Tradisi Advent – Menjelang Natal

Sebentar lagi Natal dan suasana di bumi sebelah sinipun mulai lebih ceria dari minggu-minggu sebelumnya. Sebenarnya kita nih nggak merayakan Natal dan sebelum ada Flipper, kami nggak terpengaruh dengan euforia Natal yang kental di negeri ini. Paling cuman ikutan tukar kado aja dengan big family-nya D, pak suami. Tapi sejak ada Flipper kami jadi ikutan beli pohon Natal, bikin Advent wreath sendiri dan bungkus-bungkus kado kecil-kecil buat Advent calendar.

Ini tahun kedua kami ‘beraktifitas’ Natal selain tukar kado. Itupun kalau dibanding dengan kebanyakan orang sini, aktifitas kami ini tergolong super basic banget. Iyalah, yang lain pada heboh menghias jendela bahkan seluruh rumah luar dalam dihias lampu warna-warni. Ada yang mengundang Nikolaus datang ke rumah lalu baking aneka macam cookies. Di luar rumah kami tidak ada deko apapun, sekedar lampu berbentuk rusa yang duduk antengpun nggak ada. Nggak ada hiasan atau lampu gantung apapun di jendela. Eh ada ding, gantungan di jendela dapur tapi itu mah memang menggantung sepanjang tahun, bukan khusus untuk natal.

Berikut ini adalah salah satu aftifitas menjelang Natal, membuat deko Lilin Advent. Aslinya sih disebut Advent wreath atau dalam bahasa Jermannya Adventskranz. Tapi saya nyebutnya Lilin Advent saja karena nggak ada wreath-nya sama sekali. Lilin ini berjumlah 4 yang dinyalakan satu persatu, dimulai pada minggu ke-4 sebelum Natal. Tahun ini Advent pertama jatuhnya besok, tanggal 3 Desember. Karena dinyalakannya satu-satu, maka dianjurkan lilin yang pertama dinyalakan lebih tinggi dari ketiga lilin lainnya, tapi nggak harus sih.

Tahun lalu Flipper tidak ikut membantu membuat Lilin Advent, dia kebagian acara tiup lilin saja setiap malam.

IMG_3626
Our first Advent Candles ever, 2016.

Tahun ini Flipper tetap nggak ikut mendekor Lilin Advent karena saya dapat idenya tengah malam dan langsung eksekusi. Keesokan harinya Flipper menambahkan kuda-kudaannya di sebelah lilinnya. Lucu juga, tapi masa kuda? Setelah mengantar Flipper ke TK-pun, saya langsung meluncur ke toko deko mencari rusa. Got two of them!

999A0081-1s

999A0087-1s
Advent Wreath 2017. Kudanya Flipper nongkrong di bawah saja 😀

Lalu tentang aktifitas dengan Advent Calendar yang selanjutnya disebut AC saja. AC yang entah dari mana asal muasal tradisinya ini adalah kalender dari tanggal 1 sampai 24 Desember yang berisi kado-kado kecil, jadi semacam excitement of Christmas countdown. Saya sendiri mengenal AC sejak tinggal di Jerman. Isi kadonya biasanya hal-hal sederhana saja seperti misalnya permen, puisi, lilin, karet penghapus, notebook (bukan laptop) sketsa gambar, etc. Tapi saat ini mulai banyak dijumpai AC baik yang homemade maupun yang ‘instant’ (beli di toko) yang harganya di atas 200€. Itu baru AC lho ya, belum hadiah Natalnya yang secara logisnya harus lebih heboh dari AC. Ah kalau yang mahil-mahil gitu saya nggak ikutan ah.

Sebelum ada Flipper pak suami dan saya biasa beli AC ‘instant’ di toko yang isinya coklat untuk setiap harinya. AC coklat merek Lindt harganya di atas 5€ kalau yang merek ecek-ecek 2€ pun bisa dapet. Ini untuk 24 hari lho ya. Isinya coklat  kecil-kecil.

gefaehrliche-adventskalender-die-hersteller-haben-auf-die-kritik-reagiert-

Sumber foto di atas dari T-Online.

