Ketika di Jerman – part2

Sesuai janji saya dulu kala, yang meskipun lama tapi tak pernah lupa, berikut ini kebiasaan orang Jerman part 2. Sambungan dari yang part 1 tentunya. Judulnya saya ganti, tidak lagi tentang ‘kebiasaan’ tapi ya random aja tentang apa yang biasanya terjadi/ berlaku ketika di Jerman.

Orang Jerman Punya Tool dan Outfit Untuk Segala Keperluan.

Waktu si Flipper mulai memasuki usia 1 tahun, di mana dia sudah mulai bisa jalan sendiri, saya sempat merasa overburdened dengan urusan wardrobe dia. Terus terang, sebelumnya saya nggak kepikiran dengan adanya jenis pakaian semacam softshell jacket, hardshell jacket, mudpants, functional jacket, anti slip socks, etc. yang mempunyai funksi sendiri-sendiri berdasarkan cuaca dan kegiatan si anak.

Itu baru untuk anak-anak dan jenis kegiatan ya, belum lagi outfit untuk orang dewasa… Untuk berkebun, nukang, jogging atau sepedaan beda semua bajunya. Ada barang berbentuk segi empat khusus untuk menjadi landasan dengkul kita ketika kita berkebun. Alat berkebun pun macamnya buanyak, mulai gunting kecil buat memetik tangkai bunga sampai yang segeda saya buat memotong pagar hidup. Daaan gunting kecil buat memetik bunga itupun jenisnya macam-macam, bunga mawar dan bunga tulip guntingnya beda lho. Entahlah, barang-barang seperti gunting bunga itu memang  beneran dibutuhkan atau marketing yang membodohi kita.

Yang membuat saya paling terkesan sih adanya alat pembelah pil. Kan kadang dosis minum obat kita cuman setengah pil, nah susah kan ya membelah pil yang kecil-kecil? Di saat itulah alat pembelah diperlukan. Yaolo, pinter banget yang menciptakan alat ini.

IMG_0494-1e
Flipper waktu itu, pake shoftshell jacket dan mudpants. Setelan ini dipake untuk main kotor-kotoran saat musim semi dan musim gugur. Kalau musim dingin harus pake winter jacket dan mudpants dan ada lapisan penghangatnya di dalam. Oh iya, jangan lupa sepatu khususnya juga. Ribet deh pokoknya.

Orang Jerman Suka Minum Sparkling Water

Kalau beli sparkling/ soda water botolan, kita bisa milih yang kadar sodanya rendah atau tinggi. Ada juga alat khusus untuk membuat soda, jadi kita ambil air biasa lalu botolnya ditancepkan ke alat itu untuk menambah sodanya. Saya sendiri nggak terlalu suka sparkling water, saya hanya minum sparkling water ketika nggak ada air putih biasa.

Kedai Es Krim Hanya Buka Selama Musim Panas

Saat musim semi atau gugur biasanya ada satu dua kedai yang mulai buka tapi jarang banget deh yang buka 12 bulan karena memang memang saat musim dingin kedainya nggak laku. Ada juga yang tetap buka tapi isi dagangannya berbeda, instead of jualan es krim, mereka jual waffle atau crepes plus minuman hangat.

Suka Menyapa, Di Ruang Tunggu Dokter atau di Jalanan

Meskipun termasuk tidak ramah, orang Jerman rajin menyapa orang asing di ruangan public atau di ruang tunggu dokter. Di tempat saya tinggal, kalau lagi jalan-jalan di taman dan papasan dengan orang kita selalu saling menyapa Guten Tag atau sekedar Hallo. Senyum sih nggak harus 😀 Tapi kalau di kota-kota besar nggak banyak yang masih saling menyapa.

Ketika masuk ruang tunggu dokter, di mana sudah ada beberapa orang yang duduk di situ, otomatis orang yang terkahir masuk bakalan menyapa Guten Tag atau Hallo itu tadi dan para pasien yang lain akan membalasnya serentak.

Film Wajib Tonton di Hari Minggu

Hari Minggu adalah hari istirahat di seluruh Jerman, toko-toko tutup semua (kecuali restoran dan tempat wisata) sehingga hari Minggu didedikasikan untuk santai di rumah bersama keluarga. Nah film yang ditunggu-tunggu setiap hari Minggu oleh kebanyakan warga Jerman adalah film serial ‘Tatort’ (Crime Scene).

