Agama Makanan

2634s

Pas malem tahun baruan kemarin ada teman, sebut saja namanya Anni, yang pengen bikin pesta di rumahnya. Dia sudah bikin guestlist dan daftar makanan apa aja yang mau dibikin. Tapi pada last minute pestanya dibatalkan dan kita end up merayakan malam tahun baruan di sebuah restoran. Di restoran ini si Anni cerita, dia membatalkan acaranya karena ada salah satu teman diaΒ  yang tadinya gaya makannya biasa-biasa saja barusan ‘convert’ menjadi yang tidak biasa-biasa saja dan cukup radikal sampai membuat Anni bad mood nggak niat masak, nggak niat ngundang teman, nggak niat lagi pesta.

Menurut Anni, si teman ini sedang gencar-gencarnya posting di Facebook tentang gaya makan dia yang sekarang serba organic, no salt, no sugar, no palm oil, no processed food pokoknya super eco dan suka tersinggung kalau ada yang ngajak guyon dengan gaya makan dia yang berubah drastis. Dan parahnya, pas Anni bilang ke temannya itu kalau dia mau mengadakan pesta, si teman itu langsung menodong Anni untuk beli bahan-bahan organic dan worst, berniat mbayarin belanjanya kalau Anni merasa kemahalan belanja organic. Glek. Ya mungkin hubungan mereka memang dekat banget sehingga si teman merasa it’s fine to say something like that. But if I were Anni, saya juga bakalan langsung bad mood juga deh kalau digituin.

Saya perhatikan biasanya orang-orang yang baru saja merubah gaya makan mereka, baik menjadi vegan, vegetarian, clean eater, fruitarian atau apa lagilah…mereka cenderung lebih saklek dari pada yang sudah lama menganutnya. Penganut lama ini sudah menganggap hal itu biasa, jadi ya sudah nggak perlu dipamer-pamerkan di sosial media dan juga lebih pengertian kalau diundang makan oleh orang yang aliran makannya berbeda.

Saya sendiri juga pernah berada ‘dicela’ orang karena gaya makan saya. Waktu itu anak saya baru memasuki usia 6 bulan dan lagi rajin-rajinnya bikin mpasi (makanan pendamping ASI). Secara untuk bayi, makanan yang dibikin pasti sehat-sehat dong, serba sayuran dan organic lalu pas cerita-cerita dengan sesama mommies, ada yang bertanya bakalan bertahan berapa lama saya ngasih makan baby organic food. Saya bilang bahwa sebelum ada baby pun kami udah makan organic jadi insyaallah bertahan lama. Lah kok trus si mom ini ngelonjak, ngatain kalau organic belum tentu bagus. Lalu dia sengaja cari-cari news tentang perusahaan makanan yang pasang label organic tapi ternyata membohongi konsumen. Dia juga bertanya kalau saya makan di luar, diundang orang atau makan di restoran gimana? Apa harus makan yang organic juga? Saya jawab apa adanya dong, kalau makan di luar/ diundang orang ya makan seadanya saja asal halal, nggak tanya soal organic. Eh si mom itu langsung merasa menang karena menganggap saya semacam pemakan organic palsu dan hanya mau nyombong. To be honest I don’t get it mengapa dia gusar dengan pilihan makanan saya untuk keluarga dan selain itu saya juga nggak merasa bilang bahwa saya anti non-organic.

Well anyway, saya sih terserah apa anggapan orang. Bagi saya urusan perut itu seperti agama, urusan pribadi masing-masing. Prinsip makan di rumah kami sederhana, kami suka makanan itu (iyalah, kalau nggak suka ya ngapain dimasak, dimakan hihi…), halal dan diusahakan sehat. Diusahakan sehat itu salah satunya ya dengan beli bahan makanan yang organic itu tadi tapi tidak harus 100% . Untuk daging-dagingan misalnya, saya lebih mengutamakan halalnya dulu dari pada organic. Di kota tempat saya tinggal belum ada daging halal organic. Roti-rotian kalau sempat bikin ya bikin sendiri dari bahan organic tapi kalau enggak ya beli seadanya. Di sini ada sih dijual roti organic tapi pilihannya sangat terbatas sekali.

Kalau sayuran yang saya inginkan nggak ada versi organic-nya, ya nggak papa, beli saja yang dari bagian sayuran regional. Kalau di situ juga nggak ada, sayuran beku adalah alternatif terakhir karena sayuran beku jauh lebih sehat dari pada sayuran ‘segar’ yang sudah menempuh perjalanan berjam-jam atau bahkan berhari-hari dan kemungkinan besar disuntik ini itu supaya tidak rusak selama perjalanan. Sayuran beku biasanya langsung dicuci dan dibekukan setelah panen sehingga nutrisinya langsung terkunci. Tapi kalau sudah kangen berat dengan sawi, bayam ala tanah air atau durian, yasud, beli sayuran dan durian impor di Asian Shop πŸ˜„.

