Good to be back here again, Mallorca – Part 1

Setelah delapan tahun, akhirnya awal Mei kemarin kita mengunjungi Mallorca lagi. Kalau dulu bareng temen-temen dan yang masuk agenda liburan di antaranya adalah party, kali ini, karena bareng Flipper, agenda party digantikan dengan mengunjungi taman bermain.

Mallorca adalah salah satu pulau di kepulauan Balearic, Spanyol. Buat orang Indonesia, pulau Ibiza yang berada di sebelahnya Mallorca mungkin lebih akrab di telinga (hint: Venga Boys “We’re Going to Ibiza”). Pada kunjungan kali ini, kita kembali mengadakan road trip mengelilingi pulau, karena hanya diam di satu kota di Mallorca adalah rugi besar. Sekedar gambaran, pulau Mallorca tidak semungil pulau Umang tapi juga tidak sebesar pulau Bali. Menurut MapFight, Pulau Bali lebih besar 1,59 kali pulau Mallorca. Karena kami sudah menjelajahi Mallorca bagian barat dan utara delapan tahun yang lalu, kali giliran bagian utara, timur dan selatan yang kami kunjungi.

Penerbangan dari Cologne ke ibu kotanya Mallorca, Palma De Mallorca Airport hanya 2 jam saja. Begitu mendarat, kami dijemput minibus yang membawa kami ke stasiun penyewaan mobil yang sudah kami booking sebelumnya. Setelah mendapat mobil, kamipun menuju kota pertama tujuan kami, Magaluf.

MAGALUF

Di Magaluf kami menginap di hotel yang punya amusent park yang kami pikir pasti menyenangkan buat Flipper, which was right. Tapi buat D dan saya… alamaak, kalau nggak sayang anak, meskipun sudah bayar kami rela lho pindah hotel karena berisik sekalii… Berisik dengan suara anak–anak sih sudah kami pertimbangkan tentunya, namun ini yang dewasapun tak kalah berisik.

Hotel yang kami pilih kali ini rupanya penuh dengan turis dari Inggris dan inilah yang membuat berbeda. Selama ini kalau berlibur biasanya kami selalu berada di daerah yang mayoritas turisnya orang warga negara campur-campur atau mayoritas turis Jerman. Kami tidak sengaja mencari yang seperti itu sih tapi dapatnya kebanyakan begitu, makanya saya sempat mikir orang Jerman tuh buset deh, ada di mana-mana. Kecuali di Magaluf di hotel kita tempati selama 4 malam. Dan tidak bermaksud untuk rasis, bedanya demikian:

  1. Di hotel, main language yang digunakan adalah Inggris dan Spanish yang bagi kami sebenarnya tidak bermasalah tapi buat Flipper agak susah karena crews di acara Mini Disco dan Kids Club-nya nggak ada yang bisa berbahasa Jerman sedangkan bahasa Inggrisnya Flipper standard saja, what’s your name, how wold are you, how are you, I am hungry, do you like banana, one two, three…  Selebihnya dia gak mudeng haha…
  2. Para orang tua dari negaranya pangeran Harry ini, terutama ibu-ibunya gemar sekali meneriaki anak-anaknya. Nggak semua pastinya tapi mayoritas. Ngomong baik-baik dan marah nggak ada bedanya, yang pasti ngomongnya kenceng. Mungkin mereka menganggap pendengaran anak-anak nggak setajam telinga mereka, Entahlah. Etapi di antara dewasapun ngomongnya juga kenceng. Mereka juga tidak mempertimbangkan tempat dan waktu dimana harus ngomong kenceng, di koridor kamar hotel jam 12 malem pun jadi. Atau di sebelah orang yang clearly sedang tidur di lounger di kolam renang sampai orangnya mencolot. Saya yang melihatnya antara prihatin dan pengen ketawa.
  3. Dibandingkan dengan orang Jerman yang kebanyakan langsing, ibu-ibu Inggris banyak yang overweight. Perlu perjuangan buat saya mencari sosok wanita Inggris yang normal, yang semok atau yang gemuk biasa. Postur para pria dan anak-anak serta remajanya sih biasa-biasa aja tapi yang ibu-ibunya, let say, yang di atas umur 20 tahun, kebanyakan size XXL.
  4. Mereka sangat memanjakan anak-anaknya dalam soal makanan. Saatnya makan (kami ambil paket half -board; breakfast dan dinner) di mana aneka sweets dan kue-kue disajikan sebagai makanan penutup, ibu-ibu ini memberikan sepiring Haribo atau setumpuk tart beraneka rasa ke anak-anaknya as main course. Saat makan churros  pun, instead of menggunakan wadah kecil-kecil yang sudah disediakan untuk celupan coklatnya, mereka  mengisi cangkir coffee latte yang tinggi itu dengan coklat, OMG. Dalam satu sisi saya maklum sih, si anak-anak pasti merengek pingin makan sweets dan si ortu pengen menikmati makannyanya tanpa rengekan ini itu, tapi sepiring penuh permen? Flipper juga merengek minta permen dan tentu saja saya kasih juga tapi syaratnya musti makan dulu. Setelah makan dia boleh milih 2 macam dessert aja and it worked well  meskipun kadang-kadang dia kelamaan mempertimbangkan dessert mana yang mau dia ambil hihi… Pernah nih, waktu saya ambil mini donat 1 biji buat Flipper, ada seorang ibu yang bilang ramah ke saya, “Eh kamu boleh ambil banyak lho, jangan malu-malu… “Atau mungkin prinsip mereka, mumpung all you can eat jadi ngambilnya banyak-banyak gitu kali ya?
  5. Kalau di Jerman area, kebanyakan anak-anak pake baju merek H&M, di sini banyak yang pake baju merek Inggris punya, Next. Bajunya Flipper jadi banyak yang nyamain. Yang ini point nggak penting deh 😀

 

1
Hotel kami di Magaluf. Untung tempat tidurnya nggak kebalik pulak 😀

Selama di Magaluf, tak banyak yang kami kunjungi karena kebanyakan Flipper dan papanya menghabiskan waktu di waterpark nya hotel atau di pantai. Saya mah kebanyakan jalan- jalan, (window) shopping karena lokasi hotel memang strategis, dekat pantai, dekat tempat party, dekat tempat makan dan pertokoan. Aldi dan fitness studiopun ada di sudut pengkolan. Setelah Flipper dan papanya main air, biasanya kami menghabiskan waktu bermain di amusement park nya hotel, dimana ada rumah kaca, mini golf, arena bermain dan berkarya, rumah kebalik, etc.

Pantai yang dekat dengan hotel namanya Playa Es Carregador dan  menurut saya tidak terlalu indah. Standard long, boring beach seperti Playa Palma de Mallorca. Tapi kami sempat menjelajahi pantai yang indah, di desa Portal Vells, yang hanya berjarak 9 km dari hotel. Nama pantainya Cala de Portals Vells. Mengapa cala dan bukan playa? Karena pantainya kecil, kalau playa panjang. Dan kami, seperti anak kecil dapat permen, kegirangan, mendapati pantai yang indah. Sementara Flipper dan papanya langsung ganti kostum berenang, sayapun (yang memang agak anti dengan air laut hihi…) mulai mengeksplorasi daerah sekitar dengan kamera. Setelah main air, Flipper dan D sempat tidur siang di pantai dan begitu mereka fit kembali, mereka ikut menemani saya melanjutkan eksplorasi di tebing-tebing sekitar.

Berikut ini foto-foto di Potals Vells:

23

2764s2752s

2749s
Flipper bisa menghabiskan waktu lama nih, lempar-lempar batu ke air.
2753s
Anak-anak di ujung kanan itu sedang meloncat ke air bergantian. Seru!

2757s

CALA D’OR

Setelah empat malam tinggal di Magaluf, pada hari kelima kami pindah ke kota Cala d’Or yang jaraknya 85 km dari Magaluf. Nama kota ini menggunakan kata cala mungkin karena di situ banyak pantai-pantai kecil. Ini perkiraan saya saja ya, tidak dari sumber yang bisa dipercaya. Kali ini, di Cala d’Or, kami menyewa apartment. D dan saya happy, akhirnya bisa menghabiskan waktu di tempat yang spacious dan tidak berisik seperti di hotel sebelumnya. Flipper sempat kecewa karena tidak ada fasilitas untuk anak-anak di hotel-apartment ini selain kolam renang anak. Jangankan amusement park, mini disco aja tidak ada tapi kemudian dia  tidak peduli lagi dengan itu karena setiap hari, setelah pergi ke pantai, sorenya  dia bisa main jumpalitan di arena bermain yang letaknya persis di belakang apartemen.

4
Huge bouncy castle di belakang apartemen kami. Itu mulut gajahnya bisa membuka-menutup.
999A0221EEs
Trampolin 3€ 10 menit.
999A0218EEs
Komplek apartemen kami.

Tempat-tempat yang kami kunjungi selama menginap di kota Cala d’Or lumayan banyak. Saya tulis yang saya ingat ya…

Pantai Cala Gran dan Cala Esmerelda

Kedua pantai ini bisa ditempuh 5 menit jalan kaki dari apartemen. Di Cala Gran, Flipper kenalan dengan anak sebaya dan selalu janjian ketemuan di sana untuk main bola dan main air bersama. Di Cala Gran juga saya sempet bertemu (tapi tidak kenalan) dengan dua pasangan muda dari Indonesia yang saya bisa kenali dari logat Suroboyoan-nya. Mbaknya-mbaknya sibuk selfie di sana-sini sedangkan mas-masnya cuman ngikutin doang sambil mencangklong tas Chanel-nya pasangan mereka. Kadang kedua cewek itu minta tolong si mas untuk motoin dan dua cowok ini harus bertikai duluan karena sama-sama nggak mau motoin. Komentarnya si D ke saya: glad you are not that worse! Hihi… Di bawah ini adalah foto-foto di Cala Gran:

5999A0095EEs999A0100EEs

Es Pontas

Es Pontas adalah highlight kami selama di Cala d’Or. Es Pontas  merupakan tebing batu besar melengkung yang terletak di kota Santanyi, di antara teluk Santanyi dan teluk Llombards. Tebing batu ini merupakan salah satu objek panjat tebing tersulit di dunia. Tak banyak yang bisa memanjat Es Pontas. So far hanya dua orang yang berhasil memanjat Es Pontas dari bagian lengkung dalamnya yaitu Chris Sharma (American) dan Jernej Kruder (Slovenian). Coba check video dimana Chris Sharma memanjat Es Pontas berikut ini, pasti ikut deg-degan deh lihatnya: See why Chris Sharma is one of the world’s best climbers as he searches for the hardest and most beautiful route in the world.