‘Tatort’ adalah film tentang polisi yang menyelidiki kasus-kasus kriminal yang tersebar di segala penjuru Jerman dan negara-negara tetangga berbahasa Jerman. Tiap Minggu tim polisi yang ditampilkan berbeda, hari ini polisi Cologne, minggu depan polisi Hamburg, etc. Film serial ini sudah ditayangkan sejak tahun 1970 dan tetap menjadi kesayangan orang Jerman sampai sekarang. Pada hari Seninnya forum diskusi di Websitenya ARD/ Das Erste (stasiun TV ynag menayangkan ‘Tatort’) pun rame membicarakan episode semalam.

Tradisi Nonton Dinner For One Setiap Malam Tahun Baru

Kalau di hari minggu ada film serial yang wajib ditonton, maka setahun sekali, pada malam tahun baru ada film pendek yang wajib ditonton juga. Judul filmnya ‘Dinner For One’, merupakan film dari Inggris yang nggak di-dubbing ke dalam bahasa Jerman (selain ‘Dinner For One’, film-film luar yang masuk Jerman di-dubbing semua bahasanya). Durasi filmnya cuman sekitar 10 menit dan kualitas teknis filmnya solala karena memang film tua produksi tahun 1963. Masih hitam putih lho!

39334196934_7681ea4214_o
Flipper cekakakn abis waktu nonton ‘Dinner For One’ hihi….

Pada tanggal 31 Desember, stasiun TV NDR menayangkan film ini beberapa kali. Film ini merupakan film komedi yang bagi  saya ceritanya ok lah tapi  nggak harus belain nongkrongin TV setiap tanggal 31 Desember demi melihatnya. Penasaran dengan ceritanya ‘Dinner For One’? Check this out! Menurutmu lucu nggak? Orang Jerman sampai hafal lho dengan setiap dialognya 😀

 

Memberi Tip Secara Langsung

Biasanya kalau di Indonesia, kita mau ngasih tip kan tinggal ditaruh di atas meja makan sebelum kita pulang, kalau di restoran sini kita ngasihnya langsung bilang ke pelayannya. Misalnya pas pelayan ngasih tagihan 23€, kita ngasih ke dia uang 25€ sambil bilang “24€”, maka si pelayan bakalan balikin 1€ doang sambil bilang danke (makasih). Ngasih tip di Jerman tidak wajib hukumnya dan kalaupun nggak ngasih, nggak bakalan dikasih pandangan judes. Saya mah kalau makan/minum di atas 5€ selalu ngasih tip, selain itu saya juga ngasih tip di salon kalau hasilnya ok. Kalau enggak ya nggak ngasih 😀

Popcorn Manis di Bioskop

So far nemu popcorn asin hanya di bioskop yang filmnya original language (bukan dubbing) jadi kebanyakan audience-nya bukan orang Jerman. Kalau di bioskop biasa, popcorn yang dijual hanya yang manis.

Oh iya, Makanan yang wajib dijual di bioskop sini selain popcorn adalah nachos dengan sausnya. Nachos ini yang selalu  bikin aku rajin nonton film haha… Kalau saja di bioskop sini juga jualan lemper seperti di Indonesia, pasti saya bakalan tambah rajin nontonnya 😀

Orang Jerman Suka Makan Memakai Alat makan

Orang Jerman enggan makan pake tangan begitu saja. Makan semangka senangnya dipotong kecil-kecil dulu lalu dimakan pake garpu. Makan burger dan Pizza juga begitu, diiris-iris dulu dan pake garpu bahkan es krim di atas waffle cone-pun bukannya dijilatin tapi disendokin.

Okay, sekian dulu deh… Nanti saya coba kumpulkan lagi hal-hal yang ‘khas’ Jerman, siapa tahu ada sambungan part 3-nya 😉

Happy Weekend all!

-beth-

Advertisements

Hore Lebaran!

Yes alhamdulillah lebaran lagi! Selamat hari raya Idul Fitri ya, maafkan kalau ada salah-salah selama ini. Kesalahan kalian juga sudah saya maafkan, *eh 😀

Kali ini kami berlebaran di rumah saja dan karena sepi, rasanya lebaran di tanah air tahun lalu sangat ngangenin banget. Si Flipper sampe minta dibukain folder liburan di Indonesia tahun lalu, melihat-lihat fotonya waktu takbiran sambil bawa lampion Hello Kitty, waktu salam-salaman sekeluarga lalu berlanjut di mesjid, waktu makan makan cookies banyak banget. Seru banget, kata Flipper.

blog lebaran
Flipper di acara salaman setelah shollat Ied di kampung Jogja.

