Winter Holiday di Marsa Alam, Mesir

Home sweet home. Ya, akhirnya kami berada di rumah kembali setelah  menghabiskan 2 minggu liburan di Marsa Alam, Mesir. Tidak banyak yang kami lihat di Mesir karena tujuan liburan kali ini memang hanya untuk recharging body and mind alias hanya bermalas-malasan di resort, menikmati pantai dan mataharinya di kala benua Eropa sedang mengalami musim dingin. Orang Jerman biasa menyebut liburan semacam ini ‘Erholungsurlaub‘ atau ‘Badeurlaub‘ yang arti harafiahnya berdasarkan kamus pribadi Beth adalah liburan cibung-cibung – karena aktifitas utamanya memang bermain air di kolam renang dan di pantai (termasuk berjam-jam berjemur tentunya). Untungnya resort kami terletak di tepi laut merah yang terkenal dengan pemandangan bawah lautnya yang indah sehingga saya yang aslinya tidak bisa bertahan lama berjemur dan diam di atas kursi malas bisa snorkling hampir setiap hari. 

Kami berangkat dari bandara Cologne-Bonn pada hari Minggu tanggal 27 Desember 2015 dengan niat untuk merayakan tahun baru di sana. Penerbangan ke International Airport Marsa Alam memakan waktu 4 jam. Untuk empat jam penerbangan ini, Mila membawa sekoper mainan dan satu ransel tas penuh jajan supaya tidak rewel selama di pesawat. Delapan butir surprise eggs pun disiapkan tapi diumpetin dulu, hanya dikeluarkan ketika sogokan yang lain tidak mempan. Alhamdulillah kami hanya perlu mengeluarkan satu telur dalam penerbangan tersebut.

sangu mila
Koper isi mainan dan satu box jajan. Boxnya itu nanti dimasukkan ke ransel yang penuh jajan juga 😀

 Di Bandara Internasional Marsa Alam

Ketika kami tiba di bandara kecil Marsa Alam, sekitar pukul 17.00 waktu setempat, saya sempat kaget ketika penyambutan pertama yang kami temui adalah para agen tour. Saya pikir kami harus melewati imigrasi dulu di mana saya yang WNI harus pisah antrean dengan anak dan suami. Para agen tour ini berteriak-teriak memanggil penumpang yang sebelumnya sudah booking paket liburan dari mereka. Kamipun menghampiri agen tour kami, yaitu Vtour.

Kami bukan satu-satunya keluarga yang menggunakan jasa Vtour dan selain itu banyak agen-agen dari tour lain yang entah kenapa semuanya terburu-buru sehingga  suasana terasa chaos. Agen tour kami meminta paspor kami dan tanpa banyak cakap langsung menempel paspor kami dengan visa Mesir. Saya lihat agen-agen tour yang lain juga melakukan hal yang sama. Kami yang  pertama kali ke Mesir lumayan bingung juga, bandara ini nggak ada kontrol imigrasinya atau bagaimana. Lagian saya kan berdasarkan aturan, karena saya WNI, sudah harus apply di kedutaan Mesir di Frankfurt sebelum keberangkatan.  Namun saya pikir ya sudahlah, siapa tahu itu cuman sticker tambahan, pikir saya.

paspor
Visa on Arrival

 Ternyata setelah keluar dari keruwetan orang-orang dan para agen tur, baru deh di ujung ruangan terlihat ada loket imigrasi yang mengecek paspor kami. Sayapun baru paham, ternyata kerumunan agen tur tadi ‘nyambi’ sebagai petugas Visa On Arrival (yang tidak berlaku untuk WNI). Entah bagaimana prosesnya seandainya ada pengunjung  yang datang ke Marsa Alam tanpa agen tour, siapa yang akan melayani VOA-nya?  (Pengalaman tentang apply visa ke Mesir bisa dicek di postingan saya sebelumnya.)