Saat menyusuri tepian berbatu di area Es Pontas, seorang polisi ganteng menyampiri kami, bertanya apakah kami melihat orang yang terluka kakinya dan mengalami kesulitan berjalan. Kami tidak melihatnya dan mas polisi itu mulai terlihat panik. Di belakang tampak beberapa polisi yang lain dan dari kejauhan kami mulai melihat beberapa safe guards dengan peralatannya lari kesana-kemari. Rupanya polisi menerima report bahwa seseorang terluka di sana dan tidak bisa berjalan dengan normal, posisi orang itu di pinggir tebing jadi karena orang itu tidak bisa dikontak lagi, dikuatirkan orang tersebut kecebur ke laut.

Lokasi area Es Pontas memang memungkinkan untuk tercebur bila orang tidak berhati-hati. Yang dipagari hanya spot-spot tertentu saja. Saya sendiri melihat dua sejoli dengan selfie stick mereka, yang melanggar warning sign untuk tidak terlalu dekat ke pinggir tebing karena dikuatirkan batunya longsor. Well, the power of social media.

2738s
Polisi yang panik mencari the missing man.
2739s
Area Es Pontas.
2732s
Tebing batu melengkung itu…

999A0159-1EEs

Karena di Es Pontas tidak ada pantainya dan akses ke air cukup jauh, sehingga tidak memungkinkan untuk lempar-lempar batu, Flipper nggak mau berlama-lama di sana. Kamipun kemudian melanjutkan perjalanan ke pantai terdekat, Playa S’Amarador.

Playa S’Amarador

Untuk menuju ke pantai ini kami harus naik mobil melalui jalan sempit yang kalau papasan dengan mobil lain, kedua mobil musti saling maju mundur dulu. Di pantai S’Amarador, tanpa diduga ternyata kami harus bayar parkir. Selama ini kami belum pernah bayar parkir lho. Parkir di pantai sini bayarnya 5€, waktunya bebas. Di dalam parkiran ternyata ada sign yang menyatakan bahwa uang parkir 5€ tersebut digunakan untuk menyantuni yayasan orang cacat.

Pantai S’Amarador menurut saya juga biasa saja. Pokoknya kalau namanya playa (dan bukan cala) itu bagi saya boring. Nggak ada tebing dan pohon-pohonnya. Yah, kan seperti yang sudah saya tulis di atas, saya bukan fans untuk berjemur atau main air laut. Saya lebih suka meneduh di bawah pohon atau muter-muterin daerah sekitar pantai. Jadi selama Flipper dan D mainan air, saya kemulan di pasir sambil baca buku saja. Selama liburan 15 hari ini saya berhasil menghabiskan 3 novel hihi…

Eh ternyata nih, pas kita mau pulang, baru sadar bahwa sebelum memasuki arena pantai, ada kawasan hutan cagar alam. Kamipun masuk situ dan tentunya asyik sekali meneduh sesudah kepanasan di pantai.

6
Di cagar alam dekat pantai S’Amarador.

Sanctuary De Sant Salvador

Santuari De Sant Salvador adalah sebuah monastery yang dibangun pada tahun 1348 dan berada di 509 meter di atas ketinggian laut. Untuk pergi kesini jalannya lumayan naik dan berliku-liku seperti jepit rambut. Selain sempit, berliku-liku dan naik turun, kami harus berbagi jalan dengan para biker, baik yang solo maupun yang rombongan panjang. Salut deh buat para biker ini, perjuangan banget pasti naik ke Sant Salvador.

Begitu sampai ke atas, kitapun dijamu dengan pemandangan indah kota Felanitx. Nggak rugi deh sport jantung naik ke sini. Oh iya, di puncak sini ada restorannya jadi nggak perlu panik kalau bekalnya habis. Area piknik juga disediakan di beberapa sudut.

2693s2691s2696s2699s

2690s
Flipper nemu kucing di puncak Sant Salvador.

7

8
Awan cantik bergelantungan, nggak tahan kalau nggak foto 😀

Okay deh segini dulu ya ceritanya, kalau kepanjangan nanti bosan. Laporan tempat-tempat cantik lainnya saya tulis di bagian dua nanti deh.

Happy weekend!

-beth-

Advertisements

Berlin Trip bersama Mbak Yurop dan STING

Sekitar empat atau tiga bulan yang lalu saya mendapat email notification dari Eventim, sebuah portal yang menjual segala tiket hiburan di lebih dari 21 negara, bahwa penyanyi kesukaan saya STING akan mengadakan konser di Berlin pada tanggal 1 Agustus 2016. Sayapun langsung mengajak suami untuk pergi ke Berlin menemani saya nonton Sting. Ya ‘menemani’ saja karena dia memang bukan fansnya Sting. Namun rupanya dia sendiri sudah ada rencana untuk ke musik festival yang berlangsung 3 hari di luar kota, seminggu sesudah konsernya Sting. Untuk festival itu mah dia tidak perlu menawari saya mau ikut atau tidak karena selain  festival yang didatanginya selalu festival yang musiknya bukan selera saya, saya juga nggak sanggup lebih dari sehari nggak mandi dan trauma menggunakan toilet Dixie yang isinya sudah hampir penuh. Etapi kalau festivalnya Coachella, Tomorrowland atau Summer Jam saya mau kali ye ikutan… Balik ke soal konser Sting,  akhirnya diputuskan bahwa saya pergi sendiri ke Berlin sementara D ambil cuti untuk menemani Flipper. Seminggu kemudian gantian dia yang having his ‘me time’ di music festival.

Lalu saya pikir-pikir, pergi ke Berlin sendirian dan hang out sendirian di Berlin sih nggak masalah buat saya. Saya pernah tinggal di Berlin dan hapal liki-liku Berlin. Tapi nonton konser sendirian kok sepertinya nggak asyik ya… Maka sayapun mulai mengiming-imingi beberapa teman termasuk teman-teman di Mbakyurop* untuk ikutan nonton Sting. Alhamdulillah Anggi, Deny dan mba Dian tertarik untuk ikutan ke Berlin -meskipun sayangnya tidak tertarik untuk ikut nonton Sting. Ya sudahlah, yang penting ke Berlin dulu, soal Sting gampang, yang penting tiket sudah di tangan. Selain Anggi, Deny dan mba Dian,  Mia dan Mindy yang kebetulan juga sedang berlibur bersama keluarga ke Berlin juga menyempatkan bertemu kita-kita. Tadinya sih saya sudah siap-siap, kalau tidak ada temannya, hanya akan stay sehari di Berlin tapi karena kali ini rame-rame jadinya stay diperpanjang menjadi 3 malam 4 hari deh and it was a really great days in Berlin with the girls.

⊕ PENGINAPAN ⊕

Sebelum berangkat, kira-kira sebulan sebelum hari-H, kami mulai efektif rembukan tentang Berlin trip via WhatsApp.  Karena konser Sting jatuh pada hari Senin, 1 Agustus, kami sepakat untuk berada di Berlin dari tanggal 30 Juli (Jumat) sampai 2 Agustus (Selasa). Kami berempat, Anggi, Deny dan mba Dian menginap di sebuah apartment di daerah shopping terkenal di Berlin, yaitu Ku’damm. Apartment AMC yang kami sewa sangatlah nyaman meskipun berada di tengah kota namun di tepi jalanan yang sepi. Tidak ada fasilitas atau interior yang istimewa di sana namun semuanya bersih dan memenuhi standard. Lokasi apartment juga tidak jauh dari halte bus dan stasiun kereta. Dan yang paling penting, dekat dengan cafe bubble tea yang selalu uyel-uyelan pengunjungnya. Pokoknya strategis sekali deh.

Untuk urunan hotel kami hanya membayar €81, per person selama 3 malam itu. Murmer deh pokoknya. Itulah enaknya kalau trip rame-rame. Apartment kami terdiri dari dua double beds, satu set meja makan, kitchen set lengkap dengan peralatannya, lemari baju besar berikut setrikaan bahkan payungpun juga disediakan. Kamar mandinya  cukup besar meskipun tidak ada bath tub-nya. Cleaning service datang tiap hari kecuali hari Minggu namun dia hanya membersihkan, lantai, kamar mandi dan tempat tidur. Dapur dan meja makan tidak disentuh sama dia. Lumayan lah…biasanya  short term-apartment malah tidak menyediakan cleaning service sama sekali, hanya ngasih sapu dan vacuum cleaner saja.

IMG_0339.jpg
Kamar mandi dan lemari gedenya ada di sisi kiri, tidak kelihatan di foto.

Mia tidak ikut menginap, dia datang ke Berlin pada Minggu pagi dan balik lagi ke Hannover sore harinya. Mindy dan keluarga menginap di rumah temannya dan Mindy gabung dengan kita pada hari Seninnya, tlisipan deh dengan Mia.

Deny dan saya sampai di Berlin pada Sabtu sore jadi kami berdua sempat jalan-jalan duluan di sekitar hotel sambil melihat acara night run yang kebetulan diadakan di dekat hotel. Deny langsung gatal kakinya, ingin ikutan lari.

IMG_3537aeS.jpg
Selain lari-lari beneran, di NIght Run ini ada kompetisi inliner juga.

Malam hari sekitar jam 21 malam, datanglah Anggi yang kemudian disusul mbak Dian. Seneng deh akhirnya bisa ketemuan mereka berdua. Kalau Deny mah kami sudah beberapa kali bertemu. Kami tidur larut malam itu, biasalah ladies, ngobrol ngalor ngidul dulu 😀

Minggu pagi sekitar jam 8, datanglah Mia ke apartment kami. Saya dulu sempat ketemu Mia waktu meet-up di bakery dalam rangka Frankfurt Book Fair, tapi saat itu ketemunya hanya sak nyuk-an dan  tidak sempat ngobrol sama sekali. Eh kemarin ketemu Mia lagi, yay! Mia orangnya mungil, imut dan kalau bicara halus seperti Deny.

