Hari Pertama Masuk SD (Einschulungstag)

Kemarin di provinsi North Rhine Westphalia Jerman merupakan hari pertama anak-anak masuk SD atau di sini disebut Einschulungstag. Di sini hari pertama masuk SD adalah a big thing buat para orang tua. Eh pastinya di Indonesia juga ya, di mana para orang tua terharu biru karena si anak yang dulunya bayi, lalu menjadi toddler, kini sudah kelas satu SD. Tak heran bila kemarin banyak terlihat anak-anak yang menyandang ransel gede di punggungnya dan mendekap bingkisan besar berbentuk kerucut berhias  yang disebut Schultuete.

Rutinitas hari pertama masuk SD di sini diawali dengan kumpul bersama, sesama siswa baru ditemani orang tua, opa-oma dan saudara-saudara mereka di gereja yang sudah ditunjuk oleh pihak sekolah. Setelah itu  mereka pergi bersama-sama ke gedung SD. Di SD mereka akan diterima oleh kepala sekolah dan disambut dengan pidato selamat datangnya. Setelah itu mereka mulai dipisah di kelas masing-masing. Sejauh pengalaman saya motret hari pertama masuk SD, rata-rata di sini satu kelas diisi 20-25 anak.  Di dalam kelas mereka berkenalan dengan wali kelas mereka sekaligus menerima wejangan dan  aturan-aturan dos dan don’ts. Salah satu yang dianjurkan adalah supaya anak-anak pergi ke sekolah dengan jalan kaki (tentunya dengan ditemani orang dewasa dulu di hari-hari pertama) supaya mereka hapal jalan ke sekolah dan bisa belajar mandiri. Itulah sebabnya anak-anak di sini pilihan sekolahnya tergantung dengan jarak jauh-dekatnya dengan tempat tinggal. Di kota tempat tinggal saya, untuk selevel TK dan SD tidak ada golongan sekolah favorit dan non favorit, semua memiliki kualitas yang sama.  Nggak tahu ya kalau di kota lain.

Setelah prosesi penerimaan siswa baru yang kira-kira memakan waktu 2 jam, merekapun pulang ke rumah.  Di rumah  para orang tua biasanya mengadakan  pesta makan siang dengan mengundang keluarga dan teman dekat. Ada yang mengadakan pesta di rumah tapi ada juga yang booking tempat di restoran. Di saat makan siang inilah anak-anak mulai diperbolehkan membuka Schultuete mereka. Apa sebenarnya Schultute itu?

Schultuete  merupakan bagian dari tradisi hari pertama masuk SD dan bisa dibeli kosongan di toko-toko yang banyak menjualnya menjelang bulan Juli dan Agustus atau membuat sendiri. Kebanyakan sih  anak-anak di sini membuat Shultuete sendiri  dibantu papa mama. Sebelumnya, saat masih di Kindergarten, anak-anak yang akan masuk SD tersebut juga sudah diajarin oleh  gurunya bagaimana membuat Schultuete sendiri.

Tradisi ini berawal di kota Jena pada tahun 1800 an dimana untuk menambah semangat si anak masuk sekolah baru (baca: mengurangi kecemasan anak-anak) , para orang tua dan saudar-saudara yang lain memberi hadiah berupa permen dan coklat yang dimasukkan ke dalam Schultuete tersebut. Saat ini sih isi Schultuete nggak hanya permen-permenan namun juga alat-alat sekolah dan mainan.

Berikut ini adalah beberapa foto dari Einschulung photo session kemarin:



Don’t cry mama!

Selain Schultuete, hal yang menarik lainnya adalah ransel besar yang dikenakan anak-anak SD tersebut. Ransel ini akan dikenakan sehari-hari tentunya, tidak pada hari pertama saja.