Di sini, seperti biasa, saya kirim-kirim lontong opor ke tetangga tapi tetep aja pas makannya ya bertiga aja. Sebenarnya ada undangan buat acara shollat Ied dan ramah tamah bersama di Duisburg tapi saya terus terang males banget kalau harus nyetir sendiri lebih dari 1 jam. Itupun nggak bisa lama-lama karena siangnya Flipper ada ujian karate jadi rasanya waktunya bakalan habis di jalan.  Iya, pak Suami sayangnya nggak bisa cuti, karena cuti dia sudah habis jadi acara makan opor kemarin nunggu dia pulang dari kantor. Untung bisa pulang lebih awal dia.

Untuk lebaran kemarin saya masak lontong, opor ayam, lodeh nangka, acar kuning dan krupuk. Camilannya kue dari tepung instant bikininan Flipper, marshmello, strawberries dan es teler saja. Meskipun nggak ada kastengel dan nastar, rasanya alhamdulillah sekali masih bisa dikasih kesempatan buat merayakan Idul Fitri bersama keluarga meskipun puasa saya kali ini banyak yang bolong.

999A0233-1S

By the way, di era sosmed seperti saat ini, kalau dipikir-pikir sebagian orang muslim itu memang senengnya ribet ya. Saat Natal, pada rajin posting soal haramnya mengucapkan Natal ke umat Nasrani, eh sekarang giliran Lebaran, ngucapin selamat lebaranpun banyak salahnya. Ucapan selamat hari raya kok copy-paste lah, kok pake pantun-pantunan lah, kok di-broadcast di sosmed lah, kok baru malam takbiran udah sebar-sebar ucapan lah… Well why not? Kenapa sih kita nggak bisa ambil positifnya saja, nulis pantun from the scratch atau sekedar copy-paste pun sudah menunjukkan niat orang tersebut untuk mengucapkan selamat lho. Ucapannya di-broadcast supaya sekali nulis berlaku buat banyak teman di sosmed pun itu pasti nulisnya juga niat. Kalaupun ada yang nggak nulis-nulis di FB (seperti saya) pun bukan berarti dia nggak ngasih selamat ke handai taulan lho…

Why on earth can’t we just enjoy the moment, menikmati datangnya hari raya lebaran. Biarkan orang mengucapkan selamat dengan cara mereka masing-masing… Ntar kalau nggak ada yang ngucapin sama sekali malah jadi kasus beneran kan? Kita nggak harus mengkritisi semuanya kan? Kita nggak harus merasa wajib memperbaiki etika dan itikad semua orang di dunia ini kan? Apalagi di hari raya lho… Kupikir major problem yang harus dikritisi saat hari raya adalah macet panjang jalur mudik, which is memang sudah dari sononya begitu. Tapi seandainya macet itu bisa diatasi alangkah lebih nyamannya mudik lebaran, iya nggak sih? #rantend

Lebaran kamu kemarin gimana ceritanya? BB udah naik belum? Kalau mau kirimin aku nastar, boleh lho 😀

 

 

Mencuri Moment, Mencari Spotlight

Ich
I
Aku. Saya.

Pernah nggak pas teman kita si A lagi seru-serunya cerita tentang pengalaman baru dia, tiba-tiba kita nyeletuk, “Oh iyaaa tempat itu emang asyik! Aku tahun lalu juga pernah kesana…bla…bla….” lalu kitapun bercerita panjang lebar, tanpa peduli kalau si A tadi belum selesai bercerita? Teman-teman yang tadinya tekun dengerin cerita si A jadi beralih perhatiannya ke kita. Dan si A pun manyun.

Atau mungkin kamu pernah menjadi si A?

Saya pernah jadi yang suka nyeletuk itu. Dan pernah jadi si A juga, makanya tahu rasanya ngga asyik kalau ada teman yang menyerobot, mencuri moment bercerita kita dan berusaha sebisa mungkin untuk tidak mencuri moment teman yang lain. Ini berlaku nggak hanya di pergaulan sehari-hari tapi juga di sosmed.

Sebenarnya saya yakin celetukan ‘aku-aku’  keluarnya tanpa maksud buruk, terjadi karena seseorang semangat mendengar ceritanya si original poster/speaker. Dan kalau kejadian sekali dua kali masih bisa dimaklumi lah tapi kalau keseringan, selalu ber’aku-aku’ di setiap postingan teman jadi memperlihatkan karakter seseorang sebenarnya. Self-centered.  ‘Aku, kalau aku, aku sih, akunya, aku nih, dan aku aku lainnya’. Padahal si original poster nggak nanya apa pendapat kita TENTANG DIRI KAMU lho…

Yang paling nggak asyik sih kalau tone nya merasa lebih baik atau nggak mau kalah dengan si original poster;
“ooh kalau AKU sih begini, begono…”
“AKU kalau Hawaii udah pernah sih…”
Versi yang agak tersamar; “Oh jadi ngingetin acara AKU 3 tahun yang lalu, pernah salaman sama Madonna juga…”

Bukan berarti dilarang komen model begitu tapi mungkin sebaiknya dikurangi. Apalagi kalau di sosmed, harusnya lebih mudah mengontrolnya dari pada di pergaulan langsung. Kadang si teman hanya ingin bercerita atau sharing tentang dirinya, tentang pengalamannya and it’s NOT about YOU at all. Kecuali memang dia specific nanya what about you.

