Good to be back here again, Mallorca – Part 1

Setelah delapan tahun, akhirnya awal Mei kemarin kita mengunjungi Mallorca lagi. Kalau dulu bareng temen-temen dan yang masuk agenda liburan di antaranya adalah party, kali ini, karena bareng Flipper, agenda party digantikan dengan mengunjungi taman bermain.

Mallorca adalah salah satu pulau di kepulauan Balearic, Spanyol. Buat orang Indonesia, pulau Ibiza yang berada di sebelahnya Mallorca mungkin lebih akrab di telinga (hint: Venga Boys “We’re Going to Ibiza”). Pada kunjungan kali ini, kita kembali mengadakan road trip mengelilingi pulau, karena hanya diam di satu kota di Mallorca adalah rugi besar. Sekedar gambaran, pulau Mallorca tidak semungil pulau Umang tapi juga tidak sebesar pulau Bali. Menurut MapFight, Pulau Bali lebih besar 1,59 kali pulau Mallorca. Karena kami sudah menjelajahi Mallorca bagian barat dan utara delapan tahun yang lalu, kali giliran bagian utara, timur dan selatan yang kami kunjungi.

Penerbangan dari Cologne ke ibu kotanya Mallorca, Palma De Mallorca Airport hanya 2 jam saja. Begitu mendarat, kami dijemput minibus yang membawa kami ke stasiun penyewaan mobil yang sudah kami booking sebelumnya. Setelah mendapat mobil, kamipun menuju kota pertama tujuan kami, Magaluf.

MAGALUF

Di Magaluf kami menginap di hotel yang punya amusent park yang kami pikir pasti menyenangkan buat Flipper, which was right. Tapi buat D dan saya… alamaak, kalau nggak sayang anak, meskipun sudah bayar kami rela lho pindah hotel karena berisik sekalii… Berisik dengan suara anak–anak sih sudah kami pertimbangkan tentunya, namun ini yang dewasapun tak kalah berisik.

Hotel yang kami pilih kali ini rupanya penuh dengan turis dari Inggris dan inilah yang membuat berbeda. Selama ini kalau berlibur biasanya kami selalu berada di daerah yang mayoritas turisnya orang warga negara campur-campur atau mayoritas turis Jerman. Kami tidak sengaja mencari yang seperti itu sih tapi dapatnya kebanyakan begitu, makanya saya sempat mikir orang Jerman tuh buset deh, ada di mana-mana. Kecuali di Magaluf di hotel kita tempati selama 4 malam. Dan tidak bermaksud untuk rasis, bedanya demikian:

  1. Di hotel, main language yang digunakan adalah Inggris dan Spanish yang bagi kami sebenarnya tidak bermasalah tapi buat Flipper agak susah karena crews di acara Mini Disco dan Kids Club-nya nggak ada yang bisa berbahasa Jerman sedangkan bahasa Inggrisnya Flipper standard saja, what’s your name, how wold are you, how are you, I am hungry, do you like banana, one two, three…  Selebihnya dia gak mudeng haha…
  2. Para orang tua dari negaranya pangeran Harry ini, terutama ibu-ibunya gemar sekali meneriaki anak-anaknya. Nggak semua pastinya tapi mayoritas. Ngomong baik-baik dan marah nggak ada bedanya, yang pasti ngomongnya kenceng. Mungkin mereka menganggap pendengaran anak-anak nggak setajam telinga mereka, Entahlah. Etapi di antara dewasapun ngomongnya juga kenceng. Mereka juga tidak mempertimbangkan tempat dan waktu dimana harus ngomong kenceng, di koridor kamar hotel jam 12 malem pun jadi. Atau di sebelah orang yang clearly sedang tidur di lounger di kolam renang sampai orangnya mencolot. Saya yang melihatnya antara prihatin dan pengen ketawa.
  3. Dibandingkan dengan orang Jerman yang kebanyakan langsing, ibu-ibu Inggris banyak yang overweight. Perlu perjuangan buat saya mencari sosok wanita Inggris yang normal, yang semok atau yang gemuk biasa. Postur para pria dan anak-anak serta remajanya sih biasa-biasa aja tapi yang ibu-ibunya, let say, yang di atas umur 20 tahun, kebanyakan size XXL.
  4. Mereka sangat memanjakan anak-anaknya dalam soal makanan. Saatnya makan (kami ambil paket half -board; breakfast dan dinner) di mana aneka sweets dan kue-kue disajikan sebagai makanan penutup, ibu-ibu ini memberikan sepiring Haribo atau setumpuk tart beraneka rasa ke anak-anaknya as main course. Saat makan churros  pun, instead of menggunakan wadah kecil-kecil yang sudah disediakan untuk celupan coklatnya, mereka  mengisi cangkir coffee latte yang tinggi itu dengan coklat, OMG. Dalam satu sisi saya maklum sih, si anak-anak pasti merengek pingin makan sweets dan si ortu pengen menikmati makannyanya tanpa rengekan ini itu, tapi sepiring penuh permen? Flipper juga merengek minta permen dan tentu saja saya kasih juga tapi syaratnya musti makan dulu. Setelah makan dia boleh milih 2 macam dessert aja and it worked well  meskipun kadang-kadang dia kelamaan mempertimbangkan dessert mana yang mau dia ambil hihi… Pernah nih, waktu saya ambil mini donat 1 biji buat Flipper, ada seorang ibu yang bilang ramah ke saya, “Eh kamu boleh ambil banyak lho, jangan malu-malu… “Atau mungkin prinsip mereka, mumpung all you can eat jadi ngambilnya banyak-banyak gitu kali ya?
  5. Kalau di Jerman area, kebanyakan anak-anak pake baju merek H&M, di sini banyak ynag pake baju merek Inggris punya, Next. Bajunya Flipper jadi banyak yang nyamain. Yang ini point nggak penting deh 😀

 

1
Hotel kami di Magaluf. Untung tempat tidurnya nggak kebalik pulak 😀

Selama di Magaluf, tak banyak yang kami kunjungi karena kebanyakan Flipper dan papanya menghabiskan waktu di waterpark nya hotel atau di pantai. Saya mah kebanyakan jalan- jalan, (window) shopping karena lokasi hotel memang strategis, dekat pantai, dekat tempat party, dekat tempat makan dan pertokoan. Aldi dan fitness studiopun ada di sudut pengkolan. Setelah Flipper dan papanya main air, biasanya kami menghabiskan waktu bermain di amusement park nya hotel, dimana ada rumah kaca, mini golf, arena bermain dan berkarya, rumah kebalik, etc.

Pantai yang dekat dengan hotel namanya Playa Es Carregador dan  menurut saya tidak terlalu indah. Standard long, boring beach seperti Playa Palma de Mallorca. Tapi kami sempat menjelajahi pantai yang indah, di desa Portal Vells, yang hanya berjarak 9 km dari hotel. Nama pantainya Cala de Portals Vells. Mengapa cala dan bukan playa? Karena pantainya kecil, kalau playa panjang. Dan kami, seperti anak kecil dapat permen, kegirangan, mendapati pantai yang indah. Sementara Flipper dan papanya langsung ganti kostum berenang, sayapun (yang memang agak anti dengan air laut hihi…) mulai mengeksplorasi daerah sekitar dengan kamera. Setelah main air, Flipper dan D sempat tidur siang di pantai dan begitu mereka fit kembali, mereka ikut menemani saya melanjutkan eksplorasi di tebing-tebing sekitar.

Berikut ini foto-foto di Potals Vells:

23

2764s2752s

2749s
Flipper bisa menghabiskan waktu lama nih, lempar-lempar batu ke air.
2753s
Anak-anak di ujung kanan itu sedang meloncat ke air bergantian. Seru!

2757s

CALA D’OR

Setelah empat malam tinggal di Magaluf, pada hari kelima kami pindah ke kota Cala d’Or yang jaraknya 85 km dari Magaluf. Nama kota ini menggunakan kata cala mungkin karena di situ banyak pantai-pantai kecil. Ini perkiraan saya saja ya, tidak dari sumber yang bisa dipercaya. Kali ini, di Cala d’Or, kami menyewa apartment. D dan saya happy, akhirnya bisa menghabiskan waktu di tempat yang spacious dan tidak berisik seperti di hotel sebelumnya. Flipper sempat kecewa karena tidak ada fasilitas untuk anak-anak di hotel-apartment ini selain kolam renang anak. Jangankan amusement park, mini disco aja tidak ada tapi kemudian dia  tidak peduli lagi dengan itu karena setiap hari, setelah pergi ke pantai, sorenya  dia bisa main jumpalitan di arena bermain yang letaknya persis di belakang apartemen.

4
Huge bouncy castle di belakang apartemen kami. Itu mulut gajahnya bisa membuka-menutup.
999A0221EEs
Trampolin 3€ 10 menit.
999A0218EEs
Komplek apartemen kami.

