskipun menu makan paginya tidak pernah berubah dan variasinya sedikit namun menu makan malamnya super enak dan porsinya selalu melimpah.

Apartment yang kami ambil letaknya berada di samping kandang sapi. yang kalau jendelanya terbuka, bau sapipun semerbak masuk ruangan. Tapi entah kenapa kami tidak terganggu dengan baunya. Selain hewan-hewan di peternakan, keluarga Joze juga memiliki anjing rotweiler ramah sebesar sapi yang bernama Donna. Flipper yang biasanya tidak suka anjing (bukan takut tapi tidak suka) mendadak jadi fans beratnya Donna. Setiap bangun tidur yang dicari Donna, padahal Donnanya tidur di mana saya juga tidak tahu 😀

Di penginapan ini Flipper puas jasmani dan  rohani. Maunya main di luar terus, saat makan pagi dia selalu tidak tenang karena maunya kejar-kejaran dengan Donna di kandang sapi atau main comberan dengan traktor mininya.

IMG_7580e
Flipper mau main basket bersama Donna.
IMG_7548eS
Suasana di Mulej Farm ketika kami baru datang.
IMG_7544eS
Pemandangan di Mulej Farm dari jendela apartment kami.
IMG_7603eS
Flipper joget sambil dilihatin sapi-sapi.
Urlaub 133-1eS
Petani cilik dengan traktor ciliknya.

Selain sibuk di peternakan, kami tentu saja juga jalan-jalan mengelilingi kota Bled. Kota Bled terkenal dengan danau Blednya. Danau ini terletak tidak jauh dari Mulej Farm, hanya sekitar 10 menit naik mobil. Letak danau Bled lumayan di tengah kota sehingga cari parkiran agak susah di sini. Eh cari parkiran secara keseluruhan memang susah di kota ini. Sepertinya hanya supermarket ynag menyediakan lahan khusus untuk parkiran, selebihnya ya sedikit cari-cari kesempatan dalam kesempitan.  Selama empat hari kami di Bled, saya juga belum pernah melihat adanya bis umum. Keretapun adanya hanya kereta khusus untuk turis yang mau mengelilingi danau Bled. Toko-toko yang ‘decent‘ juga tidak terlalu banyak di Bled, yang ada hanya supermarket dan toko-toko souvenir.

Selama di Bled, kami banyak menghabiskan waktu di farm dan di danau Bled, sekedar duduk-duduk menikmati suasana yang indah di danau Bled. Di tengah danau Bled terdapat pulau kecil, Bled island, dengan beberapa bangunan di atasnya, salah satunya  adalah gereja yang dibangun pada tahun 1470. Lalu berdiri dengan gagahnya, di atas tebing di samping danau Bled, adalah puri Bled. Sayangnya rencana kami untuk mengunjungi puri Bled di hari terakhir tidak terlaksana karena saat itu hujan deras dan Flipper tidak mau berhenti bermain hujan di farm. Yasud, sayang anak, emak dan bapaknya ikutan hujan-hujanan. Si Donna juga 😀

2178s
Danau Bled.
2156s
Puri Bled.

Tujuan lain yang bisa dikunjungi di kota Bled adalah Vintgar Gorge letaknya sekitar 8km dari pusat kota Bled. kami sempat dua kali mengunjungi gorge ini namun yang pertama kali ditolak masuk karena saat itu salju baru saja mencair dan membahayakan pejalan kaki. Petugasnya sempat bilang bahwa penutupan ini bisa berlangsung 2-3 hari. Kami kecewa dan pasrah tak bisa mengunjungi Vintgar gorge. Keesokan harinya, iseng-iseng kami ke sana lagi, eh ternyata sudah dibuka. Alhamdulillah.

Vintgar Gorge sepanjang 1,6 km ini dibuka untuk umum dengan membayar tiket seharga €4,00 (balita gratis). Para pengunjung bisa berjalan melalui jalan setapak dan jembatan di sana-sini menyusuri sungai Radovna dengan tebing-tebing setinggi antara 50 sampai 100 meter di kiri-kanannya. Jalan setapak ini berakhir di sebuah jembatan setinggi 13 meter di atas air terjun sungai Radovna. Saat itu cuaca memungkinkan kami untuk melihat pelangi di bawah jembatan dan bila mendongak ke atas, tampaklah pegunungan Alpen dengan gagahnya. Indah sekali. Flipper hampir tak mau diajak pergi dari gorge, secara di sana banyak air dan meskipun tidak bisa bermain air langsung di sungai namun dia bisa puas berjam-jam melempar kerikil ke sungai (oh ya, 1,6 km bersama Flipper itu bisa memakan waktu 2 jam saking seringnya berhenti minta lempar batu :D)

2174s
Vintgar Gorge.
2167s
Vintgar Gorge.

Demikianlah liburan 4 hari kita di Bled, Slovenia. We love it! Pada hari keempat, setelah sarapan kamipun pamit kepada keluarga Joze untuk melanjutkan perjalanan ke Italy, ke kota Cavallino di Metropolitan City of Venice. Kami disangoni sebotol madu murni oleh mereka. Alhamdulillah.

Nantikan cerita saya berikutnya tentang Venice dan Arco di tulisan selanjutnya  ya…<3

Foto-foto yang lain tentang danau Bled dan Vintgar Gorge bisa dilihat di Flickr saya ❤