Good to be back here again, Mallorca – Part 3

Wow! Maaf, ternyata cukup memakan waktu lama juga untuk posting bagian yang ketiga ini. Why oh why, simple answer, karena saya lupa! Hihi… Kirain utang postingan Mallorca sudah lunas tapi ternyata masih kurang satu.

Ini postingan terakhir tentang trip ke Mallorca bulan Mei kemarin ya… sambungan dari yang bagian pertama dan kedua. Di postingan terakhir ini akan saya tulis juga tips-tips berguna yang bisa dipakai bila berlibur di pulau Mallorca.

Jadi kami ceritanya sudah berada di kota tujuan terakhir kami, Alcudia nih… Berikut ini adalah tempat yang wajib dikunjungi saat berada di Alcudia:

Playa de Alcudia

Pantai yang paling dekat dengan hotel kami,adalah Playa de Alcudia. Pantainya buat saya membosankan, hanya pasir memanjaaaang, tidak ada pohon-pohonnya. Cocok banget deh untuk yang suka sun tanning.

Untuk menuju ke pantai ini, kami cukup jalan kaki saja dari hotel, melewati arena kuda pony dan bouncy castle yang selalu menjadi tujuan kami setelah pulang dari pantai. Selain itu banyak toko-toko dan cafe di sepanjang jalan yang bikin saya rajin jalan ke pantai meskipun pantainya membosankan 😀

Berikut ini foto-foto dari Playa de Alcudia:

2891

2892

2894

Cala San Vicente/ Cala Molins

Pantai Cala San Vicente  lumayan jauh dari hotel kami, around 1 hour by car. Tapi it’s worth to visit, pantainya indah dan bening. Di dekat pantai itu terdapat banyak hotel dan yang menurut saya paling outstanding bangunannya, karena berada tepat di tepi pantai adalah hotel Grupotel Molins.

2865

2870

2866

Karena di Cala san Vicente, meskipun view-nya bagus, nggak asyik buat leyeh-leyeh di atas pasir, kamipun lalu mencoba menelusuri lebih lanjut area sekitarnya. Ternyata tak jauh dari sana, hanya mengikuti jalan utama dengan jalan kaki, kami menemukan pantai yang layak untuk disinggahi (baca: ditiduri) yaitu pantai Cala Molins.

cala molins.jpg

Begitu pak suami dan Flipper mulai ganti baju renang dan segala propertinya, sayapun mulai pasang posisi buat baca buku. Oh iya, salah satu buku yang saya baca selama liburan adalah ‘The Curious Incident of the Dog in the Night-Time’. Keren abis ceritanya! Saking kerennya, sekali baca langsung habis. Berikut linknya dan check review-nya di Amazon deh, siapa tahu tertarik

.//ws-eu.amazon-adsystem.com/widgets/q?ServiceVersion=20070822&OneJS=1&Operation=GetAdHtml&MarketPlace=DE&source=ac&ref=tf_til&ad_type=product_link&tracking_id=zbethz-21&marketplace=amazon&region=DE&placement=0099470438&asins=0099470438&linkId=91727d7a8c07da4bd5fe97cb91355071&show_border=false&link_opens_in_new_window=true&price_color=333333&title_color=0066c0&bg_color=ffffff

Oh iya, waktu jalan kaki menuju Cala Molins, dari atas kami sempat melihat sesi pemotretan wedding (kalau di Eropa biasanya bukan pre-wedding tapi post-wedding ceremony). Pasangannya nyemplung di laut pake pelampung. Seru deh! sayangnya saya nggak bawa lensa tele jadi ya cuman kelihatan kecil di fotoku tapi lucuk ah!

2876

2877s
Flipper main air di Cala Molins.
cala molins bobok
Lalu bobok. Air dan angin laut memang bikin ngantuk ya 😀

Necropolis de Son Real

Kali ini meskipun ada pantainya, tapi bukan untuk bermain atau berjemu, melainkan mengunjungi kuburan. Necropolis de Son Real adalah kuburan jaman purbakala yang terletak di sepanjang pantai di kota Can Picafort, sekitar 15 km dari hotel kami. Luas komplek kuburan ini sekitar 1000 m2 dimana terdapat lebih dari 400 pemakaman dengan sekitar 130 batu nisan besar.

Untuk menuju Necropolis de Son Real dari hotel kami, akses terdekat adalah naik mobil sampai depan kantor info turis khusus untuk necropolis tersebut lalu dilanjutkan dengan jalan kaki atau naik sepeda sepanjang 2 km (4km pp) untuk sampai ke komplek pekuburan di pinggir pantai.

Saat itu kami agak sial karena kurang info, menyangka akses mobil bisa sampai lokasi kuburan dan kesialan kedua, saat kami tiba di kantor info, mereka sedang tutup sehingga tidak bisa menyewa sepeda yang disediakan untuk pengunjung. Ya sudahlah, akhirnya kami jalan kaki saja. Lumayan ya apalagi saat itu saya puasa. Tapi begitu sampai lokasi, segala kecapekan hilanglah…It’s worth it.

Profil Necropolis de Son real bisa dilihat di sini.

2788s
Jalan menuju Necropolis.

2799s

2793s

2801s
Komplek Pekuburan.
2803s
Komplek pekuburan.

 Alcudia Old Town

Paling asyik pergi ke old town ini waktu sore hari, kita bisa strolling di sepanjang jalanan berbatu kota tua ini lalu berlanjut dnegan makan malam di salah satu restauran yang cantik-cantik di sana.

Mau shopping di sini juga monggo, lebih banyak üilihannya dari toko-toko di sekitar hotel yang kebanyakan hanya menjual souvenirs.

2886

2880

alc oldtown

Cap de Formentor

Last but not least, the magnificient Cap de Formentor. Pada kunjungan pertama kami ke pulau Mallorca pada tahun 2010, kami sudah mengunjungi tempat ini dan sangat terpesona sehingga kali ini kami memutuskan untuk kembali lagi ke sana. Setelah sekian tahun, ternyata lumayan banyak juga bedanya. Bukan di pemandangannya melainkan pengunjungnya.

Sebelumnya, perlu dijelaskan dulu apakah Cap de Formentor ini. Cap de Formentor yang artinya ujung Formentor berada di atas pegunungan Serra de Tramuntana yang berada di ujung utara pulau Mallorca. Di ujung sini terdapat mercu suar angin yang meskipun tidak terbuka untuk umum tapi area luarnya terbuka untuk umum dan inilah yang membuat Cap de Formentor terkenal karena pemandangan ynag menarik dari atas sana.

Dulu, saya bisa dengan bebas foto-fotoan di lokasi karena saat itu selain kami hanya ada 1-2 pengunjung lain di sana dan parkirpun pun easy peasy. Kali ini, untuk menuju kesana, pas sudah hampir sampai ke ujung, macetnya minta ampun dan parkirpun susah karena penuh dan medan jalannya yang sempit dan berliku-liku tidak memungkinkan untuk parkir sembarangan. Mau foto juga nggak bisa leluasa saking banyaknya manusia, mengingatkan saya dengan suasana lebaran di puncak Borobudur.

nn
Jaman masih langsing, di Cap de Formentor tahun 2010 😀
cap de f
dan foto aktul, ambil nafas panjang dulu sebelum sampai puncak Formentor 😀

Berikut ini pemandangan dari lokasi mercu suar Cap de Formentor:

2861

2859

2856

Dan demikianlah, trip kita berakhir di sini, nggak ada ynag bagian empat ya… Ini udah taman 😀 Semoga berkenan dan bila pengen lihat foto-foto Mallorca ynag lain, bisa check di album Flickr saya di sini.