Di pemeriksaan paspor yang hanya buka satu loket, visa yang distempel petugas adalah  visa yang dari kedutaan, bukan sticker mini dari agen tur. Setelah kontrol visa, kamipun mengambil bagasi kami dan keluar bandara, mencari agen tour kami yang menyediakan kendaraan transfer ke hotel. Nah di sini terjadi chaos lagi.  Kerumunan para agen tour yang sama kembali mengitari kami para penumpang yang baru datang. Agen tur Vtour kami yang tadi menempel sticker VOA datang lagi untuk menagih pembayaran visa  tersebut. Saya tentu saja menolak membayar karena saya sudah membayar €38,00 di kedutaan Mesir, lebih mahal dari harga Visa pemegang passpor Jerman yang hanya €32,00 (meskipun di sticker visanya jelas-jelas harganya tertera hanya $25- sekitar €23,00). Agen t0ur  tersebut menyalahkan saya yang tidak bilang bahwa saya sudah punya visa. Lah mana saya tahu, waktu dia minta kami menunjukkan visa, dia main tempel saja, plek plek plek? Mentang-mentang pesawatnya datang dari Jerman, dia pukul rata saja menganggap semua penumpang adalah pemegang paspor Jerman. Saya pikir dia tadi hanya mau mencocokkan nama di passpor dengan nama  di list dia. Lagi pula paspor saya warnanya hijau sendiri, kenapa dia tidak curiga?

Si mas agen itu tadinya ngeyel kalau saya harus bayar lagi karena sticker sudah terlanjur ditempel. Sticker artinya duit. Sayapun balik ngeyel dan mungkin karena disertai Mila yang nangis-nangis tak karuan minta keluar dari kerumunan orang, akhirnya mas agen mengalah dan menyobek halaman paspor saya yang ada sticker-nya. Sayapun tak perlu membayar.

Di Resort

Jarak antara bandara dan resort untungnya hanya 10 menit. Lega rasanya ketika memasuki area resort kami, Resta Grand Resort. Suasana natal di hotel terasa masih kental dengan segala dekorasinya. Flipper yang sejak turun dari pesawat serasa forever tantrum langsung bungah melihat Santa yang berdiri  di antara bungkusan kado-kado di lobby. Proses check-in yang disambi dengan suguhan minuman dingin berjalan cepat. Setelah mendapatkan gelang tanda all inclusive, kamipun di antar oleh petugas ke kamar kami.

Mila n Santa

Resort kami terdiri dari beberapa bangunan yang secara keseluruhan berjumlah 396 kamar (dan mereka sedang dalam proses menambah 352 kamarlagi). Kamar kami berada di lantai dua sebuah  bangunan yang terdiri dari 8 kamar. Saking jauhnya dari lobby, kami diantar naik golf cart ke kamar kami. Dalam hati saya happy, kamar jauh dari restoran berarti makin banyak lemak yang terbakar buat jalan. Petugas yang mengantar kami bilang bahwa kamar kami menghadap ke laut namun karena hari sudah gelap, kami hanya bisa mendengar deru ombaknya saja. Baru pada keesokan harinya kami bisa menikmati pemandangan dari balkon kami.

view from room
Kiri: view dari balkon depan. Kanan: view dari balkon belakang.

 Untuk liburan kali ini saya sengaja membawa 3 set baju fitness plus sepatunya karena sudah niat untuk tidak menambah berat badan seperti waktu liburan di Turki kemarin. Yah, memang inilah sisi negatif dari Badeurlaub yang all inclusive. Makanan enak-enak  dan minumannya tersedia 24 jam sehari tanpa harus extra membayar lagi. Waktu di Turki kemarin saya tidak membawa baju fitness dan makan uncontrollable karena saya memang penggemar makanan Turki (Turkish delight, oh!). Akibatnya, efek 10 hari liburan waktu itu belum hilang sampai sekarang. Makanya kali ini saya harus lebih hati-hati. Tapi setelah beberapa kali menikmati makanan di resort ini, dari appetizer sampai dessert, saya menyimpulkan bahwa with or without bakar lemak di fitness studio pun, saya tidak akan menambah berat badan karena makanan di sini tidak selezat di Turki. So I take it as a ‘yay’! 