Foto diambil dari: http://www.ksb-es.de/neue-ranzen-machen-kinder-gluecklich/

Orang pendatang yang melihat ransel itu pertama kalinya di Jerman pasti berpikir what the heck is that? Besar, terlihat berat dan desainnya jelek semua (at least menurut saya ya). Saya bahkan sempat kasihan melihat anak-anak yang mengenakan tas kebesaran tersebut. Namun rupanya, meskipun tidak wajib mengenakannya,  ransel tersebut ternyata sangat dianjurkan untuk dipakai karena desainnya sudah disesuaikan dengan proporsi pungggung, tubuh anak, dan ada ukuran-ukuran tertentu disesuaikan dengan umur dan berat/ tinggi badan mereka. Bahannyapun ternyata ringan jadi meskipun besar, dia tidak berat (yang bikin berat mah buku-buku di dalamnya).

Selain sudah diperhitungkan faktor ergonomic-nya, soal fungsi juga diperhitungkan banget. Di interior ranselnya terdapat sekat-sekat untuk buku, kotak bekal, botol minuman, pencil, dst. Lalu di exterior ada reflection sticker-nya supaya kalau pagi-pagi berangkat ke sekolah, meksipun gelap di musim dingin, anak-anak itu tetap terdeteksi. Oh iya, bahan ransel yang free toxic juga menjadi pertimbangan untuk membeli ransel sekolah. Tak heran deh pokoknya bila ransel jelek ini harganya di atas 100โ‚ฌ, apalagi yang ada stempel TรœV nya. Ngalah-ngalahin harga tas mamanya deh pokoknya ๐Ÿ˜‚


Foto diambil dari: http://www.t-online.de/leben/familie/schulkind-und-jugendliche/id_19084134/stiftung-warentest-schulranzen-muessen-vor-allem-stabil-sein.html

Kalau di tempat tinggal kalian ada tradisi khusus untuk anak sekolah nggak?

Advertisements

How to calm down toddler after school/ Kindergarten time

Hello moms with toddler, have you read this article yet? 7 Ways to Help Your Child Handle Their ‘After School Restraint Collapse’  Great article, very true. We’ve been there, done that. Our trick is simple; after school we make a small picnic.

On the way home from Kindergarten, we sit under a certain tree. Flipper always choose the same tree every day because she thinks the shadow is perfect to sit on. I ask her to check, if she still have some food left in her snack box, if not then I give her small surprise like wrapped single Orea or 2 pieces of M&M’s. Well after the third day it’s no longer surprise anyway, because Flipper knows if we go picnic after school and the snack box is empty, means she will get either black cookie (that’s how she calls Oreo) or sweets…. But still she’s surprised (or pretend to be surprised) and her face shines with happines every times I give her the treat ๐Ÿ˜.

Look at her shine! Oh don’t mind her dirty face and dirty clothes, dirty legs… it’s always like that after school ๐Ÿ˜„

The black cookie ๐Ÿ™‚
And like adults sit over coffee, we talk- without coffee. She will start talking about her day in Kindergarten without I have to ask first. After 15 minutes or so we continue to walk home. Sometimes she stopped to ride a wooden horse  in the playgroup for few minutes and that’s it, we walk home hand in hand without drama.

At home she’ll play or read her favorites books without any fuss. The picnic trick works well. Before, she always came home in fury and the rest of the day was no longer fun for both of us.

Now, slowly but sure the weather is getting colder, I have to think a better place to do our picnic or maybe different activities. 

So how about your toddler, mon? Do they behave well after school? And if not, what is your trick to calm them down? 

Si Flipper masuk TK

Sebelum melanjutkan cerita tentang road trip kami kemarin, saya mau kasih selingan sedikit tentang si Flipper dulu ya, karena dia barusan masuk TK. Oh iya untuk yang belum tahu, Flipper hanya cyber name, ini bukan nama sebenarnya ๐Ÿ˜‰


Penjelasan singkat tentang istilah-istilah TK  di Jerman

Di Jerman ada istilah Kindertagesstรคtte atau disingkat KiTa yang terdiri dari 3 bagian, yaitu:

  1. Kinderkrippe (biasa disebut Krippe saja): untuk anak-anak berusia di bawah 3 tahun.
  2. Kindergarten (biasa disebut KiGa): untuk anak-anakberusia 3 sampai 6 tahun.
  3. Hort: untuk anak-anak sekolah dasar, dari kelas 1 sampai kelas 4. Anak-anak ini tetap berada di sekolah meskipun jam sekolah sudah usai. Di sini mereka melakukan kegiatan bersama seperti makan siang dan mengerjakan PR bareng-bareng.