Berikut ini tips saya kalau ada yang mau main ke Mallorca:

  1. Kalau waktu liburannya panjang, disarankan tidak stay di satu kota saja. Sewa mobil sangat dianjurkan untuk yang mau pindah-pindah kota di pulau Mallorca.
  2. Kalau liburnya sebentar, ya tinggal di satu kota saja. Di dalam satu kota, di Mallorca, selalu terdapat banyak sudut yang menarik untuk dikunjungi.
  3. I’m not sure about public transport tapi kalaupun tidak menyewa mobil sendiri, tidak ada kendala untuk jalan-jalan ke tempat yang agak jauh karena di sana terdapat banyak jasa short tour dengan biaya yang terjangkau.
  4. Pantai-pantai di Mallorca termasuk children friendly, tidak ada ombak gedenya dan selalu ada baywatch-nya. Tapi tetap ya, kalau sama anak-anak sebaiknya selalu waspada. Flipper selalu bawa ban pelampung atau pake arm floats kalau ke pantai.  Kapan itu di koran ada berita tentang  ibu dan anak terbawa arus sampai jauh di atas pelampung unicorn mereka, di Mallorca, sampai helicopter dikerahkan untuk menyelamatkan mereka. Critanya mereka ketiduran… Kok bisa ya? Untung nggak ada yang kecemplung ke laut.
  5. Harga payung dan 2 bangku yang disewakan di pantai-pantai di Mallorca bervariasi. Mulai dari 25€ sampai 40€ sehari. Selama dua minggu di Mallorca, kami hanya sekali sewa payung, selebihnya berteduh di bawah tebing atau bawah pohon.
  6. Makanan di mallorca enak-enak tapi menurut saya kurang pedes dan unlike di negara lain yang bisa dengan gampang mendapatkan cabe, di Mallorca saya tidak menemukan cabe sebijipun. Tips: bawalah saos cabe!
  7. Meskipun banyak pantai yang letaknya nyempil di pedalaman, somehow selalu terdapat decent parking area di dekatnya.
  8. Jangan lupa nggembol makanan kalau mau jalan, apalagi kalau ada anak kecil. Kalau pas di kota sih nggak masalah. Tidak semua pantai menyediakan tempat makan atau sekedar kios. Bekal wajib kami adalah pisang, apel dan air putih.
Advertisements

Good to be back here again, Mallorca – Part 2

Juhuu…  setelah selingan beberapa cerita di postingan sebelumnya, yuk kita lanjutkan cerita tentang liburan di Mallorca kemarin sebelum saya lupa semua. Jadi buat saya, tujuan nulis blog ini selain buat berbagi pengalaman (siapa tahu ada yang tertarik), juga sebagai diary buat saya, supaya saya nggak lupa dulu pernah ngapain aja, kemana aja. Syukur-syukur bisa diulang lagi liburannya.

Kemarin postingan di Mallorca Part 1 berakhir di kota Cala d’Or, kali ini masih di situ juga karena memang banyak banget tempat asyik di Cala d’Or dan sekitarnya jadi kita tuntaskan dulu perjalanan di Cala d’Or dan sekitarnya sebelum berlanjut ke kota tujuan ketiga.

Monacor

Kota Monacor terletak sekitar 30km dari Cala d’Or. Niat kita ke kota tetangga ini sebenarnya cuman mau nyuci baju di self-service laundry karena di apartemen-hotel concept kami, tarif laundry-nya muahiil. Dan secara bawa anak kecil, kebayang kan berapa kali dia harus ganti baju sehari. Saya mah minta ampun saja kalau musti ngucek pake tangan. Biaya washing dan drying di sini, untuk 6kg cukup 6€ saja, sementara kalau di hotel tarif untuk satu kaus 5€. Nah sembari nunggu laundry kelar, kami jalan-jalan di sekitar situ.

Letak self-service laundry ini berada di pusat kotanya Monacor di mana terdapat pasar terbuka yang isinya dari jualan burung sampai baju. Sementara Flipper sibuk mengamati burung-burung dengan papanya, saya muter-muter lihat pasar yang hanya buka sampai jam dua siang. Siesta time. Kami sempat juga tersesat di gang-gang yang sepi di kota tersebut. Untungnya meskipun sepi, gangnya cantik. Secara keseluruhan sih, nggak ada yang menarik dengan kota ini. Etapi kami hanya mengitari daerah seputar pusat kota aja lho ya.

2775s2779s

12
Si Flipper terpukau dengan mesin cuci yang gede-gede.
11
Sibuk mengamati burung.
9
Pasar Monacor.

Portocolom

Salah satu result dari pencarian kota-kota worth to visit di sekitar Cala d’Or menurut Google adalah kota Portocolom yang hanya berjarak 12 km dari Cala d’Or. Kota itu terkenal sebagai kota nelayan kecil yang sepi tapi indah, maka kamipun ke sana. Kotanya ternyata beneran sepi, nggak banyak turis. Kami sempat menyusuri pelabuhan kecilnya dan nemenin Flipper makan es di satu-satunya warung es krim di sana.

2821

2823

2819

Setelah lempar-lempar kerikil ke air, kamipun mulai bosan dan memutuskan untuk mencari pantai. Dari pelabukan Portocolom kami bisa melihat ada sebuah pantai di ujung horison dan hubby mikir kita bisa kesana jalan kaki saja, tinggal muterin pelabuhan, katanya. Untung saya menolak karena waktu itu puanas dan ternyata yang konon sekadar ‘muterin pelabuhan’ itu jauh boo… Untung jadinya naik mobil. Nama pantai yang kami lihat dari pelabuhan tadi apadah Cala Marcal

Pantai Cala Marcal

Buat yang nggak bisa lepas dari sosmed, pantai ini penting karena di sini ada free wifi-nya. Buat saya, pantai ini juga penting banget karena ada proper toiletnya, yang artinya toiletnya berada di bangunan tembok dengan air bersih yang mengalir. Tidak semua pantai di Mallorca memiliki fasilitas tersebut, kebanyakan adanya toilet box yang panas itu, nggak ada airnya, dan kadang bauu! Makanya saya suka enggan pipis di sini. Atau numpang pipis di restoran terdekat juga bisa sih cuman kalau pantainya di pedalaman ya nggak ada resto/ warungnya.

Di sini kami beruntung banget, dapat ‘hibahan inflatablemattress dari turis yang mau pulang ke Jerman dan nggak butuh mainannya lagi sehingga Flipper dan papanya bisa happy berlayar dengan pelampung kasur (not sure apa terjemahannya yang bener hihi…) itu.

Saya rasa ini semacam etik berlibur ya karena ini bukan pertama kalinya kami dapat hibahan beach stuffs dari orang yang sudah selesai berlibur. Dulu di Turki Flipper juga sempat dapat hibahan mainan pasir (cetakan, ember, sekop, etc) dari stranger. Kamipun kalau space di koper mepet juga nggak bawa mainan pantai dari Jerman, mending beli di kota tujuan lalu kalau kami udah mau balik ke DE, dikasih aja ke random turis yang kira-kira butuh dan so far yang dikasih seneng banget.

2834s
Can you spot si boss Flipper lagi nangkring di atas pelampung kasur, didorong papanya? 😀

2835s

ALCUDIA

Setelah menginap 5 hari di kota Cala d’Or, kamipun  pindah lagi ke kota tujuan terakhir kami, Alcudia. Perjalanan dari Cala d’Or ditempuh sekitar 1, 5 jam untuk jarak 70km. Jalannya sebenarnya tidak terlalu berbelok-belok tapi banyak jalan tikusnya, alias sempit. Dalam perjalanan ke Alcudia ini Flipper sempet mabuk darat, muntah-muntah jadi kitapun istirahat dulu di pinggir jalan. Berhubung ini mabuk pertamanya Flipper, dia sempat panik dan bingung gitu pas muntah. Dia bertanya kenapa kok muntah padahal dia nggak makan coklat banyak dan nggak makan cabe hihi… Ceritanya, dia dulu memang pernah muntah karena kebanyakan coklat tapi kalau soal cabe, entah dari mana dia mendapat kesimpulan seperti itu.

