Mencuri Moment, Mencari Spotlight

Ich
I
Aku. Saya.

Pernah nggak pas teman kita si A lagi seru-serunya cerita tentang pengalaman baru dia, tiba-tiba kita nyeletuk, “Oh iyaaa tempat itu emang asyik! Aku tahun lalu juga pernah kesana…bla…bla….” lalu kitapun bercerita panjang lebar, tanpa peduli kalau si A tadi belum selesai bercerita? Teman-teman yang tadinya tekun dengerin cerita si A jadi beralih perhatiannya ke kita. Dan si A pun manyun.

Atau mungkin kamu pernah menjadi si A?

Saya pernah jadi yang suka nyeletuk itu. Dan pernah jadi si A juga, makanya tahu rasanya ngga asyik kalau ada teman yang menyerobot, mencuri moment bercerita kita dan berusaha sebisa mungkin untuk tidak mencuri moment teman yang lain. Ini berlaku nggak hanya di pergaulan sehari-hari tapi juga di sosmed.

Sebenarnya saya yakin celetukan ‘aku-aku’  keluarnya tanpa maksud buruk, terjadi karena seseorang semangat mendengar ceritanya si original poster/speaker. Dan kalau kejadian sekali dua kali masih bisa dimaklumi lah tapi kalau keseringan, selalu ber’aku-aku’ di setiap postingan teman jadi memperlihatkan karakter seseorang sebenarnya. Self-centered.  ‘Aku, kalau aku, aku sih, akunya, aku nih, dan aku aku lainnya’. Padahal si original poster nggak nanya apa pendapat kita TENTANG DIRI KAMU lho…

Yang paling nggak asyik sih kalau tone nya merasa lebih baik atau nggak mau kalah dengan si original poster;
“ooh kalau AKU sih begini, begono…”
“AKU kalau Hawaii udah pernah sih…”
Versi yang agak tersamar; “Oh jadi ngingetin acara AKU 3 tahun yang lalu, pernah salaman sama Madonna juga…”

Bukan berarti dilarang komen model begitu tapi mungkin sebaiknya dikurangi. Apalagi kalau di sosmed, harusnya lebih mudah mengontrolnya dari pada di pergaulan langsung. Kadang si teman hanya ingin bercerita atau sharing tentang dirinya, tentang pengalamannya and it’s NOT about YOU at all. Kecuali memang dia specific nanya what about you.

Mending sih kalau kita terinspirasi dengan postingan teman, ya bikin aja postingan aja sendiri. „Waktu baca Instagram si A tentang Nord Pole, aku jadi ingat tahun sekian ketika berkunjung ke North Pole bla…bla…“ Silahkan mau nulis panjang lebar, kan di lapaknya sendiri, nggak ‚mencuri‘ moment di lapak teman. Mau self-centered di lapak sendiri juga bebas dong.

img_3194-2

Salah satu karya seniman Joan Miró di sebuah pameran di Bruehl.

By the way soal kehidupan social media, resolution saya untuk tahun 2018 adalah spending less time di Facebook which works well.  Udah jarang banget nih log in di FB, kalaupun log in paling cuman scroll down news feed sebentar, liking postingan teman seadanya lalu stuck di Page-nya Jimmy Fallon atau Human of New York. Posting-posting juga udah mulai jarang. Tapi kalau di Instagram saya masih rajin sih hihi… Yang berminat boleh ya follow Instagram saya (eh kok jadi promosi? Haha!) @milolalil (private account) dan @frausie.

Di sini bebas mau komen atau diskusi dengan tema di atas ya… ber’aku-aku juga boleh lho 😊

Happy Sunday!
Love, Bethie

 

Advertisements

Remember The Day When…(6) – Foto buat Pacar Online

IMG_2673e
Foto diri terbaru 😀

Dari SD saya hobi banget dengan koresponden. Waktu itu kami berlangganan majalah Ananda dan saya selalu rajin menyurati profil-profil di kolom Sahabat Pena. Ada beberapa yang nggak dibalas, ada juga yang berlanjut rutin lumayan lama salah satunya yang ingat adalah atlet anggar nasional yang berasal dari Situbondo. Tapi namanya saya lupa 😦 Sayang sekali.  Saya bahkan pernah menyurati Rajiv Gandhi (I don’t know why, though!) dan dua atlet renang Indonesia yang waktu itu berjaya… Aduk kok lupa juga ya siapanya namanya, dua atlet renang pria bersaudara jaman 1990an yang cakep? Mingkin ada ynag bisa bantu saya untuk ingat karena mereka ini berjaya sekali pada jamannya, pernah mewakili nama Indonesia di Sea Games.

