Kebiasaan Orang Jerman – Part 1

Hai hai…ternyata lumayan lama juga ya saya nggak nulis-nulis di sini. Lagi sibuk ini ituu… Sok sibuk tepatnya hihi… Kali ini tepat banget waktunya, pas males nulis (tapi pengen exist) eh nemu tulisan ini di draft, tentang kebiasaan-kebiasaan kecil orang-orang di Jerman. Yawis diselesaikan aja dulu yang bagian pertama ini.

Kebiasaan-kebiasaan ini meskipun sebenarnya nggak terlalu penting untuk dicermati tapi menarik buat saya karena berbeda aja dengan kebiasaan-kebiasaan yang ada di Indonesia. Dan seperti biasa, kebiasaan-kebiasaan ini nggak mutlak berlaku buat semua orang Jerman ya… Tapi ya kebanyakan begitulah ๐Ÿ˜€

Ngebel pintu rumah orang cukup satu kali saja.

Yup. Ngebel sekali lalu ditunggu ada yang bukain nggak. Kalau nggak ada ya sudah kita pergi lagi. Kecuali kalau memang sudah janjian sebelumnya, biasanya kita ngebel lagi atau nilpun, bilang kalau kita sudah di depan pintu. Kalau ada bunyi bel pintu berkali-kali biasanya bisa ditebak, itu adalah anak-anak yang mainan bel pintu orang.

Dapur berada di ruangan depan.

Jadi biasanya interior rumah atau flat orang Jerman itu -tidak seperti rumah-rumah di Indonesia yang begitu masuk dari pintu depan langsung ruang tamu atau ruang keluarga dengan sofa, meja,rak TV, dan sebagainya- begitu kita masuk dari pintu depan akan terdapat semacam lorong yang dinamakan Flรผr (EN: floor) yang menyambungkan ke ruang-ruang lainnya. Mengapa di Jerman kebanyakan rumahnya ada lorongnya karena faktor cuaca, supaya kalau pas pintu depan dibuka, udara dingin tidak langsung masuk ke main room (ruang tamu/ keluarga) dimana kebanyakan anggota keluarga menghabiskan waktunya di situ. Lalu di lorong tersebut, selain rak sepatu juga terdapat lemari atau sekedar gantungan untuk menaruh barang-barang yang dikenakan dari luar seperti tas, syal, jaket. Setelah semua dilepas di lorong, baru deh nyantai masuk main room-nya.

Nah begitu masuk lorong ini, biasanya ruangan yang paling dekat diakses, alias ruangan yang paling depan adalah dapur. Kalau ini saya nggak tahu sebabnya, mengapa demikian. kalau di Indonesia kan dapurnya di belakang bahkan kalau rumah model lama malah di belakang banget, diumpetin. Di sini justru di ruangan paling depan dan banyak juga yang dapurnya jadi satu dengan main room, open kitchen gitu. Buat saya sih nggak cocok karena saya nggak suka kalau main room jadi bau bawang atau terasi ketika masak.

37519474520_82e652d446_o
Ini dapur di rumah. Begitu masuk rumah, dapur ini ada di sebelah kanan. Di sebelah kirinya toilet tamu. Dapur saya aslinya ada pintunya tapi kami copot, diganti dengan pembatas ruangan yang bisa digeser-geser itu.

Kalau traffic light di depan sedang hijau, orang-orang bukannya ngebut ngejar hijaunya tapi malah pelan-pelan.

Mengapa? Karena kalau ngebut trus lampunya merah lagi kita nggak bakalan bisa mengontrol kecepatan, bisa-bisa nggak sempat ngerem dan akibatnya malah menerobos lampu merah. Jadi mending pelan-pelan menunggu sampai lampu merah lalu hijau lagi dan berjalan lagi dengan nyaman. Lampu merah di sini tidak pernah lama kok jadi nggak ada yang keberatan berhenti di lampu merah demi keamanan. Saya nggak tahu berapa denda melanggar lampu merah di Jerman tapi orang-orang di sini sangat disiplin dengan lampu merah. Di tengah malampun di mana nggak ada kendaraan di ketiga sisi persimpangan, kalau lampu merah ya kita berhenti menunggu sampai hijau. Dulu sih pertama-tama tinggal di Jerman saya merasa dungu juga berhenti sendiri di lampu merah padahal dari jauh juga kelihatan kalau nggak ada kendaraan di sisi lain ๐Ÿ˜€

Hampir semua mobil berkaca bening maka jangan kaget kalau melihat ada orang ngobrol antar mobil ketika berhenti di lampu merah.