Tempat-tempat yang kami kunjungi selama menginap di kota Cala d’Or lumayan banyak. Saya tulis yang saya ingat ya…

Pantai Cala Gran dan Cala Esmerelda

Kedua pantai ini bisa ditempuh 5 menit jalan kaki dari apartemen. Di Cala Gran, Flipper kenalan dengan anak sebaya dan selalu janjian ketemuan di sana untuk main bola dan main air bersama. Di Cala Gran juga saya sempet bertemu (tapi tidak kenalan) dengan dua pasangan muda dari Indonesia yang saya bisa kenali dari logat Suroboyoan-nya. Mbaknya-mbaknya sibuk selfie di sana-sini sedangkan mas-masnya cuman ngikutin doang sambil mencangklong tas Chanel-nya pasangan mereka. Kadang kedua cewek itu minta tolong si mas untuk motoin dan dua cowok ini harus bertikai duluan karena sama-sama nggak mau motoin. Komentarnya si D ke saya: glad you are not that worse! Hihi… Di bawah ini adalah foto-foto di Cala Gran:

5999A0095EEs999A0100EEs

Es Pontas

Es Pontas adalah highlight kami selama di Cala d’Or. Es Pontas  merupakan tebing batu besar melengkung yang terletak di kota Santanyi, di antara teluk Santanyi dan teluk Llombards. Tebing batu ini merupakan salah satu objek panjat tebing tersulit di dunia. Tak banyak yang bisa memanjat Es Pontas. So far hanya dua orang yang berhasil memanjat Es Pontas dari bagian lengkung dalamnya yaitu Chris Sharma (American) dan Jernej Kruder (Slovenian). Coba check video dimana Chris Sharma memanjat Es Pontas berikut ini, pasti ikut deg-degan deh lihatnya: See why Chris Sharma is one of the world’s best climbers as he searches for the hardest and most beautiful route in the world.

Saat menyusuri tepian berbatu di area Es Pontas, seorang polisi ganteng menyampiri kami, bertanya apakah kami melihat orang yang terluka kakinya dan mengalami kesulitan berjalan. Kami tidak melihatnya dan mas polisi itu mulai terlihat panik. Di belakang tampak beberapa polisi yang lain dan dari kejauhan kami mulai melihat beberapa safe guards dengan peralatannya lari kesana-kemari. Rupanya polisi menerima report bahwa seseorang terluka di sana dan tidak bisa berjalan dengan normal, posisi orang itu di pinggir tebing jadi karena orang itu tidak bisa dikontak lagi, dikuatirkan orang tersebut kecebur ke laut.

Lokasi area Es Pontas memang memungkinkan untuk tercebur bila orang tidak berhati-hati. Yang dipagari hanya spot-spot tertentu saja. Saya sendiri melihat dua sejoli dengan selfie stick mereka, yang melanggar warning sign untuk tidak terlalu dekat ke pinggir tebing karena dikuatirkan batunya longsor. Well, the power of social media.

2738s
Polisi yang panik mencari the missing man.
2739s
Area Es Pontas.
2732s
Tebing batu melengkung itu…

999A0159-1EEs

Karena di Es Pontas tidak ada pantainya dan akses ke air cukup jauh, sehingga tidak memungkinkan untuk lempar-lempar batu, Flipper nggak mau berlama-lama di sana. Kamipun kemudian melanjutkan perjalanan ke pantai terdekat, Playa S’Amarador.

Playa S’Amarador

Untuk menuju ke pantai ini kami harus naik mobil melalui jalan sempit yang kalau papasan dengan mobil lain, kedua mobil musti saling maju mundur dulu. Di pantai S’Amarador, tanpa diduga ternyata kami harus bayar parkir. Selama ini kami belum pernah bayar parkir lho. Parkir di pantai sini bayarnya 5€, waktunya bebas. Di dalam parkiran ternyata ada sign yang menyatakan bahwa uang parkir 5€ tersebut digunakan untuk menyantuni yayasan orang cacat.

Pantai S’Amarador menurut saya juga biasa saja. Pokoknya kalau namanya playa (dan bukan cala) itu bagi saya boring. Nggak ada tebing dan pohon-pohonnya. Yah, kan seperti yang sudah saya tulis di atas, saya bukan fans untuk berjemur atau main air laut. Saya lebih suka meneduh di bawah pohon atau muter-muterin daerah sekitar pantai. Jadi selama Flipper dan D mainan air, saya kemulan di pasir sambil baca buku saja. Selama liburan 15 hari ini saya berhasil menghabiskan 3 novel hihi…

Eh ternyata nih, pas kita mau pulang, baru sadar bahwa sebelum memasuki arena pantai, ada kawasan hutan cagar alam. Kamipun masuk situ dan tentunya asyik sekali meneduh sesudah kepanasan di pantai.

6
Di cagar alam dekat pantai S’Amarador.

Santuari De Sant Salvador

Santuari De Sant Salvador adalah sebuah monastery yang dibangun pada tahun 1348 dan berada di 509 meter di atas ketinggian laut. Untuk pergi kesini jalannya lumayan naik dan berliku-liku seperti jepit rambut. Selain sempit, berliku-liku dan naik turun, kami harus berbagi jalan dengan para biker, baik yang solo maupun yang rombongan panjang. Salut deh buat para biker ini, perjuangan banget pasti naik ke Sant Salvador.

Begitu sampai ke atas, kitapun dijamu dengan pemandangan indah kota Felanitx. Nggak rugi deh sport jantung naik ke sini. Oh iya, di puncak sini ada restorannya jadi nggak perlu panik kalau bekalnya habis. Area piknik juga disediakan di beberapa sudut.

2693s2691s2696s2699s

2690s
Flipper nemu kucing di puncak Sant Salvador.

7

8
Awan cantik bergelantungan, nggak tahan kalau nggak foto 😀

Okay deh segini dulu ya ceritanya, kalau kepanjangan nanti bosan. Laporan tempat-tempat cantik lainnya saya tulis di bagian dua nanti deh.

Happy weekend!

-beth-

Advertisements

Random Sunday- Ketika di Indonesia

Iyah, nggak terlalu random, ini cerita-cerita pendek  pas kita liburan 6 Minggu di Indonesia kemarin.

beach

Selama di Jogja, saya banyak wira-wiri dengan Grab dan Gojek, dimana saya nggak perlu lagi takut dikerjain argo sopir taxi dan nggak perlu ngrepotin mama untuk nganter kesana-sini (secara udah nggak berani nyetir si sini). So far saya selalu punya pengalaman bagus dengan sopir-sopir Grab dan Gojek, yang ada malah sering nggak enak hati sekaligus terharu karena banyak mas-mas yang mengucapkan terima kasihnya sampai terbungkuk-bungkuk bila dikasih tips apa adanya seolah saya ngasihnya 1 juta. Bahkan anak saya pernah sempat muntah di dalam mobil Grab tapi sopirnya nggak mau dikasih tips, saya bantu bersihin jok mobilpun, dia juga nggak mau.

Lalu pernah ada kejadian saya mendapat message seperti ini di henpun lokal saya. Critanya saya udah order Grab tp nggak jadi karena ternyata urusan nyokap di bengkel udah beres jadi bisa langsung pulang dengan mobil nyokap. Mau cancel ordernya Grab sebenarnya bisa tp saya pikir ah sudahlah, kasihan sopirnya udah jalan (di GPSnya juga kelihatan kalau sopirnya tadi extra muter arah untuk jemput saya), yawis titipkan saja biaya jasanya ke seorang bapak di bengkel. Saya nggak menyangka juga kalau bakalan dapat message dari pak sopir. Terima kasih doanya ya Pak, semoga Bapak juga selalu mendapat berkah dan lancar rejekinya ?￰Saya pasti akan kangen dengan keramahan dan ketulusan Jogja ini

grab

Masih tentang jasa transportasi. Kali ini ojek. Sebenarnya sih saya nggak asing dengan naik ojek. Di Jakarta dulu demi menghindari macet, ojek adalah langganan saya. Tapi naik ojek di Jogja memang baru kali ini dan sesuai dg semboyan kotanya, memang istimewa. Baik ojek online maupun ojek offline, sopirnya seneng banget ngajak penumpangnya ngobrol, dari sekedar apa kabar sampai curhat soal lebaran. Masalahnya nih, kita kan naik motor ya…bukan mobil. Susah lho ngobrol dg orang yg boncengin kita di tengah hiruk-pikuk jalanan apalagi pake helm cakil. Lebih serem lagi kalau sopirnya suka tolah-toleh ke kita, nggak lihat jalan saking semangatnya ngobrol. Mau dicuekin kok nggak enak juga.

Pas di Jogja pas suami sempat sempet beberapa kali fitness di Celebrity Fitness dan pada suatu hari pulang dari fitness dia curhat; pas ikutan body combat, di studionya semua pesertanya pada sibuk main henpun sampai instruktur bilang ‘yak mulai!’ Di cross trainer-pun banyak dijumpai mbak-mbak yang berjam-jam main di cross trainer, jalan super pelan-pelan sambil main henpun. Di atas treadmill pun juga demikian. Hebat ya, katanya. Multi tasking 😀

Tahun ini adalah Idul Fitri pak suami yang pertama di Indonesia. Bagaimana kesan dia? Ada beberapa komentar lucu, di antaranya; Pas hari H-Lebaran, abis shollat Ied, halal bihalal di masjid lalu acara makan opor dan ngobrol-ngobrol, kita semua somehow capek dan pada ketiduran. Pak suami bingung dan setelah pada bangun dia komentar: aku pikir Idul Fitri itu bakalan seharian pesta pake acara tari-tarian segala eh ternyata ada acara tidur siangnya. Enak juga ya…katanya. Yang kedua, pas main ke mall, kami bertemu teman lama saya sedang jalan bareng sekeluarga. Mereka pake baju batik kembaran dalam rangka lebaran. Komentar pak suami lugu: mereka peserta apa ya? Kok bajunya seragam?