Mending sih kalau kita terinspirasi dengan postingan teman, ya bikin aja postingan aja sendiri. „Waktu baca Instagram si A tentang Nord Pole, aku jadi ingat tahun sekian ketika berkunjung ke North Pole bla…bla…“ Silahkan mau nulis panjang lebar, kan di lapaknya sendiri, nggak ‚mencuri‘ moment di lapak teman. Mau self-centered di lapak sendiri juga bebas dong.

img_3194-2

Salah satu karya seniman Joan Miró di sebuah pameran di Bruehl.

By the way soal kehidupan social media, resolution saya untuk tahun 2018 adalah spending less time di Facebook which works well.  Udah jarang banget nih log in di FB, kalaupun log in paling cuman scroll down news feed sebentar, liking postingan teman seadanya lalu stuck di Page-nya Jimmy Fallon atau Human of New York. Posting-posting juga udah mulai jarang. Tapi kalau di Instagram saya masih rajin sih hihi… Yang berminat boleh ya follow Instagram saya (eh kok jadi promosi? Haha!) @milolalil (private account) dan @frausie.

Di sini bebas mau komen atau diskusi dengan tema di atas ya… ber’aku-aku juga boleh lho 😊

Happy Sunday!
Love, Bethie

 

Tradisi Advent – Menjelang Natal

Sebentar lagi Natal dan suasana di bumi sebelah sinipun mulai lebih ceria dari minggu-minggu sebelumnya. Sebenarnya kita nih nggak merayakan Natal dan sebelum ada Flipper, kami nggak terpengaruh dengan euforia Natal yang kental di negeri ini. Paling cuman ikutan tukar kado aja dengan big family-nya D, pak suami. Tapi sejak ada Flipper kami jadi ikutan beli pohon Natal, bikin Advent wreath sendiri dan bungkus-bungkus kado kecil-kecil buat Advent calendar.

Ini tahun kedua kami ‘beraktifitas’ Natal selain tukar kado. Itupun kalau dibanding dengan kebanyakan orang sini, aktifitas kami ini tergolong super basic banget. Iyalah, yang lain pada heboh menghias jendela bahkan seluruh rumah luar dalam dihias lampu warna-warni. Ada yang mengundang Nikolaus datang ke rumah lalu baking aneka macam cookies. Di luar rumah kami tidak ada deko apapun, sekedar lampu berbentuk rusa yang duduk antengpun nggak ada. Nggak ada hiasan atau lampu gantung apapun di jendela. Eh ada ding, gantungan di jendela dapur tapi itu mah memang menggantung sepanjang tahun, bukan khusus untuk natal.

Berikut ini adalah salah satu aftifitas menjelang Natal, membuat deko Lilin Advent. Aslinya sih disebut Advent wreath atau dalam bahasa Jermannya Adventskranz. Tapi saya nyebutnya Lilin Advent saja karena nggak ada wreath-nya sama sekali. Lilin ini berjumlah 4 yang dinyalakan satu persatu, dimulai pada minggu ke-4 sebelum Natal. Tahun ini Advent pertama jatuhnya besok, tanggal 3 Desember. Karena dinyalakannya satu-satu, maka dianjurkan lilin yang pertama dinyalakan lebih tinggi dari ketiga lilin lainnya, tapi nggak harus sih.

Tahun lalu Flipper tidak ikut membantu membuat Lilin Advent, dia kebagian acara tiup lilin saja setiap malam.

IMG_3626
Our first Advent Candles ever, 2016.

Tahun ini Flipper tetap nggak ikut mendekor Lilin Advent karena saya dapat idenya tengah malam dan langsung eksekusi. Keesokan harinya Flipper menambahkan kuda-kudaannya di sebelah lilinnya. Lucu juga, tapi masa kuda? Setelah mengantar Flipper ke TK-pun, saya langsung meluncur ke toko deko mencari rusa. Got two of them!

