Short trip ke kota kecil Monschau.

2300s.jpg

2305s.jpg

Saya tahu tentang kota Monschau untuk pertama kalinya di sebuah film di televisi tapi karena film fiksi ya nama kotanyapun fiksi (maaf judul filmnyapun lupa, pokoknya film Jerman deh… ). Waktu itu saya sudah tertarik dengan kota tersebut. Setelah baca blognya Deny yang ini baru ngeh bahwa ternyata kota yang di film itu namanya Monschau dan kebih mengejutkan lagi, letaknya hanya satu jam-an dari rumah kami.

Pas memperlihatkan blognya Deny ke suami, dia malah bilang: eh ini kan kotanya nggak jauh dari sini. Lho la iya, kenapa saya nggak pernah diajak ke sana? Nggak kepikiran, katanya. Iya, biasanya mata kita memang lebih sering melihat yang  jauh-jauh, yang dekat-dekat malah terlupakan atau kalaupun ingat pasti ditunda-tunda dengan alasan ‘ah dekat ini, nanti saja belakangan’. Tapi kali ini kami tidak mau menunda untuk pergi ke Monschau, keesokan harinya, di sebuah hari Minggu di bulan Mei (iya, ini #latepost), kamipun pergi ke Monschau.

Monschau adalah sebuah kota kecil yang terletak di distrik Aachen Jerman yang tak jauh dari perbatasan negara Belgia dan Belanda. Ciri khas kota ini adalah rumah-rumahnya yang bergaya ‘half-timbered houses’ yang hampir tidak berubah gayanya dari 300 tahun yang lalu. Kebanyakan bangunan unik ini dijadikan pertokoan yang tetap buka di hari Minggu dan juga untuk penginapan.

2292s

2301s

2306s

2312s

 

Mengelilingi kota Monschau tidak akan memakan waktu lama karena memang kotanya kecil. Untuk pengunjung, terdapat beberapa tempat parkir luas sebelum memasuki kota tersebut. Anak-anakpun bisa berlarian bebas di sepanjang jalan berbatu karena memang tidak ada kendaraan yang berlalu-lalang kecuali sepeda dan kendaraan bermotor milik penghuni di sana yang sangat mengutamakan pejalan kaki. Oh iya, ada juga kereta wisata yang lewat. Tarifnya kereta ini €6,00/ person. Mahal menurutku. Apalagi bila dibandingkan dengan kereta wisata di kota Arco Italy yang tarifnya hanya €2 mengelilingi kota tua yang lebih besar dari Monschau selama 30 menit.

2310s

2287s
Sebuah gubuk di pinggir sungai. Entah ada penghuninya atau tidak.
IMG_3061-1e
Flipper bergaya di depan rumah orang.

Foto-foto kota Monschau yang lain bisa dilihat di. FLickr saya.

Advertisements

Kota Tua Al Qusayr, Mesir

Menyambung  cerita dari postingan saya sebelumnya, sebenarnya banyak tour-tour yang ditawarkan di resort selain diving dan snorkling tour, di antaranya  adalah safari desert yang saat itu tidak dianjurkan oleh pihak hotel karena faktor keamanan. Lalu ada tour ke kota bersejarah Luxor atau ke Kairo, mengunjungi Pyramid yang sayangnya harus ditempuh dengan pesawat dan harus menginap, terlalu jauh dari lokasi kami. Pyramid dan Luxor insyaallah akan selalu ada di sana dan kami masih bisa mengunjunginya di lain waktu tanpa harus menginap di tempat yang jauh. Saat itu kami hanya mengambil tour yang jaraknya tidak terlalu jauh dari resort, ke kota tua Al Qusayr yang jaraknya sekitar 70km dari Resta Grand Resort.

Kami naik minibus bersama 5 tamu resort yang lain, dua orang dari Belanda dan tiga orang dari Finlandia. Tidak banyak yang bisa saya lihat dari perjalanan antara resort dan Al Qusayr. Sejauh mata memandang hanya padang pasir. Setelah kira-kira 15 menit perjalanan, tiba-tiba saya melihat ada beberapa spots di mana terlihat susunan pohon palem yang berjajar membentuk pagar, memagari area padang pasir yang luas. Sopir yang mengantar kami menjelaskan bahwa di daerah itu akan dibangun hotel dan sebelum hotel berdiri, pohon palem harus sudah ditanam bertahun-tahun sebelumnya untuk membiasakan tanah (baca: pasir) di lokasi dan juga karena menumbuhkan pohon palem itu memakan waktu lama meskipun tidak ditanam dari bibit. Pohon-pohon tersebut diambil dari pinggiran sungai Nil, di mana mereka banyak tumbuh dengan subur. Ketika saya bertanya, sudah berapa lama pohon-pohon itu ada di sana dan kapan hotelnya akan dibangun, Ahmed, si sopir hanya mengangkat bahu. Yah, dengan keadaan pariwisata di Mesir yang sedang memburuk seperti ini rasanya memang tak perlu terburu-buru membangun hotel di sini.

gereja1
On the way to Al Qusayr.

