Random Sunday – Di Sekitar Sini Saja

 

999A7246-1es
Fotonya nggak nyambung gapapa ya… kan random photo yang diambil 😀
Kapan itu pas nganter Flipper ke TK, saya ketemu dg seorang bapak yang sering saya lihat di playground, main dengan anaknya yg satu TK dengan Flipper tapi beda kelas. Si bapak tadi nyangklong roller yang menurutku pretty cool. Secara roller-nya Flipper udah kekecilan, saya nanya dong itu roller mereknya apa dan anaknya umur brp (faktor ukuran roller-nya). Eh lah ternyata si bapak ini mikir lama pas ditanya umur. Akhirnya dengan ragu-ragu dia menjawab: I think she is five…😅 #men #dad

Jadi biasanya anak- anak tetangga suka ngebel trus bertanya si Flipper mau keluar main nggak sama mereka? Tapi  beberapa hari yang lalu ada anak umur 5 tahunan, ngebel untuk pertama kalinya di rumah kami dan bertanya dengan sopannya, “Apa aku boleh mengajak anak perempuanmu keluar?” Aaaaw… yang terpesone emaknya 😄

Enaknya jadi pelanggan online shops adalah, ketika ulang tahun kita bisa dapat banyak voucher discount dari banyak olshop untuk belanja hihi… Lalu dari keluarga jauh biasanya dapat hadiah duit. Pas lah ya… #pengenultahterus

Advertisements

Hari Pertama Masuk SD (Einschulungstag)

Kemarin di provinsi North Rhine Westphalia Jerman merupakan hari pertama anak-anak masuk SD atau di sini disebut Einschulungstag. Di sini hari pertama masuk SD adalah a big thing buat para orang tua. Eh pastinya di Indonesia juga ya, di mana para orang tua terharu biru karena si anak yang dulunya bayi, lalu menjadi toddler, kini sudah kelas satu SD. Tak heran bila kemarin banyak terlihat anak-anak yang menyandang ransel gede di punggungnya dan mendekap bingkisan besar berbentuk kerucut berhias  yang disebut Schultuete.

Rutinitas hari pertama masuk SD di sini diawali dengan kumpul bersama, sesama siswa baru ditemani orang tua, opa-oma dan saudara-saudara mereka di gereja yang sudah ditunjuk oleh pihak sekolah. Setelah itu  mereka pergi bersama-sama ke gedung SD. Di SD mereka akan diterima oleh kepala sekolah dan disambut dengan pidato selamat datangnya. Setelah itu mereka mulai dipisah di kelas masing-masing. Sejauh pengalaman saya motret hari pertama masuk SD, rata-rata di sini satu kelas diisi 20-25 anak.  Di dalam kelas mereka berkenalan dengan wali kelas mereka sekaligus menerima wejangan dan  aturan-aturan dos dan don’ts. Salah satu yang dianjurkan adalah supaya anak-anak pergi ke sekolah dengan jalan kaki (tentunya dengan ditemani orang dewasa dulu di hari-hari pertama) supaya mereka hapal jalan ke sekolah dan bisa belajar mandiri. Itulah sebabnya anak-anak di sini pilihan sekolahnya tergantung dengan jarak jauh-dekatnya dengan tempat tinggal. Di kota tempat tinggal saya, untuk selevel TK dan SD tidak ada golongan sekolah favorit dan non favorit, semua memiliki kualitas yang sama.  Nggak tahu ya kalau di kota lain.

Setelah prosesi penerimaan siswa baru yang kira-kira memakan waktu 2 jam, merekapun pulang ke rumah.  Di rumah  para orang tua biasanya mengadakan  pesta makan siang dengan mengundang keluarga dan teman dekat. Ada yang mengadakan pesta di rumah tapi ada juga yang booking tempat di restoran. Di saat makan siang inilah anak-anak mulai diperbolehkan membuka Schultuete mereka. Apa sebenarnya Schultute itu?