Tapi sejak tahun lalu tradisi AC kami bertambah, yaitu bikin AC buat si Flipper. Sebenernya buat anak-anak banyak juga AC instant non sweets yang dijual misalnya dari brand Lego atau Play Mobil bahkan Schleich. Harganya mulai dari 20€ which is standard price menurut saya kalau untuk AC. 1€/ day. Tapi entah kenapa saya nggak sreg kalau beli AC instant, jadinya ya repot sediri beli pernik-pernik dan mbungkusi kado satu-satu buat si Flipper.

Advent-calendar-2016s
Flipper’s Advent calendar 2016
999A0100-1s
Flipper’s Advent Calendar 2017.

Jatah kado AC Flipper untuk 24 hari adalah 25€. Barang-barang yang saya beli untuk Flipper, yang sesuai dengan anak usia 4 tahun adalah beberapa Pixi books (buku bacaan anak-anak bergambar berukuran 10cmx10cm), kaus kaki, celdam, Kinder Surprise Eggs, bubble bath yang ada temanya dari Kneipp (misalnya yang bikin airnya berwarna hitam untuk tema nenek sihir atau pink untuk tema princess), pensil warna, washi tapes, etc.

Yang lebih seru lagi, tahun ini saya juga dapat AC setiap harinya, yay! Jadi saya dan 23 teman  mengadakan AC swap, masing-masing membungkus kado yang isinya sama sebanyak 24 biji. Budget-nya seperti biasa, nggak boleh lebih dari 25€. Lalu setelah lengkap, semuanya dikumpulkan dan disebar ke semua anggota. Saya dapat bagian membungkus kado untuk tanggal 11.

IMG_1777
Kado no 11 yang saya bikin untuk Advent Calendar Swap bersama teman-teman.
IMG_1874
Kado yang saya terima balik dari teman-teman. Yay!

Kemarin saya mendapat tempat lilin dari Anna dan hari ini saya dapat homemade jam untuk roti dari Olga. Besok dapat apa lagi ya? Curious!

Lepas dari unsur keagamaannya, saya pikir aktifitas seperti ini asyik juga demi mengurangi suasanya yang selalu cenderung muram di musim dingin. Seneng aja ketika suhu di bawah nol derajat, jam 4 sore sudah gelap gulita, namun di segala penjuru tampak lampu hiasan natal berkelap-kelip. Lalu saat jam 8 pagi, masih gelap gulita juga dan kabut yang tebal di luar sana, kita punya kado kecil untuk dibuka.

Kalau di tempatmu bagaimana tradisi Natalnya? Apakah heboh juga seperti film-film Natal di TV? Oh ya, agenda saya setiap menjelang Natal dari tahun 2007 adalah nonton film Bad Santa yang dibintangi Billy Bob Thornton dan sejak tahun lalu ditambah dengan Bad Santa 2 ❤ Kamu punya film Natal favorit nggak? Home Alone Movie, mungkin?

Tulisan saya tentang Natal yang lain bisa dibaca di sini.

Advertisements

Kebiasaan Orang Jerman – Part 1

Hai hai…ternyata lumayan lama juga ya saya nggak nulis-nulis di sini. Lagi sibuk ini ituu… Sok sibuk tepatnya hihi… Kali ini tepat banget waktunya, pas males nulis (tapi pengen exist) eh nemu tulisan ini di draft, tentang kebiasaan-kebiasaan kecil orang-orang di Jerman. Yawis diselesaikan aja dulu yang bagian pertama ini.

Kebiasaan-kebiasaan ini meskipun sebenarnya nggak terlalu penting untuk dicermati tapi menarik buat saya karena berbeda aja dengan kebiasaan-kebiasaan yang ada di Indonesia. Dan seperti biasa, kebiasaan-kebiasaan ini nggak mutlak berlaku buat semua orang Jerman ya… Tapi ya kebanyakan begitulah 😀

Ngebel pintu rumah orang cukup satu kali saja.

Yup. Ngebel sekali lalu ditunggu ada yang bukain nggak. Kalau nggak ada ya sudah kita pergi lagi. Kecuali kalau memang sudah janjian sebelumnya, biasanya kita ngebel lagi atau nilpun, bilang kalau kita sudah di depan pintu. Kalau ada bunyi bel pintu berkali-kali biasanya bisa ditebak, itu adalah anak-anak yang mainan bel pintu orang.