Setelah hampir satu jam naik minibus kamipun tiba di kota tua Al Qusayr. Seorang penduduk lokal yang rupanya bertugas menjadi guide menyambut kami dan mengajak kami berjalan kaki berkeliling kota. Kota ini terlihat jauh berbeda dari yang saya bayangkan sebelumnya. Kota tua yang saya bayangkan adalah kota dengan reruntuhan bangunan-bangunan purbakala seperti di filmnya Indiana Jones sedangkan yang saya lihat adalah kota kecil dengan bangunan yang relatif modern. Beberapa bangunan terlihat memiliki AC namun semuanya kumuh dan berdebu.

Hampir semua bangunan berwarna kuning kecoklatan dan ciri khas bangunan di sana adalah balkonnya yang menjorok keluar. Jalanan di kota ini tidak beraspal atau berbatu, semuanya berpasir jadi bisa dimaklumi bila debu di mana-mana. Beberapa mobil tua tampak bersliweran dan beberapa tampak terbengkelai dengan keadaan tidak utuh di pinggir jalan.

2081s2085s2092s

2103s
Bangunan bertingkat sering didapati di Al Qusayr dimana beberapa generasi dalam sebuah keluarga hidup bersama di dalamnya.

2106s

2107s
Rumah dengan gambar Ka’bah-nya artinya pemiliknya sudah pernah menunaikan ibadah haji.

Setelah menyusuri gang-gang kecil, Pak Hassan, nama guide kami, mengajak kami ke salah satu masjid. Kota Al Qusayr secara keseluruhan berpenduduk 20.000 dan di bagian kota tuanya sendiri hanya 6.000 penduduk. Di kota tua ini berdiri 27 masjid dan sebuah gereja. Masjid yang kami kunjungi, dari segi bangunan, bagi saya sebenarnya tidak terlalu istimewa. Masjid ini mirip seperti mesjid di perumahan di mana orang tua saya tinggal di Jogjakarta dan menurut Pak Hassan, masjid ini adalah bangunan masjid terbaru di kota ini. Ketika saya bertanya mengapa kita tidak pergi mengunjungi masjid yang paling tua, Pak Hassan mengatakan bahwa pada saat itu sedang ada kegiatan pengajian rutin sesudah Asyar sehingga tidak terbuka untuk turis.

Saat itu memang sekitar pukul empat sore dan sepanjang perjalanan di Al Qusayr, tidak banyak aktifitas yang terlihat di kota ini. Saya melihat beberapa toko yang menjual souvenirs, sebuah toko baju anak-anak, sebuah salon dan sebuah toko kelontong yang semuanya tutup. Saya sempat mengintip ke dalam toko kelontong dari jendela kacanya, sepertinya bila toko itu bukapun, tak akan banyak orang yang mau datang karena dari bangunan sampai isinya, semuanya terlihat sangat kotor dan berdebu. Sesekali saya menjumpai anak-anak yang bermain di luar dan sedikit pria yang lalu lalang. Tidak ada wajah perempuan. Pak Hassan mengatakan, para perempuan sedang berada di dalam rumah menyiapkan makan malam untuk keluarga.

Setelah mengunjungi masjid, Pak Hamid mengajak kami berjalan menyusuri pantai menuju ke gereja Virgin Mary. Penganut agama Islam dan Katolik hidup berdampingan dengan rukun di Al Qusayr. Pak Hassan yang seorang muslim bercerita bahwa orang-orang muslim di sini senang sekali bila hari Minggu tiba, di mana saatnya para penganut agama Katolik pergi ke gereja. Orang-orang yang akan pergi ke gereja selalu mengenakan pakaian terbagus mereka, berdandan semaksimal mungkin, seperti mau datang ke pesta dan itu membuat pemandangan di Al Qusayr bertambah indah, demikian menurut Pak Hassan. Mengingatkan saya pada gereja Katolik di Kota Baru, Jogja yang pada hari Minggu penuh dengan orang-orang dengan penampilan terbaik mereka. Bahkan teman-teman kuliah saya yang biasanya kalau kuliah berlomba untuk terlihat paling nyentrik dengan baju kebalik, rambut dikucir 10 dan bahkan tidak mandi (ya, saya dulu kuliah di ISI tapi tidak pernah nyentrik lho :D), tapi bila saatnya ke gereja tiba-tiba memakai gaun dan sepatu mengkilap 🙂