Rajiv Gandhi sampai sekarang tidak pernah membalas surat persahabatan saya tapi si atlet bersaudara membalas doong…meskipun tanda tangannya merupakan stempelan. Jadi kayaknya mereka nggak membalas surat fans satu-satu, tapi ada sekretaris yang bantu balesin satu-satu trus tinggal distempel dengan nama mereka.

Setelah berpen-pal via majalah Ananda, waktu remaja pun meningkat ke majalah Hai. Lalu ketika mulai kenal internet, aktifitas surat-suratan mulai berkurang diganti dnegan chatting dan email. Sejak chatting lingkup kenalan saya jadi lebih jadi meluas, nggak hanya nasional tapi internasional… Suka banget deh punya teman chatting dari luar negeri, doesn’t matter cowok atau cewek, warga negara atau ras apa yang penting bisa saling komunikasi dalam bahasa Inggris aja sayanya udah seneng banget (meskipun kebanyakan orang India. Mungkin karena faktor time zone?). Beberapa dari random chat partners saya banyak juga yang menjadi real friends bahkan beberapa dari mereka pernah ketemu baik yang dari Indonesia maupun dari luar negeri. Lalu niih ada juga yang jadi pacar online haha! Yang pacar ini malah belum sempat ketemu sama sekali, omaigod! *ngakak dulu

Pacar online saya waktu itu namanya Marty, cowok Inggris. Kita chatting rutin tiap hari, ngobrolin ini itu sampai suatu hari dia tanya foto. Mak glek. Jaman itu belum ada smart-phone dan istilah selfie pun belum masuk kamus. Terus terang saya nggak punya foto diri. Ada juga foto-foto jadul yang disimpan mama saya di album foto. Padahal saya lulusan kuliah jurusan fotografi lho tapi entah kenapa nggak punya foto diri sendiri. Kayaknya teman kuliahan saya dulu juga nggak ada yang tertarik motoin saya *laugh. Anyway effort saya waktu itu untuk mendapatkan foto diri  lumayan lama sampai Marty nggak sabar dan bilang: aku nggak yakin kamu sejelek itu sampai nggak mau ngasih foto…

Antara sedih dan geli karena saya sebenarnya nggak pernah merasa jelek sih (meskipun nggak merasa cantik juga enggak haha!). Anyway waktu itu saya akhirnya pergi ke foto studio dan hubungan pacaran online kita berlanjut aman.

Dan hari gini…mau selfie tinggal click-clik…Foto diri dipajang dimana-mana tanpa ada yang minta haha…

Eh by the way hari gini masih ada nggak sih yang kirim-kirim surat atau email ke idola??

Random Sunday – Di Sekitar Sini Saja

 

999A7246-1es
Fotonya nggak nyambung gapapa ya… kan random photo yang diambil 😀
Kapan itu pas nganter Flipper ke TK, saya ketemu dg seorang bapak yang sering saya lihat di playground, main dengan anaknya yg satu TK dengan Flipper tapi beda kelas. Si bapak tadi nyangklong roller yang menurutku pretty cool. Secara roller-nya Flipper udah kekecilan, saya nanya dong itu roller mereknya apa dan anaknya umur brp (faktor ukuran roller-nya). Eh lah ternyata si bapak ini mikir lama pas ditanya umur. Akhirnya dengan ragu-ragu dia menjawab: I think she is five…😅 #men #dad

Jadi biasanya anak- anak tetangga suka ngebel trus bertanya si Flipper mau keluar main nggak sama mereka? Tapi  beberapa hari yang lalu ada anak umur 5 tahunan, ngebel untuk pertama kalinya di rumah kami dan bertanya dengan sopannya, “Apa aku boleh mengajak anak perempuanmu keluar?” Aaaaw… yang terpesone emaknya 😄

Enaknya jadi pelanggan online shops adalah, ketika ulang tahun kita bisa dapat banyak voucher discount dari banyak olshop untuk belanja hihi… Lalu dari keluarga jauh biasanya dapat hadiah duit. Pas lah ya… #pengenultahterus

Keep Calm, 40 is Fabulous

Three days ago someone rang the bell and it was my lovely neighbor with a bunch of flower in her hand. She said, “I know you are in grieve today but I hope this flowers will cheer you up a little bit…” Err… what?