Pada hari ke-4 saya sudah kehilangan nafsu makan di resort. Dan apesnya resort kami ini letaknya in the middle of sea and desert. Tidak ada kehidupan lain di sekitar hotel sehingga kami tidak bisa jajan di luar. Menu makanan yang disediakan di restoran-restoran hotel sebenarnya sangat beragam mulai dari local food sampai Chinese dan Italian food tapi semuanya terasa hambar sampai akhirnya pada hari ke -5 saya bertanya ke salah satu kokinya apa mereka punya cabe dan oh baiknya si bapak ini, dia berhasil mendapatkan cabe buat saya meskipun itu cabe jalapeno yang tidak sedasyat Thai chili tapi tidak apa-apa. Sekarang di tiap restoran selalu tersedia irisan cabe buat saya. Bahkan di bagian live cooking omelett dan pasta, tanpa banyak tanya,  ketika mereka melihat saya berjalan menuju mengunjungi counter mereka, merekapun sudah menyiapkan sesendok munjung cabe untuk diolah. Pada hari terakhir saya di hotel, ketika makan pagi saya bilang ke koki bagian telur-teluran bahwa mulai besok dia tidak perlu lagi menyiapkan cabe untuk saya karena malamnya kami harus terbang ke Jerman. Sahutan pak koki, “Oh no! We have a big box of chilies prepared for you! Would you like to bring it home?” Becanda nih si bapak. Belum tahu dia bahwa di rumah banyak cabe super pedes yang menunggu saya 😀 Btw, saya memang satu-satunya turis Asia di resort ini.

Service keseluruhan di hotel ini memang sangat bagus tapi menurut saya service di bagian restoran yang paling top. Pelayannya semua super ramah dan mau repot untuk sesuatu yang dibutuhkan meskipun itu bukan bagian dari service. Selain soal cabe tadi, mereka bersedia menghangatkan susu untuk minum paginya Mila karena yang disediakan sebenarnya hanya susu dingin untuk cereal. Selain itu meskipun restoran tutup jam 22.00, saya masih boleh masuk mengambil roti karena si Mila suka tiba-tiba kelaparan lagi setelah acara mini disco. 

Seperti halnya di Turki atau Spanyol bahkan di Indonesia, meskipun tidak ada kebijakan khusus tentang tipping, di sini tipping is welcome. Di sudut restoran-restoran ada sebuah box untuk memasukkan uang tips sukarela kita. Demikian juga di cocktail lounge. Hanya di di restoran untuk gala dinner dan di bagian spa, kalau mau, kita bisa memberikan tips langsung ke orang yang melayani kita. Untuk housekeeping yang rajin membuat kreasi-kreasi menarik dengan handuk di kamar kami, kami meninggalkan tips di atas bantal secara berkala. Beda dengan hotel atau resort di mana kami pernah menginap sebelumnya, housekeeping yang datang membersihkan kamar kami setiap hari adalah orang yang sama, Muhammad. Para karyawan di resort ini hampir semuanya pria, mulai dari bagian reception, kitchen, housekeeping, gardeners, cleaning service, office administration, dll…hanya ada 5 wanita yang bekerja di resort ini, dua pemijat di bagian spa dan tiga hotel animators.

kolase handukS
Macam-macam kreasi handuk dan bantal karya Muhammad.