Selama di Jogja nggak bisa shopping-shopping cantik atau bahkan window shopping sekalipun karena syusah shopping bawa balita (note: hubby hanya 3 minggu pertama di Indonesia). Sering sih main ke mall tapi di mall yang dituju kids entertainment doang karena memang public playground hampir nggak ada di sini. Di saat-saat seperti bisa bisa mendadak kangen rumah dimana kita bisa anteng shopping online sebanyak-banyaknya trus kalau nggak cocok ya bisa dibalikin sebanyak-banyaknya pula.

It’s not easy to go on holiday alone with what so-called strong-willed child. Go beauty shopping like dress, shoes or even souvenirs is impossible because at the end we will spend the entire time in a game station in the mall. Enjoying yummi food in restaurants is just an alien concept because what I have to do is to eat as fast as I can without finishing it before that child jump off her chair and go run somewhere to do whatever she wants to do. A thought to have beautiful mother-daughter moment; strolling along the seashore will stay as a thought because the fact was, I had to catch her here and there, yelled stops thousand times before she throw herself in the deep sea. At least we managed to enjoy one single beautiful sunset in Double-Six Beach without tantrum. And in this pic, I tried to tell her that iPad time is over, because I had finished my lunch already (yes, mama wanted at least once to enjoy her meal). You see her face. You know what happened next.

mecucu

Tentang Mimpi Yang Berakhir Di Borobudur

IMG_6905-1eS

90% mimpi-mimpi saya berlokasi di rumah lama keluarga di Pacitan. Doesn’t matter siapa saja yang berada di mimpi saya dan cerita di mimpinya apa, lokasinya ya di situ itu. Dari lahir sampai tahun 1994 saya memang tinggal di Pacitan. Dulu orang tua saya memiliki rumah besar berkamar enam yang sudah lama dijual secara kami tidak balik ke Pacitan lagi. Kemungkinan sih rumah tersebut oleh pemiliknya sekarang sudah direnovasi tapi karena sering melihat rumah itu di mimpi-mimpi saya, saya masih ingat semua detail di rumah itu. Saya sih lahirnya di rumah yang lain, tapi tinggal di rumah itu memang dari kecil banget, dimana orang tua saya membangunnya sedikit-demi sedikit dari keringat mereka. Saya bahkan masih ingat bagaimana bentuk awal rumah kami. Dapurnya berdinding bambu dan belum ada pintu permanennya. Di dalam mimpi saya, penampilan rumahnya sudah seperti yang terakhir kami tinggalkan di tahun 1994.

Kata beberapa teman sih saya harus mengunjungi rumah itu lagi karena sepertinya saya masih penasaran dengan rumah itu sehingga selalu muncul di mimpi. Hmm…penasaran apa ya? Saya sih memiliki masa kecil yang indah di situ tapi sepertinya tidak ada hal-hal tertentu yang saya ingin tahu di sana. Saya sendiri sudah beberapa kali main ke Pacitan setelah pindah. Terakhir tahun 2011 tapi terus terang belum pernah masuk ke rumah itu lagi. Cuman lewat doang di depannya.

Nah itu mimpi saya. Sekarang mimpinya Flipper.

Beberapa waktu yang lalu Flipper pernah tiba-tiba terbangun dari tidurnya menjerit ketakutan, sampai saya yang  waktu itu ketiduran di sampingnya ikut ketakutan (saya sih aslinya memang penakut hihi…). Saya nggak bertanya ada apaan malam itu, pokoknya langsung berpelukan lagi berusaha tidur lagi. Keesokan harinya barulah kita membahas hal tersebut dan Flipper bilang dia melihat ada schwarze Kopf (kepala hitam) di kamar. Buset, saya langsung merinding dong. Pada umur-umur segitu kan katanya anak-anak memang bisa melihat hal-hal yang orang dewasa nggak bisa lihat… hiiy! Sejak saat itu Flipper jadi susah diajak tidur, takut ada si kepala hitam itu, trus kalau pas kelonan dia juga nggak mau kalau saya membelakangi dia karena yg kelihatan jadi kepala/ rambut saya saja, yang hitam bikin dia ingat yang tidak-tidak. Kalau sama papanya sih nggak ngaruh karena papanya nggak punya rambut 😀

Flipper lumayan lama sih mengalami trauma tentang si kepala hitam itu. Setiap dia memasuki ruangan yang baru atau ruangan di rumah, matanya selalu scanning dulu ke seluruh penjuru ruangan, was-was apakah ada kepala hitam di pojokan. Sampai pada suatu hari ketika kita lagi nonton TV (entah tentang apa, saya lupa) dan ada figure patung Buddha yang terbuat dari batu hitam, sambil melonjak kaget, Flipper menuding ke layar TV, “Schwarze Kopf!” teriaknya. kamipun ikut kaget dan langsung menginterogasi si Flipper, emang si kepala hitamnya seperti itu bentuknya? Flipper mengiyakan. Saya pun langsung mengambil buku tentang Buddha dan buka-buka internet untuk memastikan ke Flipper apakah beneran itu yang dilihat. Flipper yakin seyakin-yakinnya. Terus terang saya lega mendengarnya, kalau memang itu yang dilihat berarti si kepala hitam itu baik hati dan tidak sombong dan dia (baca: saya juga) tidak perlu takut lagi. Lalu suami dan saya pun mulai ‘mengenalkan’ si Budda ini ke Flipper dan akhirnya memang membuat Flipper tidak takut lagi dengan si kepala hitam. Yang terjadi justru seblaiknya, dia ngefans berat sama si Buddha. Tiap melihat Buddha di display toko atau di majalah, dia heboh teriak-teriak, “Schwarze Kopf! Schwarze Kopf!”

Lalu sayapun berjanji kalau suatu hari kita akan pergi ke ‘rumahnya’ Buddha, di Borobudur Indonesia. Melihat foto Borobudur di Internet dengan sekian banyak patung Buddhanya membuat Flipper sungguh antusias dan ketika akhirnya bulan Juni kemarin kita beneran bisa mengunjungi Borobudur, wow! saya masih ingat betapa berbinarnya  wajah Flipper ❤

IMG_6880-1eS.jpgIMG_6848-1eS.jpg

Saat itu empat hari sesudah lebaran, pengunjung di Borobudur sangatlah banyak namun Flipper tak patah semangat memanjat sendirian hingga puncak di arus pengunjung yang padat merayap. Di sepanjang putaran Borobudur Flipper katawa-ketawa sendiri saking senangnya. Dia juga tidak keberatan difotoin terus sama mama (biasanya dia kalau sudah 2-3x jepret nggak semangat lagi kalau difoto). Sayangnya padatnya pengunjung pada hari itu membuat pemotretan jadi agak susah.

IMG_6805-1eSIMG_6815-1eSIMG_6821-1eSIMG_6823-1eSIMG_6824-1eSIMG_6835-1eSIMG_6847-1eS

IMG_6858-1eS
Berusaha menjamah Buddha di dalam stupa tapi tidak berhasil. Ya sudah ngemil saja 😀

Entah sampai kapan Flipper akan stay dengan Buddha euphoria -nya ini. Semoga di lain waktu dia masih semangat untuk mendaki Borobudur, menikmati salah satu harta berharga Indonesia tanpa harus umpel-umpelan dengan orang lain. Atau mungkin suatu hari lagi dia bakalan mengalami mimpi yang lain lagi, yangg tak kalah menarik sehingga kami bisa mengunjungi tempat yang lain lagi? Yang mamanya juga belum pernah melihat? *ngarep.

Bagaimana dengan kamu? Apakah mimpimu spesial? Mungkin mimpimu selalu hitam-putih? Atau selalu ada mimpi yang sama yang datang secara berkala?

Winter Wonderland in Willingen

Weekend kemarin kami berlibur ke kota Willingen, sebuah kota yang terkenal dengan winter activity-nya. Hubby dan saya sudah beberapa kali ke kota ini tapi untuk Flipper, ini adalah kunjungan yang pertama kali. Selama ini kami selalu datang ke Willingen di saat musim dingin, ketika kangen dengan salju. Maklum kota tempat tinggal kami termasuk kota paling hangat di Jerman sehingga di musim dingin, meskipun dingin njekut seperti saat ini, salju datangnya cuman sauprit. Selama musim dingin kali ini, salju baru turun sekali di tempat kami itupun tak terlalu tebal dan tak tahan lama, hanya sehari lalu semua hilang lagi menjadi becek.

Dari kota kami sebenarnya jarak ke kota Willingen bisa ditempuh hanya 2,5 jam saja tapi karena hari Jumat kemarin macet total hingga, jadinya molor menjadi 4,5 jam. Salju yang turun lebat plus banyaknya kendaraan yang menuju Willingen menjadi biang kerok kemacetan ini. Oh iya saat macet itu Flipper sempat tantrum minta jajan, sedangkan jajan yang sudah saya siapkan di box sudah habis dicamilin sama dia. Alhasil sayapun musti keluar dari mobil mengambil Oreo di bagasi belakang. Melihat saya menenteng kemasan besar Oreo, pemilik mobil di  belakang kami mainin lampu, ngasih kode minta Oreo juga, sayapun dengan senang hati bagi-bagi Oreo juga ke mereka. Jadi ingat penjaja tahu goreng dan Aqua di jalanan di tanah air sana deh haha!

