Random Sunday – Di Sekitar Sini Saja

 

999A7246-1es
Fotonya nggak nyambung gapapa ya… kan random photo yang diambil 😀
Kapan itu pas nganter Flipper ke TK, saya ketemu dg seorang bapak yang sering saya lihat di playground, main dengan anaknya yg satu TK dengan Flipper tapi beda kelas. Si bapak tadi nyangklong roller yang menurutku pretty cool. Secara roller-nya Flipper udah kekecilan, saya nanya dong itu roller mereknya apa dan anaknya umur brp (faktor ukuran roller-nya). Eh lah ternyata si bapak ini mikir lama pas ditanya umur. Akhirnya dengan ragu-ragu dia menjawab: I think she is five…😅 #men #dad

Jadi biasanya anak- anak tetangga suka ngebel trus bertanya si Flipper mau keluar main nggak sama mereka? Tapi  beberapa hari yang lalu ada anak umur 5 tahunan, ngebel untuk pertama kalinya di rumah kami dan bertanya dengan sopannya, “Apa aku boleh mengajak anak perempuanmu keluar?” Aaaaw… yang terpesone emaknya 😄

Enaknya jadi pelanggan online shops adalah, ketika ulang tahun kita bisa dapat banyak voucher discount dari banyak olshop untuk belanja hihi… Lalu dari keluarga jauh biasanya dapat hadiah duit. Pas lah ya… #pengenultahterus

Advertisements

Keep Calm, 40 is Fabulous

Three days ago someone rang the bell and it was my lovely neighbor with a bunch of flower in her hand. She said, “I know you are in grieve today but I hope this flowers will cheer you up a little bit…” Err… what?

Three days ago was my birthday and yes, I turned 40. Obviously she thinks it’s awful to be 40 or to be older and she’s not the only one who think like that. I remember a year ago as hubby turned 40, he didn’t want to be at home that day, not even in Germany. He wanted to be away, not to celebrate it but simply to forget it. The good thing was, he took us for road trip for that purpose😂

And I was like: Geez… What’s wrong  with 40? I remember one of my younger friend, she also complained a lot as she turned 30. I guess the problem is not the number but being older and unfortunately we get older  each year even each day, each hour…minute…so it’s useless to complained. The choice is only to keep continue older or you die!

A nice flower shop owner close to our house gratulated me as well that day. She said I look much younger as 40 year old (that’s one of advantages being Asian, I guess…) and she suggested me to stay like who I am now, be authentic and not to dress like an old women. Well, I am who I am. For sure I won’t dress like a 15 years old girl and try not to dress like 70 y/o grandma (no offence, I know some grandmas who are damn stylish too) but hey! Again I am who I am, I am authentic…if in any chance I look like an indeed 16 or 71 y/o woman…well, that’s me 🙂

By the way, I’m also not that kind of woman who hide their age from others, from friends or even strangers. Most German women here think asking someone’s age and saying own age to others are big no no. No, for me it’s absolutely fine. I know everybody have their own personal boundary, some don’t even want to tell their own friends about their marital status and we simply have to respect it.

Anyway, on my birthday I had a great day with family. Hubby took a day off  and we started the day with a huge brunch in our favorite restaurant and then a a short trip to the city nearby, continue with a nice dinner. I’m blessed that until this age I’m still very healthy and happy, no reason to be ungrateful.

IMG_0199.jpg
When you are 40 and have a small child/ children, it’s unlikely you’ll have a photo of yourself alone 😀

 

Childhood Idol

Last Sunday hubby took Flipper and her friend to watch Disney interactive movie in Cinema. The girls got goodie bags inclusive 2 posters from the event. Since then Flipper decided to like the Disney characters, Kion and Sofia, so much and had been busy arranging the best spots to hang the posters in her room. Sometimes here, sometimes there. Today finally she made up her mind that her room is not a good place for the posters. So now the Sofia poster is in bathroom and Kion poster is in living room. OK. Fine. I guess later she will move them somewhere else again.

kion

I started with poster collection as I was older than Flipper now, as I no longer toddler or threenager for sure! And I didn’t start with a cute animal or imaginary princess  posters but handsome boys like Axl Rose, Sebastian Bach and Nuno Bettencourt. Ah by the way I did love The Famous Five and The Three Investigators too but I didn’t have their poster 😦 How about you? Who’s your so-called childhood or teenagers idol? 