 Satu fasilitas penting yang selalu kami cari di hotel ketika pergi berlibur adalah fasilitas play ground untuk bermain anak-anak. Resta Grand Resort memiliki Spielplatz yang besar serta kids club yang mainannya sangat lengkap. Sayangnya waktu kami berada di sana, tidak banyak turis mini yang menginap sehingga Flipper nyaris satu-satumya pengunjung di kids club. Peserta mini disco yang diadakan setiap pukul 20.30, yang merupakan aktifitas favorit Flipperpun hanya 1-2 anak. Kadang sayapun ikut menari di panggung supaya Giada, hotel animator yang memimpin disco tetap bersemangat memberi intruksi meskipun pesertanya hanya Flipper seorang 😀

IMG_4925s
Di dalam Kids Club.

IMG_5351s
Taman bermain anak.

IMG_5377
Flipper bersama para crew resort.

Kami berlibur di Mesir di saat tingkat pariwisata di Mesir anjlok gara-gara kecelakaan pesawat dari Sharm El Sheiks menuju Rusia bulan Oktober lalu. Kami sebenarnya sudah booking hotel di Sharm El Sheiks dari jauh-jauh hari sebelumnya yang kemudian setelah kejadian kecelakaan pesawat, kami mengikuti advice dari agen tour untuk pindah ke Marsa Alam. Marsa Alam yang berada jauh dari Sharm El Sheiks (sekitar 300 km naik mobil plus nyebrang laut merah) ikut merasakan dampak dari kecelakaan pesawat tersebut. Di bulan-bulan ini biasanya tingkat hunian Resta Grand Resort isi  80%  karena banyak orang Eropa yang ingin merayakan natal dan tahun baru dengan suhu udara yang hangat. Kali ini tingkat hunian hanya isi 22%. Sangat jauh bedanya tapi tetap masih lebih bagus dari tingkat hunian hotel di Sharm El Sheiks yang nyaris nol persen. Dua dari tujuh hotel animators yang sering ngobrol dengan kami bahkan pindahan dari Sharm El Sheiks. Mereka dipindah ke Marsa Alam karena di sana tidak ada kunjungan sama sekali. Sad. Dan sepertinya tingkat pariwisata di Mesir akan terus anjlok setelah tanggal 8 Januari kemarin terjadi tembak-tembakan di kawasan turis di Kairo, di daerah Pyramid berlanjut dengan serangan di sebuah hotel di kawasan wisata Hurghada pada keesokan harinya. Sedih rasaya membayangkan bila tidak ada lagi turis yang datang ke tempat ini…Apakah bapak tua yang bertugas mencabuti rumput di halaman resort masih diperkerjakan? Apakah Hamyd yang rajin mondar-mandir mempromosikan paket-paket spa akan bisa mempertahankan pekerjaannya? Lalu para hotel animators, kemana lagi mereka akan dipindah? Salah satu pelayan restoran, Sofwan yang sempat pamit ke kami karena akan libur 10 hari merayakan natal di desanya (Di Mesir mereka merayakan natal pada tanggal 7 Januari) dan tidak bisa bertemu kami lagi nanti ketika dia kembali bekerja, apakah dia benar-benar bisa kembali bekerja? 

Kegiatan di Resort

Ketika di Eropa sedang mengalami musim dingin, demikian juga di Mesir. Bedanya bila di Eropa suhunya rendah mendekati angka nol bahkan di bawah nol, suhu  musim dingin di Mesir berkisar antara 16-27 derajat celcius. Suhu yang ideal. Sayangnya kadang suhu yang ideal ini disertai dengan angin kencang yang mengakibatkan dinaikkannya bendera warna hitam yang artinya dilarang turun ke laut. No snorkling. Jangankan untuk snorkling, untuk baring-baring di kolam renangpun lumayan membingungkan karena sengatnya panas matahari bila bercampur angin dingin membuat badan menggigil, apalagi kalau kita berada di tempat yang teduh, di bawah payung misalnya, rasanya ingin menyalakan pemanas.  Tak heran bila di area swimming pools banyak mbak-mbak berbikini yang dilapisi jaket tebal plus kupluknya. 