Dapur berada di ruangan depan.

Jadi biasanya interior rumah atau flat orang Jerman itu -tidak seperti rumah-rumah di Indonesia yang begitu masuk dari pintu depan langsung ruang tamu atau ruang keluarga dengan sofa, meja,rak TV, dan sebagainya- begitu kita masuk dari pintu depan akan terdapat semacam lorong yang dinamakan Flür (EN: floor) yang menyambungkan ke ruang-ruang lainnya. Mengapa di Jerman kebanyakan rumahnya ada lorongnya karena faktor cuaca, supaya kalau pas pintu depan dibuka, udara dingin tidak langsung masuk ke main room (ruang tamu/ keluarga) dimana kebanyakan anggota keluarga menghabiskan waktunya di situ. Lalu di lorong tersebut, selain rak sepatu juga terdapat lemari atau sekedar gantungan untuk menaruh barang-barang yang dikenakan dari luar seperti tas, syal, jaket. Setelah semua dilepas di lorong, baru deh nyantai masuk main room-nya.

Nah begitu masuk lorong ini, biasanya ruangan yang paling dekat diakses, alias ruangan yang paling depan adalah dapur. Kalau ini saya nggak tahu sebabnya, mengapa demikian. kalau di Indonesia kan dapurnya di belakang bahkan kalau rumah model lama malah di belakang banget, diumpetin. Di sini justru di ruangan paling depan dan banyak juga yang dapurnya jadi satu dengan main room, open kitchen gitu. Buat saya sih nggak cocok karena saya nggak suka kalau main room jadi bau bawang atau terasi ketika masak.

37519474520_82e652d446_o
Ini dapur di rumah. Begitu masuk rumah, dapur ini ada di sebelah kanan. Di sebelah kirinya toilet tamu. Dapur saya aslinya ada pintunya tapi kami copot, diganti dengan pembatas ruangan yang bisa digeser-geser itu.

Kalau traffic light di depan sedang hijau, orang-orang bukannya ngebut ngejar hijaunya tapi malah pelan-pelan.

Mengapa? Karena kalau ngebut trus lampunya merah lagi kita nggak bakalan bisa mengontrol kecepatan, bisa-bisa nggak sempat ngerem dan akibatnya malah menerobos lampu merah. Jadi mending pelan-pelan menunggu sampai lampu merah lalu hijau lagi dan berjalan lagi dengan nyaman. Lampu merah di sini tidak pernah lama kok jadi nggak ada yang keberatan berhenti di lampu merah demi keamanan. Saya nggak tahu berapa denda melanggar lampu merah di Jerman tapi orang-orang di sini sangat disiplin dengan lampu merah. Di tengah malampun di mana nggak ada kendaraan di ketiga sisi persimpangan, kalau lampu merah ya kita berhenti menunggu sampai hijau. Dulu sih pertama-tama tinggal di Jerman saya merasa dungu juga berhenti sendiri di lampu merah padahal dari jauh juga kelihatan kalau nggak ada kendaraan di sisi lain 😀

Hampir semua mobil berkaca bening maka jangan kaget kalau melihat ada orang ngobrol antar mobil ketika berhenti di lampu merah.

Suatu hari di musim panas, saya nyetir mobil dengan rambut tertutup hoodie. Tiba-tiba di lampu merah mas-mas di mobil sebelah buka jendela lebar-lebar dan bertanya ngapain pake hoodie di cuaca seindah ini… Yaolo mas-nya care banget, pikir saya. Saya jawab aja kalau lagi having bad hair day. Masnya ngakak trus iseng aja nanyain apa kabar, mau kemana…sampai lampunya hijau  lagi dan kita saling dadah-dadah karena saya harus nyetir terus ke depan, dan dianya belok kanan. Apa kita sudah saling kenal? No.

Kalau ada yang ngasih jalan, yg dikasih melambai tanda terima kasih.