999A0081-1s

999A0087-1s
Advent Wreath 2017. Kudanya Flipper nongkrong di bawah saja 😀

Lalu tentang aktifitas dengan Advent Calendar yang selanjutnya disebut AC saja. AC yang entah dari mana asal muasal tradisinya ini adalah kalender dari tanggal 1 sampai 24 Desember yang berisi kado-kado kecil, jadi semacam excitement of Christmas countdown. Saya sendiri mengenal AC sejak tinggal di Jerman. Isi kadonya biasanya hal-hal sederhana saja seperti misalnya permen, puisi, lilin, karet penghapus, notebook (bukan laptop) sketsa gambar, etc. Tapi saat ini mulai banyak dijumpai AC baik yang homemade maupun yang ‘instant’ (beli di toko) yang harganya di atas 200€. Itu baru AC lho ya, belum hadiah Natalnya yang secara logisnya harus lebih heboh dari AC. Ah kalau yang mahil-mahil gitu saya nggak ikutan ah.

Sebelum ada Flipper pak suami dan saya biasa beli AC ‘instant’ di toko yang isinya coklat untuk setiap harinya. AC coklat merek Lindt harganya di atas 5€ kalau yang merek ecek-ecek 2€ pun bisa dapet. Ini untuk 24 hari lho ya. Isinya coklat kecil-kecil.

Tapi sejak tahun lalu tradisi AC kami bertambah, yaitu bikin AC buat si Flipper. Sebenernya buat anak-anak banyak juga AC instant non sweets yang dijual misalnya dari brand Lego atau Play Mobil bahkan Schleich. Harganya mulai dari 20€ which is standard price menurut saya kalau untuk AC. 1€/ day. Tapi entah kenapa saya nggak sreg kalau beli AC instant, jadinya ya repot sediri beli pernik-pernik dan mbungkusi kado satu-satu buat si Flipper.

Advent-calendar-2016s
Flipper’s Advent calendar 2016
999A0100-1s
Flipper’s Advent Calendar 2017.

Jatah kado AC Flipper untuk 24 hari adalah 25€. Barang-barang yang saya beli untuk Flipper, yang sesuai dengan anak usia 4 tahun adalah beberapa Pixi books (buku bacaan anak-anak bergambar berukuran 10cmx10cm), kaus kaki, celdam, Kinder Surprise Eggs, bubble bath yang ada temanya dari Kneipp (misalnya yang bikin airnya berwarna hitam untuk tema nenek sihir atau pink untuk tema princess), pensil warna, washi tapes, etc.

Yang lebih seru lagi, tahun ini saya juga dapat AC setiap harinya, yay! Jadi saya dan 23 teman  mengadakan AC swap, masing-masing membungkus kado yang isinya sama sebanyak 24 biji. Budget-nya seperti biasa, nggak boleh lebih dari 25€. Lalu setelah lengkap, semuanya dikumpulkan dan disebar ke semua anggota. Saya dapat bagian membungkus kado untuk tanggal 11.

IMG_1777
Kado no 11 yang saya bikin untuk Advent Calendar Swap bersama teman-teman.
IMG_1874
Kado yang saya terima balik dari teman-teman. Yay!

Kemarin saya mendapat tempat lilin dari Anna dan hari ini saya dapat homemade jam untuk roti dari Olga. Besok dapat apa lagi ya? Curious!

Lepas dari unsur keagamaannya, saya pikir aktifitas seperti ini asyik juga demi mengurangi suasanya yang selalu cenderung muram di musim dingin. Seneng aja ketika suhu di bawah nol derajat, jam 4 sore sudah gelap gulita, namun di segala penjuru tampak lampu hiasan natal berkelap-kelip. Lalu saat jam 8 pagi, masih gelap gulita juga dan kabut yang tebal di luar sana, kita punya kado kecil untuk dibuka.

Kalau di tempatmu bagaimana tradisi Natalnya? Apakah heboh juga seperti film-film Natal di TV? Oh ya, agenda saya setiap menjelang Natal dari tahun 2007 adalah nonton film Bad Santa yang dibintangi Billy Bob Thornton dan sejak tahun lalu ditambah dengan Bad Santa 2 ❤ Kamu punya film Natal favorit nggak? Home Alone Movie, mungkin?

Tulisan saya tentang Natal yang lain bisa dibaca di sini.

Kebiasaan Orang Jerman – Part 1

Hai hai…ternyata lumayan lama juga ya saya nggak nulis-nulis di sini. Lagi sibuk ini ituu… Sok sibuk tepatnya hihi… Kali ini tepat banget waktunya, pas males nulis (tapi pengen exist) eh nemu tulisan ini di draft, tentang kebiasaan-kebiasaan kecil orang-orang di Jerman. Yawis diselesaikan aja dulu yang bagian pertama ini.