Three days ago was my birthday and yes, I turned 40. Obviously she thinks it’s awful to be 40 or to be older and she’s not the only one who think like that. I remember a year ago as hubby turned 40, he didn’t want to be at home that day, not even in Germany. He wanted to be away, not to celebrate it but simply to forget it. The good thing was, he took us for road trip for that purpose😂

And I was like: Geez… What’s wrong  with 40? I remember one of my younger friend, she also complained a lot as she turned 30. I guess the problem is not the number but being older and unfortunately we get older  each year even each day, each hour…minute…so it’s useless to complained. The choice is only to keep continue older or you die!

A nice flower shop owner close to our house gratulated me as well that day. She said I look much younger as 40 year old (that’s one of advantages being Asian, I guess…) and she suggested me to stay like who I am now, be authentic and not to dress like an old women. Well, I am who I am. For sure I won’t dress like a 15 years old girl and try not to dress like 70 y/o grandma (no offence, I know some grandmas who are damn stylish too) but hey! Again I am who I am, I am authentic…if in any chance I look like an indeed 16 or 71 y/o woman…well, that’s me 🙂

By the way, I’m also not that kind of woman who hide their age from others, from friends or even strangers. Most German women here think asking someone’s age and saying own age to others are big no no. No, for me it’s absolutely fine. I know everybody have their own personal boundary, some don’t even want to tell their own friends about their marital status and we simply have to respect it.

Anyway, on my birthday I had a great day with family. Hubby took a day off  and we started the day with a huge brunch in our favorite restaurant and then a a short trip to the city nearby, continue with a nice dinner. I’m blessed that until this age I’m still very healthy and happy, no reason to be ungrateful.

IMG_0199.jpg
When you are 40 and have a small child/ children, it’s unlikely you’ll have a photo of yourself alone 😀

 

Childhood Idol

Last Sunday hubby took Flipper and her friend to watch Disney interactive movie in Cinema. The girls got goodie bags inclusive 2 posters from the event. Since then Flipper decided to like the Disney characters, Kion and Sofia, so much and had been busy arranging the best spots to hang the posters in her room. Sometimes here, sometimes there. Today finally she made up her mind that her room is not a good place for the posters. So now the Sofia poster is in bathroom and Kion poster is in living room. OK. Fine. I guess later she will move them somewhere else again.

kion

I started with poster collection as I was older than Flipper now, as I no longer toddler or threenager for sure! And I didn’t start with a cute animal or imaginary princess  posters but handsome boys like Axl Rose, Sebastian Bach and Nuno Bettencourt. Ah by the way I did love The Famous Five and The Three Investigators too but I didn’t have their poster 😦 How about you? Who’s your so-called childhood or teenagers idol? 

Remember the day when (5) – Mama Sakit Kepala

Lagi di toko mainan, mau nyari kado buat anaknya teman. Tiba-tiba terdengar suara aneh dari salah satu mainan, seperti suara Darth Vader tapi lebih cempreng. Seorang anak kecil di sebelah bertanya pada kakaknya (atau temannya, entahlah), “suara apa itu?” Si kakak berusaha menyibak mainan satu persatu mencari sumber suara tapi nggak ketemu dan menjawab, “entahlah”.

Lalu si adik ngomong lagi, “suaranya seperti mama kalau lagi sakit kepala”

Dan sayapun ngikik dengan sukses.

Menyanyi Bersama Frau Höpker

Beberapa minggu yang lalu seorang teman yang belum lama saya kenal bertanya apa saya suka menyanyi. Suka dong, saya dulu vocalist di sebuah band kampus yang akhirnya pensiun dan sekarang aktif berkaraoke ria dengan Xbox di rumah atau sambil main gitar semampunya. Si teman ini, sebut saja namanya Penny, lalu mengajak saya ikutan acara menyanyi bersama di sebuah gedung pertemuan di kota sebelah. Pertama-tama saya pikir menyanyi bersama yang dimaksud itu semacam choir tapi setelah melihat sekilas info yang disodorkan Penny, acara ini adalah sebuah konsep menyanyi berbeda, yang baru pertama kali ini saya temui.

