Tentang Mimpi Yang Berakhir Di Borobudur

IMG_6905-1eS

90% mimpi-mimpi saya berlokasi di rumah lama keluarga di Pacitan. Doesn’t matter siapa saja yang berada di mimpi saya dan cerita di mimpinya apa, lokasinya ya di situ itu. Dari lahir sampai tahun 1994 saya memang tinggal di Pacitan. Dulu orang tua saya memiliki rumah besar berkamar enam yang sudah lama dijual secara kami tidak balik ke Pacitan lagi. Kemungkinan sih rumah tersebut oleh pemiliknya sekarang sudah direnovasi tapi karena sering melihat rumah itu di mimpi-mimpi saya, saya masih ingat semua detail di rumah itu. Saya sih lahirnya di rumah yang lain, tapi tinggal di rumah itu memang dari kecil banget, dimana orang tua saya membangunnya sedikit-demi sedikit dari keringat mereka. Saya bahkan masih ingat bagaimana bentuk awal rumah kami. Dapurnya berdinding bambu dan belum ada pintu permanennya. Di dalam mimpi saya, penampilan rumahnya sudah seperti yang terakhir kami tinggalkan di tahun 1994.

Kata beberapa teman sih saya harus mengunjungi rumah itu lagi karena sepertinya saya masih penasaran dengan rumah itu sehingga selalu muncul di mimpi. Hmm…penasaran apa ya? Saya sih memiliki masa kecil yang indah di situ tapi sepertinya tidak ada hal-hal tertentu yang saya ingin tahu di sana. Saya sendiri sudah beberapa kali main ke Pacitan setelah pindah. Terakhir tahun 2011 tapi terus terang belum pernah masuk ke rumah itu lagi. Cuman lewat doang di depannya.

Nah itu mimpi saya. Sekarang mimpinya Flipper.

Beberapa waktu yang lalu Flipper pernah tiba-tiba terbangun dari tidurnya menjerit ketakutan, sampai saya yang  waktu itu ketiduran di sampingnya ikut ketakutan (saya sih aslinya memang penakut hihi…). Saya nggak bertanya ada apaan malam itu, pokoknya langsung berpelukan lagi berusaha tidur lagi. Keesokan harinya barulah kita membahas hal tersebut dan Flipper bilang dia melihat ada schwarze Kopf (kepala hitam) di kamar. Buset, saya langsung merinding dong. Pada umur-umur segitu kan katanya anak-anak memang bisa melihat hal-hal yang orang dewasa nggak bisa lihat… hiiy! Sejak saat itu Flipper jadi susah diajak tidur, takut ada si kepala hitam itu, trus kalau pas kelonan dia juga nggak mau kalau saya membelakangi dia karena yg kelihatan jadi kepala/ rambut saya saja, yang hitam bikin dia ingat yang tidak-tidak. Kalau sama papanya sih nggak ngaruh karena papanya nggak punya rambut 😀

Flipper lumayan lama sih mengalami trauma tentang si kepala hitam itu. Setiap dia memasuki ruangan yang baru atau ruangan di rumah, matanya selalu scanning dulu ke seluruh penjuru ruangan, was-was apakah ada kepala hitam di pojokan. Sampai pada suatu hari ketika kita lagi nonton TV (entah tentang apa, saya lupa) dan ada figure patung Buddha yang terbuat dari batu hitam, sambil melonjak kaget, Flipper menuding ke layar TV, “Schwarze Kopf!” teriaknya. kamipun ikut kaget dan langsung menginterogasi si Flipper, emang si kepala hitamnya seperti itu bentuknya? Flipper mengiyakan. Saya pun langsung mengambil buku tentang Buddha dan buka-buka internet untuk memastikan ke Flipper apakah beneran itu yang dilihat. Flipper yakin seyakin-yakinnya. Terus terang saya lega mendengarnya, kalau memang itu yang dilihat berarti si kepala hitam itu baik hati dan tidak sombong dan dia (baca: saya juga) tidak perlu takut lagi. Lalu suami dan saya pun mulai ‘mengenalkan’ si Budda ini ke Flipper dan akhirnya memang membuat Flipper tidak takut lagi dengan si kepala hitam. Yang terjadi justru seblaiknya, dia ngefans berat sama si Buddha. Tiap melihat Buddha di display toko atau di majalah, dia heboh teriak-teriak, “Schwarze Kopf! Schwarze Kopf!”