Berikut ini foto selama di perjalanan yang saya ambil dengan iPhone 6 dan Samsung S7 Edge  #takenfromacar (klik tiap foto untuk penampilan lebih jelas)

Kota Willingen sendiri memang ramenya hanya pada musim dingin saja dimana banyak turis datang untuk main ski. Meskipun tidak seterkenal ski resort di Alpen sana, di Willingen setiap tahunnya diadakan pertandingan ski-jumping yang diadakan oleh International Ski Federation. Saya sih tidak bisa main ski dan somehow tidak tertarik untuk belajar (takut jatuh, ha!). Seringnya hanya naik skilift menuju cafe di puncak gunung yang isinya rame dengan pengunjung ski lalu turun lagi setelah kenyang. Masih ingat deh saya waktu pertama kali naik skilift yang model terbuka gitu,  jari-jari tangan saya sampe freezing nggak bisa dipake motret meskipun sudah mengenakan sarung tangan. Padahal perjalanan dari bawah ke atas gunung itu nggak terlalu lama, around 15 menit saja, haha. Saat itu, tahun 2006 memang untuk pertama kalinya saya berhadapan dengan salju dalam hidup saya.

Selain naik turun di pegunungan ski tanpa ikutan ski, hiking  juga menjadi kegiatan favorit saya. Holiday house milik mertua ini ada di pinggiran kota, dari sini ada 3 jalan menuju pusat kota; melalui jalan raya normal atau jalur hiking lewat pegunungan di belakang rumah. Jalur hikingnya sendiri ada dua rute yang bisa ditempuh para pejalan kaki yaitu yang 1,5 sampai pusat kota atau agak memutar 3 km sampai sana. Kemarin ini sayangnya jalur yang 3 km tertutup salju tebal dan karena medannya tidak memungkinkan, tidak bisa dibuka jalurnya oleh mobil pengeruk salju yang banyak mondar-mandi di kota ini. Padahal pemandangan dari jalur 3 km ini lebih asyik. Tapi ya sudahlah, mengingat salju setinggi 40 cm, tebing-tebing yang tak kelihatan serta adanya toddler yang super aktif…mending kita lewat jalur pendek saja pulang-pergi.

Berikut ini foto-foto selama hiking:

2423

2437

2427

2448

Di foto ini holiday house kami hanya terlihat atapnya saja, di sebelah kanan agak bawah.

2440

Kami selama dua kali hiking kemarin selalu berangkat ke pusat kota jam 10 pagi, sesudah sarapan. Dengan toddler perjalanan 1,5km bisa ditempuh 2-3 jaman pake acara bangun snow man, lempar-lemparan salju, sekedar guling-gulingan di salju dan main perosotan dengan slide-nya.

img_5396-1s

img_5404-1s

img_5446-1s

Suhu yang berada di pusaran -5 sampai 3 derajat celcius saat itu tidak terasa dingin bagi kami karena selain mengenakan baju yang sesuai, kami  juga aktif bergerak. Yang ada malah keringatan. Cuaca memang perfect saat itu, meskipun matahari jarang keluar namun tidak ada angin. Sesudah jalan sih biasanya saya jadi lapar berat :D.

Sampai di pusat kota Willingen, kami window shopping sebentar lalu mencari makan siang di restoran atau sekedar makan kue dan ngupi di kafe. Setelah itu melanjutkan perjalanan pulang melalui jalur yang sama. Di bawah ini suasana kota Willingen yang berpenduduk sekitar 6.000 orang. Oh iya, di sini, meskipun termasuk ‘desa’ ada supermarket yang buka di hari Minggu. Something uncommon in Germany.

2468

2469

1091

img_4898esimg_4899es

Setelah sampai di penginapan lagi, si Flipper tidak bisa bertahan lama main di dalam rumah. Setelah main sebentar dan snacking lagi, dia lalu usrek minta mainan salju lagi di luar. Kamipun keluar lagi. Pokoknya 3 hari kemarin benar-benar hanya kami gunakan untuk berkecimpung dengan salju.

img_5004es
Nggak sabar pengen keluar rumah.

img_4930es
Mendaki tumpukan salju di depan penginapan.

img_5479-1s
Main di lapangan sepak bola yang tidak kelihatan lapangannya.

Senin sore kita balik ke rumah lagi. Sampai di rumah, suhu ternyata lebih rendah dari dataran tinggi Willingen. Uadem pol dan tidak ada salju. Untungnya matahari selalu bersinar cerah di sini jadi sama-sama asyik lah. Di sini tidak banyak orang yang suka salju. Kalau anak-anak sih pasti suka tapi kalau para dewasa biasanya suka mengeluh karena jalanan jadi macet, public transport banyak yang mengalami kendala dan orang yang tinggal di rumah berhalaman dan bertrotoat musti rajin-rajin ngerok salju di depan rumah mereka karena kalau sampai ada orang yang jatuh terpeleset di situ (pak pos misalnya), maka yang bertanggung-jawab adalah yang tinggal di situ.

Kamu yang tinggal di negara empat musim, lebih suka winter yang bagaimana?

Foto-foto di Willingen ynag lain bisa dilihat di Flickr saya ya 🙂

-beth-

Liburan praktis di Center Parcs

Beberapa minggu yang lalu dari tanggal 28 Oktober sampai 1 November, kami berlibur ke negara sebelah dan cari yang praktis-praktis saja yaitu di Center Parcs . Sebenarnya kami sudah diajakin oleh teman kami Sabrina dari beberapa bulan sebelumnya namun kami baru bisa booking dadakan karena menunggu  cuti  saya untuk tanggal 31 Oct.-nya  (hari Senin) disetujui oleh pak bos. Suami juga harus cuti tentunya, tapi dia sudah dapat persetujuan jauh-jauh hari sebelumnya.

Liburan di Center Parcs saya bilang praktis karena memang semuanya ada di sana, banyak kegiatan yang bisa dilakukan oleh segala usia dari bayi hingga kakek nenek. Memang sih orientasi orang ketika mendengar kata liburan adalah pergi   ke tempat yang jauh, yang belum pernah dikunjungi sebelumnya, yang pemandangannya indah atau yang kulturnya berbeda dengan kultur di mana kita tinggal, yang ada pantainya… Namun liburan bagi kita juga berarti take a break dari rutinitas sehari-hari, menepi agak jauh dari tempat tinggal sehari-hari sehingga tidak perlu mikir beberes, bayar listrik, colokan rusak, panci kotor, dll… Dan untuk itu 4 hari, 3 malam away dari rumah untuk menginap ke Center Parc Het Meerdal, yang tepatnya berada di desa America, kota Limburg, negara Belanda yang hanya berjarak 1 jam dari rumah kami sudahlah cukup (selain di sini, Center Parcs juga ada di 35 tempat lainnya yang tersebar di Eropa).

IMG_3113eS.jpg
Welcome to America!

AKOMODASI

Sialnya, karena booking-nya dadakan kami mendapat harga yang jauh lebih mahal dari  harga yang didapat Sabrina family  yang sudah booking dari beberapa bulan sebelumnya. Kebetulan hari Selasa tanggal 1 November adalah tanggal merah di Belanda dan Jerman sehingga pada hari Senin kejepitnya banyak yang libur dan mengunjungi Center Parcs, hargapun melonjak. Untuk bungalow yang kami sewa (rumah seluas 57m2 berisi 2 kamar tidur, dapur, ruang tamu, ruang makan, kamar mandi dan teras belakang), kami mendapat harga sekitar €400,- untuk 3 malam. Sabrina yang menyewa bungalow yang sama untuk waktu yang sama persis mendapat harga €200,-. Lumayan ya bedanya?

Oh iya, bungalow yang mau disewa di sini banyak  pilihannya ya, tidak hanya berdasarkan berapa isi kamar tidurnya namun juga fasilitasnya, misalnya yang ada dishwasher-nya, yang ada outdoor grill-nya, yang lebih luas dan modern, TV flat screen atau cembung, dll. Rumah yang kami ambil itu termasuk standard, bukan yang termurah tapi juga bukan yang luxury.

Center Parcs Het Meerdal dibangun pada tahun 1971, tak heran bila bangunan bungalow-bungalownya sudah terlihat tua, at least dari luar dan ini yang menganggu saya karena di bagian luar bungalow seperti di jalan setapak batu-batuan yang menyambungkan rumah ke jalan dan teras belakang penuh lumut dan tampak kusam. Saya kan anti lumut, jadi melihatnya gimana gitu… Tapi mungkin juga karena itu bulan November ya, saat musim gugur yang lumayan sudah dingin dan lembab. Kalau musim panas mungkin lumut-lumutnya hilang. Kalau dari dalam sih nggak terasa tuanya, ruangannya disusun sedemikian rupa dengan perapian dan juga dinding kaca di satu sisi yang membuat ruangan kaya cahaya matahari. Sangat cozy.