Kebanyakan pengendara mobil di Jerman itu sopan-sopan. Mereka suka memberi kesempatan kepada pengendara lain untuk jalan duluan jadi macet di belokan karena rebutan jalan itu hampir nggak ada. Kalau lawan pengendara ngedim ke kita, berarti kita disuruh jalan duluan. Sebagai balasannya kita akan melambaikan tangan tanda terima kasih. Apa aturan tersebut diajarkan di tempat kursus nyetir? Di tempat saya kursus dulu sih gurunya ngasih tahu sekilas tapi nggak ada aturan tertulisnya.

Apapun cuacanya, ngajak anak main di luar.

Yup, apapun cuacanya. Kecuali kalau ada angin puting beliung aja kali. Yang harus disesuaikan cuman bajunya saja. Kalau pas hujan ya pakai raincoat. Kalau pas salju tebal ya pakai baju khusis salju. Minimal 1x sehari para orang tua pasti mengajak anaknya main di luar.  Kalau saya sih termasuk golongan yang sangat melihat-lihat cuaca dulu sebelum keluar hihi…

Makan makanan hangat cukup sekali dalam sehari.

Makanan hangat atau yang biasa disebut Warmes Essen yang dimaksud adalah makanan yang ‘dimasak’, misalnya nasi, sup, kentang, daging-dagingan. Kebanyakan orang Jerman makan makanan hangat hanya saat lunch ATAU dinner saja, selebihnya ya makan makanan dingin. Makanan dingin ynag dimaksud misalnya roti dengan sosis dan selada atau selai-selaian, pokoknya yang tinggal comot dan nggak harus nyalain kompor. Praktis memang mereka tapi kalau soal urusan perut saya lebih suka repot dikit. Kami makan hangat dua kali sehari, lunch DAN dinner. Paginya makan roti-rotian atau oatmeal. Kalau kamu sarapannya gimana?

Kalau pas kerja, saya lunch-nya random. Kadang bawa makanan hangat dari rumah yang bisa dipanasin di microwave, kadang bawa overnight oatmeal doang dan side dishnya apa aja yang bisa  diambil di dapur kantor misalnya kripik pisang dan waffle instant.
999A0389-1eS
Homemade artisan bread buat sarapan.

Itu dulu tentang kebiasaan-kebiasaan kecil orang Jerman. Selebihnya ditulis nanti ya, biar next time ada bahan tulisan lagi 🙂

To be continued…

 

Random Sunday – Di Sekitar Sini Saja

 

999A7246-1es
Fotonya nggak nyambung gapapa ya… kan random photo yang diambil 😀
Kapan itu pas nganter Flipper ke TK, saya ketemu dg seorang bapak yang sering saya lihat di playground, main dengan anaknya yg satu TK dengan Flipper tapi beda kelas. Si bapak tadi nyangklong roller yang menurutku pretty cool. Secara roller-nya Flipper udah kekecilan, saya nanya dong itu roller mereknya apa dan anaknya umur brp (faktor ukuran roller-nya). Eh lah ternyata si bapak ini mikir lama pas ditanya umur. Akhirnya dengan ragu-ragu dia menjawab: I think she is five…😅 #men #dad

Jadi biasanya anak- anak tetangga suka ngebel trus bertanya si Flipper mau keluar main nggak sama mereka? Tapi  beberapa hari yang lalu ada anak umur 5 tahunan, ngebel untuk pertama kalinya di rumah kami dan bertanya dengan sopannya, “Apa aku boleh mengajak anak perempuanmu keluar?” Aaaaw… yang terpesone emaknya 😄

Enaknya jadi pelanggan online shops adalah, ketika ulang tahun kita bisa dapat banyak voucher discount dari banyak olshop untuk belanja hihi… Lalu dari keluarga jauh biasanya dapat hadiah duit. Pas lah ya… #pengenultahterus

Hari Pertama Masuk SD (Einschulungstag)

Kemarin di provinsi North Rhine Westphalia Jerman merupakan hari pertama anak-anak masuk SD atau di sini disebut Einschulungstag. Di sini hari pertama masuk SD adalah a big thing buat para orang tua. Eh pastinya di Indonesia juga ya, di mana para orang tua terharu biru karena si anak yang dulunya bayi, lalu menjadi toddler, kini sudah kelas satu SD. Tak heran bila kemarin banyak terlihat anak-anak yang menyandang ransel gede di punggungnya dan mendekap bingkisan besar berbentuk kerucut berhias  yang disebut Schultuete.