Website dalam bahasa Jerman ada di sini.

Jadi kita menyanyi bareng bersama audience lain yang datang ke acara tersebut, kenal nggak kenal  nggak masalah dan kita nggak harus kenalan dulu. Kitapun tidak harus menguasai ilmu menyanyi apapun. Tidak bisa menyanyi asalkan bisa mengeluarkan suara dan enjoy musik sudah cukup. Frau atau nona Höpker ‘memimpin’ kita di atas panggung dengan keyboard-nya. Di samping Frau Höpker ada sebuah layar lebar yang memuat text lagu yang diputar supaya kita tidak missing text. Aturan mainnya gampang saja, Frau Höpker yang menentukan lagu apa yang akan dinyayikan dan pada gerakan tangan tertentu, audience diharapkan diam dan konsentrasi lagi untuk menyanyi di lagu selanjutnya (karena di setiap jeda lagu si Frau Höpke mengajak penonton ngobrol dulu).

Waktu diajakin Penny untuk ikutan acara itu, saya sebenarnya sudah pesimis membayangkan kebanyakan lagunya pasti lagu berbahasa Jerman yang langsung ditukas oleh Penny, “ya nggak papa tho? Kan ada text-nya, pasti kamu bisa mengikuti lagunya”. Okaylah toh saya juga menyukai beberapa lagu Jerman, tapi selain soal bahasa, saya juga sudah curiga pasti bakalan banyak lagu-lagu schlager yang dimainkan di sana which I don’t really enjoy it. Schlager itu adalah aliran musik folk Jerman yang bisa disamakan dengan dangdut untuk di Indonesia atau country music untuk di Amrik sana. Dangdut sih asal bukan yang menye-menye, saya masih suka dengernya (bahkan bisa ikutan joget), tapi kalau schlager… Pernah sih sekali berdamai dengan hati, ikut memeriahkan acara musik schlager tapi waktu itu temannya banyak dan memang sedang party, jadi suasana juga mendukung. Lokasinya juga asyik sekali, yaitu di Ballerman, Mallorca-Spanyol, kota tujuannya orang Jerman bila mau party. Anyway, karena tertarik dengan konsep baru menyanyi ini, saya akhirnya menyetujui untuk ikut Penny.

Pada hari H-nya, yaitu tanggal 5 November kemarin, Penny bersama dua temannya menjemput saya jam 6 sore. Ketika sampai di hall tempat pertunjukan, saya makin pesimis melihat pengunjungnya yang rata-rata berusia 55 plus. Di websitenya disebutkan bahwa wawasan musik Frau Höpker sangat luas dan dia selalu memastikan bahwa semua generasi bakalan mendapat kesempatan untuk menyanyikan lagi favoritnya. Namun saya tetap pesimis. Bukan berarti saya hanya mendengarkan lagu  yang kekinian saja, saya juga kenal kok lagu-lagu lama dari jaman papa mama saya dulu. Namun…ah sudahlah, semuanya harus dicoba dulu, jangan pesimis duluan. Setelah membayar tiket seharga €15/ person yang sudah di-booking oleh Penny beberapa minggu sebelumnya (khas Jerman, semua harus dibuking duluan), kamipun masuk ke hall sederhana dengan lighting decor yang minimalis alias gelap, makanya saya nggak foto-foto.

Di sini disediakan beberapa meja tinggi untuk pengunjung. Di pojokan ada sederetan kursi yang sepertinya disediakan untuk lansia. Saya sempat bersemangat ketika melihat beberapa remaja di antara pengunjung, tetapi ternyata mereka adalah petugas yang menjual minuman dan snack. Jam 20.00 tepat acara dimulai. Frau Höpker membuka acara dengan bertanya, siapa yang sudah pernah datang ke acara ini sebelumnya (rupanya acara ini digelar setahun sekali di kota ini). Hampir 50% pengunjung mengacungkan tangan. Dan yang mengacungkan tangan ini adalah orang yang sepuh-sepuh. Oh no…berarti Frau Höpker sudah punya fans tetap di sini, berarti dia sudah tahu selera audience-nya di sini…Impian saya untuk mendengar lagu-lagu dari Shawn Mendes, Maroon Five atau yang agak senior seperti Madonna atau Michael Jackson-pun menguap.

