Remember The Day When…(6) – Foto buat Pacar Online

IMG_2673e
Foto diri terbaru 😀

Dari SD saya hobi banget dengan koresponden. Waktu itu kami berlangganan majalah Ananda dan saya selalu rajin menyurati profil-profil di kolom Sahabat Pena. Ada beberapa yang nggak dibalas, ada juga yang berlanjut rutin lumayan lama salah satunya yang ingat adalah atlet anggar nasional yang berasal dari Situbondo. Tapi namanya saya lupa 😦 Sayang sekali.  Saya bahkan pernah menyurati Rajiv Gandhi (I don’t know why, though!) dan dua atlet renang Indonesia yang waktu itu berjaya… Aduk kok lupa juga ya siapanya namanya, dua atlet renang pria bersaudara jaman 1990an yang cakep? Mingkin ada ynag bisa bantu saya untuk ingat karena mereka ini berjaya sekali pada jamannya, pernah mewakili nama Indonesia di Sea Games.

Rajiv Gandhi sampai sekarang tidak pernah membalas surat persahabatan saya tapi si atlet bersaudara membalas doong…meskipun tanda tangannya merupakan stempelan. Jadi kayaknya mereka nggak membalas surat fans satu-satu, tapi ada sekretaris yang bantu balesin satu-satu trus tinggal distempel dengan nama mereka.

Setelah berpen-pal via majalah Ananda, waktu remaja pun meningkat ke majalah Hai. Lalu ketika mulai kenal internet, aktifitas surat-suratan mulai berkurang diganti dnegan chatting dan email. Sejak chatting lingkup kenalan saya jadi lebih jadi meluas, nggak hanya nasional tapi internasional… Suka banget deh punya teman chatting dari luar negeri, doesn’t matter cowok atau cewek, warga negara atau ras apa yang penting bisa saling komunikasi dalam bahasa Inggris aja sayanya udah seneng banget (meskipun kebanyakan orang India. Mungkin karena faktor time zone?). Beberapa dari random chat partners saya banyak juga yang menjadi real friends bahkan beberapa dari mereka pernah ketemu baik yang dari Indonesia maupun dari luar negeri. Lalu niih ada juga yang jadi pacar online haha! Yang pacar ini malah belum sempat ketemu sama sekali, omaigod! *ngakak dulu

Pacar online saya waktu itu namanya Marty, cowok Inggris. Kita chatting rutin tiap hari, ngobrolin ini itu sampai suatu hari dia tanya foto. Mak glek. Jaman itu belum ada smart-phone dan istilah selfie pun belum masuk kamus. Terus terang saya nggak punya foto diri. Ada juga foto-foto jadul yang disimpan mama saya di album foto. Padahal saya lulusan kuliah jurusan fotografi lho tapi entah kenapa nggak punya foto diri sendiri. Kayaknya teman kuliahan saya dulu juga nggak ada yang tertarik motoin saya *laugh. Anyway effort saya waktu itu untuk mendapatkan foto diri  lumayan lama sampai Marty nggak sabar dan bilang: aku nggak yakin kamu sejelek itu sampai nggak mau ngasih foto…

Antara sedih dan geli karena saya sebenarnya nggak pernah merasa jelek sih (meskipun nggak merasa cantik juga enggak haha!). Anyway waktu itu saya akhirnya pergi ke foto studio dan hubungan pacaran online kita berlanjut aman.

Dan hari gini…mau selfie tinggal click-clik…Foto diri dipajang dimana-mana tanpa ada yang minta haha…

Eh by the way hari gini masih ada nggak sih yang kirim-kirim surat atau email ke idola??

Advertisements

Remember the day when (5) – Mama Sakit Kepala

Lagi di toko mainan, mau nyari kado buat anaknya teman. Tiba-tiba terdengar suara aneh dari salah satu mainan, seperti suara Darth Vader tapi lebih cempreng. Seorang anak kecil di sebelah bertanya pada kakaknya (atau temannya, entahlah), “suara apa itu?” Si kakak berusaha menyibak mainan satu persatu mencari sumber suara tapi nggak ketemu dan menjawab, “entahlah”.

Lalu si adik ngomong lagi, “suaranya seperti mama kalau lagi sakit kepala”

Dan sayapun ngikik dengan sukses.

Remember the day when…(4) Brazilian Waxing

Di kota kecil saya ada salon waxing baru dan meskipun saya tahu bahwa di sini rata-rata harus janjian dulu kalau mau ke salon, saya coba saja untung-untungan mampir ke situ. Kalaupun mereka jadwalnya penuh toh masih bisa bikin janji untuk nanti-nanti.

Waktu saya masuk ke salon tersebut, ruang resepsionis tampak kosong dan hanya terlihat dua pria yangsedang membuka-buka majalah wanita dengan tatapan tak minat. Di sebelah mereka ada tas wanita, pasti milik pasangan mereka yang sedang ‘dikerjai’ di ruang waxing. Melihat saya tolah-toleh nggak tahu musti ngapain karena tidak ada petugas yang approach, salah satu pria menunjuk dengan dagunya sebuah lonceng yang tergeletak di atas meja resepsionis. Agak ketutupan majalah, jadinya saya tadi tidak melihatnya. Setelah menggoyang loncengnya, muncullah mbak-mbak dari salah satu ruang praktek. Tangannya dibungkus sarung tangan plastik seperti dokter-dokter itu.

Sayapun mengutarakan niat saya untuk waxing bagian intim alias Brazilian wax dengan lirih, malu kan kalau didengar dua pria yang duduk di situ. Mbaknya bilang untuk hari itu sayangnya tidak ada jadwal yang kosong, jadi saya dibuatkan jadwal untuk beberapa hari ke depan. Saya setuju.