Schultuete  merupakan bagian dari tradisi hari pertama masuk SD dan bisa dibeli kosongan di toko-toko yang banyak menjualnya menjelang bulan Juli dan Agustus atau membuat sendiri. Kebanyakan sih  anak-anak di sini membuat Shultuete sendiri  dibantu papa mama. Sebelumnya, saat masih di Kindergarten, anak-anak yang akan masuk SD tersebut juga sudah diajarin oleh  gurunya bagaimana membuat Schultuete sendiri.

Tradisi ini berawal di kota Jena pada tahun 1800 an dimana untuk menambah semangat si anak masuk sekolah baru (baca: mengurangi kecemasan anak-anak) , para orang tua dan saudar-saudara yang lain memberi hadiah berupa permen dan coklat yang dimasukkan ke dalam Schultuete tersebut. Saat ini sih isi Schultuete nggak hanya permen-permenan namun juga alat-alat sekolah dan mainan.

Berikut ini adalah beberapa foto dari Einschulung photo session kemarin:



Don’t cry mama!

Selain Schultuete, hal yang menarik lainnya adalah ransel besar yang dikenakan anak-anak SD tersebut. Ransel ini akan dikenakan sehari-hari tentunya, tidak pada hari pertama saja.

Foto diambil dari: http://www.ksb-es.de/neue-ranzen-machen-kinder-gluecklich/

Orang pendatang yang melihat ransel itu pertama kalinya di Jerman pasti berpikir what the heck is that? Besar, terlihat berat dan desainnya jelek semua (at least menurut saya ya). Saya bahkan sempat kasihan melihat anak-anak yang mengenakan tas kebesaran tersebut. Namun rupanya, meskipun tidak wajib mengenakannya,  ransel tersebut ternyata sangat dianjurkan untuk dipakai karena desainnya sudah disesuaikan dengan proporsi pungggung, tubuh anak, dan ada ukuran-ukuran tertentu disesuaikan dengan umur dan berat/ tinggi badan mereka. Bahannyapun ternyata ringan jadi meskipun besar, dia tidak berat (yang bikin berat mah buku-buku di dalamnya).

Selain sudah diperhitungkan faktor ergonomic-nya, soal fungsi juga diperhitungkan banget. Di interior ranselnya terdapat sekat-sekat untuk buku, kotak bekal, botol minuman, pencil, dst. Lalu di exterior ada reflection sticker-nya supaya kalau pagi-pagi berangkat ke sekolah, meksipun gelap di musim dingin, anak-anak itu tetap terdeteksi. Oh iya, bahan ransel yang free toxic juga menjadi pertimbangan untuk membeli ransel sekolah. Tak heran deh pokoknya bila ransel jelek ini harganya di atas 100€, apalagi yang ada stempel TÜV nya. Ngalah-ngalahin harga tas mamanya deh pokoknya 😂


Foto diambil dari: http://www.t-online.de/leben/familie/schulkind-und-jugendliche/id_19084134/stiftung-warentest-schulranzen-muessen-vor-allem-stabil-sein.html

Kalau di tempat tinggal kalian ada tradisi khusus untuk anak sekolah nggak?

Play Date Bocah.

IMG_3619s.jpg
Flipper (kiri) gandengan dengan temannya mau main ke rumah.

Alhamdulillah bulan ini Flipper sudah genap 8 bulan di TK dan sejauh ini tidak ada kendala-kendala yang berarti. Absen karena sakit hanya dua kali dan makan siang di TK, meskipun menunya tidak selalu favorit dia, kata gurunya dia tetap mau makan. Makan bareng bersama teman-teman memang selalu lebih asyik kan.

Sejak masuk TK jadwal play date atau janjian bermain bersama teman-temannya juga makin padat. Dulu sebelum masuk TK kami punya jadwal tetap untuk play date bersama teman dari baby club yang alhamdulillah sampai sekarang masih tetap berhubungan baik, kini ada tambahan play date dengan teman TK di mana si orang tua tidak wajib ikutan hadir di play date.

Dengan teman sekelas, Flipper punya jadwal tetap untuk play date dengan Laura yaitu pada hari Senin dan Rabu. Mamanya Laura ini kan kalau hari Senin kerja sampai jam 5 sore sehingga tidak bisa menjemput Laura jam 3 sore jadi saya jemput mereka berdua sekalian dan mengajak bermain bareng di rumah. Nanti sekitar jam setengah enam sore mamanya Laura datang menjemput.