Acara kami hari itu adalah pergi ke Menara Teufelsberg. Jam 10 kami cabut dari apartment dan naik kereta dari stasiun Zoologischer Garten menuju stasiun Heerstr. Untungnya sebelum naik kereta kami sempat membeli bekal dulu (di apartment memang tidak ada service breakfast) karena di stasiun Heerstr. tidak ada kios sama sekali dan kami masih harus jalan kaki jauh menuju MenaraTeufelsberg.

⊕ MENARA TEUFELSBERG ⊕

Keluar dari stasiun Heerstr. kami melihat tanda menuju Teufelsberg masih sekitar 1100 m, melewati jalan aspal. Namun pada kenyataannya jaraknya lebih dari itu. Ketika sudah lewat dari 1km, mulai kebingungan, tidak melihat tanda-tanda lebih lanjut. Sempat bertanya kepada tiga orang; yang pertama tidak tahu sama sekali, yang kedua seorang ibu-ibu dan anak remajanya yang mau menuju ke menara juga namun tidak tahu juga di mana letak menara sebenarnya. Beliau malah mengajak kita potong kompas lewat hutan. Kami sempat tergoda karena sudah jalan jauh tetap tidak ada tanda-tanda, tapi kalau masuk hutan tersesat ya lebih gawat lagi. Barulah ketika bertanya pada bapak-bapak yang sedang jogging, kami mendapat pencerahan.

Untuk masuk komplek menara Teufelsberg kami dikenakan biaya €7/ person dan diskon kalau punya kartu pelajar seperti Mia. Mungkin terbiasa dengan kehidupan di Eropa yang semuanya serba rapi dan terawat, kami agak tak yakin melihat bangunan ticketing yang morat-marit serta  bapak-bapak pakai kaus oblong yang melayani penjualan tiket. Dalam hati saya sempat berpikir, ini  official apa preman? Eh tapi ini Berlin ding…dimana bangunan tua dan ruin memang banyak ‘berserakan’ di segala sudut Berlin, terutama di daerah bekas Jerman Timur dulu.

Setelah membayar tiket  tanpa mendapat lembaran tiket, kami harus menandatangani disclaimer yang isinya bila terjadi apa-apa dengan diri kita, pihak Teufelsberg tidak akan menanggung. Mengapa harus menandatangani pernyataan seperti itu, karena seperti halnya bangunan ticketing di depan, bangunan menara mata-mata Teufelsberg ini tidak lagi 100% utuh dan terdapat lokasi-lokasi yang berbahaya bila kita tidak hati-hati.

Jadi Menara Teufelsberg ini adalah sebuah menara untuk nguping atau mencuri dengar milik milik NSA (National Security Agency) Amerika, yang saat itu bekerja sama dengan Inggris Inggris, untuk mata-matai kegiatan Uni Soviet. Menara ini dibangun di atas bukit Teufelsberg (Bukit Setan), sebuah bukit buatan manusia setinggi 120 m di atas laut. Dinamakan bukit setan karena mengikuti nama danau di dekatnya, yaitu danau Teufelsee atau danau setan. Mengapa danau setan? Entahlah. Yang jelas bukit Teufelsberg ini dibuat untuk menutupi akademi teknik kemiliteran milik Nazi yang saking kuatnya tidak bisa dihancurkan saat perang dunia kedua berakhir. Jadi akademi tersebut ditimbun dengan puing-puing bekas perang bercampur tanah.

Menara Teufelsberg sebelumnya tidak terbuka untuk umum dan dijaga ketat oleh security namun seiring waktu menara ini mulai dibuka untuk umum. Setelah dulunya dibuka hanya pada hari Minggu dengan guided tour, kini dibuka setiap hari dengan atau tanpa guide. Dengan guide harga tiketnya  €15,00 dan guide-nya adalah orang Amerika mantan karyawan di menara NSA tersebut.

2327

2358

Begitu kami memasuki area abandonen building complex tersebut, kami semua langsung terpesona dengan segala puing-puing cantik di sana. Bagaimana tidak cantik, meskipun keadaannya sudah berantakan namun kehadiran para seniman yang ikut mengelola tempat ini menjadikan tempat ini benar-benar artsy. Di halaman komplek itu terdapat banyak properti cantik yang tidak pada tempatnya, misalnya mesin jahit antik di tengah taman. Atau bath tub dan sofa tua di semak-semak belukar yang langsung menjadi lokasi foto kami.

IMG_3629ae.jpg
Searah jarum jam: saya (baju hijau), Anggi, Mia, Mba Dian dan Deny.
IMG_0438ee.jpg
Mia bergaya di samping meja dan entah apa itu yang terbuat dari mesin jahit.
IMG_3600a.JPG
Properti rongsokan yang disusun sedemikian rupa sepertinya memang sengaja disediakan untuk penggemar foto seperti kami dan juga dua cowok ini yang akhirnya malah menjadi model dadakan kami.

Setelah puas menjelajahi halaman menara, kamipun memasuki gedung utama yang terdiri dari tiga lantai. Di atap gedung inilah terdapat menara dan kubah putih. Namun sebelum sampai ke atap, kami disuguhi mural-mural  yang luar biasa artistik di segala sudut ruangan. Gambar seorang perempuan yang memasukkan jari tengahnya ke mulut mencuri perhatian saya karena benar-benar seperti sebuah foto, di mana pandangan matanya selalu mengikuti ke mana saja saya pergi.  Tak heran bila si mbak itu paling banyak mencuri perhatian pengunjung. Seluruh ruangan dari lantai satu hingga lantai tiga penuh dengan mural. Tidak ada space yang kosong sama sekali.

2333s
Si mas ini sedang mengagumi gelang mbaknya yang berkilau-kilau seperti logam beneran.
2334s
Deny khusyu dengan kameranya.
IMG_3566ae
Angipun memanfaatkan sofa yang disiapkan di sana.
IMG_0580e
Mbak Dian semangat dari lantai ke lantai.
IMG_0493e
Maunya sih gajah ini saya bawa pulang untuk si Flipper 😀

Kami sempat bersyukur tidak mengambil guide untuk masuk sini karena bisa dipastikan guide-nya bakalan bosen nungguin kita foto-fotoan. Dan secara itu bukan private guide, pengunjung yang lainpun pasti akan sebel dengan kita. Saking lamanya menikmati mural-mural di sini, saya sampai kelaparan dan membuka bungkusan makan siang di sini. Bungkusan isi roti, bukan nasi.

Kemudian ketika akhirnya kita sampai di  di atap lantai 3, pemandangan yang kami dapati tak kalah breathtaking, menara 5 lantai dengan kubah putih di atasnya, dua kubah putih tanpa menara dan tentu saja pemandangan kota Berlin yang tampak hijau dari atas sana. Sayangnya tak seorangpun dari kami berlima mau naik ke menara. Kami semua mendadak takut ketinggian melihat keadaan menara yang tidak lengkap dan hanya dilindungi dengan kawat tebal di tepi-tepinya. Namun tanpa naik ke menarapun, suasana di atap sana sudah sangat menyenangkan. Perjalanan jauh kami tak sia-sia. Kalau saja saya masih lama di Berlin, pasti saya menghabiskan sehari penuh hanya berada di sana.

2343s
Berlin TV Tower pun terlihat dari sini.
2346s
Dua kubah tanpa menara.
2352s
Menara Teufelsberg.

 

byAnggiDSC01516e.jpg
Saya sedang beraksi di dalam kubah.
2357s
Model dadakan kita memanfaatkan bathtub yang dipajang di sana.

 

IMG_0586eeS.jpg
Pose lagi sebelum keluar dari Teufelsberg. Mbak Dian tidak kelihatan karena dia yang motret.

Ada yang seru ketika kami keluar dari Teufelsberg, mau balik ke kota. Serunya gimana, coba mampir ke blog Deny deh…Dia yang cerita 😀

Dari Teufelsberg, tujuan kami berikutnya adalah Restoran Nusantara di jalan Turmstr. untuk late lunch. Restoran dengan harga warung ini adalah langganan saya ketika tinggal di Berlin. Menu favorit saya di sana sebenarnya adalah lontong sayur tapi kali ini ingin makan yang lain, mi ayam bakso yang ternyata enak juga. Dessert yang saya pesan es teler durian dong… Mak nyus juga tapi tidak se-spektakuler es teler durian di Resto Si Des Den Haag. Anggi, Deny, mba Dian dan Mia puas semua dengan menu yang dipesan mereka. Alhamdulillah, saya yang ngajak-ngajakin mereka ke Berlin ikut senang bila para tamu senang. Hihi… Sok jadi host padahal tinggalnya sudah tidak di Berlin lagi.

Setelah puas recharge energi di Resto Indonesia, Mia kembali ke Hannover dan sisanya, kami berempat loncat ke kereta menuju stasiun Hackescher Markt untuk menghabiskan sore di daerah Museuminsel (Museum Island). Mengapa disebut Museuminsel, karena di daerah ini berkumpul beberapa museum penting di Berlin, yaitu: Altes Museum, Neues Museum, Alte Nationalgalerie, Bode Museum, dan Pergamon Museum. Selain museum-museum tersebut, kalau agak mlipir dikit terdapatlah Neue Synagoge dengan bangunan emasnya di jalan Oranienburgerstr, Humboldt-Box Museum serta  Berliner Dom atau Berlin Cathedral, sebuah gereja Evangelic yang dibangun pada tahun 1451. Di sini kami sempat leyeh-leyeh sebentar sebelum diguyur hujan.

selonjoran
Leyeh-leyeh di depan Berliner Dom.

 

⊕ HARI KEDUA ⊕

Hari berikutnya, jam 10 pagi Anggi, Deny dan mbak Dian ikutan program free walking tour yang meeting point-nya di Brandenburger Tor. Mindy saat itu sudah di Berlin jadi Mindy dan saya ketemu duluan di mall terbaru di Berlin yaitu Mal of Berlin. Jangan salah, kita nggak niat mau shopping di sini tapi mau moto-moto. Jadi ceritanya selama ini saya sering melihat foto sebuah mall Berlin yang keren spot-nya di Instagram dan saya suka banget melihatnya, sebuah bangunan mall modern dengan view bangunan tua Bundesrat. Dan akhirnya sayapun bisa kesana, memotretnya sendiri. Ini nih fotonya…

2366

Keren kan? Setelah jepret-jepret di situ, Mindy dan saya ngupi-ngupi bentar sambil jalan-jalan di daerah situ menghabiskan waktu karena pada jam makan siang kami akan bertemu dengan trio yang ikutan tour tadi di Warung Mabuhay.  Jangan salah, meskipun namanya Mabuhay ini bukan warung Filipina tapi warung Indonesia lho. Namanya begitu karena dulunya warung ini memang milik orang Filipina yang diambil alih orang Indonesia. Berbeda dengan Restoran Nusantara yang memang bergaya restoran (meskipun sederhana, menurut saya), Mabuhay ini benar-benar warung atau Imbiss kalau orang Jerman bilang, yang space-nya kecil dan tidak ada hiasan neko-neko di warungnya.