13

Istirahat di pinggir jalan setelah mabuk darat.

Alcudia ternyata lebih touristy dibanding Cala d’Or. Baru masuk kotanya aja sudah kelihatan gedung-gedung tinggi dengan nama-nama chain hotels di pinggiran jalan. Hotel kita untungnya nggak berada di main street, agak menepi sedikit, berada tepat di pingir danau. Kali ini si D salah booking karena kebanyakan tamu hotel di sini manula, ngga ada anak kecil sama sekali kecuali Flipper. Di sini nggak ada acara mini disco, adanya   Elvis night dan Bingo game. Flipper sempat ikutan nonton live music Elvisnya dan komentarnya: why on earth orang ini gemeteran kakinya? Haha… Kebanyakan tamu di hotel ini sini orang Jerman dan orang Spanyol. Dari ketiga hotel yang kami inapi, makanan di sini paling enak dan variasi menunya tidak membosankan.

14

Karena Alcudia berada tak terlalu jauh dari Cap de Formentor dan kami juga masih jatuh cinta dengan perjalanan menuju Cap de Formentor delapan tahun yang lalu, kali ini kami memutuskan untuk ke sana kembali supaya Flipper juga bisa menikmati indahnya Cap de Formentor ynag terkenal itu.

Apaan sih sebenarnya Cap de Formentor itu? Bersambung lagi ya teman-teman… Maaf, bukannya bermaksud bikin penasaran, tapi saya musti sortirin foto-fotonya dulu hihi… Janji deh, kali ini nggak pake lama! 😀

Much love,

-beth-

Good to be back here again, Mallorca – Part 1

Setelah delapan tahun, akhirnya awal Mei kemarin kita mengunjungi Mallorca lagi. Kalau dulu bareng temen-temen dan yang masuk agenda liburan di antaranya adalah party, kali ini, karena bareng Flipper, agenda party digantikan dengan mengunjungi taman bermain.

Mallorca adalah salah satu pulau di kepulauan Balearic, Spanyol. Buat orang Indonesia, pulau Ibiza yang berada di sebelahnya Mallorca mungkin lebih akrab di telinga (hint: Venga Boys “We’re Going to Ibiza”). Pada kunjungan kali ini, kita kembali mengadakan road trip mengelilingi pulau, karena hanya diam di satu kota di Mallorca adalah rugi besar. Sekedar gambaran, pulau Mallorca tidak semungil pulau Umang tapi juga tidak sebesar pulau Bali. Menurut MapFight, Pulau Bali lebih besar 1,59 kali pulau Mallorca. Karena kami sudah menjelajahi Mallorca bagian barat dan utara delapan tahun yang lalu, kali giliran bagian utara, timur dan selatan yang kami kunjungi.

Penerbangan dari Cologne ke ibu kotanya Mallorca, Palma De Mallorca Airport hanya 2 jam saja. Begitu mendarat, kami dijemput minibus yang membawa kami ke stasiun penyewaan mobil yang sudah kami booking sebelumnya. Setelah mendapat mobil, kamipun menuju kota pertama tujuan kami, Magaluf.

MAGALUF

Di Magaluf kami menginap di hotel yang punya amusent park yang kami pikir pasti menyenangkan buat Flipper, which was right. Tapi buat D dan saya… alamaak, kalau nggak sayang anak, meskipun sudah bayar kami rela lho pindah hotel karena berisik sekalii… Berisik dengan suara anak–anak sih sudah kami pertimbangkan tentunya, namun ini yang dewasapun tak kalah berisik.

Hotel yang kami pilih kali ini rupanya penuh dengan turis dari Inggris dan inilah yang membuat berbeda. Selama ini kalau berlibur biasanya kami selalu berada di daerah yang mayoritas turisnya orang warga negara campur-campur atau mayoritas turis Jerman. Kami tidak sengaja mencari yang seperti itu sih tapi dapatnya kebanyakan begitu, makanya saya sempat mikir orang Jerman tuh buset deh, ada di mana-mana. Kecuali di Magaluf di hotel kita tempati selama 4 malam. Dan tidak bermaksud untuk rasis, bedanya demikian:

  1. Di hotel, main language yang digunakan adalah Inggris dan Spanish yang bagi kami sebenarnya tidak bermasalah tapi buat Flipper agak susah karena crews di acara Mini Disco dan Kids Club-nya nggak ada yang bisa berbahasa Jerman sedangkan bahasa Inggrisnya Flipper standard saja, what’s your name, how wold are you, how are you, I am hungry, do you like banana, one two, three…  Selebihnya dia gak mudeng haha…
  2. Para orang tua dari negaranya pangeran Harry ini, terutama ibu-ibunya gemar sekali meneriaki anak-anaknya. Nggak semua pastinya tapi mayoritas. Ngomong baik-baik dan marah nggak ada bedanya, yang pasti ngomongnya kenceng. Mungkin mereka menganggap pendengaran anak-anak nggak setajam telinga mereka, Entahlah. Etapi di antara dewasapun ngomongnya juga kenceng. Mereka juga tidak mempertimbangkan tempat dan waktu dimana harus ngomong kenceng, di koridor kamar hotel jam 12 malem pun jadi. Atau di sebelah orang yang clearly sedang tidur di lounger di kolam renang sampai orangnya mencolot. Saya yang melihatnya antara prihatin dan pengen ketawa.
  3. Dibandingkan dengan orang Jerman yang kebanyakan langsing, ibu-ibu Inggris banyak yang overweight. Perlu perjuangan buat saya mencari sosok wanita Inggris yang normal, yang semok atau yang gemuk biasa. Postur para pria dan anak-anak serta remajanya sih biasa-biasa aja tapi yang ibu-ibunya, let say, yang di atas umur 20 tahun, kebanyakan size XXL.
  4. Mereka sangat memanjakan anak-anaknya dalam soal makanan. Saatnya makan (kami ambil paket half -board; breakfast dan dinner) di mana aneka sweets dan kue-kue disajikan sebagai makanan penutup, ibu-ibu ini memberikan sepiring Haribo atau setumpuk tart beraneka rasa ke anak-anaknya as main course. Saat makan churros  pun, instead of menggunakan wadah kecil-kecil yang sudah disediakan untuk celupan coklatnya, mereka  mengisi cangkir coffee latte yang tinggi itu dengan coklat, OMG. Dalam satu sisi saya maklum sih, si anak-anak pasti merengek pingin makan sweets dan si ortu pengen menikmati makannyanya tanpa rengekan ini itu, tapi sepiring penuh permen? Flipper juga merengek minta permen dan tentu saja saya kasih juga tapi syaratnya musti makan dulu. Setelah makan dia boleh milih 2 macam dessert aja and it worked well  meskipun kadang-kadang dia kelamaan mempertimbangkan dessert mana yang mau dia ambil hihi… Pernah nih, waktu saya ambil mini donat 1 biji buat Flipper, ada seorang ibu yang bilang ramah ke saya, “Eh kamu boleh ambil banyak lho, jangan malu-malu… “Atau mungkin prinsip mereka, mumpung all you can eat jadi ngambilnya banyak-banyak gitu kali ya?
  5. Kalau di Jerman area, kebanyakan anak-anak pake baju merek H&M, di sini banyak yang pake baju merek Inggris punya, Next. Bajunya Flipper jadi banyak yang nyamain. Yang ini point nggak penting deh 😀

 

1
Hotel kami di Magaluf. Untung tempat tidurnya nggak kebalik pulak 😀

Selama di Magaluf, tak banyak yang kami kunjungi karena kebanyakan Flipper dan papanya menghabiskan waktu di waterpark nya hotel atau di pantai. Saya mah kebanyakan jalan- jalan, (window) shopping karena lokasi hotel memang strategis, dekat pantai, dekat tempat party, dekat tempat makan dan pertokoan. Aldi dan fitness studiopun ada di sudut pengkolan. Setelah Flipper dan papanya main air, biasanya kami menghabiskan waktu bermain di amusement park nya hotel, dimana ada rumah kaca, mini golf, arena bermain dan berkarya, rumah kebalik, etc.