Lalu sayapun berjanji kalau suatu hari kita akan pergi ke ‘rumahnya’ Buddha, di Borobudur Indonesia. Melihat foto Borobudur di Internet dengan sekian banyak patung Buddhanya membuat Flipper sungguh antusias dan ketika akhirnya bulan Juni kemarin kita beneran bisa mengunjungi Borobudur, wow! saya masih ingat betapa berbinarnya  wajah Flipper ❤

IMG_6880-1eS.jpgIMG_6848-1eS.jpg

Saat itu empat hari sesudah lebaran, pengunjung di Borobudur sangatlah banyak namun Flipper tak patah semangat memanjat sendirian hingga puncak di arus pengunjung yang padat merayap. Di sepanjang putaran Borobudur Flipper katawa-ketawa sendiri saking senangnya. Dia juga tidak keberatan difotoin terus sama mama (biasanya dia kalau sudah 2-3x jepret nggak semangat lagi kalau difoto). Sayangnya padatnya pengunjung pada hari itu membuat pemotretan jadi agak susah.

IMG_6805-1eSIMG_6815-1eSIMG_6821-1eSIMG_6823-1eSIMG_6824-1eSIMG_6835-1eSIMG_6847-1eS

IMG_6858-1eS
Berusaha menjamah Buddha di dalam stupa tapi tidak berhasil. Ya sudah ngemil saja 😀

Entah sampai kapan Flipper akan stay dengan Buddha euphoria -nya ini. Semoga di lain waktu dia masih semangat untuk mendaki Borobudur, menikmati salah satu harta berharga Indonesia tanpa harus umpel-umpelan dengan orang lain. Atau mungkin suatu hari lagi dia bakalan mengalami mimpi yang lain lagi, yangg tak kalah menarik sehingga kami bisa mengunjungi tempat yang lain lagi? Yang mamanya juga belum pernah melihat? *ngarep.

Bagaimana dengan kamu? Apakah mimpimu spesial? Mungkin mimpimu selalu hitam-putih? Atau selalu ada mimpi yang sama yang datang secara berkala?

Advertisements

Keep Calm, 40 is Fabulous

Three days ago someone rang the bell and it was my lovely neighbor with a bunch of flower in her hand. She said, “I know you are in grieve today but I hope this flowers will cheer you up a little bit…” Err… what?

Three days ago was my birthday and yes, I turned 40. Obviously she thinks it’s awful to be 40 or to be older and she’s not the only one who think like that. I remember a year ago as hubby turned 40, he didn’t want to be at home that day, not even in Germany. He wanted to be away, not to celebrate it but simply to forget it. The good thing was, he took us for road trip for that purpose😂

And I was like: Geez… What’s wrong  with 40? I remember one of my younger friend, she also complained a lot as she turned 30. I guess the problem is not the number but being older and unfortunately we get older  each year even each day, each hour…minute…so it’s useless to complained. The choice is only to keep continue older or you die!

A nice flower shop owner close to our house gratulated me as well that day. She said I look much younger as 40 year old (that’s one of advantages being Asian, I guess…) and she suggested me to stay like who I am now, be authentic and not to dress like an old women. Well, I am who I am. For sure I won’t dress like a 15 years old girl and try not to dress like 70 y/o grandma (no offence, I know some grandmas who are damn stylish too) but hey! Again I am who I am, I am authentic…if in any chance I look like an indeed 16 or 71 y/o woman…well, that’s me 🙂

By the way, I’m also not that kind of woman who hide their age from others, from friends or even strangers. Most German women here think asking someone’s age and saying own age to others are big no no. No, for me it’s absolutely fine. I know everybody have their own personal boundary, some don’t even want to tell their own friends about their marital status and we simply have to respect it.