Kebiasaan-kebiasaan ini meskipun sebenarnya nggak terlalu penting untuk dicermati tapi menarik buat saya karena berbeda aja dengan kebiasaan-kebiasaan yang ada di Indonesia. Dan seperti biasa, kebiasaan-kebiasaan ini nggak mutlak berlaku buat semua orang Jerman ya… Tapi ya kebanyakan begitulah 😀

Ngebel pintu rumah orang cukup satu kali saja.

Yup. Ngebel sekali lalu ditunggu ada yang bukain nggak. Kalau nggak ada ya sudah kita pergi lagi. Kecuali kalau memang sudah janjian sebelumnya, biasanya kita ngebel lagi atau nilpun, bilang kalau kita sudah di depan pintu. Kalau ada bunyi bel pintu berkali-kali biasanya bisa ditebak, itu adalah anak-anak yang mainan bel pintu orang.

Dapur berada di ruangan depan.

Jadi biasanya interior rumah atau flat orang Jerman itu -tidak seperti rumah-rumah di Indonesia yang begitu masuk dari pintu depan langsung ruang tamu atau ruang keluarga dengan sofa, meja,rak TV, dan sebagainya- begitu kita masuk dari pintu depan akan terdapat semacam lorong yang dinamakan Flür (EN: floor) yang menyambungkan ke ruang-ruang lainnya. Mengapa di Jerman kebanyakan rumahnya ada lorongnya karena faktor cuaca, supaya kalau pas pintu depan dibuka, udara dingin tidak langsung masuk ke main room (ruang tamu/ keluarga) dimana kebanyakan anggota keluarga menghabiskan waktunya di situ. Lalu di lorong tersebut, selain rak sepatu juga terdapat lemari atau sekedar gantungan untuk menaruh barang-barang yang dikenakan dari luar seperti tas, syal, jaket. Setelah semua dilepas di lorong, baru deh nyantai masuk main room-nya.

Nah begitu masuk lorong ini, biasanya ruangan yang paling dekat diakses, alias ruangan yang paling depan adalah dapur. Kalau ini saya nggak tahu sebabnya, mengapa demikian. kalau di Indonesia kan dapurnya di belakang bahkan kalau rumah model lama malah di belakang banget, diumpetin. Di sini justru di ruangan paling depan dan banyak juga yang dapurnya jadi satu dengan main room, open kitchen gitu. Buat saya sih nggak cocok karena saya nggak suka kalau main room jadi bau bawang atau terasi ketika masak.

37519474520_82e652d446_o
Ini dapur di rumah. Begitu masuk rumah, dapur ini ada di sebelah kanan. Di sebelah kirinya toilet tamu. Dapur saya aslinya ada pintunya tapi kami copot, diganti dengan pembatas ruangan yang bisa digeser-geser itu.

Kalau traffic light di depan sedang hijau, orang-orang bukannya ngebut ngejar hijaunya tapi malah pelan-pelan.

Mengapa? Karena kalau ngebut trus lampunya merah lagi kita nggak bakalan bisa mengontrol kecepatan, bisa-bisa nggak sempat ngerem dan akibatnya malah menerobos lampu merah. Jadi mending pelan-pelan menunggu sampai lampu merah lalu hijau lagi dan berjalan lagi dengan nyaman. Lampu merah di sini tidak pernah lama kok jadi nggak ada yang keberatan berhenti di lampu merah demi keamanan. Saya nggak tahu berapa denda melanggar lampu merah di Jerman tapi orang-orang di sini sangat disiplin dengan lampu merah. Di tengah malampun di mana nggak ada kendaraan di ketiga sisi persimpangan, kalau lampu merah ya kita berhenti menunggu sampai hijau. Dulu sih pertama-tama tinggal di Jerman saya merasa dungu juga berhenti sendiri di lampu merah padahal dari jauh juga kelihatan kalau nggak ada kendaraan di sisi lain 😀

Hampir semua mobil berkaca bening maka jangan kaget kalau melihat ada orang ngobrol antar mobil ketika berhenti di lampu merah.

Suatu hari di musim panas, saya nyetir mobil dengan rambut tertutup hoodie. Tiba-tiba di lampu merah mas-mas di mobil sebelah buka jendela lebar-lebar dan bertanya ngapain pake hoodie di cuaca seindah ini… Yaolo mas-nya care banget, pikir saya. Saya jawab aja kalau lagi having bad hair day. Masnya ngakak trus iseng aja nanyain apa kabar, mau kemana…sampai lampunya hijau  lagi dan kita saling dadah-dadah karena saya harus nyetir terus ke depan, dan dianya belok kanan. Apa kita sudah saling kenal? No.

Kalau ada yang ngasih jalan, yg dikasih melambai tanda terima kasih.