Alhamdulillah sejak senin kemarin si Flipper sudah menjadi anak KiTa Kindergarten. Sebenarnya kami ingin memasukkan Flipper ke KiTa Kinderkrippe sejak dia berusia 2 tahun (tahun lalu) tapi meskipun sudah antri dari usia 3 bulan di 3 KiTa, dia tidak mendapat bangku/ tempat karena memang di daerah kami banyak anak kecil dan tidak semua KiTa memiliki Krippe. Kalau mau, orang tua sudah bisa memasukkan anaknya ke Krippe sejak anak berusia 6 bulan. Tapi ya itu, tempatnya terbatas. Bahkan banyak orang tua yang sudah mendaftarkan anaknya sejak anak masih di dalam kandungan supaya mendapat bangku Krippe di saat ynag diinginkan nanti. Karena tempat terbatas itulah yang diutamakan mendapat tempat di Krippe adalah anak-anak yang kedua orang tuanya bekerja full time. Kalau anaknya sudah berusia 3 tahun seperti Flipper (meskipun official 3 tahunnya adalah tanggal 20 Juni besok) maka dia dipastikan mendapat bangku di KiTa Kindergarten. Bangku di KiGa ini adalah hak setiap anak berusia  3 tahun ke atas namun bukan kewajiban. Kalau mau, orang tua juga bisa memasukkan anaknya ke KiGa ketika si anak berusia 4 atau 5 tahun atau tidak masuk KiGa sama sekali.

KiGa-nya Flipper hanya berjarak 200 m dari rumah dan melewati jalan bebas kendaraan. Bisa juga naik mobil seperti hari ini tapi musti muter-muter lebih jauh. Hari ini hujan super deras dan meskipun sudah niat jalan kaki lengkap dengan perlengkapan baju hujannya, setelah 10 meter berjalan, Flipper tidak mau melanjutkkan perjalanannnya. Sepertinya dia berpikir keras dengan pilihan hidup antara mainan becek-becek di jalanan atau lanjut ke jalan KiGa, akhirnya saya angkut Flipper naik ke mobil sebelum dia mengambil keputusan yang salah ๐Ÿ˜€

KiGa Flipper memiliki 3 kelas atau grup  yaitu grup Sterne (Bintang), Regenbogen (Pelangi) dan grup Sonne (Matahari). Flipper masuk ke grup Regenbogen, mungkin dengan pertimbangan karena ada dua anak tetangga yang kenal baik dengan Flipper di situ. Tiga kelas ini tidak untuk membedakan usia anak. Semua anak berusia 3-6 tahun bercampur jadi satu dan dibagi dalam 3 kelas yang isinya 20-24 anak dengan 3 guru di setiap kelas. Jadi tidak seperti di Indonesia yang membedakan usia anak dalam TK nol kecil dan nol besar (eh masih begitu nggak sih sekarang?). Buat Flipper hal ini sangat menguntungkan karena saat ini dia adalah anak termuda di kelasnya dan dia memang selalu suka bermain dengan anak-anak yang usianya lebih tua dari dia.

Ada yang lucu waktu Flipper tiba di hari Senin kemarin, semua anak menyambutnya dan semua ingin menggandeng tangannya sampai akhirnya si Lara, anak tetangga berteriak dengan kencang mengatakan bahwa hanya dia yang boleh bermain dengan Flipper karena dia sudah kenal Flipper. Karena anak yang lain tidak rela akhirnya bu gurupun turun tangan dan memutuskan untuk hari pertama hanya Lara dan Klara (anak tetangga yang satunya lagi) yang boleh menemani Flipper. Lara dan Klarapun bersorak dan langsung sibuk menunjukkan ini itu kepada Flipper termasuk di mana letak toilet anak-anak. So sweet…