Anyway, on my birthday I had a great day with family. Hubby took a day off  and we started the day with a huge brunch in our favorite restaurant and then a a short trip to the city nearby, continue with a nice dinner. I’m blessed that until this age I’m still very healthy and happy, no reason to be ungrateful.

IMG_0199.jpg
When you are 40 and have a small child/ children, it’s unlikely you’ll have a photo of yourself alone 😀

 

Potret Diri

Duluuu pas baru buka bisnis foto studio di sini, saya sempat menyebar brosur di kampung saya yang isinya portfolio singkat karya-karya portrait saya. Tak diduga tak dinyana, banyak orang yang komentar: loh kok ini bukan kamu yang di foto? Loh ini emangnya kamu? Kok blonde?

Err…maaf pak, bu, saya kan fotografernya… ini model-model saya yang di foto 😅

Lalu hari gini, Di saat Gorilaz dan Cro (penyanyi Jerman) masih tetep suka menyembunyikan muka asli mereka, seorang customer yang puas dengan hasil karya saya merekomendasikan saya ke beberapa temannya. Salah satu temannya itu langsung tilpun saya siang tadi dan bertanya ini itu. Sayapun memberi alamat website saya ke dia, biar dia bisa ceki-ceki sendiri. Beberapa saat kemudian datang sms darinya: Foto dirimu kok nggak ada ya? Saya pengen lihat…

Eh😅

Di sini sepertinya memang sudah kebiasaan kalau pemilik bisnis selalu memuat potret diri mereka tak hanya di website namun juga di kartu nama bahkan iklan koran (sayang siang tadi adalah hari pengambilan sampah kertas jadi udah nggak ada koran di rumah, nggak bisa kasih contoh). Mulai dari tukang ledeng sampai pengacara. Seriously, kalau mesin cuci di rumah rusak atau perlu pengacara atau notaris untuk ngurus rumah, saya nggak peduli deh muka mereka kayak gimana 😅 Kalau kamu?

Note: Foto-foto di bawah ini bukan saya ya 😀

img_5470lr_eoks

img_5061lr_e

img_0077-1es
-beth-

Dementia test

Jadi ceritanya selama 6 bulan terakhir ini saya merasa sangat pelupa banget dengan hal-hal yang baru terjadi beberapa menit yang lalu. Kalau ditanya kejadian pas pertama masuk SD atau hal-hal yang jadul lainnya, saya malah masih ingat banget. Hal-hal yang saya lupa misalnya pas lagi mandi (udah telenji dan udah basah-basahan nih) tiba-tiba kepikiran, eh saya tadi udah sabunan apa belum sih? Atau pas udah niat ke kantor pos mau kirim-kirim postcards, pas nyampe kantor pos, postcards-nya nggak kebawa. Untuk mbakyurop yang kemarin ikut jalan-jalan bareng ke Berlin tahu banget deh keluhan saya ini hihi…

Selain pelupa saya juga merasa makin bodoh akan hal-hal sepele misalnya singkatan Hauptbahnhof (stasiun kereta api pusat) itu kan Hbf nah pas lagi chatting sama temen saya nulisnya Bhf, nah lho?  Atau yang harusnya she has saya tulis she have. Pas membacanya kembali saya sebel sendiri kok bisa salah begitu. Merasa terganggu dengan gangguan-gangguan kecil tapi sering tersebut, pas cek kesehatan rutin dua tahunan saya curhat sekalian dengan dokter keluarga kami.

Bu dokter bilang kasus lupa-lupaan seperti ini wajar terjadi terhadap orang tua (but mostly women) yang memiliki anak toddler. The main problem adalah lack of concentration yang nantinya akan hilang dengan sendirinya. Apalagi hasil test darah saya adalah perfect tapi melihat saya tidak terlalu convinced dengan kata-katanya, beliaupun lalu menawari saya untuk ikut dementia test. Sempet serem juga pas dengen dokternya mengucapkan kata dementia. Pikiran yang pertama terlintas adalah Julianne Moore di film ‘Still Alice’, meskipun di film itu kasusnya adalah alzheimers tapi tetep aja temanya sama; lupa.