Market utama Center Parcs adalah family, tak heran bila fasilitas untuk anak kecilpun lengkap-kap. Di bungalow kami tersedia high chair, baby bed bahkan colokan listriknya pun ada pengamannya. Fasilitas di luar bungalowpun tak kalah banyak. Laufrad (sepeda tanpa pedal), sepeda anak atau kursi bayi buat sepedapun bisa disewa. Jalanan di dalam Center Parcs car free. Kita boleh membawa mobil masuk hanya untuk dropping barang-barang, setelahnya harus parkir di tempat yang ditentukan (yang lumayan jauh :D). Asyiknya di sini lingkungannya sangat hijau, sejauh mata memandang adalah pohon oak dan pinus yang menjulang tinggi dan juga banyak rusa berkeliaran dengan bebasnya. Jarak bungalow satu dengan yang lain tidak terlalu dekat sehingga privacy sangat terjaga.

img_3160es
Jalan aspal depan bungalow yang car free.
img_3196es
Bungalow yang kami tempati untuk 3 malam dengan deko Helloween dari Sabrina.
img_3226es
Pintu di sebelah mini kitchen itu adalah pintu ke kamar mandi.
img_3225es
Cozy room dengan perapian, TV dan dinding kaca. Pintu di sebelah kanan itu adalah pintu ke kamar anak.
img_3153es
Pemandangan dari dinding kaca dengan surprise guests di teras belakang.
 

KEGIATAN DI CENTER PARCS

Menurut saya liburan di Center Parcs enaknya pada saat cuaca sudah dingin, meskipun berlibur di musim panas juga pasti asyik tapi kan kalau summer enaknya main ke pantai atau di pegunungan tinggi (dan  pemandangan indah-indah seperti idealnya liburan yang saya tulis di atas tadi). Nah di saat mati gaya di musim dingin dan nggak niat untuk main seluncuran di salju, Center Parcs bisa menjadi alternatif. Di sini selain banyak outdoor activities seperti children safari, pony riding, cycling, walking, berenang di outdoor swimming pool atau di danau, tawaran kegiatan indoor-nya juga tak kalah menarik beberapa di antaranya Thermo indoor swimming pool, indoor water activities, bowling, mini golf, dll.

Sayangnya waktu itu kami tidak bisa berenang, karena Flipper mendadak pilek berat padahal saya bela-belain membeli bikini baru di sana karena lupa tidak membawa bikini dari rumah. Tapi tidak apa-apa, kami toh bisa jalan-jalan mengelilingi komplek Center Parcs semampunya. Ya semampunya saja karena komplek Center Parcs ini luas banget (yang sayang saya tidak bisa menemukan luas sebenarnya di website mereka), dan dengan Flipper pasti banyak acara berhentinya di sana-sini. Di resort ini taman bermain buat anak-anak hampir selalu ada di setiap sudut. Selain taman bermain, yang  tak bisa dilewatkan oleh Flipper adalah mini zoo yang isinya kambing, biri-biri, ayam, kelinci, hamster dan buruk merak. Di sini kami boleh masuk dan mengelus-elus binatangnya (kecuali si merak).

Tidak semua permainan di sini gratis tapi menurut saya harganya masih masuk akal. Misalnya di sini ada 2 trampolin outdoor dan 4 indoor, untuk main trampolin ini dikenakan biaya €1 untuk enam menit. Mahal memang. Tapi bayangkan, bila gratis, pasti Flipper nggak akan kebagian main trampolin karena berebutan dengan anak-anak yang sudah gede. Kami juga sempat menyewa perahu berpedal (apa sih itu namanya ya? Yang berbentuk bebek) untuk mengelilingi danau tapi saya takut sendiri karena Flipper pecicilan di atas perahu, jadinya nggak mau berlama-lama di atas air.

img_3112es
Flipper bermain di tepi danau.
img_3129es
Taip hari mengunjungi si kambing favoritnya di mini zoo.
img_4104aes
Keluar masuk tunnel mencari harta karun.
img_4150aes
Mengumpulkan jamur di hutan.

Di tengah-tengah Center Parcs terdapat Market Dome, di mana segala aktifitas indoor berada. Mulai dari pertokoan, resto, game house hingga thermal swimming pool. Selain harga makanan di restoran yang tergolong mahal, harga wifi di sini juga mahal, yaitu  €15/ day. Tapi siapa siiih yang butuh internet di saat liburan?  😉  Untungnya nih (orang Jawa pokoknya untung mulu), selama menginap kita mendapat akses internet gratis selama 30 menit tapi hanya berlaku bila kita berada di Market Dome. Selain itu, meskipun mahal, makanan di sana rasanya enak-enak. Kalau mau ngirit   bisa juga bawa bahan makanan dari rumah atau belanja di supermarket yang tersedia di sana trus masak sendiri. Oh iya di dalam supermarket situ banyak dijual makanan instant Indonesia lho, ada bapao, ayam kecap, nasi goreng, dll. Kita tinggal manasin aja di microwave yang tersedia di dapur rumah. Saya sih hanya mencoba bapao isi daging sapinya. Enyak. Sempet nyesel juga kenapa nggak beli banyak sekalian, buat simpenan di rumah.

img_3206es
View dari pancake restoran.
img_3208es
Salah satu sudut di Market Dome.
 

img_3200es
Fasilitas lapangan tenis.
img_3203es
Salah satu fasilitas bermain anak-anak indoor.
img_3221es
Kiri: Night club untuk segala umur. Kanan: indoor mini golf yang kalau kosong jadi arena panjat-panjatan.

Kegiatan kami selama empat hari relax sekali. Kalau di ‘liburan sesungguhnya’ biasanya kami mengatur jadwal untuk melihat daerah ini itu atau ikut kegiatan nyelam, tour, dll…di sini kami nggak punya target apa-apa, hanya relaxing, bermain, baca buku, jalan-jalan dan makan. Pada siang hari biasanya kami berpisah dengan Sabrina family. Sabrina, Peter suaminya dan anak kembar mereka Johan dan Johanna biasa menghabiskan siang di kolam renang. Pada malam harinya baru kita berkumpul bersama untuk makan malam di restoran tertentu.Oh iya untuk makan di estoran sebaiknya booking tempat dulu ya, atau makan di luar jam makan karena kalau pas dinner time mereka selalu penuh.

Pada hari Minggu malamnya, kami berkumpul bersama merayakan Helloween bareng-bareng. Saya sih bukan fans berat Helloween, apalagi hubby. Flipper dan anak-anaknya Sabrina yang berusia 5 tahun malah nggak paham apa itu Helloween tapi rupanya si emak Sabrina yang Helloween freak. Dia sudah well prepared dari rumah, membawa hiasan-hiasan gantung Hellowen untuk digantung di bungalow serta buku-buku ide sajian Hellowen, kita tinggal belanja bahannya dan baking ketika para suami membawa bocah main panjat-panjatan. Setelah dinner dengan Italian food delivery dari restoran , kitapun menikmati jajanan-jajanan serem Helloween. Ini bikinan saya yang laku keras hihi… Krius-krius rasanya.

img_3095s

Senin sore kami sudah berada di rumah lagi di Jerman. Kesimpulannya, kami semua feel relaxed, baterinya full lagi. Center Parcs cocok banget untuk short holiday bahkan untuk yang tight budget sekalipun. Triknya gampang, selalu pantau harga di website mereka. Kalau pas tidak ada tanggal merah harga di Center Parcs Het Merdaal harga dimulai dari €130/ 3 nights. Mau nginep less dari tiga malampun bisa, tergantung kebutuhan. Hitungan 3 nights itu standard mereka.

Dibandingkan dengan Tropical Island di Brandenburg Jerman, liburan di Center Parcs lebih kaya aktifitas dan lebih berasa alamnya, mungkin karena areanya yang jauh lebih luas. Perbandingannya mungkin, kalau Center Parcs adalah sebuah kelurahan, maka Tropical island hanyalah sebuah RT. Kalau di Tropical Island suhu di seluruh dome-nya adalah suhu summer, di Center Parcs-pun juga demikian, Market Domenya juga bersuhu summer, selebihnya suhu alam.

Buat yang punya anak-anak atau mau mangajak opa-oma, it’s really worth a visit. Apalagi Center Parcs lokasinya tersebar di mana-mana. Kalau tertarik, coba dilihat lokasi yang terdekat dengan kotamu.

IMG_4166aES.jpg
Fab autumn di hutannya Center Parcs.
IMG_3223eS.jpg
Yang nulis ikut nampang boleh yaa 😀

Berlin Trip bersama Mbak Yurop dan STING

Sekitar empat atau tiga bulan yang lalu saya mendapat email notification dari Eventim, sebuah portal yang menjual segala tiket hiburan di lebih dari 21 negara, bahwa penyanyi kesukaan saya STING akan mengadakan konser di Berlin pada tanggal 1 Agustus 2016. Sayapun langsung mengajak suami untuk pergi ke Berlin menemani saya nonton Sting. Ya ‘menemani’ saja karena dia memang bukan fansnya Sting. Namun rupanya dia sendiri sudah ada rencana untuk ke musik festival yang berlangsung 3 hari di luar kota, seminggu sesudah konsernya Sting. Untuk festival itu mah dia tidak perlu menawari saya mau ikut atau tidak karena selain  festival yang didatanginya selalu festival yang musiknya bukan selera saya, saya juga nggak sanggup lebih dari sehari nggak mandi dan trauma menggunakan toilet Dixie yang isinya sudah hampir penuh. Etapi kalau festivalnya Coachella, Tomorrowland atau Summer Jam saya mau kali ye ikutan… Balik ke soal konser Sting,  akhirnya diputuskan bahwa saya pergi sendiri ke Berlin sementara D ambil cuti untuk menemani Flipper. Seminggu kemudian gantian dia yang having his ‘me time’ di music festival.