Pantai yang dekat dengan hotel namanya Playa Es Carregador dan  menurut saya tidak terlalu indah. Standard long, boring beach seperti Playa Palma de Mallorca. Tapi kami sempat menjelajahi pantai yang indah, di desa Portal Vells, yang hanya berjarak 9 km dari hotel. Nama pantainya Cala de Portals Vells. Mengapa cala dan bukan playa? Karena pantainya kecil, kalau playa panjang. Dan kami, seperti anak kecil dapat permen, kegirangan, mendapati pantai yang indah. Sementara Flipper dan papanya langsung ganti kostum berenang, sayapun (yang memang agak anti dengan air laut hihi…) mulai mengeksplorasi daerah sekitar dengan kamera. Setelah main air, Flipper dan D sempat tidur siang di pantai dan begitu mereka fit kembali, mereka ikut menemani saya melanjutkan eksplorasi di tebing-tebing sekitar.

Berikut ini foto-foto di Potals Vells:

23

2764s2752s

2749s
Flipper bisa menghabiskan waktu lama nih, lempar-lempar batu ke air.
2753s
Anak-anak di ujung kanan itu sedang meloncat ke air bergantian. Seru!

2757s

CALA D’OR

Setelah empat malam tinggal di Magaluf, pada hari kelima kami pindah ke kota Cala d’Or yang jaraknya 85 km dari Magaluf. Nama kota ini menggunakan kata cala mungkin karena di situ banyak pantai-pantai kecil. Ini perkiraan saya saja ya, tidak dari sumber yang bisa dipercaya. Kali ini, di Cala d’Or, kami menyewa apartment. D dan saya happy, akhirnya bisa menghabiskan waktu di tempat yang spacious dan tidak berisik seperti di hotel sebelumnya. Flipper sempat kecewa karena tidak ada fasilitas untuk anak-anak di hotel-apartment ini selain kolam renang anak. Jangankan amusement park, mini disco aja tidak ada tapi kemudian dia  tidak peduli lagi dengan itu karena setiap hari, setelah pergi ke pantai, sorenya  dia bisa main jumpalitan di arena bermain yang letaknya persis di belakang apartemen.

4
Huge bouncy castle di belakang apartemen kami. Itu mulut gajahnya bisa membuka-menutup.
999A0221EEs
Trampolin 3€ 10 menit.
999A0218EEs
Komplek apartemen kami.

Tempat-tempat yang kami kunjungi selama menginap di kota Cala d’Or lumayan banyak. Saya tulis yang saya ingat ya…

Pantai Cala Gran dan Cala Esmerelda

Kedua pantai ini bisa ditempuh 5 menit jalan kaki dari apartemen. Di Cala Gran, Flipper kenalan dengan anak sebaya dan selalu janjian ketemuan di sana untuk main bola dan main air bersama. Di Cala Gran juga saya sempet bertemu (tapi tidak kenalan) dengan dua pasangan muda dari Indonesia yang saya bisa kenali dari logat Suroboyoan-nya. Mbaknya-mbaknya sibuk selfie di sana-sini sedangkan mas-masnya cuman ngikutin doang sambil mencangklong tas Chanel-nya pasangan mereka. Kadang kedua cewek itu minta tolong si mas untuk motoin dan dua cowok ini harus bertikai duluan karena sama-sama nggak mau motoin. Komentarnya si D ke saya: glad you are not that worse! Hihi… Di bawah ini adalah foto-foto di Cala Gran:

5999A0095EEs999A0100EEs

Es Pontas

Es Pontas adalah highlight kami selama di Cala d’Or. Es Pontas  merupakan tebing batu besar melengkung yang terletak di kota Santanyi, di antara teluk Santanyi dan teluk Llombards. Tebing batu ini merupakan salah satu objek panjat tebing tersulit di dunia. Tak banyak yang bisa memanjat Es Pontas. So far hanya dua orang yang berhasil memanjat Es Pontas dari bagian lengkung dalamnya yaitu Chris Sharma (American) dan Jernej Kruder (Slovenian). Coba check video dimana Chris Sharma memanjat Es Pontas berikut ini, pasti ikut deg-degan deh lihatnya: See why Chris Sharma is one of the world’s best climbers as he searches for the hardest and most beautiful route in the world.

Saat menyusuri tepian berbatu di area Es Pontas, seorang polisi ganteng menyampiri kami, bertanya apakah kami melihat orang yang terluka kakinya dan mengalami kesulitan berjalan. Kami tidak melihatnya dan mas polisi itu mulai terlihat panik. Di belakang tampak beberapa polisi yang lain dan dari kejauhan kami mulai melihat beberapa safe guards dengan peralatannya lari kesana-kemari. Rupanya polisi menerima report bahwa seseorang terluka di sana dan tidak bisa berjalan dengan normal, posisi orang itu di pinggir tebing jadi karena orang itu tidak bisa dikontak lagi, dikuatirkan orang tersebut kecebur ke laut.

Lokasi area Es Pontas memang memungkinkan untuk tercebur bila orang tidak berhati-hati. Yang dipagari hanya spot-spot tertentu saja. Saya sendiri melihat dua sejoli dengan selfie stick mereka, yang melanggar warning sign untuk tidak terlalu dekat ke pinggir tebing karena dikuatirkan batunya longsor. Well, the power of social media.

2738s
Polisi yang panik mencari the missing man.
2739s
Area Es Pontas.
2732s
Tebing batu melengkung itu…

999A0159-1EEs

Karena di Es Pontas tidak ada pantainya dan akses ke air cukup jauh, sehingga tidak memungkinkan untuk lempar-lempar batu, Flipper nggak mau berlama-lama di sana. Kamipun kemudian melanjutkan perjalanan ke pantai terdekat, Playa S’Amarador.

Playa S’Amarador

Untuk menuju ke pantai ini kami harus naik mobil melalui jalan sempit yang kalau papasan dengan mobil lain, kedua mobil musti saling maju mundur dulu. Di pantai S’Amarador, tanpa diduga ternyata kami harus bayar parkir. Selama ini kami belum pernah bayar parkir lho. Parkir di pantai sini bayarnya 5€, waktunya bebas. Di dalam parkiran ternyata ada sign yang menyatakan bahwa uang parkir 5€ tersebut digunakan untuk menyantuni yayasan orang cacat.

Pantai S’Amarador menurut saya juga biasa saja. Pokoknya kalau namanya playa (dan bukan cala) itu bagi saya boring. Nggak ada tebing dan pohon-pohonnya. Yah, kan seperti yang sudah saya tulis di atas, saya bukan fans untuk berjemur atau main air laut. Saya lebih suka meneduh di bawah pohon atau muter-muterin daerah sekitar pantai. Jadi selama Flipper dan D mainan air, saya kemulan di pasir sambil baca buku saja. Selama liburan 15 hari ini saya berhasil menghabiskan 3 novel hihi…

Eh ternyata nih, pas kita mau pulang, baru sadar bahwa sebelum memasuki arena pantai, ada kawasan hutan cagar alam. Kamipun masuk situ dan tentunya asyik sekali meneduh sesudah kepanasan di pantai.

6
Di cagar alam dekat pantai S’Amarador.

Sanctuary De Sant Salvador

Santuari De Sant Salvador adalah sebuah monastery yang dibangun pada tahun 1348 dan berada di 509 meter di atas ketinggian laut. Untuk pergi kesini jalannya lumayan naik dan berliku-liku seperti jepit rambut. Selain sempit, berliku-liku dan naik turun, kami harus berbagi jalan dengan para biker, baik yang solo maupun yang rombongan panjang. Salut deh buat para biker ini, perjuangan banget pasti naik ke Sant Salvador.