Ketika berangin inilah saya biasanya menghabiskan waktu di spa, massage. Di sini ada aturan tertulis bahwa customer dan pemijat harus sama gender-nya. Saya sendiri seumur hidup belum pernah dipijat pria, tapi buat saya pribadi selama mijatnya enak, apapun jenis kelaminnya tidak masalah. Tukang pijat langganan saya di Kerpen sendiri adalah ibu-ibu berpostur kecil yang umurnya di atas 50 tahun tapi tenaganya super. Thai massage emang the best lah menurut saya 😀

Private beach di resort kami airnya sangat jernih. Kami bisa melihat coral dan ikan warna-warni hanya dengan berdiri di pinggiran pantai. Untuk snorkling-pun banyak pilihan, snorkling di pantai yang jaraknya hanya 3 meteran dari bibir pantai atau berjalan dulu ke jembatan yang menjorok ke laut di mana ada tangga ke bawah untuk snorkling ke lautan yang lebih dalam. Di kedua lokasi itu ikan dan coralnya sama-sama cantik dan penuh warna, hanya saja di bagian yang lebih dalam bisa dijumpai jenis-jenis ikan yang lebih besar. 

Selain snorkling gratisan di pantai belakang resort, saya juga sempat mengikuti paket snorkling yang diadakan oleh snorkling tour di mana saya berkesempatan melihat seekor kura-kura raksasa dan seekor dugong dari dekat. Begitu melihat kura-kura, saya langsung ingat dengan film Nemo. Kura-kura ini pasti umurnya juga sudah ratusan tahun dan si kura-kurapun melirik nakal seolah mengiyakan dugaan saya. Saya tadinya beranggapan bahwa dugongyang panjangny sekitar 2 meter dan gendut itu adalah binatang pemalas yang hanya klesotan di dasar laut, ternyata saya salah, dia bisa juga berenang indah bergaya zigzag. Lalu belum lagi ikan aneka warna dan coral serta tumbuhan laut yang cantik jelita… Alhamdulillah sekali saya bisa menikmati keindahan alam bawah laut ini. Snorkling terakhir saya sebelum ini adalah di Nusa Dua, Bali yang sayangnya tak seindah di sini.

Foto-foto di pantai belakang resort bisa dilihat di Flickr saya

Jadi kalau mau disimpulkan, saya sebenarnya tidak leyeh-leyeh dan makan melulu di liburan ini. Snorkling hanya absen ketika bendera hitam berkibar. Zumba, dan jogging setiap hari. Massage 3 kali dalam 2 minggu adalah lebih dari cukup bila dibanding dengan aktifitas massage saya yang hanya sebulan sekali di Kerpen. Lalu main air atau main di Spielplatz bersama Flipper. Cukup hectic kan? Belum lagi bingung memilih dessert yang enak-enak dan nonton pertunjukan di panggung yang berganti-ganti setiap malam. Ah menyenangkan. Tapi tetap saja saya lebih senang berada di rumah kembali, back to routine dan merencanakan liburan-liburan selanjutnya 🙂

Ya itulah aktifitas liburan kami di resort. Untuk kegiatan di luar resort, selain snorkling tour,  kami sempat mengunjungi sebuah kota tua dan sebuah kota modern yang akan saya tulis di postingan selanjutnya.