Suatu hari di musim panas, saya nyetir mobil dengan rambut tertutup hoodie. Tiba-tiba di lampu merah mas-mas di mobil sebelah buka jendela lebar-lebar dan bertanya ngapain pake hoodie di cuaca seindah ini… Yaolo mas-nya care banget, pikir saya. Saya jawab aja kalau lagi having bad hair day. Masnya ngakak trus iseng aja nanyain apa kabar, mau kemana…sampai lampunya hijauย  lagi dan kita saling dadah-dadah karena saya harus nyetir terus ke depan, dan dianya belok kanan. Apa kita sudah saling kenal? No.

Kalau ada yang ngasih jalan, yg dikasih melambai tanda terima kasih.

Kebanyakan pengendara mobil di Jerman itu sopan-sopan. Mereka suka memberi kesempatan kepada pengendara lain untuk jalan duluan jadi macet di belokan karena rebutan jalan itu hampir nggak ada. Kalau lawan pengendara ngedim ke kita, berarti kita disuruh jalan duluan. Sebagai balasannya kita akan melambaikan tangan tanda terima kasih. Apa aturan tersebut diajarkan di tempat kursus nyetir? Di tempat saya kursus dulu sih gurunya ngasih tahu sekilas tapi nggak ada aturan tertulisnya.

Apapun cuacanya, ngajak anak main di luar.

Yup, apapun cuacanya. Kecuali kalau ada angin puting beliung aja kali. Yang harus disesuaikan cuman bajunya saja. Kalau pas hujan ya pakai raincoat. Kalau pas salju tebal ya pakai baju khusis salju. Minimal 1x sehari para orang tua pasti mengajak anaknya main di luar.ย  Kalau saya sih termasuk golongan yang sangat melihat-lihat cuaca dulu sebelum keluar hihi…

Makan makanan hangat cukup sekali dalam sehari.

Makanan hangat atau yang biasa disebut Warmes Essen yang dimaksud adalah makanan yang ‘dimasak’, misalnya nasi, sup, kentang, daging-dagingan. Kebanyakan orang Jerman makan makanan hangat hanya saat lunch ATAU dinner saja, selebihnya ya makan makanan dingin. Makanan dingin ynag dimaksud misalnya roti dengan sosis dan selada atau selai-selaian, pokoknya yang tinggal comot dan nggak harus nyalain kompor. Praktis memang mereka tapi kalau soal urusan perut saya lebih suka repot dikit. Kami makan hangat dua kali sehari, lunch DAN dinner. Paginya makan roti-rotian atau oatmeal. Kalau kamu sarapannya gimana?

Kalau pas kerja, saya lunch-nya random. Kadang bawa makanan hangat dari rumah yang bisa dipanasin di microwave, kadang bawa overnight oatmeal doang dan side dishnya apa aja yang bisaย  diambil di dapur kantor misalnya kripik pisang dan waffle instant.
999A0389-1eS
Homemade artisan bread buat sarapan.

Itu dulu tentang kebiasaan-kebiasaan kecil orang Jerman. Selebihnya ditulis nanti ya, biar next time ada bahan tulisan lagi ๐Ÿ™‚

To be continued…

 

Advertisements

Wish-List

Jam 3 kemarin sore ada yang ngebel pintu rumah yang ternyata adalah salah satu mami yang anaknya diundang ke ultah Flipper Sabtu besok. Dia hanya mau bertanya si Flipper minta dikado apa. Aih baik banget, bela-belain datang padahal tilpun atau tulis di Whatsapp  saja juga bisa. Saya sebenarnya sungkan kalau mau jawab pertanyaan seperti ini, terutama dengan orang yang tidak terlalu saya kenal (ini kali  pertama saya bertemu muka dengan si mami). Kalau dengan para orang tua di play-group sih kami sudah lama kenal dan sudah biasa sharing birthday wish-lists -yang tidak hanya berlaku buat anaknya tapi juga bila mamanya yang ulang tahun ๐Ÿ˜. 

Meskipun sebenarnya si Flipper punya banyak wishes, saya jawab saja bahwa kado itu nggak penting, yang penting anaknya  datang. Eh si mami ngeyel, nanya lagi, mau kado apa? Akhirnya dengan malu-malu kucing saya jawab buku karena Flipper suka baca. Lah si mami ini ngeyelnya masih berlanjut, mau buku tentang apa? Saya sih punya wish-list panjang yang isinya buku anak-anak dengan judul-judul tertentu, tapi masa iya saya terus ambil iPad dan liatin ke mami itu daftar bukunya? (Btw kita ngobrolnya hanya di depan pintu). Akhirnya saya bilang saja, buku apa saja asal bukan cerita Disney apalagi putri-putrian ๐Ÿ˜… . Si mami pun setuju dan pamit. 