Begitu sampai ke atas, kitapun dijamu dengan pemandangan indah kota Felanitx. Nggak rugi deh sport jantung naik ke sini. Oh iya, di puncak sini ada restorannya jadi nggak perlu panik kalau bekalnya habis. Area piknik juga disediakan di beberapa sudut.

2693s2691s2696s2699s

2690s
Flipper nemu kucing di puncak Sant Salvador.

7

8
Awan cantik bergelantungan, nggak tahan kalau nggak foto 😀

Okay deh segini dulu ya ceritanya, kalau kepanjangan nanti bosan. Laporan tempat-tempat cantik lainnya saya tulis di bagian dua nanti deh.

Happy weekend!

-beth-

Random Sunday- Ketika di Indonesia

Iyah, nggak terlalu random, ini cerita-cerita pendek  pas kita liburan 6 Minggu di Indonesia kemarin.

beach

Selama di Jogja, saya banyak wira-wiri dengan Grab dan Gojek, dimana saya nggak perlu lagi takut dikerjain argo sopir taxi dan nggak perlu ngrepotin mama untuk nganter kesana-sini (secara udah nggak berani nyetir si sini). So far saya selalu punya pengalaman bagus dengan sopir-sopir Grab dan Gojek, yang ada malah sering nggak enak hati sekaligus terharu karena banyak mas-mas yang mengucapkan terima kasihnya sampai terbungkuk-bungkuk bila dikasih tips apa adanya seolah saya ngasihnya 1 juta. Bahkan anak saya pernah sempat muntah di dalam mobil Grab tapi sopirnya nggak mau dikasih tips, saya bantu bersihin jok mobilpun, dia juga nggak mau.

Lalu pernah ada kejadian saya mendapat message seperti ini di henpun lokal saya. Critanya saya udah order Grab tp nggak jadi karena ternyata urusan nyokap di bengkel udah beres jadi bisa langsung pulang dengan mobil nyokap. Mau cancel ordernya Grab sebenarnya bisa tp saya pikir ah sudahlah, kasihan sopirnya udah jalan (di GPSnya juga kelihatan kalau sopirnya tadi extra muter arah untuk jemput saya), yawis titipkan saja biaya jasanya ke seorang bapak di bengkel. Saya nggak menyangka juga kalau bakalan dapat message dari pak sopir. Terima kasih doanya ya Pak, semoga Bapak juga selalu mendapat berkah dan lancar rejekinya ?￰Saya pasti akan kangen dengan keramahan dan ketulusan Jogja ini

grab

Masih tentang jasa transportasi. Kali ini ojek. Sebenarnya sih saya nggak asing dengan naik ojek. Di Jakarta dulu demi menghindari macet, ojek adalah langganan saya. Tapi naik ojek di Jogja memang baru kali ini dan sesuai dg semboyan kotanya, memang istimewa. Baik ojek online maupun ojek offline, sopirnya seneng banget ngajak penumpangnya ngobrol, dari sekedar apa kabar sampai curhat soal lebaran. Masalahnya nih, kita kan naik motor ya…bukan mobil. Susah lho ngobrol dg orang yg boncengin kita di tengah hiruk-pikuk jalanan apalagi pake helm cakil. Lebih serem lagi kalau sopirnya suka tolah-toleh ke kita, nggak lihat jalan saking semangatnya ngobrol. Mau dicuekin kok nggak enak juga.

Pas di Jogja pas suami sempat sempet beberapa kali fitness di Celebrity Fitness dan pada suatu hari pulang dari fitness dia curhat; pas ikutan body combat, di studionya semua pesertanya pada sibuk main henpun sampai instruktur bilang ‘yak mulai!’ Di cross trainer-pun banyak dijumpai mbak-mbak yang berjam-jam main di cross trainer, jalan super pelan-pelan sambil main henpun. Di atas treadmill pun juga demikian. Hebat ya, katanya. Multi tasking 😀

Tahun ini adalah Idul Fitri pak suami yang pertama di Indonesia. Bagaimana kesan dia? Ada beberapa komentar lucu, di antaranya; Pas hari H-Lebaran, abis shollat Ied, halal bihalal di masjid lalu acara makan opor dan ngobrol-ngobrol, kita semua somehow capek dan pada ketiduran. Pak suami bingung dan setelah pada bangun dia komentar: aku pikir Idul Fitri itu bakalan seharian pesta pake acara tari-tarian segala eh ternyata ada acara tidur siangnya. Enak juga ya…katanya. Yang kedua, pas main ke mall, kami bertemu teman lama saya sedang jalan bareng sekeluarga. Mereka pake baju batik kembaran dalam rangka lebaran. Komentar pak suami lugu: mereka peserta apa ya? Kok bajunya seragam?

Selama di Jogja nggak bisa shopping-shopping cantik atau bahkan window shopping sekalipun karena syusah shopping bawa balita (note: hubby hanya 3 minggu pertama di Indonesia). Sering sih main ke mall tapi di mall yang dituju kids entertainment doang karena memang public playground hampir nggak ada di sini. Di saat-saat seperti bisa bisa mendadak kangen rumah dimana kita bisa anteng shopping online sebanyak-banyaknya trus kalau nggak cocok ya bisa dibalikin sebanyak-banyaknya pula.

It’s not easy to go on holiday alone with what so-called strong-willed child. Go beauty shopping like dress, shoes or even souvenirs is impossible because at the end we will spend the entire time in a game station in the mall. Enjoying yummi food in restaurants is just an alien concept because what I have to do is to eat as fast as I can without finishing it before that child jump off her chair and go run somewhere to do whatever she wants to do. A thought to have beautiful mother-daughter moment; strolling along the seashore will stay as a thought because the fact was, I had to catch her here and there, yelled stops thousand times before she throw herself in the deep sea. At least we managed to enjoy one single beautiful sunset in Double-Six Beach without tantrum. And in this pic, I tried to tell her that iPad time is over, because I had finished my lunch already (yes, mama wanted at least once to enjoy her meal). You see her face. You know what happened next.

mecucu

Tentang Mimpi Yang Berakhir Di Borobudur

IMG_6905-1eS

90% mimpi-mimpi saya berlokasi di rumah lama keluarga di Pacitan. Doesn’t matter siapa saja yang berada di mimpi saya dan cerita di mimpinya apa, lokasinya ya di situ itu. Dari lahir sampai tahun 1994 saya memang tinggal di Pacitan. Dulu orang tua saya memiliki rumah besar berkamar enam yang sudah lama dijual secara kami tidak balik ke Pacitan lagi. Kemungkinan sih rumah tersebut oleh pemiliknya sekarang sudah direnovasi tapi karena sering melihat rumah itu di mimpi-mimpi saya, saya masih ingat semua detail di rumah itu. Saya sih lahirnya di rumah yang lain, tapi tinggal di rumah itu memang dari kecil banget, dimana orang tua saya membangunnya sedikit-demi sedikit dari keringat mereka. Saya bahkan masih ingat bagaimana bentuk awal rumah kami. Dapurnya berdinding bambu dan belum ada pintu permanennya. Di dalam mimpi saya, penampilan rumahnya sudah seperti yang terakhir kami tinggalkan di tahun 1994.

Kata beberapa teman sih saya harus mengunjungi rumah itu lagi karena sepertinya saya masih penasaran dengan rumah itu sehingga selalu muncul di mimpi. Hmm…penasaran apa ya? Saya sih memiliki masa kecil yang indah di situ tapi sepertinya tidak ada hal-hal tertentu yang saya ingin tahu di sana. Saya sendiri sudah beberapa kali main ke Pacitan setelah pindah. Terakhir tahun 2011 tapi terus terang belum pernah masuk ke rumah itu lagi. Cuman lewat doang di depannya.

Nah itu mimpi saya. Sekarang mimpinya Flipper.