Kami sudah menandatangani kontrak dengan KiGa ini sejak tahun lalu dan setelah itu, sebelum tanggal resmi masuk ke KiGa ini, Flipper boleh mengunjungi kelasnya kapan saja, 1 jam dalam setiap pertemuan, untuk sekedar pengenalan dan membiasakan diri di sana. Karena Flipper juga punya kegiatan lain di luar, maka kami hanya sempat 3 kali main ke KiGa dan itupun sudah lama. Yang terakhir awal bulan lalu ketika kami baru pulang dari liburan. Waktu itu untuk pertama kalinya Flipper ikut Morgenkreis atau morning circle; berkumpul bersama membentuk lingkaran, absen nama anak-anak, menyanyi bersama lalu memberi kesempatan anak-anak bercerita tentang apa saja yang ingin mereka ceritakan. Nah Flipper yang memang tidak sabaran ini rewel luar biasa di kegiatan ini, mungkin bagi dia kegiatan ini membosankan, hanya duduk bersila dan mendengarkan curhatan anak lain. Dia teriak-teriak minta keluar dan bermain sampai akhirnya gurunya menghentikan Morgenkreis setelah 15 menit. Biasanya sih 30 menit, kata bu guru. Nah lu Flipper!

Selain itu dia juga rewel ketika diminta menunggu anak-anak lain mengenakan sepatu karena mereka akan main di halaman bersama-sama. Dasar bocah tidak sabaran, maunya segera melesat saja keluar. Aturan di rumah dan di KiGa memang berbeda, demikian juga siapa yang memiliki otoritas di rumah dan di KiGa juga berbeda dan Flipper harus belajar mengerti itu.

Hari Senin kemarin, jam 8.30 pagi kami sudah berada di KiGa dan Flipper langsung sibuk main di dalam kelasnya. Ketika jamnya Morgenkreis, jam 9.00, bu gurunya bertanya apa saya mau ikut menemani ke ruang atas seperti sebelumnya. Kali ini saya memilih untuk menunggu di lobby saja, siapa tahu Flipper justru anteng bila saya tidak ada di sampingnya (kembali ke soal otoritas tadi). Dan benar saja 30 menit Morgenkreis berjalan lancar tanpa ada jeritan bocah yang tidak sabaran. Saya bahkan sempat mengintip ke ruangan Morgenkreis dan melihat si Flipper enjoy menggoyang-goyangkan badannya di session menyanyi. Yes Flipper!

Tempat tunggu saya lengkap dengan 1 termos penuh air panas. Gurunya Flipper (dan saya juga) memang mengira di hari pertama saya bakalan lama duduk di situ ๐Ÿ˜€
Setelah satu jam di sana, bu gurunya Flipper menyuruh saya pulang dan menjemput Flipper jam 12 siang. Wah, kok sudah disuruh pulang…Dengan perasaan nggak rela saya pulang juga setelah memastikan bahwa bu guru sudah memiliki semua nomer telpon saya bila ada apa-apa. Sampai di rumah saya bingung mau ngapain, biasanya di jam-jam ini saya bermain dan membuat prakarya bersama Flipper. Bolak-balik saya melihat handphone, ‘berharap’ ada missed call dari KiGa dan ternyata semua lancar. Jam 12 siang saya jemput Flipper dan dianya tidak mau pulang, halah! Setelah dibujuk bahwa dia boleh mainan puddles di luar, baru deh dia ngibrit mau pulang.

Pulang dari KiGa, day 1: Berlari dari puddle yang satu ke yang lainnya. Ciprat! Ciprat!
Gosh, what a mixed feelings…antara senang bahwa anak perempuan kecil saya sudah berada di sebuah tahapan baru dalam hidupnya, sudah lebih mandiri dari sebelumnya dan juga sedih karena dia seolah tidak membutuhkan saya ketika berada di kelas barunya. Selama ini Flipper memang selalu bersama saya dalam segala kegiatannya; playgroup, play date, berenang, menari, gymnastic, etc… Selain dengan opa-omanya, Flipper belum pernah saya serahkan ke teman atau tetangga atau baby sitter sendirian. Itu yang membuat tahap ini begitu berarti bukan hanya buat Flipper namun juga buat saya, kami sama-sama memasuki sebuah fase baru dalam hubungan kami.