Saya juga bukan tipe yang iyik, yang harus make sure dulu menu makanannya apa ketika diundang makan orang. Udah diundang aja udah alhamdulillah lho. Tapi tetap saja di lokasi saya bertanya dengan sopan, “maaf ini daging apa ya?” Kalau b2 ya sudah dilewatkan saja… tapi sumpah saya nggak pernah nanya, ini buncisnya organic nggak? Belinya tadi di mana ya? πŸ˜€

Saya sendiri kalau mengundang orang yang nggak terlalu kenal, selalu tanya duluan apa mereka intolerant terhadap makanan tertentu. Pertanyaan saya sih sebenarnya lebih konsen ke soal alergi, bukan soal gaya makanan dan so far karena belum pernah mengundang lebih dari 10 orang, gampang aja ngaturnya kalau ada yang vegan atau nggak bisa makan daging tertentu. Tamu-tamu saya so far juga nggak ada yang pernah nanya soal organic atau enggak, mengandung palm oil atau enggak. Paling pertanyaannya seputaran resep saja.

Sebuah contoh saja nih; selain dengan mertua dan ipar, hampir setiap tahun kami selalu merayakan Natal dengan keluarga besar hubby juga…Dengan tante, om, keponakan, sepupu dan ipar-ipar, sekitar 30an orang. Organisator pesta ini adalah para sesepuh yang nggak pernah bertanya soal food intolerance. Di antara 30 orang ini ada yang nggak bisa makan babi, ada yang nggak bisa makan ayam, ada yang memiliki milk intolerance akut, ada juga yang vegan. Semua tahu diri dan nggak demanding. Cukup makan salad dan kuenya saja, easypeasy. Bisa dibayangkan kalau member keluarga lapor duluan tentang makanan yang nggak bisa ditolerir oleh mereka, we’ll end up makan kentang rebus doang. Eh wait, fruitarian nggak bisa makan kentang!

My point is, people…do what you want to do, eat what you want to eat tapi please deh jangan merepotkan orang. Mau pamer-pamer ke medsos juga silahkan tapi jangan sampai menjadi hyprocrite, menganggap paling benar sehingga harus mencela gaya hidup/ makan yang berbeda. Yang merasa punya gaya makan biasa-biasa saja nggak perlu gusar kalau tiba-tiba ada yang anti minum dawet karena ada zat pewarnanya, nggak usah ikut-ikutan iyik, ini bukan lagi soal selera makanan melainkan prinsip hidup dan urusan perut sendiri-sendiri.

Ah jadi ingat ada seorang teman lain lagi yang sering posting foto makanan-makanan yang dia makan di restoran mewah. Michelin Star restaurants adalah langganan dia. Dia pernah menolak ketika saya ajak makan kebab falafel di kaki lima, alasannya dia nggak makan makanan kaki lima. Di FB dia ada quote “You are what you eat”. Ah ok, lumayan berprinsip dan konsisten.

Quote saya begini aja deh “My belly is my problem” atau yang versi pendek: “Sambal? Oye!” Kalau quote hidupmu yang tentang makanan kira-kira apa? 😊

Advertisements

Design Letters

IMG_0247-1squareS

Hampir setiap kali saya posting makanan di Instagram memakai piringnya Design Letters, selalu ada saja yang yang bertanya belinya di mana. Seperti halnya kursi makan Eames yang sedang trend, alat makan ini sepertinya ingin melengkapi ketrendian dan kemodernan si Eames di ruang makan.

Design dari produk ini sebenarnya sederhana sekali, melamin warna putih yang bentuknya standard dengan huruf-huruf A sampai Z yang typography-nya diciptakan oleh arsitektur Denmark Arne Jacobsen di tahun 1937. Karena sering melihat foto piring, sendok ini bertebaran di Instagram, alhasil sayapun termehek-mehek kepingin punya dan menemukannya di beberapa toko kebutuhan anak-anak yang menyandang istilah keren; concept store. Produk dari merek Design Letters ini sebenarnya lumayan banyak, tidak hanya piring, gelas melamin tapi juga kalendar, serbet, alat tulis, dll. Dan semuanya keren! Kalau nurutin nafsu, mau saja borong semuanya dari A sampai Z tapi karena harus nurutin kantong, jadi ya yang perlu saja dulu yang dibeli πŸ˜€

Warning nih soal concept store, hati-hati kalau membuka websitenya atau katalognya. Siap-siap kepingin semuanya karena barang-barang yang dijual memang keren-keren. Rata-rata bergaya Scandinavian; modern minimalis dan tidak kitschy seperti produknya Ikea.

Set alat makan Design Letters bisa dibeli terpisah, hanya cutlery-nya saja yang satu set; berisi dua sendok, garpu dan pisau. Sementara ini saya baru punya dua piring , satu gelas dan satu set cutlery. Selanjutnya nanti pengen punya mangkuk musli dan nampannya. Jadi yang mau ngado, silahkan yaa… #endingnyanggakenak πŸ˜„