Remember the day when (5) – Mama Sakit Kepala

Lagi di toko mainan, mau nyari kado buat anaknya teman. Tiba-tiba terdengar suara aneh dari salah satu mainan, seperti suara Darth Vader tapi lebih cempreng. Seorang anak kecil di sebelah bertanya pada kakaknya (atau temannya, entahlah), “suara apa itu?” Si kakak berusaha menyibak mainan satu persatu mencari sumber suara tapi nggak ketemu dan menjawab, “entahlah”.

Lalu si adik ngomong lagi, “suaranya seperti mama kalau lagi sakit kepala”

Dan sayapun ngikik dengan sukses.

Menyanyi Bersama Frau Höpker

Beberapa minggu yang lalu seorang teman yang belum lama saya kenal bertanya apa saya suka menyanyi. Suka dong, saya dulu vocalist di sebuah band kampus yang akhirnya pensiun dan sekarang aktif berkaraoke ria dengan Xbox di rumah atau sambil main gitar semampunya. Si teman ini, sebut saja namanya Penny, lalu mengajak saya ikutan acara menyanyi bersama di sebuah gedung pertemuan di kota sebelah. Pertama-tama saya pikir menyanyi bersama yang dimaksud itu semacam choir tapi setelah melihat sekilas info yang disodorkan Penny, acara ini adalah sebuah konsep menyanyi berbeda, yang baru pertama kali ini saya temui.

Website dalam bahasa Jerman ada di sini.

Jadi kita menyanyi bareng bersama audience lain yang datang ke acara tersebut, kenal nggak kenal  nggak masalah dan kita nggak harus kenalan dulu. Kitapun tidak harus menguasai ilmu menyanyi apapun. Tidak bisa menyanyi asalkan bisa mengeluarkan suara dan enjoy musik sudah cukup. Frau atau nona Höpker ‘memimpin’ kita di atas panggung dengan keyboard-nya. Di samping Frau Höpker ada sebuah layar lebar yang memuat text lagu yang diputar supaya kita tidak missing text. Aturan mainnya gampang saja, Frau Höpker yang menentukan lagu apa yang akan dinyayikan dan pada gerakan tangan tertentu, audience diharapkan diam dan konsentrasi lagi untuk menyanyi di lagu selanjutnya (karena di setiap jeda lagu si Frau Höpke mengajak penonton ngobrol dulu).

Waktu diajakin Penny untuk ikutan acara itu, saya sebenarnya sudah pesimis membayangkan kebanyakan lagunya pasti lagu berbahasa Jerman yang langsung ditukas oleh Penny, “ya nggak papa tho? Kan ada text-nya, pasti kamu bisa mengikuti lagunya”. Okaylah toh saya juga menyukai beberapa lagu Jerman, tapi selain soal bahasa, saya juga sudah curiga pasti bakalan banyak lagu-lagu schlager yang dimainkan di sana which I don’t really enjoy it. Schlager itu adalah aliran musik folk Jerman yang bisa disamakan dengan dangdut untuk di Indonesia atau country music untuk di Amrik sana. Dangdut sih asal bukan yang menye-menye, saya masih suka dengernya (bahkan bisa ikutan joget), tapi kalau schlager… Pernah sih sekali berdamai dengan hati, ikut memeriahkan acara musik schlager tapi waktu itu temannya banyak dan memang sedang party, jadi suasana juga mendukung. Lokasinya juga asyik sekali, yaitu di Ballerman, Mallorca-Spanyol, kota tujuannya orang Jerman bila mau party. Anyway, karena tertarik dengan konsep baru menyanyi ini, saya akhirnya menyetujui untuk ikut Penny.

Pada hari H-nya, yaitu tanggal 5 November kemarin, Penny bersama dua temannya menjemput saya jam 6 sore. Ketika sampai di hall tempat pertunjukan, saya makin pesimis melihat pengunjungnya yang rata-rata berusia 55 plus. Di websitenya disebutkan bahwa wawasan musik Frau Höpker sangat luas dan dia selalu memastikan bahwa semua generasi bakalan mendapat kesempatan untuk menyanyikan lagi favoritnya. Namun saya tetap pesimis. Bukan berarti saya hanya mendengarkan lagu  yang kekinian saja, saya juga kenal kok lagu-lagu lama dari jaman papa mama saya dulu. Namun…ah sudahlah, semuanya harus dicoba dulu, jangan pesimis duluan. Setelah membayar tiket seharga €15/ person yang sudah di-booking oleh Penny beberapa minggu sebelumnya (khas Jerman, semua harus dibuking duluan), kamipun masuk ke hall sederhana dengan lighting decor yang minimalis alias gelap, makanya saya nggak foto-foto.