Hari Rabunya Flipper ada les tari jam 14.30 sedangkan saya kerja sampai jam 14.00, itupun kalau pulangnya bisa on time. Lumayan gedabrukan juga kalau dari tempat kerja jemput Flipper trus lanjut ke les tari. Nah si Laura kan juga ikutan les tari yang sama, jadi kalau hari Rabu gantian mamanya Laura yang jemput si bocah berdua dan membawa mereka ke tempat les. Usai les tari mereka main di rumah Laura yang kebetulan nggak jauh dari tempat les. Nanti jam 5-an baru deh saya jemput Flipper. Dalam hal ini mamanya Laura dan saya saling diuntungkan, saling membantu dan si bocah berdua juga senang bisa bermain bareng.

Selain jadwal yang tetap itu, Flipper juga punya random play date dengan teman-temannya yang lain. Either Flipper yang datang ke tempat mereka atau si teman yang main ke tempat kami. Anak-anak TK ini rupaya sering janjian sendiri buat main di rumah temannya. Kronologinya biasanya begini: Flipper mengundang si A untuk datang bermain ke rumah. Kalau si A setuju, baru Flipper tanya ke saya apa dia boleh mengundang si A. Kalau saya pas nggak sibuk selalu saya iyakan namun Flipper harus minta ijin dulu ke mamanya A (meskipun biasanya si A sendiri sudah bilang ke mamanya). Nah adegan minta ijin ke mama temannya ini yang suka lucu. Saya sempat melihat sendiri waktu menjemput Flipper di TK, kebetulan mama A juga datang menjemput A. Flipperpun langsung sok imut nglendot-nglendot mama A sambil ngrayu: A boleh ya main ke rumahku? Please…ya…ya… Boleh ya?

Dulu pertama-tama melihat kejadian itu saya ketawa, ada-ada aja bocah ini. Tapi rupanya adegan seperti itu sudah wajar di kelas Flipper (nggak tahu ya kalau di kelas-kelas lain). Saya juga pernah dirayu, let say si B, dia yang waktu itu pengen bermain ke rumah kami tapi saat itu saya sedang sibuk dan tidak bisa mengawasi dua bocah di rumah jadinya saya tolak. Si B yang sudah peluk-peluk saya jadi sedih, tapi saya janji ke dia kalau minggu depan dia boleh datang, diapun ceria lagi.

Beberapa anak laki-laki juga sempat minta ijin saya untuk mengundang Flipper play date ke tempat mereka tapi begitu undangannya saya teruskan ke Flipper, Flippernya menolak. Dia so far hanya mau datang ke rumah teman perempuan. Kalau anak laki-laki minta ijinnya nggak pakai acara merayu dan lendotan seperti anak-anak perempuan. Mereka bertanya dengan sopan seperti halnya gentleman mau ngajak anak cewe dating. So sweet deh pokoknya anak-anak ini.

Setahu saya sih, para orang tua tidak pernah memaksakan anak untuk mengundang temannya main ke rumah atau menyuruh anak main ke rumah temannya. Biasanya anak-anak sendiri yang punya ide dan kami para orang tua tinggal menyesuaikan jadwal. Kebanyakan ibu di kelas Flipper  bekerja paruh waktu, tidak full time. Saya sendiri bekerja hanya dari hari Rabu hingga Jumat, mamanya Laura hanya hari Senin dan Selasa tapi full time sampai jam 5 sore, demikian juga mama-mama yang lain, mereka bekerja pada hari-hari tertentu saja. Jadi kami memanfaatkan janjian anak-anak dengan jadwal kerja/ kegiatan kami sehingga tidak ada yang saling dirugikan dan yang penting anak-anak happy.

Kalau ada orang tua yang mendadak berhalangan menjemput anaknya, kita juga biasa saling bantu menjemput. Yang penting kita harus berkomunikasi juga dengan gurunya di TK sehingga mereka tahu kalau si A hari ini bakalan ikut si B ke rumah. Meskipun tidak ada aturan tertulis kalau para orang tua harus saling bantu, saling gantian jemput anak namun kami sudah sama-sama tahu etikanya. Ada juga orang tua yang tidak pernah mengajak teman anaknya main ke rumah karena dia tidak mau terbebani acara ‘balas jasa’ ini, which is okay. Biasanya orang tua yang tidak mau gantian ini kakek neneknya tinggal dekat rumah, atau ada tante om yang bisa dititipin anak.