Kami makan seperti preman, rame, rebutan dan gogot. Gogot apa ya bahasa Indonesianya? Makan banyak membabi buta begitu deh 😂 Selain memang lapar berat, menu yang ditawarkan Mabuhay memang menggiurkan semua dan rasanya memang top. Tidak rugi kita menunggu lama untuk dapat tempat duduk karena pada jam makan siang memang warung itu penuh dengan orang kantoran yang makan siang di situ.

dianunspecified10.jpg
Di Warung Mabuhay. Yang sebelah kiri adalah Mindy.

Setelah makan siang, masih dengan obrolan tentang enaknya makan siang tadi, kami lanjut naik kereta ke Regierungsviertel. Regierungsviertel adalah daerah di mana kantor-kantor penting pemerintahan Jerman ada di sini semua. Dari gedung parlemen (Reichstag), kantornya Angele Merkel hingga menteri-menterinya.

anggiDSC01648s
Di depan Reichstag, gedung parlemen Jerman.

Sayangnya di sini Mindy dan saya tidak bisa lama-lama. Mindy ada janjian dengan temannya dan saya harus bergegas ke konsernya Sting.

⊕ KONSER STING ⊕

Ini sebenarnya alasan utama saya ke Berlin. Nonton Sting. Dan saya happy sekali Anggi, Deny, mba Dian mau ikutan gabung. Bahkan Mia dan Mindypun nyempetin ketemu kita-kita. Many thanks girls!

Jadi setelah tanya sana-sini tentang siapa yang nonton Sting, seorang teman Instagram yang tinggal di Berlin mengenalkan saya dengan sepupunya yang mau nonton Sting juga malam itu. Setelah telpun-telpunan kamipun sepakat bertemu pada jam 17.30 di entrance amphitheatre Waldbuehne (Wald: hutan. Buehne: panggung), tempat konser musik paling asoy yang pernah saya datangi. Waktu saya tinggal di Berlin, saya sempat beberapa kali nonton musik di sini. Karena open air, dia hanya berfungsi ketika musim panas saja. Berbeda dengan tempat-tempat konser yang biasa, untuk memasuki panggung open air ini, begitu keluar dari stasiun kereta kita musti melewati perkebunan orang dulu.

IMG_0882s.jpg
Berjalan beriringan menuju Waldbuehne.

Sore itu saya datang tepat jam 17.30 dan ternyata di entrance sudah ada dua antrian panjang untuk memasuki Waldbuehne. Sayapun  menelpun Susanna, ‘date‘ saya malam itu, menanyakan keberadaannya. Rupanya dia malah masih di kota, belum on the way ke lokasi karena saling tunggu-tungguan dengan teman yang lain. Kita akan telpun-telpunan lagi nanti bila sudah di dalam. Alhasil sayapun ngantri sendirian. Agak ingah-ingih juga sih secara yang lain pada ngobrol dengan teman-temannya, tapi cuek ajalah. Konsernya sendiri mulai pada jam 19.30.

Malam itu ada pengecekan security yang lebih ketat dari biasanya karena sebelumnya ada kejadian serangan bom di sebuah festival musik di kota Ansbach, Bayern oleh IS simpatisan. Oleh karena itu pula, saya yang selama di Berlin hanya membawa koper troli dan tas ransel, harus beli tas cangklong baru karena di last minute email notification disebutkan bahkan tas ransel tidak diperbolehkan sedangkan saya kalau tanpa membawa tas ya kelabakan juga mau naruh dompet, handphone dan jas hujan secara cuaca saat itu memang punya chance untuk hujan.

Setelah akhirnya lolos dari pengecekan security dan pengecekan tiket, sayapun melenggang  menuruni tangga-tangga open air Waldbuehne. Langit saat itu setengah biru dan setengah abu-abu. Alhamdulillah saya dipinjami jaket kulit oleh Anggi karena saya terlalu percaya diri akan langit yang selalu cerah di Berlin, hanya membawa jaket tipis dari rumah.

IMG_0883es.jpg
Waldbuehne dibangun pada tahun 1934 dan bisa mengakomodasi 22.000 orang.
IMG_0908s.jpg
Ketika sudah penuh.

Di sini saya makan malam Brezel yang dijual oleh mas-mas yang keliling naik turun tangga. Secara tidak ada yang jualan minuman hangat, yasud, minumnya cukup air putih saja. Saya sempat pindah-pindah tempat duduk mencari lokasi yang strategis dan ketika sudah mendapat tempat yang benar-benar nyaman, tiba-tiba Susanna menelpon, mengatakan bahwa dia sudah di dalam, berada di standing area dan saya disuruh nyusul. Merasa sudah nyaman dengan tempat saya duduk, sayapun menolak turun. Berdasarkan pengalaman, di Waldbuehne memang tidak ada kategori tempat duduk dan nomor-nomoran. Semua bebas mau duduk dimana. Tempat duduk yang nyaman di sini menurut saya adalah yang bisa melihat panggung dari depan, atau serong dikit juga tidak apa-apa dan dekat dengan toilet. Maklum saya orangnya beser 😀

IMG_0891.jpg
Otw ke toilet. Toilet di Waldbuehne sangat bersih (ada yang jaga dan bersihin) dan ruangannya banyak jadi jarang ada antrian panjang.

Jam 19.30 lebih dikit keluarlah penyanyi pembuka yaitu Joe Sumner, anak sulungnya Sting dari istri pertama. Joe, wajah dan suaranya mirip sekali dengan Sting. Bedanya hanya dua: Sting lebih tua dan Sting lebih ganteng. Karena Joe inilah saya jadi ‘berteman’ dengan penonton di sebelah kiri dan kanan saya. Di sebelah kiri saya adalah dua orang wanita berusia 60 something sedangkan di kanan saya adalah suami istri, 50 something. Saya sempat mendengar bahwa mereka rasan-rasan tentang Joe yang ‘kok mirip sekali dengan Sting ya?’. Saya yang kebetulan tahupun sok akrab menjelaskan kepada mereka kalau Joe memang anaknya Sting. Wah beneran abis itu saya jadi nggak cengoh lagi nonton musik sendirian, ada ‘teman’ yang diajakin ngobrol dan joget bareng. Dua oma di sebelah kiri heboh banget kalau joget, saya mah kalah. Sedangkan suami istri di samping kanan, si suami ternyata pernah main ke Indonesia dan berkeliling dari Sabang sampai Merauke, jadilah kita seru ngobrol. Senang deh saya malam itu, ternyata nonton konser sendirian is absolutley fine.

Joe menulis lagu untuk anak perempuannya berjudul Jely Bean dan diapun mengenalkan anaknya ke atas panggung ketika dia menyayikan lagu itu. So sweet! Bikin saya tambah kangen dengan Flipper karena anaknya Joe umurnya sama dengan Flipper. Waktu penampilan Sting pun, penonton bisa melihat Joe dan anaknya menari-nari di belakang panggung. Kadang si anak menunggu dengan manis di tangga kalau papanya harus jadi backing vocal kakeknya. Sweet, very sweet family. Love it!

Setelah kira-kira 45 menit, Sting pun muncul di panggung dengan lagu pembukaan dari The Police ‘Every Little Thing She Does is Magic’. Semua penontonpun langsung berdiri dan bergoyang. Konser Sting sangat menghibur sekali dan penontonnyapun meskipun kebanyakan berusia di atas 50 (kalau dilihat dari segi wajah dan penampilan lho ya), semuanya tidak hanya duduk anteng mendengarkan musik. Semuanya mau heboh. Salut!

Penampilan Panggung konser Sting sendiri sangatlah sederhana. Hanya ada panggung standardnya Walbuehne tanpa dihias apa-apa kecuali dua layar lebar di kanan kiri panggung. Sekedar background bertuliskan Sting-pun tidak ada. So modest, membuat saya otomatis membandingkannya dengan konser U2 di Frankfurt beberapa tahun lalu yang panggungnya super heboh. Jangankan U2, konser Maroon 5 aja tata panggungnya lebih rame dari pada Sting.

39963_458227586356_4829150_n.jpg
Konser U2 2010
IMG_0917e.jpg
Konser Sting 2016

Tapi siapa yang mau mempermasalahkan tata panggung selama musiknya asoy? Saya sih hanya memberi berbandingan nggak penting saja. U2 concert was super dan tanpa tata panggung berlebihanpun saya yakin penampilan mereka akan tetap super. Stingpun tak kalah super dan bila dia mau repot dengan tata panggung aneh-aneh, pasti tak akan mengurangi kualitas musik dia.

Saya sudah berada di apartment lagi sekitar jam 23.30 dan langsung dikerjai oleh Anggi, Deny dan mbak Dian untuk foto-fotoan OOTD, kostum nonton Sting. Harusnya sih ya, foto-fotoanny sebelum nonton, bukan sesudahnyaa…Ini modelnya udah kucel kalau difoto tengah malam begini >.<

IMG_0930e.jpg
OOTD: Top: Superdry/ Jeans: Levi’s/ Shoes: Nike/ Jacket: Punya Anggi/ Tas: Beli dadakan/ Photographer: Mbak Dian/ Lighting: Anggi’s phone/ Model: Kecapekan

Keesokan harianyapun kami sudah harus berpisah, kembali ke keluarga masing-masing. Anggi ke Edinburgh, Deny ke Den Haag, mbak Dian nginep dulu semalam di rumah temannya lalu balik Salzburg dan saya yang sudah kangen berat dengan Flipper, ke Cologne. 3 hari di Berlin rasanya kurang banget deh! Semoga next time masih ada kesempatan untuk ikutan girl trip lagi ya teman-teman. Senang sekali bisa bertemu kalian, saling bercerita dan sharing hal-hal positif. Sudah kangen lagi nih saya hiks…<3

 

*Mbakyurop merupakan kumpulan ibu-ibu dan mbak-mbak Instagrammer yang rajin ikutan kompetisi yang diadakan oleh @Uploadkompakan. Hashtag yang digunakan di Instagram adalah #mbakyurop

**Foto-foto Berlin trip kami ada di Instagram dengan hashtag #mbakyuropdiberlin

***Foto-foto dari saya yang lain bisa dilihat di album Berlin Flickr saya

Short trip ke kota kecil Monschau.