Di sini disediakan beberapa meja tinggi untuk pengunjung. Di pojokan ada sederetan kursi yang sepertinya disediakan untuk lansia. Saya sempat bersemangat ketika melihat beberapa remaja di antara pengunjung, tetapi ternyata mereka adalah petugas yang menjual minuman dan snack. Jam 20.00 tepat acara dimulai. Frau Höpker membuka acara dengan bertanya, siapa yang sudah pernah datang ke acara ini sebelumnya (rupanya acara ini digelar setahun sekali di kota ini). Hampir 50% pengunjung mengacungkan tangan. Dan yang mengacungkan tangan ini adalah orang yang sepuh-sepuh. Oh no…berarti Frau Höpker sudah punya fans tetap di sini, berarti dia sudah tahu selera audience-nya di sini…Impian saya untuk mendengar lagu-lagu dari Shawn Mendes, Maroon Five atau yang agak senior seperti Madonna atau Michael Jackson-pun menguap.

Lagu terbaru yang dimainkan Frau Höpker hanya ‘Happy’ nya Pharel Williams dan yang lagu Jerman adalah ‘Applaus’ dari Sportfreunde Stiller yang sempat menjadi hit di tahun 2013. Selebihnya adalah lagu-lagu super lama dimana ketiga wanita Jerman ynag menemani sayapun tidak akrab dengan lagu-lagu tersebut. But they enjoyed it! And I did not! Lagu berbahasa Inggrisnya juga tak kalah tua, beberapa yang saya kenal adalah ‘Venus’-Shocking Blue, ‘Living the Next Door to Alice’-Smokie, ‘(Everything I Do) I Do It for You’-Bryan Adams. Selebihnya adalah lagu-lagu schlager tua dan karena Frau Höpker (entah kenapa) ikutan aktif berkampanya untuk Hillary Clinton, beberapa lagu dari Bruce Springsteen dari tahun 70-an pun keluar.

Saya melihat hampir semua orang menikmati acara malam itu, banyak yang joget dan gaya Frau Höpker juga heboh, seperti DJ-DJ yang keren itu, put her hands in the air…yeah!  Ada sih beberapa bapak-bapak yang tampak bosan seperti saya, mungkin mereka terpaksa datang untuk menemani istrinya. Penny, Kathrin dan Nadine yang seumuran dengan saya (Penny bahkan beberapa tahun lebih muda) bahkan sudah janjian mau datang lagi tahun depan. Waktu mereka bertanya apa saya mau ikutan lagi, saya langsung bilang ‘enggak’ dan merekapun tertawa ngakak mengasihani saya yang terjebak kebosanan di sana.

Entahlah mungkin wawasan musik saya yang memang tidak seluas yang saya percaya sebelumnya. Atau kebetulan sekitar 20 lagu yang dimainkan frau Höpker tidak ada satupun yang menjadi favorit saya. Atau  memang konsep menyanyi bersama yang hanya diiringi keyboard ini kurang seru untuk saya. Menurut saya kalau musiknya playback atau ada band lengkapnya sekalian pasti asyik. BUT, it doesn’t mind, saya toh puas karena akhirnya ngerti ini acara musik apaan. Yang tidak saya mengerti adalah, ketika banyak orang suka menyanyi di sini, kenapa tidak ada bisnis karaoke di sini?

Setelah acara menyanyi bersama Frau Höpker selesai, saya sempat ngobrol-ngobrol bersama Penny dan kedua kenalan baru saya dan beberapa ibu-ibu di sebelah. Dari mereka dan setelah browsing websitenya Frau Höpker lagi, bisa dikatakan bahwa konsep menyanyi bersama yang diciptakan pada tahun 2008 leh Frau Höpker ini lumayan sukses. Frau Höpker jadwal konsernya padat di segala penjuru Jerman dan pengunjungnya selalu ramai. lalu sayapun melontarkan pertanyaan di atas kepada the ladies, kalau kalian begitu suka menyanyi, kenapa nggak pergi ke karaoke? “Nooo…”, jawab mereka. Nyanyi di karaoke bar kan malu, banyak orang lain yang melihat dan kita suaranya nggak bagus-bagus amat. Kalau menyanyi di sini kan semuanya ikut menyanyi, nggak ketahuan mana suara jelek dan bagus. Dan kalau karaokean sendiri di rumah tidak seru….adalah beberapa alasan mereka.