Kebanyakan pengendara mobil di Jerman itu sopan-sopan. Mereka suka memberi kesempatan kepada pengendara lain untuk jalan duluan jadi macet di belokan karena rebutan jalan itu hampir nggak ada. Kalau lawan pengendara ngedim ke kita, berarti kita disuruh jalan duluan. Sebagai balasannya kita akan melambaikan tangan tanda terima kasih. Apa aturan tersebut diajarkan di tempat kursus nyetir? Di tempat saya kursus dulu sih gurunya ngasih tahu sekilas tapi nggak ada aturan tertulisnya.

Apapun cuacanya, ngajak anak main di luar.

Yup, apapun cuacanya. Kecuali kalau ada angin puting beliung aja kali. Yang harus disesuaikan cuman bajunya saja. Kalau pas hujan ya pakai raincoat. Kalau pas salju tebal ya pakai baju khusis salju. Minimal 1x sehari para orang tua pasti mengajak anaknya main di luar.  Kalau saya sih termasuk golongan yang sangat melihat-lihat cuaca dulu sebelum keluar hihi…

Makan makanan hangat cukup sekali dalam sehari.

Makanan hangat atau yang biasa disebut Warmes Essen yang dimaksud adalah makanan yang ‘dimasak’, misalnya nasi, sup, kentang, daging-dagingan. Kebanyakan orang Jerman makan makanan hangat hanya saat lunch ATAU dinner saja, selebihnya ya makan makanan dingin. Makanan dingin ynag dimaksud misalnya roti dengan sosis dan selada atau selai-selaian, pokoknya yang tinggal comot dan nggak harus nyalain kompor. Praktis memang mereka tapi kalau soal urusan perut saya lebih suka repot dikit. Kami makan hangat dua kali sehari, lunch DAN dinner. Paginya makan roti-rotian atau oatmeal. Kalau kamu sarapannya gimana?

Kalau pas kerja, saya lunch-nya random. Kadang bawa makanan hangat dari rumah yang bisa dipanasin di microwave, kadang bawa overnight oatmeal doang dan side dishnya apa aja yang bisa  diambil di dapur kantor misalnya kripik pisang dan waffle instant.
999A0389-1eS
Homemade artisan bread buat sarapan.

Itu dulu tentang kebiasaan-kebiasaan kecil orang Jerman. Selebihnya ditulis nanti ya, biar next time ada bahan tulisan lagi 🙂

To be continued…

 

Random Sunday – Di Sekitar Sini Saja

 

999A7246-1es
Fotonya nggak nyambung gapapa ya… kan random photo yang diambil 😀
Kapan itu pas nganter Flipper ke TK, saya ketemu dg seorang bapak yang sering saya lihat di playground, main dengan anaknya yg satu TK dengan Flipper tapi beda kelas. Si bapak tadi nyangklong roller yang menurutku pretty cool. Secara roller-nya Flipper udah kekecilan, saya nanya dong itu roller mereknya apa dan anaknya umur brp (faktor ukuran roller-nya). Eh lah ternyata si bapak ini mikir lama pas ditanya umur. Akhirnya dengan ragu-ragu dia menjawab: I think she is five…😅 #men #dad

Jadi biasanya anak- anak tetangga suka ngebel trus bertanya si Flipper mau keluar main nggak sama mereka? Tapi  beberapa hari yang lalu ada anak umur 5 tahunan, ngebel untuk pertama kalinya di rumah kami dan bertanya dengan sopannya, “Apa aku boleh mengajak anak perempuanmu keluar?” Aaaaw… yang terpesone emaknya 😄

Enaknya jadi pelanggan online shops adalah, ketika ulang tahun kita bisa dapat banyak voucher discount dari banyak olshop untuk belanja hihi… Lalu dari keluarga jauh biasanya dapat hadiah duit. Pas lah ya… #pengenultahterus

Hari Pertama Masuk SD (Einschulungstag)

Kemarin di provinsi North Rhine Westphalia Jerman merupakan hari pertama anak-anak masuk SD atau di sini disebut Einschulungstag. Di sini hari pertama masuk SD adalah a big thing buat para orang tua. Eh pastinya di Indonesia juga ya, di mana para orang tua terharu biru karena si anak yang dulunya bayi, lalu menjadi toddler, kini sudah kelas satu SD. Tak heran bila kemarin banyak terlihat anak-anak yang menyandang ransel gede di punggungnya dan mendekap bingkisan besar berbentuk kerucut berhias  yang disebut Schultuete.