Rutinitas hari pertama masuk SD di sini diawali dengan kumpul bersama, sesama siswa baru ditemani orang tua, opa-oma dan saudara-saudara mereka di gereja yang sudah ditunjuk oleh pihak sekolah. Setelah itu  mereka pergi bersama-sama ke gedung SD. Di SD mereka akan diterima oleh kepala sekolah dan disambut dengan pidato selamat datangnya. Setelah itu mereka mulai dipisah di kelas masing-masing. Sejauh pengalaman saya motret hari pertama masuk SD, rata-rata di sini satu kelas diisi 20-25 anak.  Di dalam kelas mereka berkenalan dengan wali kelas mereka sekaligus menerima wejangan dan  aturan-aturan dos dan don’ts. Salah satu yang dianjurkan adalah supaya anak-anak pergi ke sekolah dengan jalan kaki (tentunya dengan ditemani orang dewasa dulu di hari-hari pertama) supaya mereka hapal jalan ke sekolah dan bisa belajar mandiri. Itulah sebabnya anak-anak di sini pilihan sekolahnya tergantung dengan jarak jauh-dekatnya dengan tempat tinggal. Di kota tempat tinggal saya, untuk selevel TK dan SD tidak ada golongan sekolah favorit dan non favorit, semua memiliki kualitas yang sama.  Nggak tahu ya kalau di kota lain.

Setelah prosesi penerimaan siswa baru yang kira-kira memakan waktu 2 jam, merekapun pulang ke rumah.  Di rumah  para orang tua biasanya mengadakan  pesta makan siang dengan mengundang keluarga dan teman dekat. Ada yang mengadakan pesta di rumah tapi ada juga yang booking tempat di restoran. Di saat makan siang inilah anak-anak mulai diperbolehkan membuka Schultuete mereka. Apa sebenarnya Schultute itu?

Schultuete  merupakan bagian dari tradisi hari pertama masuk SD dan bisa dibeli kosongan di toko-toko yang banyak menjualnya menjelang bulan Juli dan Agustus atau membuat sendiri. Kebanyakan sih  anak-anak di sini membuat Shultuete sendiri  dibantu papa mama. Sebelumnya, saat masih di Kindergarten, anak-anak yang akan masuk SD tersebut juga sudah diajarin oleh  gurunya bagaimana membuat Schultuete sendiri.

Tradisi ini berawal di kota Jena pada tahun 1800 an dimana untuk menambah semangat si anak masuk sekolah baru (baca: mengurangi kecemasan anak-anak) , para orang tua dan saudar-saudara yang lain memberi hadiah berupa permen dan coklat yang dimasukkan ke dalam Schultuete tersebut. Saat ini sih isi Schultuete nggak hanya permen-permenan namun juga alat-alat sekolah dan mainan.

Berikut ini adalah beberapa foto dari Einschulung photo session kemarin:



Don’t cry mama!

Selain Schultuete, hal yang menarik lainnya adalah ransel besar yang dikenakan anak-anak SD tersebut. Ransel ini akan dikenakan sehari-hari tentunya, tidak pada hari pertama saja.

Foto diambil dari: http://www.ksb-es.de/neue-ranzen-machen-kinder-gluecklich/

Orang pendatang yang melihat ransel itu pertama kalinya di Jerman pasti berpikir what the heck is that? Besar, terlihat berat dan desainnya jelek semua (at least menurut saya ya). Saya bahkan sempat kasihan melihat anak-anak yang mengenakan tas kebesaran tersebut. Namun rupanya, meskipun tidak wajib mengenakannya,  ransel tersebut ternyata sangat dianjurkan untuk dipakai karena desainnya sudah disesuaikan dengan proporsi pungggung, tubuh anak, dan ada ukuran-ukuran tertentu disesuaikan dengan umur dan berat/ tinggi badan mereka. Bahannyapun ternyata ringan jadi meskipun besar, dia tidak berat (yang bikin berat mah buku-buku di dalamnya).