Beberapa waktu yang lalu Flipper pernah tiba-tiba terbangun dari tidurnya menjerit ketakutan, sampai saya yang  waktu itu ketiduran di sampingnya ikut ketakutan (saya sih aslinya memang penakut hihi…). Saya nggak bertanya ada apaan malam itu, pokoknya langsung berpelukan lagi berusaha tidur lagi. Keesokan harinya barulah kita membahas hal tersebut dan Flipper bilang dia melihat ada schwarze Kopf (kepala hitam) di kamar. Buset, saya langsung merinding dong. Pada umur-umur segitu kan katanya anak-anak memang bisa melihat hal-hal yang orang dewasa nggak bisa lihat… hiiy! Sejak saat itu Flipper jadi susah diajak tidur, takut ada si kepala hitam itu, trus kalau pas kelonan dia juga nggak mau kalau saya membelakangi dia karena yg kelihatan jadi kepala/ rambut saya saja, yang hitam bikin dia ingat yang tidak-tidak. Kalau sama papanya sih nggak ngaruh karena papanya nggak punya rambut 😀

Flipper lumayan lama sih mengalami trauma tentang si kepala hitam itu. Setiap dia memasuki ruangan yang baru atau ruangan di rumah, matanya selalu scanning dulu ke seluruh penjuru ruangan, was-was apakah ada kepala hitam di pojokan. Sampai pada suatu hari ketika kita lagi nonton TV (entah tentang apa, saya lupa) dan ada figure patung Buddha yang terbuat dari batu hitam, sambil melonjak kaget, Flipper menuding ke layar TV, “Schwarze Kopf!” teriaknya. kamipun ikut kaget dan langsung menginterogasi si Flipper, emang si kepala hitamnya seperti itu bentuknya? Flipper mengiyakan. Saya pun langsung mengambil buku tentang Buddha dan buka-buka internet untuk memastikan ke Flipper apakah beneran itu yang dilihat. Flipper yakin seyakin-yakinnya. Terus terang saya lega mendengarnya, kalau memang itu yang dilihat berarti si kepala hitam itu baik hati dan tidak sombong dan dia (baca: saya juga) tidak perlu takut lagi. Lalu suami dan saya pun mulai ‘mengenalkan’ si Budda ini ke Flipper dan akhirnya memang membuat Flipper tidak takut lagi dengan si kepala hitam. Yang terjadi justru seblaiknya, dia ngefans berat sama si Buddha. Tiap melihat Buddha di display toko atau di majalah, dia heboh teriak-teriak, “Schwarze Kopf! Schwarze Kopf!”

Lalu sayapun berjanji kalau suatu hari kita akan pergi ke ‘rumahnya’ Buddha, di Borobudur Indonesia. Melihat foto Borobudur di Internet dengan sekian banyak patung Buddhanya membuat Flipper sungguh antusias dan ketika akhirnya bulan Juni kemarin kita beneran bisa mengunjungi Borobudur, wow! saya masih ingat betapa berbinarnya  wajah Flipper ❤

IMG_6880-1eS.jpgIMG_6848-1eS.jpg

Saat itu empat hari sesudah lebaran, pengunjung di Borobudur sangatlah banyak namun Flipper tak patah semangat memanjat sendirian hingga puncak di arus pengunjung yang padat merayap. Di sepanjang putaran Borobudur Flipper katawa-ketawa sendiri saking senangnya. Dia juga tidak keberatan difotoin terus sama mama (biasanya dia kalau sudah 2-3x jepret nggak semangat lagi kalau difoto). Sayangnya padatnya pengunjung pada hari itu membuat pemotretan jadi agak susah.

IMG_6805-1eSIMG_6815-1eSIMG_6821-1eSIMG_6823-1eSIMG_6824-1eSIMG_6835-1eSIMG_6847-1eS

IMG_6858-1eS
Berusaha menjamah Buddha di dalam stupa tapi tidak berhasil. Ya sudah ngemil saja 😀

Entah sampai kapan Flipper akan stay dengan Buddha euphoria -nya ini. Semoga di lain waktu dia masih semangat untuk mendaki Borobudur, menikmati salah satu harta berharga Indonesia tanpa harus umpel-umpelan dengan orang lain. Atau mungkin suatu hari lagi dia bakalan mengalami mimpi yang lain lagi, yangg tak kalah menarik sehingga kami bisa mengunjungi tempat yang lain lagi? Yang mamanya juga belum pernah melihat? *ngarep.

Bagaimana dengan kamu? Apakah mimpimu spesial? Mungkin mimpimu selalu hitam-putih? Atau selalu ada mimpi yang sama yang datang secara berkala?

Winter Wonderland in Willingen

Weekend kemarin kami berlibur ke kota Willingen, sebuah kota yang terkenal dengan winter activity-nya. Hubby dan saya sudah beberapa kali ke kota ini tapi untuk Flipper, ini adalah kunjungan yang pertama kali. Selama ini kami selalu datang ke Willingen di saat musim dingin, ketika kangen dengan salju. Maklum kota tempat tinggal kami termasuk kota paling hangat di Jerman sehingga di musim dingin, meskipun dingin njekut seperti saat ini, salju datangnya cuman sauprit. Selama musim dingin kali ini, salju baru turun sekali di tempat kami itupun tak terlalu tebal dan tak tahan lama, hanya sehari lalu semua hilang lagi menjadi becek.

Dari kota kami sebenarnya jarak ke kota Willingen bisa ditempuh hanya 2,5 jam saja tapi karena hari Jumat kemarin macet total hingga, jadinya molor menjadi 4,5 jam. Salju yang turun lebat plus banyaknya kendaraan yang menuju Willingen menjadi biang kerok kemacetan ini. Oh iya saat macet itu Flipper sempat tantrum minta jajan, sedangkan jajan yang sudah saya siapkan di box sudah habis dicamilin sama dia. Alhasil sayapun musti keluar dari mobil mengambil Oreo di bagasi belakang. Melihat saya menenteng kemasan besar Oreo, pemilik mobil di  belakang kami mainin lampu, ngasih kode minta Oreo juga, sayapun dengan senang hati bagi-bagi Oreo juga ke mereka. Jadi ingat penjaja tahu goreng dan Aqua di jalanan di tanah air sana deh haha!

Berikut ini foto selama di perjalanan yang saya ambil dengan iPhone 6 dan Samsung S7 Edge  #takenfromacar (klik tiap foto untuk penampilan lebih jelas)

Kota Willingen sendiri memang ramenya hanya pada musim dingin saja dimana banyak turis datang untuk main ski. Meskipun tidak seterkenal ski resort di Alpen sana, di Willingen setiap tahunnya diadakan pertandingan ski-jumping yang diadakan oleh International Ski Federation. Saya sih tidak bisa main ski dan somehow tidak tertarik untuk belajar (takut jatuh, ha!). Seringnya hanya naik skilift menuju cafe di puncak gunung yang isinya rame dengan pengunjung ski lalu turun lagi setelah kenyang. Masih ingat deh saya waktu pertama kali naik skilift yang model terbuka gitu,  jari-jari tangan saya sampe freezing nggak bisa dipake motret meskipun sudah mengenakan sarung tangan. Padahal perjalanan dari bawah ke atas gunung itu nggak terlalu lama, around 15 menit saja, haha. Saat itu, tahun 2006 memang untuk pertama kalinya saya berhadapan dengan salju dalam hidup saya.

Selain naik turun di pegunungan ski tanpa ikutan ski, hiking  juga menjadi kegiatan favorit saya. Holiday house milik mertua ini ada di pinggiran kota, dari sini ada 3 jalan menuju pusat kota; melalui jalan raya normal atau jalur hiking lewat pegunungan di belakang rumah. Jalur hikingnya sendiri ada dua rute yang bisa ditempuh para pejalan kaki yaitu yang 1,5 sampai pusat kota atau agak memutar 3 km sampai sana. Kemarin ini sayangnya jalur yang 3 km tertutup salju tebal dan karena medannya tidak memungkinkan, tidak bisa dibuka jalurnya oleh mobil pengeruk salju yang banyak mondar-mandi di kota ini. Padahal pemandangan dari jalur 3 km ini lebih asyik. Tapi ya sudahlah, mengingat salju setinggi 40 cm, tebing-tebing yang tak kelihatan serta adanya toddler yang super aktif…mending kita lewat jalur pendek saja pulang-pergi.