Sekarang sudah hari ketiga Flipper di KiGa, dan alhamdulillah masih lancar tanpa harus ditunggui. Hanya kemarin saya harus menjemput Flipper 1 jam lebih awal karena bu gurunya menelpon dan bilang bahwa Flipper nangis-nangis mengantuk. Hari ini dia kembali full time dari jam 8.00 sampai jam 12.00. Untuk saat ini Flipper memang berada di KiGa sampai jam 12.15 saja. Nanti awal September insyaaalah dia akan berada sampai jam 15.00 di sana sehingga saya bisa kembali bekerja. 

Hal baru yang saya amati sejak Flipper masuk KiGa adalah, dia jadi suka aleman setelah pulang dari rumah. Maunya gendong dan cuddling dengan saya terus padahal sebenarnya sudah lama banget dia nggak minta gendong. Kemanapun saya pergi, meskipun ke toilet juga diikutin dan berkali-kali bilang bahwa dia sayang mama, aih… Sepertinya dia juga kangen saya selama berada di KiGa hihi…senang deh saya.

Yang saya harapkan dengan masuknya Flipper di KiGa, sederhana saja; bahwa dia bisa belajar sabar, disiplin, menghormati teman dan gurunya, belajar mengenal aturan-aturan basic di kehidupan sosial dan kosa kata yang bertambah. Yang TIDAK saya harapkan dari KiGa adalah; munculnya kata-kata kotor. Sering saya dengar para orang tua yang mengeluh setelah anaknya masuk KiGa, banyak kata-kata kotor yang diucapkan si anak tanpa si anak itu tahu apa arti sebenarnya dari kata-kata itu. Duh. Anak menjadi gampang sakit juga keluhan para ortu setelah anaknya masuk KiGa atau Krippe dan ini tentu saja juga tidak saya harapkan. Selama ini Flipper hampir bisa dikatakan tidak pernah sakit sama sekali. Hanya demam ketika bayi (setelah imunisasi) dan pilek ringan yang sangat jarang. Bismillah semoga dia bakalan stay like that, selalu sehat meskipun sudah masuk KiGa. Satu hal lagi yang tidak saya harapkan adalah…okay ini agak-agak nggak penting tapi boleh dong ngarep (namanya juga harapan :p), bahwa dia tidak ikutan mainstream menjadi penggemar Frozen hihi… I can stand it! Di mana-mana dari taman bermain, supermarket bahkan KiGa, selalu saja bertebaran anak-anak memakai baju Frozen dan segala atributnya. Flipper sih belum pernah melihat film Frozen jadi saat ini masih aman tapi bisa saja suatu saat dia ingin ikut-ikutan temannya memakai baju berwarna telur bebek itu ๐Ÿ˜€

PUlang dari KiGa day 3: blusukan ke semak-semak sambil tetep main ciprat-ciprat.
Sejak Flipper masuk KiGa, saya jadi bernostalgia dengan masa-masa saya di TK dulu hanya. Saya ingat pernah merayakan ulang tahun di TK. Lalu ada anak bernama Agung yang nakal sekali, suka menendang kaki saya dan teman yang lain ketika kami duduk bersama di meja bundar. Sebulan sekali kami makan sup bersama-sama di TK. Ingatan yang sampai sekarang tak bisa hilang adalah  tentang teman sekelas, anak Bali yang bernama Betty. Dia mempunyai adik kecil bernama Teta yang kadang ikut ke TK. Selama ada Teta, Betty selalu menjaga Teta, menina-bobokan dan menjaganya supaya tidak diganggu anak lain dan saya waktu itu suka ikut-ikutan sok menjaga Teta padahal kalau dipikir kami dulu masih kecil-kecil tapi kalau bersama Teta waktu itu, saya merasa sudah gede banget! Entah di mana Betty dan Teta sekarang. Apa ingatan kamu tentang masa-masa TK-mu? ๐Ÿ™‚