Test yang berlangsung tadi pagi berlangsung tidak lama, sekitar 15 menit. Sayangnya lembaran test tidak boleh saya bawa pulang jadi saya ceritakan saja di sini. Saya masih ingatlah metode testnya meskipun tidak detil setiap soalnya hihi…

Yang pertama bu dokter mengucapkan 15 kata benda berturut-turut, pelan dan jelas. Saya disuruh mengulangi semua kata itu. Pengulangan pertama lancar. Eh disuruh pengulangi lagi, agak lambat tapi berhasil juga saya ingat semuanya.

Yang kedua ada 4 nominal yang dua berbentuk angka dan yang dua lagi berbentuk tulisan. Saya lupa angkanya berapa saja tapi saya tulis begini saja supaya yang baca paham maksud saya:

a. 123 : Saya disuruh menulis : seratus duapuluh tiga (dalam bahasa jerman tentunya)

b. Sama dengan di atas hanya beda angka

c. Tujuhribu empatpuluh lima: Saya disuruh menulis 7045

d. Sama dengan di atas hanya beda angka.

Yang ini saya lolos tanpa halangan.

Yang ketiga bu dokter bertanya barang apa saja yang bisa saya beli di supermarket. Saya diberi waktu  hanya 2 menit (eh apa 1 menit ya tadi? Tuh kan lupaaa :/) untuk mengucapkan nama barang-barang ini. Di sini entah kenapa saya tak bisa secara spontan cepat menjawab bla bla bla…Saya malah mikir beneran, ntar ke supermarket mau belanja apa (kan Jumat emang jatahnya ke spm). Jadinya dengan waktu yang terbatas itu saya hanya bisa menjawab 15 barang. Kata bu dokter sih itu nggak maksimal tapi termasuk bagus.

Yang keempat bu dokter mengucapkan angka-angka dari 2 digit sampai 6 digit dimana setiap dia selesai mengucapkan satu set angka, saya harus mengulanginya TAPI dari belakang. 123 dibaca kebalik 321, begitulah. Dua sampai empat digit lancar jendral. Lima digit mulai lambat. Enam digit hanya bisa mengulang 2-3 angka terakhir. Duh.

Yang kelima, tiba-tiba saya disuruh mengulang lagi 15 kata benda pada soal yang pertama. Di sini saya hanya bisa mengingat 11 kata. Duh lagi

Setelah soal kelima, bu dokterpun menghitung skor saya dan alhamdulillah dari skor final  saya bisa disimpulkan bahwa saya baik-baik saya. Ada tiga tingkat  dalam penghitungan skor ini, tingkat terendah berarti si pasien mengalami dementia. Tingkat tengah berarti pasien kemungkinan mengalami gangguan sementara karena sedang sakit atau mengalami kecelakaan dan tingkat tertinggi adalah tingkat baik-baik saja alias normal. Nah saya masuk tingkat yang tertinggi nih! Horee! Mekipun sebenarnya saya pribadi tidak puas dengan hasil test ringan ini karena tidak berhasil mengingat semuanya namun bu dokter tetap menyakinkan bahwa semuanya fine. Alhamdulillah…Saya hanya disuruh untuk mengurangi begadang , terus rutin berolah raga dan belajar lebih berkonsentrasi. Menurut saya sih musti disuruh piknik juga nih sayanya hihi…

Ada yang suka mengalami lupa-lupa nggak penting seperti saya nggak? Atau bahkan ikut test dementia juga? Barusan saya browsing-browsing ternyata test ini bisa juga dijalani online dan metodenya berbeda-beda. Ntar maunyoba yang metode lain ah.

IMG_2277-1eS.jpg