Buat saya pribadi dimana orang tua saya dan orang tua suami  serta sanak saudara tinggalnya jauh semua, acara gantian jemput-jaga anak ini membantu sekali melancarkan kegiatan sehari-hari dan untuk Flipper juga selalu menyenangkan punya teman main yang lebih private, tidak rame-rame dan berisik seperti di TK. Intinya simpel saja, tidak ada yang keberatan dalam hal ini, baik si bocah maupun si orang tua.

Kalau ada anak main ke rumahpun kita tidak perlu repot menyiapkan makanan macam-macam. Obstteller atau sajian buah potong di piring adalah wajib, selain itu paling roti-rotian dan kacang. Tidak semua anak di sini boleh makan kue atau yang manis-manis tapi biasanya para orang tua akan saling ngasih informasi duluan kalau anaknya nggak boleh makan ini dan itu. Saya jarang menyiapkan makanan berat buat teman Flipper karena biasanya mereka datang setelah jam makan siang dan pulang sebelum jam makan malam tapi kalaupun ada yang ikutan makan malam di rumah, menu netral yang saya sajikan yang pasti anak-anak mau makan adalah mac and cheese. Kalau soal kegiatan yang mereka lalukan, kita nggak perlu repot sama sekali, anak-anak bisa menentukan sendiri apa yang mau mereka lakukan. Kalau cuaca di luar pas bagus, sering juga kita main di luar. Setelah acara play date usaipun mereka membereskan mainannya bareng-bareng.

Hari ini kebetulan Flipper nggak ada janjian dengan temannya jadi saya bisa mengajak dia jalan-jalan. Flipper pengen ke perpustakaan tapi pulangnya harus mampir ke kedai es krim. Haha semoga sudah ada kedai es krim yang buka secara masih musim dingin begini. Kalau nggak ada yang buka ya sudahlah, dibelikan Ben & Jerry’s di supermarket saja ya nak…

IMG_5354s.jpg
Perkenalkan: Band Ngemil

-beth-

Potret Diri

Duluuu pas baru buka bisnis foto studio di sini, saya sempat menyebar brosur di kampung saya yang isinya portfolio singkat karya-karya portrait saya. Tak diduga tak dinyana, banyak orang yang komentar: loh kok ini bukan kamu yang di foto? Loh ini emangnya kamu? Kok blonde?

Err…maaf pak, bu, saya kan fotografernya… ini model-model saya yang di foto 😅

Lalu hari gini, Di saat Gorilaz dan Cro (penyanyi Jerman) masih tetep suka menyembunyikan muka asli mereka, seorang customer yang puas dengan hasil karya saya merekomendasikan saya ke beberapa temannya. Salah satu temannya itu langsung tilpun saya siang tadi dan bertanya ini itu. Sayapun memberi alamat website saya ke dia, biar dia bisa ceki-ceki sendiri. Beberapa saat kemudian datang sms darinya: Foto dirimu kok nggak ada ya? Saya pengen lihat…

Eh😅

Di sini sepertinya memang sudah kebiasaan kalau pemilik bisnis selalu memuat potret diri mereka tak hanya di website namun juga di kartu nama bahkan iklan koran (sayang siang tadi adalah hari pengambilan sampah kertas jadi udah nggak ada koran di rumah, nggak bisa kasih contoh). Mulai dari tukang ledeng sampai pengacara. Seriously, kalau mesin cuci di rumah rusak atau perlu pengacara atau notaris untuk ngurus rumah, saya nggak peduli deh muka mereka kayak gimana 😅 Kalau kamu?

