Wish-List

Jam 3 kemarin sore ada yang ngebel pintu rumah yang ternyata adalah salah satu mami yang anaknya diundang ke ultah Flipper Sabtu besok. Dia hanya mau bertanya si Flipper minta dikado apa. Aih baik banget, bela-belain datang padahal tilpun atau tulis di Whatsapp  saja juga bisa. Saya sebenarnya sungkan kalau mau jawab pertanyaan seperti ini, terutama dengan orang yang tidak terlalu saya kenal (ini kali  pertama saya bertemu muka dengan si mami). Kalau dengan para orang tua di play-group sih kami sudah lama kenal dan sudah biasa sharing birthday wish-lists -yang tidak hanya berlaku buat anaknya tapi juga bila mamanya yang ulang tahun 😁. 

Meskipun sebenarnya si Flipper punya banyak wishes, saya jawab saja bahwa kado itu nggak penting, yang penting anaknya  datang. Eh si mami ngeyel, nanya lagi, mau kado apa? Akhirnya dengan malu-malu kucing saya jawab buku karena Flipper suka baca. Lah si mami ini ngeyelnya masih berlanjut, mau buku tentang apa? Saya sih punya wish-list panjang yang isinya buku anak-anak dengan judul-judul tertentu, tapi masa iya saya terus ambil iPad dan liatin ke mami itu daftar bukunya? (Btw kita ngobrolnya hanya di depan pintu). Akhirnya saya bilang saja, buku apa saja asal bukan cerita Disney apalagi putri-putrian πŸ˜… . Si mami pun setuju dan pamit. 

Si Flipper di hari ulang tahunnya tanggal 20 Juni kemarin. Perayaannya baru Sabtu besok karena kalau Ramadhan emaknya nggak sanggup repot πŸ™‚

Dulu seingat saya waktu masih tinggal di Indonesia kalau sedang merayakan ulang tahun nggak ada deh yang nanya mau dikado apa. Prinsipnya dulu, kado itu adalah pemberian, jadi ya ikhlas sajalah menerimanya. Lah di sini, saya sering banget dapat kado berikut struk pembayarannya. Maksud si pemberi baik sih, kalau saya tidak suka, boleh ditukar sendiri  ke tokonya. Sharing birthday wish-list sebenarnya juga praktis, yang punya hajat menulis barang-barang yang dia inginkan tanpa paksaan bahwa si tamu harus benar-benar beli barang-barang tersebut. Si tamu juga tak perlu mikir lama tentang kesukaan si pemilik hajat, tinggal melihat wish-list-nya dan membelinya. Atau kalau pas nggak cocok dengan kantong ya beli yang serupa dengan yang di wish-list. Yang punya hajat dan tamunyapun sama-sama senang.

Model wish-list ini sebelumnya saya tahu  hanya ketika natalan. Itupun sejak tinggal di Jerman 9 tahun yang lalu. Di sini bahkan anak-anak yang belum bisa menulispun membuat wish-list dengan cara menggambarnya atau memotong gambar-gambar di majalah yang lalu dilem di selembar kertas. Orang tua memutuskan barang apa yang akan dibeli di wish-list tersebut. 

Sayapun sejak beberapa tahun lalu kalau natalan  juga ikut-ikutan membuat wish-list dan meminta suami supaya membuat wish-list juga supaya saya tidak pusing mikir mau ngasih kado apa ke si dia tapi rupanya si D ini tipe orang yang konvensional, wish-list menurut dia adalah tabu yang mengurangi joy ketika membuka kado karena tidak surprise lagi. Jadi dia tidak membuat wish-list dan wish-list saya juga tidak dibaca. MehπŸ˜„.

Kalau kamu suka dikado yang model gimana? Ngasih wish-list atau lebih suka yang surprise? Kalau surprise yang pake struk harga atau yang polosan? 

Advertisements

Design Letters

IMG_0247-1squareS

Hampir setiap kali saya posting makanan di Instagram memakai piringnya Design Letters, selalu ada saja yang yang bertanya belinya di mana. Seperti halnya kursi makan Eames yang sedang trend, alat makan ini sepertinya ingin melengkapi ketrendian dan kemodernan si Eames di ruang makan.

Design dari produk ini sebenarnya sederhana sekali, melamin warna putih yang bentuknya standard dengan huruf-huruf A sampai Z yang typography-nya diciptakan oleh arsitektur Denmark Arne Jacobsen di tahun 1937. Karena sering melihat foto piring, sendok ini bertebaran di Instagram, alhasil sayapun termehek-mehek kepingin punya dan menemukannya di beberapa toko kebutuhan anak-anak yang menyandang istilah keren; concept store. Produk dari merek Design Letters ini sebenarnya lumayan banyak, tidak hanya piring, gelas melamin tapi juga kalendar, serbet, alat tulis, dll. Dan semuanya keren! Kalau nurutin nafsu, mau saja borong semuanya dari A sampai Z tapi karena harus nurutin kantong, jadi ya yang perlu saja dulu yang dibeli πŸ˜€

Warning nih soal concept store, hati-hati kalau membuka websitenya atau katalognya. Siap-siap kepingin semuanya karena barang-barang yang dijual memang keren-keren. Rata-rata bergaya Scandinavian; modern minimalis dan tidak kitschy seperti produknya Ikea.

Set alat makan Design Letters bisa dibeli terpisah, hanya cutlery-nya saja yang satu set; berisi dua sendok, garpu dan pisau. Sementara ini saya baru punya dua piring , satu gelas dan satu set cutlery. Selanjutnya nanti pengen punya mangkuk musli dan nampannya. Jadi yang mau ngado, silahkan yaa… #endingnyanggakenak πŸ˜„