2300s.jpg

2305s.jpg

Saya tahu tentang kota Monschau untuk pertama kalinya di sebuah film di televisi tapi karena film fiksi ya nama kotanyapun fiksi (maaf judul filmnyapun lupa, pokoknya film Jerman deh… ). Waktu itu saya sudah tertarik dengan kota tersebut. Setelah baca blognya Deny yang ini baru ngeh bahwa ternyata kota yang di film itu namanya Monschau dan kebih mengejutkan lagi, letaknya hanya satu jam-an dari rumah kami.

Pas memperlihatkan blognya Deny ke suami, dia malah bilang: eh ini kan kotanya nggak jauh dari sini. Lho la iya, kenapa saya nggak pernah diajak ke sana? Nggak kepikiran, katanya. Iya, biasanya mata kita memang lebih sering melihat yang  jauh-jauh, yang dekat-dekat malah terlupakan atau kalaupun ingat pasti ditunda-tunda dengan alasan ‘ah dekat ini, nanti saja belakangan’. Tapi kali ini kami tidak mau menunda untuk pergi ke Monschau, keesokan harinya, di sebuah hari Minggu di bulan Mei (iya, ini #latepost), kamipun pergi ke Monschau.

Monschau adalah sebuah kota kecil yang terletak di distrik Aachen Jerman yang tak jauh dari perbatasan negara Belgia dan Belanda. Ciri khas kota ini adalah rumah-rumahnya yang bergaya ‘half-timbered houses’ yang hampir tidak berubah gayanya dari 300 tahun yang lalu. Kebanyakan bangunan unik ini dijadikan pertokoan yang tetap buka di hari Minggu dan juga untuk penginapan.

2292s

2301s

2306s

2312s

 

Mengelilingi kota Monschau tidak akan memakan waktu lama karena memang kotanya kecil. Untuk pengunjung, terdapat beberapa tempat parkir luas sebelum memasuki kota tersebut. Anak-anakpun bisa berlarian bebas di sepanjang jalan berbatu karena memang tidak ada kendaraan yang berlalu-lalang kecuali sepeda dan kendaraan bermotor milik penghuni di sana yang sangat mengutamakan pejalan kaki. Oh iya, ada juga kereta wisata yang lewat. Tarifnya kereta ini €6,00/ person. Mahal menurutku. Apalagi bila dibandingkan dengan kereta wisata di kota Arco Italy yang tarifnya hanya €2 mengelilingi kota tua yang lebih besar dari Monschau selama 30 menit.

2310s

2287s
Sebuah gubuk di pinggir sungai. Entah ada penghuninya atau tidak.
IMG_3061-1e
Flipper bergaya di depan rumah orang.

Foto-foto kota Monschau yang lain bisa dilihat di. FLickr saya.

Road Trip with Flipper – Mengunjungi Danau Garda di Bagian Utara.

Dari Province Venezia, tujuan kami berikutnya yang juga merupakan tujuan terakhir road trip kami adalah danau Garda. Danau Garda adalah danau terbesar di Italia yang panjang dan lebarnya 56,1 km x 16, 7 km dengan luas permukaan keseluruhannya bila kita mengelilingi danau adalah 370 km persegi. Saking luasnya kami jadi memiliki banyak pilihan untuk menginap di sisi danau yang mana. Sebelum road trip beberapa teman yang sudah pernah mengunjungi danau Garda menyarankan supaya memilih daerah di bagian utara karena pemandangan pegunungannya yang lebih bagus dan lebih bersih dari pada di bagian selatan. D pun memutuskan untuk menginap 4 hari di kota Arco, Trentino yang tidak jauh dari kota Riva Del Garda di mana danau Garda berada.

garda map

Kami berangkat sekitar jam 10 siang dari Cavallino namun karena kemacetan yang luar biasa ketika memasuki daerah Arco, perjalanan yang harusnya menempuh 3 jam jadi molor menjadi 4 jam. Karena sudah kelaparan, kami memutuskan untuk mampir dulu di pusat kota Arco sebelum ke penginapan. Sampai di pusat kota Arco, kami celingak-celinguk merasa salah kostum. Bagaimana tidak? Hampir semua orang yang ada di sana dari anak-anak sampai kakek nenek semua berpakaian sporty. Rupanya Arco memang terkenal sebagai tempat untuk outdoor activities. Water sport, cycling dan panjat tebing merupakan olah raga favorit di sana. Tak heran bila banyak orang berbaju ketat bersliweran. Baju ketat buat sepedaan itu lhoo…

2225s
Pemandangan pertama ketika kami baru parkir di pusat kota Arco. Baju ketat.
2227s
Church Collegiata Dell Assunta Arco.
2232s
Ruin dari Arco Castle dilihat dari pusat kota Arco.
2244s
Sarca River, Arco. Itu yang kecil pakai topi merah si Flipper.
2242s
Sarca River, Arco. Sungai ini mengalir ke danau Garda.

By the way mencari makan di daerah ini (dan konon di Italy pada umumnya) pada jam 2-an siang itu susah-susah gampang. Kabanyakan yang buka hanya snack cafe yang menjual bruschetta atau crackers yang dikasih dip macam-macam. Fine restaurant bahkan yang ‘hanya’ menjual pasta dan pizzapun hanya buka di jam makan malam. Mac Donald nggak ada di sini (apalagi nasi goreng). Suami yang terbiasa tidak makan siang cukup puas dengan crackers-nya, Flipper dan saya tidak puas hanya dengan bruschetta dan minta tambah ice cream.

Setelah makan kamipun menuju hotel secara si Flipper sudah nggak sabar ingin main air dan karena kami belum paham dengan medannya danau Garda, D mengusulkan untuk main air di kolam hotel dulu. Kali ini D memilih penginapan yang bertema agricultural. Hotel Maso Le 4 Stagioni merupakan agricultural private hotel yang dikelola oleh suami istri petani yang memiliki vineyard, ladang apel dan ladang pohon zaitun. Mereka juga memproduksi hasil-hasil pertanian mereka sendiri menjadi jus apel, selai apel dan minyak zaitun. Sayangnya kami tidak sempat mengunjungi tempat pengolahan tersebut meskipun Daniela, si pemilik hotel bakalan dengan senang hati menunjukkannya kepada kami. Vineyard saat itu juga belum berbuah jadi harapan untuk memetik anggur langsung dari pohonnya tidak terlaksana.

Hotel kami berada di sebuah bukit dengan jalan yang berliku-liku sempit yang agak problematis bila berpapasan dengan kendaraan lain atau bila sedang ada konvoi sepeda di depan. Tapi begitu sampai hotel, sambutan Daniela, yang super ramah membuat kami langsung merasa nyaman di hotel tersebut. Si Flipperpun langsung nyemplung di kolam renang organic-nya hotel dan main panjatan di taman bermainnya. Kami menghabiskan sore itu di hotel saja. Berikut ini beberapa pemandangan di dalam dan di luar hotel.

flipper main air
Flipper, slowly but sure masuk ke air >.<
2248s
Pemandangan dari halaman hotel.
2249s
Pemandangan dari halaman hotel. Danau Gardapun terlihat dari sini.
2251s
Si penunggu taman hotel.

Keesokan harinya, setelah sarapan kamipun siap menjelajahi danau Garda. Perjalanan naik mobil dari hotel ke kota Riva di mana danau Garda berada hanya 10 menit. Parkir di sana cukup luas, mudah dan juga murah. Kami langsung jatuh cinta pada pandangan pertama dengan danau Garda. Tikar piknik kotak-kotakpun segera digelar di pantainya. Air masih sangat dingin saat itu jadi Flipper pun tak ada niat untuk nyemplung. Dia cukup puas berjam-jam melempar kerikil ke danau dan kamipun puas berjam-jam mengawasinya sambil menikmati pemandangan indah di depan kami.

IMG_8545eS
Flipper yang selalu penuh energi ketika berada di dekat air.

2252s.jpg

2268s

2271s

2274s

2275s

Sejak jumpa pertama dengan danau Garda, kami memutuskan untuk pergi ke sana setiap hari dari pagi hingga sore. Sebelum jam 12 siang kita gunakan waktu dengan rebahan di pantainya. Kalau tahan dengan dinginnya air, bolehlah mainan air dikit-dikit. Tapi bila sudah di atas jam 12, angin yang kencang membuat air di pantainya berombak tinggi seperti di laut, orang-orangpun meringsut menjauh dari air dan kami menggunakan waktu ini dengan mencari snack di kota tuanya Riva atau menemani Flipper bermain di Spielplatz (taman bermain anak).

IMG_8354eS
Mengumpulkan kerikil yang tepat untuk dilempar ke air.
IMG_8364eS.jpg
Salah satu taman bermain di area danau Garda.

Ketika panas tidak lagi menyengat, kamipun kembali menelusuri danau yang diakhiri dengan jalan-jalan  ke old town-nya kota Riva Del Garda sambil mencari makan malam. Pada malam pertama menginap di Arco, kami mengambil makan malam di hotel. Daniela dan Ricardo, suaminya, sangat pintar memasak. waktu itu mereka membuat makanan khas daerah Trentino, yaitu Carne Salada, berupa irisan daing sapi tipis yang diasinkan selama seminggu lalu dibakar sebentar sebelum dihidangkan. Buset deh enaknya masih terbayang sampai sekarang. Saya bahkan sempat browsing dan mencoba resep ini di rumah, namun meskipun rasanya juga enak tapi tak seenak buatan Daniela dan Ricardo. Mungkin karena saya tidak memiliki mesin pengiris daging, jadi daging saya agak ketebalan. #alasan .