Lalu saya pikir-pikir, pergi ke Berlin sendirian dan hang out sendirian di Berlin sih nggak masalah buat saya. Saya pernah tinggal di Berlin dan hapal liki-liku Berlin. Tapi nonton konser sendirian kok sepertinya nggak asyik ya… Maka sayapun mulai mengiming-imingi beberapa teman termasuk teman-teman di Mbakyurop* untuk ikutan nonton Sting. Alhamdulillah Anggi, Deny dan mba Dian tertarik untuk ikutan ke Berlin -meskipun sayangnya tidak tertarik untuk ikut nonton Sting. Ya sudahlah, yang penting ke Berlin dulu, soal Sting gampang, yang penting tiket sudah di tangan. Selain Anggi, Deny dan mba Dian,  Mia dan Mindy yang kebetulan juga sedang berlibur bersama keluarga ke Berlin juga menyempatkan bertemu kita-kita. Tadinya sih saya sudah siap-siap, kalau tidak ada temannya, hanya akan stay sehari di Berlin tapi karena kali ini rame-rame jadinya stay diperpanjang menjadi 3 malam 4 hari deh and it was a really great days in Berlin with the girls.

⊕ PENGINAPAN ⊕

Sebelum berangkat, kira-kira sebulan sebelum hari-H, kami mulai efektif rembukan tentang Berlin trip via WhatsApp.  Karena konser Sting jatuh pada hari Senin, 1 Agustus, kami sepakat untuk berada di Berlin dari tanggal 30 Juli (Jumat) sampai 2 Agustus (Selasa). Kami berempat, Anggi, Deny dan mba Dian menginap di sebuah apartment di daerah shopping terkenal di Berlin, yaitu Ku’damm. Apartment AMC yang kami sewa sangatlah nyaman meskipun berada di tengah kota namun di tepi jalanan yang sepi. Tidak ada fasilitas atau interior yang istimewa di sana namun semuanya bersih dan memenuhi standard. Lokasi apartment juga tidak jauh dari halte bus dan stasiun kereta. Dan yang paling penting, dekat dengan cafe bubble tea yang selalu uyel-uyelan pengunjungnya. Pokoknya strategis sekali deh.

Untuk urunan hotel kami hanya membayar €81, per person selama 3 malam itu. Murmer deh pokoknya. Itulah enaknya kalau trip rame-rame. Apartment kami terdiri dari dua double beds, satu set meja makan, kitchen set lengkap dengan peralatannya, lemari baju besar berikut setrikaan bahkan payungpun juga disediakan. Kamar mandinya  cukup besar meskipun tidak ada bath tub-nya. Cleaning service datang tiap hari kecuali hari Minggu namun dia hanya membersihkan, lantai, kamar mandi dan tempat tidur. Dapur dan meja makan tidak disentuh sama dia. Lumayan lah…biasanya  short term-apartment malah tidak menyediakan cleaning service sama sekali, hanya ngasih sapu dan vacuum cleaner saja.

IMG_0339.jpg
Kamar mandi dan lemari gedenya ada di sisi kiri, tidak kelihatan di foto.

Mia tidak ikut menginap, dia datang ke Berlin pada Minggu pagi dan balik lagi ke Hannover sore harinya. Mindy dan keluarga menginap di rumah temannya dan Mindy gabung dengan kita pada hari Seninnya, tlisipan deh dengan Mia.

Deny dan saya sampai di Berlin pada Sabtu sore jadi kami berdua sempat jalan-jalan duluan di sekitar hotel sambil melihat acara night run yang kebetulan diadakan di dekat hotel. Deny langsung gatal kakinya, ingin ikutan lari.

IMG_3537aeS.jpg
Selain lari-lari beneran, di NIght Run ini ada kompetisi inliner juga.

Malam hari sekitar jam 21 malam, datanglah Anggi yang kemudian disusul mbak Dian. Seneng deh akhirnya bisa ketemuan mereka berdua. Kalau Deny mah kami sudah beberapa kali bertemu. Kami tidur larut malam itu, biasalah ladies, ngobrol ngalor ngidul dulu 😀

Minggu pagi sekitar jam 8, datanglah Mia ke apartment kami. Saya dulu sempat ketemu Mia waktu meet-up di bakery dalam rangka Frankfurt Book Fair, tapi saat itu ketemunya hanya sak nyuk-an dan  tidak sempat ngobrol sama sekali. Eh kemarin ketemu Mia lagi, yay! Mia orangnya mungil, imut dan kalau bicara halus seperti Deny.

Acara kami hari itu adalah pergi ke Menara Teufelsberg. Jam 10 kami cabut dari apartment dan naik kereta dari stasiun Zoologischer Garten menuju stasiun Heerstr. Untungnya sebelum naik kereta kami sempat membeli bekal dulu (di apartment memang tidak ada service breakfast) karena di stasiun Heerstr. tidak ada kios sama sekali dan kami masih harus jalan kaki jauh menuju MenaraTeufelsberg.

⊕ MENARA TEUFELSBERG ⊕

Keluar dari stasiun Heerstr. kami melihat tanda menuju Teufelsberg masih sekitar 1100 m, melewati jalan aspal. Namun pada kenyataannya jaraknya lebih dari itu. Ketika sudah lewat dari 1km, mulai kebingungan, tidak melihat tanda-tanda lebih lanjut. Sempat bertanya kepada tiga orang; yang pertama tidak tahu sama sekali, yang kedua seorang ibu-ibu dan anak remajanya yang mau menuju ke menara juga namun tidak tahu juga di mana letak menara sebenarnya. Beliau malah mengajak kita potong kompas lewat hutan. Kami sempat tergoda karena sudah jalan jauh tetap tidak ada tanda-tanda, tapi kalau masuk hutan tersesat ya lebih gawat lagi. Barulah ketika bertanya pada bapak-bapak yang sedang jogging, kami mendapat pencerahan.

Untuk masuk komplek menara Teufelsberg kami dikenakan biaya €7/ person dan diskon kalau punya kartu pelajar seperti Mia. Mungkin terbiasa dengan kehidupan di Eropa yang semuanya serba rapi dan terawat, kami agak tak yakin melihat bangunan ticketing yang morat-marit serta  bapak-bapak pakai kaus oblong yang melayani penjualan tiket. Dalam hati saya sempat berpikir, ini  official apa preman? Eh tapi ini Berlin ding…dimana bangunan tua dan ruin memang banyak ‘berserakan’ di segala sudut Berlin, terutama di daerah bekas Jerman Timur dulu.

Setelah membayar tiket  tanpa mendapat lembaran tiket, kami harus menandatangani disclaimer yang isinya bila terjadi apa-apa dengan diri kita, pihak Teufelsberg tidak akan menanggung. Mengapa harus menandatangani pernyataan seperti itu, karena seperti halnya bangunan ticketing di depan, bangunan menara mata-mata Teufelsberg ini tidak lagi 100% utuh dan terdapat lokasi-lokasi yang berbahaya bila kita tidak hati-hati.

Jadi Menara Teufelsberg ini adalah sebuah menara untuk nguping atau mencuri dengar milik milik NSA (National Security Agency) Amerika, yang saat itu bekerja sama dengan Inggris Inggris, untuk mata-matai kegiatan Uni Soviet. Menara ini dibangun di atas bukit Teufelsberg (Bukit Setan), sebuah bukit buatan manusia setinggi 120 m di atas laut. Dinamakan bukit setan karena mengikuti nama danau di dekatnya, yaitu danau Teufelsee atau danau setan. Mengapa danau setan? Entahlah. Yang jelas bukit Teufelsberg ini dibuat untuk menutupi akademi teknik kemiliteran milik Nazi yang saking kuatnya tidak bisa dihancurkan saat perang dunia kedua berakhir. Jadi akademi tersebut ditimbun dengan puing-puing bekas perang bercampur tanah.

Menara Teufelsberg sebelumnya tidak terbuka untuk umum dan dijaga ketat oleh security namun seiring waktu menara ini mulai dibuka untuk umum. Setelah dulunya dibuka hanya pada hari Minggu dengan guided tour, kini dibuka setiap hari dengan atau tanpa guide. Dengan guide harga tiketnya  €15,00 dan guide-nya adalah orang Amerika mantan karyawan di menara NSA tersebut.

2327

2358

Begitu kami memasuki area abandonen building complex tersebut, kami semua langsung terpesona dengan segala puing-puing cantik di sana. Bagaimana tidak cantik, meskipun keadaannya sudah berantakan namun kehadiran para seniman yang ikut mengelola tempat ini menjadikan tempat ini benar-benar artsy. Di halaman komplek itu terdapat banyak properti cantik yang tidak pada tempatnya, misalnya mesin jahit antik di tengah taman. Atau bath tub dan sofa tua di semak-semak belukar yang langsung menjadi lokasi foto kami.

IMG_3629ae.jpg
Searah jarum jam: saya (baju hijau), Anggi, Mia, Mba Dian dan Deny.
IMG_0438ee.jpg
Mia bergaya di samping meja dan entah apa itu yang terbuat dari mesin jahit.
IMG_3600a.JPG
Properti rongsokan yang disusun sedemikian rupa sepertinya memang sengaja disediakan untuk penggemar foto seperti kami dan juga dua cowok ini yang akhirnya malah menjadi model dadakan kami.

Setelah puas menjelajahi halaman menara, kamipun memasuki gedung utama yang terdiri dari tiga lantai. Di atap gedung inilah terdapat menara dan kubah putih. Namun sebelum sampai ke atap, kami disuguhi mural-mural  yang luar biasa artistik di segala sudut ruangan. Gambar seorang perempuan yang memasukkan jari tengahnya ke mulut mencuri perhatian saya karena benar-benar seperti sebuah foto, di mana pandangan matanya selalu mengikuti ke mana saja saya pergi.  Tak heran bila si mbak itu paling banyak mencuri perhatian pengunjung. Seluruh ruangan dari lantai satu hingga lantai tiga penuh dengan mural. Tidak ada space yang kosong sama sekali.