Selain sudah diperhitungkan faktor ergonomic-nya, soal fungsi juga diperhitungkan banget. Di interior ranselnya terdapat sekat-sekat untuk buku, kotak bekal, botol minuman, pencil, dst. Lalu di exterior ada reflection sticker-nya supaya kalau pagi-pagi berangkat ke sekolah, meksipun gelap di musim dingin, anak-anak itu tetap terdeteksi. Oh iya, bahan ransel yang free toxic juga menjadi pertimbangan untuk membeli ransel sekolah. Tak heran deh pokoknya bila ransel jelek ini harganya di atas 100€, apalagi yang ada stempel TÜV nya. Ngalah-ngalahin harga tas mamanya deh pokoknya 😂


Foto diambil dari: http://www.t-online.de/leben/familie/schulkind-und-jugendliche/id_19084134/stiftung-warentest-schulranzen-muessen-vor-allem-stabil-sein.html

Kalau di tempat tinggal kalian ada tradisi khusus untuk anak sekolah nggak?

Potret Diri

Duluuu pas baru buka bisnis foto studio di sini, saya sempat menyebar brosur di kampung saya yang isinya portfolio singkat karya-karya portrait saya. Tak diduga tak dinyana, banyak orang yang komentar: loh kok ini bukan kamu yang di foto? Loh ini emangnya kamu? Kok blonde?

Err…maaf pak, bu, saya kan fotografernya… ini model-model saya yang di foto 😅

Lalu hari gini, Di saat Gorilaz dan Cro (penyanyi Jerman) masih tetep suka menyembunyikan muka asli mereka, seorang customer yang puas dengan hasil karya saya merekomendasikan saya ke beberapa temannya. Salah satu temannya itu langsung tilpun saya siang tadi dan bertanya ini itu. Sayapun memberi alamat website saya ke dia, biar dia bisa ceki-ceki sendiri. Beberapa saat kemudian datang sms darinya: Foto dirimu kok nggak ada ya? Saya pengen lihat…

Eh😅

Di sini sepertinya memang sudah kebiasaan kalau pemilik bisnis selalu memuat potret diri mereka tak hanya di website namun juga di kartu nama bahkan iklan koran (sayang siang tadi adalah hari pengambilan sampah kertas jadi udah nggak ada koran di rumah, nggak bisa kasih contoh). Mulai dari tukang ledeng sampai pengacara. Seriously, kalau mesin cuci di rumah rusak atau perlu pengacara atau notaris untuk ngurus rumah, saya nggak peduli deh muka mereka kayak gimana 😅 Kalau kamu?

Note: Foto-foto di bawah ini bukan saya ya 😀

img_5470lr_eoks

img_5061lr_e

img_0077-1es
-beth-

Remember the day when (5) – Mama Sakit Kepala

Lagi di toko mainan, mau nyari kado buat anaknya teman. Tiba-tiba terdengar suara aneh dari salah satu mainan, seperti suara Darth Vader tapi lebih cempreng. Seorang anak kecil di sebelah bertanya pada kakaknya (atau temannya, entahlah), “suara apa itu?” Si kakak berusaha menyibak mainan satu persatu mencari sumber suara tapi nggak ketemu dan menjawab, “entahlah”.

Lalu si adik ngomong lagi, “suaranya seperti mama kalau lagi sakit kepala”

Dan sayapun ngikik dengan sukses.

Menyanyi Bersama Frau Höpker

Beberapa minggu yang lalu seorang teman yang belum lama saya kenal bertanya apa saya suka menyanyi. Suka dong, saya dulu vocalist di sebuah band kampus yang akhirnya pensiun dan sekarang aktif berkaraoke ria dengan Xbox di rumah atau sambil main gitar semampunya. Si teman ini, sebut saja namanya Penny, lalu mengajak saya ikutan acara menyanyi bersama di sebuah gedung pertemuan di kota sebelah. Pertama-tama saya pikir menyanyi bersama yang dimaksud itu semacam choir tapi setelah melihat sekilas info yang disodorkan Penny, acara ini adalah sebuah konsep menyanyi berbeda, yang baru pertama kali ini saya temui.

Website dalam bahasa Jerman ada di sini.