Berikut ini foto-foto selama hiking:

2423

2437

2427

2448

Di foto ini holiday house kami hanya terlihat atapnya saja, di sebelah kanan agak bawah.

2440

Kami selama dua kali hiking kemarin selalu berangkat ke pusat kota jam 10 pagi, sesudah sarapan. Dengan toddler perjalanan 1,5km bisa ditempuh 2-3 jaman pake acara bangun snow man, lempar-lemparan salju, sekedar guling-gulingan di salju dan main perosotan dengan slide-nya.

img_5396-1s

img_5404-1s

img_5446-1s

Suhu yang berada di pusaran -5 sampai 3 derajat celcius saat itu tidak terasa dingin bagi kami karena selain mengenakan baju yang sesuai, kami  juga aktif bergerak. Yang ada malah keringatan. Cuaca memang perfect saat itu, meskipun matahari jarang keluar namun tidak ada angin. Sesudah jalan sih biasanya saya jadi lapar berat :D.

Sampai di pusat kota Willingen, kami window shopping sebentar lalu mencari makan siang di restoran atau sekedar makan kue dan ngupi di kafe. Setelah itu melanjutkan perjalanan pulang melalui jalur yang sama. Di bawah ini suasana kota Willingen yang berpenduduk sekitar 6.000 orang. Oh iya, di sini, meskipun termasuk ‘desa’ ada supermarket yang buka di hari Minggu. Something uncommon in Germany.

2468

2469

1091

img_4898esimg_4899es

Setelah sampai di penginapan lagi, si Flipper tidak bisa bertahan lama main di dalam rumah. Setelah main sebentar dan snacking lagi, dia lalu usrek minta mainan salju lagi di luar. Kamipun keluar lagi. Pokoknya 3 hari kemarin benar-benar hanya kami gunakan untuk berkecimpung dengan salju.

img_5004es
Nggak sabar pengen keluar rumah.

img_4930es
Mendaki tumpukan salju di depan penginapan.

img_5479-1s
Main di lapangan sepak bola yang tidak kelihatan lapangannya.

Senin sore kita balik ke rumah lagi. Sampai di rumah, suhu ternyata lebih rendah dari dataran tinggi Willingen. Uadem pol dan tidak ada salju. Untungnya matahari selalu bersinar cerah di sini jadi sama-sama asyik lah. Di sini tidak banyak orang yang suka salju. Kalau anak-anak sih pasti suka tapi kalau para dewasa biasanya suka mengeluh karena jalanan jadi macet, public transport banyak yang mengalami kendala dan orang yang tinggal di rumah berhalaman dan bertrotoat musti rajin-rajin ngerok salju di depan rumah mereka karena kalau sampai ada orang yang jatuh terpeleset di situ (pak pos misalnya), maka yang bertanggung-jawab adalah yang tinggal di situ.

Kamu yang tinggal di negara empat musim, lebih suka winter yang bagaimana?

Foto-foto di Willingen ynag lain bisa dilihat di Flickr saya ya 🙂

-beth-

Liburan praktis di Center Parcs

Beberapa minggu yang lalu dari tanggal 28 Oktober sampai 1 November, kami berlibur ke negara sebelah dan cari yang praktis-praktis saja yaitu di Center Parcs . Sebenarnya kami sudah diajakin oleh teman kami Sabrina dari beberapa bulan sebelumnya namun kami baru bisa booking dadakan karena menunggu  cuti  saya untuk tanggal 31 Oct.-nya  (hari Senin) disetujui oleh pak bos. Suami juga harus cuti tentunya, tapi dia sudah dapat persetujuan jauh-jauh hari sebelumnya.

Liburan di Center Parcs saya bilang praktis karena memang semuanya ada di sana, banyak kegiatan yang bisa dilakukan oleh segala usia dari bayi hingga kakek nenek. Memang sih orientasi orang ketika mendengar kata liburan adalah pergi   ke tempat yang jauh, yang belum pernah dikunjungi sebelumnya, yang pemandangannya indah atau yang kulturnya berbeda dengan kultur di mana kita tinggal, yang ada pantainya… Namun liburan bagi kita juga berarti take a break dari rutinitas sehari-hari, menepi agak jauh dari tempat tinggal sehari-hari sehingga tidak perlu mikir beberes, bayar listrik, colokan rusak, panci kotor, dll… Dan untuk itu 4 hari, 3 malam away dari rumah untuk menginap ke Center Parc Het Meerdal, yang tepatnya berada di desa America, kota Limburg, negara Belanda yang hanya berjarak 1 jam dari rumah kami sudahlah cukup (selain di sini, Center Parcs juga ada di 35 tempat lainnya yang tersebar di Eropa).

IMG_3113eS.jpg
Welcome to America!

AKOMODASI

Sialnya, karena booking-nya dadakan kami mendapat harga yang jauh lebih mahal dari  harga yang didapat Sabrina family  yang sudah booking dari beberapa bulan sebelumnya. Kebetulan hari Selasa tanggal 1 November adalah tanggal merah di Belanda dan Jerman sehingga pada hari Senin kejepitnya banyak yang libur dan mengunjungi Center Parcs, hargapun melonjak. Untuk bungalow yang kami sewa (rumah seluas 57m2 berisi 2 kamar tidur, dapur, ruang tamu, ruang makan, kamar mandi dan teras belakang), kami mendapat harga sekitar €400,- untuk 3 malam. Sabrina yang menyewa bungalow yang sama untuk waktu yang sama persis mendapat harga €200,-. Lumayan ya bedanya?

Oh iya, bungalow yang mau disewa di sini banyak  pilihannya ya, tidak hanya berdasarkan berapa isi kamar tidurnya namun juga fasilitasnya, misalnya yang ada dishwasher-nya, yang ada outdoor grill-nya, yang lebih luas dan modern, TV flat screen atau cembung, dll. Rumah yang kami ambil itu termasuk standard, bukan yang termurah tapi juga bukan yang luxury.

Center Parcs Het Meerdal dibangun pada tahun 1971, tak heran bila bangunan bungalow-bungalownya sudah terlihat tua, at least dari luar dan ini yang menganggu saya karena di bagian luar bungalow seperti di jalan setapak batu-batuan yang menyambungkan rumah ke jalan dan teras belakang penuh lumut dan tampak kusam. Saya kan anti lumut, jadi melihatnya gimana gitu… Tapi mungkin juga karena itu bulan November ya, saat musim gugur yang lumayan sudah dingin dan lembab. Kalau musim panas mungkin lumut-lumutnya hilang. Kalau dari dalam sih nggak terasa tuanya, ruangannya disusun sedemikian rupa dengan perapian dan juga dinding kaca di satu sisi yang membuat ruangan kaya cahaya matahari. Sangat cozy.