Note: Foto-foto di bawah ini bukan saya ya 😀

img_5470lr_eoks

img_5061lr_e

img_0077-1es
-beth-

Remember the day when (5) – Mama Sakit Kepala

Lagi di toko mainan, mau nyari kado buat anaknya teman. Tiba-tiba terdengar suara aneh dari salah satu mainan, seperti suara Darth Vader tapi lebih cempreng. Seorang anak kecil di sebelah bertanya pada kakaknya (atau temannya, entahlah), “suara apa itu?” Si kakak berusaha menyibak mainan satu persatu mencari sumber suara tapi nggak ketemu dan menjawab, “entahlah”.

Lalu si adik ngomong lagi, “suaranya seperti mama kalau lagi sakit kepala”

Dan sayapun ngikik dengan sukses.

Menyanyi Bersama Frau Höpker

Beberapa minggu yang lalu seorang teman yang belum lama saya kenal bertanya apa saya suka menyanyi. Suka dong, saya dulu vocalist di sebuah band kampus yang akhirnya pensiun dan sekarang aktif berkaraoke ria dengan Xbox di rumah atau sambil main gitar semampunya. Si teman ini, sebut saja namanya Penny, lalu mengajak saya ikutan acara menyanyi bersama di sebuah gedung pertemuan di kota sebelah. Pertama-tama saya pikir menyanyi bersama yang dimaksud itu semacam choir tapi setelah melihat sekilas info yang disodorkan Penny, acara ini adalah sebuah konsep menyanyi berbeda, yang baru pertama kali ini saya temui.

Website dalam bahasa Jerman ada di sini.

Jadi kita menyanyi bareng bersama audience lain yang datang ke acara tersebut, kenal nggak kenal  nggak masalah dan kita nggak harus kenalan dulu. Kitapun tidak harus menguasai ilmu menyanyi apapun. Tidak bisa menyanyi asalkan bisa mengeluarkan suara dan enjoy musik sudah cukup. Frau atau nona Höpker ‘memimpin’ kita di atas panggung dengan keyboard-nya. Di samping Frau Höpker ada sebuah layar lebar yang memuat text lagu yang diputar supaya kita tidak missing text. Aturan mainnya gampang saja, Frau Höpker yang menentukan lagu apa yang akan dinyayikan dan pada gerakan tangan tertentu, audience diharapkan diam dan konsentrasi lagi untuk menyanyi di lagu selanjutnya (karena di setiap jeda lagu si Frau Höpke mengajak penonton ngobrol dulu).

Waktu diajakin Penny untuk ikutan acara itu, saya sebenarnya sudah pesimis membayangkan kebanyakan lagunya pasti lagu berbahasa Jerman yang langsung ditukas oleh Penny, “ya nggak papa tho? Kan ada text-nya, pasti kamu bisa mengikuti lagunya”. Okaylah toh saya juga menyukai beberapa lagu Jerman, tapi selain soal bahasa, saya juga sudah curiga pasti bakalan banyak lagu-lagu schlager yang dimainkan di sana which I don’t really enjoy it. Schlager itu adalah aliran musik folk Jerman yang bisa disamakan dengan dangdut untuk di Indonesia atau country music untuk di Amrik sana. Dangdut sih asal bukan yang menye-menye, saya masih suka dengernya (bahkan bisa ikutan joget), tapi kalau schlager… Pernah sih sekali berdamai dengan hati, ikut memeriahkan acara musik schlager tapi waktu itu temannya banyak dan memang sedang party, jadi suasana juga mendukung. Lokasinya juga asyik sekali, yaitu di Ballerman, Mallorca-Spanyol, kota tujuannya orang Jerman bila mau party. Anyway, karena tertarik dengan konsep baru menyanyi ini, saya akhirnya menyetujui untuk ikut Penny.

Pada hari H-nya, yaitu tanggal 5 November kemarin, Penny bersama dua temannya menjemput saya jam 6 sore. Ketika sampai di hall tempat pertunjukan, saya makin pesimis melihat pengunjungnya yang rata-rata berusia 55 plus. Di websitenya disebutkan bahwa wawasan musik Frau Höpker sangat luas dan dia selalu memastikan bahwa semua generasi bakalan mendapat kesempatan untuk menyanyikan lagi favoritnya. Namun saya tetap pesimis. Bukan berarti saya hanya mendengarkan lagu  yang kekinian saja, saya juga kenal kok lagu-lagu lama dari jaman papa mama saya dulu. Namun…ah sudahlah, semuanya harus dicoba dulu, jangan pesimis duluan. Setelah membayar tiket seharga €15/ person yang sudah di-booking oleh Penny beberapa minggu sebelumnya (khas Jerman, semua harus dibuking duluan), kamipun masuk ke hall sederhana dengan lighting decor yang minimalis alias gelap, makanya saya nggak foto-foto.