Si Flipper di hari ulang tahunnya tanggal 20 Juni kemarin. Perayaannya baru Sabtu besok karena kalau Ramadhan emaknya nggak sanggup repot ๐Ÿ™‚

Dulu seingat saya waktu masih tinggal di Indonesia kalau sedang merayakan ulang tahun nggak ada deh yang nanya mau dikado apa. Prinsipnya dulu, kado itu adalah pemberian, jadi ya ikhlas sajalah menerimanya. Lah di sini, saya sering banget dapat kado berikut struk pembayarannya. Maksud si pemberi baik sih, kalau saya tidak suka, boleh ditukar sendiri  ke tokonya. Sharing birthday wish-list sebenarnya juga praktis, yang punya hajat menulis barang-barang yang dia inginkan tanpa paksaan bahwa si tamu harus benar-benar beli barang-barang tersebut. Si tamu juga tak perlu mikir lama tentang kesukaan si pemilik hajat, tinggal melihat wish-list-nya dan membelinya. Atau kalau pas nggak cocok dengan kantong ya beli yang serupa dengan yang di wish-list. Yang punya hajat dan tamunyapun sama-sama senang.

Model wish-list ini sebelumnya saya tahu  hanya ketika natalan. Itupun sejak tinggal di Jerman 9 tahun yang lalu. Di sini bahkan anak-anak yang belum bisa menulispun membuat wish-list dengan cara menggambarnya atau memotong gambar-gambar di majalah yang lalu dilem di selembar kertas. Orang tua memutuskan barang apa yang akan dibeli di wish-list tersebut. 

Sayapun sejak beberapa tahun lalu kalau natalan  juga ikut-ikutan membuat wish-list dan meminta suami supaya membuat wish-list juga supaya saya tidak pusing mikir mau ngasih kado apa ke si dia tapi rupanya si D ini tipe orang yang konvensional, wish-list menurut dia adalah tabu yang mengurangi joy ketika membuka kado karena tidak surprise lagi. Jadi dia tidak membuat wish-list dan wish-list saya juga tidak dibaca. Meh๐Ÿ˜„.

Kalau kamu suka dikado yang model gimana? Ngasih wish-list atau lebih suka yang surprise? Kalau surprise yang pake struk harga atau yang polosan? 

Design Letters

IMG_0247-1squareS

Hampir setiap kali saya posting makanan di Instagram memakai piringnya Design Letters, selalu ada saja yang yang bertanya belinya di mana. Seperti halnya kursi makan Eames yang sedang trend, alat makan ini sepertinya ingin melengkapi ketrendian dan kemodernan si Eames di ruang makan.

Design dari produk ini sebenarnya sederhana sekali, melamin warna putih yang bentuknya standard dengan huruf-huruf A sampai Z yang typography-nya diciptakan oleh arsitektur Denmark Arne Jacobsen di tahun 1937. Karena sering melihat foto piring, sendok ini bertebaran di Instagram, alhasil sayapun termehek-mehek kepingin punya dan menemukannya di beberapa toko kebutuhan anak-anak yang menyandang istilah keren; concept store. Produk dari merek Design Letters ini sebenarnya lumayan banyak, tidak hanya piring, gelas melamin tapi juga kalendar, serbet, alat tulis, dll. Dan semuanya keren! Kalau nurutin nafsu, mau saja borong semuanya dari A sampai Z tapi karena harus nurutin kantong, jadi ya yang perlu saja dulu yang dibeli ๐Ÿ˜€

Warning nih soal concept store, hati-hati kalau membuka websitenya atau katalognya. Siap-siap kepingin semuanya karena barang-barang yang dijual memang keren-keren. Rata-rata bergaya Scandinavian; modern minimalis dan tidak kitschy seperti produknya Ikea.

Set alat makan Design Letters bisa dibeli terpisah, hanya cutlery-nya saja yang satu set; berisi dua sendok, garpu dan pisau. Sementara ini saya baru punya dua piring , satu gelas dan satu set cutlery. Selanjutnya nanti pengen punya mangkuk musli dan nampannya. Jadi yang mau ngado, silahkan yaa… #endingnyanggakenak ๐Ÿ˜„