IMG_5378IMG_5379IMG_5380

Advertisements

Visa ke Mesir

Sebagai pemegang paspor hijau Indonesia, pasti banyak cerita dong tentang betapa ribetnya apply visa ke negara-negara lain. Saya selama ini sudah pernah mengunjungi 14 negara, kebanyakan negara Schengen jadi tidak perlu apply visa karena saat ini saya tinggal di Jerman. Dari 14 negara tersebut, negara-negara wajib visa yang saya kunjungi adalah (note: tingkat kesulitan terendah adalah 1 dan tersulit 5):

  • Jerman (2005-2007), apply langsung di Jerman embassy di Jakarta. Tingkat kesulitan  4 – Sekarang sih udah nggak mikir soal visa karena sudah permanent resident di Jerman, tapi dulu waktu masih jaman kunjung pacar, haduh ribet banget urusannya. Apalagi yang visa kumpul keluarga sesudah menikah. Eeek!
  • United Kingdom (2007), apply langsung di The UK Visa Application Centres Düsseldorf. Tingkat kesulitan: 4 – Berkas-berkas yang dilampirkan banyak banget, informasi di websitenya waktu itu tidak jelas dan telephone hotline-nya tidak gratis. Kalau tidak dikasih tahu teman bahwa visa untuk istri/suami dari seorang warga negara Eropa itu gratis, saya pasti kena charge 90 Pound karena di websitenya tidak ada keterangan tentang itu.
  • Ireland (2007), apply langsung di Ireland Consulate di Bergisch-Gladbach. Tingkat kesulitan 2 – Lucu deh visa dari mereka hanya ditulis tangan dan nggak perlu nempel foto 😀

    ireland-visa
    Visa ke Irlandia
  • Turki (2015), apply e-visa. Tingkat kesulitan:1 – Hanya mengisi form di website mereka, bayar online, beres. Visa dikirim per-mail atau bisa langsung diprint.

Nah yang terakhir nih, yang baru saja saya urus adalah visa ke Mesir. Untuk tahun baru besok suami memutuskan untuk merayakan tahun baru di tempat yang hangat dan setelah browsing negara hangat, Mesir dijadikan pilihan. Pilihan pertamanya sih sebenarnya ke Indonesia tapi sayang sangunya kurang dan waktunya terbatas pula.

Begitu suami memutuskan bahwa liburan kita kali ini ke Mesir, hal pertama yang saya check adalah, apakah saya perlu visa. Jawabnya ya dan BUKAN visa on arrival. Selanjutnya saya check di manakah kedutaan atau konsulat Mesir itu? yang paling dekat dengan rumah adalah di Frankfurt. Duh, males banget ke Frankfurt yang jauhnya 200 km dari rumah kami. Sayapun memutuskan untuk memakai jasa agen pembuatan visa. OK, kata suami. Diapun lalu mulai booking hotel, pesawat dan tetek bengeknya. Paid. Beres.

Nah, pas lagi milih-milih mau pakai agen yang mana, barulah teliti membaca persayaratan visa ke Mesir (ketahuan deh, sebelumnya bacanya nggak teliti). Ternyata untuk WNI (meskipun tinggal di Eropa dan menikah dengan warga negara Eropa), untuk apply visa dibutuhkan waktu minimal 3 minggu karena sebelum proses pembuatan visa dijalankan, harus menunggu laporan dari Kairo dulu apakah yang bersangkutan berhak untuk memperoleh visa masuk Mesir. Waduh. Minimal 3 minggu itu artinya bisa lebih dari 3 minggu kan, padahal liburan kami tanggal dimulai tanggal 26 Desember. Sayapun mulai menelpon beberapa agen visa  dan semua jawabnya sama, minimal 3 Minggu dan mereka tidak bisa membantu untuk mempercepatnya. Bahkan satu agen yang saya kirimin email membalas dengan peringatan supaya saya tidak booking liburan dulu karena bisa saja visa saya ditolak dan prosesnya bisa makan waktu 6-8 minggu. Sayapun mulai panik, maklum liburan yang sudah dibayar, kalau dibatalkan lumayan juga uang yang hilang.