2333s
Si mas ini sedang mengagumi gelang mbaknya yang berkilau-kilau seperti logam beneran.
2334s
Deny khusyu dengan kameranya.
IMG_3566ae
Angipun memanfaatkan sofa yang disiapkan di sana.
IMG_0580e
Mbak Dian semangat dari lantai ke lantai.
IMG_0493e
Maunya sih gajah ini saya bawa pulang untuk si Flipper 😀

Kami sempat bersyukur tidak mengambil guide untuk masuk sini karena bisa dipastikan guide-nya bakalan bosen nungguin kita foto-fotoan. Dan secara itu bukan private guide, pengunjung yang lainpun pasti akan sebel dengan kita. Saking lamanya menikmati mural-mural di sini, saya sampai kelaparan dan membuka bungkusan makan siang di sini. Bungkusan isi roti, bukan nasi.

Kemudian ketika akhirnya kita sampai di  di atap lantai 3, pemandangan yang kami dapati tak kalah breathtaking, menara 5 lantai dengan kubah putih di atasnya, dua kubah putih tanpa menara dan tentu saja pemandangan kota Berlin yang tampak hijau dari atas sana. Sayangnya tak seorangpun dari kami berlima mau naik ke menara. Kami semua mendadak takut ketinggian melihat keadaan menara yang tidak lengkap dan hanya dilindungi dengan kawat tebal di tepi-tepinya. Namun tanpa naik ke menarapun, suasana di atap sana sudah sangat menyenangkan. Perjalanan jauh kami tak sia-sia. Kalau saja saya masih lama di Berlin, pasti saya menghabiskan sehari penuh hanya berada di sana.

2343s
Berlin TV Tower pun terlihat dari sini.
2346s
Dua kubah tanpa menara.
2352s
Menara Teufelsberg.

 

byAnggiDSC01516e.jpg
Saya sedang beraksi di dalam kubah.
2357s
Model dadakan kita memanfaatkan bathtub yang dipajang di sana.

 

IMG_0586eeS.jpg
Pose lagi sebelum keluar dari Teufelsberg. Mbak Dian tidak kelihatan karena dia yang motret.

Ada yang seru ketika kami keluar dari Teufelsberg, mau balik ke kota. Serunya gimana, coba mampir ke blog Deny deh…Dia yang cerita 😀

Dari Teufelsberg, tujuan kami berikutnya adalah Restoran Nusantara di jalan Turmstr. untuk late lunch. Restoran dengan harga warung ini adalah langganan saya ketika tinggal di Berlin. Menu favorit saya di sana sebenarnya adalah lontong sayur tapi kali ini ingin makan yang lain, mi ayam bakso yang ternyata enak juga. Dessert yang saya pesan es teler durian dong… Mak nyus juga tapi tidak se-spektakuler es teler durian di Resto Si Des Den Haag. Anggi, Deny, mba Dian dan Mia puas semua dengan menu yang dipesan mereka. Alhamdulillah, saya yang ngajak-ngajakin mereka ke Berlin ikut senang bila para tamu senang. Hihi… Sok jadi host padahal tinggalnya sudah tidak di Berlin lagi.

Setelah puas recharge energi di Resto Indonesia, Mia kembali ke Hannover dan sisanya, kami berempat loncat ke kereta menuju stasiun Hackescher Markt untuk menghabiskan sore di daerah Museuminsel (Museum Island). Mengapa disebut Museuminsel, karena di daerah ini berkumpul beberapa museum penting di Berlin, yaitu: Altes Museum, Neues Museum, Alte Nationalgalerie, Bode Museum, dan Pergamon Museum. Selain museum-museum tersebut, kalau agak mlipir dikit terdapatlah Neue Synagoge dengan bangunan emasnya di jalan Oranienburgerstr, Humboldt-Box Museum serta  Berliner Dom atau Berlin Cathedral, sebuah gereja Evangelic yang dibangun pada tahun 1451. Di sini kami sempat leyeh-leyeh sebentar sebelum diguyur hujan.

selonjoran
Leyeh-leyeh di depan Berliner Dom.

 

⊕ HARI KEDUA ⊕

Hari berikutnya, jam 10 pagi Anggi, Deny dan mbak Dian ikutan program free walking tour yang meeting point-nya di Brandenburger Tor. Mindy saat itu sudah di Berlin jadi Mindy dan saya ketemu duluan di mall terbaru di Berlin yaitu Mal of Berlin. Jangan salah, kita nggak niat mau shopping di sini tapi mau moto-moto. Jadi ceritanya selama ini saya sering melihat foto sebuah mall Berlin yang keren spot-nya di Instagram dan saya suka banget melihatnya, sebuah bangunan mall modern dengan view bangunan tua Bundesrat. Dan akhirnya sayapun bisa kesana, memotretnya sendiri. Ini nih fotonya…

2366

Keren kan? Setelah jepret-jepret di situ, Mindy dan saya ngupi-ngupi bentar sambil jalan-jalan di daerah situ menghabiskan waktu karena pada jam makan siang kami akan bertemu dengan trio yang ikutan tour tadi di Warung Mabuhay.  Jangan salah, meskipun namanya Mabuhay ini bukan warung Filipina tapi warung Indonesia lho. Namanya begitu karena dulunya warung ini memang milik orang Filipina yang diambil alih orang Indonesia. Berbeda dengan Restoran Nusantara yang memang bergaya restoran (meskipun sederhana, menurut saya), Mabuhay ini benar-benar warung atau Imbiss kalau orang Jerman bilang, yang space-nya kecil dan tidak ada hiasan neko-neko di warungnya.

Kami makan seperti preman, rame, rebutan dan gogot. Gogot apa ya bahasa Indonesianya? Makan banyak membabi buta begitu deh 😂 Selain memang lapar berat, menu yang ditawarkan Mabuhay memang menggiurkan semua dan rasanya memang top. Tidak rugi kita menunggu lama untuk dapat tempat duduk karena pada jam makan siang memang warung itu penuh dengan orang kantoran yang makan siang di situ.

dianunspecified10.jpg
Di Warung Mabuhay. Yang sebelah kiri adalah Mindy.

Setelah makan siang, masih dengan obrolan tentang enaknya makan siang tadi, kami lanjut naik kereta ke Regierungsviertel. Regierungsviertel adalah daerah di mana kantor-kantor penting pemerintahan Jerman ada di sini semua. Dari gedung parlemen (Reichstag), kantornya Angele Merkel hingga menteri-menterinya.

anggiDSC01648s
Di depan Reichstag, gedung parlemen Jerman.

Sayangnya di sini Mindy dan saya tidak bisa lama-lama. Mindy ada janjian dengan temannya dan saya harus bergegas ke konsernya Sting.

⊕ KONSER STING ⊕

Ini sebenarnya alasan utama saya ke Berlin. Nonton Sting. Dan saya happy sekali Anggi, Deny, mba Dian mau ikutan gabung. Bahkan Mia dan Mindypun nyempetin ketemu kita-kita. Many thanks girls!

Jadi setelah tanya sana-sini tentang siapa yang nonton Sting, seorang teman Instagram yang tinggal di Berlin mengenalkan saya dengan sepupunya yang mau nonton Sting juga malam itu. Setelah telpun-telpunan kamipun sepakat bertemu pada jam 17.30 di entrance amphitheatre Waldbuehne (Wald: hutan. Buehne: panggung), tempat konser musik paling asoy yang pernah saya datangi. Waktu saya tinggal di Berlin, saya sempat beberapa kali nonton musik di sini. Karena open air, dia hanya berfungsi ketika musim panas saja. Berbeda dengan tempat-tempat konser yang biasa, untuk memasuki panggung open air ini, begitu keluar dari stasiun kereta kita musti melewati perkebunan orang dulu.

IMG_0882s.jpg
Berjalan beriringan menuju Waldbuehne.

Sore itu saya datang tepat jam 17.30 dan ternyata di entrance sudah ada dua antrian panjang untuk memasuki Waldbuehne. Sayapun  menelpun Susanna, ‘date‘ saya malam itu, menanyakan keberadaannya. Rupanya dia malah masih di kota, belum on the way ke lokasi karena saling tunggu-tungguan dengan teman yang lain. Kita akan telpun-telpunan lagi nanti bila sudah di dalam. Alhasil sayapun ngantri sendirian. Agak ingah-ingih juga sih secara yang lain pada ngobrol dengan teman-temannya, tapi cuek ajalah. Konsernya sendiri mulai pada jam 19.30.

Malam itu ada pengecekan security yang lebih ketat dari biasanya karena sebelumnya ada kejadian serangan bom di sebuah festival musik di kota Ansbach, Bayern oleh IS simpatisan. Oleh karena itu pula, saya yang selama di Berlin hanya membawa koper troli dan tas ransel, harus beli tas cangklong baru karena di last minute email notification disebutkan bahkan tas ransel tidak diperbolehkan sedangkan saya kalau tanpa membawa tas ya kelabakan juga mau naruh dompet, handphone dan jas hujan secara cuaca saat itu memang punya chance untuk hujan.