Di sini disediakan beberapa meja tinggi untuk pengunjung. Di pojokan ada sederetan kursi yang sepertinya disediakan untuk lansia. Saya sempat bersemangat ketika melihat beberapa remaja di antara pengunjung, tetapi ternyata mereka adalah petugas yang menjual minuman dan snack. Jam 20.00 tepat acara dimulai. Frau Höpker membuka acara dengan bertanya, siapa yang sudah pernah datang ke acara ini sebelumnya (rupanya acara ini digelar setahun sekali di kota ini). Hampir 50% pengunjung mengacungkan tangan. Dan yang mengacungkan tangan ini adalah orang yang sepuh-sepuh. Oh no…berarti Frau Höpker sudah punya fans tetap di sini, berarti dia sudah tahu selera audience-nya di sini…Impian saya untuk mendengar lagu-lagu dari Shawn Mendes, Maroon Five atau yang agak senior seperti Madonna atau Michael Jackson-pun menguap.

Lagu terbaru yang dimainkan Frau Höpker hanya ‘Happy’ nya Pharel Williams dan yang lagu Jerman adalah ‘Applaus’ dari Sportfreunde Stiller yang sempat menjadi hit di tahun 2013. Selebihnya adalah lagu-lagu super lama dimana ketiga wanita Jerman ynag menemani sayapun tidak akrab dengan lagu-lagu tersebut. But they enjoyed it! And I did not! Lagu berbahasa Inggrisnya juga tak kalah tua, beberapa yang saya kenal adalah ‘Venus’-Shocking Blue, ‘Living the Next Door to Alice’-Smokie, ‘(Everything I Do) I Do It for You’-Bryan Adams. Selebihnya adalah lagu-lagu schlager tua dan karena Frau Höpker (entah kenapa) ikutan aktif berkampanya untuk Hillary Clinton, beberapa lagu dari Bruce Springsteen dari tahun 70-an pun keluar.

Saya melihat hampir semua orang menikmati acara malam itu, banyak yang joget dan gaya Frau Höpker juga heboh, seperti DJ-DJ yang keren itu, put her hands in the air…yeah!  Ada sih beberapa bapak-bapak yang tampak bosan seperti saya, mungkin mereka terpaksa datang untuk menemani istrinya. Penny, Kathrin dan Nadine yang seumuran dengan saya (Penny bahkan beberapa tahun lebih muda) bahkan sudah janjian mau datang lagi tahun depan. Waktu mereka bertanya apa saya mau ikutan lagi, saya langsung bilang ‘enggak’ dan merekapun tertawa ngakak mengasihani saya yang terjebak kebosanan di sana.

Entahlah mungkin wawasan musik saya yang memang tidak seluas yang saya percaya sebelumnya. Atau kebetulan sekitar 20 lagu yang dimainkan frau Höpker tidak ada satupun yang menjadi favorit saya. Atau  memang konsep menyanyi bersama yang hanya diiringi keyboard ini kurang seru untuk saya. Menurut saya kalau musiknya playback atau ada band lengkapnya sekalian pasti asyik. BUT, it doesn’t mind, saya toh puas karena akhirnya ngerti ini acara musik apaan. Yang tidak saya mengerti adalah, ketika banyak orang suka menyanyi di sini, kenapa tidak ada bisnis karaoke di sini?