Lalu saya bercerita tentang karaoke cabine/ room di Indonesia yang bisa di-book rame-rame bersama teman dan kita bisa memilih lagu sesuka hati dengan ketinggian nada yang bisa diatur pula. Sajian makanan dan minuman pun bisa dipesan sesuka hati. Wah mereka antuasis sekali dengan acara menyanyi yang model begini dan berharap bakalan ada bisnis seperti itu di Jerman segera karena kalau mau setia dengan Frau Höpker ya harus menunggu setahun lagi. Memang belum banyak orang yang menawarkan jasa seperti si Frau Höpker ini, cerdas juga sih idenya si Frau ini. Tapi kalau saya lebih suka ke karaoke sajalah. Siapa ya yang kenal pengusaha atau orang yang duitnya kebanyakan, sini ajakin saya berbisnis karaoke di Jerman 😀

Remember the day when…(3) I am his Best


Dulu sebelum pacaran dan menikah dengan si D, saya di Jakarta sempat pacaran dengan orang Jerman juga. Si Kraut ini (sebut saja namanya begitu) demen banget cerita tentang saya ke teman-temannya. Kalau refers ke saya si Kraut bilangnya selalu “my best”. Wah saya bangga dong disebut begitu, I’m his best, yay! Ternyata usut punya usut, meskipun sudah lama kerja hampir di seluruh dunia dengan bahasa sehari-hari bahasa Inggris, si Kraut tetap tidak bisa menghilangkan aksen Jermannya. Jadii… Seperti beberapa orang Jerman yang saya kenal di sini (termasuk mertua), akhiran -th itu bagi mereka susah dieja. Jadi instead of Beth, nama saya sering berubah menjadi Bess/ Best di sini. Demikian juga dengan si Kraut tadi, dia aslinya cuman bilang my Beth, bukan my best 😂😅 #geer

Memilih untuk berpikir positif


Akhir-akhir ini entah kenapa saya banyak membaca postingan negatif tentang dunia sosmed yang ironisnya postingan itu juga dimuat di sosmed. Ada yang mengeluh karena si A selalu posting di FB tentang suksesnya karir dia dan keluarganya yang bahagia. Atau si B yang postingannya sedih-sedih melulu seperti sedamg mencari perhatian dunia. Atau si C yang sukanya cerita gossip melulu…Pokoknya  keluhan dan kesebalan dengan postingan teman-teman yang tidak sesuai dengan ‘selera’ dan bukan hanya FB, namun juga di sosmed lainnya seperti Instagram, blog atau bahkan chat grup.

Saya dulu pernah juga dong sebal dengan postingan teman yang baru saja menjadi ibu dan posting foto babynya terus menerus. Saya sih bukan child hater tapi bosan saja melihat foto anak yang biasa-biasa saja kok dipostingnya berkali-kali. Kalau foto atau ekspresinya pas keren sih saya tidak keberatan untuk mengapresiasi. Pokoknya waktu itu saya melihatnya hanya dari sudut estetika saja. Nah setelah mempunyai anak sendiri memang berbeda rasanya, pose bayi yang terlihat biasa-biasa saja untuk orang lain itu ternyata bisa sangat istimewa bagi sang ibu. Dan saya juga jadi senang posting foto-foto baby 😀

Sebal dengan orang-orang yang suka menulis ayat-ayat suci di sosmed juga pernah. Atau postingan orang yang baru saja putus cinta yang merasa dunianya hancur lebur dimakan buto ijo. Ada juga nih yang dulu suka pamer-pamer baju mahal, yang difoto bukan bajunya tapi tag harganya. Hihi lucu deh kalau ingat saya dulu sempat sewot 😀 Sewot tanda tak mampu lah hehe…

Saya juga pernah menulis status di FB tentang kesebalan saya tentang postingan-postingan tersebut (baca: ngomel) tapi tidak langsung sebut nama tentunya…intinya menyindirlah (beraninya hanya nyindir ih). Waktu itu antara tahun 2010- 2012 kalau tidak salah, pokoknya sebelum Flipper lahir, dan langsung mendapat komen bertubi-tubi  yang isinya 100% setuju dengan apa yang saya tulis. Dan karena kebanyakan komen itu, masalahnya jadi melebar kemana-mana. Memang sih, di FB itu kalau ada postingan yang berbau rumpi-rumpi begitu pasti langsung laku keras. Dan saya tak sendirian, banyak juga yang mengeluhkan soal serupa dalam status-status mereka dan saya kadang-kadang ikut urun komen juga.