Rutinitas hari pertama masuk SD di sini diawali dengan kumpul bersama, sesama siswa baru ditemani orang tua, opa-oma dan saudara-saudara mereka di gereja yang sudah ditunjuk oleh pihak sekolah. Setelah itu  mereka pergi bersama-sama ke gedung SD. Di SD mereka akan diterima oleh kepala sekolah dan disambut dengan pidato selamat datangnya. Setelah itu mereka mulai dipisah di kelas masing-masing. Sejauh pengalaman saya motret hari pertama masuk SD, rata-rata di sini satu kelas diisi 20-25 anak.  Di dalam kelas mereka berkenalan dengan wali kelas mereka sekaligus menerima wejangan dan  aturan-aturan dos dan don’ts. Salah satu yang dianjurkan adalah supaya anak-anak pergi ke sekolah dengan jalan kaki (tentunya dengan ditemani orang dewasa dulu di hari-hari pertama) supaya mereka hapal jalan ke sekolah dan bisa belajar mandiri. Itulah sebabnya anak-anak di sini pilihan sekolahnya tergantung dengan jarak jauh-dekatnya dengan tempat tinggal. Di kota tempat tinggal saya, untuk selevel TK dan SD tidak ada golongan sekolah favorit dan non favorit, semua memiliki kualitas yang sama.  Nggak tahu ya kalau di kota lain.

Setelah prosesi penerimaan siswa baru yang kira-kira memakan waktu 2 jam, merekapun pulang ke rumah.  Di rumah  para orang tua biasanya mengadakan  pesta makan siang dengan mengundang keluarga dan teman dekat. Ada yang mengadakan pesta di rumah tapi ada juga yang booking tempat di restoran. Di saat makan siang inilah anak-anak mulai diperbolehkan membuka Schultuete mereka. Apa sebenarnya Schultuete itu?

Schultuete  merupakan bagian dari tradisi hari pertama masuk SD dan bisa dibeli kosongan di toko-toko yang banyak menjualnya menjelang bulan Juli dan Agustus atau membuat sendiri. Kebanyakan sih  anak-anak di sini membuat Schultuete sendiri  dibantu papa mama. Sebelumnya, saat masih di Kindergarten, anak-anak yang akan masuk SD tersebut juga sudah diajarin oleh  gurunya bagaimana membuat Schultuete sendiri.

Tradisi ini berawal di kota Jena pada tahun 1800 an dimana untuk menambah semangat si anak masuk sekolah baru (baca: mengurangi kecemasan anak-anak) , para orang tua dan saudar-saudara yang lain memberi hadiah berupa permen dan coklat yang dimasukkan ke dalam Schultuete tersebut. Saat ini sih isi Schultuete nggak hanya permen-permenan namun juga alat-alat sekolah dan mainan.

Berikut ini adalah beberapa foto dari Einschulung photo session kemarin:



Don’t cry mama!

 

Selain Schultuete, hal yang menarik lainnya adalah ransel besar yang dikenakan anak-anak SD tersebut. Ransel ini akan dikenakan sehari-hari tentunya, tidak pada hari pertama saja.

Orang pendatang yang melihat ransel itu pertama kalinya di Jerman pasti berpikir what the heck is that? Besar, terlihat berat dan desainnya jelek semua (at least menurut saya ya). Saya bahkan sempat kasihan melihat anak-anak yang mengenakan tas kebesaran tersebut. Namun rupanya, meskipun tidak wajib mengenakannya,  ransel tersebut ternyata sangat dianjurkan untuk dipakai karena desainnya sudah disesuaikan dengan proporsi pungggung, tubuh anak, dan ada ukuran-ukuran tertentu disesuaikan dengan umur dan berat/ tinggi badan mereka. Bahannyapun ternyata ringan jadi meskipun besar, dia tidak berat (yang bikin berat mah buku-buku di dalamnya).

Selain sudah diperhitungkan faktor ergonomic-nya, soal fungsi juga diperhitungkan banget. Di interior ranselnya terdapat sekat-sekat untuk buku, kotak bekal, botol minuman, pencil, dst. Lalu di exterior ada reflection sticker-nya supaya kalau pagi-pagi berangkat ke sekolah, meksipun gelap di musim dingin, anak-anak itu tetap terdeteksi. Oh iya, bahan ransel yang free toxic juga menjadi pertimbangan untuk membeli ransel sekolah. Tak heran deh pokoknya bila ransel jelek ini harganya di atas 100€, apalagi yang ada stempel TÜV nya. Ngalah-ngalahin harga tas mamanya deh pokoknya 😂

Yang mau lihat gimana bentuk ranselnya, bisa klik di google images sini ya.

Kalau di tempat tinggal kalian ada tradisi khusus untuk anak sekolah nggak?