Kenapa kami hanya sekali saja makan di hotel meskipun menunya enak adalah karena jam makan malamnya terlalu larut buat kami yaitu pukul 19.30. Bukan itu saja, karena menunya merupakan 3 courses food yang fresh made, penyajiannya juga menjadi lama, apalagi Daniela selalu entertain para tamunya di setiap jeda courses, jadi lebih lama lagi. Daniela ini, unlike suaminya yang super kalem, sangatlah rame dan lucu. Flipper senang sekali kalau berada di dekat Daniela. Daniela belum mengucapkan sepatah katapun, Flipper sudah ngakak duluan. Makanya bila dia guyon di waktunya dinner, suasana jadi rame dan makananpun jadi lama datangnya karena yang masak melawak dulu 😀

IMG_8482eS
Daniela dan si piccolino bambina-nya 😀

Dinner pertama di kota Arco usai pada pukul 22.30. Untung Flipper sempat ketiduran di mobil siangnya jadi dia agak tahan bangun sampai malam sambil sesekali keluar ke halaman bermain di Spielplatz. Restoran di Arco maupun di Riva sebenarnya juga tidak ada yang buka sebelum jam 19.00. Tapi paling tidak kita bisa memesan satu menu saja dan langsung pulang tanpa entertainment dan basa-basi.

Sayangnya kami hanya sebentar berlibur di sini. Banyak kegiatan yang bisa dilakukan bersama toddler di sana dan di Riva Del Garda tentunya, mulai dari hiking, bersepeda atau berkesenian. Sepeda dan peralatan hiking bisa disewa di sana, lengkap untuk anak dan dewasa mulai dari 3 tahun ke atas. Kalau anaknya lebih kecil, tinggal dimasukkan ke bike trailer yang bisa disewa juga. Pada kunjungan pertama kami ini, danau Garda begitu memukau kami sehingga kami tidak ingin jauh-jauh darinya. Cieh romantis… D yang memang jago bersepeda dan pernah bersepeda dari  Scotland ke Jerman ini, langsung berjanji bahwa dia akan kembali ke sini lagi sambil mengangkut sepedanya. Flipper dan mamanya ikut doong 😀

2236s
Riva Del Garda old town.
2238s
RIva Del Garda old town.
2235s
Riva Del Garda old town.

More photos on my Flickr.

Road Trip with Flipper – Venice

Dari Bled Slovenia, perjalanan kami berlanjut ke Italy. Meskipun tujuan pertama kali di Italy adalah berkunjung ke Venesia (Venezia, Venice, Venedig), namun kami menginap di luar kotanya yaitu di Cavallino-Treporti dengan pertimbangan  ongkos harian yang mahal hanya untuk parkir mobil di luar kota Venesia. Ya di Venesia kita tidak bisa membawa mobil karena tidak ada jalannya. D kali ini memilih sebuah camping village, CaBerton yang letaknya tidak jauh dari port penyeberangan ke Venesia. Selain itu Ca’Berton juga memiliki pantai dan children animation, pas banget untuk Flipper.

Cavallino map
Kota Cavallino-Treporti dengan outline merah.

 Di Ca’Berton Camping Village

Meskipun namanya camping, bukan berarti kami musti gelar tenda di sini. Ca’Berton Camping Village menyediakan beberapa bungalow dan caravan dengan berbagai ukuran yang sudah dilengkapi dengan kitchen set beserta perlengkapannya termasuk kulkas, tempat tidur bahkan AC dan heater. Kami hanya perlu membawa sprei dan handuk sendiri tapi bila lupa atau malas bisa juga menyewa di sana. Kami menginap di Ca’Berton selama tiga hari di sebuah maxi caravan, caravan terbesar yang ada di sana, yang bisa memuat 6 orang. Secara kita hanya 2 1/2 orang jadinya caravan yang yang sebenarnya segalanya serba terbatas ini jadi terasa lumayan lebar juga.

caravan
Little but comfy, our nest for 3 days in Ca’Berton Camping Village.
caravan2.jpg
Flipper mengajak bersepeda keliling kampung.

Secara belum high season, maka keadaan di Ca’Berton lumayan sepi. Di satu sisi hal ini menguntungkan kami, selain harga menginap yang 60% lebih murah, suasana di sana juga tidak terlalu ramai, di samping kanan kiri kami masih banyak caravan yang kosong. Tak bisa dibayangkan ramainya di saat summer karena letak caravan dan bungalow yang berdekatan satu sama lain. Namun tidak enaknya juga ada, children animation programs yang di Ca’Berton ternyata belum aktif di bulan Mei, jadi Flipper tidak bisa beraksi di mini disco tapi alhamdulillah fasilitas taman bermain indoor dan outdoor bisa dipakai kapan saja. Selain itu, restaurant dan toko-toko yang ada di sana belum buka semuanya, hanya satu resto, satu supermarket dan satu toko kelontong yang waktu itu sudah buka. Oh dan satu gelato (es krim) cafe juga sudah buka, itu yang penting 😀

Di Venesia

Pada hari kedua di Cavallino-Treporti, tepat pada hari ulang tahun D, setelah ritual ulang tahun, kami berkunjung ke Venesia. Perjalanan dari Ca’Berton ke port Punto Sabbioni bisa ditempuh kurang dari 10 menit dengan mobil. Kalau tidak ada mobil, halte bus menuju Punto Sabbiano berada tak jauh dari Ca’Berton. Saya tidak tahu berapa ongkos naik bis ke port, namun biaya parkir di port hanya €5 untuk 12 jam, sangat murah bila dibandingkan dengan parkir harian bila kita menginapnya  di Venesia dan parkirnya di luar Venesia yang berharga sekitar €40/ hari.

IMG_2628-2eS
Port Punto Sabbioni.

Harga tiket boat dari Punto Sabbioni ke Venesia adalah €7,50/ person dengan penyeberangan yang  memakan waktu 3o menit. Begitu kami mendarat di port Venesia, saya terkaget-kaget melihat banyaknya lautan manusia sejauh mata memandang. Saya pikir waktu itu, okelah ini pasti orang-orang yang baru saja turun dari boat dan langsung berpusat di lapangan utama yaitu St. Mark Square, di tempat lain pasti tidak sepadat ini keadaannya. Ternyata saya salah, hampir di semua sudut Venesia penuh manusia. Jalan ke sana kemari pasti saling bersenggolan dengan orang lain. Kios-kios kecil yang menjual souvenir juga banyak bertebar di setiap sudut kota. Banyaknya turis yang memenuhi segala penjuru Venesia membuat saya tidak bisa sepenuhnya menikmati kunjungan kami. Baru mendongak sebentar, ingin mengagumi arsitektur gothic-nya Venesia yang cantik eh kesenggol orang ke kanan kiri. Mau motretpun tidak tidak bisa leluasa mengambil sudut pengambilan.

Niat dari awal ingin masuk ke salah satu museum atau gereja, lupakan saja…di mana-mana antrinya sepanjang jalan kenangan. Selain too touristy, kesan kotor juga tak bisa dihindari dari Venesia. Ya, sayangnya Venesia tidak seromantis seperti yang saya lihat di foto-foto dan film. Saya merasa kasihan dengan penduduk lokal di sana, semoga sih mereka tidak merasa keberatan dengan launtan manusia yang menginjak bumi mereka di segala musim.  Mungkin mereka harus meniru Mallorca, Spanyol yang mulai menerapkan aturan macam-macam untuk mengurangi kedatangan turis ke pulau cantik mereka.

Namun, meskipun tidak sesuai harapan, Vanesia tetap memiliki inner beauty dan kami sudah berada di sana, maka kamipun harus menikmatinya dan mensyukurinya. Ngomel dan ngeluh tidak ada gunanya. Semangat! Yay! Flipper yang paling bahagia dalam kunjungan ini karena air ada di mana-mana, tapi papa dan mamanya harus terus pacu jantung deg-degan melihat anaknya selalu mendekati air, takut kecebur. Saking penasaranannya dengan cebur mencebur, ketika sudah berada di caravan lagi, saya sempatkan untuk browsing tentang kasus orang tenggelam di Venesia. Tidak banyak yang saya temukan kecuali beberapa berita yang menyebutkan bahwa pemerintah Italy menyimpan rapat kasus orang tenggelam di Venesia.

kolase 2s
Flipper langsung pecicilan begitu turun dari boat.

Saat Flipper sibuk melempat kerikil ke kanal-kanal dan papanya sibuk mengawasinya, sayapun sibuk jepret sana-sini. Kebanyakan foto saya adalah gaya #lookup karena menghindari wajah-wajah turis. Foto selfie di jembatan juga sebuah kewajiban ketika berada di Venesia maka selfie stick seharga €5,00 (aslinya €10,00) pun dibeli. Suami tidak bisa diharapkan untuk memotret, karena selain dia harus mengawasi Flipper, he’s not so keen doing #instahubby 😂 . Selain jalan-jalan mengitari kota, kami juga tak melewatkan kesempatan untuk naik water taxi, mengelilingi Venesia dari Grand Canal. Naik gondola tidak masuk ke budget kami karena harganya yang mahil, €80,00 di siang hari dan €100,00 di malam hari. Water taxi yang harganya hanya €7,00 ini adalah boat yang berhenti di tiap-tiap halte dan juga selalu penuh dengan turis dan penduduk lokal. Satu lagi yang membuat kami betah berlama-lama di Venesia adalah es krimnya yang enak. Kami beberapa kali mengadakan break untuk menikmati es krim. Btw hati-hati ya turis, di salah satu gelato parlor, meskipun sudah jelas-jelas kami menunjuk gambar es krim 1 scoop yg harganya €2,00 dan juga benar-benar dikasih es 1 scoop not less dan not more, tapi kami harus bayar €4,00/ scoop which was total €12 for 3 scoops. Why on earth? Mbaknya menjawab dengan bahasa Italy yang tidak kami mengerti. Entah apa gunanya gambar es dan harganya yang terpampang besar-besar di depan parlor-nya.

2212s
Water taxi di Grand Canal.

2219s

Setelah sekitar 6 jam berada di Venesia, kamipun kembali ke tempat camping kami di Ca’Berton yang nyaman dan selonjoran di pantai sambil menikmati es krim (lagi) dari gelato terdekat yang tak kalah enaknya dari es krim di Venesia. Dengan harga yang jauh lebih murah pula. Harga-harga di pertokoan di camping village ini memang termasuk normal, dari roti, makanan restoran hingga barang kelontong harganya tidak berbeda dengan harga supermarket di tempat umum.