Setelah akhirnya lolos dari pengecekan security dan pengecekan tiket, sayapun melenggang  menuruni tangga-tangga open air Waldbuehne. Langit saat itu setengah biru dan setengah abu-abu. Alhamdulillah saya dipinjami jaket kulit oleh Anggi karena saya terlalu percaya diri akan langit yang selalu cerah di Berlin, hanya membawa jaket tipis dari rumah.

IMG_0883es.jpg
Waldbuehne dibangun pada tahun 1934 dan bisa mengakomodasi 22.000 orang.
IMG_0908s.jpg
Ketika sudah penuh.

Di sini saya makan malam Brezel yang dijual oleh mas-mas yang keliling naik turun tangga. Secara tidak ada yang jualan minuman hangat, yasud, minumnya cukup air putih saja. Saya sempat pindah-pindah tempat duduk mencari lokasi yang strategis dan ketika sudah mendapat tempat yang benar-benar nyaman, tiba-tiba Susanna menelpon, mengatakan bahwa dia sudah di dalam, berada di standing area dan saya disuruh nyusul. Merasa sudah nyaman dengan tempat saya duduk, sayapun menolak turun. Berdasarkan pengalaman, di Waldbuehne memang tidak ada kategori tempat duduk dan nomor-nomoran. Semua bebas mau duduk dimana. Tempat duduk yang nyaman di sini menurut saya adalah yang bisa melihat panggung dari depan, atau serong dikit juga tidak apa-apa dan dekat dengan toilet. Maklum saya orangnya beser 😀

IMG_0891.jpg
Otw ke toilet. Toilet di Waldbuehne sangat bersih (ada yang jaga dan bersihin) dan ruangannya banyak jadi jarang ada antrian panjang.

Jam 19.30 lebih dikit keluarlah penyanyi pembuka yaitu Joe Sumner, anak sulungnya Sting dari istri pertama. Joe, wajah dan suaranya mirip sekali dengan Sting. Bedanya hanya dua: Sting lebih tua dan Sting lebih ganteng. Karena Joe inilah saya jadi ‘berteman’ dengan penonton di sebelah kiri dan kanan saya. Di sebelah kiri saya adalah dua orang wanita berusia 60 something sedangkan di kanan saya adalah suami istri, 50 something. Saya sempat mendengar bahwa mereka rasan-rasan tentang Joe yang ‘kok mirip sekali dengan Sting ya?’. Saya yang kebetulan tahupun sok akrab menjelaskan kepada mereka kalau Joe memang anaknya Sting. Wah beneran abis itu saya jadi nggak cengoh lagi nonton musik sendirian, ada ‘teman’ yang diajakin ngobrol dan joget bareng. Dua oma di sebelah kiri heboh banget kalau joget, saya mah kalah. Sedangkan suami istri di samping kanan, si suami ternyata pernah main ke Indonesia dan berkeliling dari Sabang sampai Merauke, jadilah kita seru ngobrol. Senang deh saya malam itu, ternyata nonton konser sendirian is absolutley fine.

Joe menulis lagu untuk anak perempuannya berjudul Jely Bean dan diapun mengenalkan anaknya ke atas panggung ketika dia menyayikan lagu itu. So sweet! Bikin saya tambah kangen dengan Flipper karena anaknya Joe umurnya sama dengan Flipper. Waktu penampilan Sting pun, penonton bisa melihat Joe dan anaknya menari-nari di belakang panggung. Kadang si anak menunggu dengan manis di tangga kalau papanya harus jadi backing vocal kakeknya. Sweet, very sweet family. Love it!

Setelah kira-kira 45 menit, Sting pun muncul di panggung dengan lagu pembukaan dari The Police ‘Every Little Thing She Does is Magic’. Semua penontonpun langsung berdiri dan bergoyang. Konser Sting sangat menghibur sekali dan penontonnyapun meskipun kebanyakan berusia di atas 50 (kalau dilihat dari segi wajah dan penampilan lho ya), semuanya tidak hanya duduk anteng mendengarkan musik. Semuanya mau heboh. Salut!

Penampilan Panggung konser Sting sendiri sangatlah sederhana. Hanya ada panggung standardnya Walbuehne tanpa dihias apa-apa kecuali dua layar lebar di kanan kiri panggung. Sekedar background bertuliskan Sting-pun tidak ada. So modest, membuat saya otomatis membandingkannya dengan konser U2 di Frankfurt beberapa tahun lalu yang panggungnya super heboh. Jangankan U2, konser Maroon 5 aja tata panggungnya lebih rame dari pada Sting.

39963_458227586356_4829150_n.jpg
Konser U2 2010
IMG_0917e.jpg
Konser Sting 2016

Tapi siapa yang mau mempermasalahkan tata panggung selama musiknya asoy? Saya sih hanya memberi berbandingan nggak penting saja. U2 concert was super dan tanpa tata panggung berlebihanpun saya yakin penampilan mereka akan tetap super. Stingpun tak kalah super dan bila dia mau repot dengan tata panggung aneh-aneh, pasti tak akan mengurangi kualitas musik dia.

Saya sudah berada di apartment lagi sekitar jam 23.30 dan langsung dikerjai oleh Anggi, Deny dan mbak Dian untuk foto-fotoan OOTD, kostum nonton Sting. Harusnya sih ya, foto-fotoanny sebelum nonton, bukan sesudahnyaa…Ini modelnya udah kucel kalau difoto tengah malam begini >.<

IMG_0930e.jpg
OOTD: Top: Superdry/ Jeans: Levi’s/ Shoes: Nike/ Jacket: Punya Anggi/ Tas: Beli dadakan/ Photographer: Mbak Dian/ Lighting: Anggi’s phone/ Model: Kecapekan

Keesokan harianyapun kami sudah harus berpisah, kembali ke keluarga masing-masing. Anggi ke Edinburgh, Deny ke Den Haag, mbak Dian nginep dulu semalam di rumah temannya lalu balik Salzburg dan saya yang sudah kangen berat dengan Flipper, ke Cologne. 3 hari di Berlin rasanya kurang banget deh! Semoga next time masih ada kesempatan untuk ikutan girl trip lagi ya teman-teman. Senang sekali bisa bertemu kalian, saling bercerita dan sharing hal-hal positif. Sudah kangen lagi nih saya hiks…<3

 

*Mbakyurop merupakan kumpulan ibu-ibu dan mbak-mbak Instagrammer yang rajin ikutan kompetisi yang diadakan oleh @Uploadkompakan. Hashtag yang digunakan di Instagram adalah #mbakyurop

**Foto-foto Berlin trip kami ada di Instagram dengan hashtag #mbakyuropdiberlin

***Foto-foto dari saya yang lain bisa dilihat di album Berlin Flickr saya

Short trip ke kota kecil Monschau.

2300s.jpg

2305s.jpg

Saya tahu tentang kota Monschau untuk pertama kalinya di sebuah film di televisi tapi karena film fiksi ya nama kotanyapun fiksi (maaf judul filmnyapun lupa, pokoknya film Jerman deh… ). Waktu itu saya sudah tertarik dengan kota tersebut. Setelah baca blognya Deny yang ini baru ngeh bahwa ternyata kota yang di film itu namanya Monschau dan kebih mengejutkan lagi, letaknya hanya satu jam-an dari rumah kami.

Pas memperlihatkan blognya Deny ke suami, dia malah bilang: eh ini kan kotanya nggak jauh dari sini. Lho la iya, kenapa saya nggak pernah diajak ke sana? Nggak kepikiran, katanya. Iya, biasanya mata kita memang lebih sering melihat yang  jauh-jauh, yang dekat-dekat malah terlupakan atau kalaupun ingat pasti ditunda-tunda dengan alasan ‘ah dekat ini, nanti saja belakangan’. Tapi kali ini kami tidak mau menunda untuk pergi ke Monschau, keesokan harinya, di sebuah hari Minggu di bulan Mei (iya, ini #latepost), kamipun pergi ke Monschau.

Monschau adalah sebuah kota kecil yang terletak di distrik Aachen Jerman yang tak jauh dari perbatasan negara Belgia dan Belanda. Ciri khas kota ini adalah rumah-rumahnya yang bergaya ‘half-timbered houses’ yang hampir tidak berubah gayanya dari 300 tahun yang lalu. Kebanyakan bangunan unik ini dijadikan pertokoan yang tetap buka di hari Minggu dan juga untuk penginapan.

2292s

2301s

2306s

2312s

 

Mengelilingi kota Monschau tidak akan memakan waktu lama karena memang kotanya kecil. Untuk pengunjung, terdapat beberapa tempat parkir luas sebelum memasuki kota tersebut. Anak-anakpun bisa berlarian bebas di sepanjang jalan berbatu karena memang tidak ada kendaraan yang berlalu-lalang kecuali sepeda dan kendaraan bermotor milik penghuni di sana yang sangat mengutamakan pejalan kaki. Oh iya, ada juga kereta wisata yang lewat. Tarifnya kereta ini €6,00/ person. Mahal menurutku. Apalagi bila dibandingkan dengan kereta wisata di kota Arco Italy yang tarifnya hanya €2 mengelilingi kota tua yang lebih besar dari Monschau selama 30 menit.

2310s

2287s
Sebuah gubuk di pinggir sungai. Entah ada penghuninya atau tidak.
IMG_3061-1e
Flipper bergaya di depan rumah orang.

Foto-foto kota Monschau yang lain bisa dilihat di. FLickr saya.