Setelah acara menyanyi bersama Frau Höpker selesai, saya sempat ngobrol-ngobrol bersama Penny dan kedua kenalan baru saya dan beberapa ibu-ibu di sebelah. Dari mereka dan setelah browsing websitenya Frau Höpker lagi, bisa dikatakan bahwa konsep menyanyi bersama yang diciptakan pada tahun 2008 leh Frau Höpker ini lumayan sukses. Frau Höpker jadwal konsernya padat di segala penjuru Jerman dan pengunjungnya selalu ramai. lalu sayapun melontarkan pertanyaan di atas kepada the ladies, kalau kalian begitu suka menyanyi, kenapa nggak pergi ke karaoke? “Nooo…”, jawab mereka. Nyanyi di karaoke bar kan malu, banyak orang lain yang melihat dan kita suaranya nggak bagus-bagus amat. Kalau menyanyi di sini kan semuanya ikut menyanyi, nggak ketahuan mana suara jelek dan bagus. Dan kalau karaokean sendiri di rumah tidak seru….adalah beberapa alasan mereka.

Lalu saya bercerita tentang karaoke cabine/ room di Indonesia yang bisa di-book rame-rame bersama teman dan kita bisa memilih lagu sesuka hati dengan ketinggian nada yang bisa diatur pula. Sajian makanan dan minuman pun bisa dipesan sesuka hati. Wah mereka antuasis sekali dengan acara menyanyi yang model begini dan berharap bakalan ada bisnis seperti itu di Jerman segera karena kalau mau setia dengan Frau Höpker ya harus menunggu setahun lagi. Memang belum banyak orang yang menawarkan jasa seperti si Frau Höpker ini, cerdas juga sih idenya si Frau ini. Tapi kalau saya lebih suka ke karaoke sajalah. Siapa ya yang kenal pengusaha atau orang yang duitnya kebanyakan, sini ajakin saya berbisnis karaoke di Jerman 😀

Remember the day when…(4) Brazilian Waxing

Di kota kecil saya ada salon waxing baru dan meskipun saya tahu bahwa di sini rata-rata harus janjian dulu kalau mau ke salon, saya coba saja untung-untungan mampir ke situ. Kalaupun mereka jadwalnya penuh toh masih bisa bikin janji untuk nanti-nanti.

Waktu saya masuk ke salon tersebut, ruang resepsionis tampak kosong dan hanya terlihat dua pria yangsedang membuka-buka majalah wanita dengan tatapan tak minat. Di sebelah mereka ada tas wanita, pasti milik pasangan mereka yang sedang ‘dikerjai’ di ruang waxing. Melihat saya tolah-toleh nggak tahu musti ngapain karena tidak ada petugas yang approach, salah satu pria menunjuk dengan dagunya sebuah lonceng yang tergeletak di atas meja resepsionis. Agak ketutupan majalah, jadinya saya tadi tidak melihatnya. Setelah menggoyang loncengnya, muncullah mbak-mbak dari salah satu ruang praktek. Tangannya dibungkus sarung tangan plastik seperti dokter-dokter itu.

Sayapun mengutarakan niat saya untuk waxing bagian intim alias Brazilian wax dengan lirih, malu kan kalau didengar dua pria yang duduk di situ. Mbaknya bilang untuk hari itu sayangnya tidak ada jadwal yang kosong, jadi saya dibuatkan jadwal untuk beberapa hari ke depan. Saya setuju.

Lalu nih, dengan penuh penghayatan, dengan suara keras, mbaknya bertanya apakah saya mau Brazilian waxing yang model Hollywood cut, landing strip apa triangle. Sambil bertanya begitu dia juga menjelaskan dengan tangannya yang membentuk segitiga, garis lurus dan gaya ‘jebret-jebret’ di depan anunya dia sendiri (mbaknya pakai baju sopan sih jadi jangan dibayangkan yang tidak-tidak). Saya tentu saja jadi nggak enak melihat mbaknya yang dramatical begitu, apalagi dua pria yang yang ada di situ serta merta menaruh majalah mereka dan menatap saya seolah-olah sangat tertarik dengan jawaban yang akan saya berikan ke mbaknya.

Dan meskipun saya sudah sepelan mungkin menjawab pertanyaan mbaknya, si mbak ini mengulangnya kenceng-kenceng sambil menulis di buku jadwalnya. Asyem tenan ini si mbak. Sayapun buru-buru cabut dari salon tersebut tanpa tolah-toleh lagi. Malu! >.<

img_0633-1es