Kegiatan kami lainnya selama di Cavallino adalah berkunjung ke kota sebelah, yaitu Lido Di Jeselo. Kota ini terkenal sebagai tujuan pariwisata pantai dengan hotel-hotel sepanjang pantai dan pusat perbelanjaan yang mengingatkan saya kepada Kuta Bali. Bedanya, di Lido Di Jesolo dan Italy pada umumnya, pada jam 12 siang sampai jam 3 sore (bahkan ada yang sampai jam 4), toko-toko banyak yang tutup. Restoranpun hanya sedikit yang buka pada siang hari. Saya baru tahu, ternyata di Italy pun ada siesta seperti di Spanyol.

2221s
Pusat kota Jeselo.
2224s
Pantai di Lido Di Jeselo.

Begitulah trip kami di Venesia dan sekitarnya. It was nice to visit Venice tapi sepertinya tidak perlu diulang. Seperti biasa, foto-foto Venesia ada di Flickr saya ya… dan trip selanjutnya masih di Italy juga tapi lokasi kali ini berbeda sekali dengan Venesia, much better! 💕

Kota Tua Al Qusayr, Mesir

Menyambung  cerita dari postingan saya sebelumnya, sebenarnya banyak tour-tour yang ditawarkan di resort selain diving dan snorkling tour, di antaranya  adalah safari desert yang saat itu tidak dianjurkan oleh pihak hotel karena faktor keamanan. Lalu ada tour ke kota bersejarah Luxor atau ke Kairo, mengunjungi Pyramid yang sayangnya harus ditempuh dengan pesawat dan harus menginap, terlalu jauh dari lokasi kami. Pyramid dan Luxor insyaallah akan selalu ada di sana dan kami masih bisa mengunjunginya di lain waktu tanpa harus menginap di tempat yang jauh. Saat itu kami hanya mengambil tour yang jaraknya tidak terlalu jauh dari resort, ke kota tua Al Qusayr yang jaraknya sekitar 70km dari Resta Grand Resort.

Kami naik minibus bersama 5 tamu resort yang lain, dua orang dari Belanda dan tiga orang dari Finlandia. Tidak banyak yang bisa saya lihat dari perjalanan antara resort dan Al Qusayr. Sejauh mata memandang hanya padang pasir. Setelah kira-kira 15 menit perjalanan, tiba-tiba saya melihat ada beberapa spots di mana terlihat susunan pohon palem yang berjajar membentuk pagar, memagari area padang pasir yang luas. Sopir yang mengantar kami menjelaskan bahwa di daerah itu akan dibangun hotel dan sebelum hotel berdiri, pohon palem harus sudah ditanam bertahun-tahun sebelumnya untuk membiasakan tanah (baca: pasir) di lokasi dan juga karena menumbuhkan pohon palem itu memakan waktu lama meskipun tidak ditanam dari bibit. Pohon-pohon tersebut diambil dari pinggiran sungai Nil, di mana mereka banyak tumbuh dengan subur. Ketika saya bertanya, sudah berapa lama pohon-pohon itu ada di sana dan kapan hotelnya akan dibangun, Ahmed, si sopir hanya mengangkat bahu. Yah, dengan keadaan pariwisata di Mesir yang sedang memburuk seperti ini rasanya memang tak perlu terburu-buru membangun hotel di sini.

gereja1
On the way to Al Qusayr.

Setelah hampir satu jam naik minibus kamipun tiba di kota tua Al Qusayr. Seorang penduduk lokal yang rupanya bertugas menjadi guide menyambut kami dan mengajak kami berjalan kaki berkeliling kota. Kota ini terlihat jauh berbeda dari yang saya bayangkan sebelumnya. Kota tua yang saya bayangkan adalah kota dengan reruntuhan bangunan-bangunan purbakala seperti di filmnya Indiana Jones sedangkan yang saya lihat adalah kota kecil dengan bangunan yang relatif modern. Beberapa bangunan terlihat memiliki AC namun semuanya kumuh dan berdebu.

Hampir semua bangunan berwarna kuning kecoklatan dan ciri khas bangunan di sana adalah balkonnya yang menjorok keluar. Jalanan di kota ini tidak beraspal atau berbatu, semuanya berpasir jadi bisa dimaklumi bila debu di mana-mana. Beberapa mobil tua tampak bersliweran dan beberapa tampak terbengkelai dengan keadaan tidak utuh di pinggir jalan.

2081s2085s2092s

2103s
Bangunan bertingkat sering didapati di Al Qusayr dimana beberapa generasi dalam sebuah keluarga hidup bersama di dalamnya.

2106s

2107s
Rumah dengan gambar Ka’bah-nya artinya pemiliknya sudah pernah menunaikan ibadah haji.

Setelah menyusuri gang-gang kecil, Pak Hassan, nama guide kami, mengajak kami ke salah satu masjid. Kota Al Qusayr secara keseluruhan berpenduduk 20.000 dan di bagian kota tuanya sendiri hanya 6.000 penduduk. Di kota tua ini berdiri 27 masjid dan sebuah gereja. Masjid yang kami kunjungi, dari segi bangunan, bagi saya sebenarnya tidak terlalu istimewa. Masjid ini mirip seperti mesjid di perumahan di mana orang tua saya tinggal di Jogjakarta dan menurut Pak Hassan, masjid ini adalah bangunan masjid terbaru di kota ini. Ketika saya bertanya mengapa kita tidak pergi mengunjungi masjid yang paling tua, Pak Hassan mengatakan bahwa pada saat itu sedang ada kegiatan pengajian rutin sesudah Asyar sehingga tidak terbuka untuk turis.

Saat itu memang sekitar pukul empat sore dan sepanjang perjalanan di Al Qusayr, tidak banyak aktifitas yang terlihat di kota ini. Saya melihat beberapa toko yang menjual souvenirs, sebuah toko baju anak-anak, sebuah salon dan sebuah toko kelontong yang semuanya tutup. Saya sempat mengintip ke dalam toko kelontong dari jendela kacanya, sepertinya bila toko itu bukapun, tak akan banyak orang yang mau datang karena dari bangunan sampai isinya, semuanya terlihat sangat kotor dan berdebu. Sesekali saya menjumpai anak-anak yang bermain di luar dan sedikit pria yang lalu lalang. Tidak ada wajah perempuan. Pak Hassan mengatakan, para perempuan sedang berada di dalam rumah menyiapkan makan malam untuk keluarga.

Setelah mengunjungi masjid, Pak Hamid mengajak kami berjalan menyusuri pantai menuju ke gereja Virgin Mary. Penganut agama Islam dan Katolik hidup berdampingan dengan rukun di Al Qusayr. Pak Hassan yang seorang muslim bercerita bahwa orang-orang muslim di sini senang sekali bila hari Minggu tiba, di mana saatnya para penganut agama Katolik pergi ke gereja. Orang-orang yang akan pergi ke gereja selalu mengenakan pakaian terbagus mereka, berdandan semaksimal mungkin, seperti mau datang ke pesta dan itu membuat pemandangan di Al Qusayr bertambah indah, demikian menurut Pak Hassan. Mengingatkan saya pada gereja Katolik di Kota Baru, Jogja yang pada hari Minggu penuh dengan orang-orang dengan penampilan terbaik mereka. Bahkan teman-teman kuliah saya yang biasanya kalau kuliah berlomba untuk terlihat paling nyentrik dengan baju kebalik, rambut dikucir 10 dan bahkan tidak mandi (ya, saya dulu kuliah di ISI tapi tidak pernah nyentrik lho :D), tapi bila saatnya ke gereja tiba-tiba memakai gaun dan sepatu mengkilap 🙂

Dalam perjalanan menuju ke gereja tersebut Pak Hassan bercerita bahwa di Al Qusayr dulu sempat ada pertambangan fosfat milik perusahaan dari Italia yang beroperasi di sini. Perusahaan itu menjadi jantung kehidupan di kota ini sejak tahun 1916 dan  hampir semua penduduk Al Qusayr bekerja di perusahaan tersebut. Namun sejak lima tahun yang lalu, perusahaan ini menghentikan operasinya di Al Qusayr dan sejak itulah generasi muda Al Qusayr mulai meninggalkan kota mereka mencari pencaharian di kota lain. Al Qusayr-pun terbengkelai bersama generasi tua dan anak-anaknya. Pariwisata Al Qusayr yang tadinya juga lumayan banyak dikunjungi turis-turis dari Italiapun berlahan turun pamornya. Satu-satunya hotel di sini, yang dibangun oleh dermawan asal Swedia sekarang menjadi museum hotel yang bisa dikunjungi masyarakat umum hanya untuk melihat-lihat.

Gereja Virgin Mary yang tadinya bernama St. Barbara dibangun oleh perusahaan penambang fosfat tersebut, tak heran bila letaknyapun di bagian belakang komplek besar perusahaan. Ketika kami memasuki komplek perusahaan, bangunan pertama yang saya lihat adalah sebuah bangunan megah yang tadinya menjadi tempat tinggal bos perusahaan. Sebuah rumah impian saya; berada di tepi pantai dengan teras dan balkon yang besar serta kebun. Tapi kalau saya masih boleh bermimpi lagi, akan lebih sempurna bila rumah ini berada di Mallorca, Spanyol dan bukan di tanah gersang Al Qusayr yang hanya menerima hujan sekali dalam 10-12 tahun.

Kami terus berjalan menyusuri halaman yang berdebu dengan beberapa bangunan kosong di kanan kiri kami. Di sinilah dulu terdapat aktifitas mengelolaan fosfat. Gedung-gedung berwarna kuning tersebut mengalami rusak di sana sini namun secara keseluruhan masih tampak kokoh. Pak Hassan mengatakan bahwa ada isyu yang beredar bahwa orang-orang Italia akan kembali ke Al Qusayr untuk mengaktifkan kembali penambangan ini. Semoga isyu itu benar dan kota Al Qusayr akan kembali hidup.

2115s2109s2112s2111s

2108s
Bangunan-bangunan yang terbengkelai di komplek perusahaan penambangan fosfat.
Arsitektur gereja Virgin Mary tampak biasa saja dari depan, namun begitu saya memasukinya, sayapun ternganga. Inilah bangunan tercantik yang saya lihat selama di Mesir. Gereja yang dibangun pada tahun 1920 ini memiliki satu altar dengan Noah arcs-nya yang antik. Beberapa ikon tokoh dari Italia tampak tergambar di interior gereja yang dihias dengan kerang. Mozaik di jendela-jendela gereja merupakan contoh dari kehebatan kesenian Italia.