Lalu nih, dengan penuh penghayatan, dengan suara keras, mbaknya bertanya apakah saya mau Brazilian waxing yang model Hollywood cut, landing strip apa triangle. Sambil bertanya begitu dia juga menjelaskan dengan tangannya yang membentuk segitiga, garis lurus dan gaya ‘jebret-jebret’ di depan anunya dia sendiri (mbaknya pakai baju sopan sih jadi jangan dibayangkan yang tidak-tidak). Saya tentu saja jadi nggak enak melihat mbaknya yang dramatical begitu, apalagi dua pria yang yang ada di situ serta merta menaruh majalah mereka dan menatap saya seolah-olah sangat tertarik dengan jawaban yang akan saya berikan ke mbaknya.

Dan meskipun saya sudah sepelan mungkin menjawab pertanyaan mbaknya, si mbak ini mengulangnya kenceng-kenceng sambil menulis di buku jadwalnya. Asyem tenan ini si mbak. Sayapun buru-buru cabut dari salon tersebut tanpa tolah-toleh lagi. Malu! >.<

img_0633-1es

Remember the day when…(3) I am his Best


Dulu sebelum pacaran dan menikah dengan si D, saya di Jakarta sempat pacaran dengan orang Jerman juga. Si Kraut ini (sebut saja namanya begitu) demen banget cerita tentang saya ke teman-temannya. Kalau refers ke saya si Kraut bilangnya selalu “my best”. Wah saya bangga dong disebut begitu, I’m his best, yay! Ternyata usut punya usut, meskipun sudah lama kerja hampir di seluruh dunia dengan bahasa sehari-hari bahasa Inggris, si Kraut tetap tidak bisa menghilangkan aksen Jermannya. Jadii… Seperti beberapa orang Jerman yang saya kenal di sini (termasuk mertua), akhiran -th itu bagi mereka susah dieja. Jadi instead of Beth, nama saya sering berubah menjadi Bess/ Best di sini. Demikian juga dengan si Kraut tadi, dia aslinya cuman bilang my Beth, bukan my best 😂😅 #geer

Remember the day when…(2) Si Gundul

::Remember the day when… adalah kejadian nyata yang terjadi pada saya yang kadang lucu, kadang tidak juga tapi herannya saya masih mengingatnya 😀

Suatu hari di Muenster. Saya bersama hubby dan beberapa kawannya pergi ke sebuah club. Secara hubby nggak hobi ajojing, dia memilih untuk duduk-duduk gaul di sudut ruangan sementara saya dan teman-temannya asyik ajojing. Sambil menari gaya bebek, saya sempatkan untuk berdadah-dadah kepadanya.

Setelah capek ajojing, sayapun mulai mencari mencari tempat duduk sementara teman yang lain masih terus ajojing. Karena di sebelah hubby sudah penuh, saya duduk di sudut yang lain sambil  sesekali berkode-kodean dengan bahasa  tangan ke suami, maklum musiknya kenceng banget. Tiba-tiba seorang pria mendekati saya dan berbisik sok mesra mengatakan supaya saya berhati-hati dengan pria yang berbaju hitam dan berkepala gundul yang sedari tadi berbahasa Tarzan dengan saya alias hubby. “Dia itu pasti neonazi, lihat saja penampilannya,” kata mas stranger itu membisiki saya. Sayapun antara pengen ketawa dan pengen sedih cuman mengangguk-angguk ke si mas yang sudah berbaik-hati memperingatkan saya. Masa iya neonazi istrinya orang Indonesia? Haha…Don’t judge someone dari kepalanya yang gundul deh  ya 😀

 


Remember the day when…(1) Shopping Heboh

::Remember the day when… adalah kejadian nyata yang terjadi pada saya yang kadang lucu, kadang tidak juga tapi herannya saya masih mengingatnya 😀

 

Hari itu saya ada appointment dengan dokter kandungan saya di Berlin. Secara tempat prakteknya di daerah shopping, sebelum ke tempat prakteknya saya mampir dulu ke toko kosmetik langganan saya karena pelembab wajah pas habis. Saat itu tidak terlalu banyak pembeli di toko itu, hanya ada saya dan dua wanita lainnya. Setelah saya menemukan pelembab yang saya butuhkan, sayapun segera membayar dan pergi. Tiba-tiba di luar toko, seorang pria yang memang sudah berdiri di dekat pintu masuk ketika saya baru datang tadi mencegat saya dan bilang dalam bahasa Jerman yang artinya begini: saya suka deh dengan wanita yang tahu dengan apa yang dia butuhkan…

Saya berhenti dan menatapnya kebingungan sambil bertanya apakah dia ngobrol dengan saya? (karena memang tidak ada orang lain di sekitar situ selain kami berdua).

Dia tertawa dan mengangguk.

Eh masnya lagi flirting atau gimana ini? Batin saya masih bingung (alias geer :D).

Lalu masnya itu, dengan dagunya, menunjuk seorang wanita dengan keranjang belanjaan penuh yang masih mondar-mandir di dalam toko kosmetik, “dia nggak tahu apa yang dia butuhkan.”

“Mmm…keranjangnya penuh tuh mas…” balas saya mengkoreksi.

“Ya, tapi setelah ini dia akan membongkar lagi semua yang ada di keranjangnya, memilih-milih lagi mana sebenarnya yang mau dia beli.”

“Oh.”

“Makanya saya mending menunggu di luar sini,” lanjut si mas lesu, “memalukan dan buang-buang waktu saja.”

Sayapun cekikikan dan berlalu sambil bilang ‘good luck ya mas!’ 😀