Lagu terbaru yang dimainkan Frau Höpker hanya ‘Happy’ nya Pharel Williams dan yang lagu Jerman adalah ‘Applaus’ dari Sportfreunde Stiller yang sempat menjadi hit di tahun 2013. Selebihnya adalah lagu-lagu super lama dimana ketiga wanita Jerman ynag menemani sayapun tidak akrab dengan lagu-lagu tersebut. But they enjoyed it! And I did not! Lagu berbahasa Inggrisnya juga tak kalah tua, beberapa yang saya kenal adalah ‘Venus’-Shocking Blue, ‘Living the Next Door to Alice’-Smokie, ‘(Everything I Do) I Do It for You’-Bryan Adams. Selebihnya adalah lagu-lagu schlager tua dan karena Frau Höpker (entah kenapa) ikutan aktif berkampanya untuk Hillary Clinton, beberapa lagu dari Bruce Springsteen dari tahun 70-an pun keluar.

Saya melihat hampir semua orang menikmati acara malam itu, banyak yang joget dan gaya Frau Höpker juga heboh, seperti DJ-DJ yang keren itu, put her hands in the air…yeah!  Ada sih beberapa bapak-bapak yang tampak bosan seperti saya, mungkin mereka terpaksa datang untuk menemani istrinya. Penny, Kathrin dan Nadine yang seumuran dengan saya (Penny bahkan beberapa tahun lebih muda) bahkan sudah janjian mau datang lagi tahun depan. Waktu mereka bertanya apa saya mau ikutan lagi, saya langsung bilang ‘enggak’ dan merekapun tertawa ngakak mengasihani saya yang terjebak kebosanan di sana.

Entahlah mungkin wawasan musik saya yang memang tidak seluas yang saya percaya sebelumnya. Atau kebetulan sekitar 20 lagu yang dimainkan frau Höpker tidak ada satupun yang menjadi favorit saya. Atau  memang konsep menyanyi bersama yang hanya diiringi keyboard ini kurang seru untuk saya. Menurut saya kalau musiknya playback atau ada band lengkapnya sekalian pasti asyik. BUT, it doesn’t mind, saya toh puas karena akhirnya ngerti ini acara musik apaan. Yang tidak saya mengerti adalah, ketika banyak orang suka menyanyi di sini, kenapa tidak ada bisnis karaoke di sini?

Setelah acara menyanyi bersama Frau Höpker selesai, saya sempat ngobrol-ngobrol bersama Penny dan kedua kenalan baru saya dan beberapa ibu-ibu di sebelah. Dari mereka dan setelah browsing websitenya Frau Höpker lagi, bisa dikatakan bahwa konsep menyanyi bersama yang diciptakan pada tahun 2008 leh Frau Höpker ini lumayan sukses. Frau Höpker jadwal konsernya padat di segala penjuru Jerman dan pengunjungnya selalu ramai. lalu sayapun melontarkan pertanyaan di atas kepada the ladies, kalau kalian begitu suka menyanyi, kenapa nggak pergi ke karaoke? “Nooo…”, jawab mereka. Nyanyi di karaoke bar kan malu, banyak orang lain yang melihat dan kita suaranya nggak bagus-bagus amat. Kalau menyanyi di sini kan semuanya ikut menyanyi, nggak ketahuan mana suara jelek dan bagus. Dan kalau karaokean sendiri di rumah tidak seru….adalah beberapa alasan mereka.

Lalu saya bercerita tentang karaoke cabine/ room di Indonesia yang bisa di-book rame-rame bersama teman dan kita bisa memilih lagu sesuka hati dengan ketinggian nada yang bisa diatur pula. Sajian makanan dan minuman pun bisa dipesan sesuka hati. Wah mereka antuasis sekali dengan acara menyanyi yang model begini dan berharap bakalan ada bisnis seperti itu di Jerman segera karena kalau mau setia dengan Frau Höpker ya harus menunggu setahun lagi. Memang belum banyak orang yang menawarkan jasa seperti si Frau Höpker ini, cerdas juga sih idenya si Frau ini. Tapi kalau saya lebih suka ke karaoke sajalah. Siapa ya yang kenal pengusaha atau orang yang duitnya kebanyakan, sini ajakin saya berbisnis karaoke di Jerman 😀