Dalam perjalanan menuju ke gereja tersebut Pak Hassan bercerita bahwa di Al Qusayr dulu sempat ada pertambangan fosfat milik perusahaan dari Italia yang beroperasi di sini. Perusahaan itu menjadi jantung kehidupan di kota ini sejak tahun 1916 dan  hampir semua penduduk Al Qusayr bekerja di perusahaan tersebut. Namun sejak lima tahun yang lalu, perusahaan ini menghentikan operasinya di Al Qusayr dan sejak itulah generasi muda Al Qusayr mulai meninggalkan kota mereka mencari pencaharian di kota lain. Al Qusayr-pun terbengkelai bersama generasi tua dan anak-anaknya. Pariwisata Al Qusayr yang tadinya juga lumayan banyak dikunjungi turis-turis dari Italiapun berlahan turun pamornya. Satu-satunya hotel di sini, yang dibangun oleh dermawan asal Swedia sekarang menjadi museum hotel yang bisa dikunjungi masyarakat umum hanya untuk melihat-lihat.

Gereja Virgin Mary yang tadinya bernama St. Barbara dibangun oleh perusahaan penambang fosfat tersebut, tak heran bila letaknyapun di bagian belakang komplek besar perusahaan. Ketika kami memasuki komplek perusahaan, bangunan pertama yang saya lihat adalah sebuah bangunan megah yang tadinya menjadi tempat tinggal bos perusahaan. Sebuah rumah impian saya; berada di tepi pantai dengan teras dan balkon yang besar serta kebun. Tapi kalau saya masih boleh bermimpi lagi, akan lebih sempurna bila rumah ini berada di Mallorca, Spanyol dan bukan di tanah gersang Al Qusayr yang hanya menerima hujan sekali dalam 10-12 tahun.

Kami terus berjalan menyusuri halaman yang berdebu dengan beberapa bangunan kosong di kanan kiri kami. Di sinilah dulu terdapat aktifitas mengelolaan fosfat. Gedung-gedung berwarna kuning tersebut mengalami rusak di sana sini namun secara keseluruhan masih tampak kokoh. Pak Hassan mengatakan bahwa ada isyu yang beredar bahwa orang-orang Italia akan kembali ke Al Qusayr untuk mengaktifkan kembali penambangan ini. Semoga isyu itu benar dan kota Al Qusayr akan kembali hidup.

2115s2109s2112s2111s

2108s
Bangunan-bangunan yang terbengkelai di komplek perusahaan penambangan fosfat.
Arsitektur gereja Virgin Mary tampak biasa saja dari depan, namun begitu saya memasukinya, sayapun ternganga. Inilah bangunan tercantik yang saya lihat selama di Mesir. Gereja yang dibangun pada tahun 1920 ini memiliki satu altar dengan Noah arcs-nya yang antik. Beberapa ikon tokoh dari Italia tampak tergambar di interior gereja yang dihias dengan kerang. Mozaik di jendela-jendela gereja merupakan contoh dari kehebatan kesenian Italia.

Keluar dari gereja, tanpa sadar waktu tour kami sudah hampir habis. Pak Hassan mengajak kami ke tokonya dan menyuguhi kami dengan teh hangat. Beliau memiliki toko souvenirs yang sebenarnya lumayan besar namun sayangnya tidak terlalu terawat. Semua barangnya berdebu bahkan ada beberapa yang rusak. Kami menyempatkan untuk membeli sebuah selimut kecil untuk Flipper. Oh ya, di Mesir kita bisa berbelanja dengan beberapa mata uang; Pound Mesir, USD dan Euro.

Hari sudah gelap ketika mobil penjemput kami tiba. Dan tiba-tiba saja kota yang tadinya tampak mati mendadak hidup. Semua orang; lelaki, perempuan, anak-anak keluar rumah. Toko-toko membuka gerainya, cahaya lampu warna-warni menyilaukan mata dan suara sepeda motor maupun mobil tua terdengar membisingkan. Pak Hassan berkata bahwa memang begitulah rutinitas di kota ini setiap hari. Siang hari kebanyakan orang berada di dalam rumah, anak-anak langsung mengerjakan PR sepulang sekolah dan begitu usai shollat Maghrib, semuanya ke luar rumah, bersosialisasi atau bekerja di toko. Pantas saja tour yang ditawarkan untuk ke kota ini ada yang jam mulai dari 20.00 sampai jam 22.00. Kami memilih tour yang siang hari karena faktor anak kecil, si Flipper. Tapi saya tidak menyesal karena bila datang malam hari pasti tak banyak yang bisa saya foto. Entahlah apa saya akan kembali lagi ke kota ini atau bahkan ke Marsa Alam, yang pasti doa saya untuk kota tua Al Qusayr: semoga perusahaan penambangan fosfat kembali aktif di sini, di kota yang memiliki pelabuhan kecil yang cantik. Amiin… Foto-foto Al Qusayr yang lain bisa dilihat di Flickr saya.

papanmilaS
Flipper dan papanya di pantai Al Qusayr.