Jadi kita menyanyi bareng bersama audience lain yang datang ke acara tersebut, kenal nggak kenal  nggak masalah dan kita nggak harus kenalan dulu. Kitapun tidak harus menguasai ilmu menyanyi apapun. Tidak bisa menyanyi asalkan bisa mengeluarkan suara dan enjoy musik sudah cukup. Frau atau nona Höpker ‘memimpin’ kita di atas panggung dengan keyboard-nya. Di samping Frau Höpker ada sebuah layar lebar yang memuat text lagu yang diputar supaya kita tidak missing text. Aturan mainnya gampang saja, Frau Höpker yang menentukan lagu apa yang akan dinyayikan dan pada gerakan tangan tertentu, audience diharapkan diam dan konsentrasi lagi untuk menyanyi di lagu selanjutnya (karena di setiap jeda lagu si Frau Höpke mengajak penonton ngobrol dulu).

Waktu diajakin Penny untuk ikutan acara itu, saya sebenarnya sudah pesimis membayangkan kebanyakan lagunya pasti lagu berbahasa Jerman yang langsung ditukas oleh Penny, “ya nggak papa tho? Kan ada text-nya, pasti kamu bisa mengikuti lagunya”. Okaylah toh saya juga menyukai beberapa lagu Jerman, tapi selain soal bahasa, saya juga sudah curiga pasti bakalan banyak lagu-lagu schlager yang dimainkan di sana which I don’t really enjoy it. Schlager itu adalah aliran musik folk Jerman yang bisa disamakan dengan dangdut untuk di Indonesia atau country music untuk di Amrik sana. Dangdut sih asal bukan yang menye-menye, saya masih suka dengernya (bahkan bisa ikutan joget), tapi kalau schlager… Pernah sih sekali berdamai dengan hati, ikut memeriahkan acara musik schlager tapi waktu itu temannya banyak dan memang sedang party, jadi suasana juga mendukung. Lokasinya juga asyik sekali, yaitu di Ballerman, Mallorca-Spanyol, kota tujuannya orang Jerman bila mau party. Anyway, karena tertarik dengan konsep baru menyanyi ini, saya akhirnya menyetujui untuk ikut Penny.

Pada hari H-nya, yaitu tanggal 5 November kemarin, Penny bersama dua temannya menjemput saya jam 6 sore. Ketika sampai di hall tempat pertunjukan, saya makin pesimis melihat pengunjungnya yang rata-rata berusia 55 plus. Di websitenya disebutkan bahwa wawasan musik Frau Höpker sangat luas dan dia selalu memastikan bahwa semua generasi bakalan mendapat kesempatan untuk menyanyikan lagi favoritnya. Namun saya tetap pesimis. Bukan berarti saya hanya mendengarkan lagu  yang kekinian saja, saya juga kenal kok lagu-lagu lama dari jaman papa mama saya dulu. Namun…ah sudahlah, semuanya harus dicoba dulu, jangan pesimis duluan. Setelah membayar tiket seharga €15/ person yang sudah di-booking oleh Penny beberapa minggu sebelumnya (khas Jerman, semua harus dibuking duluan), kamipun masuk ke hall sederhana dengan lighting decor yang minimalis alias gelap, makanya saya nggak foto-foto.

Di sini disediakan beberapa meja tinggi untuk pengunjung. Di pojokan ada sederetan kursi yang sepertinya disediakan untuk lansia. Saya sempat bersemangat ketika melihat beberapa remaja di antara pengunjung, tetapi ternyata mereka adalah petugas yang menjual minuman dan snack. Jam 20.00 tepat acara dimulai. Frau Höpker membuka acara dengan bertanya, siapa yang sudah pernah datang ke acara ini sebelumnya (rupanya acara ini digelar setahun sekali di kota ini). Hampir 50% pengunjung mengacungkan tangan. Dan yang mengacungkan tangan ini adalah orang yang sepuh-sepuh. Oh no…berarti Frau Höpker sudah punya fans tetap di sini, berarti dia sudah tahu selera audience-nya di sini…Impian saya untuk mendengar lagu-lagu dari Shawn Mendes, Maroon Five atau yang agak senior seperti Madonna atau Michael Jackson-pun menguap.