Keluar dari gereja, tanpa sadar waktu tour kami sudah hampir habis. Pak Hassan mengajak kami ke tokonya dan menyuguhi kami dengan teh hangat. Beliau memiliki toko souvenirs yang sebenarnya lumayan besar namun sayangnya tidak terlalu terawat. Semua barangnya berdebu bahkan ada beberapa yang rusak. Kami menyempatkan untuk membeli sebuah selimut kecil untuk Flipper. Oh ya, di Mesir kita bisa berbelanja dengan beberapa mata uang; Pound Mesir, USD dan Euro.

Hari sudah gelap ketika mobil penjemput kami tiba. Dan tiba-tiba saja kota yang tadinya tampak mati mendadak hidup. Semua orang; lelaki, perempuan, anak-anak keluar rumah. Toko-toko membuka gerainya, cahaya lampu warna-warni menyilaukan mata dan suara sepeda motor maupun mobil tua terdengar membisingkan. Pak Hassan berkata bahwa memang begitulah rutinitas di kota ini setiap hari. Siang hari kebanyakan orang berada di dalam rumah, anak-anak langsung mengerjakan PR sepulang sekolah dan begitu usai shollat Maghrib, semuanya ke luar rumah, bersosialisasi atau bekerja di toko. Pantas saja tour yang ditawarkan untuk ke kota ini ada yang jam mulai dari 20.00 sampai jam 22.00. Kami memilih tour yang siang hari karena faktor anak kecil, si Flipper. Tapi saya tidak menyesal karena bila datang malam hari pasti tak banyak yang bisa saya foto. Entahlah apa saya akan kembali lagi ke kota ini atau bahkan ke Marsa Alam, yang pasti doa saya untuk kota tua Al Qusayr: semoga perusahaan penambangan fosfat kembali aktif di sini, di kota yang memiliki pelabuhan kecil yang cantik. Amiin… Foto-foto Al Qusayr yang lain bisa dilihat di Flickr saya.

papanmilaS
Flipper dan papanya di pantai Al Qusayr.

Visa ke Mesir

Sebagai pemegang paspor hijau Indonesia, pasti banyak cerita dong tentang betapa ribetnya apply visa ke negara-negara lain. Saya selama ini sudah pernah mengunjungi 14 negara, kebanyakan negara Schengen jadi tidak perlu apply visa karena saat ini saya tinggal di Jerman. Dari 14 negara tersebut, negara-negara wajib visa yang saya kunjungi adalah (note: tingkat kesulitan terendah adalah 1 dan tersulit 5):

  • Jerman (2005-2007), apply langsung di Jerman embassy di Jakarta. Tingkat kesulitan  4 – Sekarang sih udah nggak mikir soal visa karena sudah permanent resident di Jerman, tapi dulu waktu masih jaman kunjung pacar, haduh ribet banget urusannya. Apalagi yang visa kumpul keluarga sesudah menikah. Eeek!
  • United Kingdom (2007), apply langsung di The UK Visa Application Centres Düsseldorf. Tingkat kesulitan: 4 – Berkas-berkas yang dilampirkan banyak banget, informasi di websitenya waktu itu tidak jelas dan telephone hotline-nya tidak gratis. Kalau tidak dikasih tahu teman bahwa visa untuk istri/suami dari seorang warga negara Eropa itu gratis, saya pasti kena charge 90 Pound karena di websitenya tidak ada keterangan tentang itu.
  • Ireland (2007), apply langsung di Ireland Consulate di Bergisch-Gladbach. Tingkat kesulitan 2 – Lucu deh visa dari mereka hanya ditulis tangan dan nggak perlu nempel foto 😀

    ireland-visa
    Visa ke Irlandia
  • Turki (2015), apply e-visa. Tingkat kesulitan:1 – Hanya mengisi form di website mereka, bayar online, beres. Visa dikirim per-mail atau bisa langsung diprint.

Nah yang terakhir nih, yang baru saja saya urus adalah visa ke Mesir. Untuk tahun baru besok suami memutuskan untuk merayakan tahun baru di tempat yang hangat dan setelah browsing negara hangat, Mesir dijadikan pilihan. Pilihan pertamanya sih sebenarnya ke Indonesia tapi sayang sangunya kurang dan waktunya terbatas pula.

Begitu suami memutuskan bahwa liburan kita kali ini ke Mesir, hal pertama yang saya check adalah, apakah saya perlu visa. Jawabnya ya dan BUKAN visa on arrival. Selanjutnya saya check di manakah kedutaan atau konsulat Mesir itu? yang paling dekat dengan rumah adalah di Frankfurt. Duh, males banget ke Frankfurt yang jauhnya 200 km dari rumah kami. Sayapun memutuskan untuk memakai jasa agen pembuatan visa. OK, kata suami. Diapun lalu mulai booking hotel, pesawat dan tetek bengeknya. Paid. Beres.

Nah, pas lagi milih-milih mau pakai agen yang mana, barulah teliti membaca persayaratan visa ke Mesir (ketahuan deh, sebelumnya bacanya nggak teliti). Ternyata untuk WNI (meskipun tinggal di Eropa dan menikah dengan warga negara Eropa), untuk apply visa dibutuhkan waktu minimal 3 minggu karena sebelum proses pembuatan visa dijalankan, harus menunggu laporan dari Kairo dulu apakah yang bersangkutan berhak untuk memperoleh visa masuk Mesir. Waduh. Minimal 3 minggu itu artinya bisa lebih dari 3 minggu kan, padahal liburan kami tanggal dimulai tanggal 26 Desember. Sayapun mulai menelpon beberapa agen visa  dan semua jawabnya sama, minimal 3 Minggu dan mereka tidak bisa membantu untuk mempercepatnya. Bahkan satu agen yang saya kirimin email membalas dengan peringatan supaya saya tidak booking liburan dulu karena bisa saja visa saya ditolak dan prosesnya bisa makan waktu 6-8 minggu. Sayapun mulai panik, maklum liburan yang sudah dibayar, kalau dibatalkan lumayan juga uang yang hilang.

visa dienst
Jawaban dari salah satu agen visa

Suami mencoba membantu dengan menelpun langsung ke konsulat di Frankfurt dan ternyata selain rude, orang yang ditelepon tidak tahu apa-apa tentang visa untuk untuk WNI. Echt. Ya sudahlah dari pada ribet tralala dengan info yang tidak jelas (sebenarnya sih infonya jelas, tapi sayanya ngeyel), saya memutuskan untuk pergi ke konsulatnya langsung. Kamis malam telpun mertua, minta tolong apakah beliau bisa datang untuk menemani Flipper. Alhamdulillah meskipun dadakan beliau bisa datang juga padahal rumah beliau juga lumayan jauh dari kami, 250km. Seandainya mertua tidak bisa datang, bisa mabuk saya, nyetir 400 km (pp), dengan toddler yang bosan duduk terus di mobil. Belum lagi ketika di konsulatnya dia ‘main drama’. Suami tidak bisa mengantar karena dia harus kerja dan libur dia juga sudah dipas untuk Desember nanti.

Akhirnya setelah 2,5 jam nyetir, sampailah saya di konsulat Mesir di Frankfurt. Bapak yang mengurus visa saya alhamdulillah tidak seperti yang di bagian telepon, sangat ramah dan baik hati tapi beliaupun bilang bahwa visa untuk WNI membutuhkan waktu minimal 3 Minggu dan itupun tidak ada jaminan bahwa saya bisa mendapat visa. Sayapun mulai panik beneran )saya memang panikan orangnya :D) dan berusaha ‘merayu’ si Bapak. Saya tunjuk-tunjuk tanggal di bukti booking liburan yang memang harus disertakan dalam proses pembuatan visa. Saya bilang juga bahwa  suami dan anak saya yang warga negara Jerman akan sedih kalau mamanya nggak ikut liburan. Bahwa saya musti 2 jam nyetir ke Frankfurt plus 2 jam balik ke tempat saya. Bahwa anak saya yang masih kecil pasti rewel karena ditinggal mamanya ke Frankfurt. Ah si bapak malah bertanya kenapa anaknya nggak dibawa saja ke Frankfurt?

Akhirnya beliau menyuruh saya menunggu sebentar. Waktu itu sudah jam 12 siang lebih, jam istirahat di konsulat. Azan berbunyi di radio mereka dan saya satu-satunya yang menunggu di sana. Beberapa orang yang tadinya juga melakukan proses konsuler sudah pergi. Beberapa karyawan konsulat mulai wedangan, snacking dan ngobrol-ngobrol, ada juga yang siap-siap pergi shollat tapi si bapak itu masih ngurusi berkas-berkas saya. Dia lalu bilang ke saya bahwa dia akan menelpon bosnya, menanyakan apa saya bisa mendapatkan visa. Sayapun ikut mendengarkan obrolan mereka di telepon tapi tentu saja tidak ada kata-kata yang bisa saya mengerti kecuali kata ‘Indonesia’ dan ‘Srilanka’ (jangan tanya kenapa). Dan setelah telepon ditutup, si bapakpun berkata bahwa visa saya selesai hari itu juga. Yay! rasanya mau melonjak kegirangan. Si Bapak lalu menganjurkan sebaiknya saya pulang karena proses pengambilan visa adalah sore hari antara jam 15 sampai jam 16 dan anak saya menunggu di rumah. Dia akan mengirimkan visa saya hari itu juga, sore hari. Ah baiknya si bapak. Sayapun pulang setelah menghabiskan 40 menit di konsulat Mesir. Dan tepat keesokan harinya, Sabtu pagi, sayapun sudah menerima paspor saya yang sudah ditempeli visa Mesir lewat DHL Express. Yay!

visa-mesir
Visa ke Mesir

Begitulah proses gampang-gampang susah apply visa ke Mesir. Dapat angka berapa kira-kira? 2 atau 3? 😀 Intinya, belum tentu yang diurus oleh agen itu lebih praktis meskipun kita bayar extra untuk jasa mereka. Urus sendiri dengan bekal pede dan senyumpun kadang bisa membantu.

Ada nggak punya pengalaman lain mengurus visa ke Mesir?