visa dienst
Jawaban dari salah satu agen visa

Suami mencoba membantu dengan menelpun langsung ke konsulat di Frankfurt dan ternyata selain rude, orang yang ditelepon tidak tahu apa-apa tentang visa untuk untuk WNI. Echt. Ya sudahlah dari pada ribet tralala dengan info yang tidak jelas (sebenarnya sih infonya jelas, tapi sayanya ngeyel), saya memutuskan untuk pergi ke konsulatnya langsung. Kamis malam telpun mertua, minta tolong apakah beliau bisa datang untuk menemani Flipper. Alhamdulillah meskipun dadakan beliau bisa datang juga padahal rumah beliau juga lumayan jauh dari kami, 250km. Seandainya mertua tidak bisa datang, bisa mabuk saya, nyetir 400 km (pp), dengan toddler yang bosan duduk terus di mobil. Belum lagi ketika di konsulatnya dia ‘main drama’. Suami tidak bisa mengantar karena dia harus kerja dan libur dia juga sudah dipas untuk Desember nanti.

Akhirnya setelah 2,5 jam nyetir, sampailah saya di konsulat Mesir di Frankfurt. Bapak yang mengurus visa saya alhamdulillah tidak seperti yang di bagian telepon, sangat ramah dan baik hati tapi beliaupun bilang bahwa visa untuk WNI membutuhkan waktu minimal 3 Minggu dan itupun tidak ada jaminan bahwa saya bisa mendapat visa. Sayapun mulai panik beneran )saya memang panikan orangnya :D) dan berusaha ‘merayu’ si Bapak. Saya tunjuk-tunjuk tanggal di bukti booking liburan yang memang harus disertakan dalam proses pembuatan visa. Saya bilang juga bahwa  suami dan anak saya yang warga negara Jerman akan sedih kalau mamanya nggak ikut liburan. Bahwa saya musti 2 jam nyetir ke Frankfurt plus 2 jam balik ke tempat saya. Bahwa anak saya yang masih kecil pasti rewel karena ditinggal mamanya ke Frankfurt. Ah si bapak malah bertanya kenapa anaknya nggak dibawa saja ke Frankfurt?

Akhirnya beliau menyuruh saya menunggu sebentar. Waktu itu sudah jam 12 siang lebih, jam istirahat di konsulat. Azan berbunyi di radio mereka dan saya satu-satunya yang menunggu di sana. Beberapa orang yang tadinya juga melakukan proses konsuler sudah pergi. Beberapa karyawan konsulat mulai wedangan, snacking dan ngobrol-ngobrol, ada juga yang siap-siap pergi shollat tapi si bapak itu masih ngurusi berkas-berkas saya. Dia lalu bilang ke saya bahwa dia akan menelpon bosnya, menanyakan apa saya bisa mendapatkan visa. Sayapun ikut mendengarkan obrolan mereka di telepon tapi tentu saja tidak ada kata-kata yang bisa saya mengerti kecuali kata ‘Indonesia’ dan ‘Srilanka’ (jangan tanya kenapa). Dan setelah telepon ditutup, si bapakpun berkata bahwa visa saya selesai hari itu juga. Yay! rasanya mau melonjak kegirangan. Si Bapak lalu menganjurkan sebaiknya saya pulang karena proses pengambilan visa adalah sore hari antara jam 15 sampai jam 16 dan anak saya menunggu di rumah. Dia akan mengirimkan visa saya hari itu juga, sore hari. Ah baiknya si bapak. Sayapun pulang setelah menghabiskan 40 menit di konsulat Mesir. Dan tepat keesokan harinya, Sabtu pagi, sayapun sudah menerima paspor saya yang sudah ditempeli visa Mesir lewat DHL Express. Yay!

visa-mesir
Visa ke Mesir

Begitulah proses gampang-gampang susah apply visa ke Mesir. Dapat angka berapa kira-kira? 2 atau 3? 😀 Intinya, belum tentu yang diurus oleh agen itu lebih praktis meskipun kita bayar extra untuk jasa mereka. Urus sendiri dengan bekal pede dan senyumpun kadang bisa membantu.

Ada nggak punya pengalaman lain mengurus visa ke Mesir?