Lagu terbaru yang dimainkan Frau Höpker hanya ‘Happy’ nya Pharel Williams dan yang lagu Jerman adalah ‘Applaus’ dari Sportfreunde Stiller yang sempat menjadi hit di tahun 2013. Selebihnya adalah lagu-lagu super lama dimana ketiga wanita Jerman ynag menemani sayapun tidak akrab dengan lagu-lagu tersebut. But they enjoyed it! And I did not! Lagu berbahasa Inggrisnya juga tak kalah tua, beberapa yang saya kenal adalah ‘Venus’-Shocking Blue, ‘Living the Next Door to Alice’-Smokie, ‘(Everything I Do) I Do It for You’-Bryan Adams. Selebihnya adalah lagu-lagu schlager tua dan karena Frau Höpker (entah kenapa) ikutan aktif berkampanya untuk Hillary Clinton, beberapa lagu dari Bruce Springsteen dari tahun 70-an pun keluar.

Saya melihat hampir semua orang menikmati acara malam itu, banyak yang joget dan gaya Frau Höpker juga heboh, seperti DJ-DJ yang keren itu, put her hands in the air…yeah!  Ada sih beberapa bapak-bapak yang tampak bosan seperti saya, mungkin mereka terpaksa datang untuk menemani istrinya. Penny, Kathrin dan Nadine yang seumuran dengan saya (Penny bahkan beberapa tahun lebih muda) bahkan sudah janjian mau datang lagi tahun depan. Waktu mereka bertanya apa saya mau ikutan lagi, saya langsung bilang ‘enggak’ dan merekapun tertawa ngakak mengasihani saya yang terjebak kebosanan di sana.

Entahlah mungkin wawasan musik saya yang memang tidak seluas yang saya percaya sebelumnya. Atau kebetulan sekitar 20 lagu yang dimainkan frau Höpker tidak ada satupun yang menjadi favorit saya. Atau  memang konsep menyanyi bersama yang hanya diiringi keyboard ini kurang seru untuk saya. Menurut saya kalau musiknya playback atau ada band lengkapnya sekalian pasti asyik. BUT, it doesn’t mind, saya toh puas karena akhirnya ngerti ini acara musik apaan. Yang tidak saya mengerti adalah, ketika banyak orang suka menyanyi di sini, kenapa tidak ada bisnis karaoke di sini?

Setelah acara menyanyi bersama Frau Höpker selesai, saya sempat ngobrol-ngobrol bersama Penny dan kedua kenalan baru saya dan beberapa ibu-ibu di sebelah. Dari mereka dan setelah browsing websitenya Frau Höpker lagi, bisa dikatakan bahwa konsep menyanyi bersama yang diciptakan pada tahun 2008 leh Frau Höpker ini lumayan sukses. Frau Höpker jadwal konsernya padat di segala penjuru Jerman dan pengunjungnya selalu ramai. lalu sayapun melontarkan pertanyaan di atas kepada the ladies, kalau kalian begitu suka menyanyi, kenapa nggak pergi ke karaoke? “Nooo…”, jawab mereka. Nyanyi di karaoke bar kan malu, banyak orang lain yang melihat dan kita suaranya nggak bagus-bagus amat. Kalau menyanyi di sini kan semuanya ikut menyanyi, nggak ketahuan mana suara jelek dan bagus. Dan kalau karaokean sendiri di rumah tidak seru….adalah beberapa alasan mereka.

Lalu saya bercerita tentang karaoke cabine/ room di Indonesia yang bisa di-book rame-rame bersama teman dan kita bisa memilih lagu sesuka hati dengan ketinggian nada yang bisa diatur pula. Sajian makanan dan minuman pun bisa dipesan sesuka hati. Wah mereka antuasis sekali dengan acara menyanyi yang model begini dan berharap bakalan ada bisnis seperti itu di Jerman segera karena kalau mau setia dengan Frau Höpker ya harus menunggu setahun lagi. Memang belum banyak orang yang menawarkan jasa seperti si Frau Höpker ini, cerdas juga sih idenya si Frau ini. Tapi kalau saya lebih suka ke karaoke sajalah. Siapa ya yang kenal pengusaha atau orang yang duitnya kebanyakan, sini ajakin saya berbisnis karaoke di Jerman 😀