Sekarang sih saya  insyaallah sudah get over dengan status-status demikian. Bukan hanya status rumpinya ya namun juga semakin bisa berdamai dengan postingan teman-teman yang tidak sesuai dengan ‘selera’ tadi. I mean, come on…it’s a big big (social media) world, di mana banyak orang dengan beraneka ragam karakter, sifat dan kegemaran. Memangnya saya ini siapa kok berharap orang lain mau menuruti preference saya? Buat saya sih mending  mencoba melihatnya dengan cara positif atau simply ignore saja dan tidak perlu dijadikan bahan gunjingan lagi.  Toh di FB ada aturan untuk menyembunyikan postingan yang tidak kita suka. Saya sendiri bukan orang yang paling bener di sosmed (dan di real life juga pastinya). Saya orangnya biasa-biasa saja dan pasti adalah orang yang tak suka dengan saya dengan alasan-alasan mereka sendiri. Lalu saya harus bagaimana? Nothing. It’s their problem, not mine. Saya sih tetap baik saja dengan mereka dan juga sadar bahwa saya tidak bisa menyenangkan hati semua orang, jadi saya juga tak boleh berharap bahwa semua orang akan berusaha menyenangkan hati saya.

Pokoknya sekarang saya asyik-asyik aja deh dengan segala dilema di sosmed. Kalau ada yang pamer baju mahal mikirnya gini aja: bajunya bagus, tapi kalau saya yang pakai pasti terlihat gendut 😀 Kalau ada yang pamer tas mahal, yasud ntar saya beli yang KW 15 -nya. Kalau ada yang nulis betapa hebatnya anaknya sudah bisa baca tulis, it’s okay lah…anak saya belum bisa baca tulis tapi jago main puzzle. Pokoknya dibawa santai sajalah, hindari pikiran-pikiran yang negatif. Kalau mikirnya negatif terus, postingan sebagus apapun tidak akan tampak benar di mata. Bahkan sekedar postingan foto bungapun akan dicela.

Tulisan yang sumbernya dari blog Brooke Romney ini bisa membantu kita untuk selalu think positive. Coba baca deh, membuat hati legowo dan tersenyum 🙂

“To the pregnant women on social media, posting constant updates and belly pictures – I love seeing how excited you are to become a mommy.

To the women posting “selfies” – thank you for letting young girls know that it’s okay to love yourself and to feel beautiful!

To the mom posting a million pictures of her kids (2 or 4 legged) – it makes my heart so happy to see parents so proud of, and loving their babies!

To the married couple constantly posting “sappy love posts” – thank you for being a reminder to the next generation that all hope isn’t lost and happy marriages most definitely DO exist.

To the business owners who constantly post about their businesses – keep going! Your strong will and passion for what you do is astounding. Even in the midst of all the negative remarks, you keep on going for yourself and family!

To the person who is constantly struggling – I am sorry. I hope you find the support you need in your online community. I should be better about offering it myself.

To the fitness fanatic posting befores and afters – you have completely transformed your life and found health, what an incredible feat! Your enthusiasm for positive change is admirable.

To the re-poster and tagger – because of you, I have read things that have changed my perspective and broadened my understanding. I appreciate you.

To the constant traveler posting exotic pictures of far off lands – I may be stuck at home behind a computer screen, but you are showing me the world and giving me places to add to my bucket list.

To the foodie who seems to eat out for every meal – your photos of gorgeous food make me want to step up my cereal game, or at least try a new restaurant once in awhile.

To the political enthusiast – thank you for caring enough about our country to research candidates and issues and being brave enough to use your first amendment right to speak.

To the religion lover – our beliefs my be different, but your faith inspires me to find my own, especially on dark days.”

We can choose to be annoyed by each and every post, or we can choose to lift and support those we claim to be our friends. Try viewing updates through loving, forgiving and open eyes, looking for best intentions and unwritten needs.

Changing the way you look at social media can literally change the way you see the world.

Oh yes, saya sangat setuju dan semoga kamu juga ❤