Market utama Center Parcs adalah family, tak heran bila fasilitas untuk anak kecilpun lengkap-kap. Di bungalow kami tersedia high chair, baby bed bahkan colokan listriknya pun ada pengamannya. Fasilitas di luar bungalowpun tak kalah banyak. Laufrad (sepeda tanpa pedal), sepeda anak atau kursi bayi buat sepedapun bisa disewa. Jalanan di dalam Center Parcs car free. Kita boleh membawa mobil masuk hanya untuk dropping barang-barang, setelahnya harus parkir di tempat yang ditentukan (yang lumayan jauh :D). Asyiknya di sini lingkungannya sangat hijau, sejauh mata memandang adalah pohon oak dan pinus yang menjulang tinggi dan juga banyak rusa berkeliaran dengan bebasnya. Jarak bungalow satu dengan yang lain tidak terlalu dekat sehingga privacy sangat terjaga.

img_3160es
Jalan aspal depan bungalow yang car free.
img_3196es
Bungalow yang kami tempati untuk 3 malam dengan deko Helloween dari Sabrina.
img_3226es
Pintu di sebelah mini kitchen itu adalah pintu ke kamar mandi.
img_3225es
Cozy room dengan perapian, TV dan dinding kaca. Pintu di sebelah kanan itu adalah pintu ke kamar anak.
img_3153es
Pemandangan dari dinding kaca dengan surprise guests di teras belakang.
 

KEGIATAN DI CENTER PARCS

Menurut saya liburan di Center Parcs enaknya pada saat cuaca sudah dingin, meskipun berlibur di musim panas juga pasti asyik tapi kan kalau summer enaknya main ke pantai atau di pegunungan tinggi (dan  pemandangan indah-indah seperti idealnya liburan yang saya tulis di atas tadi). Nah di saat mati gaya di musim dingin dan nggak niat untuk main seluncuran di salju, Center Parcs bisa menjadi alternatif. Di sini selain banyak outdoor activities seperti children safari, pony riding, cycling, walking, berenang di outdoor swimming pool atau di danau, tawaran kegiatan indoor-nya juga tak kalah menarik beberapa di antaranya Thermo indoor swimming pool, indoor water activities, bowling, mini golf, dll.

Sayangnya waktu itu kami tidak bisa berenang, karena Flipper mendadak pilek berat padahal saya bela-belain membeli bikini baru di sana karena lupa tidak membawa bikini dari rumah. Tapi tidak apa-apa, kami toh bisa jalan-jalan mengelilingi komplek Center Parcs semampunya. Ya semampunya saja karena komplek Center Parcs ini luas banget (yang sayang saya tidak bisa menemukan luas sebenarnya di website mereka), dan dengan Flipper pasti banyak acara berhentinya di sana-sini. Di resort ini taman bermain buat anak-anak hampir selalu ada di setiap sudut. Selain taman bermain, yang  tak bisa dilewatkan oleh Flipper adalah mini zoo yang isinya kambing, biri-biri, ayam, kelinci, hamster dan buruk merak. Di sini kami boleh masuk dan mengelus-elus binatangnya (kecuali si merak).

Tidak semua permainan di sini gratis tapi menurut saya harganya masih masuk akal. Misalnya di sini ada 2 trampolin outdoor dan 4 indoor, untuk main trampolin ini dikenakan biaya €1 untuk enam menit. Mahal memang. Tapi bayangkan, bila gratis, pasti Flipper nggak akan kebagian main trampolin karena berebutan dengan anak-anak yang sudah gede. Kami juga sempat menyewa perahu berpedal (apa sih itu namanya ya? Yang berbentuk bebek) untuk mengelilingi danau tapi saya takut sendiri karena Flipper pecicilan di atas perahu, jadinya nggak mau berlama-lama di atas air.

img_3112es
Flipper bermain di tepi danau.
img_3129es
Taip hari mengunjungi si kambing favoritnya di mini zoo.
img_4104aes
Keluar masuk tunnel mencari harta karun.
img_4150aes
Mengumpulkan jamur di hutan.

Di tengah-tengah Center Parcs terdapat Market Dome, di mana segala aktifitas indoor berada. Mulai dari pertokoan, resto, game house hingga thermal swimming pool. Selain harga makanan di restoran yang tergolong mahal, harga wifi di sini juga mahal, yaitu  €15/ day. Tapi siapa siiih yang butuh internet di saat liburan?  😉  Untungnya nih (orang Jawa pokoknya untung mulu), selama menginap kita mendapat akses internet gratis selama 30 menit tapi hanya berlaku bila kita berada di Market Dome. Selain itu, meskipun mahal, makanan di sana rasanya enak-enak. Kalau mau ngirit   bisa juga bawa bahan makanan dari rumah atau belanja di supermarket yang tersedia di sana trus masak sendiri. Oh iya di dalam supermarket situ banyak dijual makanan instant Indonesia lho, ada bapao, ayam kecap, nasi goreng, dll. Kita tinggal manasin aja di microwave yang tersedia di dapur rumah. Saya sih hanya mencoba bapao isi daging sapinya. Enyak. Sempet nyesel juga kenapa nggak beli banyak sekalian, buat simpenan di rumah.

img_3206es
View dari pancake restoran.
img_3208es
Salah satu sudut di Market Dome.
 

img_3200es
Fasilitas lapangan tenis.
img_3203es
Salah satu fasilitas bermain anak-anak indoor.
img_3221es
Kiri: Night club untuk segala umur. Kanan: indoor mini golf yang kalau kosong jadi arena panjat-panjatan.

Kegiatan kami selama empat hari relax sekali. Kalau di ‘liburan sesungguhnya’ biasanya kami mengatur jadwal untuk melihat daerah ini itu atau ikut kegiatan nyelam, tour, dll…di sini kami nggak punya target apa-apa, hanya relaxing, bermain, baca buku, jalan-jalan dan makan. Pada siang hari biasanya kami berpisah dengan Sabrina family. Sabrina, Peter suaminya dan anak kembar mereka Johan dan Johanna biasa menghabiskan siang di kolam renang. Pada malam harinya baru kita berkumpul bersama untuk makan malam di restoran tertentu.Oh iya untuk makan di estoran sebaiknya booking tempat dulu ya, atau makan di luar jam makan karena kalau pas dinner time mereka selalu penuh.

Pada hari Minggu malamnya, kami berkumpul bersama merayakan Helloween bareng-bareng. Saya sih bukan fans berat Helloween, apalagi hubby. Flipper dan anak-anaknya Sabrina yang berusia 5 tahun malah nggak paham apa itu Helloween tapi rupanya si emak Sabrina yang Helloween freak. Dia sudah well prepared dari rumah, membawa hiasan-hiasan gantung Hellowen untuk digantung di bungalow serta buku-buku ide sajian Hellowen, kita tinggal belanja bahannya dan baking ketika para suami membawa bocah main panjat-panjatan. Setelah dinner dengan Italian food delivery dari restoran , kitapun menikmati jajanan-jajanan serem Helloween. Ini bikinan saya yang laku keras hihi… Krius-krius rasanya.

img_3095s

Senin sore kami sudah berada di rumah lagi di Jerman. Kesimpulannya, kami semua feel relaxed, baterinya full lagi. Center Parcs cocok banget untuk short holiday bahkan untuk yang tight budget sekalipun. Triknya gampang, selalu pantau harga di website mereka. Kalau pas tidak ada tanggal merah harga di Center Parcs Het Merdaal harga dimulai dari €130/ 3 nights. Mau nginep less dari tiga malampun bisa, tergantung kebutuhan. Hitungan 3 nights itu standard mereka.

Dibandingkan dengan Tropical Island di Brandenburg Jerman, liburan di Center Parcs lebih kaya aktifitas dan lebih berasa alamnya, mungkin karena areanya yang jauh lebih luas. Perbandingannya mungkin, kalau Center Parcs adalah sebuah kelurahan, maka Tropical island hanyalah sebuah RT. Kalau di Tropical Island suhu di seluruh dome-nya adalah suhu summer, di Center Parcs-pun juga demikian, Market Domenya juga bersuhu summer, selebihnya suhu alam.

Buat yang punya anak-anak atau mau mangajak opa-oma, it’s really worth a visit. Apalagi Center Parcs lokasinya tersebar di mana-mana. Kalau tertarik, coba dilihat lokasi yang terdekat dengan kotamu.

IMG_4166aES.jpg
Fab autumn di hutannya Center Parcs.
IMG_3223eS.jpg
Yang nulis ikut nampang boleh yaa 😀